Perkataan Jellal membuatku tertawa geli. Air matanya terlalu berharga? Baiklah, itu masih masuk akal bagiku. Tetapi, tidak akan sakit hati hanya karena cintanya ditolak? Aku tidak yakin kau bisa memegang janjimu hingga akhir bab nanti. Jellal terlihat senang pulang dengan Erza-sensei, usai mendengar penolakan entah berapa kali banyaknya jelas kan dia bahagia melebihi siapa pun hari ini? Ya, meski turut merasa senang aku tetap harus menepati janji terhadap Meredy-san.
Jam menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Aku baru pulang dan dikejutkan berondongan pertanyaan mengagetkan dari ibu. Aku tidak mengharapkan apa pun selain beristirahat, juga sedikit waktu luang untuk memikirkan rencana bagaimana agar Jellal bisa bertemu Erza-sensei secara pribadi. Bertanya pada ibu tidak akan membuahkan hasil, lebih baik meminta bantuan siapa, ya? Mungkin Levy-chan punya solusi.
Drrtt…drrrt…drrrt….
Eh, telepon dari siapa? Tanyaku sambil mengangkat handphone.
"Selamat malam, Lu-chan!" oh, rupanya Levy-chan! Padahal aku ingin menelponnya tadi. Tuhan menjawab keinginanku lebih cepat
"Selamat malam, Levy-chan. Ada perlu apa menelponku?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan di hari Minggu nanti? Kita pergi ke mall dan membeli hadiah untuk Lisanna-chan, bagaimana?"
"Maaf, tetapi aku ada rencana hari Minggu nanti. Jadi tidak bisa" tolakku sehalus mungkin. Meski kami bersahabat, aku merasa urusanku tidak boleh diceritakan padanya. Lagi pula, masalah ini adalah antara aku, Jellal dan Erza-sensei, Natsu hanya sebatas asisten
"Sayang sekali. Kira-kira hadiah yang bagus apa, ya?"
"Lisanna-chan suka barang yang imut. Bagaimana kalau gantungan handphone yang kita lihat waktu itu di toko aksesoris?" lama sekali menunggu kesempatan datang menghampiri! Kesabaranku habis dan nyaris memotong pembicaraan. Tidak, nanti dikira yang aneh-aneh!
"Ide yang bagus! Kalau begitu su…." jangan dulu menutup telepon! "Levy-chan, ada yang mau aku tanyakan padamu" ucapku cepat sebelum panggilan benar-benar terputus. Untung masih sempat
"Tanyakan saja, Lu-chan. Aku siap membantumu"
"Berjanjilah dulu padaku. Jangan berpikir yang aneh-aneh, oke?"
"Emmm….baiklah! Aku siap"
"Me-menurutmu, bagaimana tentang seorang murid yang jatuh cinta dengan gurunya?"
"Apa?! Lu-chan jatuh cinta dengan guru?" teriak Levy-chan yang hampir merusak gendang telingaku! Suaranya terlalu keras dan entah mengapa, firasatku mendadak buruk
"Sshh….! Suaramu kedengaran sampai lantai satu tau! Aku tidak jatuh cinta dengan siapa pun! Kita ganti saja pertanyaannya. Menurutmu, bagaimana cara seorang cowok mendekati cewek?"
"Dengan mengajaknya mengobrol. Selalu berusaha yang terbaik di depan cewek itu. Masih ada banyak sih, tetapi yang paling aku sukai adalah…." adalah apa? Levy-chan mengambil jeda waktu lumayan lama. Dia lupa durasi akibat berpikir terlalu lama, heh?
"Pertemuan mereka itu tidak sengaja! Si cowok berpapasan dengan cewek yang disukainya di padang bunga. Lalu dia mengajak si cewek berkeliling, menyelipkan bunga di telinganya, berlari kesana-kemari, lalu setelah itu dia menyatakan perasaannya! Kyaaa, bukankah terdengar romantis?"
"Terima kasih atas sarannya. Sampai jumpa besok"
Dasar otak novel! Aku jadi seperti mengatai diri sendiri. Imajinasi Levy-chan memang sangat bagus, tetapi dalam kehidupan nyata cerita tersebut mustahil terjadi! Mus-ta-hil! Bagaimana caraku mempertemukan Erza-sensei dengan Jellal tanpa disengaja? Tidak semua hal bisa direncanakan. Terkadang semua itu terjadi secara alami. Biarkan takdir yang berkata. Aku gagal menemukan 'kencan' terbaik bagi mereka berdua. Andaikan karangan Levy-chan jadi kenyataan….
Tok…tok…tok….
Siapa yang mengetuk pintu? Aku menoleh ke belakang dan melihat ibu masuk. Beliau terlihat sangat marah. Jangan-jangan….
"Ehem! Ibu tidak sengaja menguping percakapanmu. Apa benar kamu jatuh cinta dengan gurumu sendiri?" sekarang ibu ikut-ikutan dibodohi! Aku hendak membela diri. Namun belum sempat mengatakan sepatah kata aku langsung diserang hujaman amarahnya yang meluap-luap
"Apa karena stres berlebih, kamu jadi begini dan jatuh cinta dengan gurumu? Ibu tidak habis pikir, kelakuanmu tambah buruk dari hari ke hari! Membiarkanmu bersekolah di SMA Fairy Tail memang pilihan terburuk. Sebagai hukumannya, kamu tidak boleh pergi kemana pun di hari Minggu"
EH?! Telingaku tidak salah dengarkan? Dari semua hukuman yang ada kenapa harus itu? Ibu pergi meninggalkan kamar, sedangkan aku diam mematung di tempat. Belum merencanakan apa pun masalah justru bertambah banyak. Semoga saja ada solusi alternatif. Daripada terus berpikir dan tidak menghasilkan ide, lebih baik aku mencari cara lain di internet. Pasti ketemu!
"Baiklah, kita lihat. Mengajak doi pergi makan malam di restorant. Memberi kado ketika doi berulang tahun. Jalan-jalan ke pantai sambil melihat sunset. Mengobrol di sosial media…."
KLIK!
Sama sekali tidak berguna, gumamku menutup browser paksa. Besok saja deh, diskusikan dengan Natsu. Mungkin si bodoh itu punya rencana yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Terkadang aku heran, kenapa Jellal memilih Erza-sensei bukan wanita lain? Ya, aku bodoh karena main menyimpulkan sembarangan. Mungkin seleranya merupakan yang terbaik.
Keesokan harinya….
Pagi-pagi sekali aku sudah berangkat ke sekolah. Tidak ada jaminan, sih, kalau Natsu akan datang cepat seperti beberapa hari lalu. Yang penting jangan sampai Jellal tau, dia bisa kesal jika mengetahui janjiku untuk membantunya hanya isapan jempol belaka. Belum ada orang lain kecuali petugas kebersihan. Aku membalas sapaan mereka secepat kilat, berlari kembali menuju kelas di lantai dua sebelum kedahuluan. Syukurlah aku datang paling pertama, dan Natsu telah berada di sana!
"Hey, ada yang mau aku bicarakan denganmu!" teriakku berlari menghampirinya. Tatapan malas yang terkesan mengintimidasi. Aku sangat membenci perilaku Natsu sekarang
"Cepatlah, tidak perlu basa-basi segala"
"Kamu ingatkan, pernah berkata padaku untuk membantuku meyakini Jellal, bahwa Erza-sensei bukan pilihan yang tepat baginya?"
"Iya, terus?"
"Aku belum menemukan cara yang tepat. Berikan idemu!" bukan cara meminta yang baik, tetapi itu merupakan balas sepadan atas tingkah lakunya yang membuatku naik darah
"Mudah saja. Ajak Erza-sensei bertemu di suatu tempat, lalu Jellal tinggal beraksi dan kita bisa bersantai" jawaban serupa yang aku temukan di google. Natsu tidak serius membantuku rupanya! Kami saling terdiam setelah lima menit berlalu. Murid-murid semakin banyak yang masuk ke dalam kelas. Suasana di sekitar ricuh bukan main
"Baiklah, baiklah kalau kamu menolak saranku barusan! Aku akan memikirkan cara lain. Tunggulah sampai bel pulang nanti. Sekarang kamu bisa pergi meninggalkanku kan?"
Sudahlah, berdebat dengannya bukan perkara penting. Aku menarik kursi dan mencari posisi duduk yang pas. Bel masuk berbunyi nyaring. Gildarts-sensei memasuki kelas bersiap memulai pelajaran. Aku pikir begitu, ternyata beliau sibuk sendiri mencari sebuah barang di meja kerjanya. Natsu yang sedari tadi melamun pun sukses dibuat kaget, ketika sensei meminta kami mengambil setumpuk kertas ulangan di ruang guru.
"Sial, ada ulangan mendadak hari ini! Kenapa harus matematika pula?"
"Salah sendiri karena tidak belajar setiap hari. Biar aku yang mencarinya, kamu tunggu di luar" perintahku tanpa mempedulikan ocehannya yang bikin sakit kepala
Kebetulan sekali, pikirku mendapati meja Gildarts-sensei yang berdekatan dengan Erza-sensei. Aku iseng-iseng tinggal sebentar. Mungkin bisa mendapat inspirasi. Terdapat selembar kertas yang dibiarkan terbuka, aku membaca judul di bagian atas bertulisan 'rencana seminggu ke depan'. Wow, guru matematika memang sangat mengagumkan. Selalu terencana dimana pun dan kapan pun. Sekilas aku yakin, melihat jadwal di hari Minggu tentang pergi ke mall atau semacamnya.
"I-ini kesempatannya!"
"Hoi, sedang apa kamu di situ?" tanya Natsu penasaran. Aku mendekatkan kaki dan memperhatikan lebih seksama. Di Fairy mall pukul dua belas siang. Bingo! Jawaban yang selama ini aku cari telah ditemukan
"Ayo bergegas. Gildarts-sensei menunggu kita"
Beliau sempat heran kenapa kami sangat lama di kantor guru. Kami hanya berkata maaf dan diperbolehkan duduk kembali. Lembar soal matematika dioper dari depan ke belakang. Aku yang mendapatkannya pertama kali langsung mengerjakan tanpa pikir dua kali. Sekarang tempat dudukku bukan lagi di belakang, melainkan di depan atas perintah Gildarts-sensei. Meski samar-samar, aku dapat mendengar ada seseorang tengah membuka remukan kertas. Berbunyi seperti srek, srek, srek.
"Buang kertasnya atau aku laporkan pada sensei!" seruku menghebohkan seisi kelas. Orang yang aku pergok berhenti melanjutkan. Dia langsung membuang kertas tersebut ke sembarangan arah
"Buruk sekali keberuntunganmu hari ini" gumam teman sebelahnya cekikikan tidak jelas. Ya ampun, aku berharap orang itu bukanlah Natsu. Kenapa harus dia sih?!
"Good Job, Lucy! Kamu pantas menggantikan Jellal sebagai ketua kelas"
Pujian yang sama sekali tidak membuatku tersenyum. Lebih-lebih merasa bangga. Jellal menatapku dengan tatapan tidak mengenakkan. Padahal kan Gildarts-sensei hanya bercanda, apa kamu selalu seserius ini? Aku memutuskan untuk fokus lagi ke depan. Ada banyak soal yang harus dikerjakan walau terbilang gampang. Bukan kebiasaanku untuk meremehkan suatu hal. Ajaran mutlak keluarga Heartfilia yang terdasar.
Bel istirahat berdering sebanyak dua kali. Menyisakanku dan Chelia-san yang memakan bekal di dalam kelas hanya berdua. Natsu diminta pergi ke ruang guru oleh Gildarts-sensei. Dia juga sempat mencibirku dengan sorot matanya yang terkesan benci. Apa salah meneggakkan keadilan? Aku benci dengan kecurangan baik kecil atau besar sekali pun. Jellal ikut nimbrug tanpa berkata apa pun. Menarik kursi di sebelah kanan dan melahap sepotong roti daging lapis.
"Aneh, kenapa Jellal-san ikut kita?" tanya Chelia-san berbisik pelan. Aku menyuruhnya diam karena Jellal dapat mendengar kami berdua. Biarkankan saja, deh!
"Omong-omong, Lucy-san hebat sekali berani memergoki perbuatan Natsu!" sekarang apalagi? Pujiannya tidak membuatku tersanjung melainkan heran. Bukankah itu perbuatan yang sangat biasa?
"Tidak sehebat itu kok. Sama sekali tidak spesial" jawabku sesuai kenyataan. Hendak melahap kembali sesuap nasi menggunakan sumpit
"Natsu-san termasuk murid berandal. Jadi tidak ada yang berani melawannya" semua jadi masuk akal. Dan lagi, kenapa aku bisa lupa kalau Natsu adalah murid berandal? Apa karena kedekatan kami selama beberapa waktu terakhir?
"Apa kamu serius mau menggantikanku sebagai ketua kelas?"
Jellal yang sedari tadi memperhatikan kini buka mulut. Aku sempat meneguk ludah pelan. Dia menyeramkan seakan hendak berkata 'merebut jabatanku sama saja cari mati'. Itu berarti bagus kan, karena dia serius mengemban tugas yang terbilang berat tersebut? Aku memaksakan senyum mengembang di kedua sudut bibir. Semoga dapat meredakan amarahnya.
"Ka-kata siapa? Aku tidak berminat jadi ketua kelas kok"
"Rupanya Jellal-san iri. Akui saja" jangan menyindir di saat-saat seperti ini! Aku membungkam mulut Chelia-san rapat. Pasti gawat kalau terus dilanjutkan
"Oh iya. Aku menemukan cara agar kamu bisa menembak Erza-sensei" sebelumnya aku mengajak Jellal menjauh dari Chelia-san. Kalau dia mengetahui rencana burukku, pasti melapor pada Gildarts-sensei. Wajah pengharapannya mengganggu pikiranku. Serasa ada yang bentrok dalam kepala
"Langsung katakan. Aku tidak mau basa-basi"
"Hari Minggu besok, Erza-sensei pergi ke Fairy Mall pukul dua belas siang. Aku kurang tau sensei akan mengunjungi toko apa, tetapi yang penting datanglah sebelum beliau datang. Mengerti?"
"Rencana yang bagus, Lucy'
Pipiku terasa panas dua-duanya! Senyum Jellal yang tampan mampu membuai hati wanita manapun, bahkan termasuk aku. Si bodoh dalam urusan asmara. Sekarang tinggal menunggu Natsu balik ke kelas, dan memberitau rencana yang telah aku rancang sedemikian rupa. Tetapi, kenpa sampai sekarang dia tak kunjung datang? Padahal Gildarts-sensei sudah bersiap di tempat untuk melanjutkan pelajaran. Jangan-jangan membolos….
"Anak itu, lihat saja nanti!"
Kehadiranmu sangat dibutuhkan sekarang, bodoh!
Pulang sekolahnya….
Aku terpaksa mencari Natsu ke segala penjuru sekolah. Gray dan Loke yang merupakan sahabat terdekatnya pun, tidak tau kemana anak bernadal itu kabur. Pertama-tama aku pergi ke lapangan di belakang gedung sekolah. Dia memang berada di sana, sedang mengobrol dengan teman-temannya yang lain. Memang sih aku ogah menganggu mereka, tetapi masalah ini penting untuk Natsu ketahui. Salah siapa yang membuatku jadi berharap?
"Hoi Natsu!" panggilku berusaha terlihat santai. Aku terlalu gugup sampai kesulitan berbicara sekarang
"Menjauhlah dariku. Kamu tidak lihat apa, aku sedang berkumpul bersama teman-temanku!" bentak Natsu marah besar. Aku menundukkan kepala sejenak. Menarik tangan kanannya kasar yang membuat ke lima orang tersebut heboh
"Ternyata kamu sudah punya pacar. Lisanna mau dikemanakan?"
"Seleramu bagus juga, dia benar-benar cantik!"
Disertai sorak-sorai menyebalkan lainnya yang menyebabkan telingaku panas. Kami berhenti di gudang belakang sekolah. Aku mempersiapkan diri untuk memberitau rencana selanjutnya. Natsu mengetuk-ngetuk kaki kesal di atas rerumputan hijau. Tidak sampai lima menit berlalu kesabaranmu langsung habis. Natsu pasti belum tau rasanya menunggu ibu-ibu selesai berbelanja di mall!
"Ini tentang masalah itu. Kamu tau kan"
"Iya, iya. Jadi sudah menemukan ide? Baguslah" aku yakin kamu tidak benar-benar memikirkannya. Kebohongan belaka guna menghindar dari ocehanku. Heh, berani sekali kamu Natsu Dragneel si murid berandal!
"Minggu besok datanglah ke Fairy mall pukul dua belas siang. Aku menantimu bersama Jellal"
"Pemberitahuanmu sudah selesai?" tanya Natsu menyolot
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kau membuang waktuku, hanya untuk memberitau rencana singkat yang kemungkinan berhasilnya kurang dari lima puluh persen? Kenapa tidak mengirim SMS atau BBM saja sih?"
"Kalau aku tau nomor handphone dan pin BB-mu. Pasti aku beritau lewat sana! Sudah tau salah masih seenak jidat menyalahkan orang lain" gumamku tanpa mengecilkan volume suara. Sengaja biar si hati baja ini instrospeksi diri
"Maaf, aku tidak ada maksud membentakmu. Ini"
Tanpa mengucapkan apa pun, dia berlari meninggalkan gudang sekolah bersama catatan kecil dalam genggaman tanganku. Jangan bilang isinya mau mengusirku karena telah menyusahkan. Sesampainya di rumah aku langsung membuka pesan tersembunyi itu. Ternyata Natsu memberi nomor handphone dan pin BB. Dunia memang lucu, ucapku sambil menyambar ponsel di meja belajar, dengan cepat mengetik deretan angka dan huruf yang kemudian disimpan ke daftar kontak.
Eh, tunggu sebentar. Perasaanku berkata ada yang janggal.
"Iya ya, aku kan dihukum tidak boleh keluar rumah di hari Minggu"
Dan bodohnya adalah, kenapa aku baru ingat?
Hari Minggu, jam 11.00 di rumah Lucy….
Bagaimana cara mejelaskannya pada ibu? Beliau begitu keras kepala dan sering sekali menolak untuk mendengarkanku, bakal sulit bukan kepalang, nih! Pilihanku yang terbatas tidaklah menguntungkan sekarang. Temukan solusi jitu dan buat ibu setuju! Aku berlari menuruni tangga tergesa-gesa. Membuatnya heran dengan penampilanku yang terbilang rapi di hari bermalas-malas seperti sekarang. Sepasang sepatu ku kenakan secepat mungkin. Membuka pintu di depan mata dan beranjak pergi keluar rumah. Ibu berdiri di daun pintu meneriaki nama anaknya yang main kabur. Mau bagaimana lagi, lebih baik daripada berbohong!
Natsu bersembunyi di belakang semak-semak bersama Jellal. Mereka bersemangat melebihi perkiraanku, terutama si hati baja yang ternyata memang tertarik sejak awal. Aku memberi aba-aba usai melihat Erza-sensei telah tiba di lokasi. Hmmm…langkah selanjutnya ialah membuat pertemuan mereka terkesan tidak disengaja. Kami mengikuti sensei kemanapun dia pergi. Entah pusat perbelanjaan, restorant, bahkan toko kue. Kenapa beliau berlama-lama berdiri di depan etalase?
"Pasti Erza-sensei mau membeli strawberry cake" terka Jellal yang benar seratus persen. Aku tidak tau, guru paling galak saentro sekolah pun ternyata memiliki sisi manis dibalik penampilan sehari-hari
"Bukankah lebih baik memberi Erza-sensei kue saja? Lalu kamu tinggal menembaknya"
"Makanya aku benci murid baru. Erza-sensei selalu menolak pemberian murid. Beliau merasa tidak berhak mendapatkannya. Kenapa semua melebih-lebihkan sifat galaknya? Kamu juga Natsu, malah ikut menjelek-jelekkan bukan memuji"
"Berhentilah beradu mulut. Sekarang kesempatan yang tepat untuk muncul"
Bersembunyi dibalik tembok dan Jellal pun menampakkan diri. Rencanaku pasti sukses besar! Erza-sensei nampak kaget menyadari kedatangan muridnya yang tidak terduga. Tinggal mencarikan suasana sebelum Jellal menyatakan perasaannya. Menurut perkiraanku hanya memerlukan waktu sekitar satu jam. Semoga Natsu tetap setia menemaniku sampai pengintaian selesai.
"Hey Lucy. Bukankah si Jellal terlalu banyak basa-basi?"
"Diam dan perhatikan. Jika terjadi masalah kita bisa langsung menyalurkan bantuan"
Tap…tap…tap…tap….
Seseorang mendekat ke arah utara! Aku menarik lengan Natsu yang sangat memancing perhatian pengunjung mall di sekitar. Dia benar-benar sulit disuruh diam! Segerombolan geng jalanan mengehentikan langkah kaki Jellal paksa. Firasatku buruk soal ini. Dia harus mundur atau segudang masalah akan menghampiri di pertengahan kencan tersebut.
"Sekarang harus bagaimana?" tanya Natsu yang turut membuatku pusing tujuh keliling. Diminta kabur pun Jellal mana mungkin mau? Erza-sensei terjebak dalam masalah dan dia merasa wajib membantu
"Muncul bukan pilihan yang tepat. Tunggu saja aba-aba dariku"
"Yo, kita bertemu lagi, Jellal" sapa seorang lelaki yang entah mengapa membuatku sebal. Tatapannya penuh kebencian diliputi aura gelap. Mungkin aku dan Natsu, adalah orang yang pertama kali melihat Jellal semarah ini
"Cih, jangan pernah menyapaku lagi!"
"Masih menyukai Erza-sensei? Kita telah bersahabat tiga tahun lamanya, dan aku belum mengerti pola pikirmu yang sangat aneh itu"
"Diam! Kamu tidak memiliki hak untuk mengaturku, dasar kakek-kakek rambut putih!" balas Jellal balik menyindir. Aku rasa keadaan masih aman sekarang
"Pindah ke SMA Fairy Tail demi mengejar si guru koruptor itu. Otakmu rusak, ya?"
"Justru otakmu yang rusak! Erza-sensei tidak akan pernah melakukan perbuatan yang mencemarkan nama sekolah. Apa kalian juga termakan omongan Ultear-sensei?!"
"Erza-sensei terbukti bersalah dan Ultear-sensei membuktikan kebenarannya. Kalau bukan otakmu yang bermasalah siapa lagi?"
"Jangan melihat hanya dari sisi luar saja! Kalian tidak akan mengerti kecurangan yang Ultear-sensei perbuat!"
Keadaan di sekitar semakin memanas, ditambah tinju si surai putih sebagai awal pertarungan yang tidak imbang tersebut. Aku iba memperhatikan Jellal dikeroyok massal. Namun dia terus bertahan dan tidak kabur meninggalkan Erza-sensei seorang diri. Perihal 'si guru koruptor' itu aku enggan mempercayai, bahwa beliau adalah sang tersangka. Walau kami baru berkenalan, aku tau Jellal tidak mungkin salah pilih. Jujur, dia mempunyai selera yang bagus dalam memilih wanita. Sayang salah orang.
"HENTIKAN SEKARANG JUGA!" Erza-sensei berhasil melerai pertengkaran mereka. Adu pukul pun terhenti seketika. Aku dan Natsu yang hendak keluar pun dipaksa menahan diri lebih lama
PLAKKK!
Tamparan keras mendarat mulus di pipi Jellal yang memar. Aku kaget sampai nyaris lupa bernafas, begitu pula Natsu yang membulatkan bola matanya lebar-lebar.
"Jellal, kamu harus berhenti membela saya apa pun kata orang lain. Lyon, jangan memulai pertengkaran dan lagi ini di tempat umum. Sebagai hukumannya, besok kamu harus tinggal di kelas bersama Lucy dan Natsu hingga sore. Mengerti?"
"H'ai…."
Jadi penyamaran kami sudah terbongkar dari awal?! Erza-sensei mengantar Jellal keluar mall. Geng Lyon bubar dan pergi entah kemana. Tersisa aku dan Natsu yang masih shock, tidak bisa menerima kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. Aku memutuskan pulang ke rumah dan mempersiapkan mental. Ibu telah menunggu di ruang tamu untuk memarahi putrinya yang mendadak jadi cewek nakal. Ya, aku rela dihukum seberat apa pun itu.
Tok…tok…tok
CKLEK!
"Masih tau pulang ternyata" ucap ibu memberi komentar pedas. Aku menundukkan kepala bersalah. Melepas sepatu kets lalu menyimpannya kembali dalam rak
"Ma-maaf….aku main kabur dan melanggar perintah ibu"
"Baguslah jika kamu menyadari kesalahanmu. Tetapi, ibu tetap memberi hukuman. Dilarang jalan-jalan setelah pulang sekolah. Melanggar lagi dan jangan harap kamu akan ibu maafkan"
Syukurlah ibu masih berbaik hati. Aku menghempaskan tubuh di atas ranjang, mengutak-atik handphone tanpa membaca pesan yang dikirim Levy-chan. Pasti ajakan ke pesta ulang tahun Lisanna-chan. Aku ingin sekali pergi, tapi keputusan ibu adalah mutlak dan harus dipatuhi. Kira-kira bagaimana kondisi Jellal, ya? Dia terpukul bukan setelah ditampar sekeras itu seumur hidupnya?
Ponsel yang bergetar membuyarkan lamunanku. Telepon dari Meredy-san.
"Halo"
"Halo Lucy-san. Saya khawatir mendapati Jellal pulang dalam keadaan babak belur. Namun dia tidak mau bercerita. Apa kamu tau penyebabnya?"
"Jellal dikeroyok segerombolan geng di mall tadi. Dan yang memulainya itu….Lyon-san kalau tidak salah?"
"Ya ampun! Kenapa Lyon-san setega itu menghajar Jellal?"
"Memangnya apa hubungan mereka?"
"Dulu Jellal bersekolah di SMP Lamia Scale. Dia bersahabat dengan Lyon-san sejak kelas satu. Semenjak Erza-sensei diusir atas tuduhan korupsi, hubungan mereka mendadak hancur"
Semua jadi jelas sekarang. Aku kurang mempedulikan masa lalu Jellal yang mengantarnya ke SMA Fairy Tail. Jam menunjukkan pukul tiga sore, lebih baik menyegarkan diri dengan bersantai di dalam bak mandi. Hari Senin, aku mohon janganlah datang cepat-cepat. Bahkan kalau bisa, dimusahkan dari dunia.
Keesokan harinya….
"Maaf hime-sama, bisakah anda makan sedikit lebih cepat? Kita hampir terlambat pergi ke sekolah" nasehat Virgo yang aku iyakan malas. Sepotong roti tawar pun rasanya seperti sepiring nasi penuh sewaktu dilahap
"Oh, maafkan aku"
Ayah mengantarku menggunakan mobil menuju sekolah. Kenapa orang tuaku suka sekali membesar-besarkan masalah kecil? Aku melambaikan tangan dan berlari, guna menghindari ceramah panjang yang tidak pernah bosan diulang-ulang. Jellal tertunduk lemas di bangku pojok depan. Natsu sibuk mendengarkan lagu lewat earphone. Aku sendiri hanya duduk manis menanti kedatangan Chelia-san. Satu-satunya teman yang ku miliki di kelas.
"Ehem! Hari ini Chelia ada urusan mendadak sehingga tidak masuk sekolah. Baiklah, sekarang kita bisa memulai pelajaran"
Harapanku disirnakan pembeitahuan Gildarts-sensei. Kesendirian di hari Senin minggu terakhir siap dimulai. Aku tidak tau mesti berbuat apa.
Ding…dong…ding…dong….
"Jellal, ikut saya ke ruang guru" pinta Gildarts-sensei yang membuat perasaanku tidak enak. Bukan hanya tentang pemanggilan mendadak tersebut, melainkan juga kertas ulangan matematikaku yang belum dibagikan sampai sekarang. Apa ini semacam penyitaan?!
Diam-diam aku mengekori di belakang. Percakapan antar guru dan murid pun dimulai dengan situasi menegangkan. Tatapan Erza-sensei perlahan-lahan menyurutkan niatku untuk menguping, tetapi….
"Apa maksud anda, menurunkan jabatan saya sebagai ketua kelas?!" tanya Jellal setengah membentak. Setengah mati menolak keputusan Gildarts-sensei
"Lucy cocok kok menggantikan peranmu. Jika kamu menjadi ketua kelas, setiap kali ke ruang guru pasti kerajaannya melirik nakal Erza-sensei. Lupakan perasaanmu padanya"
"Saya tidak akan menerima keputusan sensei sampai kapanpun!"
Sekarang aku terjebak dalam masalah yang rumit seperti benang kusut. Gildarts-sensei menyadari keberadaanku dan memintaku masuk ke ruang guru. Apa beliau marah? Mau menghukumku? Mengskorsku?! Asal jangan jatuh pada pilihan ketiga saja!
"Lihatlah, nilai kalian sama-sama seratus" Gildarts-sensei memperlihatkan dua lembar kertas ulangan yang disejajarkan, yaitu punya Jellal dan punyaku
"Sensei! Saya mohon jangan membuat Jellal membenci saya. La-lagi pula….saya tidak pantas menjabat sebagai ketua kelas"
"Pantas kok! Murid rangking dua se-Magnolia masa takut menjabat jadi ketua kelas?" tidak ada hubungannya dengan takut atau berani. Aku enggan dibenci Jellal hanya karena masalah itu
"Maaf sensei, tetapi saya tetap menolak jabatan tersebut. Akan saya buktikan, kalau Jellal masih pantas memegang perannya sampai lulus nanti. Ini sebuah janji"
"Tepatilah janjimu, Lucy Heartfilia"
Aku buru-buru melesat pergi ke kelas demi melancarkan aksi. Jellal tidak berada di dalam kelas maupun kantin. Mungkin saja di sana tengah meratapi nasib yang teramat buruk. Aku duduk di sebelahnya, di bawah pohon rindang dekat gudang sekolah. Tersisa sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Dan tujuanku adalah membuatnya optimis seperti dulu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyaku sekedar berbasa-basi. Jellal memalingkan muka. Menatap langit biru yang terbentang luas dengan tatapan nanar
"Mana mungkin baik setelah dihadang cobaan bertubi-tubi"
"Apa kamu masih mencintai Erza-sensei?"
"Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam. Ada perlu apa menanyakannya?
"Ah ya….aku tidak tega melihatmu sesedih ini. Tentang Erza-sensei yang dituduh korup….apa itu benar?" dari sekian banyaknya pertanyaan, kenapa aku memilih yang satu ini? Jellal pasti menolak menjawab, lalu dia akan memusuhiku selama-lamanya karena mengingkari janji
"Salah, mereka telah dibutakan kebohongan yang Ultear-sensei buat. Satu tahun lalu…."
Flashback….
Waktu masih SMP, aku bersekolah di Lamia Scale. Sebentar lagi ujian kelulusan tiba. Seluruh murid sibuk mempersiapkan mental dan pengetahuan mereka, untuk menghadapi soal dua minggu ke depan. Hanya aku yang terlihat santai. Bukannya sibuk belajar justru bermain di game center atau berkunjung ke warnet. Perihal lulus atau tidak, aku masa bodo memikirkannya. Toh, ada banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan. Entah sudah ke berapa kalinya aku berjuang di ujung ardenaline. Semua terasa biasa saja. Asal aku mendapat nilai bagus, ya cukup.
Namun, ada satu guru yang membuatku sadar dalam hitungan menit. Beliau adalah Erza-sensei, guru matematika sekaligus wali kelasku. Awalnya aku membenci guru yang satu ini, begitu galak dan suka marah-marah. Murid yang pernah terlibat masalah dengannya pasti tidak berani mengulangi kesalahan serupa. Aku pun termasuk dalam list salah satu korban, bahkan sejak menginjak bangku kelas satu SMP pun Erza-sensei selalu menangkap basah aku jika ketahuan berbuat nakal.
"Seharusnya kamu mengikuti kursus seperti yang lain, bukan bermain game di warnet!" suaranya ketika marah terekam jelas dalam memoriku. Menimbulkan gemuruh dalam hati namun tidak menyakiti telinga. Terkesan biasa saja namun entah mengapa….aku menyukai perasaan ini
"Sensei perhatian sekali kepada saya. Baiklah, sesuai permintaan anda" tanpa pikir panjang aku mengiyakan dengan serius. Membuat Erza-sensei mengernyitkan dahi bingung
"Jellal Fernandes. Kebohongan yang sama tidak akan mempan untuk kedua kalinya"
"Terserah sensei mau percaya atau tidak. Saya serius mengucapkannya"
Benar, perubahan seratus delapan puluh derajatku disebabkan olehnya. Aku menyadari satu hal setelah tiga tahun berlalu. Ternyata benar, aku memang menyukai Erza-sensei. Saat bertemu pertama kali pun, ketika kedua lubang hidungku menghirup bau stoberi yang dipakainya. Ketika beliau berbicara, tertawa bahkan marah sekali pun, meski kami dipertemukan dalam jangka waktu yang panjang, walau belum berkenalan secara langsung, aku mencintai segala hal tentangnya.
Tiga hari terakhir sebelum ujian kelulusan dimulai, aku berlari menghampiri Erza-sensei yang hampir mencapai gerbang sekolah. Saat itulah, sejuta perasaan yang meluap-luap ingin segera kuungkapkan. Terbesit pula keinginanku untuk menembaknya, tetapi….niat tersebut lebih baik diurungkan. Aku enggan mempercayai kalau hubungan kami akan rusak karena perbuatan naifku itu.
"Sa-saya mau berbincang dengan sensei sebentar, boleh?"
"Tentu, apa yang ingin kamu tanyakan? Soal matematika atau pelajaran lain? Saya siap membantu"
"Bukan mengenai pelajaran, kok. Apa anda tau, kenapa saya jadi murid nakal?"
"Memangnya kenapa? Bukankah dari dulu perangimu selalu buruk?"
"Sudah saya duga, sensei mana mungkin tau alasannya. Saya hanya ingin dekat dengan anda. Jabatan sensei sebagai ketua komite kedisiplinan sekolah, membuat jarak saya dengan anda teraput sangat jauh. Ji-jika saya tidak bersikap nakal, maka kesempatan untuk mendekati sensei adalah nol persen. Tapi, ketika tau anda menjadi wali kelas saya di 9C, saya merasa bisa membangun hubungan yang lebih kuat. Saya merasa bisa meraih anda yang terus maju, maju dan maju. Mungkin saja, saya menyukai anda melebihi status guru dan murid"
"Perkataanmu benar-benar ngawur. Pulanglah ke rumah, sekarang hampir gelap"
"Untuk tiga tahun ke depan. Mohon bantuannya sekali lagi. Pada saat itu, pasti saya akan tetap membuat sensei pusing, tetapi….saya mohon, jangan pernah bosan membimbing saya menuju jalan kebenaran"
Ungkapan perasaanku ditolak mentah-mentah, walau begitu kenyataannya aku tidak patah hati atau memiliki keinginan untuk mundur. Ini adalah perjuangan seorang lelaki sejati. Makanya aku berjanji, tidak akan pernah menyerah sedetik pun.
Hingga hari X tiba, dimana semuanya mendadak hancur.
Senin itu adalah hari pertama menginjakkan kaki di sekolah, setelah libur kelulusan yang sangat membosankan berakhir. Aku lulus dengan nilai terbaik dan mengenakan seragam SMA Lamia Scale. Harapanku hanya satu, semoga Tuhan cepat-cepat mempertemukanku dengan Erza-sensei. Lyon yang menunggu kedatanganku sejak pagi-pagi sekali mengajakku pergi mencari kelas baru. Kebetulan kami melewati ruang guru, aku memutuskan untuk menyapa sensei yang pasti sudah tiba lalu sibuk mengurusi data murid.
Tok…tok…tok….
"Permisi Erza-sensei…."
Sapaan hangatku terhenti, usai menjadi saksi dari perbuatan curang Ultear-sensei. Beliau memasukkan amplop cokelat ke dalam laci meja Erza-sensei, yang aku yakini adalah uang muka pembayaran sekolah. Tanganku ditarik paksa, bahkan diancam agar tidak bilang-bilang kepada siapa pun. Mulutku sukses dibungkam seribu bahasa. Aku tau harus melawan, tetapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk menegakkan keadilan.
Siang harinya ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku sengaja melewati ruang guru kembali dan samar-samar, mendengar pertengkaran antar kedua guru tersebut. Erza-sensei membela diri mati-matian bahwa dia tidak mencuri uang muka pembayaran sekolah, tetapi dengan skenario yang telah dibuat Ultear-sensei secara sempurna mampu menyakinkan seluruh guru yang ada, termasuk kepala sekolah. Aku hanya terdiam di belakang pintu, mengutuk diri sendiri karena gagal melindungi beliau.
BRAKKKK!
"Erza-sensei tidak bersalah! Aku melihatnya tadi pagi dengan mata kepala sendiri, Ultear-sensei memasukkan amplop tersebut ke dalam laci, sehingga Erza-sensei dijadikan tersangka. Kalian percaya kan, sensei tidak mungkin melakukan perbuat korup seperti itu!"
"Dia pasti tersangkanya! Erza-sensei kekurangan biaya untuk mengobati ibunya yang sakit parah, jadi wajar kalau dia mencuri uang muka pembayaran sekolah"
Mendengar berita barusan aku shock, ternyata Erza-sensei menyimpan banyak kesulitan yang tidak diberitaukannya kepada siapa pun. Ultear-sensei tersenyum puas, aku membenci ekspresi itu, amat sangat membencinya. Pertengkaran tersebut diketahui kepala sekolah, dan Erza-sensei dijatuhi hukuman yang nyaris membuat kami berpisah.
"Kamu akan dipindahkan untuk mengajar di SMA Fairy Tail. Sekolah peringkat tiga terbawah di seluruh Magnolia"
"Apa pun keputusan kepala sekolah, saya pasti menurutinya"
Bodoh, kenapa sensei menyerah pada nasib? Aku tidak tinggal diam, karena dikuasai amarah berlebih, tanpa pikir panjang aku memukul Ultear-sensei di hadapan semua guru. Lebih tepat jika dikatakan, perbuatan tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran. Aku sudah memikirkannya dua bahkan berulang kali. Ya, semua demi Erza-sensei seorang.
Kepala sekolah ingin menjatuhiku hukuman skors, tetapi aku menolak dan lebih memilih pindah ke SMA Fairy Tail. Asal bersama Erza-sensei, maka aku rela melepaskan apa pun, termasuk julukan sebagai 'peringkat empat se-Magnolia'. Semua itu tidak ada gunanya tanpa kehadiran beliau yang merubah hidupku. Kau boleh berkata, aku telah dibutakan cinta. Karena begitulah kenyataan yang terlukis.
End flashback….
Mendengar kebenaran tersembunyi yang Jellal rahasiakan membuat dadaku serasa disambar petir. Siapa pun pasti berkata, dia sangat gila karena mencintai guru sendiri, bahkan melepaskan masa depan, status, sahabat dan peringkatnya demi Erza-sensei yang terjerat dalam ketidakadilan. Apa ini yang dinamakan cinta sejati? Tetapi, seharusnya Jellal tau betul guru dan murid tidak akan pernah bisa bersama. Lebih lebih berpacaran, jadi teman saja mustahil.
"Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan?" tanyaku memecah suasana hening di antara kami. Jellal berpikir sejenak, mengangkat kepalanya mantap dan berkata
"Aku ingin menyatakan perasaanku pada Erza-sensei sepulang sekolah. Meskipun menjadi akhir dari hubungan kami, aku harus belajar untuk mengikhlaskannya"
Doaku selalu menyertaimu, Jellal….
Sore hari….
Perasaan Natsu yang mulai membaik menjadikan hatiku lega. Kami berdua bersembunyi dibalik semak-semak, hendak menyaksikan pernyataan cinta Jellal terhadap Erza-sensei yang menimbulkan dua kemungkinan. Pertama : Hubungan mereka hancur untuk selama-lamanya. Kedua : Sebaliknya justru terjadi hal baik yang tidak terpikirkan. Garis takdir mulai bergerak, ketika sekali lagi Jellal berlari menghampiri beliau di depan gerbang sekolah bercat hitam.
"Sensei, sensei!" panggil Jellal sebanyak dua kali. Badannya berbalik menghadap belakang, membuat surai berwarna scarlet itu berkibar pelan ditiup angin sepoi-sepoi
"Ada perlu apa memanggil saya?"
"Begini, ada yang mau saya ucapkan padamu. Dengarkanlah untuk terakhir kalinya"
"Ya ampun, saya sudah bosan menegaskan hal ini. Guru dan murid tidak mungkin…." dengan gesit Jellal memotong, dia berkata lantang di bawah sinar mentari sore yang menjadi penanda kesaksiannya. "Saya mencintai anda, sensei! Melebihi rasa suka, batas antar guru dan murid. Apa pun bentuk penolakan sensei, saya tidak akan menarik kembali perkataan barusan!"
"Anda boleh berkata, kalau pertanyaan cinta saya itu hukumnya haram dan terlarang. Tetapi, saya tidak berharap mulut manis sensei yang berucap. Justru saya berharap mendengar marahan anda. Saya ingin sensei membentak seperti biasanya. Saya ingin, mendengar penolakan yang selalu sensei katakan kepada saya. Walau anda terus mengulang hal serupa, saya tetap menyukainya!"
"Karena…karena saya mencintai anda jauh dari lubuk hati terdalam. Saya menyukai segala hal tentang anda. Saya menolak untuk membuang perasaan ini ke laut"
"Saya juga tidak tau, kenapa saya mencintai anda. Tetapi, sensei tidak memerlukan alasan apa pun, bukan? Ji-jika saya memilikinya walau hanya satu, dan tiba dimana alasan tersebut hilang karena suatu hal, maka saya tidak akan bisa mencintai sensei seperti dahulu"
Bibir Erza-sensei menyungging seutas senyum, yang menghentikan air mata Jellal terjatuh. Jujur, aku larut dalam moment terindah yang baru ku saksikan selama lima belas tahun menghirup udara.
"Terima kasih atas dukunganmu. Saya menghargainya"
"E…eto….apa saya boleh mengantar anda pulang untuk terakhir kalinya?"
"Tentu. Anggap saja sebagai hukuman karena telah menyatakan perasaan terlarangmu"
"H'ai!"
Ending apa yang lebih baik dari ini? Mungkin Jellal tidak akan pernah bisa melupakan perasaannya, tetapi bukan hal buruk menurutku. Kalau memang terasa menyenangkan, kenapa harus dibuang jauh-jauh? Natsu sempat menggerutu tidak jelas. Apa dia benar-benar benci melihat orang lain bahagia?
"Sial kau Lucy. Jangan harap setelah menolong Jellal, maka aku akan menerimamu sebagai murid SMA Fairy Tail. Aku bersumpah, pasti mengusirmu jauh-jauh dari sini!"
Bersambung…
Balasan reivew : (satu lagi, satu lagi satu lagi. Tetapi SR...lebih dari 100?!)
Fic of Delusion : Dia dibutakan oleh cinta memang, wkwkwkw. Thx ya udh review. Meski singkat sangat tetapi author tetap menghargainya.
