Mendadak, semangatku jauh lebih membara dibanding kemarin-kemarin. Apa karena efek berhasil membantu Jellal? Sayang tidak pantas disebut begitu, dialah yang menolong dirinya sendiri, bukan aku atau Natsu. Mengungit nama bermakna musim panas itu, membuat helaan nafasku menjadi berat. Lagi-lagi dia bergumam ketus, palingan cemburu terhadap Jellal, atau mungkin mengenai hal-hal tidak berguna, seperti ingin mengusir, berkata bahwa dia membenciku, dan lain-lain.

"Ibu, aku berangkat dulu ke sekolah!" pamitku dari arah daun pintu. Arloji hitam yang melingkar di pergelangan tanganku baru menunjukkan pukul 6.20. Ya, aku sengaja melakukannya kok

Sesekali pergi dengan berjalan kaki bukan masalah besar, kan? Aku menyelusuri jalan melewati rumah Jellal. Semoga mereka sekeluarga tidak lagi bertengkar, sehingga moodku saat makan di kedai Bu Meredy baik sepenuhnya. Bayangkan saja, jika sang pemilik usaha berwajah masam kepadamu, seakan dia menaruh dendam atau membencimu. Makanan seenak apapun pasti terasa hambar, bahkan pahit menusuk lidah!

PUKK!

"Siapa di sana?!" teriakku bergerak refleks menampar pipi seseorang. Surai biru kehitaman itu nampak familiar, ditambah lagi ada dua orang aneh di sebelahnya, kecuali si rambut salam, dia seperti ingin cari ribut!

"Ma-maafkan aku Gray! Kamu baik-baik saja?" sial, kenapa malah fokus menyoroti Natsu?! Terdengar suara pintu yang tertutup keras, ditambah kehadiran Jellal sekarang kami bukan berempat, melainkan berlima

"Karena sudah lengkap, ayo kita berangkat!" seru Loke memimpin jalan di depan. Aku terheran-heran mendapati Jellal berada di sebelahku, apa dia punya kemampuan menghilang?! Mulut cerewet Natsu juga komat-kamit terus sedari tadi. Kenapa aku dilibatkan dalam kelompok mereka?!

"Hoi Gray. Apa maksudmu mengajak mereka berdua?" tanya Natsu tak terima. Gray menyamai langkah dengan sang sehabat, berusaha memberi penjelasan selembut mungkin. Aku jijik melihat tingkahnya yang aneh. Sedekat apa, sih, hubungan ketiga sejoli ini?

"Beramai-ramai lebih seru, kamu mengerti kan? Lagi pula ada Lucy yang kamu sukai, jangan banyak mengeluh"

"Hah, kata siapa aku menyukai si pirang ikat acak kadut itu?!"

"Aku juga tidak ingat, pernah menaruh perasaan terhadap lelaki sekasar dirimu! Pantas saja statusnya jomblo" sindirku cekikikan menahan tawa. Natsu melewatiku kasar, apalagi dia sengaja menyenggol bahuku kasar ketika saling berpapasan

Kondisinya membuatku stres berat! Aku ingin kabur dari sini, meninggalkan mereka berempat, berpura-pura tidak mengenal, pokoknya hanya sebatas orang asing! Tetapi kuasa Tuhan memaksaku untuk tetap tinggal. Angin berhembus kencang dibanding beberapa menit lalu. Daun-daun menari liar di sekitar udara, ranting pohon pun ikut berdansa. Sekejap, aku melihat sesosok wanita berambut biru tengah berdiri dibalik semak-semak. Payung berwarna pink ala zaman dahulu dipegangnya erat, padahal sekarang tidak hujan, langit cerah maksimal. Namun, bukan itu yang mengangguku, entah kenapa dia terlihat sedih.

"Lucy, apa yang kamu pikirkan?" suara Gray berhasil memecah lamunanku. Jika dia tidak ada mungkin kakiku terus membatu di tempat

"Bodoh, kenapa kamu memanggilnya? Kita kan bisa kabur saat Lucy bengong. Biar tau rasa dia terlambat masuk sekolah sendirian, hahaha!" tawa Natsu kejam. Loke mengernyitkan dahi heran, lagi pula masih pukul 6.35, apa dia belum sadar telah dipaksa berangkat melebihi jam awal. Daripada dipaksa, lebih tepat jika dikatakan 'ditipu'

"Pergi sana! Aku yang akan menemani Lucy terlambat" sahut Jellal terbawa suasana. Mendengar balasan itu nyaris membuat Lucy cengo. Sejak kapan pemuda bersurai biru laut ini perhatian padanya?!

"Jangan membuang waktu lagi! Hari ini kita kebagian piket"

Mulut mereka berempat pun membulat bersamaan. Loke berbuat curang dan kabur pertama kali. Gray menyusul di belakang. Natsu berusaha melewati kedua orang tersebut. Aku ikut berlari mengingat waktu yang menipis. Jika tidak cepat bisa ketahuan Erza-sensei! Jellal yang sedari tadi mengekori kini menyamai langkah kakinya denganku. Pertarungan antar Gray, Loke dan Natsu semakin memanas, mereka sampai kejar-kejaran begitu. Dan lagi, kenapa kita jadi lomba lari?!

"Tenang Lucy. Aku pasti melindungimu!" lah, kamu kira sedang uji nyali apa? Apa tadi pagi Jellal salah makan obat? Gerbang sekolah mulai terlihat di ujung mataku, harus lebih cepat, harus lebih cepat!

"Jangan bercanda di saat-saat seperti ini, Jellal!" seruku yang tidak sengaja ikut campur perlombaan lari mereka bertiga. Aku menginjakkan kaki di sekolah, terus berlari tanpa mempedulikan apapun di depan sana

BRUKK!

BRUKK!

BRUKK!

BRUKK!

BRUKK!

Tabrakan beruntun macam apa ini?! Aku bangkit berdiri, memperhatikan keadaan sekeliling yang masih sepi. Belum terlambat melaksanakan piket, kan? Seseorang menahan kepalaku menggunakan satu tangan, siapa pun dia pasti lebih tinggi dariku, melihatnya saja perlu mendongak. Nafasku terhenti seketika, menyadari kami berlima menabrak Erza-sensei hingga beliau marah besar. Natsu membersihkan seragamnya yang kotor, diikuti Gray, Loke dan Jellal. Kenapa begitu sial?!

"Biarkan saya memberi pencerahan pada otakmu, Lucy Heartfilia" ucap Erza-sensei memancarkan aura menakutkan

"Makanya, kalau jalan yang benar, dong! Kepalaku sampai berkunang-kunang begini!" bentak Natsu sempoyongan. Dia menunjuk punggungku dengan tatapan menyolot. Andaikan Erza-sensei tidak berada di sini, aku ingin menamparnya sekarang juga. Sadarlah jika tidak mau terjebak dalam masalah!

"Apa maksudmu menyalahkan orang lain, padahal kau sendiri juga salah, Natsu Dragneel?!" amarah Erza-sensei memuncak, dan kenapa aku yang harus dijadikan tempat pelampiasannya? Beliau tidak berkedip sekalipun melototi mataku

"Sikapmu menyebalkan sekali. Berani melawanku, hah?!" berhentilah dan jangan membuat kami terlibat, bodoh!

"Oh….apa kau berani, melawan saya one to one?"

"Kamu bisa bermain basket rupanya. Aku tidak akan kalah melawanmu. Ya, pertandingan ini juga bagus untuk membuang lemak di dada dan perutmu, hahaha. Melihatnya boing, boing sangat mengesalkan"

"Siapa yang kau katai gemuk, Natsu?" Loke memasang wajah tanpa dosa. Gray berpura-pura tidak tau. Jellal fokus menonton debat antara Erza-sensei dengan Natsu. Kalian tidak bisa diandalkan!

"Sudah jelas, itu adalah kau Lucy Heartfilia. Suatu hari nanti, aku pasti mengusirmu dari SMA Fairy Tail!" kiamat di depan mata, lebih baik aku bersiap-siap membuat lubang kuburan, lalu memasang batu nisan dan membenamkan diri di dalam sana

"Erza-sensei!" teriak Jellal sambil berlari ke arah kami. Perubahan sifatnya benar-benar tidak terduga! Dia merentangkan kedua tangan, hendak memberi pelukan kepada….Erza-sensei?

"Bodoh, kenapa kau malah memelukku?!"

"Habis, matamu terlihat seperti ikan mati tadi. Jadi, aku khawatir dan sengaja memelukmu!"

Kepolosan Jellal membawa jiwaku terbang! Kami berlima dihukum berjemur di lapangan, diharuskan pula hormat ke arah langit selama tiga puluh menit ke depan. Aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi itu gila dan menyebabkan tanganku pegal. Lima menit saja terasa seperti lima jam, bagaimana jika satu jam penuh? Seabad kali, ya! Entah berhalusinasi atau apa, aku seperti melihat siluet seseorang dibalik pohon rindang. Apa wanita yang tadi di jalan?

"Mau kabur kemana kau, Lucy?!" panggil Natsu yang aku indahkan. Rasa penasaranku tidak dapat dibendung lebih lama lagi. Apa tujuannya mengintai kami terus-menerus?

SREKK…SREKK…..!

"AAAAAAAAAAA!"

Teriakanku memang terlalu berlebihan. Suaranya terlampau indah melebihi nyanyian paduan suara. Sangat indah sampai membuat Jellal pingsan. Seekor kucing berwarna tak lazim, yakni biru, melompat ke arahku sambil bermanja-manja. Aku baru tau, klub pecinta hewan memelihara binatang unik semacam ini. Natsu mendekat dan meraih kucing itu, kembali dia menatapku dengan tidak mengenakkan. Seberapa besar, sih, kebencianmu terhadapku?

"Jangan sentuh Happy!" peringat Natsu dengan background imajen berapi-api. Aku saja belum menyentuhnya, seakan tanganku itu berlumur dosa, sehingga tidak diizinkan mengelus bulu halus kucing tak berdosamu

"Iya, iya. Apa dia kucingmu?"

"Begitulah. Tetapi jangan salah sangka, bukan berarti aku ini pencinta kucing atau apa…."

Humph, dasar tsundere! Aku sempat menyunggingkan senyum usai berbalik badan, ternyata Natsu punya sisi manis dalam dirinya. Ya, sejahat apapun seseorang pasti memiliki sifat baik. Namun yang lebih penting, aku harus bertanggung jawab dan mengantar Jellal ke UKS. Apa teriakanku memang seburuk itu?

Jam istirahat….

"Bersemangatlah, Lucy-san! Kami tidak mempermasalahkan teriakanmu tadi, kok" ujar Chelia-san menepuk pundakku pelan. Aku ingin lenyap, aku ingin lenyap….

"Chelia-san. Jawab pertanyaanku ini dengan jujur. Apa teriakanku sangat buruk dan keras?"

"Maafkan aku karena berkata seperti ini, teriakanmu sangat keras sampai membuat Gildarts-sensei pingsan. Ta-tapi kami bisa maklum, namanya juga sedang panik" pantas satu kelas tidak menyalahkanku! Apa setelah ini, Erza-sensei akan memanggilku ke ruang BK? Atau mungkin beliau ikut tepar? TIDAKKK!

"A…a….aku punya cerita horror, lho! Lucy-san dengarkan saja, ya. Mungkin bisa memperbaiki suasana hatimu"

"Baru-baru ini, aku mendengar rumor ada hantu gentayangan di sekolah kita. Kata murid yang pernah melihatnya, dia itu wanita dan mengenakan seragam SMA Fairy Tail. O-oh! Kalau tidak salah, dia juga memegang payung berwarna pink di tangan kanannya"

"Hari gini masih percaya hantu. Pemikirkanmu kurang maju, Chelia" cela Natsu melahap sepotong roti daging berukuran ekstra large. Aku menundukkan kepala merenungi cerita Chelia-san. Aneh, kenapa ciri-cirinya mirip dengan wanita yang tadi di jalan?

"Natsu-san! Aku hanya berusaha membantu Lucy-san agar dia tidak terpuruk. Lihat, sampai frustasi begitu"

"Melakukan hal memalukan memang bukan ciri orang kaya. Lagi pula, Lucy itukan murid peringkat dua se-Magnolia. Nanti kalau ketahuan harga dirinya tercemar, dong"

Sindiran Natsu yang pedas bagai angin lalu bagi telingaku. Hantu wanita itu….aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Apa jangan-jangan, dia memiliki pesan tersembunyi untuk seseorang?

GLEK!

Meski samar-samar aku dapat merasakannya. Seseorang mengintaiku dibalik pintu kelas. Apa dia membenciku, hendak menjatuhkanku sama seperti Natsu? Berkeinginan membunuhku?! Auranya gelap, mencengkam, membuat bulu kudukku merinding! Aku takut, tetapi rasa penasaranku mengalahkan emosi buruk tersebut. Sepulang sekolah, walau terjadi bencana alam bahkan meteor jatuh sekalipun, aku harus menyelidikinya!

Jam pulang sekolah….

Aku menunggu sampai sekolah benar-benar sepi, sekitar pukul dua siang sebelum melancarkan aksi. Baik Gray maupun Loke tidak bertanya, kenapa aku belum pulang, apakah ada urusan di sekolah atau apa, ya, mereka teman yang baik, jika berkata 'akan pergi mencari hantu', apa semudah itu mendapat kepercayaan sejati? Tetapi aku tau, bahkan Natsu sekalipun bukanlah orang munafik. Dia hanya keras di luar, namun lembut di dalam. Sifat tsundere-nya saja yang agak berlebihan.

Menurut rumor, hantu wanita itu sering bergentayangan di koridor sekolah, terkadang di halaman belakang bahkan kamar mandi. Tidak ingin membuang waktu, aku langsung pergi ke tujuan pertama. Menyelusuri mulai dari lantai dua, tersisa satu lantai yang diperiksa belakangan, meski aku takut jika disuruh mengcek lantai tiga. Teman sekelasku sering berkata, tempat tersebut merupakan area yang terkesan angker, sehingga kebanyakan orang bahkan guru menjauhinya.

"Daripada lelah-lelah mencari. Lebih baik aku langsung pergi ke atas"

Rasa penasaran membuatku melupakan takut sesaat. Aku melewati rantai yang bergelantung membentuk garis melengkung ke bawah. Memang, ada peraturan tak tertulis bahwa siapa pun tidak boleh memasuki lantai tiga, entah apa alasannya, aku pikir bukan karena hantu. Suara sepatu terdengar menghentak-hentak ubin keras. Debu berterbangan menyebar di setiap ruas udara, membuat mataku kelilipan lalu membentur tembok.

Apa aku masih kurang sial?

"Bisa berdiri?" tanya seseorang mengulurkan tangannya padaku. Eh, aku kira tidak ada seorang pun di sini

"Terima kasih. Omong-omong, apa yang kamu lakukan?"

"Hanya jalan-jalan saja. Namamu Lucy Heartfilia, ya?"

"Ba-bagaimana kamu mengetahuinya?!" jelas kan mengejutkan. Apa aku sebegitu terkenalnya?

"Banyak orang yang membicarkanmu. Sebelumnya kamu membantu Romeo-san, lalu baru-baru ini menolong Jellal-san. Kau berhasil melakukannya, kini mereka mendapat kehidupan yang jauh lebih baik"

"Kamu berlebihan! Aku tidak sehebat itu, kok" belaku tersipu malu. Ada kesalahan dari rumor tersebut, Romeo dan Jellal membantu diri mereka sendiri, tanpa Natsu aku mana bisa melakukannya dengan baik. Semua berkat dukungan di belakang panggung sana

"Ano….Lucy-san, bolehkah aku meminta bantuanmu?" ini pertama kalinya aku dimintai tolong secara langsung. Senyum itu digantikan ekspresi sendu yang sulit dijelaskan. Atmosifir di antara kami mendadak berubah drastis

"Soal apa?"

"Bantulah aku dekat dengan Gray. Kumohon!"

"Maksudmu Gray Fullbuster? Apa kamu penggemar beratnya?"

"Ya, mungkin saja. Apa kamu bisa menerima permintaan ini?"

"Lebih baik kita berkenalan dulu. Aku bingung harus memanggilmu apa"

"Juvia Lockser. Terserah Lucy-san ingin memanggilku dengan nama depan atau belakang. Lalu, perihal yang tadi…."

"Baiklah, tetapi apa yang ingin…."

"Kamu lakukan?"

Hilang….Juvia-san menghilang bagai ditelan kabut. Aku serasa dipaksa untuk menyanggupinya setelah berkata 'baiklah'. Sekarang, rencana apa yang harus ku rancang, demi memenuhi permintaan tersebut? Dan lagi, siapa dia sebenarnya?

Bersambung….

Balasan review :

Ryuzaki Namikaze : Thx ya udah review. Baguslah kalau kamu suka ceritanya. Tunggu terus ya sampe tamat, meski agak lama sih. Pasti dilanjut, semoga saja tidak hiatus nanti di tengah jalan.

Fic of Delusion : Saran yang bagus untuk para jomblo namun sesat, wkwkwkw. Jangan tiru Jellal dalam cerita ini, bukannya pacaran malam dihukum yang ada. Thx ya udah review.

Rui : Thx ya udah review. Oke deh pasti dilanjut. Ikuti terus ya XD