Nama Juvia terus melayang-layang dalam pikiranku. Dia aneh, memiliki senyum yang manis, dan saat mendengarnya menyebut Gray….aku tau dia serius. Jam menunjukkan pukul tiga sore, bertepatan dengan kedatanganku pulang ke rumah. Ibu menyambut dari arah dapur, tengah sibuk memasak yang harumnya dapat tercium sampai daun pintu, walau jarak antara aku dengan panci penggorengan terpaut lumayan jauh.
"Virgo sudah menyiapkan bak mandinya. Pergilah sekarang dan makan malam siap"
"Baik!" seruku membalas perintah ibu. Bersantai memang hal yang aku perlukan sekarang, guna mengusir lelah yang menyengat hati dan pikiran
Kaki kananku pertama kali melangkah masuk ke dalam bak mandi, baru seluruh tubuhku ditenggelamkan, menikmati air hangat yang mengenai kulit. Nyaman sekali….berlama-lama di sini pun bukan masalah. Jadi teringat dulu, saat masih kecil aku langsung loncat dan bermain bebek plastik, sampai membuat tante Aquarius marah menjitak kepalaku pelan. Jika masih berani melakukannya, pasti volume air akan merembas keluar hingga tersisa satu perempat saja.
"Lucy. Ada SMS dari Levy!" eh, ada perlu apa, ya, kira-kira? Aku segera membersihkan diri dengan handuk. Mengancingi lima bundaran kecil ke setiap lubang yang terpasang bersusun
Layar handphoneku menyala sesaat, dering khasnya terdengar menandakan ada SMS yang masuk. Jari telunjukku menyentuh pesan masuk. Membaca awal hingga akhir kalimat seksama. Dibilang penting tidak juga, karena aku pikir Levy ingin mengirim undangan pesta ulangan tahun Lisanna. Ini soal kencan berkelompok, yang akan diadakan pada hari Minggu besok. Bagaimana, ya? Aku mana enak hati menolak, tetapi permintaan Juvia-san juga tak kalah penting.
From : Levy
Sore, Lu-chan! Maaf menganggu di saat-saat santaimu. Minggu besok Lisanna-chan mengajakku kencan kelompok, tetapi karena ada urusan jadi tidak bisa. Makanya, dia memintamu menemaninya dengan membawa seorang cowok. Kalau Lu-chan tertarik, hubungi saja nomor yang biasa dia pakai. Oke?
To : Levy
Apa Lisanna-chan sudah punya pacar? Sayangnya aku tidak bisa. Hari Senin pun sibuk sekali, bagaimana selanjut dan selanjutnya? Sampaikan maafkanku pada Lisanna. Pulsaku mau habis.
SEND!
Alasan yang cukup logis. Entah kenapa aku merasa Juvia-san patut mendapat pertolongan. Menyangkut ini tentang Gray, si pemuda bersurai raven yang belum kukenal seluk beluk sifatnya. Hubungan mereka pun masih misteri, tetapi siapa yang peduli dengan masa lalu? Aku menutup ponsel lambat. Berjalan menuju kamar sambil menghempaskan badan ke atas pulau kapuk. Bagaimana perasaan dia sebenarnya? Sebatas suka atau sangat mencintai? Teman biasa atau mesra?
Sial….aku baru sadar kekurangan banyak informasi. Dimana, ya, kelas Juvia-san? Masalah ini harus dibicarakan supaya jelas, lalu…lalu….
"Be-benar juga, kencan berkelompok! Itu cara yang paling tepat" untung pikiran jernihku belum menghilang total. Tinggal merancang kebohongan 'ini acara jalan-jalan biasa', dan Gray pasti masuk dalam jebakanku, bingo!
Namun rencanaku belum lengkap seratus persen. Jika Gray pergi bersama Juvia, bagaimana denganku? Bisa saja, sih, aku sendirian di saat mereka sibuk meramu cinta, tetapi status jombloku terbongkar nanti, pasti memalukan bukan kepalang, kalau orang-orang menggosip yang tidak-tidak. Ah, manusia zaman sekarang suka sekali ikut campur! Skak mat karena aku malah menjelek-jelekan diri sendiri. Jadi, siapa yang harus ku ajak ke acara mak comblang itu?
"Nat….su?"
Dari semua nama cowok, kenapa harus Natsu yang muncul?! Kan masih ada Loke atau Jellal, satu-satunya penghuni kelas yang dapat aku sebut 'teman', selain Chelia-san. Mengingat kerja sama kami berdua sewaktu menolong Jellal, berhasil membuat otakku tercuci lagi. Dia yang selama ini membantuku meski terpaksa, berada di dekatnya juga terasa nyaman….ta-tapi, bukan berarti aku menaruh rasa maupun jatuh cinta!
Cocok. Ya, satu kata itu cukup menggambarkan kesanku terhadapnya.
"Coba dulu, deh. Kalau Natsu tidak mau aku bisa mencari yang lain"
Memangnya, hanya Natsu cowok di SMA Fairy Tail?
Ibu berteriak memanggil namaku sebanyak tiga kali, yang baru-baru ini aku sadar usai terlepas dari lamunan. Nada bicaranya tidak mengenakkan, apa beliau marah? Tetapi sejak tadi aku….SIBUK BERPIKIR SAMPAI LUPA JAM MAKAN MALAM! Selanjutnya di lima menit kemudian, sesi minta maaf sambil tersedu-sedu memohon ampun. Tepat waktu adalah peraturan wajib keluarga Heartfilia, dan aku melanggarnya padahal tau ayah pulang hari ini.
Tolong kubur aku sekarang….
Keesokan harinya….
"Uhmm….berisik" gumamku menepis jam weker yang berbunyi nyaring. Aneh, apa aku pernah menaruh barang cerwet itu di atas meja?
"Waktunya anda bangun, Lucy-sama. Nona Heartfilia menunggu di meja makan" balas Virgo menarik selimut putih kesayanganku. Ternyata dia yang menaruhnya, dasar usil….
"H'ai"
Pukul enam lewat lima. Pagi tertenang yang aku lewati seminggu lalu. Burung-burung kecil masih tertidur lelap di sarangnya. Mobil pun jarang lewat di jam segini. Tangan kananku sibuk memoles selai stoberi di atas permukaan roti, sedangkan yang kiri mengetik deretan kalimat untuk dikirimkan pada seseorang. Ibu berdeham keras, bermaksud memperingatiku agar berhenti bermain telepon pintar. Karena buru-buru jadi begini! Mau bagaimana lagi, daripada 'dia' masuk kesiangan.
To : Natsu
Datanglah ke sekolah lebih pagi, ada yang ingin aku bicarakan. INI SANGAT PENTING! Mengabaikanku jangan harap bisa bernafas.
Ancaman yang berlebihan, bukan? Tetapi aku sengaja melakukannya, supaya si hati baja tanpa banyak bertanya menuruti permintaan, ralat perintahku. Mobil ayah terparkir rapi di depan pintu gerbang kediaman Heartfilia. Beliau menepuk-nepuk bangku kiri di sebelah setir, menyuruhku segera masuk dan berangkat secepat mungkin. Aku harap Natsu sampai duluan, awas saja kalau dia berani menentang! Cara terbaik untuk menaklukannya adalah paksaan. Itulah kelemahan si pingky kesayangan kalian.
Droy-san menyapaku ceria sambil menyapu halaman depan sekolah. Dia menyukai pekerjaannya melebih siapapun. Aku sadar telah dikelilingi orang-orang baik selama ini. Koridor nampak sepi tanpa hiruk-pikuk dari suara yang saling menyahut. Pintu kelas ku geser perlahan, tidak ada batang hidung Chelia-san apalagi Natsu. Baiklah, karena kesabaranku belum habis ditambah sikap toleransi yang agak ditingkatkan, maka dia masih selamat sekarang. Ya, hanya sekarang.
Tik…tok…tik…tok….
"Selama pagi, Lucy-san"
"O-oh, Chelia-san rupanya!"
"Maaf, apa aku menganggumu membaca novel?"
"Ti-tidak sama sekali. Apa kamu melihat Natsu?"
"Palingan Natsu-san tiba lima menit sebelum bel masuk. Ada perlu apa Lucy-san mencarinya?" bodoh, bodoh, bodoh! Pertanyaanku terlalu menarik perhatiannya, yang selalu kepo dengan urusan orang lain. Aku buru-buru menggelengkan kepala. Memaksakan senyum guna menutupi maksud sebenarnya
BRAKKK!
Baru dibicarakan dia sudah datang. Aku bangkit berdiri dan menghampirinya. Wajah polos macam malaikat itu membuat hatiku nyaris iba, kalau mengaku kalah kesemptanku mengontrolnya pasti kandas saat itu juga. Mendadak Natsu memasang tatapan intimadasi yang sangat kuat. Sengaja menabrak bahuku penuh tenaga menyebabkan kedua kakiku hilang keseimbangan.
Jika seseorang tidak menangkapku, pasti tempat bokongku mendarat ialah lantai marmer sedingin sorot onyx-nya.
"Terima kasih sudah menolongku"
"Senang bisa membantumu, malaikat kecilku" hahaha….julukan aneh macam apa itu?! Suara beratnya familiar dengan seseorang, dia bukan Natsu si hati baja, Gray atau Loke, mirip seorang pemuda bersurai sebiru laut, yang dua hari lalu ku tolong menyatakan perasaannya pada Erza-sensei. Aku menoleh ke belakang, menyadari sesosok lelaki tampan tersenyum hanya kepadaku. Ternyata dia memang….
"Je-Jellal?! Sedang apa kamu di sini?" tanyaku terheran-heran. Yang bersangkutan tertawa geli, melihat muka semerah kepiting rebus yang aku tunjukkan terang-terangan. Aib, ini aib terbesarku!
"Tidak seharusnya kamu bertanya seperti itu. Aku yang menolongmu tadi. Sekarang kita impas"
"Oke, oke. Biarkan aku balik ke…."
SREKK!
Apa-apaan ini?! Jellal menarik tanganku lembut, membuat kontak fisik secara langsung yang menyebabkan detak jantungku berdentum heboh. Bisikannya amat membuai telinga, alam bawah sadarku seakan lenyap melayang ke surga. Dia melepas pegangan seraya menyeringai, aku dapat mendengar suaranya yang menusuk namun tidak sakit. Lembut….bahkan jauh lebih lembut dari sutera mahal milik ayah.
"Aku akan membuatmu berhutang budi lagi padaku, Lucy Heartfilia"
Dan tanpa ku sadari, Natsu menyaksikan dari awal hingga akhir tingkah Jellal, yang membikin hati kecilnya jengkel bukan main.
"Anak-anak, keluarkan buku matematika kalian. Bukalah halaman tujuh puluh satu, lalu kerjakan soal bagian A dan B. Bla…bla…bla….."
Kebanyakan pura-pura tuli. Ada yang sibuk sendiri. Diam-diam mendengar lagu lewat earphone. Tertidur menjelajahi mimpi indah, sampai asyik mengupil dan menempel 'barang temuannya' di bawah meja kayu. Pantas sekolah ini masuk peringat tiga terbawah, menghargai guru saja sulit sekali. Jellal yang biasa fokus pandangannya justru lari kemana-mana, dan hal paling menganggu adalah dia terus memperhatikanku sejak pelajaran dimulai. Apa taburan bedakku tidak merata? Terlalu mencolok? Terkesan kampungan?!
"Jika selalu memperhatikan doi, tandanya kamu tertular virus bebal bernama jatuh cinta. Mengerti, Jellal Fernandes?" ledek Gildarts-sensei nyengir kuda. Memangnya ketua kelas benar-benar menyukai seseorang? Tapi siapa?
Teka-teki yang menyebalkan.
Jam istirahat….
Kebetulan kelas sedang sepi. Chelia-san tidak bawa bekal, sehingga pamit padaku untuk membeli bento di kantin. Aku memanfaatkannya sebaik mungkin. Natsu yang suka berkeliaran pun mendadak kalem, duduk manis menyantap roti daging gosong kesukaannya hikmat. Tumbenan Gray dan Loke tidak menemani, jarang melihat mereka terpisah seperti sekarang.
"Hoi Natsu" panggilku menekan setiap kata serius. Kepala salam-nya menoleh malas, dia tetap saja terlihat menyebalkan
"Apa?"
"Kali ini aku dimintai tolong oleh wanita bernama Juvia-san. Dia ingin dekat dengan Gray Fullbuster, sahabatmu. Jadi…."
"Jadi, kau memintaku menyusun rencana? Biar aku pikirkan dan pergilah dari sini" pengusirannya jauh lebih halus dibanding dulu. Kepalaku menangkap kode tersirat itu secepat kilat. Natsu berniat membantuku kali ini ternyata
"Tidak. Rencananya sudah ada, kok. Minggu besok aku ingin mengajakmu jalan-jalan ke Fairy Playland. Jam sepuluh pagi. Gray dan Juvia-san juga diundang. Kita tinggalkan, supaya mereka mendapat kesempatan bersama lebih banyak. Bagus kan?"
"Siapa juga yang mau membantumu, baka….!" nada ejekannya membuatku dongkol. Padahal aku mempercayai Natsu melebihi harapan, tetapi malah mengecewakanku. Sialan kau, sialan!
"Terserah! Aku bisa…."
"Biar aku yang menggantikanmu menemani Lucy, Natsu" potong seseorang dibalik pintu geser. Jellal menguping pembicaraan kami entah sejak kapan, apa dia sengaja melakukannya? Aku mundur beberapa langkah, menjauhi sang pemuda yang terus maju tak gentar
"Kamu mau membantuku?"
"Tentu saja. Tidak ada alasan bagiku untuk menolakmu. Lagi pula aku bebas hari Minggu besok. Natsu kan sibuk kencan dengan wanita silver kesayangannya, mana punya waktu demi seorang Lucy Heartfilia?" ucap Jellal menyisipkan sindiran di akhir kalimat. Heh….aku baru tau dia pacaran
"TEME….! Kau mau cari ribut, hah?!"
Pukulan Natsu layangkan usai melontarkan ucapan frontal tersebut. Terjadi pertengkaran kecil di antara mereka berdua. Jika sampai ketahuan Gildarts-sensei (lebih parahnya Erza-sensei), aku tidak mampu membayangkan bagaimana selanjutnya! Teriakanku menutupi baku-hantam yang dapat menarik perhatian murid lain. Meski Natsu ogah menanggapi, namun tidak dengan Jellal.
"Hentikan, aku mohon hentikan!"
"Lucy. Bukan Jellal yang akan menolongmu, melainkan aku" ucap Natsu menyudahi pertengkarannya. Dahiku berkerut heran mendengar pertanyaannya barusan. Apa Jellal salah pukul, sehingga kepala si hati baja jadi error?
"Eh? Bisa diulangi?"
"I-intinya aku ingin membantumu, tapi jangan salah sangka, sekali ini saja!"
Dasar tsundere tingkat akut! Aku menghela nafas panjang, menyetujui tawarannya yang membuat dia mesam-mesem tanpa alasan jelas, bahkan mengacungkan jari telunjuk membentuk angka satu. Apapun taruhan di antara Jellal dan Natsu, itu di luar urusanku.
Kabar gembira ini harus aku sampaikan pada Juvia-san sepulang sekolah. Rasanya tidak sabar menanti hari Minggu tiba!
Bel pulang….
Sama seperti kemarin, aku berlari menaiki tangga menuju lantai tiga. Melewati lengkungan rantai yang menghadap marmer biru gesit, berjalan menyusuri koridor pelan agar tidak menabrak tembok. Juvia-san tengah menyendiri pada sandaran tembok bercat putih. Dia langsung melambaikan tangan menyadari keberadaanku yang lumayan mencolok. Air mukanya menunjukkan perasaan harap-harap cemas. Oh ayolah, aku bukan pemberi harapan palsu.
"Soal permintaanmu, aku berjanji pasti membantumu mewujudkannya. Hari Minggu besok datanglah ke Fairy Playland. Jam sepuluh pagi. Kamu tidak sendiri, ada aku dan Natsu yang mendukung di belakang. Sisanya tergantung keputusanmu, Juvia-san"
"Uhm! Terima kasih banyak, Lucy-san. Gray benar-benar menerima ajakanmu?"
"Ya, dia tidak pikir panjang dan langsung setuju. Kamu mencintai Gray, ya….?"
"Be-begitulah. Aku menyukainya semenjak kelas satu SMP, tetapi Gray bukan lelaki yang peka terhadap perasaan wanita. Jadi, hubungan kami sebatas sahabat"
"Memang, sih, dia itu sama bodohnya dengan Natsu. Maaf, aku pulang duluan ya!"
"Berhati-hatilah di jalan!"
Siapa peduli dengan hantu wanita, aku akan menyelidikinya kapan-kapan.
Hari Minggu….
Kini aku sibuk merias diri di depan kaca, meski sebatas makeup sederhana demi menunjang penampilan. Ibu tidak berkomentar apapun soal acaraku. Lagi pula masa hukumannya telah dibatalkan, kok! Capricon sempat menawarkan tumpangan, karena jarak rumahku dengan Fairy Playland lumayan jauh. Alasan apa yang membuatku harus menolaknya? Perjalanan berlangsung selama satu jam kurang, membosankan sekali hanya melihat kilasan pemandangan di dalam mobil bekecepatan 60 km/jam.
"Kita sudah sampai, Lucy-sama"
"Kalau begitu aku pergi dulu"
"Telpon saya jika acara Lucy-sama sudah selesai"
"H'ai…."
Tiket masuk seharga dua ratus tibu jowle, cukup mahal untuk taman bermain berukuran sedang. Aku mencari batang hidung Natsu yang tak kunjung nampak, dimana pula Juvia-san dan Gray? Jangan sampai si hati baja mengtroll-ku, lalu pura-pura lupa keesokan harinya, dan kau tau kan, itu sama sekali tidak lucu! Flat shoes ku dihentak-hentakkan ke tanah kesal. Mereka bertiga terlambat lima belas menit dari perjanjian, mungkin terjebak macet di jalan Rosenburg.
"Yo Lucy" sapa Gray diikuti Juvia-san dan Natsu. Syukurlah aku tidak dikerjai, tetapi ekspresi Natsu membuat suasana hatiku rusak seketika. Baru merasa lega sudah dibuat kesal lagi
"Pertama-tama kita mau kemana?" tanyaku berusaha menutupi urat kemarahan di pelipis. Juvia-san menunjuk bianglala bersemangat. Menarik tangan Gray menjauh dari kami berdua
"Heh….aku tidak menyangka, Gray mau-maunya jalan bareng wanita asing" komentar Natsu mendecih pelan. Belum lama berdiri dia sudah duduk di bangku taman. Mengeluhkan banyak hal yang mengusik indra pendengaranku
"Mungkin mereka punya ikatan khusus, seperti sahabat?"
"Jangan sembarangan menebak, pirang acak kadut. Aku yang bersahabat dengan Gray saja, tidak tahu-menahu tentang masa lalunya" aneh, sangat aneh bahkan. Kantuk menyerang kesadaranku cepat, berlama-lama di sini hanya membuat kakiku berkarat
"Ayo jalan-jalan. Kamu tidak bosan apa?"
Meski sekedar membeli makanan ringan atau bermain games, entah kenapa aku tidak bisa berhenti tersenyum sedari tadi. Natsu memalingkan muka malu, menyadari iris karamelku terus menatapnya tanpa henti. Jauh dari lubuk hati terdalam, aku yakin dia merasakan hal yang sama denganku. Juvia melambaikan tangan berulang kali, hendak menandai lokasinya saat ini bersama Gray. Aku pikir mereka belum bersenang-senang.
"Kalian sudah naik wahana apa saja?" tanyaku basa-basi tidak penting, daripada dicengkam canggung?
"Bianglala. Bom bom car. Perahu air. Rumah kaca….Lucy-san sendiri?"
"Kami cuman berkeliling. Aku sempat mengajak Natsu naik histeria, tetapi dia menolak. Melihat istana boneka pun tidak mau" huh, orang yang satu ini sulit diajak bersenang-senang! Gray cekikikan mendengar cerita singkatku. Natsu membelakangi kami bertiga menyembunyikan sesuatu
"Wajar karena Lucy masih baru. Natsu itu mabuk kendaraan. Naik perahu saja bisa kambuh. Pilihan buruk mengajaknya main ke sini"
"Be-benarkah?"
"Sialan kau Gray…." rutuk Natsu menahan suaranya agar tidak terdengar. Jujur, aku sangat kaget mengetahui dia mengidap mabuk kendaraan tingkat berat. Pasti Natsu terpaksa lagi membantuku
"Untuk apa takut? Wanita pujaanmu tidak akan mempermasalahkan hal sekecil itu" ledek Gray tertawa lepas sesudahnya. Emosi Natsu yang mudah terpancing, nyaris menimbulkan pertengkaran di sebuah stand makanan jika aku tidak melerai. Mereka berdua sama saja….mirip anak kecil!
Ada banyak orang berlalu-lalang melewati kami, namun yang paling menarik perhatianku adalah, sekelompok muda-mudi tengah berkumpul menyantap es krim dekat penunjuk jalan. Tidak ada hal aneh atau apapun. Aku merasa, seperti mengenal sesosok perempuan bersurai silver sebahu di pinggir kanan. Dikalahkan rasa penasaran, kedua kakiku melangkah begitu saja mendekati mereka. Gray, Natsu dan Juvia-san yang sibuk sendiri pun mengekoriku di belakang.
"Lisanna….chan?"
"Lucy-chan? Sedang apa kamu di sini?" dia langsung memelukku erat melepas rindu. Aku jarang bertemu dengannya, karena Lisanna-chan termasuk golongan orang sibuk. Merupakan kesempatan langka dipertemukan kembali oleh Tuhan secara kebetulan
"Jalan-jalan bersama temanku. Perkenalkan, yang di sampingku namanya Juvia Lockser. Yang berambut raven namanya Gray Fullbuster, sedangkan yang berambut salam namanya Natsu Dragneel"
"Natsu?" onyx-nya menoleh ke asal suara. Membulatkan mata kaget melihat Lisanna-chan yang memasang tampang bingung
"Ma-maaf. Kepalaku mendadak sakit, ayo temani aku ke apotek terdekat, Lucy" pinta Natsu menarik lenganku kuat. Aku menundukkan kepala berulang kali, meminta maaf pada Lisanna-chan yang sebatas tersenyum, getir?
Apa selain mabuk kendaraan Natsu juga buta arah? Aku melepas pegangan paksa. Mengintograsi lewat tatapan intimidasi andalannya. Dia terlihat baik-baik saja, alasan sakit kepala itu palingan untuk menghindari Lisanna-chan. Aku memperhatikan sekeliling sambil menghela nafas berat, sekarang kami berada di mana? Meminta pertanggung jawaban pun sia-sia, lebih baik bertanya pada petugas.
"Maaf pak, tetapi ini di daerah mana, ya?"
"Ini daerah wahana ekstrim, non!"
Wahana ekstrim? Bukankah tersesatnya terlalu jauh? Aku menghadap ke belakang menyadari kehadiran seseorang. Pria berbadan besar dengan kaca mata hitamnya yang mencurigakan! Siapa pun dia pasti memiliki maksud tersembunyi. Natsu menghilang entah kemana, lenyap dari pandanganku ditelan lautan manusia. Nafasku tersekat dibekap menggunakan sapu tangan. Tidak….aku diculik! Aku akan dibawa kemana?! Pengunjung lain nampak mengejar si penculik, tetapi mereka kehilangan jejak dan hanya menyisakan kami berdua. Bantuan, aku harus menghubungi polisi!
"Le-lepaskan aku sebelum polisi datang kemari!" ancamku bergetar ketakutan. Merogoh ponsel dalam kantung rok hendak mengetik nomor tujuan
"Lucy, ini aku!" yang menculikku adalah Natsu? Apa dia sudah gila?!
"Aku tau kamu membenciku, tetapi jangan berlebihan melakukannya!" tanpa disadari, air mata berjatuhan membasahi pipiku. Natsu selalu nyaris membuatku menangis, dan sekarang dia benar-benar melakukannya
"Diculik temanmu sendiri jauh lebih baik, daripada lelaki berbadan besar itu yang menculikmu?"
"Kau menyelamatkanku?"
"Be-begitulah, tetapi sekali ini saja. Selanjutnya aku tidak peduli, mau kamu jatuh ke jurang sekalipun" kejam sekali perkataanmu. Ya, tetapi dia berhasil membuatku tersenyum lagi
"Ayo hampiri Juvia-san dan Gray"
Tak terasa sudah sore. Matahari pun hampir terbenam di ufuk barat. Natsu menghubungi Gray dengan telepon genggamnya sebanyak tiga kali, tetapi tak kunjung diangkat. Mungkin mereka asyik bermain sampai lupa waktu, terka-ku sibuk mencari ke segala arah. Seorang badut dengan kostum kelincinya menyodorkan selembaran kepada kami berdua. Festival kembang api pukul tujuh malam, apa Gray dan Juvia-san juga pergi? Aku menepuk bahu Natsu pelan. Memberi isyarat untuk mengunjungi acara tersebut.
"Memangnya kamu yakin, mereka berada di sana?" tanya Natsu ragu. Aku tau, dia lelah karena terus berjalan tanpa istirahat. Menemukan sahabatnya saja begitu terpaksa
"Percayalah. Ayo kita pergi"
"Ikuti aku! Gray pasti mengajaknya melihat dari situ" tangan kami sudah berpegangan sebanyak tiga kali seharian ini, apa Natsu tidak menyadarinya? Ya, siapa peduli, aku senang dia menganggapku
Kami memulai pencarian di daerah sepanjang sungai Magnolia. Aneh, bukankah sudah terlalu jauh dari taman bermain? Ekor mataku melirik ke samping kanan, mendapati Gray dan Juvia sedang mengobrol, bahkan saling bergandengan! Jelas aku kaget, sedekat apa, sih, hubungan mereka di masa lalu? Natsu mendorong kepalaku bersembunyi di semak-semak. Kalau ketahuan bisa bahaya katanya, karena Gray paling benci diuntit.
"Sudah lama, ya, kira-kira tiga tahun lalu?" tanya Gray mengelus surai Juvia lembut. Seperti sepasang kekasih saja
"H'ai….saat itu Gray-sama pindah ke SMP Fairy Tail. Juvia kangen" imbuhan –sama? Apa mereka itu tuan dan pembantu? Ah, mana mungkin, Juvia kan murid sekolah sama seperti kami
"Maaf, maaf, aku yang bersalah telah meninggalkanmu. Apa kamu lelah?"
"Tidak. Justru sangat senang. Asal bersama Gray-sama, Juvia rela pergi ke luar angkasa sekalipun"
"Candaanmu lucu. Aku tidak ingin menjadi astronot, kok"
"Inikan pemisalan. Juvia tau, cita-cita Gray-sama kan jadi pemahat patung. Sayangnya, om dan tante menentang keras. Namun sekarang, tidak ada yang bisa menghalangi Gray-sama"
"Terkadang aku berpikir, apa pantas melakukan ini? Orang tuaku sangat marah, ketika mengetahui putra mereka masuk SMP Fairy Tail"
"Di sana tidak buruk. Gray-sama punya sahabat baik, sedangkan aku bertemu dengan penolongku"
"Penolongmu? Siapa dia?"
"Rahasia. Nanti Gray-sama tau cepat atau lambat"
Suasana hening sejenak, menyisakan mereka berdua larut dalam dunia masing-masing. Aku lelah dan ingin pulang. Ending ini bagus untuk Juvia-san maupun Gray : bahagia. Natsu tidak membiarkanku bergerak meski seinci saja. Jarang-jarang melihatnya penasaran tingkat dewa, dia juga berkata 'tunggulah sebentar lagi. Aku rasa akan terjadi hal menarik'.
DUARRR!
DUARRR!
Warna-warni kembang api memeriahkan langit malam di kota tercinta, Fiore. Aku yakin menyaksikannya walau dihalang kilatan cahaya, me-mereka ciuman! Natsu membungkam mulutku yang hampir mengeluarkan suara. Dia berlebihan, lagi pula, bisikan kecil tidak berarti apapun di tengah rentetan letusan kembang api.
"Gray-sama. Ada yang ingin Juvia katakan padamu"
"Katakan saja, tapi setelah itu….biarkan aku yang berbicara"
"….."
"Terima kasih Gray-sama! Beraktmu aku bisa pergi ke surga sekarang" salam Juvia mengecup bibir Gray singkat. Pertemuan dan perpisahan yang menyakitkan, ya….
Surga? Maksudnya tempat setelah kematian? Aku menganga di tempat. Juvia-san sempat mengatakan sesuatu dengan volume suara hampir nol, kemudian menyalip lisan Gray yang setengah terbuka. Sontak aku dan Natsu berlari menghampirinya. Dia shock berat, belum menerima kenyataan bahwa kilauan cahaya berangsur-angsur menelan tubuh Juvia.
Mirip hantu, ya, kalau dipikir-pikir?
"Terima kasih, Lucy-san"
Aku tidak perlu lagi menanyakan, sesosok hantu wanita dengan payung ala Eropa kesayangannya. Karena orang itu adalah Juvia sendiri.
Bersambung….
A/N : Jadi, bagaimana pendapat kalian mengenai chapter ini? Gregetan? Membosankan? Biasa aja? Gak bikin penasaran? Mohon review-nya ya! Maaf juga kalau update-nya kelamaan. Author mendadak sakit dan cerita ini sempat terhenti, untung udah baikan. Update selanjutnya My Family dan I don't Want to Forget You
Balasan review :
GummyZone : Maaf ya review-nya baru dibales sekarang. Update-nya aja baru sekarang ya, hehehe. Maaf juga kalo gak bisa update kilat, idenya rasa tersendat jadi butuh waktu lama. Yap, kamu sudah mendapat jawabannya di sini. Puaskah? Thx ya udah review
Ryuzaki Namikaze : Dia memang hantunya, hehehe. Thx ya udah review
Fic of Delusion : Juvia gak akan setega itu kok membawa Gray ke alamnya, wkwkw. Semoga ke depannya kamu makin suka sama cerita ini. Thx ya udah review. Gimana chapter 8-nya?
