Sesudah kejadian itu, kami memutuskan untuk pulang, tanpa membicarakannya sedikitpun selama perjalanan. Gray frustasi berat. Natsu ikut sedih melihat sang sahabat terlukai secara mental. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, namun Juvia-san benar-benar menghilang entah kemana. Hantu tidak ada, begitulah kata ibu. Putri tunggal keluarga Heartfilia dibesarkan atas dasar kenyataan, demi mempersiapkanku menjadi dokter handal di masa mendatang.
"Ikhlaskan saja, bisa?" tanyaku membuka pembicaraan di antara kami. Bulan purnama menyoroti wajah Gray yang nampak sendu. Aku tau sulit melakukannya, tetapi dia harus belajar mulai dari sekarang
"Mengikhlaskannya? Apa maksudmu?"
"Juvia-san kini hidup tenang di sana. Penderitaannya telah dihapuskan oleh kematian. Seharusnya kau bersyukur, Gray" memang, ucapanku sekarang bukanlah hal yang ingin dia dengar, tetapi, menodai kedua telinga temanku sendiri dengan hiburan kosong sama saja menjerumuskannya. Gray perlu sedikit ketegaran, itulah yang terpenting
"Lucy! Perkataanmu kali ini sangat keterlaluan!" seru Natsu menarik lenganku menjauh dari Gray. Yang diajak mengobrol hanya terdiam. Lanjut berjalan tanpa mempedulikan pertengkaran kecilku dengan si hati baja
"Aku mengatakan apa yang harus aku katakan. Suatu hari nanti, manusia pasti menghadapi ajal, cepat atau lambat. Kamu dan Gray mengetahuinya, bukan?" mereka bukan anak-anak, mereka remaja sama sepertiku. Realita memang kejam. Hidup tidaklah seratus persen menyenangkan, jika kematian membayangi setiap hari
"Tentu aku tau, lalu kenapa?! Karena itulah aku membenci dokter. Kamu bisa mengucapkannya dengan mudah, karena belum mengerti apa itu kehilangan. Apa kamu tidak memiliki, seseorang yang berharga dalam hidupmu?"
"Jelas kan aku punya?! Ayah, ibu, Levy-chan, Lisanna-chan. Mereka semua berharga bagiku!"
"Lalu, jika salah dari mereka meninggal, apa kamu masih bisa, dengan sombongnya berkata seperti tadi?"
"Kau tidak mengerti apapun, Natsu! Aku…aku…."
"Berhentilah menangis, bocah! Itu juga berlaku untukmu, kau tidak mengerti apapun tentangku, Lucy" interupsi Gray berlari meninggalkan kami berdua. Aku terpaku di tempat, melihat bayangannya menjauh dari pantulan sungai Magnolia
Angin musim gugur begitu dingin menembus kulit ari, ditambah pakaian lengan pendekku menambah tusukannya yang menjadi-jadi. Namun tetap, hati Gray jauh lebih dingin dibanding cuaca hari ini. Apa sekarang dia membenciku? Apa dia ingin memutus hubungan? Tidak, sejak awal aku selalu sendirian, karena begitulah takdir Lucy Heartfilia yang terlukis. Lucunya mengutuk takdir sendiri.
"Lucy-sama, kenapa anda tidak menghubungi saya?" tanya Capricorn setelah aku menginjakkan kaki di mansion Heartfilia. Jam menunjukkan pukul delapan malam, berbahaya memang jika seorang gadis pulang larut-larut
"Maaf, aku kehabisan baterai. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku"
"Silahkan masuk. Nyonya Heartfilia menunggumu di dalam"
Kira-kira ibu marah tidak, ya? Kedatanganku disambut, oleh seulas senyum beliau yang khas. Ayah membisu dan langsung beristirahat di dalam kamar. Menyisakanku yang masih melamun memikirkan kejadian barusan. Kalau dipikir-pikir perkataanku keterlaluan kejam, Gray tengah bersedih dan aku menambah air mata di hatinya. Bodoh sekali…bodoh…bodoh….bodoh! Kenapa aku jadi sebodoh ini?!
"Bagaimana harimu, menyenangkan?"
"Ya, aku sempat bertemu Lisanna-chan di Fairy Playland, meski tidak lama" ceritaku singkat, padat, jelas. Duduk di sebelah ibu yang sedari tadi memintanya
"Baguslah jika kamu bersenang-senang, lalu kenapa sedih?"
"A….aku tidak sengaja, menyakiti temanku"
"Sudah minta maaf?" jawabanku sebatas menggeleng kepala pelan. Ibu mengangguk tanda mengerti, mengelus surai pirangku seperti yang dulu sering dilakukannya. Jujur, aku takut dijauhi Gray. Aku takut dia tidak mau memaafkanku seumur hidup. Aku takut Juvia-san menangis di surga. Aku memang….lemah
"Semua orang pernah melakukan kesalahan. Asal Lucy tulus, pasti temanmu memaafkanmu. Pergilah tidur, besok harus sekolah" nasehat ibu yang langsung dituruti. Ya, aku membutuhkan istirahat total. Hari Minggu menguras banyak tenaga, kaki pun seakan mati rasa karena terus berkeliling dari siang
Pulau kapuk menemani malam singkatku yang amat melelahkan. Sulit memejamkan mata, menghabiskan jam demi jam dengan terjaga. Aku terlalu takut, memikirkan bagaimana melewati hari esok. Andaikan Senin tidak pernah ada di penanggalan….
Keesokan harinya….
Mimpi datang menghampiriku sesekali, meski kurang jelas dan aku malas mengingatnya. Virgo menungguku di ruang makan. Sarapan pun merasa malas. Entah apa yang terjadi perutku mendadak kenyang, usai disuguhi khyalan-khayalan buruk mengenai hari ini. Sepiring roti tersaji di atas meja bertaplak kotak-kotak, ditemani setoples selai stoberi dan cokelat kesukaanku. Pisau yang dipegang amatlah berat, seakan tenagaku habis seketika dirundung pertengkaran kecil.
"Hime-sama terlihat lemas, apa anda sakit?" tanya Virgo menyisipkan nada khawatir. Aku tidak menjawab, sibuk mengunyah roti hingga potongan terakhir masuk ke dalam pencernaanku
Bukankah lebih baik dilupakan? Membayangkan sesuatu secara berlebihan berbeda dari kebiasaanku sehari-hari, tetapi baru baru pertama kalinya, aku bertengkar dengan seseorang sampai bentak-membentak. Ayah mengantarku ke sekolah pagi sekali, katanya beliau ada urusan di kantor, jadi, mau tidak mau harus menurut.
Kelas begitu sepi, baik Gray, Loke maupun Natsu pasti masih terlelap di kasur. Aku bosan hanya duduk manis memandang sebatas jendela. Berkeliling di koridor terdengar menyenangkan, siapa tau bisa menemukan ruang rahasia atau hal semacam itu. Lantai mengkilat diterpa sinar matahari, membuatnya lebih licin dibanding pertengahan hari. Aku menuruni sepuluh anak tangga, melewati ruangan yang nampak asing. Eh, seingatku dulunya kelas, sejak kapan berubah haluan ke klub musik?
SREKKK!
"Selamat pagi, Lucy" suara berat menyapaku hangat, ditambah senyumnya yang kelewat cerah. Sungguh, aku tidak tau Jellal berada di sana
"Se-selamat pagi, Jellal. Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Bermain musik, memangnya kamu pikir apa?" benar juga, sih….namanya saja klub musik, mana mungkin berlatih drama atau memasak
"Ternyata kamu anggota klub musik" ujarku mengelus tuts keyboard berseling hitam putih. Dulu ibu sering memainkan lagu untukku, begitu menenangkan dan lembut
"Ya, meski aku belum lama bergabung. Kamu tidak ikut klub apa-apa?"
"Ibu tidak mengizinkan. Lagi pula, aku kurang tertarik"
"Heh….benarkah? Ceritakan padaku tentang masalahmu" pinta Jellal terbilang dadakan. Aku tidak enak hati memberitau alasannya. Ibu mengecap SMA Fairy Tail buruk, kalau dia mendengar itu apa reaksinya? Bahuku ditepuk pelan, Jellal menanti jawaban dari dua menit lalu
"Ma-maaf, tetapi aku tidak bisa menceritakan alasannya"
"Bukan mengenai masuk klub. Ini menyangkut Gray dan Natsu"
"Aku bertengkar dengan Gray kemarin. Semua itu salahku, dia tidak perlu minta maaf"
"Lalu, apa kamu memiliki keberanian untuk mengungkapkannya?"
Bungkam….mulutku terkunci rapat menghadapi pertanyaan Jellal. Aku menundukkan kepala sendu, meremas ujung rok melampiaskan segalanya, perasaan marah, sedih, kecewa, bercampur aduk menjadi satu kesatuan yang menyakitkan. Suara pintu geser terdengar membuka. Tiga orang lelaki masuk dan menyapa kami berdua. Niatku ciut melihat pemuda bersurai raven berdiri di antara mereka. Apa Jellal tau, aku tidak memiliki cukup keberanian?
"Ki-kita lanjutkan kapan-kapan saja. Aku mau balik" pamitku melewati ketiga sahabat tersebut. Pukul 6.40, dua puluh menit tersisa barulah bel masuk berbunyi
Argh….lagi-lagi aku dikalahkan perasaan takut! Istirahat nanti tidak boleh mundur, apapun yang terjadi permintaan maaf Gray patut dikonfirmasi. Jellal menyusul ke dalam kelas lima menit kemudian. Membisikkan sesuatu yang membuatku bergetar sesaat. Dia serius ingin memberi bantuan, terkesan dari nada bicaranya, serius tanpa main-main. Aku enggan merepotkan, masalah ini wajib selesai sebelum pulang sekolah.
"Datanglah ke ruang musik, jika kamu masih gagal minta maaf"
Terima kasih banyak, Jellal….
Jam istirahat pertama….
Seperti biasa, mereka bertiga berkumpul sambil bercengkrama, melahap sekotak bento yang disediakan sebagai bekal makan siang. Aku sadar kesulitan mendekat. Meremas kedua belah sumpit akibat terlalu kesal. Chelia-san memperhatikan sedari tadi, menyadari tingkah laku-ku yang aneh dibanding beberapa hari lalu. Sial, kapan, sih, kesempatan emas datang?
"Ano Lucy-san….makanlah bekalmu dulu. Selanjutnya pelajaran olahraga, kalau kurang tenaga bisa gawat"
"Ah, maafkan aku Chelia-san"
"Tetapi, kenapa Lucy-san terus memperhatikan kelompok Natsu?"
"Uhuk….uhuk! Tidak ada apa-apa, kok!" jawabku mengambil jeda karena batuk terselak nasi. Chelia-san memicingkan mata, menatap iris karamelku yang menjadi sasaran empuknya
"Jangan-jangan….Lucy-san jatuh cinta dengan Gray!" APA?! Dari seluruh dugaan kenapa harus itu yang dikoarkan? Aku menutup mulut Chelia-san rapat, namun terlambat karena orang bersangkutan telah menyadari maksud teriakan tersebut
Berusaha mengumpulkan kekuatan, aku berjalan ke arah Gray yang hendak beranjak pergi. Ingatlah akan tekadmu tadi pagi. Jangan mau merepotkan Jellal! Kau harus move on dari perasaan bersalah.
"Gray, aku ingin…."
"Ayo jajan di kantin. Bu Evergreen punya menu spesial, khusus hari ini saja" ujar Gray disambut sorakan gembira dari Natsu dan Loke. Mereka melewatiku sangat mudah, bahkan keberadaanku bagaikan angin lewat
Kacang garing, ya….Chelia-san tersenyum iba di sebelahku, dia sangka aku ingin menyatakan cinta. Biarlah, aku hanya perlu mencoba sebanyak yang dibutuhkan.
Pelajaran selanjutnya adalah olahraga. Gildarts-sensei berkata kami akan berlatih basket dalam tim, kelompok ditentukan oleh ketua kelas. Aku ogah berpikiran buruk terhadap Jellal, tetapi kenapa dia menempatkanku bersama Gray dan Natsu?! Permainan dimulai setelah pluit dibunyikan nyaring. Aku langsung mengoper bola ke arah Chelia-san, karena dia tidak dijaga pemain lain.
BRAKKK!
"Bola keluar!" seru Gildarts-sensei. Aku melemparnya ke Gray lemas, untung tidak meleset atau jatuh. Permainan pun dilanjutkan kembali ditambah helaan nafasku yang semakin berat. Satu tim dengannya mempersulit keadaan
"Lucy-san, operanmu terlalu kuat"
"Maaf, maaf"
Sepuluh menit berlalu, quarter pertama usai digantikan istirahat lima menit. Aku meneguk sebotol air minum cepat, melelahkan juga karena tubuhku tidak atletis. Berlari ke sana-kemari bukanlah hal yang mudah, kau tau itu?
"Kamu bisa bermain basket toh" menyindir atau memuji, nih? Aku terdiam mendengar celetukan Jellal yang terus-menerus mengajakku mengobrol
"Aku harus mengucapkan terima kasih atau apa?"
"Terserah kamu saja. Aku selalu serius dalam memuji orang lain"
"H'ai terima kasih. Tidak mengobrol dengan Gray dan Natsu?"
"Apa kesannya aneh? Aku rasa kamu lebih memerlukan perhatian"
"Maksudmu apa? Ayo main" ajakku usai mendengar instruksi Gildarts-sensei. Jauh dari lubuk hati, aku senang menerima perhatiannya. Ternyata Jellal baik, ya….tapi bukan berarti aku jatuh cinta sama dia
Quarter kedua dimulai dalam kondisi memanas. Kelompok kami tertinggal sepuluh angka, masih ada banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan. Dengan sigap aku meloncat setinggi mungkin guna mencetak tiga poin. Bola basket memutari ring lumayan lama, membuatku deg-degan setengah mati setengah hidup, berharap masuk sehingga jarak yang terpaut tidaklah jauh.
Dan itu masuk, percobaan pertamaku yang berhasil seratus persen.
"Nice shoot, Lucy"
"Gray….?" tanyaku memanggil sang pemilik nama. Tidak salah dengar? Ini pertanda baik, kan?
Eh…..?
BRAKKKK!
Terpeleset keringat di saat-saat pertandingan, sangat memalukan dan kepalaku pusing sekarang. Sesaat aku melihat ekspresi dari teman-teman, mereka terlihat takut terutama Gray. Kenapa dia sekhawatir itu? Tidak cocok dengan sifatnya yang kalem dan dingin. Apa kami mengecap rasa serupa? Sebuah penyesalan?
Di UKS….
"Ughh….ini dimana?" ruangan serba putih ditutupi hordeng berhiaskan bunga. Bau obat menyebar di seluruh ruangan, pasti seseorang membawaku ke UKS
"Sudah baikan?"
"Yo Gray, aku kira siapa. Begitulah, lalu bagaimana pertandingannya?"
"Kelompok kita didiskualifikasi. Jellal memutuskan mundur setelah kamu pingsan"
"Hahaha….dia berlebihan" tawaku hambar hendak mencairkan suasana. Terpeleset keringat tadi menciptakan moment bagus untukku meminta maaf. Kami terdiam sejenak, membuka mulut pun entah kenapa sangat sulit
"Maaf" aku mengucapkannya terlalu pelan, sampai Gray meminta pengulangan sekali lagi. Apa dia mempermainkanku? Padahal presentase keberanianku sudah benar-benar habis
"Maaf. Aku minta maaf!"
Hening….
"Oh"
"Oh?" tanyaku memastikan
"Oh"
Oh? Hanya oh saja yang keluar lewat mulutnya?! Aku menyibak selimut geram, membuatnya melayang-layang di udara sebelum jatuh menutupi petak lantai. Gray tidak bergeming sedikit pun. Tahan diri menerima tinjuan kecilku yang lemah. Keterlaluan….padahal aku sudah tulus minta maaf, apa dia masa bodoh dengan kelanjutan hubungan kami?
"Aneh melihatmu minta maaf, Lucy. Aku pergi dulu, beristirahatlah"
"Tunggu! Apa maksudmu menggunakan kata 'aneh'? Aku juga manusia biasa. Aku bisa melakukan kesalahan, bahkan lebih banyak darimu atau Natsu!"
BLAM!
Apa Gray terlalu besar kepala, sehingga dia tidak mau menjawab? Atau mungkin….dia enggan memaafkanku?
Pulang sekolah….
Tas selempangku dibawa Chelia-san yang mampir sebentar ke UKS. Berbaik hati pula meminjamkan catatan untuk ulangan minggu depan. Aku ingin segera pulang, kemudian tidur dan mengerjakan PR. Langit senja mewarnai kota tercinta Magnolia. Kebanyakan murid sudah meninggalkan area sekolah, kecuali mereka yang menjalani eskul. Kembali, aku melewati ruang musik tempat Natsu berlatih. Petikan gitar, dentuman drum, alunan keyboard, menjadi keselarasan yang menciptakan musik nan indah.
SREKKK!
Iris mereka berempat mengarah padaku, yang datang mendadak lalu seenak jidat masuk tanpa berkata permisi. Aku tersenyum getir, melambaikan tangan singkat berhadiah kacang garing. Ternyata benar, tidak seharusnya aku mampir kemari. Seharusnya aku melupakan pesan Jellal, semua ini hanya membuatku semakin terpuruk ke dasar jurang terdalam.
"Mau mencoba bermain alat musik?" tawar Loke yang aku setujui. Melihat keyboard di belakang speaker gitar membuatku teringat masa lalu. Ibu menyukai lagu klasik, karena alasan itulah aku berniat ikut les piano. Sudah lama sekali rasanya….
Jari-jemariku menari lembut di atas tuts keyboard. Memainkan chopin sepenuh hati dengan alasan sederhana : agar pendengar menikmatinya, keindahan ini. Aku hanya memainkan setengah lagu, tidak ingin menganggu mereka yang serius berlatih. Jellal memulai tepuk tangan diikuti Loke dan Gray. Si hati baja memang membenciku, apa pemuda berambut raven itu juga beranggapan demikian?
"Lagu klasik, ya….permainanmu bagus. Mau sekalian mencoba bernyanyi?" giliran Jellal yang menawar setelah Loke. Jujur, aku bingung mesti membalas apa
"Yang mewakili perasaanmu saja. Bagaimana?" ya, tidak ada salahnya. Mungkin dengan bernyanyi mampu memperbaiki suasana hatiku
Koko wa doko na no darou?
Sora wo miagete sagashita hoshi
Watashi itsuno manika
Hitori hagurete shimatta yo
Nani mo osorenai de
Tatoe hanarete te mo
Zutto zutto
Min'na kawarazu ni
Soba ni iru kara
Yume no kawa wo
Watatta fune ga
Shizuka ni kishi ni tsuku
Yoake mae
Hajimete no
Daichi ni ippo
Ashi wo ima fumidasu
Sial….kenapa harus lagunya AKB48? Hobbyku yang suka idol pun terbongkar sekarang. Natsu cekikikan di pojok ruang musik. Pasti dia sengaja menertawai, karena suaraku sempat bergetar di bagian reff. Seakan bocah itu bisa bernyanyi lebih baik dariku.
"Selamat! Kamu diterima menjadi vokalis band kami!" seru Jellal tiba-tiba yang membuatku kaget. Aku tidak sedang ikut audisi apapun, kan?
"Intinya adalah, apa kamu mau bergabung dengan klub musik?" tanya Natsu berhenti tertawa. Aku tidak mengerti apa yang mereka rencanakan, tetapi apa alasanku untuk menolak?
"Ya, tentu saja!"
Lihatlah Levy-chan, sekarang aku punya band sendiri.
Di perjalanan pulang….
"Aku mau minta maaf" ucap Gray sewaktu kami berlima makan es campur di kedai Bu Meredy. Parutan kelapa bercampur alpukat terjatuh dari genggaman sendokku. Ada angin apa sehingga dia berubah pikiran?
"Ti-tidak apa-apa, kok! Aku yang seharusnya minta maaf, karena menyakiti perasaanmu kemarin"
"Perkataanmu benar, Lucy. Juvia pasti bahagia di surga sana. Jadi, tidak ada gunanya bagiku menangisi kepergiannya. Terima kasih telah menyadarkanku"
Dasar bodoh, kamu saja yang berlebihan menganggapku penolong. Aku menyukainya, hari Senin di kala senja menyapa. Hari dimana aku menemukan teman baru. Kami pulang bersama dan berpisah di persimpangan jalan.
"Hoi Lucy" panggil Natsu yang aku kira sudah pulang duluan. Batang hidungnya tidak nampak di kedai Bu Meredy, kata Jellal dia menghilang entah kemana
"Apa? Silahkan jika kamu ingin mencaci maki. Aku siap dibenci olehmu"
"Cih, sinis sekali perkataanmu! Judulnya Yume no Kawa, bukan?"
"Darimana kamu mengetahuinya?!" aku terkejut bukan main, padahal hanya segelintir orang yang tau, yakni para fans AKB48
"Seseorang menyukai lagu itu sama sepertimu, selalu memutarnya setiap kali kami mengobrol. Sungai mimpi, ya, kalau tidak salah? Mau mengarunginya bersama?" ajak Natsu berkias klise. Dia tidak cocok menjadi pujangga. Hati besi yang aku kenal, mana mungkin menciptakan lagu sesedih Yume no Kawa
"Boleh. Aku juga ingin mencari, perasaan aneh apa ini, setiap kali berada di sisimu. Natsu, jujur saja, aku tidak benar-benar membencimu, tetapi, terserah jika kamu masih bersikeras mempertahankan kedengkian itu"
"Diam! Ingat Lucy, bukan berarti aku menganggapmu teman. Dari hari ke hari, rasa benciku terhadapmu pasti bertambah. Hanya untuk tiga bulan ke depan, mohon bantuannya"
"Ya, mohon bantuannya juga, Natsu"
Dan kisah perjalanan sungai mimpiku, dimulai dari sekarang.
Bersambung….
A/N : Author sengaja menggabungkannya dengan lagu AKB48 Yume no Kawa, karena author pengen banget bikin cerita berdasarkan lagu itu, tetapi bingung dan idenya terlalu abstrak. Lagi pula, karena ini berhubungan dengan musik, jadi saya rasa harus ada kaitannya dengan sebuah lagu.
Masa lalu Gray dan Juvia juga tujuan klub musik akan terungkap di chapter selanjutnya. Juga beberapa kejutan yang mungkin tidak kalian duga, ikuti terus ya jangan bosan :)
Balasan review (dikitnya yang review) :
Fic of Delusion : Thx ya buat pujian dan review-nya. Yep, konflik mereka bertiga akan muncul di dua/tiga chapter selanjutnya, karena cerita ini tentang anak sekolahan, jadi gak ada pertumpahan darah (ini bukan cerita First, Last, Everything kan XD)
rose namikaze : Yosh salam kenal juga bang (?) Kesian ya Gray jadi jones, wkwkwkw. Thx ya udah review.
