Dugaanku benar, permainan musik kami mendadak kacau, Natsu memetik gitarnya melebihi tempo lagu, mau tidak mau yang lain menyamakan, dan juri langsung menyatakan tim kami gugur melewati babak seleksi. Jelas semua kesal, termasuk aku yang merasa si hati baja sangat kekanak-kanakan. Apa ucapan itu sangat menganggunya, sampai mempengaruhi segala pergerakan dan isi hati? Siapa peduli, dia telah menghancurkan sungai mimpiku, sesuai ucapan Lisanna-chan.
"Kau benar-benar keterlaluan! Karenamu seluruh kerja keras kita kacau tadi!" tanya Loke setengah berteriak. Menarik kerah baju Natsu, memaksa onxy-nya menatap sepasang hazzel yang dibakar api kemarahan
"Berhentilah bertengkar. Ayo pulang" ajakku lesu, melangkahkan kaki duluan meninggalkan gedung. Jellal acuh tak acuh. Loke masih marah terhadap Natsu. Gray bungkam seribu bahasa. Suasana hati mereka terlalu kacau untuk berbicara sepatah katapun
Perjalanan pulang terasa panjang, lebih-lebih terjadi macet parah di tol. Sesekali aku mengecek kotak masuk, ibu belum membalas SMS yang ku kirim setengah jam lalu, palingan beliau sibuk merangkai bunga di halaman rumah. Ini melelahkan, ditambah lagi kepalaku mendadak teringat bisikan Lisanna-chan, sebelum kami naik bus jurusan Crocus-Magnolia.
"Jauhilah Natsu, dia berbahaya"
"Memangnya buaya apa? Natsu kan tidak gigit manusia" gumamku sendirian, melupakan Jellal yang ternyata terjaga dari awal keberangkatan
"Natsu hanya mengigit cewek yang disukainya" hah….apa-apaan itu? Aku malas beradu argumen dengan orang aneh macam Jellal, bagaimana tidak, dia menyukai dan menembak Erza-sensei, benar-benar sinting, gila, dan otak miring
Kriing…kriing…kriing…..
"Halo?" jarang-jarang Levy-chan menelpon. Apa mungkin ingin menanyakan hasil audisi? Mendadak senyumku hilang, mengingatnya hanya menambah kesedihan. Kami sudah berlatih keras, dan…dan….
"Halo Lu-chan. Bagaimana lolos tidak?"
"Maaf. Kamu tidak bisa menonton kami di bangku paling depan. Mungkin….lain kali. Terima kasih sudah menanyakannya"
Telepon diputuskan sepihak. Aku langsung memasukkannya ke dalam kantong, setelah menekan tombol merah di layar handphone. Mau disesali sebanyak apapun, kenyataan telah terpampang di depan mata. Kalau belum dikehendaki, maka berusaha keras pun sia-sia saja. Jellal mendorong tubuhku meniduri bahunya, padahal aku tidak ada niat bercanda, tetapi dia terlihat serius, bukan main-main seperti waktu latihan atau mengobrol biasa.
"Tenanglah. Suatu hari nanti, kita pasti bisa mewujudkannya"
"Kau menangis?" tanyaku ragu-ragu, takut menyakiti perasaannya. Cowok benci terkesan lemah di hadapan cewek. Mereka pandai menyembunyikan emosi, terus berpikir menggunakan logika dalam keadaan sulit sekalipun
Karena gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi suara Jellal terdengar serak. Ketika bus melewati lampu jalanan, seberkas cahaya menerangi sisi dekat jendela. Kini kedua irisku dapat menangkap dugaan tersebut, matanya sembab walaupun senyum tersungging sempurna. Benar juga, mana mungkin dia masa bodoh dengan hasil audisi. Jellal adalah drumer band Fairy Tail, kami memiliki impian yang sama, menang lomba dan tampil di atas panggung. Seharusnya aku sadar sejak awal,
Ia enggan menyesali yang sudah terjadi.
Sesampainya di Magnolia….
"Sampai jumpa besok!" seru Gray berjalan kaki pulang ke rumah bersama Loke, sedangkan aku, Natsu dan Jellal duduk tenang di halte. Kata ibu Capricorn akan menjemput, sekitar dua puluh menit lagi tiba jika tidak macet
"Hey. Apa Natsu baik-baik saja? Wajahnya pucat" bisikku kepada Jellal, yang dibalas gelengan pelan menandakan 'dia juga bingung'. Tingkah si hati baja berubah seratus delapan puluh derajat, hanya dia yang belum ikhlas merelakan kekalahan kami
"Anginnya sedikit menyedihkan"
"Maksudmu karena hawa keberadaan Natsu yang suram?" kenapa jadi puitis begini? Jellal tidak bergeming sedikitpun, memberhentikan bus terakhir menyisakanku dan Natsu. Suasana di sekitar kami terasa mencengkam, seakan dia menguarkan aura gelap nan pekat. Aku harap Capricorn cepat datang kemari
"Maaf membuat anda menunggu lama, Lucy-sama"
"Eto Natsu….duluan, ya?"
Jujur, aku sempat ragu ingin mengucapkannya atau tidak. Selama di dalam mobil, pikiranku tak lepas dari Natsu, Gray pernah berkata dia memiliki impian memenangkan kompetisi band Crocus, di antara kami berempat, pastinya tekanan yang ia rasakan paling besar, sebagai ketua sekaligus anggota. Mungkin jika Lisanna-chan tidak mengungkit masa lalu, band Fairy Tail bisa lolos ke tahap selanjutnya, atau dia sengaja melakukan hal tersebut? Jelas mustahil, aku mengenal betul sifat sahabatku.
"Sudah pulang. Pergilah mandi, Virgo telah menyiapkannya" perintah ibu masih fokus membaca majalah busana. Aku ngeri membayangkan, mood beliau tiba-tiba buruk, suaranya dinaikkan satu oktaf, bahkan sekilas menyelipkan nada kemarahan
Tidak, jangan bilang ibu tau aku mengikuti kompetisi, bukan nonton konser bersama Levy-chan. Mau mandi pun rasanya gelisah, air hangat malah terasa dingin menusuk kulit. Selesai berganti pakaian, Virgo berkata jika ibu ingin mengobrol di ruang tamu. Oh ya ampun, keadaan bertambah buruk saja. Televisi yang menyala dimatikan, mendapatiku sudah sampai di daun pintu. Jadi teringat dulu, biasanya beliau sibuk mengurus pasien di rumah sakit, sehingga kami jarang berbincang empat mata.
"Kamu satu sekolah dengan Natsu Dragneel?" ibu menyebut namanya, padahal aku tidak pernah bercerita. Apa Lisanna-chan yang melapor?
"Begitulah, kami juga teman satu kelas"
"Lisanna memberitau ibu, saat nonton konser kamu bertemu Natsu dan kalian bertengkar. Tingkah anak itu benar-benar keterlaluan, bahkan dia berani menampar perempuan!" lidahku kelu untuk membalas. Namun yang lebih penting, apa hubungan mereka berdua dengan si hati baja? Memang, saat SMP kami satu sekolah, namun anehnya aku belum pernah mendengar nama Natsu sekalipun
"Sebenarnya, bagaimana bisa ibu mengenal dia?"
"Ibu menganggap Lisanna seperti anak sendiri. Dia pernah pacaran dengan Natsu, akhirnya mereka putus karena suatu masalah"
Pasti benar-benar gawat, batinku beranjak meninggalkan ruang tamu, pergi tidur dan larut dalam mimpi indah. Rasanya sulit memejamkan mata, aku baru tau jika Natsu pacar Lisanna-chan, bukankah berarti mereka saling mengenal, tapi beda kelas? Itu hanyalah satu kemungkinan, kalau dijabarkan masih ada dua atau lebih. Tu-tunggu, kalau begitu artinya Jellal, Lyon, Juvia dan Gray juga teman satu sekolahku dulu? Apa Tuhan sedang mempermainkan kami?
Keesokan harinya...
Pukul enam pagi, jam weker membangunkanku dari tidur. Melakukan rutinitas yang sama berulang kali, mandi, sikat gigi, ganti baju, sarapan, dan diakhiri dengan berangkat ke sekolah. Aku harus menanyakan hal ini, bisa gila jika terlalu lama dipikirkan. Kebetulan Jellal tiba terlebih dahulu, meski dua tas sudah tersampir di gantungan meja, yakni punya Loke dan Gray, tetapi dimana mereka? Jarang-jarang melihat tiga sahabat berpisah.
"Mau membicarakan apa?" tanya Jellal membuka percakapan. Jelas aku kaget, apa dia memiliki kemampuan meramal masa depan?
"Saat SMP, kamu bersekolah di Lamia Scale, bukan?"
"Memang benar, kenapa bertaya jika sudah tau?" aha…ha…ha….di depannya aku terlihat sangat bodoh
"Sekadar memastikan. Apa kamu mengenalku?"
"Namamu Lucy Heartfilia. Posisi wakil ketua kelas. Nomor urut bangku dua puluh lima. Orangnya baik, tidak sombong dan rajin menabung" lupakan yang terakhir, Jellal bicara asal mengenai kepribadianku
"Biar ku perjelas, dulu aku bersekolah di SMP Lamia Scale. Sebelumnya kamu mengenalku?"
"Tidak. Mungkin kita beda kelas" syukurlah tebakanku benar. Baiklah, karena masalah sudah selesai, aku bisa mengikuti pelajaran dengan tenang. Ternyata kebetulan belaka. Dunia memang penuh kejutan
"Rasanya seakan takdir mempertemukan kita di SMA Fairy Tail"
"Hmmm….benar juga ucapanmu"
"Kenapa Natsu belum datang, ya? Jangan-jangan terlambat. Awas saja jika bolos. Omong-omong, terima kasih telah menolongku"
"Kalaupun menceritakan yang sebenarnya, mana mungkin kamu ingat"
Samar-samar aku mendengar Jellal berbisik, semacam 'mustahil diingat'? Biarlah untuk apa dipikirkan, Natsu menampakkan batang hidungnya, meskipun begitu Gray dan Loke tidak mendekat, justru menjauh ke pojok jendela. Dia kelihatan lesu seperti kurang tidur, kantung matanya pun menebal mirip panda. Apa semalam lembur mengerjakan PR matematika? Walau soal buatan Laxus-sensei sulit, tidak perlu, kan, sampai mengorbankan waktu istirahat.
"Lemas sekali. Kulitmu juga dingin, mau kuantar ke…."
"BERHENTILAH BERPURA-PURA PEDULI, DASAR SIALAN!"
DEG!
Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. Natsu marah besar tanpa alasan jelas, padahal niatku baik menyuruhnya pergi ke UKS. Murid lain ikut tersentak, keadaan cukup kacau sebelum Gildarts-sensei memulai pelajaran. Aku tidak mengerti, apa yang membuat dia segalak itu. Bukankah dia terlalu ambisus, jika masih menyayangkan kekalahan kita audisi kemarin? Sifatnya amat menyebalkan sekarang, kemana Natsu yang lama menghilang?
Si bodoh itu tidak tau, hatiku perih dibentak olehnya.
Jam istirahat….
Kelas begitu sepi, Gray, Loke dan Jellal berkumpul di satu tempat, sementara Natsu mengasingkan diri dari sahabatnya sendiri. Aku menghampiri ketiga orang tersebut, hendak membicarakan persoalan yang menyangkut masa depan band Fairy Tail dan persahabatan kami. Jika masing-masing tidak menaruh sedikit simpati, maka aku yakin kita semua akan hancur seiring waktu berjalan.
"Kalian tidak mendekatinya? Natsu pasti kesepian" serempak mereka menggelengkan kepala. Kembali sibuk membicarakan game terbaru akhir bulan nanti. Keberadaanku benar-benar dianggap kacang garing
"Ayolah, Natsu butuh hiburan. Dia tidak boleh meratapi nasib terus-menerus"
"Bagaimana mau membantu. Entah kenapa dia sulit didekati, seakan ada tembok yang menghalangi di sekelilingnya" umpama Gray mengidikkan bahu. Jellal yang asyik mengutak-atik ponsel pintar berhenti sejenak, tiba-tiba bangkit berdiri dan menepuk punggung Natsu keras. Mungkin tak lama lagi dia bakalan terpental ke mars
"Mau apa kau mengangguku?!"
"KEPARAT KAU, KARENAMU LUCY MENANGIS SEKARANG!" Jellal balas membentak, sampai-sampai menampar pipi Natsu guna menambah efek dramatis. Kami tercengang menonton sinteron ala anak sekolah tersebut, berlebihan sekaligus menyebabkan iba
" S, s, s…si….siapa peduli?!" ibu dan putra yang tsundere? Aku gagal paham, tetapi mungkin Natsu balik menjadi pribadi aslinya, atau sebatas hayalanku semata
"MINTA MAAF SEBELUM AKU MENGHAJARMU! DIA SAKIT HATI DIHARDIK SEPERTI ITU APALAGI OLEHMU! KENAPA?! SEBAB LUCY MENYUKAIMU NATSU BODOH! SADARLAH"
"Katamu si pirang menyukaiku? Beritau dia bahwa aku sangat, sangat, sangat membencinya!"
"Aku mohon berhenti bertengkar! Kalau ketahuan guru bahaya"
"Jangan sembarangan menyuruh, tukang ikut campur!" mataku tertutup refleks, melihat tinju Natsu diarahkan agar telak mengenai wajah. Spontan Jellal memeluk tubuhku, pukulan itu meleset dan dia terjatuh membentur lantai. Ekspresinya justru bertambah kesal, mengisyaratkan dia cemburu menyaksikan kami melakukan kontak fisik
"Yah mau bagaimana lagi Lucy. Dia sulit diberitau, jadi lebih baik kita tinggalkan saja. Natsu bukan cowok baik-baik, lihatlah kau nyaris dipukul olehnya. Untung aku berada di sini melindungimu"
"Terima kasih banyak, Jellal"
"Wajahmu manis dipandang dari dekat. Setelah ini, ayo kencan denganku di taman kota. Kita makan es krim bersama, membeli balon juga boleh, berfoto dekat air mancur, apapun yang kamu inginkan pasti aku kabulkan, lalu sebagai penutup melakukan first kiss ketika matahari terbenam. Rencana yang keren, bukan?"
"Ka-kau membuatku malu, hahaha…."
"Atau mungkin, langsung bermesraan di ranjang?"
Dan Jellal sukses besar, membuat Natsu naik pitam hingga darah tinggi. Perkataannya kelewat batas memang.
Pulang sekolah….
Diam-diam aku mengekori Jellal di belakang. Firasatku mengatakan, dia agak mencurigakan beberapa waktu terakhir. Natsu pun berada di sana, bersantai di bawah pohon rindang halaman sekolah. Apa mereka janjian ketemu? Padahal selama jam pelajaran tidak bertegur sapa, lebih-lebih mengobrol. Lewat telepon? SMS?
"Sudah kuduga bisa menemukanmu di sini. Selamat siang, tuan penyendiri" sapa Jellal melempar tasnya ke sembarang arah. Duduk di sebelah Natsu yang mengabaikan total. Yang benar saja, dia baru menggoda si hati baja sampai kelepasan, wajar jika hubungan mereka merenggang banyak
"Tadi hanya akting, kok. Apa kamu telah menyadari, perasaanmu yang sesungguhnya?"
"Sesuai perkataanmu, aku memang bodoh. Perasaanku terhadap Lucy, bagaimana menjelaskan semua itu? Waktu kamu menggodanya, entah kenapa aku sangat kesal. Apa ini yang dinamakan cinta? Padahal sejak awal, aku menaruh benci terhadap dia. Kenapa jadi begini?!"
"Santailah, aku menunggu jawabanmu lain waktu, tetapi ingat, jika terlalu lama maka Lucy akan menjadi milikku. Mungkin kau salah menabur di masa lalu. Ya, tidak mengherankan untuk orang bodoh"
Persaingan antar dua cowok yang memperebutkan cewek, dan objeknya adalah aku?!
Bersambung….
Balasan review :
Vgstm16.28 : Iya itu bener2 Lisanna kok, kaget kah? Oke thx ya udah review, kalau penasaran ikutin terus dong XD
Linda521 : Sesekali menyelipkan humor meski itu gak penting, wkwkw. Ya NaLu sengaja dibuat abu2, soalnya author gak terlalu ingin menonjolkan kesan romance. Maksudnya perkataan yang mana ya? Author rasa gak ada yang janggal tuh. Semoga kejutan JeLu-nya bikin kamu senang, ingat masih ada satu chapter lagi XD Thx ya udah review.
Fic of Delusion : Cerita author anti menyelipkan adegan tawuran dan semacamnya yang tidak berkenan, wkwkw. Thx ya udah review.
udin dragneel : Halo, maaf membuatmu terlalu lama. Thx ya udah review.
Maura Pirade766 : Hubungan mereka akan diungkap di akhir chapter, setelah part yang ini berakhir. Thx ya udah review.
emon : Maaf ya ceritanya baru dilanjut, author lagi males-malesnya lanjut cerita wkwkw. Thx ya udah review.
