Ya ampun, aku benar-benar tidak mengerti, apalagi mengenai perkataan Natsu 'apa ini yang dinamakan cinta'? Ekspresinya semerawut, keringat dingin nampak membasahi pelipis, bahkan sampai bergetar sewaktu mengucapkan pernyataan tersebut. Dasar….dia itu orang sebodoh apa? Membedakan cinta dan benci pun kesulitan, padahal sudah jelas berbanding seratus delapan puluh derajat. Mengenai Jellal aku tidak banyak bicara, pertanyaan iseng Gray terbukti, dia memang menyukaiku.

"Hey Lu-chan! Lu-chan!" seseorang menepuk bahu keras, membuatku tersadar dari lamunan yang menjerat. Ini jalan raya, dan pikiranku melayang-layang di udara. Hampir saja tertabrak mobil, jika orang itu tidak mencegat

"Levy-chan?! Sejak kapan kamu berada di sini?" bibirnya mengerucut kesal, menyebabkan rasa bersalahku menguar ingin minta maaf

"Lima menit yang lalu, dan aku memanggil namamu berpuluh-puluh kali" wajar jika Levy-chan marah, salahku juga tidak memperhatikan sekitar

"Maaf, maaf. Sebagai gantinya aku traktir es di kedai bu Meredy, oke?" mungkin ini terdengar curang, tetapi sahabatku gampang diluluh lantakkan oleh makanan manis. Levy-chan mengangguk antusias, kami pun membelok arah jalan menuju tempat yang dimaksud

Sudah lama tidak pergi ke sana, kira-kira semenjak aku tau Natsu suka es campur, lalu karena ilfeel nongkrong di warung lain. Levy-chan sendiri akhir-akhir ini sibuk, sehingga waktu berkumpul menjadi sangat berkurang, mungkin kapan-kapan harus mengajak Lisanna-chan, entah kenapa dia sulit dihubungi. Sekitar lima belas menit berjalan, kami langsung disambut dengan senyum khas bu Meredy, bahkan tanpa memesan terlebih dahulu, beliau masih ingat kesukaanku dan Levy-chan.

"Satu es campur dan cendol. Silahkan dinikmati!" hanya kedai bu Meredy yang menyajikan makanan khas Indonesia, tidak heran kalau keramaian pengunjung setiap harinya. Aku menikmati setiap gigitan parutan es, di tengah matahari yang bersinar terik beradu suhu tiga puluh tiga derajat celcius

"Segarnya! Tolong bungkuskan lagi dua es campur!" ibu pasti senang, apalagi cuacanya sedang tidak mendukung begini. Mendadak tercium bau mint di sekitar kami berdua. Aneh, kapan bu Meredy memasang lilin herbal? Jangan-jangan menandakan keberadaan hantu! Aku memutuskan mngecek bagian belakang, dan….

BURRR!

"Jellal?!" siapapun pasti kaget melihat kedatangannya yang tiba-tiba. Apa dia tidak bisa, muncul dengan cara lebih normal?

"Sambutan yang manis, Lucy" ucap Jellal memakai lengan blazer, guna membersihkan semburan es campur dari mulutku. Jelas manis, mungkin tak lama lagi kawanan semut akan mengeremuninya. Levy-chan beranjak bangkit, mendorong kursi hingga terjatuh membentur tanah

"Ka-kamu….apa hubunganmu dengan cowok tampan itu?!" oh gawat, penyakit lamanya kumat! Meskipun cenderung mengacu pada kebiasaan. Sekarang Levy-chan berteriak histeris, menyangka Jellal model sampul majalah remaja

"Jika aku berkata kami pacaran, apa kamu percaya?" dasar bodoh! Apa yang kamu ucapkan?! Niat memberi pencerahan menguap seketika, saat Levy-chan menjabat tanganku hendak memberi selamat. Dia termakan umpan basi Jellal

"Jangan percaya padanya. Kami hanya teman satu kelas, kok"

"Syukurlah Lu-chan. Tuhan memberkatimu selalu" dia tidak mendengar ucapanku! Jellal menyeringai penuh kemenangan. Bu Meredy menabur bunga sakura di sekeliling warung. Mereka semua terserang virus gila gara-gara ujaran melantur si biru laut itu

"Eto….kami ada urusan, sampai jumpa!"

Usai menaruh uang di atas meja, aku mengajak Levy-chan kabur sejauh mungkin. Sial, padahal es campurku belum habis setengah mangkuk. Jam menunjukkan pukul satu siang, daripada menganggur di rumah lebih baik jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kami mengunjungi toko alat musik langgananku, sekadar melihat-lihat atau konsultasi ke Flare-san. Dia guru seni budaya di SMA Raven Tail, ternyata dulunya beliau anggota band terkenal, tidak heran Blue Pegasus dapat tergeser dengan mudah.

BUKK!

"Aww….maaf!" kepalaku mendongak ke atas, mendapati tampang rupawan beserta surai raven dark blue-nya, ditemani seorang berkacamata biru yang terlihat familiar. Loke dan Gray, sedang apa mereka di sini?! Bukankah terlalu kebetulan, bertemu ketiga sahabat itu berturut-turut?

"Yo Lucy. Dia temanmu?" tanya Gray menunjuk Levy-chan yang mimisan, teramat gembira mengetahui sahabatnya mempunyai banyak kandidat cowok ganteng. Aku tidak mengerti kenapa, tetapi Sting atau Hibiki ratusan kali lipat lebih tampan dari mereka bertiga

"Be-begitulah. Kamu membeli senar?"

"Gray memutuskan senar gitarnya karena memikirkanmu, lho!" ledek Loke cekikan tidak jelas, membuat kami berdua tersipu malu, sedangkan Levy-chan semakin menggila, menyaksikan hubunganku dengan mereka yang cukup dekat, atau mungkin sangat

"Baiklah kami pergi dulu!"

"Hoi Lucy! Katanya Loke menyukai….umphhhhuhhh….umpphhh"

Tadi siang Natsu, sekarang Loke dan Gray, masa-masa SMA ku telah di penghujung kiamat! Levy-chan memaksa pergi ke toko, walau raut wajahnya menyuratkan bahwa dia mabuk kepayangan. Jangan sampai berpapasan dengan si tsundere baja, jangan sampai! Aku berniat mencari novel terbaru karya Jenny-senpai, dia bersekolah di SMA Blue Pegasus, penulis sekaligus model unggulan sorcerer, dan kami berdua termasuk fans beratnya! Kalau Levy-chan, sih, enak bisa bertemu setiap hari, sedangkan bagiku sebatas mimpi indah di siang bolong.

"Susah sekali mengambilnya" gerutuku menjijitkan sepuluh jari, berusaha meraih rak tertinggi di rak bagian karya fiksi. Kenapa harus diletakkan di papan ke enam? Lebih-lebih tinggal satu buah tersisa! Saat aku nyaris berhasil, seseorang malah menyalip dan kesempatan emasku hilang ditelan kekecewaan

"Ceh….dasar pendek" suara bariton itu….aku mengenal dan membencinya, milik Natsu Dragneel sang ketua klub musik yang tidak berguna! Levy-chan berlari menghampiri, namun ketika melihatku bersamanya, dia menjatuhkan tiga tumpuk buku membanting lantai marmer

"Nih untukmu! Lagi pula aku tidak suka membaca novel"

"Ayo pergi dari sini, Lu-chan. Nanti kasirnya padat"

Ada apa dengan Levy-chan? Jangan katakan mereka saling mengenal! Di luar toko buku aku mengatur nafas sedemikian rupa, dia berjalan terlalu cepat membuatku kesulitan mengimbangi. Tante tidak menelpon atau menyuruhnya pulang, terkesan seperti kabur dari Natsu? Tetapi kenapa? Kami beristirahat sejenak di bangku terdekat, memperhatikan lalu-lalang kendaraan yang bergerak seirama. Suasananya berubah aneh semenjak kedua orang itu bertatap wajah sesaat.

"Ceritakanlah. Kamu takut karena Natsu mirip preman jalanan?" lagi pula tidak mengherankan jika Levy-chan ngeri. Ini pertama kalinya dia mengenal langsung anak berandal, selain membaca di buku atau menonton di televisi

"Tidak….bukan masalah itu yang ku maksud. Ah iya, ini untukmu dan Jellal-san" balas Levy-chan mengalihkan pembicaraan, menyodorkan dua pucuk surat resmi berlogo kuda pegasus. Tunggu….apa maksud pihak sekolah memberikanku ini? Bisa bahaya jika ketahuan Natsu

"Kenapa tidak diberikan ke Jellal? Tadi kita bertemu dia di kedai"

"Aku kan tidak kenal, hehehe….pacar Lu-chan baik dan tampan, kamu pasti bahagia bersamanya" ternyata penjelasan singkatku benar-benar diabaikan total. Jika terlanjur begini, bagaimana caraku memberitaukan yang sesungguhnya?

"Yosh! Aku pulang duluan, ya! Jangan lupa dibaca"

Pukul setengah dua, karena tidak ada kerjaan aku juga memutuskan balik. Kira-kira isinya apa, ya? Jujur, firasatku agak buruk mengenai pemberitahuan tersebut. Lebih baik dirahasiakan dulu dari ibu dan ayah, nanti mereka heboh sendiri lalu menyebarkan ke tetangga. Surat itu ku masukkan ke dalam tas, jika Virgo tau meskipun diancam agar tutup mulut pasti melapor, bahkan untuk berjaga-jaga aku sengaja menutup pintu.

"Baiklah, kita lihat apa isinya"

SREKKK!

SEKOLAH MENENGAH ATAS

BLUE PEGASUS

Terakreditasi "A"

Jl. Magnolia no 10 Telpon (0211) 90xxxx

Nomor : 01 / SMA / BP / X / X789

Perihal : Undangan bagi siswa berprestasi

Yth,
Lucy Heartfilia,
di tempat

Dengan hormat,
Kami pihak sekolah SMA Blue Pegasus, mengundang anda Lucy Heartfilia sebagai siswa berprestasi, untuk bergabung dengan kami dikarenakan adanya kesalahan teknis, sewaktu ujian masuk dilaksanakan pada hari Sabtu, 3 Juli X789. Mohon dipertimbangkan sebaik mungkin. Formulir pendaftaran diserahkan ke ruang tata usaha (TU) SMA Blue Pegasus, paling lambat hari Senin, 1 Oktober X789

Atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.

Kepala sekolah SMA Blue Pegasus

Bob,

Su-surat undangan masuk secara cuma-cuma?! Aku kaget setengah mati saat membacanya, pantas Levy-chan senang, karena dia menyangka pasti diterima tanpa pikir dua kali. Ibu mengetuk pintu kamarku dan menyelonong masuk, yang penting sembunyikan dulu di balik bantal! Memperhatikan gerak-gerikku mirip cacing kepanasan, lantai membuat beliau menaruh curiga lewat iris karamelnya yang menyipit. Tamat sudah riwayatku.

"Perilhatkan pada ibu" ternyata aku gagal total. Ekspresi yang awalnya serius berubah menjadi berbunga-bunga, seisi mansion pun heboh mendapat pemberitahuan terkutuk itu. Kacau…sangat kacau….sekarang ditambah ayah yang ikut merayakan keberhasilanku

"Baguslah Lucy. Nanti malam kita makan di luar, oke?"

"I-iya…."

"Anda harus senang hime-sama. Tunjukkanlah pada Layla-sama dan Jude-sama" timpal Virgo yang mendadak muncul entah dari mana. Aku tau ini kabar gembira, tetapi kenapa hatiku tidak merasakannya sedikitpun?

"Mungkin Lucy kaget sampai tidak bisa berkata-kata. Berpakaianlah yang cantik Sayang, oke?" pinta ibu keluar kamar, disusul Virgo dan ayah yang kini bersantai di ruang tamu. Mereka pasti terus membicarakan hal tersebut, otomatis nama baik keluarga Heartfilia akan terperbaiki seiring waktu berjalan

Rumah sakit, harapan ibu dan ayah, impianku, semua berputar searah jarum jam, menjadi satu kesatuan yang sulit diputuskan oleh kata hati nurani. Benar, aku masih berkeinginan masuk ke SMA Blue Pegasus, memang di Fairy Tail juga menyenangkan, mereka baik kepadaku walau status kami berbeda, meski seringkali Natsu menjengkelkan, seluruh kenangan itu aku hargai melebihi apapun. Bagaimana pendapat Jellal, jika dia menerima surat ini dan bu Meredy tau? Mungkin sama, mungkin berbeda denganku.

Malam hari….

Kami sekeluarga makan malam di lestorant elit, bernama L'a Fairy Tale di kota sebrang, Crocus. Aku tidak berselera setiap kali kepikiran masalah tersebut, cepat atau lambat pasti tersebar, kenapa pula mulut ibu-ibu cerewet dan ember? Hidangan pembuka tersedia di meja. Pelayan menuangkan segelas air putih, lalu pergi melanjutkan pekerjaannya. Tentu enak, terutama ada soup asparagus yang jarang ibu masak, tetapi ini bukan murni kemauanku sehingga terasa aneh saat melahapnya.

"Omong-omong, Jellal juga mendapat undangan yang sama?" dan aku baru tau, jika ibu mengenalnya. Kepalaku mengangguk pelan, membuat senyum mereka mengembang tanpa alasan jelas. Apa berhubungan dengan pertunangan? Arghh….basi!

"Ibu dengar dari Levy-chan kalian sudah pacaran. Kenapa tidak bilang-bilang?"

"Eto…eto…a-aku lupa, ahahaha…." itu tidak lucu, justru mengesalkan

"Kamu benar-benar memenuhi harapan ayah dan ibu. Memang Fernandes tidak memiliki kekayaan, seperti keluarga Staruss atau Vastia, tetapi bagi kami itu bukan masalah" cerita ayah panjang lebar, sambil sesekali meneguk segelas wine dingin membasahi tenggorokan yang kering

"Apa yang kalian bicarakan, aku tidak mengerti"

"Pertunangan Sayang. Meskipun kamu baru kelas satu SMA, direncankan sejak dini pun bukan masalah"

"Hmmm….ibu tau keluarga Dragneel?" bodoh, bodoh, bodoh, kenapa aku malah menanyakan ini? Raut muka beliau mendadak mengerikan, termasuk ayah yang berhenti memasukkan sesendok kue kering ke dalam mulut. Memangnya mereka buronan apa? Serius sekali….

"Tentu saja tau. Kenapa Lucy? Apa kamu dekat, dengan anaknya yang bernama Natsu Dragneel?"

"Kami sering bertengkar, mana mungkin dekat! Dia membenciku dan Lisanna-chan, kasar, sering membentak, menyebalkan!" tidak, bukan ini yang ingin aku ucapkan. Kenapa sangat perih…kenapa….? Seakan seribu jarum menusukku bersamaan, seakan pisau belati menusuk tepat di jantung. Natsu, sebenarnya apa yang ku rasakan?

"Jadi teringat cerita Gray, katanya Natsu hampir menghajarmu. Untung Jellal berhasil menghentikannya" seberapa luas koneksi ibu? Aku tidak bergeming sedikitpun, melanjutkan makan malam kami yang menyedihkan bagiku seorang

Malamnya pukul sembilan tepat, ayah membawa mobil pulang menuju rumah. Aku pura-pura tertidur, hendak menguping pembicaraan mereka. Namun sepuluh menit berlalu, tidak satupun yang buka mulut memecah suasana hening, ternyata perkiraanku salah total atau mungkin agak meleset.

"Dulu Lisanna-chan gagal. Kalau tidak pasti mereka hancur"

"Sudahlah, yang penting Lucy bisa keluar dari sana. Tahun depan dia akan mulai bersekolah di SMA Blue Pegasus, dan rencana pak Strauss berhasil"

Lagi-lagi menyisakan, satu teka-teki yang masih menjadi misteri ilahi.

Keesokan harinya….

Terlalu banyak tidur membuat kepalaku pusing, jam lima pagi pun sudah terbangun dan bersiap-siap, sementara ibu sibuk mengurus sesuatu di luar kepentingan buah hatinya. Aku ingin segera bertemu dengan Jellal, mendiskusikan dua hal penting untuk beberapa waktu ke depan. Pertama : mengenai surat undangan SMA Blue Pegasus. Kedua : kesalah pahaman yang melanda keluarga kami, termasuk Levy-chan. Tentu saja point terakhir harus diperhatikan, karena itu menyangkut PER-TU-NANG-AN.

"Aku berangkat dulu!"

"Tapi sekarang baru jam setengah tujuh, Sayang. Teman-temanmu pasti belum datang"

"Sebenarnya aku janjian dengan Jellal. Kami mau membicarakan sesuatu, bye!"

Bisa dibilang bohong, padahal aku tidak tau dia datang jam berapa. Ku putuskan untuk mengunjungi rumahnya, mengetuk pintu sebanyak tiga kali menunggu seseorang membukakan. Suara riang bu Meredy terdengar jelas, diikuti Jellal yang merutuk kesal terus diganggu. Syukurlah hubungan mereka membaik, semenjak masalah itu terselesaikan happy ending. Kenop dibuka perlahan, kini ia menampakkan diri di depanku.

"Selamat pagi bu Meredy, Jellal"

"Aduh, kamu ini bagaimana? Jangan biarkan pacarmu menjemput duluan! Maaf Lucy, Jellal memang begini anaknya. Tolong dimaklumi, ya" ternyata sudah menyebar kemana-mana. Aku hanya mengiyakan tanpa banyak omong, kami pun berangkat bersama menuju sekolah

Dasar Jellal bodoh, semua ini salahmu! Aku malas menanggapi candaan basinya, Levy-chan, ibu, ayah, bu Meredy, atau mungkin Lisanna-chan juga tau? Arghh….lagi pula tidak mirip sepasang kekasih, kita hanya teman sekelas, sebatas wakil dan ketua biasa pun satu klub. Lebih baik ditanyakan, mungkin dia punya alasan tersendiri berkata seperti itu. Jangan bilang karena jones tingkat akut! Kebetulan masih sepi, malahan Droy-san masih sibuk menyapu lantai.

"Kalian datang pagi sekali. Saya telah mendengar gosipnya, lho, Lucy-san dan Jellal-san pacaran? Selamat!" bahkan pegawai di sekolah tak ketinggalan berita ini. Aku menjabat tangannya sambil menangis dalam hati, tidak menerima kenyataan yang di sengaja tersebut

"Hehh….Loke dan Gray belum datang ternyata" gumam Jellal malas, menyampirkan tas di samping meja menatapi bangku kosong di pojok kanan. Jam dinding menunjukkan pukul enam kurang dua puluh menit. Aneh, bukankah sampai terlalu cepat?

"Oh iya. Aku baru ingat ingin memberikan ini padamu" kataku menyodorkan sepucuk surat. Jellal langsung menerima dan merobeknya saat itu juga. Dia terdiam, menyiratkan sebuah ekspresi yang sulit ditebak

"Kau dapat, kan?"

"Ya, memang benar. Orang tuaku mengetahuinya, dan mereka menyuruhku mengisi lembaran formulir, tetapi…."

"Tetapi kenapa? Jika ibu menerima surat ini, pasti aku disuruh masuk ke sana. Membayangkan akan bertemu dengan kakakku saja rasanya mengesalkan" Mystogan-san, ya….Jellal tak kunjung mengambil keputusan, memasukkan amplop tersebut di antara buku-buku pelajaran. Mungkin dia berniat menyembunyikannya sampai lulus

"Mau menerima undangan mereka?"

"Harus ku katakan sekarang?"

"Ya, sekarang juga. Aku butuh jawaban kilat"

"Kamu sendiri bagaimana? Masuk SMA Blue Pegasus adalah impian terbesarmu. Kesempatannya satu berbanding seribu, menolak maka menyia-nyiakan rejeki Tuhan. Mereka semua pasti menyukaimu, kau memiliki banyak teman, bisa masuk universitas terkemuka, dan terlepas dari kebencian Natsu. Lebih-lebih masalah itu menyangkut nama baik keluarga bangsawan Heartfilia"

"Perkataanmu benar, tetapi aku tidak dapat membeli bulan menghabiskan waktu bersama, sebentar lagi ujian tengah semester, lalu ulangan akhir dan kenaikan kelas. Setahun tidaklah lama, terutama sekarang aku mempunyai teman, kamu, Gray, Loke, Natsu, Chelia-san. Kalian begitu baik, mana bisa ku tinggalkan begitu saja"

"Wanita memang merepotkan, apapun selalu mengandalkan perasaan mereka. Hey, Minggu besok ada waktu luang? Ayo kencan di taman kota, kita bersenang-senang seharian"

"Baiklah, aku terima tawaranmu"

Jangan anggap kencan, bagiku hanya jalan-jalan biasa. Seseorang menggeser pintu kayu kasar, menampilkan surai spike-nya yang acak kadut. Natsu menghampiri kami berdua, dengan tatapan intimidasi hendak membunuh iris karamelku. Apa-apaan dia? Baru datang justru cari ribut, menyukai dari Hongkong? Jelas sekali si hati baja ini membenciku hingga ke akar. Berani membalas tantangannya pun termasuk keajaiban, aku sadar harus menyelesaikan masalah.

"Bagus. Pergilah jauh-jauh dan sekolah di SMA Blue Pegasus! Kalau kau enggan mengisi formulir, biar aku yang menuliskannya" sial! Dia serius mau mengusirku ternyata

"Natsu berhentilah bersikap misterius. Aku tidak mengerti kenapa kamu memusuhiku. Beritau alasannya"

"Karena kamu pengkhianat!" setelah ini hendak menyebarkan fitnah, huh? Aku mendorong dada-nya sampai mundur beberapa langkah, balas memaki dengan menaikkan volume suara setinggi satu oktaf

"PENGKHIANAT APA MAKSUDMU?! AKU DATANG KE SEKOLAH UNTUK BELAJAR, BUKAN MENYEBAR GOSIP APALAGI MENCARI MUSUH!"

"Alasan yang payah. Aku tau kamu sama sepertinya, mentang-mentang orang kaya bisa seenak jidat menindas yang lemah. DASAR BANGSAT, SIALAN, KEPARAT KAU!" amarahku pasti meledak, jika Jellal tidak mencegat adu mulut tersebut. Manik hazzle itu menyiratkan kekesalan, dia membenci tingkah Natsu yang menurutnya semena-mena

"Sikap tsundere-mu tambah keterlaluan. Sadarlah, kamu hanya menyakiti diri sendiri dan Lucy!"

"MEMANGNYA KAMU MENGERTI APA TENTANGKU?!"

"Ingat, kau yang meminta bantuan padaku, tetapi tidak apa-apa jika Natsu-san ikut membenciku. Lihatlah dengan mata kepalamu, aku pasti mendapatkan hati Lucy, dan membuatmu bertekuk lutut di hadapan seluruh murid"

Kenapa bertambah rumit? Aku salah karena mudah tersulut emosi, padahal menghadapi Natsu harus berkepala dingin, barulah masalah dapat diselesaikan secara baik-baik. Pelajaran dimulai, setiap saat dia menyendiri di sudut kelas, entah ketika istirahat atau pelajaran kelompok. Jangan sampai gara-gara aku hubungan mereka berempat melonggar. Tentu Chelia-san heran melihat keadaan kami, ia pun tidak bisa memberi banyak bantuan. Ya, biarlah urusan pribadi diselesaikan oleh yang bersangkutan.

"Tolong berkata jujur. Apakah kalian membenci keberadaanku di sekolah?" pertanyaan itu mengagetkan, seakan aku berniat merusak topik pembicaraan yang sedang asyik diobrolkan. Suasana hening menyelimuti cukup lama, mereka belum buka mulut walau sepatah atau dua patah kata

"Lagi-lagi Natsu menekanmu. Siapapun berhasuk masuk SMA Fairy Tail, meski Lucy terpaksa karena tidak mengikuti ujian sekalipun, tapi itu cerita masa lalu. Gildarts-sensei berkata, mesti solid sebagai satu keluarga" jelas Loke menepuk bahuku pelan seakan mengisyiratkan, 'tenang saja'. Sayang aku terlalu lemah untuk menurutinya

"Benar kata Loke. Keputusan Natsu yang ingin menjauhkan diri dari kami, dan kita sebatas menerimanya. Biarkan dia menyesal suatu hari nanti, meski aku tidak tega, sih" giliran Gray memberi kesaksian, walau ragu mengucapkannya terang-terangan, karena di kelas ada Natsu yang mungkin menguping di sebrang sana

"Setidaknya ingat perkataanku ini. Kamu bukan pengganti Natsu atau musuh. Jujur, aku berharap kita berlima bisa akrab, andaikan sifat egosinya tidak berlebihan pasti mudah dilaksanakan. Kau teman kami, begitu juga dengan si tsundere"

"Terima kasih, aku senang mendengarnya"

"Yosh. Pulang sekolah nanti ayo karaoke!" ajak Gray bersemangat, sedangkan Natsu terdiam membisu menyaksikan keakraban kami. Apa yang dipikirkannya? Tambah membenciku? Meskipun hal tersebut belum tentu benar, sekadar hipotesis semata

"Sial. Kenapa mereka terus membuatku ragu?!"

Hari Minggu….

Ibu senang mendengar Jellal mengajakku kencan pertama kali, padahal putrinya merasa biasa saja. Kami janjian bertemu di taman jam satu siang, semoga anak itu tidak berbuat macam-macam. Kemarin malam aku bermimpi buruk, dia menjadi cowok yang memberikan first kiss ketika senja menghampiri! Kurang menyeramkan apalagi? Perasaanku terhadapnya samar-samar, salah mengambil langkah tamatlah kisah cintaku.

"Penampilanmu sudah cantik, Sayang. Pergilah temui Jellal, buat kencan ini menyenangkan oke?" pesan ibu usai menyisir rambutku. Capricron telah menunggu di depan gerbang, seperti biasa aku diantar dengan mobil guna mempesempit jarak

"Turun di sini saja"

"Hati-hati di jalan, Lucy-sama"

Sekarang dimana dia? Aku duduk di bangku taman, menanti kedatangannya yang terlambat lima menit. Kesabaranku nyaris habis kalau dia mengaret lebih lama. Jellal tiba sembari mengatur nafas terlebih dahulu, kemudian minta maaf menggunakan alasan klasik, 'macet'. Ya, siapa peduli, yang penting acara ini tidak diberhentikan sepihak.

"Yo, kau terlihat cantik. Seleramu atau tante Layla?" komentar Jellal memperhatikanku dari pucuk kepala sampai ujung kaki. Tatapan intensnya benar-benar mengusik, kapan dia berhenti mesam-mesem macam orang gila?

"Eh, kamu mengenal ibuku?" kenapa aku baru ingat menanyakannya sekarang? Jellal mengidikkan bahu acuh tak acuh, mencuri kesemptan menggandeng tanganku yang menggantung bebas di udara. Ternyata dia serius menanggapi ini adalah kencan!

"Ku traktir es krim. Mau rasa apa?"

"Stroberi"

"Standar banget. Tidak mau mencoba mint?"

"Ada masalah Jellal Fernandes? Aku suka stroberi"

"Makanlah sebelum meleleh. Mataharinya terik, lho!"

Di sinilah kami sekarang, duduk menikmati sepotong es krim menontoni orang-orang yang berlalu-lalang. Syukurlah aku menerima ajakan tersebut, lumayan ditraktir dua kali berturut-turut. Dasar bodoh, terlalu fokus menatap ke depan keberadaan Jellal sempat terlupakan. Sewaktu menengok ke arahnya, dia malah sibuk bermain game di telepon pintar. Ini salahku mengabaikannya, meski bukan benar-benar kencan aku harus menuruti permohonan ibu.

"Cu-cuacanya cerah, ya!" gaya bicaraku kikuk! Jellal menyimpan ponselnya di dalam saku celana. Mu-mungkin yang tadi berhasil!

"Lucy. Menurutmu jika Natsu menjadi cewek, apa yang akan dia katakan kalau aku iseng?"

"Mungkin, 'ba-baka, apa yang kamu lakukan bodoh!' Pastinya malu-malu dan tersipu" sayang Natsu itu laki-laki, kalau dia cewek seperti ekspetasi Jellal pasti sangat manis. Bukannya benci dengan cowok tsundere, tetapi kan kalau perempuan terkesan lebih cocok

"Salah, yang benar itu, 'KUBUNUH KAU SIALAN!'" hiikkkk….! Kenapa berubah jadi yandere? Jellal tertawa melihat raut wajahku berubah drastis, antara takut dan ngeri membayangkan imajinasi tersebut. Lagi pula arah pembicaraan kita agak aneh

"Ah, benar juga, sejak kapan kamu mengenal Natsu?"

"Hmmm….ketika aku pindah ke SMA Fairy Tail kelas satu. Kita sama, kok" rasanya terdapat diskriminasi terselubung di sini

"Tapi kalian akrab sekali. Aku pikir sudah berteman lama, lalu soal meminta bantuan?"

"Mungkin kita cocok satu sama lain. Biar Natsu yang memberitaumu langsung, meski ada kaitannya denganku, dialah si biang kerok"

"Aku gagal memahami pola pikirnya. Kita berdua pindah ke SMA Fairy Tail saat kelas satu, tetapi Natsu justru membenciku dan kamu tidak, disebut pilih kasih kalau kata anak bungsu"

"Ehemm….mau berfoto?"

"Boleh, tetapi jangan disebar ke sosial media, mengerti?"

Meskipun Jellal tidak mungkin melakukannya. Kami bergaya membentuk hutuf V, dan ketika aku melihat langsung hasilnya entah kenapa terasa suram, karena dia tidak minta pengulangan, ya sudah. Justru terkesan sangat puas sampai berujar, 'aib terbaik sedunia'. Layar handphone-nya diperlihatkan kepadaku, ada foto Natsu sedang tertidur bersimbah air liur, Gray ketakutan di rumah hantu, Loke memakai rok, Gildrats-sensei menguap lebar seperti beruang, bahkan ada foto Erza-sensei berbelanja baju dress. Jellal jauh lebih mengerikan dari bayanganku.

"Dan ini yang terbaik!" lisanku terkunci rapat, melihat maha karya sampahnya yang baru diambil tadi siang. Fotoku sedang mengigit cone es krim! Si-sial….aku mirip monster kelaparan di situ!

"He-hey Lucy, kamu mau kemana?" salahmu sendiri membuatku marah! Tanpa terasa matahari hampir terbenam, Jellal memegang erat kedua bahuku. Memaksa pandangan mata kami bertemu walau hanya sesaat

"Se….sebagai permintaan maaf dan terima kasih. Ini balasanku"

Bibir kemerahan itu mencium mesra, semakin dalam dan dalam di setiap sentuhan intensnya, dan terlepas cepat mengingat kami kehabisan oksigen. Aku membeku di tempat, Jellal memalingkan muka malu atas perbuatannya yang mendadak. Mi-mimpi buruk semalam terwujud nyatakan, dia menjadi ciuman pertamaku waktu senja menghampiri. Foto aib yang ia ambil memang menyebalkan, tetapi perasaan tersebut menguap ke udara, mungkin aku gembira sehingga kesulitan berkata-kata.

"Kenapa aku yang dihadiahi first kiss?"

"Alasannya jelas, karena aku menyukaimu, Lucy"

SREKK…SREKK….!

"BERHENTI DI SANA JELLAL!" bentak seseorang dari balik semak-semak, membuatku tersentak kaget menangkap wajahnya yang familiar

Selama ini kami diintai oleh Natsu!

Bersambung….

Balasan review :

Vgstm.16.28 : Yep emang wkwkw, husbando saya mah begitu orangnya. Oke, thx ya udah review, aku juga gak bisa berkata apa2 selain itu, terima kasih banyak.

Linda521 : Wahh maaf ya kalo diksi-nya kurang jelas, terkadang aku suka bikin samar-samar wkwkww, jadi bisa dibilang itu sengaja. Yang pas 'melihat tinju Natsu diarahkan agar telak mengenai wajah. Spontan Jellal memelukku, pukulan itu meleset dan dia terjatuh membentur lantai', bukan? Kalau yang itu maka maksudnya adalah : Natsu ingin meninju Lucy agar telak mengenai wajah, dan Jellal yang sadar spontan memeluk si Lucy agar terhindar, karena itu meleset dann Natsu jatuh. Oke maaf kalo rada gaje, kapan-kapan aku bikin yang normal aja (terobsesi sama diksi wow), tapi jadi gaje karena itu di luar kemampuanku. Dan soal yang bentak itu...tolong diberi contohnya dong, kok aku gak nemu ya (gimana sih si author). Oke thx atas perbaikan dan review-nya, aku seneng menerima semua itu XD

Fic of Delusion : Dan pertanyaanmu udah terjawab di chapter ini wkwkwkw. Yap gak ada kok karena author orangnya anti tawuran /eakkk.

okta : Maaf baru update, bikin 3 words agak lama soalnya hehehe. Thx udah review.