"Na-Natsu. Sejak kapan kau ada di sini?!"
Ini pengintipan privasi! Memang dia siapanya kita? Ayah? Paman? Bukan! Hanya teman sekelas dan satu grup! Jellal melepas daguku pelan, menatap iris onyx Natsu yang berkilat penuh kemaharan. Arghh … Ya ampun! Banyak sekali penganggu. Aku terdiam menontoni adu tatap mereka, masing-masing tidak mau mengalah setelah lima menit berlalu pun. Matahari nyaris terbenam, tinggal kami bertiga di taman kota. Cepatlah berakhir sebelum tertangkap basah polisi yang berpatroli!
"Baiklah, kamu menang. Lucy, status pacaran kita hanyalah formalitas semata" a-apa maksudnya?! Jelas aku tercengang, bukankah berarti sekadar bermain sandiwara di depan orang banyak? Natsu enggan memberi penjelasan mendetail. Membiarkan Jellal berbicara sebanyak yang ia inginkan
"Aku sadar kau menguping percakapan kami di halaman belakang. Tolong maklumi, Natsu memang bodoh" maksudnya tentang membedakan benci dan cinta? Kepalaku spontan mengangguk. Sebatas mengiyakan tanpa banyak tanya
"Dan point terpentingnya adalah. Kamu tau, untuk apa aku melakukan semua ini?"
"Mungkin karena kamu menyayangi Natsu, sehingga merelakanku meski keberatan" aneh. Mulutku berbicara dengan sendirinya. Apapun itu aku tau betul, Jellal serius sewaktu berkata 'kami pacaran'. Ini bukan formlitas semata, pasti dia menyimpan sesuatu, sebuah rahasia besar
"Om dan tante membenci keluarga Dragneel. Seterusnya biar Natsu yang memberitaumu. Ini menyangkut kalian berdua, dan seseorang yang berharga bagimu"
"Kapan-kapan saja. Ingat Jellal, aku tidak pernah mengharapkan belas kasihmu. Kau melakukannya atas dasar insiatif. Jadi, jangan sedih jika terlukai lebih dari ini"
"Bolehkah aku mempertegas? Siapa juga yang ingin mengalah. Beterima kasihlah padaku, karena telah memberimu kesempatan pertama sekaligus terakhir. Aku masih mencintai Lucy, camkan itu!"
Sekarang mereka bersaing memperebutkanku! Natsu pulang duluan memutar jalan, sedangkan Jellal mengantar sampai di depan mansion. Padahal jaraknya lumayan jauh, apa tidak apa-apa? Sepanjang perjalanan kami terdiam membisu. Pikiranku bertumpu pada kejadian kemarin, mengingat suara baritonnya bergetar, ekspresi semerawut, keringat dingin bercucuran, entah kenapa aku gagal membenci sosok yang nampak lemah itu. Dia bukanlah si tsundere hati baja, seperti orang lain malah.
"Memikirkan Natsu, huh?" tebak Jellal membuat pipiku merah padam. Menyibak tangan di udara menolak kenyataan. Ayolah Lucy Heartfilia, jangan mudah diperdaya olehnya! Pasti hanya pura-pura demi mendapatkan simpati
"Ka-kata siapa! Hey, aku masih belum mengerti. Kamu mencintaiku, tetapi memberikan Natsu kesempatan merebutku. Apa kau ingin bermain-main dengan kami berdua?"
"Menurutmu begitu ternyata … dulu, Natsu menyukai seseorang saat SMP. Berjenis kelamin perempuan" sekarang aku merasa dibodohi. Jellal mengacak gemas surai pirangku sambil tertawa kecil, lalu mempercepat langkah kakinya sesampai di gerbang
"Tunggulah sampai Natsu menceritakan semuanya, mengerti?"
"Iya, iya"
Sok misterius sekali! Aku memutar kenop pintu perlahan, mendapati ibu tengah membaca majalah mode, ditemani secangkir teh hangat. Sebentar lagi pasti banyak bertanya, kemudian mesam-mesem sendiri dan heboh bercerita ke ayah. Kebetulan Virgo menyuruhku mandi, setidaknya selamat walau hanya sesaat. Ucapan Jellal benar-benar menjanggal di hati. Dia pintar menyusun sebuah skenario. Melibatkan pemain dalam ceritanya yang penuh ombang-ambing masalah.
Semalam aku menyadari, kami saling mengenal ketika bersekolah di SMP.
"Selamat malam, Sayang. Kencanmu menyenangkan?" ibu menaruh bacaannya di atas meja. Menatap iris karamelku yang menyiratkan kelelahan. Bagaimana tidak, kehidupan tenangku mendadak berubah drastis! Malahan mirip kisah detektif pada masa klimaks
"Uhm! Aku dan Jellal makan es krim bersama, lalu kami berfoto"
"Minggu depan ibu akan mengadakan perjamuan. Undanglah Jellal dan Meredy-san kemari. Awas, jangan sampai lupa" terdengar buruk dibanding baik. Pasti membicarakan perihal pertunangan, terus … Terus … Terus ….
"Bagaimana bisa ibu mengenal Jellal?"
"Eh, kamu lupa ternyata. Kalian sekelas, lho, tiga tahun berturut-turut" bohong. Katakan ibu bergurau sebelum jantungku berhenti berdetak! Ini aneh, kalau begitu mana mungkin aku tidak mengenalnya. Kami pertama kali bertemu ketika berangkat sekolah bersama Loke, Gray dan Natsu. Dan tiba-tiba fakta mengejutkan tersebut terbongkar habis-habisan
"Tapi ibu, aku mengenalnya baru-baru ini" bantahku tak menerima cerita beliau, sengaja menaikkan volume suara sebesar sepuluh persen. Ekspresinya justru melukiskan kebingungan, kenapa aku jadi diperlakukan seperti pasien amnesia?!
"Kamu ingat pernah bermain drama? Rogue menjadi pangeran. Jellal yang membuat naskah dan membantu di belakang panggung. Dulu dia pemalu, wajar jika Lucy melupakannya"
Pantas memoriku membawa ke deskripsi pencipta skenario. Ibu benar, Jellal selalu berada di pojok, sedangkan tiap hari aku bermain dengan Levy-chan dan Lisanna-chan. Teman yang membekas pun, palingan mereka yang sering mengajak mengobrol, seperti Rogue, Sorano-chan, Cobra. Seharusnya aku mengenal Juvia, Gray juga Lyon, tetapi kenyataan berkata lain. Kami berjodoh di SMA Fairy Tail, seakan Tuhan merencanakan semua itu lewat garis takdir.
"Artinya ibu tau Lyon?"
"Tentu! Kalian jarang mengobrol, makanya kurang akrab. Juvia pun sama. Dia meninggal dunia akibat kecelakaan. Kasihan Gray, padahal mereka sudah pacaran cukup lama"
"Sudah malam. Aku pergi tidur"
"Segera isi formulirnya. Waktumu tidak banyak"
Seluruh rentetan peristiwa itu saling berkesinambungan. Aku saja yang terlambat menyadarinya, sedangkan Gray dan Jellal sudah tau entah sejak kapan. Ditambah masalah perasaan Natsu menyebabkan konflik ini semakin rumit. Siapa sangka akan begini, masa-masa SMA berubah menjadi novel detektif dimana terdapat puluhan kasus yang mesti diselesaikan. Tercetus pemikiran baru dalam kepalaku, apa mungkin Levy-chan telah mengetahuinya? Bahkan Lisanna-chan juga?
Sial …. Kenapa aku sebodoh ini?
Keesokan harinya ….
Akibat kurang tidur aku mati lemas sewaktu menuruni ranjang. Menggosok gigi saja meleset. Melahap sepotong roti pun bagai mengigit ukuran tiga kali lipatnya. Ibu sempat memintaku agar beristirahat, sayangnya ada banyak urusan menunggu di depan mata. Capricorn mengantar pergi ke sekolah, niat berjalan kaki pun tertunda, jika dipaksa pasti tak lama kemudian tepar di jalan. Droy-san menyapa seperti biasa. Aku berjalan menuju kelas, menghampiri tiga sahabat yang sampai duluan di sana.
"Yo. Kalian sedang membicarakan apa?" lebih baik basa-basi dahulu, meski aku malas berbicara sebatas mengeluarkan sepatah kata. Kenapa Minggu cepat berlalu? Apa Senin yang datang melebihi perkiraan? Kemarin tidur pukul sepuluh, tau-tau sudah jam lima pagi
"Game terbaru. Mau mencoba memainkannya? Aku pikir kamu punya bakat!" balas Loke bersemangat, yang ku indahkan karena tidak tertarik dengan topik mereka. Natsu belum datang, apa dia terlambat?
"Heh …. asyik memikirkan Natsu, ya, sehingga kurang tidur?" ledek Jellal tersenyum simpul. Menarik perhatian Gray yang sedari tadi sibuk mengutak-atik hand phone. Lagi-lagi nama terkutuk itu disebut. Berhentilah mengucapkannya sekali saja
"Hoi Jellal. Kamu serius memberi Natsu kesempatan? Jika ketahuan tante bukankah berbahaya?" oh sial, hampir kelupaan! Pertanyaan Gray mengingatkanku, tentang perjamuan makan malam minggu depan. Syukurlah keburu selamat
"Dasar tidak peka. Sebenarnya Lucy menyukai Natsu. Kalian berdua sama-sama bodoh" sindiran yang menjengkelkan, Jellal. Samar-samar aku mendengar pintu kayu bergeser, menampilkan lelaki berambut salam dengan wajah khasnya yang penuh intimidasi
"Apakah ini suki kirai?! Hahaha …. baru pertama kali aku menyaksikannya langsung di dunia nyata" tukas Loke yang entah kenapa sangat bahagia. Selain maniak game dia menyukai anime, kalau tidak salah suki kirai itu judul lagu?
"Tsundere si Natsu kelewat batas, sih! Padahal seumur hidup, aku hanya membaca kisahnya di blogger Jenny-senpai. Itupun karya fiksi, mungkin setelah ini akan ku jadikan novel saja" balas Jellal tersenyum puas. Menyilangkan kedua tangan santai di belakang kepala, terus melontarkan ejekan pada Natsu di pojok kanan
"Emm …. Omong-omong Jellal. Ibu mengundangmu serta Meredy-san ikut perjamuan makan malam minggu depan"
"Ada yang mau merencanakan pertunangan rupanya. Selamat untuk kalian berdua!" entah hanya perasaanku atau apa, Loke terlihat tidak ikhlas memberi ucapan selamat, bahkan tangan Jellal diremas sampai dia meringis menahan perih
"Semoga cepat putus, ya!" seru Gray menjitak keras pucuk kepala Jellal, menggunakan buku tulis matematika setebal seratus halaman. A-aku kira mereka iri, karena temannya punya pacar duluan, lalu meninggalkan mereka berdua terjebak di status jomblo
"Hahaha…. Lucu melihat kalian iri. Apa mungkin, raja tsundere kita juga merasakan yang sama?" bulu kudukku merinding melihat onyx-nya yang berkilat kemarahan. Jellal bodoh! Hari kau terlalu banyak menyindir!
"Siapa peduli dengan Lucy milik kalian bertiga, huh?!"
"Dasar bodoh! Yang benar itu berempat" nasibku mirip kue yang dipotong-potong dalam acara ulang tahun. Ya, biarlah. Lagi pula kami berteman, kok, dan artinya aku juga menganggap Natsu rekan seperjuangan
Terdapat hikmah di balik semua itu. Tanpa Natsu, pasti kehidupanku amat membosankan. Setiap hari terasa begitu mudah dan menyenangkan. Mengerjakan PR tidak kesulitan. Punya banyak teman yang rata-rata kaya. Nilai ulangan bagus. Populer di sekolah. Aku menghargai suka duka di antara kami. Pilihanku benar untuk masuk ke sini, dan yang terpenting karenanya juga, telah diberi kesempatan menolong banyak murid di SMA Fairy Tail.
Membenci Natsu? Aku rasa…. Tidak!
Jam istirahat….
Chelia-san memintaku menemaninya ke kantin. Barulah kami makan bersama di dalam kelas. Di sana ada Jellal dan Natsu, tanpa Gray maupun Loke yang sibuk mencari refrensi tugas di perpustakaan. Aku berhenti di belakang pintu, hendak menguping pembicaraan mereka yang terdengar sengit. Jangan bilang bertengkar lagi, bukankah itu hanya memperburuk keadaan? Beberapa waktu terakhir sangat menegangkan, hampir setiap hari aku menyaksikan kedua sahabat itu beradu mulut.
"Kau sudah dengar, kan? Ibunya mengundangku ke perjamuan makan malam hari Minggu. Otomatis tema yang diusung adalah pertunangan. Kamu mempunyai banyak kesempatan sebelum menyesal"
"Berhentilah mengasihaniku! Kamu pikir aku bakalan tertipu? Tidak sama sekali!"
"Bukankah sudah ku bilang kemarin? Aku masih mencintai Lucy. Jangka ingatanmu sependek apa memangnya? Perkataan sesingkat itupun mudah dilupakan"
"Buat Lucy menjadi milikmu! Hentikan persaingan konyol ini. Aku muak!"
"Membohongi perasaanmu sendiri tidak mengubah apapun! Hubungan kami hanya formalitas. Sesungguhnya Lucy menyukai bahkan mencintaimu! Di hati kecilnya terdapat namamu, bukan aku, Gray atau Loke. Dia mengganggap kami teman terbaik. Namun kamulah bintang utamanya"
"Darimana kau tau?! Jangan sembarangan bicara jika…."
"KARENA AKU PERNAH MERASAKAN JATUH CINTA! Menyakitkan jika tidak mendaptkan sosok idaman. Pantas orang berkata, 'lebih baik sakit gigi daripada hati'. Natsu, apa salah berkorban demi sahabat? Kau bisa merasakannya sekarang, cinta tanpa pengkhianatan. Lupakan wanita itu. Dia tak lebih dari iblis. Lucy berbeda, dia berbuat baik secara tulus. Ingat, jasanya besar sehingga kamu dapat menyelesaikan masalah murid-murid di sini"
"Ini peringatan terakhir. Lepaskanlah atau kejar"
Manusia berhati malaikat? Tidak, yang benar setengah-setengah. Meski Jellal serius menjadikanku pacar, semua itu termasuk dalam rencananya. Dia sengaja memberi kesempatan pada Natsu, terus menekan dan menekan hingga terusik rasa frustasi, tetapi itu cara tercepat untuk menyadarkannya dalam seminggu. Kalau gagal maka Jellal menang, sementara Natsu kalah telak sekaligus menyesal. Licik, ya…. Kupikir tidak. Artinya ia menaruh kepercayaan penuh, karena mengetahui si tsundere pasti berhasil.
Tetapi, kenapa orang tuaku membenci keluarga Dragneel, sampai dia harus berbuat sejauh ini? Padahal kalau tidak, Jellal pasti ikhlas merelakanku tanpa perlu memenuhi harapan bu Meredy, ibu dan ayah demi kebahagiaan mereka masing-masing.
Hari Sabtu….
Sayang tidak ada perubahan. Sudah diputuskan Natsu pasti kalah, dan Jellal keluar sebagai pemenang. Pukul dua belas siang pun bel pulang berbunyi. Sebagian murid melaksanakan kegiatan ekskul, termasuk Chelia-san yang mengikuti klub sastra, karena dia tidak masuk sekolah kami memutuskan langsung pulang, daripada nongkrong di cafe atau jalan-jalan ke pusat perkotaan.
"Pukul tujuh malam di rumahku. Jangan sampai lupa, nanti ibu marah"
"Siap tuan putri! Omong-omong Natsu kemana, ya?"
"Dasar jomblo lemah! Kami di sini menahan sakit dia malah kabur" ujar Loke terkesan lebai. Menepuk keras punggung Gray membuatnya tersentak kaget. Lagi pula kenapa melamun di tengah jalan begini? Jika tertabrak tiang listrik bagaimana?
"Lucy. Kami mengikhlaskanmu bersama Jellal. Jaga dia baik-baik, ya, demi aku dan Loke juga"
"Eh….? Bukan bersama Natsu?" tanyanya memasang wajah polos. Memiringkan kepala heran mendengar ucapan Gray. Ughh…. Jellal yang bodoh atau apa? Jawabannya sudah terpampang jelas sejak pagi tadi
"Dia mundur dari persaingan tersebut. Pola pikir Natsu sulit dipahami, diberi kesempatan justru dibuang cuma-cuma. Kalau itu aku pasti berusaha mati-matian merebut Lucy, walau waktunya hanya seminggu. Kau juga, kan, Gray?"
"Jelas! Aku memaklumi kebodohan si flame head, tetapi sekarang dia kelewat batas"
Kemudian berakhir dengan percakapan absurd mereka, sampai setengah jalan terlewati.
Sore menjelang malam….
Virgo membantuku bersiap untuk perjamuan makan malam. Merapikan gaun dan menyiapkan sepasang sepatu, yang akan dipakai seusai mandi. Soal perasaan misterius itu…. Lebih baik dilupakan saja. Palingan salah terka. Mana mungkin aku menyukai Natsu, lucu sekali.
Drrtt…drttt…drttt….
From : 6250xxxx
Temui aku di halaman depan mansionmu!
"Maaf Virgo. Jellal ingin menemuiku di halaman depan"
"Baiklah hime-sama. Saya akan beritau tuan dan nyonya. Kembalilah sebelum jam enam, oke?"
Kira-kira ada urusan apa, ya? Kenapa pula mendadak sekali? Aku membuka pintu gerbang. Mencari sesosok pemuda jangkung dengan surai biru lautnya. Namun tidak ada siapapun, selain Natsu yang memakai kaos dan sepatu kets, dilengkapi topi guna menutupi identitas. Tapi itu memang nomor hand phone Jellal! Atau mungkin dibajak supaya aku terpancing datang?
"Sssstt! Aku ingin menceritakan banyak hal kepadamu. Dengarkan baik-baik!"
"Menceritakan apa?! Waktuku kurang untuk mengurusimu. Ayah dan ibu menunggu di dalam!"
"Ini menyangkut Lisanna, sahabatmu"
"Lisanna katamu?!"
Bersambung….
A/N : Oke, update terakhir minggu ini. Author izin hiatus tiga hari karena try out. Selanjutnya akan kembali normal sampai pertengahan bulan Februari. Review please?
Balasan review (yang baca aja bejibun -_-, review sepi wkwkwkw) :
Fic of Delusion : Bertengkar sih kagak, cuman si jelly sama api yang adu mulut. Oke thx udah review.
