Hnnn …. Menyangkut Lisanna-chan katanya? Di antara percaya dan tidak aku mendengar pernyataan tersebut. Kami berteman sejak SMP, belum pernah ku dengar ia pindah ke Fairy Tail, atau mungkin …. Tetapi bukankah terlalu kebetulan? Tadi Gray, Jellal juga Juvia, sekarang si hati baja ini? Skenario apa yang Tuhan rencanakan sebenarnya? Tiba-tiba Natsu menarik tanganku kasar, menjauh dari gerbang mansion ke depan taman.
"Ssttt …. Jangan keras-keras! Aku serius soal pembicaraan itu. Kau harus tau kebenarannya, karena apa? Jellal benar, Lucy Heartfilia pantas mendengar kesaksianku" ucap Natsu melakukan penekanan di setiap kalimatnya. Mengguncang bahuku pelan sampai terlepas dari jeratan lamun. Jujur, aku terkejut setengah mati
"Ba-baiklah. Ceritakanlah"
Flashback ….
Sewaktu kelas satu SMP. Ada seorang murid pindahkan di kelasku. Dia bernama Lisanna Strauss, yang mereka kenal sebagai keluarga bangsawan, setelah Heartfilia, McGarden dan Redfox. Jelas mengejutkan, karena sekolah pilihannya benar-benar di luar akal sehat. Siapapun terpaksa masuk ke sini, sebagian gagal tes ataupun kekurangan biaya. Gildarts-sensei menyuruhnya duduk di sebelahku, mendadak kami akrab walau berbeda status.
Diam-diam aku sadar mulai menyukainya.
Setiap jam istirahat di halaman belakang, kami mengobrol tentang banyak hal. Aku memutuskan untuk menceritakan sebuah rahasia kepadanya, yang hanya diketahui para guru dan kepala sekolah. Masalah pun datang, ketika semua itu ku beberkan secara terang-terangan.
"Hey! Kau mau tau tentang sejarah sekolah?" andai waktu bisa diulang, perkataan tersebut pasti ku tarik lagi ke dalam tenggorokan. Lisanna nampak penasaran, berkedok kepolosan dengan jarum tajam di ujung matanya. Aku tidak sadar telah dijebak
"Tentu! Memangnya apa?"
"Makarov-san membangun sekolah ini untuk murid bermasalah. Awalnya aku ingin pergi ke SMP Lamia Scale, di sana ada Loke dan Gray, mereka teman baikku saat di SD. Tetapi …. Entah kenapa hati nuraniku berkata agar membantu kepala sekolah, demi tujuannya yaitu membantu mereka sampai lulus"
"Jadi …. Makarov-san adalah kakekmu?"
"Ya, kau benar. Beliau sempat menentang keputusanku, namun akhirnya dia luluh. Bagus bukan? Kata almahruma ibu, kita mesti berbakti kepada orang tua. Kakek begitu baik, aku sadar harus membalas kebaikannya"
"Jarang sekali ada anak sebaikmu di zaman sekarang. Biarkan aku ikut membantu, oke? Meskipun hanya hal-hal kecil saja"
"Terima kasih banyak, Lisanna. Aku menghargai niatmu da-dan juga perasaan ini. K-kau tau, mungkin … Mungkin aku …. Menyukaimu! Y-ya, percaya atau tidak"
"Hahaha...kamu selalu bisa membuatku tertawa. Terima kasih, Natsu"
"Jika kamu sedih, aku berjanji akan membuatmu tertawa. Bagaimanapun caranya" Lisanna sekadar menganggap main-main tembakanku. Namun saat itu ku pikir tidak masalah, mengingat perbedaan kami yang dapat ditilik sebatas mata telanjang
"Janji adalah janji, harus ditepati"
Dan jari kelingking kami berdua, saling mengait satu sama lain. Lalu keesokan harinya, bencana itu menghampiri sekolah secepat kilat menyambar.
Puluhan buldozer terparkir rapi di dalam halaman depan, sementara murid-murid disuruh menunggu di dekat gerbang. Terlihat kakek sedang mengobrol dengan seorang berjas hitam, sambil menyodorkan kartu nama ditemani Lisanna. Aku nekat menerobos tembok walau dilarang. Masalah sekolah juga tanggung jawabku, mana boleh berpangku tangan menanti keajaiban terjadi. Ia menyeringai penuh kemenangan, kami saling terdiam memandang satu sama lain.
"Katakan yang sejujurnya, kamu ingin menghancurkan sekolah ini?!" bentakku diliputi amarah. Memojokkan Lisanna sampai menyentuh batang pohon di belakang. Kakek sempat melerai, dan ayahnya marah-marah menyalahkan tindakanku
"Mendidik anak saja tidak benar! Jika Lisanna kenapa-napa kau mau membayar biaya rumah sakit, huh?!" aku hendak melawan, tetapi kakek menyuruh diam di tempat. Beliau berusaha keras melakukan negosiasi, berbicara sopan terhadap petinggi negara minta dikasihani
"Santai Natsu, santai! Aku pernah berkata ingin membantumu, dan inilah bentuknya! Dengan menghancurkan sekolah sampah di Magnolia! Menolong yang kekurangan biaya? Anak nakal? Kau pikir lembaga pendidikan sama dengan pusat rehabilitasi? Dalih terkonyol sedunia! Lupakan tujuan naif itu, pulanglah ke rumahmu lalu cari SMP lain, oke?"
PLAKKK!
Tanganku refleks menampar. Membekaskan warna merah pada kulit nan putih itu. Ayah Lisanna bertambah geram, memukul kepalaku keras menggunakan tongkat miliknya. Sirat kecemasan kakek tersurat lewat ekspresi yang melunak. Aku ingin menangis saat itu juga, bukan mengurangi justru menambah masalah. Sirine ambulan berbunyi nyaring, beberapa suster dan dokter menggotong tubuhku masuk berangkat menuju rumah sakit.
Selanjutnya aku tidak tau bagaimana bisa, namun kakek mendeklarasikan jika Fairy Tail selamat. Lisanna dikeluarkan dan dikirim balik ke SMP Lamia Scale. Semenjak kasus tersebut, aku membenci apapun yang berhubungan dengan keluarga bangsawan. Mereka berniat membongkar dan menjadikannya mall, karena cukup luas sekaligus dirasa sayang kalau dibangun untuk sekolah tidak berguna.
End flashback ….
Kapan jantungku berhenti disetrum shock? Siapa sangka, sebelum kami bersahabat Lisanna-chan pernah berambisi menghancurkan sekolah ini? Natsu menghela nafas panjang, menatap iris karamelku yang membulat sempurna. Sekarang apa, dia memintaku agar mempercayai seluruh ucapannya? Sayang, aku perlu waktu guna mencerna rentetan peristiwa itu. Di belakang kami terdengar suara Capricorn-san, yang tiba-tiba muncul atas suruhan ibu karena putrinya tak kunjung menampakkan batang hidung.
"Terserah kau mau percaya atau menganggap omong kosong. Pilihan di tanganmu, Lucy Heartfilia!" pesan Natsu sebelum kabur dari kejaran Capricorn-san. Untung saja dia dibiarkan selamat, mengingat perjamuan makan malam akan segera dimulai
Ughh …. Siap-siap, deh, diintrogasi. Ibu masih bungkam ketika di meja, begitupun ayah yang nikmat melahap sepotong steak memakai pisau. Aku penasaran apa tanggapan mereka, pasti buruk dan Natsu terkena imbasnya cepat atau lambat. Acara selesai pukul delapan, kemudian dilanjut ke tahap perencanaan tanggal petunangan. Perasaanku benar-benar bimbang kini, apa sudah tepat? Keliru kah? Pikirkan Lucy, pikirkan! Kau akan menjadi istri Jellal usai lulus kuliah, masa depanmu dipertaruhkan!
"Ehem! Sayang, ibu ingin berbicara denganmu" sudah ku duga. Mana mungkin beliau masa bodoh, kalau menyangkut keselamatan buah hatinya. Apa lagi dia itu wanita dewasa dan hendak melangsungkan 'kewajiban' keluarga
"Tadi di luar gerbang siapa yang menemuimu?"
"Na-Natsu …." aku kehabisan ide untuk mengarang jawaban. Berbohong pun tidak menyelesaikan apa-apa, malahan tekanan darah ibu semakin tinggi, mengetahui didikan supernya gagal total diterapkan. Lagi pula jujur jauh lebih baik
"Anak itu …. Menganggu orang saja kerjaannya! Natsu mengatakan apa padamu?" di sinilah moralku diuji! Malaikat dan iblis saling berseteru dalam kepala, yang satu bersikukuh menegakkan kejujuran, dan makhluk gaib berkulit merah ini ngotot supaya aku berbohong, daripada dimarahi habis-habisan?
"Mereka hanya membicarakan jadwal pelajaran. Tante tidak perlu khawatir" sela Jellal berusaha menyakinkan ibu, kemudian beliau beranjak bangkit ke ruang tamu. Aku heran, anaknya saja sulit terlepas dari pertanyaan tersebut, lalu semudah membalik telap tangan ia berhasil
"Dia sudah cerita. Aku bingung harus menjawab apa"
"Terdapat dua pilihan, percaya atau lupakan. Natsu tidak pandai berbohong. Aku tau setiap kali melihat onyx-nya dari dekat maupun jauh, lewat nada bicara pun dia tetap tertangkap basah" jujur, cerita Jellal agak aneh setelah ku pikirkan berulang kali
"Kalian mengenal ketika masuk SMA, kan? Bagaimana caranya sehingga bisa seakrab itu?" bahkan Natsu menaruh kepercayaan penuh! Gray atau Loke saja tidak tahu menahu tentang masa lalu si hati baja. Aku meragukan hubungan mereka sekarang
"Akrab katamu? Natsu sebatas memanfaatkanku guna mendeteksi kebohongan orang lain! Dengan begitu, dia bisa menolong lebih banyak murid yang susah didekati. Aku ketua OSIS, posisi ini memungkinan untuk mencari banyak informasi. Kamu terlibat bukan dalam kasus Wendy?"
"E-eh …. Kamu tau?"
"Awalnya Romeo berdalih, Wendy jarang masuk karena punya alergi berat. Natsu percaya dan membiarkannya, ketika mendengar kalau dia dibohongi barulah sadar. Diam-diam aku menguping obrolan mereka di belakang tembok. Merasa kasihan jadi ku beritau"
"Banyak yang tidak ku ketahui dan membuat penasaran. Mystogan-san kakakmu, kenapa kalian selalu bertengkar?"
"Karena dia menyebalkan. Ayo ke ruang tamu, tante menunggu kita untuk merencanakan tanggal pertunangan"
Selesai-selesai pukul sepuluh malam. Seketika aku tepar di atas ranjang, memeluk guling sembari merenungkan peristiwa hari ini. Pantas Jellal mudah dipercayai oleh Natsu. Ucapannya selalu benar mengenai setiap kebohongan yang dikatakan murid-murid. Dia hebat, bahkan perasaan terpendamku dapat ditebak tepat sasaran. Pertunangan dilaksanakan bulan Desember sebelum natal tiba, Natsu memiliki banyak waktu jika ia menggunakannya sebaik mungkin.
Keesokan harinya ….
Semua berjalan normal seperti biasa. Natsu masih menyendiri dari sahabat-sahabatnya, sedangkan kami berempat selalu berkumpul di kelas saat jam istirahat. Aku diminta berhenti ikut campur, Gray mengatakan dia harus bergerak atas kemauannya, bukan karena terpaksa atau disuruh siapapun. Aku kurang peduli, terlalu banyak masalah sampai kepalaku serasa ingin pecah. Bersama Jellal pun tidak buruk, ia bertanggung jawab dan bisa diandalkan, pintar, jago olahraga sekaligus populer. Kurang apa lagi?
"Meskipun tanpa Natsu, hari ini kita akan berlatih di ruang klub. Ada yang keberatan? " tanya Gray menggantikan posisi hati baja sebagai ketua. Ya, mau bagaimana lagi, Jellal, Loke dan aku enggan memegang jabatan tersebut
"Berlatih berempat juga bukan masalah. Aku mengikuti keputusan Gray" jawab Loke yang masih terpaku pada layar hand phone-nya. Beberap waktu terakhir dia agak tergila-gila bermain osu, semacam game ritmik memakai mouse atau keyboard
"Kakak tsundere memang menyusahkan, tetapi kehilangan satu gitaris bukan masalah besar. Baiklah, aku setuju" semoga dia tidak dengar, terkadang sindiran Jellal kelewat batas
Benar juga, baru pertama kali kami latihan tanpa Natsu. Kira-kira bagaimana, ya, suasananya? Mungkin sepi mirip kuburan di malam hari. Tidak lagi terdengar marahan atau adu mulut dengan Gray. Orang paling menyebalkan sekalipun begitu membuat kangen. Aku berat hati mengakui fakta itu, tetapi memang benar adanya. Bel usai istirahat berbunyi nyaring, Erza-sensei memasuki kelas membawa setumpuk kertas berisikan soal matematika.
Rupanya ulangan mendadak.
Tuk … tuk … tuk ….
"Berhenti mengetuk pulpen atau kertas ulanganmu saya robek, Natsu!" me-mengerikan …. Aku heran, kenapa Jellal tidak takut pada beliau, ya? Murid baik-baik saja belum tentu selamat, lebih-lebih berandalan macam si hati baja
"Kumpulkan dari belakang ke depan! Jellal bantu ibu membawa kertas ulangan" pelajaran matematika hanya satu jam hari ini, dikarenakan ada rapat guru dadakan. Dan aku dipaksa menulis dua kali lebih cepat dari biasanya, jari-jariku pegal ….
"Lihatlah raut wajah Jellal! Dugaanku dia belum bisa move on dari Erza-sensei. Padahal kalian mau tunangan, kenapa tidak berikan Lucy untukku saja? Sia-sia kalau Natsu yang dapat" celetuk Loke yang sedari tadi diam memangku dagu. Dia cemburu aku tau itu, Gray pun turut merasakannya meski ditutupi
"Cowok yang setia, ya …."
"Wanita paling suka tipikal cowok yang setia ternyata. Yosh! Aku berjanji tidak akan playboy dan menduakan Karen dengan Aries!"
"Dasar bodoh! Kau malah membuka kedok sendiri di hadapan Lucy. Biarlah, sainganku berkurang sekarang, khukhukhukhu …." me-mereka gila …. Pasti efek mengerjakan matematika. Erza-sensei memang tak tanggung-tanggung membuat murid sakit kepala
"E-eto …. Aku ingin ke toilet sebentar. Tolong bilang ke Laxus-sensei, oke? Dan Gray, berilah salam jika salah satu dari kami belum kembali"
Setelah matematika dilanjut kimia, jadwal pelajarannya menyebalkan. Saat aku membelok jalan, Jellal dan Erza-sensei terlihat sedang mengobrol menuju ruang guru. Entah kenapa terkesan intim, sejak kapan pula beliau tidak lagi menjaga jarak? Menurutku terkaan Loke benar, ada sebuah perasaan di antara mereka!
"Sekarang sensei harus jujur. Kamu menyukaiku bukan, Erza?" Je-Jellal memanggil nama depan! Teriakanku hampir menggema di sepanjang lorong, jika lupa daratan serta keberadaan mereka. Sial …. Aku gagal mengendalikan diri supaya berhenti menguping!
"Jangan memanggilku Erza di sekolah, tetapi tidak apa-apa. Bulan Desember nanti kita berpisah, dan aku mengucapkan selamat untuk pertunanganmu. Semoga bahagia"
"Andai kita lahir di tahun yang sama. Lagi pula kenapa kamu ikut akselerasi? Tidak ingin mempunyai adik kelas semanisku? Jujur saja, aku menantikan kesempatan itu datang, Erza justru memilih loncat kelas dan cepat kuliah. Jenius memang berbeda" tidak mengherankan, jika Jellal jatuh cinta meskipun kena marah
"Ayo masuk ke dalam. Pelajaran selanjutnya Laxus-sensei, bukan? Nanti kamu dihukum"
"Erza lebih manis jika tidak berlagak formal. Kita berbeda dua tahun, aku murid sedangkan kamu guru. Tidak malu?" u-umur beliau sembilan delapan tahun! Ternyata benar-benar ada orang jenius di dunia! Tetapi kenapa mesti guru? Erza-sensei bisa menjadi dokter termuda jika ia mau
"Untuk apa? Seharusnya status kita kakak dan adik kelas, bukan guru-murid. Padahal kamu bisa ikut kelas akselerasi sewaktu di SMP Lamia Scale, lalu menjadi anak SMA setahun lebih cepat. Demi mengejarku sampai pindah sekolah, dasar maniak cinta"
"Kalau ikut kelas akselerasi, aku tidak mungkin bertemu Lucy"
Ucapannya membuatku salah tingkah! Berarti ketika aku masih satu SMP, Erza-sensei kelas tiga kemudian mengambil akselerasi? Pasti di SD loncat jenjang! Aku tidak menyangka, ada banyak orang hebat di SMA Fairy Tail. Kepala sekolah, Natsu, Jellal, Gray, dan mungkin masih banyak lagi yang belum ku ketahui. Bangga itu wajar, mereka hanya melihat dari satu sisi dan sembarangan menyimpulkan. Keinginanku masuk Lamia Scale tiba-tiba menghilang, menamatkan pendidikan di sini bukan masalah.
Pulang sekolah ….
Ba~dum~tsss~
"Mau latihan lagu apa?" tanya Jellal memainkan drum bosan, sesekali menguap melepas kantuk yang menjerat. Loke asal menekan tuts keyboard. Gray memetik gitar sampai senarnya nyaris putus. Kami memang latihan, kan? Atau pengangguran banyak acara?
Tok … tok … tok ….
CKLEK!
"Siang Lucy-chan! Kalian sedang latihan band?" kumohon jangan tanyakan itu …. Mereka bertiga mendadak tuli sekarang, Gray yang ditatap pun seketika memalingkan muka
"Ternyata sekadar formalitas semata. Aku pinjam Lucy-chan sebentar, bye!"
Jika Lisanna-chan berkata 'sebentar', pastilah mengacau pada kata 'lama'. Dia mengajakku jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Membeli baju musim dingin berserta syal dan perlengkapan ski. SMA Blue Pegasus mengadakan karya wisata ke gunung Mt. Hakobe, cerita Lisanna singkat, padat, jelas. Aku sebatas menganggukan kepala paham, rasanya malas jika hanya menemani tanpa membeli sesuatu. Ketiga orang itu pasti sudah pulang ke rumah!
"Ternyata penganggu ada di sini" Jellal?! Kenapa dia menghampiri sampai ke toko baju renang wanita? Para pegawai pun mulai menggosip yang aneh-aneh tentangnya. Aku juga tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Lisanna mengajak kemari
"Ya, karena kita kebetulan bertemu ayo berbicara empat mata"
Bagus sekali, mereka meninggalkanku begitu saja …. Sudahlah, lebih baik pulang dan tidur siang.
Sementara Jellal dan Lisanna ….
"Katakan padaku, kenapa kamu membantu Natsu demi mendapatkan Lucy-chan?"
"Masalah itu benar-benar basi, aku muak mendengarnya. Jelas karena Natsu menyukai Lucy. Kami pacaran untuk formalitas semata, agar dia bisa mendapatkan sahabatmu dengan lebih mudah. Keberatan, nona Strauss?"
"Sangat, sangat keberatan. Akan ku gagalkan rencanamu sekejap mata. Asal kau tau, Natsu tidak pantas mencintainya"
"Hehh …. Kau menyindirku, ya? Seakan berkata, 'guru dan murid tabu jika saling mencintai'. Status maupun umur tidak mempengaruhi perasaan, camkan itu"
Mungkin akan terjadi perang antar Lisanna dan Jellal selanjutnya.
Bersambung ….
A/N : Maaf karena update-nya lama! Author sibuk try out dan main osu hahaha. Entah kenapa game itu bikin ketagihan .-. Untuk next chapter mungkin lebih lama karena akan dibuat lebih panjang, dan chapter 15 adalah yang terakhir lho! Banzai, banzai XD. Review please?
Balasan review :
Fic of Delusion : Dan akhirnya semua terungkapp~ Oke thx udah review.
