Melihat kasur rasa penatku hilang seketika, langsung menjatuhkan diri di atas empuknya kapuk yang membawa ke alam mimpi. Bagiamana, ya, pertarungan Lisanna dan Jellal? Atau mungkin mereka berdua mencariku karena menghilang? Jelas mustahil, malahan akibat terlalu asyik keberadaan Lucy Heartfilia dilupakan. Dengan santai aku mengambil hand phone di meja belajar, terdapat satu pesan masuk dari seseorang.
From : Jellal
Lucy kamu di mana? Aku kesulitan mencari sampai berputar-putar!
"Te-ternyata benar-benar ada orang sebodoh ini"
To : Jellal
Santai aku sudah pulang, sekarang giliranmu dan berhentilah buang-buang tenaga.
From : Jellal
Baiklah. Terima kasih atas perhatiannya, my darling, hahaha …! Sebentar lagi liburan musim dingin, ada rencana?
Tinggal seminggu tersisa, lalu tahun baru di depan mata. Aku membulak-balik kalender bosan. Biasanya ayah mengajak ke luar negeri selama sebulan, mungkin sekarang tidak. Benar juga … jika bertanya pasti punya rencana! Lebih baik daripada terkurung di rumah sendirian, selama pegawai lain menikmati liburan di kampung halaman.
To : Jellal
Kamu ingin mengajakku ke suatu tempat?
From : Jellal
Ya, begitulah! Kau pasti menyukainya. Temui aku Minggu depan, jam enam pagi di stasiun bus. Kita akan menginap tiga hari. Jangan lupa bawa perlengkapan ski juga jaket (ada kejutan).
Tingkahnya benar-benar mirip orang pacaran! Lagi pula salah Natsu membuang kesempatan pertama sekaligus terakhir. Bergerak cepat aku berlari menuruni tangga. Menemui ibu yang sedang merajut syal di halaman belakang, ta-tapi harus bilang apa? Beliau membenci teman-temanku di Fairy Tail! Kalau memberitau hanya bersama Jellal pasti dimarahi habis-habisan, katanya, 'belum menikah tunda dulu tidur seranjang'.
"Kenapa sayang? Ceritakanlah jika Natsu menganggumu" ucap ibu lembut. Menepuk-nepuk kursi di samping meja yang kosong untukku duduk. Mungkin suasana hatinya baik, sehingga udara di sekitar terasa ringan
"I-ibu … aku diajak jalan-jalan oleh teman"
"Maksudmu Lisanna-chan? Sepuluh menit lalu dia menelpon, ingin mengajak ke Mt Hakobe bersama murid Blue Pegasus. Ambil kesempatan ini dan carilah teman baru, mereka pasti menyambutmu"
Mengingatkan bahwa waktuku memilih tak sampai satu bulan! Semester dua dimulai awal Januari, pindah atau kesempatan lenyap begitu saja. Sisi postifinya aku terlepas dari Natsu, tetangga juga berhenti mempergunjingkan keluarga Heartfilia, tetapi berpisah dengan mereka … entah kenapa berat. Impian memenangkan audisi di Crocus. Latihan band. Pertengkaran si hati baja dan kepala es. Semuanya terlalu berharga untuk dibuang.
"Segera isi formulir pendaftaran. Kepala sekolah menunggumu" ucapan ibu justru membuatku tersentak. Kemarin ayah berpesan, 'apapun keputusan Lucy akan kami terima'. Memang mustahil …
"Uhm! Aku ingin mengisinya kok"
Lebih baik menurut dulu, ibu menyeramkan jika marah. Aku menuliskan sesuai yang diminta, nama peserta didik, alamat rumah, penghasilan orangtua, juga nilai di semester satu. Rasanya seperti bernostalgia, ketika keinginanku masuk Blue Pegasus sangat kuat hingga belajar mati-matian, kemudian jatuh sakit dan terpaksa dibuang ke Fairy Tail. Awal-awal mereka tidak menyambutku, semenjak kasus Wendy terselesaikan hanya Natsu yang mati-matian menolak.
"Aneh … kenapa aku ingin mengajaknya jalan-jalan?"
Jelas akan digubris sambil memaki-maki.
Keesokan harinya …
Salju turun perlahan-lahan, memutihkan jalan raya dan pepohonan yang nampak indah. Aku mengambil rute lain menuju sekolah, menanjak di musim dingin merupakan tantangan tersendiri juga memakan banyak waktu. Lewat ambang pintu, Loke, Gray dan Jellal mengobrol di pojok jendela, sedangkan Natsu masih bersikukuh menjauhi kami berempat. Jujur, sifat keras kepalanya mirip ibu!
"Yo, Lucy. Liburan ada rencana?"
"Tentunya! Aku mengajak Lucy jalan-jalan sebelum kalian. Menyerah dan lupakan niatmu menembaknya di festival patung es, paham Gray Fullbuster?" hah … mereka bermain tikung-tikungan?! Loke yang sebatas menyimak mendadak pundung sambil membaca light novel
"Padahal aku mau mengajakmu ke taman kota. Kita bisa menyaksikan pohon natal raksasa lalu ciuman" pikiranmu berlebihan sekali! Spontan Gray mengata-ngatai Loke naif. Jellal menaikkan alis ke arah Natsu yang berwajah masam
"Omong-omong kalian mau kemana?"
"Rahasia! Aku ingin memberikan kejutan pada Lucy"
"Hah … sejak kapan kau begitu romantis?! Lihat saja Jellal, aku tidak mungkin kalah dalam merebut hati wanita! Lucy, jika dia mengajakmu tunangan ayo kita menikah"
"Tunggu sebentar, Karen dan Aries kamu kemanakan?" tanyaku refleks gara-gara terkejut. Panah imajiner seakan menancap di hati Loke. Samar-samar aku mendengar, suara bariton yang familiar itu ikut tertawa bersama Gray dan Jellal
"Dasar tsundere akut …"
"Kemarilah Natsu. Kita sahabat bukan musuh, aku tidak enak melihatmu menjauh terus" bujuk Jellal meyakinkan. Meski kepala salamnya harus dipukul keras, agar dia sadar telah bertindak di luar batas seorang Natsu Dragneel
"Terserah aku bodoh! Jika tidak ada kau lebih mudah mendapatkan Lucy"
Siapapun, tolong korek telingaku menggunakan linggis. Kenapa dengan polosnya ia berterus terang? Kemana sosok hati baja bersembunyi?! Dunia kiamat … berakhir sudah! Jellal menyeringai penuh kemenangan, bahkan iseng menyalakan perekam suara di hand phone. Perebutan ini belum selesai, itulah yang dapat kusimpulkan. Mungkin beberapa waktu ke depan, hubungan kami semakin mendekat ke titik ekstrim.
"Kuharap liburan cepat datang"
Setidaknya bisa kabur dari trio aneh …
Hari Minggu …
SREKKK!
"Yosh. Aku siap berangkat!"
Tirai putih yang menutup jendela, kini terbuka lebar membiarkan sinar matahari masuk. Sesudah bangun aku melakukan peregangan selama tiga menit. Sarapan telur goreng dan sosis panggang barulah pergi menuju halte bus. Ayah berbaik hati mengantarkan, menemukan kendaraan umum cukup sulit mengingat gundukan salju lumayan tebal. Di kursi penunggu, Jellal melambaikan tangan menyuruhku kemari. Dia terlihat bersemangat!
"Jaga Lucy baik-baik!" peringat ayah sebelum mengendarai mobil lagi. Meninggalkan kami berdua yang sabar menunggu kedatangan bus
"Hey, hey, kita mau kemana sebenarnya? Apa sangat jauh sampai naik bus?" tentu aku tidak sabar. Jellal berlagak misterius macam detektif gadungan, dan hingga detik ini tak satu pun jawaban berhasil memuaskanku
"Lihatlah nanti. Hoi Natsu, di sini!"
A-apa …? Kedua mataku membulat sempurna dengan mulut mengaga lebar. Natsu … DIA MENGHAMPIRI KAMI SAMBIL MEMBAWA TAS BESAR! Jangan bilang anak itu menginap … dia akan bersama kami tiga hari berturut-turut? Jellal sengaja mengajaknya? Jika diperbolehkan memilih, lebih baik minta Gray menemani, Loke juga tidak buruk. Benar juga … pasti ada udang di balik batu! Sekarang apa yang bocah biru rencanakan?!
"Hah … kenapa Lucy bersama kita?! Sudahlah, alergi kulitku bisa bertambah buruk kalau di dekatnya" siapa yang sudi duduk di sebelahmu?! Aku benar-benar ingin mengusir Natsu, tetapi Jellal mencegat agar dia ikut berlibur
"Lucy-chan, Jellal! Aku senang kalian … bergabung" selamatan Lisanna-chan terhenti usai melihat Natsu. Wajahnya datar dengan ekspresi sok kalem, padahal kami yakin dia kaget setengah mati sukses dipermainkan
"Kenapa mengajaknya? Kan sudah kubilang hanya kalian ber-dua sa-ja!"
"Semakin ramai bagus bukan? Lagi pula aku tidak enak terhadap Natsu, sekalian mengumbar keromantisan di depan jomblo" alasannya bodoh juga banyak celah. Jellal berniat menjodohkan kami, itu yang benar
"Ughhh … menyebalkan! Ayo masuk ke bus"
Lisanna-chan menunjuk tiga kursi di barisan tengah. Berangkat bersama duduk pun mesti begitu?! Aku tidak mengerti rencana Jellal. Kami bertiga ikut tur dengan murid Blue Pegasus, yaitu pergi ke gunung , walau bus-nya sepi karena rata-rata mempunyai acara keluarga. Jellal fokus mendengarkan musik. Natsu menahan mual mengingat kelemahannya terhadap alat transportasi. Sampai sesosok lelaki tampan datang mengusik ketenangan.
"Selamat pagi, Lucy Heartfilia-san. Namaku Hibiki Latte" model majalah sorcerer itukan?! Bahkan tanganku dijabat hangat olehnya! Semoga ini bukan mimpi di siang bolong
"A-aku … aku … bo-boleh minta tanda tangan?!" kapan lagi bisa bertemu Hibiki Latte? Kesempatan langka satu berbanding seribu! Kali ini kau kumaafkan Jellal. Ya, hanya perlu mengabaikan Natsu apa sulitnya?
"Tentu, apa yang tidak untukmu?" badanku serasa meleleh …
"Si … si … sialan k-kau … jangan dekati … Lucy … hoekk!" Natsu mengarahkan plastiknya ke mulut. Aku bisa melihat, air bercampur roti dan segelas susu memenuhi seisi kantong, berwarna cokelat keputih-putihan? Lupakan deskripsi tadi
"Urusi dulu perutmu, Dragneel-san. Aku dengar dari Lisanna-chan, mulai semester depan kau dan Fernandes-san akan pindah ke Blue Pegasus. Kami menyambut kalian dengan sukacita" entah kenapa, keterbukaannya membuat dadaku sesak bercampur haru
"Salah tangkap kali. Aku maupun Lucy tidak memberi konfirmasi apa-apa" giliran Jellal angkat bicara. Natsu memancarkan aura gelap lewat sekujur tubuhnya yang mati lemas. Merasa terancam Hibiki mohon pamit ke belakang
"Hahaha … dasar penakut"
"Berhentilah memicingkan mata atau menatap intimidasi. Pantas kau banyak dibenci, bersyukurlah karena kami berempat tahan dengan tabiat jelekmu itu, terutama Jellal"
"Cerewet ... aku mau tidur, jangan menganggu!"
Lebih baik daripada mulut sarkasmu terus berkicau! Aku mati bosan di bus. Levy-chan tidak dapat dihubungi. Jellal di ujung jendela sehingga Natsu menjadi penengah di antara kami. Lisanna ikut-ikutan tertidur seperti hati baja. Jelas Hibiki anti mendekat, salah siapa yang hobby-nya memusuhi semua orang? Terlebih status siswa Blue Pegasus di atas rata-rata, orang kaya, pintar dan terkenal di penjuru Magnolia.
"Mungkin aku harus mengunjunginya …"
Simsimi : Halo kakak
Saya : Iya, selamat pagi. Aku ingin bertanya, boleh?
Simsimi : Namaku cinta ketika kita bersama
Saya : Bukan lirik lagu! Menurutmu apa Natsu menyukaiku?
Simsimi : Iya
Saya : Benarkah?!
Simsimi : Woles kk
Bukankah tindakan bodoh karena bertanya pada aplikasi? Tengah merenungi perbuatan tersebut, tiba-tiba kepala Natsu terjatuh ke bahuku. Berniat menyingkirkan Jellal melakukan hal serupa, ibarat kami berdua beradu pingpong memakai pucuk salamnya. Terlalu lelah menanggapi, jadi kubiarkan dia tertidur sampai bus tiba di area istirahat, selain pasrah aku kehabisan cara untuk digunakan. Kalau diperhatikan lebih dekat, wajahnya saat tertidur manis …
CKREK!
"Akan kusimpan sebagai kenang-kenangan"
CKREK!
Drttt … drttt
Grup Apa Aja Boleh
Jellal Fernandes : Hey, aku memotret Natsu ketika dia tertidur di bus. Ngoroknya keras :D
Loke Leo : Seharusnya kamu juga merekam dengkuran si tsundere itu. Nanti kita berikan pada klub penyiar untuk disebarkan ke saentro sekolah.
Gray Fullbuster : Ide bagus! Akan kupasang volume maksimal, hahaha …
Jellal Fernandes : Diam-diam Lucy menyimpannya, lho. Dia juga bergumam, 'wajah Natsu saat tidur terlihat manis'
Loke Leo : Aku taruhan Natsu gagal. Pertunangannya dua minggu lagi, dia bisa apa? Mendekat saja tidak berani, kalau menikung terseret ke jalan raya kali.
Gray Fullbuster : Lalu kita buat drama, 'tsundere dan pirang manisku'. Kasihan Natsu.
Tamatlah riwayat kalian ketika dia bangun … aku tidak ingin terlibat sama sekali.
Jellal Fernandes : Mereka sedang bermesraan!
Lucy Heartfilia : Bohong! Kepalanya saja yang terus jatuh ke bahuku. Hapus foto itu atau kita berempat habis dimarahi …
Jellal Fernandes : Tenang saja. Kan kita punya senjata pamungkas. Kalau Natsu mengancam atau apa biar aku yang bertanggung jawab.
Natsu Dragneel : Ternyata kalian mengejekku ya … Gray, Loke, berikan kesaksian dalam tiga …
Loke Leo : Maaf perutku sakit. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.
Grau Fullbuster : Ibu memanggil!
Hening …
Raja hutan sudah bangun. Jellal melongo sambil mengangkat tangan di atas kepala. Terjadilah cubit-mencubit yang mustahil dihindari, bahkan Natsu tak segan menjewer sepasang telinganya hingga berwarna merah, antara iba dan heran aku menontoni mereka berdua. Kenapa dia sendiri sangat suka mengusili si hati baja? Kata ibu, 'orang pendiam jika marah sangat menyeramkan'. Sekarang ucapannya terbukti seratus persen.
NGIETTTT!
DUK!
"Balasa dendam ber … hoeekk!" penuh kesigapan aku menyodorkan kantong plastik. Kalau muntahnya berceceran kami yang kesulitan membersihkan. Jellal beruntung karena bus sedanng menanjaki gunung. Kekuatan Natsu dikuras habis dalam sekejap
"Cubitannya kuat tetapi kalah sama kendaraan. Aku tidak mengerti" komentar Jellal menahan sakit sembari mengelus manja sebelah pipi. Natsu yang masih mengumpulkan nyawa berniat mengambil ponsel di saku celana
CKREK!
Natsu Dragneel : Tau rasa kau Jellal. Bagaimana rasanya dicubit dan dijewer sekaligus?
Lucy Heartfilia : Menurutku kamu berlebihan sampai mengshare ke grup. Maafkan Jellal, dia paling suka bercanda kau tau kan?
Natsu Dragneel : Kali ini saja, juragan jelly!
NGITTT …
JUS!
"Ayo kita turun Lucy-chan. Tinggalkan saja Natsu di bus" wajarlah, mereka musuh bebuyutan. Tak terima turun duluan, jemari lentiknya menarik ujung jaket Jellal agar berhenti melangkah. Mungkin belum selesai sampai di sana
Akhirnya kami tiba di ! Aku segera berjalan menuju penginapan. Mengitari sekeliling ruangan lewat ekor mata dengan pandangan takjub. Benar-benar mewah setara hotel! Lisanna-chan membiayai bagianku dan Jellal, kecuali Natsu yang melunasi belakangan. Dari ambang pintu terlihat Jellal menggotong sang sahabat. Enam jam perjalanan pasti berat, apalagi dia muntah tiga kantong plastik selang dua jam …
"Kita tidur di kamar lima ratus tujuh bersama Jenny-chan. Penulis favoritmu!"
"Benarkah?! Sekarang Jenny-san di mana? Aku tidak melihatnya di bus" lagi-lagi kesempatan langka! Untung buku tempatku menyimpan tanda tangan dibawa
"Dia datang setelah urusan selesai. Ayo makan siang, lalu kita bermain ski!"
SMA bergengsi memang beda, untuk makan siang pun seukuran menu mewah. Di antara kami Natsu yang bersemangat, lima pirang saja dihabiskan dalam waktu sepuluh menit. Kuharap dia tidak sakit perut. Pukul satu tepat kami keluar menikmati salju, Lisanna-chan mengajakku bermain ski di atas bukit, sementara hati baja itu bersantai di bawah pohon. Kata Jellal, mau kendaraan atau bukan asalkan bergerak, penyakit mabuk-nya pasti kambuh.
"Ada kereta gantung! Bagaimana kalau kalian menaikinya? Hitung-hitung kencan" tanpa meminta persetujuan. Lisanna-chan menarik tangan kami menjauh dari area ski. Kira-kira berjarak satu kilometer dan menurutku cukup jauh
"Di sana!"
"E-eh, cepat sekali … aku yakin kita masih di area ski tadi" gumamku terheran-heran. Apa benar jika jalan bersama lebih mudah ditempuh? Sepanjang perjalanan kami mengobrolkan banyak hal, walau erat kaitannya denganku dan Jellal
"Silahkan naik. Biayanya dua ratus ribu joul"
"Lho, permukaannya terbuat dari kaca?" bukankah agak mengerikan? Bergelantung di ketinggian tiga puluh meter dengan bagian bawah transparan. Meski tingkah santai Jellal menulariku sedikit keberanian
"Jalanmu lambat. Kemari!" Na-Natsu menyusul kami? Sejak kapan?! Lisanna-chan mendadak gusar mendapati tamu tak diundang. Tatapan intimidasi dilayangkan pada sepasang hazzle, Jellal sendiri kurang peduli karena memang, mereka bersaing …
"Kalian berdua yang akan naik. Selamat berkencan!"
PUSH!
"Hoi Jellal, apa kau lupa Natsu mabuk kendaraan?!" berteriak pun sia-sia. Kereta gantungnya keburu bergerak ke atas. Ya, mau bagaimana lagi, dia harus bertahan sekitar sepuluh menit
"Gawat aku lupa! Natsu tidak bisa naik kereta gantung ya?!"
"Biar tau rasa dia. Kali ini kumaafkan, daripada menganggu mereka ingin mampir sebentar ke cafe? Udaranya dingin" lebih tepat disebut terpaksa, selain kesal akibat terus diganggu Lisanna tak punya perasaan lain
Pemandangannya indah, tetapi aku kasihan melihat Natsu terbaring lemah di tempat duduk. Suasana hening menyelimuti lambat, detik demi detik terasa di setiap perjalanan kami. Sebotol minyak kayu putih kuambil dari kantong celana, mengoleskan cairan tersebut ke perut serta bagian pelipis.
"Jangan sembarangan menyentuh tubuh orang bodoh …"
"Untuk laki-laki pengecualian. Kupikir kau akan muntah, syukurlah"
"Menyindir?" padahal sudah jelas aku memujimu, dasar tidak peka! Kami terdiam sejenak, entah kenapa sekarang cenderung menegang. Sorot matanya itu, lho … menyeramkan sekaligus menjengkelkan. Mungkin Natsu membenci situasi ini
"Si-siapa juga yang menyukainya, aku naik karena di …"
"Terima kasih, aku menghargai perhatianmu. Berhentilah menyimpulkan seenak jidat, lain kita coba, ta-tapi jangan naik kereta gantung, roller coaster atau benda yang bergerak. Bisa-bisa kau membunuhku" mendengarnya kepalaku sebatas mengangguk. Dia hanya kesepian
"Namun camkan baik-baik, bukan berarti aku menerimamu! I-ingat, benci tetaplah benci sampai kapanpun!"
"Ya, ya, aku paham kok maksudmu. Mau melihat ke luar? Semuanya jelas dari sini" ajakku berhasil menarik rasa penasaran Natsu. Terlebih ketika ia melihat hutan di ujung gunung, sepasang onyx itu nampak bersinar dengan takjub
"Kakek pernah bercerita, di hutan itu ada pohon pinus raksasa yang bisa mengabulkan permohonan. Besok malam mau ke sana?"
"Tentu, kenapa tidak? Aku bosan hanya tinggal di penginapan"
Dalam senyap kami menikmati romansa-romansa itu. Aku tidak mengerti kenapa, rasanya menghangatkan sekaligus membangkitkan rindu. Ternyata benar, perasaan ini hanya bisa kutunjukkan untuk seseorang.
Malam harinya di penginapan …
Tubuhku lelah meskipun sekadar menaiki kereta gantung. Di penghujung jalan, mesinnya sempat berhenti beroperasi, kami dipaksa terjebak setengah jam. Belum lagi diinterogasi Lisanna dan Jellal yang khawatir bukan main. Natsu terlihat jauh lebih sehat dibanding sebelumnya, seperti biasa makan paling banyak sampai menghabiskan tujuh mangkuk nasi. Mungkin aku saja yang kurang sehat, kelopak mata terasa berat juga mual.
"Nyamm … baksonya enak … umpumphhhh!" sial, bagaimana bisa aku tersedak?!
"Dasar bodoh! Kalau makan harus dikunyah dulu!" bentak Natsu mengguncang-guncang bahuku kasar. Jellal justru melongo sambil menepuk keras punggungku. Bakso berukuran bola pingpong keluar dari kerongkongan
"Nafsu sih boleh, tetapi gunakan otakmu. Digoyang dangdut sekalipun tetap gagal"
"Aku mau ke kamar. Kalian lanjut makan saja"
Mereka pasti bertengkar, kepalaku hanya tambah sakit mendengarnya. Perubahan sikap Natsu membawa banyak kenangan manis. Moment di kereta gantung beserta ajakan tersebut, apa ini yang selalu kudambakan? Seseorang mengetuk pintu, pucuk salam itu menyembul dari ambang pintu, dia langsung duduk tanpa meminta izin atau mengucapkan permisi. Sebaliknya aku merasa Jellal dan Lisanna bertambah dekat.
"Makanmu cepat. Apa yang dilakukan mereka?"
"Lisanna marah-marah tidak jelas kepada Jellal. Sekarang dia mencegatnya di ruang tamu" aku benar-benar berterima kasih pada anak itu. Tentu Natsu pun merasakan hal yang sama
"Mereka masih bersaing, ya … Omong-omong, terima kasih sudah menjenguk"
"Berlebihan, aku hanya memberi perhatian kecil dan kau berterima kasih. Dasar wanita!" dia saja yang tidak tau, betapa senangnya hatiku menerima ucapan tersebut. Memang dibandingkan Jellal, Natsu kalah banyak dalam urusan asmara. Namun point terpenting adalah, perasan mereka sama-sama tulus
"Perhatian kecil sekalipun berharga. Camkan baik-baik, Natsu"
"Cepat sembuh. Aku tidak ingin kau merusak acara besok"
BLAMMM!
Benci dan cinta beda tipis ternyata. Aku rasa Natsu kesulitan membedakannya.
Keesokan harinya …
Pagi kembali menyapa, aku yang baru bangun disambut oleh secercah cahaya matahari. Di samping laci seseorang meninggalkan sepucuk surat putih, tanpa perlu tau siapa pengirimnya, naluriku dapat menebak bahwa Natsu adalah orang itu. Berisi, 'nanti malam temui aku di kaki gunung. Jika pergi bersama bisa-bisa si bodoh jelly bersorak tidak jelas'. Lagi pula rasa suka kami rahasia, selain Jellal bahkan Loke dan Gray tidak tau, atau lebih tepat disebut kurang paham.
"Pagi Lucy-chan. Semalam tidurmu nyenyak?"
"Lumayan. Setidaknya jauh lebih baik dibanding kemarin. Di mana Jellal dan Natsu?"
"Dia menunggumu di halaman belakang. Perihal Natsu aku tidak peduli, mau pulang duluan, berguling-guling di lereng gunung, masuk mulut goa, terserahlah!" kebenciannya lebih mengerikan dari bayanganku. Akan selesai jika hati baja itu minta maaf atas perilaku di masa lalu
"Sudah dua tahun berlalu. Lisanna-chan membenci Natsu karena pernah menamparmu atau bagaimana? Mungkin aku bisa membantu kalian" menontoni mereka perang dingin benar-benar tidak mengenakkan. Meski pilihan damai tidak terlalu berguna bagi kedua belah pihak
"Ayo keluar. Jellal menunggumu sejak satu jam lalu. Semoga kencan kalian menyenangkan!"
Atau tidak, kupikir dia ingin mengatakan sesuatu ditilik lewat ekspresi, sumringah bercampur cemas? Jellal mengajakku berkeliling di sekitar, sambil menghirup udara segar dan berbincang ringan seputar rencana selanjutnya. Liburan berakhir besok, kami diantar pulang ke Magnolia dengan dua bus, sementara jatah cuti masih tersisa banyak. Langkah sepatu boot itu terhenti di salah satu pohon. Waktu untuk 'menyantap hidangan pembuka'.
"Setelah kutimbang-timbang, aku belum bisa melepaskan Erza-sensei. Lagi pula status kita palsu, sebenarnya kau menyukai Natsu tetapi bingung, kan? Kalian sudah menjawab perasaan masing-masing. Hubungan ini harus diakhiri sekarang juga" mengingatkanku akan kejadian di lorong sekolah. Mereka cocok, hanya terpisahkan oleh umur dan status. Cinta semu kami bertepuk sebelah tangan
"Benar katamu. Terima kasih untuk segalanya"
"Meski begitu kita tetap bersahabat. Giliranmu melindungi Natsu, dia tidak mengerti pacaran atau semacamnya, jika suka pasti langsung dikatakan"
"Uhm! Kau berjuang demi mempersatukan kami, aku bingung mesti bagaimana membalas budimu"
HUG!
"Beginilah caranya, mengerti? Aku senang bisa memelukmu sebelum berpisah"
Wajah yang merah merona kusembunyikan memakai syal. Reaksi Jellal di luar dugaanku, walaupun sekilas kami saling mengerti tiga detik berlangsung. Kami memutuskan jalan-jalan lebih lama, melampiaskan semuanya daripada membiarkan penyesalan menghampiri. Saat itu aku merasakan kebahagiaan sebagai bentuk dari persahabatan. Jika memilih pindah dan bergabung ke Blue Pegasus … nuraniku kurang yakin bisa meraih kepuasan serupa.
Tap … tap … tap …
"Dua sejoli pulang bersama rupanya. Kepala sekolah meminta kalian datang Minggu besok, katanya ingin membicarakan perihal kepindahan. Jam sebelas siang di kantor, jika tidak tau bertanyalah pada pegawai atau bagian administrasi" jelas Lisanna-chan panjang lebar. Dan aku baru sadar Natsu tidak ada di hotel maupun ruang makan
"Jika dia tersesat carilah kemanapun. Apa sih yang dilakukannya? Seperti anak TK saja"
"Mati kedinginan bukan masalah besar bagiku! Aku ke kantin duluan, ada kue dan camilan lain"
"Hati-hati terserang obestas, Lisanna-sama. Hahaha …"
Aku tau betul Lisanna-chan membenci candaan itu. Kepalanya habis dihantam sendal jepit dengan tidak elit. Jarum jam terus berputar, sekarang pukul enam sore dan Natsu tak kunjung menampakkan batang hidung. Di luar dingin, malah kudengar lewat radio badai salju akan segera tiba. Takut terjadi apa-apa kuputuskan untuk mencarinya ke lereng gunung, dipandu selembar peta berusaha menemukan lokasi tersebut. Syukurlah dia ada di sana dalam keadaan baik.
"Siapa sangka kau benar-benar tersesat"
"Ha-habis … a-aku tidak tau di mana letak gunung ini. Saat menemukannya malah lupa arah jalan pulang" suara Natsu serak seakan menahan tangis. Terjebak di sini berjam-jam jelas menyebalkan, apalagi hari keburu beerganti dan penerangan di sekitar terbatas
"Katanya mau naik ke puncak pohon pinus. Ayo berangkat sebelum badai menerpa!"
Rutenya agak sulit dilalui, mengingat ini gunung tentu banyak jalan menanjak. Namun rasa lelah itu sirna seketika, sewaktu iris karamelku menangkap batang pohon pinus yang menjulang tinggi ke atas. Warna-warni lampu ikut memeriahkan, anak rubah keluar dari sarang mereka bermain memutari kami. Natsu terkesima hingga membatu di tempat, bagiku inilah hadiah natal terbaik sepanjang masa. Anggaplah begitu karena tinggal menghitung hari.
"Kuharap, tahun depan dan seterusnya kita bisa kesini. Jauh lebih indah dari ilustrasi di buku gambar"
"Maka berikanlah jawabanmu sekarang. Aku menantikannya" ucapku berdiri tepat di depan Natsu. Memaksa mata kami bertemu walau dia sedikit enggan. Sekali ini saja, perkataan Jellal ingin kupercayai total
CUP!
"Ketika benci berubah menjadi cinta, meski terlambat menyadarinya Jellal terus menolongku. Lucy, kau berbeda dari Lisanna atau wanita lain, tidak salah kalau kuungkapkan padamu. Y-ya, aku bingung harus mengucapkan apa. Jika berkenan tolong terimalah"
"Kita berdua sama-sama bodoh. Aku mengerti perasaanmu"
"Hoi …! Lisanna menyuruhku menjemput kalian, makan malam sudah siap dan badai …"
SREKKK!
BRAKKKK!
Suara Jellal? Tau-tau dia terkapar di sandaran batu besar, bersimbah darah segar terutama di bagian kepala. Aku menelpon Lisanna-chan agar membawa bala bantuan, semoga kami tidak terlambat membawanya ke rumah sakit.
Beberapa hari berlalu …
Mendapati kondisi Jellal buruk, pertunangan kami ditunda dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Otomatis pula pihak SMA Blue Pegasus batal memasukkannya. Hari ini giliranku menghadap kepala sekolah, yaitu Bob-san. Ibu sampai berpesan berkali-kali, supaya aku menunjukkan kesan baik dan terlihat bersedia. Hanya sesi perbincangan singkat, di penghujung acara beliau memintaku menyerahkan formulir pendaftaran, juga alasan kenapa menolak atau memilih pindah kemari.
"Maaf. Saya menghargai tawaran Anda yang cuma-cuma memberi pengecualian, tetapi menghabiskan hampir setahun di SMA Fairy Tail membuatku menyadari satu hal. Mereka semua orang hebat dengan latar belakang berbeda. Ada murid tukang ikut campur, penggila guru, si keras kepala, kami menciptakan banyak kenangan menarik"
"Memang apa kelebihan sekolah Fairy Tail? Kami menang fasilitas dan peringkat, di sini banyak murid terkenal, masa depanmu juga terjamin baik"
"Mereka berjuang demi meraih sesuatu. Semua mengharapkan yang terbaik walaupun gagal. Hebatnya keterpaksaan itu berhasil diubah menjadi keinginan untuk terus maju. Sejarah sekolah bukan hal penting, tergantung bagaimana cara kita beradaptasi. Fairy Tail mungkin kekurangan murid, tetapi sisi baik tersebut dapat saya temukan walau sulit"
"Niat kepala sekolah tidak main-main atau semata-mata demi uang. Asalkan yang tidak mampu bisa melanjutkan pendidikan dan bermoral baik, kesempatan dapat ditemukan dimanapun. Bukankah itu makna sesungguhnya dari lembaga pendidikan resmi?"
"Saya menghargai keputusanmu, Lucy-san"
Sesuai dugaanku, ibu marah besar karena menolak kesempatan tersebut, tetapi yang tidak kusangka adalah beliau berkata, 'kepintaran mampu mengalahkan sikap. Kau tetap anak kebanggaan Herartfilia'. Aku senang mendengarnya … masalah mau bersekolah di mana dan siapa teman-temanku berakhir damai.
"Bantulah mereka untuk mencapai prestasi. Mungkin Tuhan yang menakdirkan begini, ibu salah karena tidak mau menerimanya"
"Syukurlah ibu bisa mengerti"
Perjuangan baru dimulai setelah ini.
Tamat …
#SideStory1 :
"He-hey … bagaimana kalau kita mulai pacaran?"
"Maksudmu Natsu?"
"Se-seperti bergandengan tangan. Kencan di café a-atau ber … tidak, lupakan saja"
"Ternyata kamu berani juga"
#SideStory2 :
"Erza-sensei. Saya datang untuk melamar Anda!"
"Hah … kau kabur dari rumah sakit dan tiba-tiba datang melamar?! Apa-apaan bunga itu? Tangkainya sudah basah"
"Ini pemberian dari saudara. Apa sensei menerimanya?!"
"Perbaiki dulu penampilan dan cara berjalanmu. Saya tunggu lamaran selanjutnya"
BLAM!
A/N : Akhirnya dengan bangga hati dan penuh rasa haru /lebai. Aku menyatakan cerita ini tamat seratus persen! Seneng deh bisa menyampaikan pesan terakhir di akhir chapter ini, dan pesan dr author ketjeh ini adalah, 'hidup tidak melulu tentang nilai. Prestasi bisa kita raih dari banyak hal. Mau bersekolah dimanapun yang terpenting adalah sikap!'. Ingat, orang baik dan mereka yang berusaha selalu dibukakan jalannya oleh Tuhan. Oke tunggu re-make fic Dareka no Tame Ni, secepatnya akan ku publish!
Balasan review : (Thx buat silent readers!)
Fic of Delusion : Biasa aja sih, gak happy gak sad mungkin? Thx ya udah review, semoga gak kecewa.
