Aku menatap lurus ke dalam bola matanya...
Laki-laki di hadapanku ini begitu yakin akan perasaannya pada Hinata. Awalnya aku meremehkannya, aku tidak percaya pada tutur katanya. Sampai pada akhirnya aku tenggelam dalam kedua onyx itu. Dia...begitu yakin akan perasaannya. Dia begitu percaya pada hal yang disebut cinta. Heh...aku hanya bisa tertawa, akan kutunjukan padanya...

bahwa perasaan cinta itu omong kosong.

Akan kubuktikan padanya... kalau cinta hanya akan membuatnya menderita.

"Baiklah... mulai hari ini panggil aku master!"


Disclamer: Masashi Kishimoto
Pairing: always be Sasusaku:*

Genre: Drama/Romance/Friendship


MASTER!

Chapter 1


Suasana kantin memang selalu sesak kala istirahat, untung saja Konoha high school ini menyediakan kantin yang amat luas dengan banyak meja dan kursi yang tersusun rapi.

"Sakura-chan, kamu tadi bersama dengan Sasuke-san ya?" Gadis manis bermanik lavender itu bertanya sebelum menyeruput jus mangga di hadapannya. Matanya memperhatikan sahabat pinknya yang sedari tadi asik dengan pikirannya sendiri, membuat dango yang dia pesan digerogoti oleh udara.

"Sakura-chan?" panggil Hinata sekali lagi dengan lembut. Roh Sakura yang barusan bertualang entah kemana menjadi tertarik lagi ke dalam raganya. Membuatnya sedikit terperanjat kaget, Hinata mendengus geli. Tak biasanya Sakura melamun saat makan.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Sakura mendesah berat. Kamu yang aku pikirkan Hinata! Batinnya gusar. Bagaimana ini? ternyata dia kurang berpikir dengan cermat. Dia benar-benar tidak ingin sahabat satu-satunya yang paling ia sayangi ini dimiliki oleh Uchiha Sasuke!

Bahkan jika memungkinkan...ia tidak mau Hinata jatuh cinta pada siapapun...

"Tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa kok, Hinata..." Sakura tersenyum simpul, sedangkan Hinata hanya bisa menatapnya bingung. Jelas sekali kalau Sakura sedang menutupi sesuatu darinya tapi Hinata tidak ambil pusing, Sakura adalah orang yang sangat ia percayai dan begitupula sebaliknya. Sakura selalu berbagi apapun pada Hinata, mungkin saat ini
Sakura butuh waktu untuk menyampaikan sesuatu itu padanya, toh sampai saat ini Sakura tidak pernah menutupi apapun darinya.

"Sakura-chaaaan..." Sakura dan Hinata yang tengah asik bercengkrama sambil menikmati cemilan mereka terusik panggilan manja Naruto yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Ia menampilkan cengiran khas miliknya, mempertontonkan barisan gigi putih nan rapi miliknya. Degup jantung Hinata terasa terpacu, rona kemerahan tipis muncul di pipi tembamnya. "Dan halo Hinataaaa..." sapa Naruto sekali lagi, Hinata sedikit terperanjat, malu-malu ia menyapa balik Naruto dengan sopan.

"Enyahlah dari hadapanku, Naruto." ketus Sakura, emeraldnya menyalak tajam ke blue sappire Naruto.
Pemuda itu hanya terkekeh pelan, dia menarik sebuah kursi lalu duduk di hadapan dua gadis nominasi paling cantik di sekolahnya itu.

"Kenapa sih mulutmu itu selalu kasar? Cobalah tiru attitude Hinata sedikit."

Sakura memutar bola matanya malas, Naruto bahkan jadi orang ke seribu yang mengatakan itu padanya. Dia dan Hinata berbeda seratus delapan puluh derajat. Hinata bagaikan tuan putri yang begitu ramah dan hangat, disayangi dan disukai semua orang. Berbeda dengan Sakura, dia tidak terlalu suka bersosialisasi, memang dia tidak terlalu ramah tapi Sakura tetap mencoba sopan pada siapa saja, ia begitu tertutup, sehingga orang-orang pun menjadi canggung untuk berkomunikasi dengannya. Tapi Sakura tidak ambil pusing, dia tidak peduli dengan orang lain. Hanya Hinata-lah sahabat paling berharga yang ia miliki. Sayangnya mereka berbeda kelas tahun ini.

Sakura POV

Naruto mulai bercerita entah apa, aku hanya mengaduk jus strawberry di hadapanku, sambil sesekali melirik Hinata dan Naruto yang sedang ngobrol.
Kuperhatikan Hinata terlihat sangat bahagia bisa berbicara dengan Naruto, dia benar-benar menyukai Naruto sepertinya. Kulihat ia tertawa malu-malu pada lelucon murahan Naruto. Heh. Bukankah cinta itu begitu bodoh? Bahkan Uchiha Sasuke, lelaki yang gengsinya tidak bisa dibeli dengan sekarung berlian itu pun menyimpan harga dirinya untuk memanggilku master, hahaha demi cinta bodohnya. Matanya bahkan buta, dia bilang aku menatap Naruto dengan penuh cinta? Enak saja! Aku tak sudi.

Cinta itu memang omong kosong.

Aku berdiri, rasanya perutku tiba-tiba terasa mual, "Hinata, perutku terasa sakit, aku akan ke uks sebentar ya... Pisang keju pesananku belum datang, jadi kau habiskan saja dengan Naruto." ucapku.

"Kamu tidak apa-apa, Sakura-chan?" Hinata ikut berdiri, ia menggapai lenganku, "Aku akan menemanimu ke uks." Ucapnya dengan wajah khawatir, aku meraih tangannya yang bertengger di lenganku, lalu berkedip jenaka sambil berbisik, "nikmati saja kencanmu." Wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus, sebelum protes keluar dari bibirnya aku langsung meraih bahunya lalu memaksanya untuk duduk. "jaa nee Hinata!" Pamitku lalu belari meninggalkan mereka.

Memikirkan cinta-cinta membuatku mual. Kau tahu banyak hal-hal tragis yang terjadi beratas namakan cinta. Kepedihan dan kesakitkan itu ada karena cinta. Jadi cinta hanyalah omong kosong tiada guna yang hanya membawa derita

Sett

Brak

Aku meringis merasakan punggungku beradu keras dengan dinding.

Ketika aku membuka mata, onyx ini sudah mengunci pandanganku. Heh. Uchiha Sasuke.

"Apa kau bermuka dua, master?" tanyanya dengan suara berat. Lelaki ini begitu menyebalkan, aku tidak suka padanya.

"Apa maksudmu, heh?"

"Bukankah kau sudah berjanji akan mengajariku mendapatkan Hinata? Lalu kenapa kau membiarkannya berduaan dengan Naruto?" tanyanya tajam tanpa menjauhkan wajahnya yang hanya berjarak sejengkal dari wajahku.

"Aku hanya bersikap netral." Ucapku, menatap dingin tepat di kedua matanya, "aku hanya ingin melihat Hinata bahagia dengan orang yang dipilihnya."

Sasuke terlihat sedikit geram, wajahnya memang stoic, tapi aku bisa membaca ekspresinya, "lalu untuk apa aku memintamu menjadi guruku kalau kau bersikap netral?"

Aku terkekeh pelan, tanganku melepaskan kuncian lengannya. Cinta membuat orang begitu egois dan ingin menang sendiri. "Aku bukan ahli cinta ataupun dukun... Kau sendiri yang memintaku untuk mengajarimu..." Aku mendorong tubuhnya menjauh, "tunduklah sedikit padaku, atau kau mau perjanjian tadi batal?"

Sasuke terdiam, "Aku sudah berjanji akan mengajarimu sebisaku, semampuku...Namun hasil akhirnya tetap berada di tanganmu...jadi jangan terlalu bergantung padaku."

Aku berjalan menjauh dari Sasuke tanpa menoleh padanya sedikitpun. Entah mengapa hari ini aku merasa hidupku diwarnai oleh cinta-cinta-cinta yang membuatku merasa muak.

o.O.o

Inilah aktivitasku hampir di setiap sore. Main ke rumah Hinata. Hanya Hinata temanku, daripada aku bosan di rumah sendirian, aku sering ke sini. Bahkan keluarga Hinata sudah menganggapku bagian dari keluarga mereka. Mereka sering menawariku untuk tinggal bersama mereka saja, tapi aku selalu menolaknya. Aku tahu diri, aku tidak ingin merepotkan siapapun dan menjadi beban orang lain.

Aku merebahkan diri pada kasur empuk Hinata, menerawang jauh ke langit-langit kamarnya. Banyak hal yang berputar di kepalaku.

"Hinata, kamu benar-benar menyukai Naruto?" Hinata yang sedang duduk membaca buku di sebelahku terlihat kaget, wajahnya benar-benar merah berkat pertanyaanku. Dia menundukkan wajahnya, memainkan kedua telunjuknya malu-malu.

"Ya... Aku sangat menyukainya." jawab Hinata. Wajahku terasa sedikit mengeras. Tidak boleh. Hinata tidak boleh jatuh cinta dengannya.

"Apa yang membuatmu menyukainya?" tanyaku kemudian. Hinata terlihat berpikir sejenak, kemudian ia tertawa kecil.

"Aku juga tidak mengerti, Sakura-chan." Alisku tertaut bingung, "aku merasakan jantungku berdegup begitu kencang saat berada di dekat Naruto-kun... Tawanya, suaranya...aku bahagia dan begitu senang melihatnya. Dan hatiku juga terasa berdenyut sakit melihat Naruto-kun diomeli sensei atau ketika Naruto-kun dihukum..." Hinata menutup matanya, tangannya menyentuh dadanya, menikmati debaran jantungnya ketika memikirkan Naruto. Aku hanya dapat mengamatinya dalam diam, parah. Hinata harus segera kuselamatkan. Aku bangkit dari posisiku lalu duduk dengan rapi.

"Kenapa tiba-tiba Sakura-chan bertanya hal seperti ini?"

Aku tersenyum kecut, perlahan aku menggapai bahunya, "Jangan pernah jatuh cinta, Hinata. Cinta itu bodoh, cinta hanya akan menyakitimu. Cinta akan membuatmu menderita, jangan biarkan kau terbawa perasaan semu itu." aku terdiam sebentar, emeraldku menatap matanya dengan serius, "...karena kau bisa terluka..."

Hinata terperangah, lalu sesaat kemudian ia menatap mataku sendu, membuat hatiku mencelos dan ingin menangis, "Sakura-chan...apa kau masih-"

"Jangan bahas itu Hinata aku tidak suka." Aku memotongnya cepat. Aku benar-benar tidak ingin membahasnya, aku hanya ingin menguburnya dalam-dalam. Kebodohan yang diperbuat kedua orangtuaku...

Hinata menggenggam tanganku erat, pandangan matanya melembut, "Suatu saat aku yakin kalau Sakura-chan akan merasakan cinta sejati, dan akan bahagia karenanya." Ucapnya tulus. Aku hanya tersenyum sedikit, lalu mengidikan bahuku, "kurasa tidak."

Bisa kubaca jelas ekspresi wajah Hinata, dia kecewa dengan perkataanku tapi sejurus kemudian dia tersenyum, tangannya mencubit pipiku dengan gemas. "Lihat saja nanti!" serunya sambil tertawa geli.

Aku hanya mendengus lalu menggelengkan kepalaku agar tangannya berhenti mencubitku, "Oh iya Hinata, mulai besok aku akan sedikit sibuk... Jadi mungkin aku akan jarang main ke sini."

Hinata sedikit mengerutkan dahinya bingung, "Hm? Sibuk? Bukannya Sakura-chan sering kurang kerjaan?" Candanya membuatku sedikit tersinggung. Aku langsung menoel hidung mungilnya, "Aku punya misi sangat rahasia tahu!" protesku yang hanya mendapat tawa renyah Hinata.


.

.

Normal POV

Sasuke berkali-kali melirik jam tangannya. Berkali-kali mulutnya terdengar meruntuk, dan bahkan mengumpat. Langit yang tadinya berwarna biru kini sudah berwarna kejinggaan. Angin pun terasa bertiup lebih kencang dibanding tadi.

Sasuke terlihat kesal, Sakura menyuruhnya menunggu di atap seusai pulang sekolah tadi siang - setelah berhari-hari ia tergantung tanpa kepastian dari gurunya itu. Namun batang hidung gadis itu tak terlihat sedikitpun sedari tadi. Sudah hampir tiga jam Sasuke di sana menunggunya.

Tiupan angin seolah mengolok-olok kebodohannya, tangannya segera meronggoh ponselnya dari dalam kantong celananya. Baterainya sekarat. Buru-buru ia menelpon si gadis bersurai merah muda itu.

"Halo?" Terdengar suara Sakura diseberang sana. Sasuke terlihat mengatur napasnya, mencoba menenangkan emosinya yang meluap-luap.

"Kau dimana?" tanya Sasuke yang berhasil mengontrol nada bicaranya.

"Aku sedang di rumah, ngomong-ngomong ini siapa?" tanya Sakura dengan polosnya.

"Sasuke."

"Ohh kau. Ada perlu apa meneleponku? Dapat nomorku darimana?"

"Kau..."

"Astaga iya! Aku lupa ahahahaha! Cepatlah pulang Sasuke. Sebentar lagi pintu-pintu akan di tutup, kau mau mati kedinginan di sana malam ini?"

Sasuke sempat terperangah mendengar tutur kata Sakura. Gila. Perempuan ini berani macam-macam dengannya rupanya.

"Kau benar-benar..."

"Apa? Menyebalkan? Hahahaha. Kau yang tidak bisa sabar ini mau memenangkan hati Hinata? Mimpi sajalah sana..."

Rahang Sasuke mengeras, kesal sekali rasanya. Andai kata Sakura bukan anak perempuan, Sasuke berani menjamin kalau gadis itu akan dirawat di rumah sakit esok hari.

"Beraninya ka-"

Sasuke tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, ponselnya terlebih dahulu mati kehabisan baterai. Kesabarannya habislah sudah. Ternyata salah besar untuk percaya pada Haruno Sakura. Gadis itu hanya cantik rupanya, tapi sifatnya benar-benar buruk. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi Sasuke segera berjalan ke arah pintu yang menjadi jalur menuju ke dalam gedung sekolahnya.

Tiba-tiba tubuhnya terasa menegang, berkali-kali ia berusaha membuka pintu itu, namun naas pintu itu sudah dikunci. Seandainya ponselnya masih nyala dia bisa menelpon Naruto dan menyuruhnya mencarikan kunci pada paman yang berjaga di pos depan.

"Sialan!" geramnya. Hah kasihan sekali, sepertinya dia akan menginap di sana.

Sasuke melemparkan tasnya asal ke lantai, huh rasanya benar-benar seperti orang dongo saja! Terkunci di atap sekolah? Hahaha. Klise. Sasuke menghempaskan tubuhnya, memposisikan dirinya untuk duduk. Ia menatap langit yang berubah kejinggaan. Entah mengapa ia merasa langit seolah menertawakannya. Memang ide buruk membuat Sakura menjadi gurunya, seharusnya dia berusaha sendiri saja. Tidak usah sok-sokan terlibat dengan gadis anti sosial itu. Yah, Sasuke pikir Sakura lemah hati dan lekas tergoda dengan pesonanya tapi nyatanya tidak. Gadis itu benar-benar menunjukan gestur kalau dia tidak suka dengan Sasuke. Namun hal itulah yang mengganggu pikiran Sasuke, kenapa gadis itu bersedia repot-repot mengajarinya mendapatkan Hinata padahal Sakura tidak suka dengannya? Hm, tapi Sasuke menolak untuk peduli, apa pun yang direncanakan Sakura ia tidak peduli, yang penting gadis itu sudah berjanji akan mengajarinya. Karena gadis musim semi itulah satu-satunya jembatan yang menghubungkan dia dengan Hinata.

"Kenapa kau menungguku?" Sasuke sedikit terkejut, dia membalikan tubuhnya, dan menemukan Sakura sudah berdiri di hadapannya. Ada kelegaan luar biasa di sudut hatinya. Rasa kesalnya yang dari tadi memuncak terkikis tertiup angin.

"Kau sudah berjanji padaku." Geram Sasuke.

"Hahahaha. Sorry. Seharusnya kau jangan menelan bulat-bulat janji yang orang asing katakan padamu." Sakura berujar. Ia melangkah perlahan, menuju pagar pembatas di sana. Emeraldnya menerawang jauh, sedangkan tangannya ia kaitkan pada kawat pembatas, "Kenapa kau menyukai, Hinata?" tanya Sakura pada Sasuke.

"Karena dia cantik."

Sakura tersenyum, "begitu...ternyata kau tidak ada bedanya." gumam Sakura. Sasuke hanya diam sementara Sakura sudah membalikan tubuhnya, memandang Sasuke dengan emerald yang berkilat sendu entah kenapa.

"Lalu seandainya Hinata mengalami kecelakaan yang membuat wajahnya hancur, apa kau masih menyukainya?"

Sasuke diam tak bisa menjawab, ia merasa tenggerokannya tiba-tiba mengering karena omongan Sakura begitu menohoknya.

"Kau hanyalah bocah yang tidak mengerti cinta, Sasuke. Kau hanya tertarik akan parasnya dan akan meninggalkannya ketika kau bosan..." Sakura meremas kedua tangannya sendiri, bibirnya bergetar. "Dan kau akan menghianatinya!" Seru Sakura tiba-tiba, dadanya terasa sakit seakan banyak belati tak kasat mata menusuk-nusuknya.

Trang.

"Cukup." Lagi-lagi Sasuke mengunci pergerakan Sakura, punggung gadis itu tersandar pada pagar pembatas. Onyx Sasuke menatapnya sengit.

"Kenapa kau berlagak seperti Tuhan? Tahu apa kau soal cinta?" Onyx itu bersibobok dengan zamrud Sakura, tiupan angin membuat perkataannya berjeda. Perlahan seringaian terlukis di wajah tampan Sasuke, "Dan aku mendengar curhatan hatimu terselip dari perkataanmu barusan." Sinis Sasuke. "Apa kau trauma jatuh cinta?"

Sakura jengkel setengah mati, ia mendorong kasar tubuh Sasuke. Lelaki ini terlalu banyak skinship dengannya. "Aku tidak sudi mengajarimu! Huh minta ke dukun saja kau sana, sialan!" Umpatnya kesal, dengan segera ia berjalan menjauh.

Sasuke menahan tangan Sakura dengan kasar, "kau membuatku menunggu seperti orang bodoh hanya untuk membatalkan perjanjian kita? Jangan bercanda karena aku tidak suka tertawa."

Sakura merasakan aura Sasuke yang begitu menekan, pangeran satu ini benar-benar banyak nuntut. Sakura benar-benar tidak suka padanya. Sasuke harus diberikan pelajaran. Sakura harus mengerjainya habis-habisan. HAHA.

Sakura menghela napas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Baiklah-baiklah..." Sakura berucap dengan seringaian di ujung bibirnya, "karena kamu tidak membayarku sama sekali dan aku merasa tidak ada untungnya membantumu... Bagaimana jika aku memberikan beberapa syarat?" Tanya Sakura dengan ujung bibir yang tersenyum sinis, pergelangan tangannya tetap diberada di genggaman Sasuke. Sehingga tangan keduanya tetap terangkat di udara sedari tadi.

"Syarat?"

"Ya. Tapi sebelumnya Bisakah kau lepaskan tanganmu? Lenganku mulai pegal." Sasuke buru-buru melepaskannya, karena dia juga tidak sadar.

"Pertama...karena kita sekelas, kau harus mengerjakan semua tugas dan pr ku. Kedua...karena aku adalah mastermu, kau harus memperlakukanku seperti ratu dan juga turutilah semua kata-kataku...ketiga..." perkataan Sakura terhenti, sebenarnya dia juga bingung syarat apa saja yang akan ia berikan untuk menyiksa Sasuke. Biarlah syarat-syarat selanjutnya mengalir saat dia akan bertindak.

"Syarat ketiga dan selanjutnya akan kuberitahu nanti." Sakura mengakhiri perkataan dengan senyum licik, membuat Sasuke sedikit mengerutkan alisnya.

"Kenapa? Tidak sanggup? Kalau tidak sanggup tidak usah saja," Sakura mengidikkan bahunya lalu memutar matanya meremehkan.

Set

Cup.

Wajah Sakura sedikit memerah medapati Sasuke sedang berjongkok di hadapannya dan mengecup tangannya dengan lembut, membuat Sakura kehilangan kata-katanya.

"Tentu saja aku sanggup, master." Sasuke menampilkan senyuman iblisnya pada Sakura. Buru-buru Sakura menarik tangan kanannya, lalu meringis seolah tangannya terbakar.

"Tidak perlu cium-cium seperti itu dasar aneh!" Sakura buru-buru melangkahkan kakinya, meninggalkan Sasuke yang sedang tertawa di belakangnya, satu kosong. Dia berhasil menggoda gadis itu. "Ingat ya Uchiha Sasuke mulai besok aku akan mulai serius mengajarimu, jadi jangan nempel-nempel denganku seperti temanku! Aku mastermu! Camkan itu ya! kalau perlu catat di dahimu biar kau tak lupa! cih."

"Dasar gadis menyebalkan." gumam Sasuke, ia memandangi punggung Sakura, perasaan aneh terasa menggelitik perutnya, "sepertinya aku lapar..."

To be continued...


A/N: Selamat berpuasaaaaaaa teman-teman sekalian! Aku minta maaf kalau fik satu ini begitu lamban apdet dan lamban dalam pembangunan ceritanya...soalnya ini masih chapter 1 kok, dan masih dalam proses pembuatan cerita abal yang maksa banget hehehe. Terimakasih atas semua reader dan reviewers yang sudah menyempatkan waktu untuk memberikan feedback kepada dakuu... that's mean so much for me luvluvluv.

Dan sekalian mau curhaaattt dan mengingatkan kalau besok hari kamissssssssssss! Semoga Naruto Gaiden tidak bikin kita galau lagi TT

Udah ah kayanya terlalu banyak cingcong hehe. See youuuuuuu:3

Reviews?