Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Always be SasuSaku :*
Genre: Drama/Romance/Family
MASTER!
Chapter 2
"Nih. Kerjakan PR-ku. Aku terlalu malas tadi malam sampai lupa kalau ada PR." Gadis bersurai pink itu dengan sombongnya menghempaskan sebuah buku tulis di atas meja Sasuke. Sang empunya singgasana hanya menatapnya malas, perempuan ini benar-benar sok ngebos. Tingkah laku sang gadis bubblegum itu menarik perhatian beberapa orang teman sekelas mereka. Tumben sekali Miss Haruno gadis yang benar-benar ansos mengajak seseorang mengobrol, terlebih orang itu adalah Uchiha Sasuke, pemuda yang sama ansosnya dengan Sakura.
"Lima belas menit lagi bel berbunyi nih. Kerjakan secepat mungkin ya."
Sasuke menatap tajam tepat di emerald itu tanpa membuka mulutnya sedikit pun. Beberapa detik mereka perang tatap, Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Hm? Tidak mau, ya?" tanya Sakura, Sasuke hanya mendengus pelan sambil memutar bola matanya malas.
Sasuke menarik buku bersampul pink yang tergeletak di ujung mejanya itu. Cih. Sekarang warna pink terasa memuakkan baginya. Sakura menyeringai senang, rasanya senang sekali memiliki seorang 'jongos' yang bisa diandalkan.
"Nanti kalau sudah antarkan ke mejaku ya, aku mau malas-malasan dulu." Sakura mengambil langkah menuju bangkunya yang berada di tengah-tengah kelas. Beberapa perempuan di kelasnya memandangnya tak suka. Berani-beraninya si pinky ini menyuruh-nyuruh pangeran mereka. Mereka terus saja melototi Sakura, dan Sakura hanya memandang mereka datar lalu berlalu tanpa mau peduli apa yang sedang mereka pikirkan.
"Belagu banget sih tuh cewek!" seru Karin dengan gemas.
Sakura yang sudah duduk di bangkunya terkekeh pelan. Gerombolan perempuan di kelasnya masih saja mempelototinya dari tadi. Huh ini lah yang membuatnya tidak terlalu betah di kelas. Padahal jika saja Hinata tidak terlalu sibuk pagi ini, dia sudah pasti akan bersama dengan sahabatnya itu sampai bel masuk berbunyi.
Sakura melipat tangannya, kemudian merebahkan kepala di atasnya. Ia melirik jendela di sebelah kiri kelasnya, langit yang begitu cerah di pagi yang hangat. Hahaha. Sakura tertawa sendiri mendengar isi hatinya. Benar-benar melankolis dan menjijikan.
Tuk.
Sasuke menepukkan buku catatan Sakura itu ke kepala sang pemilik.
"Berhenti malas-malasan...m-a-s-t-e-r." ucap Sasuke, ia segera duduk di depan bangku Sakura, setelah memutar bangku yang entah milik siapa itu.
Sakura segera menegakkan tubuhnya, dengan segera ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Kau kerjakan dengan benar tidak sih? Belum ada sepuluh menit." Omel Sakura sambil membuka bukunya. Emeraldnya menyapu habis berlembar-lembar kertas yang penuh dengan hitungan itu. Wah ternyata Sasuke benar-benar jenius! Semua soal matematika itu sudah terjawab, padahal setiap murid diberikan angka-angka yang berbeda agar tidak menyontek. Lumayan lah punya anak buah tampan dan jenius begini.
Sakura melirik Sasuke yang masih setia duduk di hadapannya. Namun Sakura buru-buru memalingkan wajahnya ketika menyadari Sasuke menatapnya intens daritadi.
"Hm...yasudah balik ke kursimu sana! Melihat wajahmu di depanku membuatku tak nyaman." Sasuke menekukkan bibirnya, dasar tidak tahu terimakasih sama sekali nona mudanya satu itu. Terkadang Sasuke berkeinginan untuk menendang gadis satu itu jika saja ia tidak menyandang sebutan pria bermartabat yang tidak akan menyakiti perempuan.
"Kenapa kau sengaja bertingkah menyebalkan padaku?" tanya Sasuke pada akhirnya.
"Hee? Memangnya aku menyebalkan kah?" sebelah alis gadis musim semi itu terangkat, wajahnya dibuat-buat terkejut dengan penuturan Sasuke. Segera setelahnya tangannya ia gunakan untuk membolak-balik buku bersampul pink itu. Mencoba mengacuhkan Sasuke yang masih tak beranjak. Sasuke komat-kamit di dalam hatinya. Rasanya kesaaaaaaaaaaaaaaaal sekali. Daripada membuatnya darah tinggi Sasuke segera beranjak dari sana, namun perkataan Sakura membuatnya sekali lagi menolehkan wajahnya pada gadis itu.
"...menyerah saja." Emerald itu menatap serius pada kedua manik hitam Sasuke. Mencoba meyakinkan Sasuke agar percaya dengan perkataannya.
"Aku tidak akan menyerah. Meski harus membuang harga diriku mengemis-ngemis padamu. Apapun akan kulakukan agar aku mendapatkan Hinata." Kata Sasuke. Beberapa saat Sakura sempat tertegun melihat kesungguhan yang terpancar dari kedua pasang onyx itu namun setelahnya Sakura terkekeh kecil penuh penghinaan.
"Bodoh sekali. Kau tahu sekarang kau terlihat menyedihkan. Kenapa cinta benar-benar menyesatkan orang-orang ya? Aku heran juga... sampai-sampai jenius sepertimu jadi seorang yang bloon dan dungu begini."
"Di mataku yang terlihat begitu menyedihkan adalah kau." Gantian Sasuke yang sekarang tersenyum menghina Sakura, ia kembali melanjutkan kata-katanya setelah sebelumnya mendekat pada Sakura lalu berbisik di depannya, "Kurasa kau tidak pernah dicintai oleh siapapun. Atau bahkan orangtua mu tidak menyayangimu heh?"
DEG!
...
...
Dada Sakura terasa begitu perih mendengar ucapan Sasuke. Beberapa detik ia sempat menahan napasnya. Matanya menatap kedua onyx itu, bibir merah ranumnya terkatup rapat seakan telah dijahit kuat. Tanpa membalas perkataan Sasuke dia segera beranjak keluar kelas. Meninggalkan Sasuke yang sedikit kebingungan dengan situasi yang terjadi.
"Yooo teme! Bantu aku mengerjakan PR ku!" Naruto yang baru memasuki kelas segera merangkul Sasuke dengan manja.
"Menjauh dariku, dobe! Kepalaku sakit!"
"Aaah ayolah Sasuke-kun kumohon, ya ya ya ya!"
"Pergi Kau sana!"
.
.
Sakura membanting pintu toilet dengan kasar. Napasnya memburu cepat. Tubuhnya terasa panas. Tangannya terus mengepal sepanjang perjalanan menuju toilet.
Air mengucur deras dari keran yang ada di washtafel di depannya. Sakura membasuh mukanya berkali-kali. Seolah emosinya yang begitu tebal akan meluntur seiring jatuhnya titik-titik air itu dari wajahnya.
Tes.
"Sial!" umpatnya saat merasakan kalau air matanya ikut keluar bersama tetesan air itu. Beriringan dengan beberapa potong kenangan yang tiba-tiba telintas di otaknya.
"Sakura itu adalah buah cinta ibu dan ayah." Wanita paruh baya itu tesenyum hangat pada sang anak. Tangannya yang sudah mulai keriput membelai pipi tembam sang gadis dengan lembut. "Ibu sangaaaaat mencintaimu, Sakura." Wajah Sakura memerah, dadanya terasa hangat. Luapan cinta sang ibu memasuki seluruh rongga hatinya. Sang ibu memeluk anaknya erat. Lalu lelaki tegap nampak berjalan ke arah ibu anak yang sedang berpelukan itu.
"Wah wah ayah jangan ditinggalkan dong!" Ia ikut merengkuh kedua kaum hawa yang menjadi sumber kebahagiannya. "Ayah juga sangat menyayangi Sakura." Gumam sang ayah sambil mengecup pelan pucuk kepala sang anak. Sakura tertawa-tawa senang dalam dekapan orang tuanya. Rasanya hangat sekali. Setiap hari ia merasakan cinta yang begitu melimpah. Umurnya memang masih lima tahun. Belum mengerti jelas apa yang dimaksud cinta. Namun ia tahu pasti kalau cinta lah yang membuat hatinya begitu tenang dan nyaman.
.
"Dasar kau lelaki bajingan! Beraninya kau berselingkuh di belakangku!" Teriakan Mebuki terus terdengar. Beriringan dengan suara barang-barang berjatuhan dan tak sedikit yang pecah. Kizashi juga ikut berteriak. Kedua insan tersebut berkelahi hebat. Membuat barang-barang berhamburan.
Sakura kecil terus terisak sambil memeluk boneka kesayangannya. Bibir mungilnya terus bergumam tanpa henti, "aku sayang ibu...aku sayang ayah..." bibirnya terus merapal kalimat itu bagaikan mantra yang akan membuat orang tuanya berhenti berkelahi.
Mebuki terus berteriak histeris seolah-olah rasa sakit yang mengegorogiti hatinya bisa hilang seiring kesadarannya yang sudah jauh. Hatinya hancur berkeping-keping tatkala mendapati sang suami sedang bercumbu mesra dengan sekertarisnya di kantor.
Tak pernah ia sangka sang suami, Haruno Kizashi yang ia cintai dengan segenap jiwa dan raganya tega menduakan cintanya. Rasa sakitnya tak tertahankan membuatnya seakan gila.
Mebuki menangis histeris, menjerit-jerit kencang sambil memegangi dadanya. Dengan cepat ia berlari keluar rumah sambil berteriak seperti orang tak berakal. Kizashi langsung mengejarnya meninggalkan Sakura yang sudah menangis kencang saat melihat ibunya yang begitu hancur.
Sakura berlari kecil, tubuhnya yang pendek melompat-lompat ingin menggapai gagang pintu. "Aku sayaang ibuu! Aku sayang ayaah!" Jeritnya tanpa henti. Dia tak mengerti apa yang sedang terjadi pada orang tuanya. Rasa sakit yang menusuk-nusuk dadanya begitu mencekamnya.
.
Tiga hari kemudian...
"Makanlah nak..." Gumam Mebuki. Ia memperhatikan gadis kecilnya yang sedang bengong memperhatikan sang ibu. Mata Mebuki sudah sangat bengkak habis menangis selama tiga hari penuh. Dan selama tiga hari itu pula kedua orang tua Sakura itu terus bertengkar dan berteriak. Sakura tak mengerti apa yang sedang terjadi, yang jelas air matanya mengucur deras saat melihat ibunya menangis di hadapannya saat ini.
"Ayo dimakan...ini adalah kue strawberry kesukaan Sakura..." Gumam sang ibu. Sakura mulai terisak. "Jangan menangis nak... Lekaslah makan... Setelah kau selesai makan baru ibu bisa pergi dengan tenang...jangan membuat ibu susah."
Sakura tak mengerti apa maksud sang ibu. Perlahan ia menggapai sendok yang tergeletak rapi di sebelah piring. Ia makan tart buatan ibunya sambil menangis pilu disetiap kunyahannya.
"Enak...hiks...kue buatan ibu sangat enak...hiks...Sakura sayang ibu...hiks..."
Mebuki menangis dalam diam. Perkataan Sakura begitu menusuk-nusuk jantungnya, meremas jantung itu sampai kebas.
Selang beberapa menit Sakura telah menyelesaikan makannya. Ekor matanya terus mengikuti pergerakan Mebuki. Wanita itu segera membereskan piring makan, setelahnya ia segera meraih sebuah koper besar yang tersandar di dinding di ruang tengah. Sakura langsung berlari mendatanginya.
"Ibu mau kemana...?" Sakura kecil menarik bagian bawah rok Mebuki. Mebuki menolehkan kepalanya. Sakura mulai terisak lagi membuat hati sang ibu hancur berkeping-keping melihatnya. Perlahan Mebuki berjongkok, agar tingginya sama dengan sang buah hati. Perlahan tangannya mengelus pipi Sakura yang sudah basah.
"Maaf...ibu harus pergi." bisiknya. Sakura sedikit menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Sakura mau ikut ibu." Pintanya dengan raut sedih.
Mebuki tersenyum lemah, jemarinya mengaitkan rambut pink sang anak yang menyusup di wajah chubby gadis itu, "Tidak bisa nak...wajahmu mengingatkanku pada ayahmu."
"Jadi apakah ibu akan meninggalkan Sakura?" tanya Sakura takut-takut. Mebuki mengangguk. Dalam seketika rumah itu gaduh dengan jeritan Sakura.
"Jangan tinggalkan Sakura... Jangan bu... JANGAAAAAAAAAAAN!" tangisannya benar-benar menyakitkan tenggorokan. "Sakura janji takkan nakal. Sakura janji tidak akan makan permen banyak-banyak. Sakura janji akan selalu sikat gigi sebelum bobo! Maafkan Sakura ibu... Maafkan Sakuraaaa.. Jangan tinggalkan Sakura!"
Mendengar tangisan Sakura membuat hati mebuki terasa tersayat-sayat belati yang sangat tajam. Menghujamnya tanpa henti. Tangisan anaknya begitu pilu...
"Maafkan ibu nak...ibu harus meninggalkanmu..." Mebuki memeluk erat buah hatinya untuk terakhir kali.
"Apakah ibu sudah tidak mencintai Sakura lagi?"
"Iya...ibu sudah tidak menyanyangi Sakura lagi...Ibu tidak mencintai Sakura lagi...maafkan ibu." Mebuki mendorong pelan tubuh Sakura membuat gadis itu jatuh terduduk. Kemudian dengan segera ia melangkahkan kaki keluar rumah dan langsung menutup pintunya dengan rapat.
Sakura menjerit histeris. Ia berlari ke arah pintu itu lalu melompat-lompat, berusaha menggapai ganggang pintu untuk mengejar sang ibu.
Berkali-kali ia mencoba menggapai ganggang pintu itu namun tubuhnya yang pendek benar-benar menghalanginya. Sakura terduduk saat dirasakannya kakinya sudah lelah melompat. Ia menangis sambil memanggil-manggil ibunya, berharap ibunya kembali muncul dari balik pintu itu. Kepalanya menengong ke belakang, mendapati sang ayah yang berdiri tegar di tengah ruangan.
Gadis kecil itu berlari, memeluk kaki sang ayah. Tangisannya tumpah ruah, membuat celana kain sang ayah basah.
"Ayaaahh...ayaaah...maafkan Sakuraaaa... Sakura janji tak akan nakaaal...Sakura janji tidak akan manja-manja kepada ayaaaah... Sakura janji akan jadi anak yang baiiikk... Kembalikan ibu yaah.. Kembalikan ibuuu..." Gadis itu menjerit sakit.
Sang ayah ikut berjongkok. Ia merengkuh Sakura dalam dekapannya.
"Maafkan ayah... Sepertinya mulai besok Sakura akan tinggal bersama nenek Chiyo."
Alis Sakura mengkerut, bibirnya bergetar hebat, ragu-ragu ia mulai bertanya dengan mata yang masih mengucurkan air mata. "Apa Ayah akan meninggalkan Sakura juga?"
Sang ayah mengangguk. Bibir gadis kecil itu bergetar hebat, ia berusaha menahan debaran jantungnya yang terasa menyakitkan.
"Sakura salah apa ayah? Kenapa ayah juga meninggalkan Sakura? Apa ayah tidak menyayangi Sakura lagi..."
"Maaf nak... Wajahmu mengingatkanku pada ibumu..." Kizashi terdiam sebentar, ia menarik napasnya dengan berat, "Ayah tidak sayang lagi padamu."
Dada Sakura terasa sangat sakit. Napasnya terasa sesak. Ada apa dengannya? Kenapa rasanya benar-benar menderita?
Emerald yang sudah banjir itu menatap lekat ke bola mata sang ayah, "Bukankah Sakura adalah buah cinta ayah dan ibu? Kenapa ayah dan ibu meninggalkan Sakura... Kenapa ayah dan ibu tidak menyayangi Sakura lagi..."
"Kau harus tau nak... Cinta itu omong kosong..."
.
Sakura membuka matanya dengan napas tersengal. Air mata mengucur deras dari sisi-sisi matanya. Sial! Sial! Sial!
Memori itu berputar di kepalanya secara mendadak. Ia membasuh wajahnya berkali-kali.
"Brengsek kau Uchiha Sasuke. Kau sudah membangunkan singa tidur. Lihat saja kau nanti..."
TBC
A/N: kyaaaa apa-apaan ini? Benar-benar alay sekali... Hueehh maapkan daku yang sangat-sangat-sangaaaaaat lama mengapdet ini, maklum mahasiswi yang terus-terusan digentayangin oleh tugas. Mungkin Chap ini begitu singkat dan a bit in rush, ya? huhuhu ngumpulin niat buat ngetik memang susyaah yahh...
akhir kata, mind to send me a feedback? ;)
