Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Always be SasuSaku :*

Genre: Drama/Romance/Family


MASTER!

Chapter 3


WARNING: OOC, non-baku, bit rush and also typo(s)


Sakura bergeming sendirian di koridor depan kelasnya. Nasibnya apes sekali, terlambat masuk karena kebanyakan menangis di toilet sekolah. Kurenai―sang guru matematika tanpa ragu-ragu langsung menyuruh Sakura berdiri di luar kelas.

Entah mengapa koridor itu terasa sangat panjang dan sepi, membuat Sakura benar-benar bosan harus berdiam diri di sini seperti patung. Manik emeraldnya memandang lurus ke arah jendela di seberangnya berdiri, langit begitu cerah berbanding terbalik dengan wajahnya yang muram.

"Lihat saja...aku akan mengerjai Uchiha brengsek itu."gumamnya.

Tak terasa dua jam telah berlalu. Bel pun berdering merdu ke seluruh penjuru sekolah. Sakura menghembuskan napasnya lega, kakinya benar-benar pegal ia ingin cepat-cepat duduk di bangkunya.

"Ingat jam istirahat pertama kau ke kantor guru," ujar Kurenai yang baru saja keluar, "Jangan telat lagi, ini sudah ketiga kalinya minggu ini."

Sakura menunduk, "Hai. Maafkan aku sensei... aku tidak akan mengulanginya,"

Kurenai menghela napasnya, "Yasudah masuk sana, kalian masih ada jam pelajaran setelah ini." Kurenai langsung mengambil langkah menuju ke kelas berikutnya yang ia ajar. Sakura pun langsung memasuki kelasnya.

Beberapa murid terlihat menertawakannya dan berbisik-bisik kecil. Sakura mengacuhkan mereka dan langsung melenggang menuju tempat duduknya.

GUBRAK! Murid-murid langsung tertawa melihat pantat Sakura yang beradu keras dengan lantai karena Naruto menarik kursi itu sedetik sebelumnya.

"Waaaaaa maafkan aku Sakura-chan aku tak sengaja."

"NARUTO NO BAKAAAA!" Sakura langsung meninju Naruto sambil meneriaki -lagi- bocah musang satu itu dengan makian yang sering disensor di tayangan televisi.

"Aku hanya bercanda Sakura-chan maafkan aku..." Naruto meringis kesakitan karena rambutnya masih dijambak-jambak oleh Sakura, "aku hanya ingin mengubah mood Sakura-chan yang benar-benar dingin tadi, maafkan aku."

Sakura menjitak kepala Naruto kali ini sebelum melepaskannya, "jangan sok bisa membaca mood deh, dasar bocah nakal."

Tak lama setelah Sakura melepaskan Naruto pintu kelas itu bergeser lagi, seorang guru berambut abu-abu yang memakai masker langsung mengambil alih perhatian kelasnya. Kakashi sang guru fisika. Matanya yang terlihat tak punya gairah hidup itu memperhatikan Naruto yang berpenampilan babak belur.

"Kau kenapa Naruto? Seperti habis dihajar preman saja."

Sontak seluruh kelas langsung tertawa terbahak-bahak, kecuali beberapa murid yang memang jarang tertawa.

TAK TAK

Kakashi memukulkan tongkat kayu yang ia bawa ke papan tulis, "Sudah-sudah diam!" perintahnya sebelum menghembuskan napas dengan berat, " Haaa~h... aku benar-benar sedih melihat hasil ulangan kalian yang rata-ratanya jelek cuman segelintir murid saja yang nilainya tinggi. Kalian ini sudah kelas sebelas tapi nilai kalian tetap seperti ini tak ada perkembangan dari semester ganjil lalu. Sebagai wali kelas aku malu. Beberapa guru bilang padaku kalau kalian selalu ribut saat pelajaran berlangsung, seperti pasar ikan! Oleh karena itu..." Kakashi sengaja menggantung kalimatnya beberapa saat, "hari ini tempat duduk kalian akan diundi."

"EEEHHHH?" sontak para murid mengeluarkan suara yang sama.

"tidak ada ehh ehhan. Kalau kalian duduk bersama teman akrab kalian bawaannya ngobrol terus. Jadi aku sudah siapkan undian ini. Tenang saja ini bagaikan takdir, tak ada campur tanganku atau rekayasa pihak manapun,"

Tenten mengangkat tangannya untuk mengajukkan pertanyaan, "Sensei, bagaimana kalau setelah diundi ternyata tetap sebangku?"

"Pertanyaan bagus, artinya kalian memang ditakdirkan duduk bersama... tapi jika masih saja ribut kalian akan diskors."

Sekali lagi kelas itu ribut dengan kalimat-kalimat murid yang bercampur. Sakura hanya menghela napasnya. Tak masalah dia mau duduk dimana dengan siapa toh tidak ada yang mengajaknya bicara di kelas ini, rasanya ingin cepat-cepat lulus saja. Sakura melirik ke arah Sasuke. Onyx itu bertemu dengan emerald. Ternyata Sasuke juga sedang memandanginya. Sakura sedikit kaget namun tidak mengalihkan pandangannya. Ia menajamkan matanya sedangkan Sasuke hanya memandanginya datar.

"Sudah-sudah," Sela Kakashi dari depan kelas menghentikan kegaduhan di kelas itu, lelaki paruh baya berkharisma itu mengeluarkan gulungan kertas yang berisi nama-nama murid di kelas ini. "Kita mulai dari bangku di ujung sana, ketua kelas tolong kau saja yang mengambil kertas gulungan ini."

Rock Lee, sang ketua kelas langsung berdiri tegak sambil hormat, "HAI, KAKASHI-SENSEI!"

...

Hampir semua murid sudah menempati bangku mereka yang baru, tinggal bangku-bangku di barisan belakang yang tersisa.

"Yang diujung dekat jendela... Haruno Sakura. Lalu disebelahnya... Uchiha Sasuke." Ucap Lee yang bertugas mengundi gulungan nama itu. Banyak murid perempuan yang protes pada Lee. Mengapa gadis galak tak punya teman itu malah duduk dengan Sasuke?

"Ini permainan takdir teman-teman," sergah Lee. "kalau boleh juga aku ingin duduk bersama Sakura-san, tau!" Lee berucap dengan tangis yang mengucur di sudut matanya, anak laki-laki ini sangat menyukai Sakura dari dulu.

Sakura hanya tersenyum -sangat- kecil, ia segera mengambil langkah menuju bangku barunya, begitu pula Sasuke. Suasana di bangku mereka benar-benar tidak nyaman. Rock Lee melanjutkan tugasnya sampai bangku yang terakhir.

Sasuke menopang wajahnya dengan tangan, matanya memandang lurus ke depan, sedangkan Sakura hanya memandang keluar jendela yang berada tepat di sebelah kirinya.

Setelah bermenit-menit Sakura tetap memfokuskan pandangannya keluar jendela. Sasuke meliriknya dengan ujung mata. Gadis ini benar-benar absurd tadi pagi marah-marah dan asal suruh sekarang malah diam seperti orang bisu.

"Nanti sore kita ke rumah Hinata." ucap Sakura tiba-tiba.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya penuh selidik, "ngapain?"

"Mau memporak-porandakan rumahnya. Ck! Ya memulai pendekatan lah. Memangnya kau mau aku beri teori melulu tanpa praktek?" jelas Sakura sedikit kesal.

"Ini ada isinya tidak, sih?" jari telunjuk Sasuke menyentuh pelipis Sakura, "berpikirlah sedikit masterku yang terhormat. Aku. Datang. Ke rumahnya. Tiba-tiba. Tanpa sebab? Menurutmu apa yang akan dia pikirkan?"

Sakura menepis jemari Sasuke dengan kasar.

"Siapa bilang kau datang sendirian? Aku bilang tadi 'kan kita. Aku akan pergi bersamamu, sudahlah kau tinggal bawa badan saja, soal bagaimananya nanti kau tinggal improvisasi saja semuanya sudah kuatur."

Sakura memutus pembicaraan itu dengan memasang headset ke telinganya, lalu bersenandung pelan dengan mata yang tertutup. Sasuke hanya memandanginya dengan kesal lalu memutar kepalanya menghadap papan tulis dan betapa terkejutnya ia mendapati Kakashi sudah berdiri tepat di samping bangkunya.

"Haruno Sakura." panggil Kakashi dengan nada tegas.

Sakura masih asik menikmati irama musik yang keluar dari headsetnya. Sasuke langsung menyikut Sakura sedikit keras membuat gadis itu membuka kelopak matanya, jantungnya terasa melompat bagaikan lumba-lumba di tengah laut, dengan segera ia melepas headsetnya dan menyimpannya di laci meja.

"Sudah terlambat untuk menyembunyikannya, Haruno..." Kakashi tersenyum dengan mata yang menyipit, tangannya terulur, "sinikan ponsel dan headsetmu, aku menyitanya."

Sakura memanyunkan bibirnya namun ia menuruti perkataan Kakashi. Ia memberikan ponsel kesayangannya itu dengan terpaksa. Di awal masuk kelas dulu Kakashi sudah menyampaikan beberapa aturan yang harus dipatuhi para siswa saat mata pelajarannya berlangsung, termasuk dilarang mengaktifkan apalagi menggunakan ponsel saat pelajaran berlangsung.

"Ke kantor guru saat istirahat pertama." suruh Kakashi sambil memasukkan ponsel Sakura ke dalam kantong celananya.

Teman-teman sekelas Sakura terlihat terkikik pelan, menertawakan kesialan Sakura yang begitu berlipat hari ini. Sakura menggerutu pelan lalu merebahkan kepalanya di atas meja. Sumpah dia bete dan ingin memakan orang

"Mampus." gumam Sasuke di dalam hatinya.

.

.


"Wah kau memang tidak terlalu buruk ya." puji Sakura pada Sasuke. Mereka janjian bertemu di taman dekat perumahan Hinata. Sasuke memakai kaos hitam polos dengan dilapisi jaket jeans yang membuatnya terlihat keren sekaligus ganteng. Tak lupa juga pada celana jogger berwarna hitam yang melapisi kaki jenjangnya yang tinggi.

Sasuke meneliti penampilan Sakura yang luar biasa sederhana, hanya jaket hoodie berwarna abu-abu dengan celana training hitam. Wajahnya tak berpoles sedikitpun, namun itu tidak mengurangi kecantikan wajahnya yang bak dewi. Rambut panjangnya ia ikat tinggi membentuk buntut kuda.

"Gak usah segitunya kali. Aku tahu apa yang kau pikirkan... aku selalu pakai baju seperti ini saat ke rumahnya. Nah ayo kita ke sana." Sakura menarik lengan Sasuke, sedikit menyeretnya untuk berjalan lebih cepat. Sasuke hanya bisa mendesis kesal tapi ia tak bisa marah pada nona nya ini. Yah walaupun sedikit kurang ajar Sakura tetap mengajarinya ini dan itu tentang Hinata.

Tak membutuhkan waktu lama, Sasuke dan Sakura sudah sampai di depan rumah Hinata. Sakura langsung mengetuk pintu depan itu sambil memanggil nama Hinata.

"Ya ampun Sakura-chan tumben mengetuk pintu? Biasanya langsung nyelonong masuk!" ujar Hinata saat membukakan pintu. "Loh? Sasuke-san?" tanya Hinata yang sedikit bingung karena sekarang Sakura tak datang seorang diri.

"Ayo silakan masuk dulu," tawar Hinata kemudian. Sakura membantahnya cepat.

"Tidak-tidak, aku ke sini cuman mengantarkan Sasuke soalnya dia bilang ada yang ingin dia katakan padamu berdua saja."

Sasuke kaget seperti tersambar petir, sialan nona nya satu ini. Hinata yang kebingungan hanya dapat menautkan alisnya, memangnya ada perlu apa Uchiha Sasuke ini tiba-tiba ke rumahnya.

"Yasudah kau urus saja urusanmu dengan Hinata, aku mau pulang." Sakura langsung membalikkan tubuhnya lalu beranjak pergi, mengabaikan pelototan Sasuke yang terasa menusuk-nusuk punggungnya.

Sakura terkikik geli nan jahat sepanjang jalan. Makanya jangan kebanyakan gaya dan sok angkuh. Sakura membayangkan Sasuke yang kikuk dan gagu di depan Hinata, membuatnya tertawa terbahak-bahak. "Makan tuh cinta."

.

.

"Ada apa Sasuke-san?" tanya Hinata dengan lembut, lidah Sasuke terasa kelu dan jantungnya berdebar tak karuan. Ini sangat gila. Hinata berpikir sejenak dan kemudian terkikik geli melihat tingkah Sasuke, ia mempersilahkan Sasuke untuk masuk rumahnya.

"Sepertinya aku mengerti kenapa kamu ke sini." Kata Hinata setelah menyuduhkan secangkir teh hangat pada tamunya ini.

Sasuke dengan refleks langsung menegakkan duduknya. Wuanjir. Apakah terlalu jelas di wajahnya sampai-sampai Hinata langsung bisa menebaknya. Sasuke hanya diam karena merasa sangat malu untuk membuka mulutnya. Sialan kau haruno Sakura. Sasuke akan menjambak-jambak rambut gulali itu bila ketemu.

"Aku senang sekali ada orang yang sadar akan kebaikan hati Sakura-chan."

Eh?
Hening beberapa detik.

"Apa maksudmu?"

"Hehehe kamu tidak perlu malu, aku tahu kamu ke sini karena ingin tahu banyak tentang Sakura-chan, kan?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya, bingung. Bukan itu tujuannya dan melenceng terlalu jauh dan terdengar menggelikan. Untuk apa dia mencari tahu tentang gadis tak berkepribadian itu? Lebih baik dia salto tanpa menggunakan baju di gunung salju.

Namun, daripada jujur pada Hinata dia ke sini karena ingin dekat dengan cewek beriris lavender itu malah lebih merepotkan. Jantungnya tidak siap dan hatinya juga tak mau sakit karena ditolak mentah-mentah. Lebih baik dia mengikuti alur ini saja.

Toh Sasuke juga sedikit penasaran soal masternya itu. Ingat ya hanya se-di-kit. Gadis itu kelewat angkuh dan dingin, kepribadiannya buruk, dan moodnya dapat berganti-ganti sesuka hatinya. Tapi di satu sisi yang lain Sasuke melihat luka menganga dan kepedihan yang mendalam di dalam mata hijau Sakura.

"...Aku tidak terlalu mengerti gadis itu, sikapnya kasar sekali dan moodnya gampang berganti-ganti."

Hinata tersenyum kecil, "Sakura-chan seperti itu karena dia tidak mau berhubungan dengan orang lain, sebab dia berpikir semua orang pada akhirnya akan meninggalkan dan menyakitinya... Sakura-chan beranggapan lebih baik tidak usah berhubungan dengan siapa-siapa daripada ujungnya tersakiti."

Sasuke terdiam sebentar, pantas saja gadis itu menguarkan aura agar tidak ada yang mendekatinya.

"Sebenarnya Sakura-chan adalah gadis yang benar-benar hangat dan penuh kasih sayang," Hinata tersenyum lembut saat memikirkan Sakura, "dia sudah seperti seorang kakak perempuanku."

Sasuke tersenyum tipis, "kau benar-benar menyayanginya ya?"

"Tentu saja... Dia yang membuatku hidup damai seperti ini..." Senyum merekah Hinata perlahan mengendur, seiring beberapa potong kenangannya bersama Sakura yang tiba-tiba terlintas begitu saja. "Aku harap Sasuke-san dapat membuat Sakura-chan bahagia dan membuatnya kembali riang seperti dulu."

"Bukankah dia sepertinya trauma jatuh cinta? Kau bisa ceritakan padaku?"

"...Ya. Sakura-chan memang benar-benar trauma dengan hal yang bebau cinta.." Hinata nampak sedih saat mengatakannya, "Aku tidak bisa menceritakan alasannya padamu, kurasa akan ada saatnya Sakura akan menceritakannya langsung kepadamu... Aku harap Sasuke-san dapat menyembuhkan trauma itu."

.

.

.

.


"Sudah lama kau di sini, master...?"

Sakura membuka matanya yang dari tadi terpejam menikmati suasana yang nyaman dan menyegarkan di sini. Mereka sedang berada di pinggir sungai yang berada di taman tempat mereka bertemu sebelum ke rumah Hinata.

Sakura menurunkan tudung hoodie yang menutupi kepalanya lalu wajahnya ia balik untuk menatap Sasuke.

"Sudah lama atau tidak itu bukan urusanmu... dan aku di sini bukan menunggumu." ketus Sakura, "Bagaimana? Ditolak ya?" Sakura menyeringai licik.

Sasuke tak mau kalah ia pun menyeringai pada Sakura.
"Aku berterimakasih sekali padamu, master. Aku semakin yakin akan mendapatkan hatinya..."

"Apa yang kau lakukan di rumah Hinata?"

"Pendekatan lah. Kau kira apa? Menghancurkan rumahnya? Tidak lucu, lawakanmu garing. Aku tidak cukup gila untuk memporak-porondakan rumahnya."

Sakura memasang wajah jeleknya ketika mendengar Sasuke dengan sukses membalas perkataannya saat di kelas, "Siapa yang melawak dasar bocah gila cinta,"

Sakura kembali menatap aliran sungai di depannya. Ia mengambil sebuah batu di dekat tempat ia duduk. "Jujur saja ya, awalnya aku hanya iseng ingin mengajarimu untuk mendapatkan cinta Hinata," batu kecil itu ia mainkan dengan melempar-lemparnya ke udara,

"tapi semakin ke sini kau malah membuatku muak dengan keseriusanmu akan cinta. Jadi aku bertekad akan membantumu mengungkapkan cinta pada Hinata... dengan keyakinan bahwa cinta yang kau elu-elukan itu akan membuatmu menderita." Batu yang daritadi ia mainkan ia lemparkan ke anak sungai.

Sasuke berjalan mendekat, tangannya menggapai tudung hoodie Sakura lalu memasangnya ke kepala pink itu membuat Sakura terkejut lalu langsung menoleh pada Sasuke yang saat ini berdiri di belakangnya.

"Kau sangat yakin kalau aku bakalan ditolak, ya? Tenang saja, karena kau adalah masterku pasti aku tidak akan ditolak olehnya," ucapan Sasuke membuat Sakura sedikit tak enak karena dia sama sekali tak ada niat untuk membuat Hinata jadi milik Sasuke. "Walaupun pada akhirnya aku ditolak, akan kutunjukan padamu bahwa cinta bukan omong kosong dan tidak selalu berakhir menyakitkan..."

Sakura sedikit terperangah pada kata-kata Sasuke,

"Cinta itu omong kosong, nak..."
namun perkataan ayahnya waktu itu tiba-tiba terdengar membisik ke telinganya.

"Cih... Kau tahu apa, Sasuke..." Sakura bergumam dengan pandangan kosong pada sungai di depannya.

Tanpa sengaja sepasang onyx Sasuke menangkap kesedihan di kedua zamrud yang sedang menatap sungai itu. Angin bertiup agak sedikit kencang dan dingin. Entah kenapa hatinya sedikit tergelitik. Rasanya Sakura terlihat seperti gadis kecil yang begitu rapuh, ada hasrat dalam diri Sasuke yang ingin melindunginya.

Sakura tiba-tiba berdiri lalu menyeret lengan Sasuke untuk kedua kalinya, "Nah anak buahku ayo beri makan mastermu yang miskin ini!"

Sasuke memutar bola matanya, apa yang ia pikirkan tadi? Melindungi gadis ini? Hahahaha tidak jadi.

.

Ke esokan harinya di sekolah.

"Terimakasih banyak Konan-san selalu mau jadi waliku saat ada acara di sekolah atau bahkan untuk hal seperti ini." Sakura menampilkan cengirannya pada seorang wanita berperawakan ramping yang sedang mengenakan setelan kerja, seorang wanita karir yang modis dan cantik.

Konan terlihat tersenyum sekilas lalu mengacak rambut Sakura pelan. "Kamu sudah aku anggap seperti adingku sendiri, Sakura. Lagipula tetangga harus saling membantu 'kan? Tapi ini terakhir kalinya aku datang sebagai wali untuk hal-hal memalukan begini... Jangan diulangi lagi, ya." Konan mendengus kecil lalu memberikan ponsel dan headset Sakura yang disita Kakashi, wanita itu pun memperingatkan Sakura agar tidak terlambat masuk lagi karena Kurenai memberikan ceramah panjang dan lebar saat di ruang guru.

Sakura hanya mengiyakannya saja lalu mengantarkan Konan keluar dari gedung sekolahnya. Beruntung dia kenal Konan, wanita yang tinggal tepat di sebelah tempat tinggalnya. Konan pindah tepat sehari setelah Sakura pindah ke sana. Entah kenapa Konan selalu ramah kepadanya walaupun pada awalnya Sakura begitu dingin padanya. Konan bahkan selalu memberi Sakura strawberry cake buatannya.

Sakura tersenyum tulus kepada Konan yang sudah berjalan meninggalkan gedung sekolahnya, "Terimakasih sudah mau menjadi wali untuk gadis sepertiku... Konan-san." Gumam Sakura dengan bibir yang bergetar. Sial. Rasanya begitu menyedihkan. Orang asing saja mau repot-repot hadir untuknya...sedangkan kedua orang tuanya meliriknya pun tidak mau.

Sakura menepis perasaan sedih yang tiba-tiba menjalar ke hatinya. Buru- buru ia mengambil langkah menuju ke kelasnya karena sebentar lagi bel masuk setelah istirahat pertama akan berbunyi, dia tidak boleh telat lagi kalau tidak ingin diskors selama satu minggu.

"Iya! Aku juga kasihan sama Hinata. Dia harus nempel dengan gadis kasar dan nakal begitu! Seharusnya Hinata tidak boleh dekat-dekat dengan Sakura, nanti tertular nakal dan bandelnya." bisik-bisik beberapa gadis di depan kelas Hinata, sepertinya itu teman sekelas Hinata.

"Iya! Aku dengar Sakura itu suka mabuk dan merokok loh! Dia juga sering nongkrong sama preman kalau malam minggu, benar-benar gadis liar." Sakura mendengarnya namun ia tidak peduli dengan gosip murah mereka.

"Hey hey kalian tahu kan? Kabarnya dia begitu karena tidak diurusi kedua orang tuanya. Kayaknya sih anak korban broken home."

DUAK!
Sakura meninju dinding tepat di sebelah para gadis itu berdiri.

"Kalian jangan terlalu sering bergosip mengenai aku kalau tak ingin aku jahit mulut kotor kalian itu," Desis Sakura penuh penekanan. Tangannya masih mengepal dan menempel pada dinding yang menjadi korban tinjuannya.

Ketiga gadis itu terkejut bukan main, mereka langsung meminta maaf dan segera kabur ke dalam kelas.

Sakura mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Sakit.

Rasanya benar-benar sakit. Bukan di tangannya yang berdarah, tapi hatinya.

Tidak masalah jika mereka membicarakan hal buruk tentangnya, tapi jika itu sudah menyangkut kedua orang tuanya Sakura tidak bisa bersabar.

Ia mengambil langkah panjang untuk segera menuju kelasnya yang tinggal beberapa meter. Setelah masuk ke dalam kelas Sakura segera duduk di bangkunya lalu menenggelamkan kepala pada lipatan tangannya.

"Tanganmu berdarah, master."

Sakura mendengarnya tapi terlalu malas untuk menyahut atau sekedar mengangkat wajahnya. Tiba-tiba Naruto yang duduk di depannya langsung menarik tangan Sakura, membuat Sakura dengan refleks mengangkat wajahnya.

"Sakura-chan tanganmu terluka!" Seru Naruto heboh. Sakura langsung menepis tangan Naruto lalu memprotes Naruto yang memegang tangannya tanpa permisi.

"Eh anak buah, marahi sahabatmu ini! Jangan asal sentuh tangan mastermu!"

"Hm? Master? Anak buah?" Naruto mengangkat sebelah alisnya, bingung.

Sasuke tidak menanggapi Naruto, ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu memberikan benda itu pada Sakura.

"Ini plester tanganmu, master. Aku tidak mau nonaku terluka."

Sakura bergidik merinding mendengar perkataan Sasuke. Ia langsung membuang plester itu. "Tidak butuh. Luka yang ini tidak sakit sama sekali."

"Luka yang ini? Apa ada luka yang lain?"

Sakura mendelik, "Memangnya kenapa? Mau kau sembuhkan? Situ dokter? Jangan sok care. Aku membencimu." Ucap Sakura dalam satu tarikan napas.

"Ya ampun Sakura-chan kamu satu-satunya cewek yang kasar pada Sasuke hahahahaha kalian berdua lucu sekali." Naruto tertawa puas melihat Sasuke yang kesal setengah mati pada Sakura. Sedangkan Sakura dengan cuek bebeknya merebahkan kepalanya lagi, mengarahkannya ke sebelah kiri untuk menikmati pemandangan dari jendela.

Naruto tersenyum jenaka pada Sasuke.

Tuh kan apa kubilang? dia benar-benar manis...

...aku benar-benar menyukainya, Sasuke.

Sasuke nampak kaget melihat pergerakan bibir Naruto yang berbicara padanya tanpa suara.

Jadi Naruto menyukai Sakura?


TBC


A/N: Hai semuanya! terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fik abal ini lol. Ini salah satu caraku untuk mengurangi stres di real life... mending menghayal tentang SasuSaku daripada ngelakuin macem-macem hahaaha. Dan kemarin aku membuka akunku yang pertama dan dalam sekejap aku langsung galau lagi... (Tuhan, kumohon kembalikan akunku yang dulu:((() tulisanku ini memang masih banyak sekali kurangnya, maka dari itu aku meminta tolong pada kalian untuk memberikan aku beberapa pendapat tentang fik ini:)

Specials thanks to: 1 , Kiki Kim, Daun Momiji, Airu-chan88, Guest, uchiharuno83, Sup Miso

Sampai jumpa :D