Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Always SasuSaku
Genre: Drama/Romance/Family
MASTER!
...aku benar-benar menyukainya, Sasuke.
Sasuke nampak kaget melihat pergerakan bibir Naruto yang berbicara padanya tanpa suara.
Jadi Naruto menyukai Sakura?
Sasuke memandangi Naruto beberapa detik. Tanpa membuka mulutnya sedikit pun Sasuke kembali membaca bukunya yang sempat terjeda saat Sakura datang tadi. Naruto mengerucutkan bibirnya, matanya menyipit seperti seekor musang, "Huh aku dikacangi." Naruto pun membalik tubuhnya untuk duduk dengan rapi di bangkunya yang tepat berada di depan Sakura.
Dari luar Sasuke memang tampak menghayati buku yang tengah ia baca, namun pikirannya tidak berada di sana. Apa-apaan cinta tak berujung ini? Sasuke menyukai Hinata, Hinata menyukai Naruto, dan Naruto menyukai Sakura. Sungguh sangat klise dan miris sekali. Bahkan kalimat semubajir tadi pun nampak tak terlalu mubajir untuk menggambarkan betapa kusutnya kisah cinta mereka. Sasuke tak habis pikir, memangnya ini drama India?
Sementara Sasuke masih asik dengan bukunya Sakura kembali memalingkan wajahnya, menatap dan meneliti Sasuke dengan seksama. Posisi kepalanya yang masih berada di atas lipatan tangannya membuat gadis itu bisa dengan leluasa memandangi teman sebangkunya itu.
Biar ditatap berapa kalipun ketampanan Sasuke takkan berkurang, malah kebalikannya. Kulit putih bersihnya, hidung mancungnya, bibirnya yang berwarna merah tipis, dan garis tegas di wajahnya menambah kesempurnaan ciptaan Tuhan satu itu. Pantas saja banyak perempuan yang tergila-gila padanya, bahkan rela menghalalkan segala cara agar mendapatkan hati pemuda satu itu. Sedangkan Hinata yang memikirkan Sasuke saja tidak pernah malah memonopoli seluruh hatinya. Sakura tak mengerti. Apakah cinta memang aneh?
"Jangan terlalu lama memandangiku. Aku tidak tanggung jawab jika kau jatuh cinta padaku." ucapan Sasuke membuyarkan pikiran Sakura.
Sakura mendengus kecil, ia tak mengalihkan pandangannya dari wajah Sasuke yang masih membaca buku, "Hmm bagaimana ya... aku takkan pernah jatuh cinta... apalagi dengan lelaki sepertimu." jawab Sakura datar.
Kini perhatian Sasuke sudah teralihkan, ia menatap kedua emerald Sakura yang terlihat kosong dan begitu dingin itu. "Jadi kau ingin jadi perawan tua seumur hidupmu? Kau tahu hidup sendirian itu menyedihkan dan sepi."
Entah Sasuke yang salah lihat atau bagaimana... Wajah Sakura terlihat sangat terluka saat Sasuke mengucapkan kalimat tadi.
"Aku tahu." Jawaban Sakura terdengar seperti bisikan pelan yang begitu menyedihkan. Ia memutuskan pembicaraan mereka dengan memalingkan wajahnya lagi.
.
.
.
.
Bel tanda waktu pulang berdering merdu ke seluruh penjuru sekolah. Energi para murid seperti terisi kembali saat dengungan bel menyeruak ke dalam gendang telinga mereka. Mereka dengan riang langsung mengepak tas dan bersiap untuk pulang. Delapan jam di sekolah membuat mereka jengah.
"Please temeeeeeee... Aku benar-benar tidak mengerti kimia! Tugas dari Orochimaru-sensei benar-benar membuatku sakit kepala!" Naruto terus-terusan memekik membuat siswa-siswi yang melihat mereka terkekeh. Pemandangan ini sudah sangat biasa mereka lihat, Naruto yang seperti anak kukang menempel pada Sasuke.
"Lepaskan aku dobe!" Sasuke melepaskan pelukan Naruto dengan kesal. Ia mendengus pelan, "memangnya apa yang kau tidak mengerti?"
Naruto menjerit, "Pertanyaan macam apa itu Sasuke?! Aku bahkan tidak tahu apa yang tidak aku mengerti...!"
Sasuke menggeleng pasrah. Entahlah sahabat semata wayangnya ini benar-benar payah sekali di bidang akademik. Sasuke pun bingung mengapa Naruto selalu diberkahi keberuntungan saat ulangan umum, dia selalu bisa menghadapinya dengan baik. Yah, sebenarnya tidak bisa dikatakan baik karena nilainya selalu pas di kriteria kurikulum, setidaknya Naruto tidak pernah tinggal kelas.
Bluesappire Naruto tiba-tiba terlihat berkilauan. Buru-buru ia berlari meninggalkan Sasuke.
"Sakuraa-chaan, Hinataaaaa!" Naruto sekarang berdiri di hadapan kedua gadis yang ia panggil itu. Mendadak rona merah menghiasi pipi Hinata, jantungnya berdebar dag dig dug tak karuan melihat sang pujaan hati tiba-tiba muncul di hadapannya.
"A-ada apa Naruto-kun..." tanya Hinata malu-malu sambil memainkan kedua telunjuknya. Sedangkan Sakura hanya tersenyum kecil melihat gelagat Hinata.
"Neeee Hinata, maukah kau mengajari aku kimia? Aku benar-benar tidak mengerti. Dan besok di kelasku ada ujian lisan!" pelas Naruto dengan memasang wajah sok imut yang terlihat menggemaskan. Wajah Hinata benar-benar merah, ia bahkan sampai sesak napas. Duh Naruto membuat jantungnya terasa meleleh.
"Ujian lisan? Bukankah besok itu hanya mengumpulkan tugas saja?" tanya Sakura.
"Sakura-chan kau seperti tidak tahu Orochimaru-sensei saja! Dia selalu menanyaiku hal-hal yang menyebutnya saja aku tak bisa!"
Sakura tertawa geli. Benar sekali. Naruto sudah menjadi langganan Orochimaru dan selalu berdiri di depan kelas. Sebuah refreshing otak melihat wajah kecut Naruto saat di hukum.
"A-ano.."
"Maaf tapi dia akan belajar bersamaku," Sasuke dengan lekas memotong perkataan Hinata. Huh. Sungguh tak sudi ia membiarkan Naruto berduaan dengan Hinata. "Orang ini hanya akan merepotkanmu. Lagipula aku sekelas dengannya, jadi lebih baik dia belajar denganku saja."
Sakura menaikkan sebelah alisnya- bibirnya menyeringai melihat Sasuke yang nampak bodoh dengan 'pride'nya yang tak mau gadisnya diganggu orang lain. Sasuke yang sadar Sakura tersenyum licik padanya hanya bisa memalingkan wajahnya dengan rona yang sangat tipis.
"Benarkah kau akan mengajariku Teme?!" Sasuke mendengus mengiyakan. "YAATTAAAA! Baiklah aku akan membawakanmu cemilan yang enak! Ayo ayo kita lekas pulangggg!" Naruto dan Sasuke segera mengambil langkah untuk pulang setelah berpamitan pada Sakura dan Hinata.
Sakura menyentil pelan pipi Hinata, "Waaah wajah kecewamu kentara sekali Hinata! Ahahahaha." Sakura menggoda Hinata membuat pipi tembam gadis itu seperti tomat matang.
"Ah Sakura-chan hentikan!" Hinata menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sakura tertawa lepas. Rasa penat di hatinya terasa lepas begitu saja.
"Oh iya Hinata, aku ingin berbelanja ke supermarket di dekat rumahku setelah ini. Jadi hari ini aku tidak bisa main ke rumahmu."
"Hee? Mau kutemani berbelanja?"
"Ah tidak usah, lagipula kau harus mengetik laporan praktikummu tadi 'kan? Selesaikan saja itu...biar nanti aku bisa minta mentahnya hahahaha." Sakura mengedipkan matanya pada Hinata yang mendengus geli.
Setelah berpisah jalan dengan Hinata, Sakura melangkahkan kakinya menuju supermarket yang berada di kawasan rumahnya. Hari ini jadwalnya berbelanja bulanan, karena barang-barang kebutuhannya sudah banyak yang habis.
Sakura mengambil sebuah keranjang tenteng yang disediakan oleh supermarket itu. Ia memulai pencarian barang kebutuhannya dari rak yang berisi minyak goreng dan barang dapur lainnya. Bibirnya bersenandung kecil dan matanya terus mencari-cari barang yang tepat sambil berjalan.
Tiba-tiba tubuhnya menegang. Bahkan sesaat ia lupa caranya untuk bernapas. Jantungnya terpacu begitu cepat. Bibirnya terasa kesemutan untuk mengucapkan satu kata...
"I-ibu...?"
Emerald Sakura nampak begitu terkejut. Namun ada perasaan hangat yang terasa menyusup ke rongga hatinya. Mebuki pun bereaksi tak jauh berbeda. Tubuhnya terasa begitu kaku. Matanya tak bisa berkedip sekali pun. Di hadapannya berdiri putri kesayangannya yang sudah beranjak dewasa dan sangat cantik. Hampir sepuluh tahun mereka tak bertemu. Sudut mata Mebuki berair, bibirnya bergetar.
"Saku―"
"Ibu aku mau es krim ini!" Perkataan Mebuki terpotong oleh seruan gadis mungil berambut coklat yang tiba-tiba memeluk erat pergelangan kakinya sambil memakan es krim yang tentu saja belum dibayar itu.
Sakura terkejut bukan main. Ia memandang gadis kecil yang sedang bergelayut manja itu dengan horor. Tenggorokannya terasa kering, napasnya terasa mencekat. Hatinya bagaikan piring yang pecah berhamburan. Perasaan hangat yang tadi menggelitiknya berubah drastis jadi sebuah perasaan hampa yang menyakitkan.
"Ibu... punya anak lagi?" Kalimat itu terdengar begitu menyedihkan saat Sakura mengucapkannya dengan raut wajah yang hampir menangis. Ia memang tahu kalau ibunya menikah lagi setelah dua tahun bercerai dengan ayahnya. Tapi ia tak sangka...
"Maafkan ibu.. Sakura..."
"Kenapa tidak aku saja, bu...?" Suara Sakura benar-benar parau sekarang, "Kalau ibu ingin anak... Kenapa tidak kembali padaku saja..." bulir-bulir air jatuh dari kelopak matanya. Sial. Padahal Sakura tidak ingin menangisi hal macam ini lagi, namun tetap saja ia tidak bisa mengontrol kedua matanya.
Mebuki tak mampu menjawab. Karena ia memang tak tahu harus berkata apa. Ia merasa sangat bersalah. Sungguh ia tahu bahwa sebuah kata maaf tak cukup untuk mengobati luka Sakura. Gadis kesayangannya itu tumbuh seorang diri... Mebuki pun terisak pelan.
Gadis kecil berambut coklat itu begitu terkejut melihat ibunya menangis. Ia berlari menghampiri Sakura lalu melempar eskrimnya ke wajah Sakura. "Kenapa kakak membuat ibuku menangis! Dasar kakak jahat! Kakak seperti ratu iblis jahat di cerita barbie! Jangan ganggu ibuku!" teriaknya dengan suara cempreng.
Sakura menggeram tertahan, ia mendorong gadis kecil itu dengan kasar, "KAU YANG IBLIS DASAR BOCAH SIAL! KAU MEREBUT IBUKU!"
Plak!
Para pelanggan yang daritadi memperhatikan mereka nampak menahan napasnya.
Sakura terkejut bukan main. Pupil matanya mengecil. Ia memegangi pipinya yang terasa perih.
"Jangan sakiti anakku..." bisik Mebuki dengan tangis di sudut matanya.
Sakura bergeming beberapa saat dengan tangan yang masih berada di pipinya, "Ibu menamparku...?" tanyanya pelan, rasa perih di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit yang ada di dadanya. Benar-benar nyeri sampai membuatnya gemetar, "apa aku bukan anakmu...?" tanya Sakura dengan air mata yang mengucur deras. Wajahnya tak berekspresi. Mebuki menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sungguh ia menyesal telah menampar Sakura.
"Maafkan aku..." bisik Sakura sebelum berlari keluar dari supermarket. Peduli setan dengan orang-orang yang memperhatikannya dari tadi. Sakura hendak keluar dari sini.
Tolong...
Tolong...
Seseorang tolong hentikan rasa sakit ini.
.
.
.
.
"Ck ternyata gampang sekali!" seru Naruto dengan penuh kesombongan sambil merebahkan dirinya di kasur empuk Sasuke. Tubuhnya terasa remuk setelah berjam-jam duduk rapi mendengarkan penjelasan Sasuke.
"Jadi sekarang kau sadar betapa tak pintarnya kau?"
Naruto terlihat mempelototkan matanya pada Sasuke lalu memulai perdebatan konyol mereka.
"Hey... Kenapa bisa kau menyukai Sakura?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Kenapa kau tanya?"
"Yasudah kalau tak mau jawab."
"...kau menyukainya juga ya?"
"Tidak sudi!" Nada bicara Sasuke terdengar meninggi. Naruto memicingkan matanya penuh selidik.
"Tapi akhir-akhir ini kalian sangat akrab loh!"
"Haa? Akrab? Kau tak lihat perempuan itu selalu mengomeliku?!"
Naruto terkekeh pelan, ia mengambil guling Sasuke lalu memeluknya dengan gemas, "Sakura-chan itu imuuuut sekali, Teme! Aku sangat sangaat sangaaaaaat suka padanyaaaaaa!"
Sasuke bergidik merinding, ia langsung mengambil guling kesayangannya dari pelukan Naruto, "Pulang sana! Aku ingin pergi ke luar sebentar lagi."
.
.
Sakura berdiri tegap menatap nanar arus sungai di hadapannya. Saat ini ia berada di pinggir sungai yang ada di daerah rumahnya. Sore menjelang malam seperti ini membuat orang tak banyak berada di sana.
Jejak air mata nampak jelas di wajahnya. Bahkan bekas eskrim yang saudara tirinya lempar itu pun terlihat mengering di wajahnya. Sakura tak mampu berpikir lagi. Ia seperti layangan putus yang tak tahu arah. Ia tak mengerti. Sebenarnya untuk apa ia menjalani hari? Tidak ada orang yang menginginkannya...
Bahkan orang tuanya sendiri...
"Ibu sangat menyayangi sakura..."
"Sakuraaaa.. Ibu membuatkan cake kesukaanmu loooh!"
"Ah cantik sekali gadis kesayangan ibu!"
"Sakura sayang ibuuuu!"
Tes
Air mata itu jatuh tanpa Sakura sadari. Kenangannya dulu bersama ibunya tiba-tiba berputar di kepalanya. Segera ia mengusap matanya. Tak ada gunanya menangisi ini. Rasa sakit menggerogoti hatinya. Pertemuan tiba-tiba dengan ibunya tadi membuatnya benar-benar kacau.
Jujur saja... Ia sangat merindukan ibunya...
"Maafkan ibu Sakura..."
"Wajahmu mengingatkanku kepada ayahmu...
Ibu tidak mencintaimu lagi, Sakura..."
"Jangan sakiti anakku!"
Sakura menggertakkan giginya. Kejam. Kejam sekali... Kenapa harus dia yang disakiti? Sebenarnya apa salahnya sampai-sampai kedua orang tuanya meninggalkannya begitu saja.
Sakura mengeluarkan sebatang rokok yang ia beli di pinggir jalan tadi. Ia tak pernah merokok sebelumnya. Hari ini ia bertekad untuk merusak dirinya sepenuhnya.
Sakura menjepitkan rokok itu di bibirnya, ia bersiap menyulutkan rokok itu dengan korek api. Namun, seseorang merampas rokok itu dari bibirnya lalu menginjaknya dengan sekali gerak.
"BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN!" Sakura berteriak dengan garang. Runtuh sudah pertahanannya.
"Kau merokok, master?" tanya Sasuke dengan dingin. Sakura tak menghiraukan Sasuke, gadis itu mengambil kotak rokok yang ia simpan di kantong blazer sekolahnya, ia hendak mengambil satu batang lagi namun Sasuke merebutnya lalu menginjak semuanya sampai hancur.
"Hentikan!" Sakura berteriak kencang, ia mendorong Sasuke dengan kuat. Tubuhnya berjongkok, berusaha mencari dan mengambil rokok yang masih utuh.
"Kau menyedihkan." ucap Sasuke dengan pelan namun terdengar begitu dingin, "gadis sepertimu merokok dengan seragam sekolah? Ini sudah hampir malam dan kau belum pulang ke rumah? Kau benar-benar gadis liar... Ibumu pasti kecewa melihat kelakuanmu."
Sebenarnya Sasuke lah yang kecewa. Entah kenapa dadanya berdebar menyakitkan saat melihat Sakura hendak menyulut rokok di bibirnya. Sasuke tahu walau Sakura bukanlah gadis yang ramah, dia bukanlah gadis nakal dan liar. Dia tak pernah berpikir Sakura adalah tipikal gadis yang senang merusak dirinya sendiri.
"Kenapa selalu aku...?" bisik Sakura dengan bibir yang bergetar dengan kepala yang menunduk. Wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun, "kenapa kalian semua memperlakukan aku seperti ini...? Sebenarnya aku salah apa sehingga kalian semua selalu menyalahkan aku? Aku harus berbuat seperti apa agar kalian berhenti? Walau aku tidak berbuat apa-apa kalian tetap saja menyalahkanku. Bahkan saat aku melakukan hal seperti yang kalian bilang, tetap saja aku yang salah..."
Sasuke sangat terkejut melihat tetesan air mata Sakura yang jatuh ke atas rerumputan tepat di bawah gadis itu terduduk. Sakura benar-benar terlihat rapuh, seperti daun kering yang bisa hancur kapan saja saat ditiup angin. Sekarang Sasuke melihat sosok Sakura yang sebenarnya. Gadis kecil yang begitu lemah dan rapuh, bukan seorang gadis angkuh yang bermulut pedas seperti biasanya di sekolah.
Bahkan Sasuke yang mempunyai otak cemerlang pun tak tahu harus berbuat apa sekarang. Beberapa saat hening menguasai keadaan di sekitar mereka.
Sakura mengusap air matanya dengan kasar lalu berdiri, "Mulai sekarang kau harus berhati-hati dengan kata-katamu, anak buah..." angin malam berhembus pelan memberikan jeda pada perkataan Sakura, "asal kau tahu saja... orang tuaku sudah lama mati."
Lidah Sasuke terasa kelu mendengar kalimat dingin gadis di hadapannya. "A-aku―"
"Sampai nanti." Sakura langsung melangkah meninggalkan Sasuke yang terdiam di sana.
.
.
.
.
.
"Sasuke, mana Sakura?" tanya Kakashi saat melihat bangku Sakura yang tidak ada penghuninya.
"Aku tak tahu..." Kakashi menggeleng resah mendengar jawaban Sasuke.
"Jika dia tak masuk lagi, dia bisa tinggal kelas."
Sasuke terdiam mendengar ucapan Kakashi. Onyx nya melirik bangku yang sudah empat hari kosong itu. Rasanya benar-benar sepi. Biasanya Sakura selalu saja membuat Sasuke kesal dengan perintah-perintah tak masuk akal yang gadis itu suruh. Entah kenapa Sasuke pun rindu akan aroma cherry yang menguar dari rambut pink Sakura. Pertemuan terakhir mereka saat di pinggir sungai itu membuat Sasuke merasa tidak nyaman.
Sasuke tidak mengerti. Padahal saat itu ia benar-benar ingin menahan Sakura, lalu meminta maaf atas segala perkataannya yang tanpa ia sadari sudah menyakiti gadis itu. Namun apa boleh buat, tubuhnya terasa takut untuk bergerak. Sakura benar-benar seperti orang asing.
Setelah Sasuke ingat-ingat, perkataannya selalu menyangkut pautkan Sakura dengan orang tua gadis itu. Padahal orang tuanya sudah meninggal, pasti rasanya benar-benar sedih dan kesal sekali. Pantas saja Sakura selalu menyumpahinya.
Namun, sore itu Sakura benar-benar terlihat berbeda dari biasanya. Apalagi gadis itu hendak menyulutkan rokok.
Mungkin Sakura sedang frustasi? Frustasi karena apa?
"Sedang memikirkan apa,Teme?"
"Sakura."
Naruto nampak terkejut, begitupula dengan Sasuke yang terlambat menyadari perkataannya sendiri.
"Maksudku... bukankah dia terlihat aneh beberapa waktu ini?"
Sasuke mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya.
"Kau tahu, Teme... yang aneh itu adalah kau. Beberapa waktu ini kau terlihat berbeda. Kau lebih sering menunjukkan ekspresimu, kurasa?"
Sasuke bungkam seribu bahasa. Ia pun sadar kalau beberapa minggu ini semuanya terasa berbeda. Semenjak kenal dengan Sakura, dia menjadi lebih banyak bicara dan menunjukan ekspresi yang berbeda-beda bukan sekedar wajah stoicnya.
"Mungkin kau benar." Sasuke berdiri dari bangkunya, "kepalaku tiba-tiba terasa sakit, aku ingin tidur di UKS."
Sasuke segera menuju UKS setelah meminta izin keluar pada Kakashi. Ia merebahkan tubuhnya. Matanya ia tutupi dengan lengan kanannya. Napasnya terdengar beraturan. Sasuke bingung dengan perasaannya sendiri. Disadari atau tidak, perasaannya terhadap Sakura perlahan muncul ke permukaan hatinya. Sasuke tak tahu perasaan macam apa ini. Tidak bisa dikatakan rasa suka karena yang ia suka hanyalah Hinata. Tidak bisa pula dikatakan benci karena ada hasrat kuat yang ingin melindungi Sakura.
Sasuke mengambil ponselnya. Jemarinya bergerak untuk menelepon seseorang yang selalu mengganggu pikirannya beberapa hari ini.
"Halo?"
Sasuke langsung memposisikan tubuhnya untuk duduk. Dia tak menyangka Sakura akan mengangkat telponnya secepat ini. Sasuke menjadi berdebar entah kenapa.
"Kau dimana?" tanya Sasuke, "kenapa kau membolos sekolah?"
Sakura terdiam beberapa detik di ujung sana, "Apa pedulimu?"
"Hinata sangat mengkhawatirkanmu, tahu! Kau sepertinya ingin kabur dari perjanjian kita, ya?"
"Oooh... jadi kau meneleponku gara-gara Hinata khawatir?"
Ah tidak... Bukan itu maksud Sasuke meneleponnya. Dia hanya... hanya...
"Huh kau memang pemuda berhati dingin hahaha bahkan kau tidak minta maaf padaku gara-gara sore itu. Tenang saja, Hinata sudah kutelepon kok. Dan aku tidak akan kabur darimu, jadi kau tidak usah khawatir."
...ingin mendengar suara Sakura.
"Jika hanya itu yang ingin kau bicarakan aku akan menutup telepon ini...Dah."
Sambungan telepon itu pun terputus. Sasuke menggenggam erat ponselnya.
.
.
.
Naruto memasuki kelas Hinata. Ia menghampiri gadis bersuai biru malam itu yang tengah menyusun buku ke dalam tasnya.
"Hinata, bagaimana kalau aku mengantarmu pulang?"
Wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus sekarang. Tawaran Naruto ini membuatnya lupa bagaimana caranya untuk berbicara. Hinata hanya mengangguk dengan semangat. Naruto tertawa geli melihat respon Hinata yang terlihat lucu di matanya.
Naruto dan Hinata berjalan berdampingan menyusuri jalan. Tak banyak yang mereka bicarakan karena Hinata terlalu gugup untuk sekedar menggetarkan pita suaranya. Ia berdoa agar debaran jantungnya yang begitu kencang tidak kedengaran.
Bagaimana pendapat orang yang melihat mereka, ya? Apakah mereka berdua telihat seperti sepasang kekasih yang pulang bersama? Hah.. memikirkannya saja membuat Hinata malu.
"Terimakasih sudah mengantarku, Na-naruto-kun..." ucap Hinata. Mereka berdua sudah sampai di depan rumah Hinata. Naruto tak kunjung beranjak, nampaknya ada sesuatu yang hendak ia sampaikan.
Hinata meremas kedua tangannya dengan gugup. Jujur saja dari tadi keringat dingin mengucur deras di telapak tangannya. Kira-kira apa yang ingin Naruto katakan? Apakah lelaki ini akan menembaknya? Aduh Hinata bisa pingsan jika itu terjadi.
"Aku..." Hinata menutup kedua matanya dengan gugup ketika Naruto memulai membuka mulutnya, kyaaaaa jantung Hinata sudah siap untuk meleleh. "...menyukai Sakura."
Eh?
.
.
.
Sakura membuka matanya perlahan. Tidur siangnya benar-benar tidak nyenyak. Ia melakukan peregangan kecil. Rasanya begitu melelahkan. Padahal beberapa hari ini ia hanya tidur saja di rumah. Ya. Dia tak masuk sekolah selama empat hari, bahkan dia tak pernah keluar dari apartemennya ini. Hinata sudah seperti orang hilang akal mencari Sakura dan mengomeli Sakura di telepon saat gadis bubble gum itu mengangkat teleponnya.
Sakura tak bercerita banyak pada Hinata, dia hanya mengatakan kalau ia bertemu ibunya saat di supermarket dan menjadi melankolis setelah hari itu. Sakura memohon kepada Hinata untuk membiarkannya sendiri selama beberapa hari ini. Walau sebenarnya Hinata tidak ingin meninggalkan Sakura sendirian, ia menuruti permintaan Sakura.
Sakura beranjak dari tempat tidurnya menuju balkon di apartemennya. Ia menggeser pintu kaca yang menghubungkan ruangan dalam dengan balkonnya. Pemandangan kota Konoha dari apartemen lantai 8 nya ini benar-benar indah. Namun keindahan itu tidak dapat menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Namun Sakura tiba-tiba membelalakan matanya kaget. Dibawah sana nampak Uchiha Sasuke sedang berdiri seperti orang bodoh. Sakura segera mengambil jaketnya, ia langsung menemui Sasuke di luar apartemennya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Sakura saat sudah berdiri di hadapan Sasuke.
"Aku ingin minta maaf padamu... perkataanku selalu menyakitimu, sampai membuatmu menangis seperti kemarin."
"Hahahahaha. Apa aku tak salah dengar? Uchiha Sasuke meminta maaf padaku." Sakura tertawa seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Sasuke hanya menatap lurus ke bola mata Sakura. Ia benar-benar serius meminta maaf. Sakura menutup mulutnya. Lalu ia tersenyum. Karakternya kembali seperti biasanya di sekolah. Angkuh dan menyebalkan.
"Tidak perlu minta maaf, anak buah. Kau tak salah. Oh iya bagaimana kalau kau masuk dulu? Sudah jauh-jauh ke sini, bagaimana kalau secangkir teh?"
Sasuke menerima tawaran Sakura. Sekarang mereka sudah berada di dalam apartemen Sakura. Sasuke memperhatikan apartemen itu dengan seksama. Apartemen ini sangat luas dan begitu apik. Susunan ruangannya begitu unik dan indah. Ada ruang makan, dapur, ruang tengah yang terdapat sofa besar dan TV berlayar lebar, dan sebuah kamar yang sangat luas dengan tatanan perabot yang rapi nan cantik.
Gadis ini adalah anak orang kaya. Sasuke sama sekali tidak menyangkanya. Sakura selalu berpakaian sederhana dan selalu membajak uang jajan Sasuke, maksudnya selalu minta diteraktir.
Hidup sendirian itu menyedihkan dan sepi. Sasuke menyesali perkataannya tempo hari. Ternyata Sakura hidup sendiri. Pantas saja wajahnya terlihat sendu saat itu.
Rumah Sakura memang sangat bagus dan besar... namun rumah itu benar-benar sepi.
"Kenapa kau diam saja daritadi? Tidak seperti biasanya." Tegur Sakura. Ia mempersilakan Sasuke untuk melihat-lihat apartemennya selagi Sakura menyeduhkan dua cangkir teh di dapur.
"Maafkan aku, master..."
"Berhentilah meminta maaf, Sasuke. Aku muak mendengarnya.."
Sasuke terpaku di tempatnya berdiri. Sakura terlihat menggenggam erat sendok di tangannya.
"Jujur sajalah Sasuke, kau merasa kasihan padaku 'kan? Kau merasa tak enak karena perkataanmu selama ini sangat sesuai dengan keadaanku 'kan? Jangan hiraukan aku. Jangan merasa bersalah seperti orang bodoh. Memangnya kau salah apa? Malah tak ada yang salah dari perkataanmu selama ini." Tubuh Sakura telihat bergetar lagi. Sial. Sakura tak kuasa menahan air matanya yang jatuh tanpa alasan. Rasanya benar-benar menyedihkan.
Tiba-tiba tangan Sasuke menarik lengan Sakura. Detik berikutnya Sakura sudah berada dalam pelukan Sasuke. Pemuda itu memeluk Sakura dengan erat. Sakura terkejut bukan main. Hangat tubuh Sasuke menjalar keseluruh tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan, brengsek...?" tanya Sakura dengan pelan, namun ia juga tak mengerti mengapa ia tidak melepaskan pelukan itu.
"Memelukmu. Menguatkan hatimu." Sasuke semakin memeluk Sakura dengan kencang.
"Lepaskan aku. Kau menghiburku karena kasihan padaku kan? Atau mungkin kau merasa memiliki tanggung jawab sebagai anak buahku untuk menghiburku? Lepaskan Sasuke. Aku merasa sangat rendah saat dikasihani seseorang. Tidakkah kau mengerti?"
"Sakura..." Sasuke berbisik pelan, membuat darah Sakura berdesir entah kenapa. "aku memelukmu sebagai seorang Uchiha Sasuke... bukan sebagai anak buahmu atau apapun itu... asal kau tahu saja aku benar-benar merasa kacau saat melihat kau menangis."
Sakura tertegun. Perlahan Sasuke melepaskan pelukan hangatnya. Ia menatap emerald Sakura dengan intens, tangannya perlahan membelai lembut rambut panjang gadis di hadapannya ini. "Aku meminta maaf karena terlambat menyadari kesepianmu..."
Tes...
Air mata Sakura tiba-tiba terjatuh lagi. Kata-kata Sasuke bagai mantra ajaib yang mampu membuat dadanya hangat. Sakura tidak mengerti apa yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Ada apa ini? Ada apa dengan Sasuke? Ada apa dengannya?
"Kau menangis lagi..." kini jemari Sasuke mengusap air mata Sakura. Sungguh Sasuke pun tidak tahu mengapa dirinya melakukan semua ini. Apakah ia hanya terbawa suasana? Tapi kenapa daritadi jantungnya berdebar tidak karuan?
Onyx nya saling tatap dengan emerald Sakura. Mereka berdua terdiam, hanyut dalam keindahan bola mata lawan tatapnya. Perlahan Sasuke mulai menundukkan wajahnya mendekat.
Dekat...semakin dekat dengan wajah Sakura. Kini tangannya sudah menggenggam wajah Sakura. Deru napas keduanya terdengar tak beraturan, seiring dengan jantung mereka yang terpompa cepat.
Sakura menutup kedua matanya, merasakan dan menikmati napas hangat Sasuke yang berhembus begitu dekat dengan wajahnya.
Cup
Dan kedua bibir manusia berbeda kelamin itu pun bersentuhan lembut. Sasuke dan Sakura menutup matanya. Merasakan sensasi lembut nan aneh di ujung bibir masing-masing.
Mereka berdua nampaknya tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi. Otak mereka menolak untuk memikirkannya. Sekarang ya sekarang. Yang akan datang ya yang akan datang.
To Be Continued...
A/N: Haloo semuanya, apa kabar? Hehehehe. Terimakasih untuk semua feedback yang masuk untuk fic aku ini. Semua saran dan komentar kalian sudah aku baca, dan semoga aku bisa menulis fic dengan baik berkat itu ;D Oh iya, semoga pertanyaan yang masuk juga bisa terjawab di apdetan ini :3
Aku meminta maaf karena selalu saja molor untuk mengapdet fic hehehe. Terlalu asik dengan real life, dan drama korea ahahaha. Aku juga sempat galau banget karena komik yang berjudul Heroine Shikaku, adakah di antara reader semua yang membacanya? Bila ada yuuuk cerita-cerita denganku! Aku sangat-sangat-sangat menyukai Hiromitsu! Dia benar-benar laki-laki yang aarrgggggg hahaha. Maaf, jadi spoiler dan curhat di sini T-T
Mungkin cukup sekian, kritik dan saran kalian aku tunggu yaa, terimakasih sudah membaca :D
Special Thanks to: Lita Uchiharuno, embunadja1, Myosotis sylvatica, Kiki Kim, rimbursa, Gery O Donut, UchiHaruno Sya-Chan, echaNM, Nurulita as Lita-san, t-chan, DaunIlalngKuning
