Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Always be SasuSaku :*

Genre: Drama/Romance/Family


Bunyi dentingan jam terasa sangat nyaring. Suhu ruangan itu terasa panas dan begitu pengap. Kelembutan bibir Sasuke membuat Sakura lupa daratan. Perasaan aneh menjalar dan menyusup ke hatinya yang hancur.

Tiba-tiba Sakura tersentak, ia memundurkan tubuhnya, menghentikan ciuman yang entah mengapa bisa terjadi itu.

Sakura menampar Sasuke dengan sangat keras, membuat pipi pemuda itu merah. "APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN BRENGSEK!?" Sakura berteriak seperti orang kesetanan sedangkan Sasuke terlihat meringis pelan menahan perih di pipinya.

"Bukankah orang yang kau suka adalah Hinata?! Jangan berani main-main denganku! Aku bisa membunuhmu sekarang juga bila aku mau!"

"Tapi kau terlihat menikmatinya tadi." Perkataan Sasuke menohok Sakura. Wajah Sakura sangat merah bagaikan tomat masak yang siap dipetik. Entah karena malu atau marah.

Sakura mencengkram kerah seragam Sasuke dengan kasar, sepasang bola matanya menatap tajam. Sangat tajam seperti sebuah pedang yang baru diasah. Sasuke tidak gentar sedikit pun, ia balas menatap Sakura datar.

"Aku bukan pelacur yang bisa sembarangan kau cium dan kau sentuh, brengsek! Aku juga bukan penggemarmu yang rela melakukan apa saja untukmu!"

Sakura melepaskan cengkramannya setelah mengatakan itu, tiba-tiba ia merosot ke bawah. Duduk memeluk lututnya yang ditekuk, menutupi wajahnya. Sumpah Sakura tidak mengerti perasaannya saat ini. Ia memang sangat marah namun dia tidak menyesali ciuman itu sama sekali. Ada apa dengannya? Kenapa dadanya berdebar kencang? Rasanya Sakura sangat malu dan ingin menghilang saja.

"Kau sudah merebut ciuman pertamaku, sialan! Apa yang harus aku perbuat sekarang?!" desis Sakura.

"Itu juga merupakan ciuman pertamaku." jawab Sasuke. Sakura langsung menadahkan wajahnya, tak percaya pada kata-kata yang baru saja ia dengar.

Hening tiba-tiba merangkak di antara mereka. Sakura cengo seperti orang bodoh. Lelaki macam Sasuke belum pernah mencium perempuan sebelumnya? Lalu mengapa laki-laki itu jago sekali berciuman sampai-sampai bisa membuat Sakura terbuai hanyut.

"...bagaimana kalau kita lupakan saja apa yang sudah terjadi tadi?" Sakura berdiri, "Ciuman itu tidak bearti apa-apa... dan hanya menjadi beban bagi kita berdua. Sebaiknya kita lupakan saja."

Sepasang Onyx Sasuke menatap mata Sakura begitu dalam sebelum membuka mulutnya,

"Aku... tidak ingin melupakannya."

Sakura semakin tidak mengerti. Sasuke di hadapannya terlihat sangat berbeda dengan Sasuke yang ia kenal dan bully selama ini. Apa yang ada di dalam kepala laki-laki itu? Alasan apa yang membuat Sasuke jadi seperti ini.

"Aku juga tidak akan meminta maaf karena ciuman itu. Aku pulang dulu... Oh iya, besok kau harus pergi sekolah atau kau akan tinggal kelas," jelas Sasuke lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Tepat sebelum menghilang dari balik pintu itu Sasuke berujar lagi, "mulai dari pintu ini, aku sudah kembali jadi anak buahmu lagi. Mata kondo na, master."

Sakura bungkam. Ia benar-benar tidak mengerti situasi macam apa ini. Ia menepis debaran jantungnya yang menggila. Sakura tidak akan pernah jatuh cinta!

o.o.o

Hinata berdiri tegak. Hembusan angin membelai wajahnya pelan. "Apa...?" Hinata bertanya ragu sekaligus takut.

Naruto terkekeh pelan, menggaruk pipinya malu-malu, "Aku menyukai Sakura-chan, Hinata..." Naruto tak tahu bahwa kalimat yang ia ulangi itu memukul telak hati Hinata. Sesak menjalar ke seluruh rongga hati Hinata. Hinata menyesali telinganya yang tak tuli. Kenapa ia harus mendengar perkataan itu, kenapa harus Sakura orangnya.

"Kenapa Naruto-kun menceritakannya padaku...?" lirih Hinata menahan gejolak yang memaksanya untuk menangis kencang.

"Entahlah, aku merasa harus memberitahumu..." Naruto tersipu, "aku selalu berbagi kisah denganmu dari dulu 'kan? Hehehehe. Maaf kalau selama ini aku tidak mengatakan hal ini padamu."

Hinata mati-matian mencoba mengulas senyum manisnya. Dadanya sangat sakit, rasanya perih bagai diiris sembilu, "Ja-jadi Naruto-kun sudah menyukai Sakura-chan sejak lama, ya..."

"Aku tak tahu sejak kapan sih... Mungkin dari kita TK dulu aku sudah suka padanya?"

Hinata tertawa pelan, "Benarkah? Hehehehe. Semoga Naruto-kun bisa mendapatkan Sakura-chan..."

Senyuman yang mengembang di wajah tampan Naruto tiba-tiba mengendur.

"Hinata kenapa kau menangis?"

Hinata mengerjap bingung, ia menyentuh pipinya yang basah. Astaga bahkan ia tak sadar air mata itu mengalir tanpa permisi. Hinata dengan lekas menghapusnya, Naruto yang melihatnya sedikit tergetar. Rasanya ada tangan tak kasat mata yang menamparnya keras tepat di jantung.

"Duh... mataku memang agak sensitif akhir-akhir ini. Selalu saja berair kalau kemasukkan debu." Hinata berkilah sambil mengusap-usap matanya sebentar, "Umm... aku harus segera masuk Naruto-kun, terimakasih sudah mengantarku. Sampai jumpa besok."

Setelah berkata begitu Hinata segera membalik tubuhnya meninggalkan Naruto yang masih nampak kebingungan. Setelah semenit berdiri seperti patung, Naruto pun mengambil langkah untuk pergi.

Hinata menaiki tangga rumahnya dengan tergesa, lalu segera membanting pintu kamarnya agak kasar membuat pembantunya bingung. Nona mudanya tidak pernah segarang itu.

Hinata tersandar di belakang panel pintu kamarnya yang bercat putih. Tiba-tiba kakinya kehilangan tenaga, membuatnya jatuh merosot di sana. "Hu..hu..hu." gadis manis itu terisak pelan, wajahnya merah, menumpahkan rasa sakit yang tak kunjung hilang. Ada rontaan di dalam hatinya, menyayat-nyayat dindingnya dengan sadis.

"Sa-sakura-chaaan...hu..hu..hu." Hinata memanggil nama Sakura dalam tangisnya. Berharap gadis berambut pink itu dapat menyelamatkannya seperti dulu. Ya. Dulu saat Hinata menangis seorang diri di ayunan――

"Hei, kenapa menangis sendirian di sini?" gadis berambut pink yang mengenakan seragam TK dengan topi itu menepuk pelan bahu gadis lainnya yang sedang menangis sesenggukkan.

Gadis berambut pendek indigo itu tidak menjawab, ia memandang Sakura dengan tanda tanya tercetak jelas di wajahnya- namun ia tak menghentikan tangisnya.

"Hinata, jangan menangis..." Sakura membujuk Hinata dengan suara cemprengnya. Hinata sedikit tersentak saat Sakura menyebut namanya. Diperhatikannya baik-baik Sakura yang terlihat sibuk mencari sesuatu di dalam tas selempangnya.

"Kau tahu namaku?"

Sakura mengalihkan perhatiannya pada Hinata yang menatap lekat wajahnya, Sakura terlihat bingung, "Tentu saja aku tahu! Kamu kan temanku." Setelah mengatakan itu Sakura kembali melanjutkan pencarian sesuatu di dalam tas selempangnya.

Hinata nampak tertegun. Tiba-tiba perasaan hangat yang damai menyeliputi dadanya. Sakura menganggapnya teman. Akhirnya, Hinata punya teman.

Hinata selalu saja dikucilkan di dalam kelas. Suaranya yang sangat pelan saat berbicara membuatnya selalu diabaikan teman-temannya. Sifat pemalunya membuatnya sangat kaku untuk bermain di dalam kelas. Karena tak pernah bermain bersama, keberadaan Hinata tak pernah dianggap. Teman-temannya pun tak ada yang ingat namanya. Berbeda dengan Sakura, gadis itu selalu ceria. Aura penuh cahaya selalu meliputi gadis cilik itu, membuatnya disayangi semua orang. Sakura selalu riang dan tertawa, selalu dikelilingi oleh teman-teman di kelasnya.

"Naah.. ini!" Sakura menyodorkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu yang sangat cantik dengan hiasan manik-manik.

"Untukku?"

"Iya... kemarin saat ke pasar malam sama ayah aku lihat jepit rambut itu. Aku beli dua, satu warna pink untukku dan satu warna ungu untukmu!"

Hinata menerima jepit rambut itu di tangannya, "Kenapa kau membelikannya untukku?"

"Soalnya rambut Hinata sangat bagus, pasti cantik kalau pakai ini. Jadi aku belikan saja sekalian." Sakura tertawa, membuatnya benar-benar manis sekaligus imut. Hinata mencoba menahan tangisnya. Hinata pun tidak tahu kenapa rasanya dia sangat ingin menangis lagi sekarang. Sakura membuatnya benar-benar terasa ada.

"Loh kok menangis lagi? Tidak suka, ya?"

Hinata menggeleng cepat, "Aku suka! Aku sangat suka jepitnya! Dan aku juga sangat menyukai Sakura-chan!"

Sakura terkejut lalu kemudian tertawa renyah khas anak kecil, "Aku juga menyukai Hinata! Mulai sekarang kau adalah sahabatku, ya!"

Setelah beberapa saat bermain bersama di ayunan itu akhirnya kedua ibu dari dua gadis itu datang menjemput. Sakura dengan riang melambaikan tangannya pada Hinata.

"Jangan menangis lagi ya!"

――Lagi-lagi air mata bergulir tanpa permisi. Hinata menggenggam erat jepit rambut yang sekarang terasa kecil di tangannya. Ia menangkup jepit rambut itu dengan kedua tangannya, ia letakkan tangannya ke depan hidung layaknya orang berdoa.

Hinata menyayangi Sakura seperti saudarinya sendiri, namun ia juga sangat mencintai Naruto dengan segenap perasaannya. Kenapa rasa sakit ini terus menempel padanya? Ternyata benar... Cinta memang menyakitkan.

o.o.o

Sakura berjalan masuk ke dalam kelasnya tepat sedetik sebelum bel tanda masuk berdering nyaring. Sakura melihat gerombolan Naruto dan kawan-kawan yang duduk di ujung langsung membubarkan diri untuk duduk di bangku masing-masing. Naruto berseru riang saat melihat kedatangan Sakura, sedangkan Sasuke terlihat tersenyum samar.

Entah kenapa Sakura jadi merasa kikuk melihat Sasuke yang menatapnya dari tadi.

"Kau sakit ya?"

"Hah? Kenapa?" tanya Sakura bingung. Memangnya dia terlihat seperti orang sakit? Segar bugar seperti ini.

"Bibirmu terlihat sedikit pucat." Sakura tersentak saat Sasuke menyebut kata bibir, ia teringat kejadian kemarin. Sasuke pun sama. Ia segera memalingkan wajahnya setelah merasa kulitnya berubah warna jadi merah. Aih... kenapa dia juga jadi malu-malu begini. Sasuke meruntuki semua yang telah diperbuatnya kemarin, bahkan ia mengidap insomnia tadi malam.

Tiba-tiba Karin muncul, ia menghempaskan buku cetak yang super tebal ke atas meja Sakura. "Eh Sakura, jangan lupa kalau kita satu kelompok tugas biologi! Kau terus saja bolos membuat kami kerepotan tahu. Enak saja kau cuman memasang nama di cover laporan! Kalau masih mau namamu di kelompok, kau ketik tuh rangkuman buku cetak dari bab enam sampai sebelas." Karin menghardik Sakura habis-habisan.

Sakura nampak santai, ia memandangi Karin datar, "Oke." Sakura meletakkan buku cetak itu ke atas meja Sasuke yang daritadi diam ikut serta mendengarkan omelan Karin. "Anak buah... tolong ya, kerjakan apa yang disuruh Karin tadi."

Karin melotot tak percaya, "Hey apa yang kau-" gadis berambut merah itu meraih buku cetak itu sebelum melanjutkan kalimatnya, "ini tugasmu!"

"Iya, lalu ada masalah?" jawab Sakura santai. Karin semakin gemas.

"Ini tugasmu, bukan tugas Sasuke kenapa kau menyuruhnya?!"

"Dia adalah anak buahku, tentu saja aku boleh menyuruhnya melakukan apapun. Sasuke pun tidak menolak kok, ya kan? Sasuke-kun..?" Sakura bersikap sangat menyebalkan sekarang. Beberapa murid terlihat mengerutkan kening, bingung.

"Hn." Sasuke hanya mendengus pelan. Ia menatap tajam tepat ke sepasang bola mata Karin, membuat gadis yang tergila-gila padanya itu menciut. "A-aku saja yang mengetiknya, kau tak usah berbuat apa-apa." Karin segera menyingkir dari sana membuat Sakura tersenyum senang. Beruntung sekali memiliki Sasuke sebagai anak buahnya, bahkan ia bisa menghindar dari bullying dari kelompoknya sendiri.

"Kau ingin memanfaatkanku?" tanya Sasuke.

"Memanfaatkan bagaimana, sih? Bukannya kau setuju akan jadi anak buahku jika aku bersedia mengguruimu? Ckckck. Kenapa kau jadi super sensitif ya akhir-akhir ini? Sudahlah santai saja," Sakura tersenyum sinis. Ia mencoba membangun kembali jarak yang besar pada Sasuke. Kejadian kemarin membuatnya urig-urigan dan sakit kepala. Hanya wajah Sasuke yang ada di pikirannya semalaman, bahkan ia tak ingat lagi pada ibunya yang membuatnya sakit hati. Sakura mati-matian mempertahankan kondisi hatinya, dia tidak akan pernah jatuh cinta. Entah sudah berapa kali Sakura merapalkan kalimat itu. Ciuman Sasuke memberikan efek yang benar-benar dahsyat, luka tak kasat mata di hati Sakura tempo hari sudah tak terasa lagi berkat ciuman itu. Bahkan Sakura bertekad akan mengubur dalam sakit hati pada kedua orang tuanya.

Namun ada satu hal yang tak dapat Sakura mengerti, ada apa sih dengan Sasuke? Apa laki-laki ini jatuh cinta padanya?

Emeraldnya menggerling menatap wajah Sasuke. Tiba-tiba Sasuke menolehkan wajahnya pada Sakura dan tersenyum tipis. Jantung Sakura tiba-tiba terasa melompat, ia jadi salah tingkah.

"Jangan tersenyum padaku, itu menjijikkan."

"Kenapa? Ingat kejadian semalam? Begitu berdampaknya, ya?"

Sakura langsung menyambar penggaris yang ada di kolong meja dan memukulkannya ke kepala Sasuke, membuat Sasuke mengaduh kesakitan.

"Anak buah sialan! Makanya aku bilang lupakan saja brengsek!"

Beberapa saat Sasuke dan Sakura berkelahi kecil sampai akhirnya kedatangan Kakashi membuat seluruh suara di kelas itu menguap tak tersisa.

Kakashi melirik bangku Sakura yang saat ini sudah diduduki oleh pemiliknya, "Selamat pagi, murid-murid kesayanganku. Maafkan aku terlambat masuk, saat di jalan menuju ke sini tadi ada―"

"Tidak usah dijelaskan sensei," gumam seluruh kelas dengan kompak. Bosan mereka mendengar alasan Kakashi yang itu-itu saja. Dia memang memiliki hobi terlambat.

Kakashi berdeham keras, "Hari ini kalian belajar sendiri di dalam kelas, aku tak bisa mengajar karena harus mewakili kepala sekolah pergi ke dinas."

Seluruh murid bersorak-sorai gembira seperti para fanatik bola yang menyaksikan gol oleh tim kesayangannya. "Jangan senang dulu. Kalian harus mengerjakan tugas di buku paket halaman seratus dua, kerjakan bagian A sampai C, di kertas double polio bergaris dan dikumpul hari ini sebelum pulang." Kebahagian yang menyeliputi kelas tiba-tiba runtuh.

Kakashi melenggang cuek untuk pergi, namun ia mengatakan sesuatu pada Sakura sebelum menghilang, "Sakura, sekarang walimu sedang ada di kantor guru. Cepat kau ke sana, kenapa kau masih saja diam di sini."

Sakura buru-buru bangkit dan berlari keluar kelas. Sumpah ia lupa. Padahal kemarin ia sudah membujuk Konan untuk datang ke sekolahnya untuk memenuhi 'Surat Panggilan Orang Tua'. Tak perlu waktu lama Sakura sudah berdiri di depan pintu ruang guru BK. Ia merapikan seragam dan rambutnya agar terlihat seperti gadis alim. Ia mengetuk pintu sebelum membukanya.

Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Tenggorokannya terasa kering dan begitu perih. Tidak cukupkah ibunya saja yang muncul di hadapannya.

Sekarang ia menatap ayahnya yang juga menatapnya.

"Kenapa diam di situ? Ayo kemari. Duduk." Perintah guru bimbingan konseling yang ada di sana.

Sakura nampak linglung. Bingung dengan apa yang sedang terjadi, kenapa ayahnya bisa ada di sini.

"Duduk Sakura." Suara berat sang ayah masuk ke dalam telinga. Hatinya bergetar. Suara yang sudah sangat lama tak ia dengar ini membuat jantungnya kesemutan. Entahlah.

Sakura menurut. Ia segera duduk di bangku sebelah ayahnya. Guru BK itu mulai berbicara ke inti masalah setelah berbasa-basi. Namun Sakura tidak mendengarkannya, setengah kesadarannya melayang jauh.

o.o.o

Naruto menduduki bangku Sakura, ia menggeser bangku itu untuk mendekat pada Sasuke yang sedang membaca buku.

"Teme, apa yang terjadi padamu dan Sakura-chan kemarin?"

Leher Sasuke langsung memutar pada Naruto. Tiba-tiba hawa tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdetak tak karuan, namun ia mencoba menutupinya serapat mungkin.

"Apa maksudmu?" Sasuke bertanya balik.

"Ih, aku dengar apa yang kalian bicarakan, tahu!" Naruto mendesis sebal.

"Tak ada yang khusus. Aku hanya memberitahunya kalau dia akan tinggal kelas kalau membolos lagi."

"Kenapa? Sekarang kau peduli padanya?"

"Kau lupa ya kalau guru Kakashi menyuruhku untuk memberitahu Sakura?"

"Apa iya?" Naruto terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untunglah Naruto merupakan tipe bocah yang gampang diberi dusta.

"Oh iya Sasuke... kemarin aku mengantar Hinata pulang." Kini Naruto membuka topik lain dalam pembicaraan mereka. Perhatian Sasuke sudah sepenuhnya ada di Naruto.

"Kenapa?" Sasuke merasakan perasaan tak enak mengalir di dadanya. Pasti sudah terjadi sesuatu yang buruk.

"Aku memberitahu Hinata kalau aku menyukai Sakura-chan." benar tebakan Sasuke.

"Kau tak punya otak ya, dobe?!" Sasuke berseru galak membuat perhatian murid tertuju padanya.

"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba beteriak?"

"Kau memang benar-benar seorang idiot!"

"Apa kau bilang?!" Naruto mencengkram kerah seragam Sasuke, tidak terima dihina secara tiba-tiba tanpa alasan.

Lee buru-buru melerai Sasuke dan Naruto yang hendak berkelahi.

Sasuke menendang kasar mejanya lalu berjalan keluar kelas. Ia sengaja melewati kelas Hinata yang sedang dalam proses belajar mengajar. Sasuke gagal menemukan Hinata, hanya tas gadis itu yang tergeletak rapi di atas bangku.

Sasuke meronggoh handphonenya lalu segera menelepon Hinata, yang nomor hapenya dia dapatkan dari Sakura.

"Halo...?"

Sasuke sedikit membatu mendengar suara lembut Hinata, "Hinata, kau ada dimana sekarang?'

"Umm aku sedang di kelas.."

"Tak usah berbohong, tidak mungkin kau bisa mengangkat teleponku kalau berada di dalam kelas. Bahkan saat ini aku ada di depan kelasmu."

Hinata terdiam beberapa detik, "aku ada di taman belakang..."

"Baiklah aku akan ke sana, tunggu aku. Ada yang ingin aku bicarakan."

o.o.o

Sakura berjalan beriringan dengan ayahnya, bermaksud untuk mengantarkan ayahnya ke depan pintu gedung sekolah―karena disuruh guru BK-nya. Sakura tak membuka mulutnya sedikitpun. Ia terlalu malas untuk berpikir. Moodnya benar-benar hancur saat melihat ayahnya.

Kizashi berpakaian rapi, jas kerja membuat lelaki paruh baya itu sangat tampan di usianya yang hampir kepala lima. Kini mereka berdua sudah berada di depan pintu masuk gedung sekolah Sakura.

Sakura hendak meninggalkan ayahnya begitu saja jika suara baritone itu tidak menginterupsinya.

"Kau tidak ingin bertanya apa-apa?"

Lelaki tua ini lancang sekali berani berbicara padaku.

"Mau bertanya apa, tidak ada yang penting. Aku tidak peduli." Sebenarnya ada seribu satu pertanyaan menggantung di kepala Sakura, misalnya bagaimana bisa ayahnya ke sini? Sakura tak pernah menuliskan nomor ayahnya di form nomor handphone orang tua yang selalu di minta guru. Hanya nomor Konan yang ia tulis di sana.

"Konan-san adalah pegawai ayah."

Kenyataan ini membuat Sakura merasa dikhianati. Sakura bungkam seribu bahasa.

"Dia selalu melaporkan apapun tentangmu,"

Emosi Sakura meluap bagai air bah yang mengalir deras tanpa ampun, ia menggertakkan giginya gemas.

"Untuk apa ayah melakukan ini padaku?!"

"Kembalilah nak... ikut ayah."

Apa dia bilang? Kembali? Kembali kemana?

"Apa aku tak salah dengar?" Sakura menarik napasnya pelan, mencoba menahan diri agar tidak berteriak, "Ayah dan ibu sudah membuangku. Kalian mencampakkan anak kalian sendiri dengan alasan aneh yang membuatku ingin muntah saat mengingatnya. Wajahku mengingatkanku pada ayah, pada ibu? HAHA! Seribu tahun pun aku tak mau menjadi seperti kalian. Ayah tahu kan? Bahwa selapar-laparnya harimau ia takkan pernah tega memakan anaknya sendiri. Sedangkan kalian apa? Setelah nenek Chiyo yang merawatku bertahun-tahun meninggal, kalian kemana? Apakah kalian pernah mengatakan, ayo ikut ayah, ayo ikut bersama ibu? Ayah hanya mengatakan lewat telepon terserah aku saja ingin ikut dengan siapa. Harusnya kalian berdua yang berebut untuk merawatku!"

Kizashi membatu. Perkataan Sakura memukul keras kepalanya sampai terasa pening. Hatinya sakit mendengar rontaan putri kecilnya yang selama ini ia abaikan.

"Aku tahu selama ini aku hidup memakai uang ayah. Aku menghamburkan banyak uang ayah untuk membeli apartemen paling mahal di kota ini. Apa ayah merasa semua itu cukup untuk membayar sakit hatiku? TIDAK YAH, TIDAK!" Sakura nampak ngos-ngosan.

"Kalau ayah merasa kesepian, kenapa tidak ayah nikahi saja pelacur itu? Buat anak yang banyak lalu buang seperti yang ayah lakukan padaku!"

"SAKURA!"

Kizashi menahan tangannya yang sudah terangkat untuk menampar Sakura.

"Kenapa tidak jadi? Tampar, yah. Tampar aku."

Tampar aku seperti yang sudah dilakukan ibu.

Hati kizashi mencelos melihat pipi Sakura yang basah dengan air mata. Sakura menangis tanpa ekspresi.

Kizashi langsung mengambil langkah pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Sakura mulai terisak saat melihat punggung ayahnya menjauh. Padahal sakura sudah bertekad akan mengubur dalam-dalam rasa sakit hati karena orang tuanya. Tapi nyatanya kedatangan Kizashi menggali lagi rasa itu. Rasa sakit yang berselimut benci.

.

.

.

Taman belakang memang menjadi tempat yang cocok untuk menghibur hati Sakura yang gundah gulana. Tanaman hijau tersusun di sana, pohon-pohon rindang pun berdiri kokoh di sekeliling taman yang luas itu.

Emerald Sakura menangkap dua sosok yang sangat ia kenali. Sasuke dan Hinata. Sakura bersembunyi di balik batang pohon yang besar. Ia sebenarnya tak ingin peduli. Namun hatinya meronta ingin tahu.

Sakura merapatkan diri di balik sebuah pohon besar, menekukkan lututnya duduk bersandar pada batang pohon itu, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Namun samar-samar suara Sasuke terdengar ke salah satu pancra inderanya.

"...Oleh sebab itu jadilah kekasihku."

Waktu di sekitar Sakura seperti berhenti berjalan. Sakura tertegun mendengar kalimat itu. Seharusnya ia tidak boleh merasa tercekat.

"Ta-tapi aku―"

"Aku akan membantumu melupakan Naruto. Aku tahu siapa yang Naruto sukai. Aku akan berusaha agar kau bisa berpaling darinya, ikhlaskanlah Naruto dan berpacaranlah denganku."

"Bukankah Sasuke-kun menyukai Sakura?"

Hening tiba-tiba membungkus mereka beberapa saat,

"Aku tidak memiliki perasaan seperti itu pada Sakura." dada Sasuke terasa bergemuruh sakit saat mengatakan itu, apa sebenarnya mau hati pemuda ini?!

Sakura tersenyum perih. Ya. Tentu saja. Apa yang diharapkan?

"Aku menyukaimu, Hinata." tenggorokan Sasuke terasa dimasuki duri saat mengatakannya. Seharusnya Sasuke berdebar gugup, tapi kenapa ia merasa seperti tenggelam dalam lubang gelap. "Aku akan menjadi pelampiasanmu, tak apa. Walaupun kau tidak menyukaiku, tak apa. Yang penting aku bisa ada di sisimu untuk menguatkanmu."

Sakura memberanikan diri untuk mengintip Sasuke dan Hinata.

Hinata nampak berpikir keras, ia tak tahu harus berbuat apa. Perkataan Naruto semalam benar-benar membuatnya susah tidur dan terus menangis. Hinata bahkan telah ditolak mentah-mentah sebelum ia menyatakan perasaannya pada Naruto.

Tak ada salahnya kan menerima Sasuke. Gadis itu mengangguk pelan.

Detik berikutnya mata Sakura terlihat melotot. Sasuke merengkuh Hinata dalam pelukannya. Sakura segera memperbaiki posisi duduknya. Tidak melihat kedua pasangan itu. Dadanya berdebar menyakitkan. Tenggorakannya terasa sangat kering. Tangannya menggenggam rerumputan di bawahnya. Sasuke memang lelaki paling brengsek setara dengan ayahnya.

.

.

Sasuke tidak merasakan apa-apa saat memeluk Hinata. Seharusnya ia berdebar seperti di apartemen Sakura tempo hari.

Pelukan itu terlepas saat bel berbunyi nyaring. Hinata buru-buru pamit ke kelas sedangkan Sasuke tetap berada di sana. Ia berjalan ke arah sebuah pohon lalu di duduk di bawah rindangnya pohon tersebut. Ia mengusap rambutnya pelan. Pikirannya seperti tidak di badan. Sasuke menyandarkan tubuhnya. Tak sadar kalau dia dan Sakura sedang bersandar pada batang pohon yang sama.

Setelah tak mendengar suara lagi, Sakura pun berdiri memutuskan untuk pergi dari sana lewat jalan depan.

Sasuke dan Sakura nampak terkejut dengan keberadaan masing-masing.

"Sejak kapan kau?!" Sasuke secara refleks berdiri, membuat Sakura membisu sekian detik.

"Lumayan lama untuk mendengar tembakan dahsyatmu." Sakura mencoba bercanda untuk menutupi gejolak dalam dadanya, "Selamat, Sasuke. Kau sudah berhasil mendapatkan Hinata." Ucap Sakura.

"Ehm.. ya..." Sasuke tak mengerti kenapa dadanya sesak, mulai sekarang Hinata adalah pacarnya, dia harus menjaga perasaan Hinata.

"Master... sepertinya kita harus melupakan soal ciuman kemarin, dan aku meminta maaf karena sudah melakukannya."

Sakura tersenyum samar, "Ya, tentu saja..." angin bergoyang pelan, rasanya deja vu. Kejadian ini seperti pernah terjadi, "Permainan kita berakhir sampai sini. Kau tidak perlu memanggilku master lagi, Sasuke. Semuanya sudah usai..."

o.o.o

Saat istirahat tiba Sakura melakukan rutinitasnya seperti biasa yaitu pergi ke kelas Hinata untuk menjemput sahabat kesayangannya itu.

"Hinataaa..." Sakura memanggil Hinata dengan lembut seperti biasa.

Hinata nampak terperanjat kaget. Canggung terlihat jelas dari gestur tubuhnya. "Sakura-chan kau masuk hari ini...?" Hinata tersenyum. Namun Sakura tahu senyuman itu palsu.

Tatapan mata Sakura begitu menginterogasi Hinata. Hinata menundukkan wajahnya, rasanya aneh. Kenapa hatinya begitu sakit saat melihat Sakura? Kenapa debarannya tidak menyenangkan...

"Ada apa Hinata...?" Sakura berlagak tidak tahu apa yang telah terjadi. Sakura mempunyai keyakinan bahwa Hinata akan berkata jujur padanya, bahwa Hinata akan selalu berbagi dengannya.

Namun keyakinan itu hilang tertiup angin ketika Hinata menggeleng pelan lalu tertawa kecil, "Tidak terjadi apa-apa, Sakura-chan. Memangnya ada apa...?"

"Oh begitu..." Sakura merasakan kebas di jantungnya, kenapa Hinata menutupi kejadian di taman belakang tadi.

Hinata tersenyum lagi. Senyum yang penuh luka di balik manisnya bibir itu. Ia tak ingin persahabatannya dengan Sakura goyah hanya karena Naruto. Hinata tak ingin Sakura tahu bahwa Naruto menyukai Sakura, ia takkan pernah mengatakannya.

Sakura mengusap pelan wajahnya. Ia benar-benar merasa ditinggalkan sekarang. Orang-orang terdekatnya terasa berjalan menjauh darinya.

Ayah, Ibu, Konan, Sasuke dan bahkan Hinata tega meninggalkannya.

To Be Contiuned...

A/N: Alohaaa kembali lagi dengan ime :D terimakasih untuk semua feedback berupa saran, kritik dan lain-lainnya. Semua itu memberikan semangat untukku buat mengetik ini ahaha. Maafkan aku... jika ada beberapa readers yang kesal dengan sifat Sakura di sini yang moodnya benar-benar swing sekali, ataupun sifat Sasuke yang benar-benar plinplan... semua sudah ada plot dan alurnya, aku meminta maaf jika tak dapat memuaskan kalian... memang otakku penuh dengan drama kacangan lol.

SPECIAL THANKS TO: DaunIlalangKuning, catleaf, UchiHaruno Sya-Chan, alifia tiasrizqi , Kiki Kim, Rozaki Kotone, alinyouw, love yourself, ViNolEks, EchaNM, Guest, Bang Kise Ganteng, raizel's wife, ririsakura, flower on the spring