.

.

.

Lu In Love!

Yaoi, Boy x Boy

By:Styli

.

.

.

Kyungsoo merebahkan tubuhnya pada kasur yang cukup kecil untuk ditiduri oleh 2 orang banyaknya, Luhan pun segera menyusulinya dan duduk disebelahnya. Kyungsoo pun tersenyum pada langit-langit di dinding atas Luhan.

"Jika hujan, pasti disini bocor" Kyungsoo menunjuk kearah langit pada rumah Luhan. Luhan hanya memutarkan kedua bola matanya yang berkilau tersebut.

"Jawab dulu pertanyaanku, apa hubunganmu dengan Jong-In?" tanya Luhan sambil menggoyangkan kaki Kyungsoo yang sedang terbentang di kasurnya.

"Aku akan menjawabnya jika kamu menemukanku dengannya" Kyungsoo bangkit dari tidurnya dan menatap Luhan dengan kedua bola matanya yang besar tersebut.

"Berhenti menatapku seperti itu, aku takut melihatnya" Luhan memalingkan wajahnya dari tatapan Kyungsoo.

"Hahaha.. kamu masih saja sensitive, tidak pernah berubah. Aku punya kedua mataku dengan normal saat lahir seperti ini. Apakah ada orang lain yang menatapmu dan kamu mencurigainya?" tanya Kyungsoo.

"I-iya, tapi kali ini dia selalu menatapku. Aku serius Kyungsoo, dia murid baru dan aku merasa dia mengikutiku" ucap Luhan dengan nada khawatirnya.

"Aku tidak peduli, aku yakin kau terlalu percaya diri apalagi jika orangnya tampan." Ucap Kyungsoo.

"Iya kau benar, dia tampan" Luhan tersenyum kecil sambil terdiam malu, Kyungsoo yang melihat kebiasaan sahabatnya hanya merebahkan tubuhnya lagi dan membalikan tubuhnya kearah berlawanan dari arah Luhan.

Luhan yang menyadari Kyungsoo tertidur pulas dikasurnya segera membangunkannya, dia sempat mengkunci kamarnya dan berusaha membangunkan Kyungsoo yang tertidur pulas itu.

"Kyungsoo-ah! Bangun! Kau tidak bisa menginap disini" Luhan memarahinya dan terus menggoncangkan tubuhnya.

"Sehari saja, aku ingin bertemu dengan Jong-In besok" Kyungsoo berkata dalam tidurnya dengan pelan, lalu Luhan menghela nafasnya seakan sudah menyerah dengan tingkah laku sahabat karibnya tersebut.

.

Luhan terbangun dari tidurnya, ia melihat Kyungsoo masih tertidur pulas di kasurnya, ia tersenyum lalu menuju kekamar mandinya. Setelah selesai membersihkan tubuhnya, ia menyiapkan dirinya untuk berangkat sekolah. Tidak lupa juga ia meninggalkan surat untuk Kyungsoo. Dengan langkah yang cepat dan juga hati-hati, ia meninggalkan kamar kontrakannya.

Luhan melangkahkan kaki sambil tersenyum ceria dan merentangkan kedua tangannya keatas, melihat kearah sekitar dan menyapa seorang penjual susu keliling. Dalam beberapa langkah selanjutnya, ia terkejut ketika Sehun bertemu dengannya di pertigaan jalan tersebut. Luhan memperlambat jalannya seolah-olah menunggu kepergian Sehun terlebih dahulu. Lalu Sehun menghentikan langkahnya dengan cepat, Luhan pun ikut menghentikan langkahnya.

"Ada apa denganmu?" tanya Sehun dengan nada dinginnya dan membalikan tubuhnya serta menatap Luhan dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

"Tidak, aku kan juga ingin berangkat sekolah" Luhan memalingkan wajahnya.

"Lalu?" Sehun mengangkat setengah alisnya.

"Lalu ya a-apa? Yah berangkat bersama lah." Ucap Luhan. Sehun terdiam dan tersenyum kecil, lalu Luhan terdiam dan langsung tersadar dengan perkataannya barusan.

"Yasudah jika ingin bersama jalanlah lebih cepat, jangan jalan seperti kura-kura" Sehun tersenyum dan melanjutkan jalannya.

"Bukan begitu! Maksudku-" Luhan mengejar Sehun dengan alasan ingin memberitahu sebenarnya, bahwa Sehun salah paham.

"Maksudmu apa?" Sehun segera membalikan tubuhnya dan dengan sontak Luhan berhenti tepat didepan tubuh tinggi Sehun. Luhan terdiam kaget dan kaku seketika, wajahnya memerah parah.

"Cepat jalan sebelum kita telat" Sehun membalikan tubuhnya lagi dan berjalan menjauhi Luhan yang masih saja terdiam paku ditempatnya.

'apa-apaan ini, mengapa tiba-tiba dia tersenyum manis kearahku? Kenapa ia sengaja membuatku gugup seperti ini? Ah- ini semua karena ucapan bodohku yang tiba-tiba keluar!' ucap Luhan dalam benaknya dan dengan segera ia mengusap wajahnya dengan kasar sambil melangkah mengikuti Sehun dari belakang.

Tepat sekarang mereka sampai di halte, mereka berdua sama-sama bungkam tanpa mengeluarkan suara satu sama lain, sesekali Luhan menatapnya lalu memalingkan wajahnya, kulit didahi sampai keleher terus mengeluarkan keringat. Sehun yang menatap kearah wajah Luhan segera menyudutkan senyumnya dengan disertai tatapan tajamnya.

"Apa kau tidak terbiasa berlari kecil pada pagi hari?" tanya Sehun.

"A-apa? Aku tidak berlari, kapan aku berlari?" Luhan menatapnya sebentar dan mengusap keringatnya.

"Memang kau tadi mengejarku bukan berlari? Lalu, apa tadi kau merangkak?" tanya Sehun dengan memalingkan wajahnya kearah depan.

"Aku tidak sedang kelelahan karena lari mengejarmu" Luhan masih mengumpati rasa gengsinya yang besar sambil tersenyum sombong.

"Lalu karena apa? Karena sekarang kau berdiri di dekatku?" Sehun tersenyum dan menatap Luhan dengan tatapan tajamnya. Luhan menatap Sehun dengan tatapan kosongnya, ia tidak tahu harus menjawab apa sekarang, ia benar-benar tersuduti dan tidak dapat melarikan diri dari pertanyaan yang jelas-jelas sudah menjebaknya.

Bus telah datang, Luhan dengan segera menyadarkan tatapannya yang kosong dan menghela nafasnya dengan panjang. Ia melangkahkan kakinya untuk naik ke bus tersebut. Dengan segera ia mengambil posisi duduk di tempat yang kosong tepatnya ditengah bus dengan cepat. Tidak mau Sehun duduk disebelahnya, ia meletakan tas yang cukup besarnya tersebut ke bangku kosong disebelahnya. Sebelum Sehun lihat Luhan sudah menempati tasnya di bangku kosong sebelahnya, Sehun memang sudah memilih untuk duduk cukup jauh dari Luhan.

'kemana bocah itu?' tanya Luhan sambil mengintip kebelakang, ia cukup terkejut karena melihat Sehun duduk dikursi belakang yang cukup jauh jaraknya dari Luhan. Lalu tak lama ponsel Sehun berdering, membuat bus yang hening dan hanya ditumpangi beberapa orang terdengar.

"Halo- ada apa?" tanya Sehun dengan nada dinginnya.

"Jangan hubungi aku lagi, kau menyusahkan" Sehun menutup ponselnya. Luhan yang mendengarnya dari jarak jauh terdiam dan memikirkan beberapa kali tentang Sehun.

"Ah, mengapa aku malah memikirkannya? Tidak penting. Luhan kau memang rusa bodoh" Luhan mengusapi wajahnya untuk kesekian kalinya.

.

.

Bus mereka telah berhenti pada halte didekat sekolahnya, beberapa kali selama diperjalanan Luhan mengintip kebelakang memastikan dimana Sehun berhenti. Dia juga cukup merasa aneh, mengapa Sehun tidak mencuri-curi tatapannya lagi dengan Luhan? Apa ia merasa sudah dicurigai oleh Luhan? Ah menurutnya ini tidak penting, buat apa memikirkan Sehun. Cowo tampan dan misterius itu memang cukup aneh untuk dipikirkan tetapi akan lebih aneh perasaan Luhan yang sekarang bergantian, rasanya ia sekarang kecanduan menatap wajah Sehun yang tampan, putih dan dingin itu.

Luhan segera melangkahkan kakinya saat Sehun turun dihalte tersebut dan mengikutinya dari belakangnya. Sehun benar-benar tidak menatap Luhan seperti kemarin-kemarin, Sehun hanya berjalan menatap kedepan tanpa membalikan tubuhnya. Luhan telah mengikutinya sampai kesekolah dan memutuskan untuk berhenti mengikutinya karena takut dengan beberapa penggemarnya yang menuduhnya tidak-tidak.

Luhan segera kekamar mandi untuk mencuci wajahnya dan melihat beberapa kali kekaca dihadapannya.

"Ah- Luhan, wajahmu kembali pucat. Kau harus segera minum obatmu" ucapnya sambil meninggalkan kamar mandi tersebut.

Baru beberapa langkah ia meninggalkan kamar mandi, ia disapa oleh seorang laki-laki yang kemarin sempat menggodanya, bertubuh tinggi. Kita tahu pasti siapa dia, dia adalah Park Chanyeol yang selalu mengejar Luhan, walaupun dia sudah memiliki kekasih yaitu Baekhyun musuh Luhan dikelasnya.

"Hay-" Chanyeol menyapa Luhan dengan senyuman yang menunjukan gigi bersihnya tersebut.

"Apa lagi sih? Pergi sana. Atau mau ku laporkan ke Baekhyun?" Luhan mengancamnya dengan tatapan emosinya.

"Baekhyun hari ini tidak masuk, jadi aku akan bebas mendekatimu kapan saja" ucap Chanyeol dengan merangkulnya. Sehun datang, sepertinya ia sedang ingin kekamar mandi tanpa berniat untuk melakukan hal apapun.

Seperti apa yang diduga, Sehun hanya melewati mereka tanpa menatap mereka. Luhan dengan segera melepaskan rangkulan Chanyeol dan meninggalkannya dengan cepat. Merasa ditinggalkan, Chanyeol segera berlari menyusuli Luhan. Tanpa mereka ketahui, Sehun mengintip mereka dari sisi tembok kamar mandi dengan tatapan dingin dan sulit diartikan.

"Pergilah. Kau tidak mau dilaporkan oleh salah satu murid disini kau mendekatiku?" Luhan merasa lengah juga melihatnya.

"Mereka tidak akan berani, jika aku tahu siapa yang melaporkan. Akan kubuat hidupnya menderita" Chanyeol tersenyum licik kearahnya.

"Apa maumu sebenarnya?" Luhan berdecik emosi menatap Chanyeol.

"Aku ingin terus bersama mu, Luhan" ucapnya dengan menarik lengan Luhan untuk ia genggam.

"Kau benar-benar membuatku tidak nyaman, dasar gila!" Luhan menepis pegangan tersebut dan meninggalkan Chanyeol yang masih tersenyum licik kearahnya.

"Iya, aku gila Luhan! AKU GILA KARENA MU! DAN KUBUAT KAU TERGILA-GILA PADAKU" Chanyeol berteriak kearah Luhan yang terus berjalan menjauhinya tanpa membalikan tubuhnya kebelakang.

.

.

.

Luhan terdiam didalam kelas, sekarang ia duduk bersama Chanyeol yang duduk disebelahnya. Bahkan sesekali Chanyeol bersender pada pundak Luhan, tetapi dengan cepat Luhan mendorong kepalanya dengan tidak nyaman.

Sehun tetap tidak menatapnya dan membalikan tubuhnya seperti kemarin, sedangkan Luhan masih terus menatapnya. Ia merasa sudah menjadi yang terbodoh, ia tidak tahu harus berbuat apa, andaikan saja ada yang mau membantunya untuk menjauhi Chanyeol. Sungguh ia sudah merasa gila karena Chanyeol terus mengejarnya. Jika dia menolak Chanyeol, bisa-bisa dia dihina di sekolah tersebut. Chanyeol dan teman-teman se-tim basketnya memang terkenal menakutkan, bahkan Luhan pun sebenarnya takut walaupun sempat memberontak. Alasan mengapa Luhan tidak pindah sekolah, karena sebenarnya-pun Luhan buta arah di Korea, dia asli warga China dan hanya mendapatkan beasiswa disekolah tersebut, walaupun orang tuanya cukup kaya tetapi Luhan memiliki masalah besar dalam keluarganya yang membuat dirinya tidak nyaman bersama keluarganya.

.

Istirahat telah tiba, Luhan berjalan kearah taman. Dia rasa dia butuh udara segar, dia tidak butuh makan saat ini tetapi yang ia inginkan adalah menghilangkan masalah yang penat dalam kepalanya, dia juga berfikir jika dia pergi kekantin pasti dia bertemu dengan Chanyeol lagi. Ia duduk di bangku taman dan menundukan kepalanya untuk terdiam sebentar. Tak lama Sehun duduk disampingnya, Luhan menatap kaget ketika Sehun berada disampingnya.

"Kamu lagi." Ucap Luhan dengan menghela nafasnya.

"Pasti kamu takut dengan Chanyeol, ya?" Sehun menatapnya dengan tatapan sayunya.

"Tidak, biasa saja" ucap Luhan dengan entengnya dan tersenyum kecil.

"Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Kamu kan juga laki-laki, dorong saja dia" Sehun tersenyum aneh dan menatap Luhan sebentar.

"Kau berbicara dengan sangat enteng tanpa beban" Luhan mengerutkan dahinya.

"Berarti benar, kau takut dengannya" Sehun mengendus kecil. Luhan langsung melihat kearahnya dan menatap bingung kearahnya

"Hey- Oh Sehun! Jangan dekati dia!" Tiba-tiba seorang pria mendatangi mereka.

"Kamu lagi" ucap Sehun sambil menatap Chanyeol dengan gerombolan tim-nya dengan tatapan malasnya.

"Apa-apaansih?! Kau tidak bisa mengatur hidupku! Kau bukan siapa-siapaku!" bentak Luhan dengan nada tingginya.

.

.

"Wah sekolahnya besar juga, benar Luhan dapat beasiswa disini?" Kyungsoo membuka matanya dengan sangat besar dan menatap ke sekeliling sekolah tempat dimana sekarang Luhan belajar. Kyungsoo melangkahkan kakinya untuk segera masuk kesekolah tersebut, tetapi dengan seketika seorang satpam menghalanginya.

"Siapa kamu?" Satpam menahannya.

"Aku teman, Luhan. Anak laki-laki yang tampan dan wajah seperti rusa itu" Kyungsoo menatap satpam tersebut dengan matanya yang besar tersebut dan mencoba meninggalkan satpam tersebut.

"Kamu tidak bisa masuk, tunggu saja disini sampai bel berbunyi" Satpam tersebut menahannya dengan mem-block nya. Merasa kesal, Kyungsoo memikirkan bagaimana caranya agar ia lolos dari tahanan satpam tersebut.

"Awas, ada pesawat jatuh!" Kyungsoo segera memeluk satpam tersebut dan menjatuhkannya ketanah, dengan segera ia lari meninggalkan satpam tersebut dan lolos masuk kedalam sekolah tersebut.

"Hey Bocah!- Kembali kau!" teriak satpam tersebut sambil berdiri dan mengejar Kyungsoo.

.

.

.

Kyungsoo sempat terjatuh dan menabrak beberapa murid sesekali. Lalu berhenti pada taman dan menatap cerah kearah Luhan, dengan cepat ia lari menghampiri Luhan yang sedang di kerumuni beberapa laki-laki tampan disana.

"LUHAN!" teriak Kyungsoo yang langsung lari kearahnya, Luhan yang sadar langsung terkejut hebat melihat Kyungsoo ada dihadapannya.

"Ah- Jong-In?" Kyungsoo segera menghentikan langkahnya dan menatap kearah Jong-in atau biasa yang dipanggil Kai tersebut dengan wajah dan tatapan cerah kearah mereka.

.

.

.

.

Hay-hay.

Bingung ya sama sikap Sehun yang terus berubah-ubah dan aneh.

Sama gua juga –" *lol :v

Tadi udah bikin skinship rated M. Tapi langsung sadar kalo gua udah masukin rated T.

Jadi kemarin dirombak lagi hahaha.

review, please? ^^