.

.

.

Lu In Love!

Yaoi, Boy x Boy, BL

By : Styli

.

.

.

Daun berjatuhan, sinar matahari seakan-akan menyinari wajah Kai. Kyungsoo membuka matanya dengan lebar, dan menahan senyum kebahagiaan terbesarnya. Sedangkan Luhan hanya tetap menatap kaget sahabatnya yang kini tiba-tiba sampai dihadapannya, reaksi Kai hanyalah menatap Kyungsoo dengan bingung dan menjadi takut karena melihat tatapan mata bulat dan besar tersebut.
Manik mata Sehun yang tajam tidak pernah berubah ataupun berhenti untuk menatap Chanyeol dengan tatapan sensinya, walaupun sekarang orang-orang sedang kebingungan dengan Kyungsoo yang tiba-tiba datang.

"Astaga Kyungsoo, sedang apa kau disini?" Luhan segera menarik tangan sahabatnya untuk menjauh dari keramaian tersebut.

"Apakah Jong-In yang berkulit gelap itu?" tanya Kyungsoo sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah sosok laki-laki tinggi, berwajah tampan dan berkulit sedikit gelap tersebut.
"Ne, kau harus pulang cepatlah! Atau tidak aku akan kena kasus hari ini." Luhan membalikan tubuh Kyungsoo dan mendorong bahu sahabatnya itu agar pergi dari sekolah tersebut.
Kyungsoo tetap bersikeras bahwa ia masih ingin disana untuk sekedar mengobrol dengan teman-teman Luhan disana, tetapi Luhan sudah tidak bisa menahan gejolak emosinya dengan sahabatnya yang terus membuntutinya. Seorang satpam akhirnya menemukannya, Kyungsoo sempat meminta tolong oleh Luhan agar satpam tersebut meloloskannya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain melambaikan tangan dan tersenyum kearah Kyungsoo.

"Kyungsoo-ah! Minum saja susu di lemari es-ku!" Teriak Luhan kearah Kyungsoo yang sudah menjauh.

Chanyeol dan teman-temannya masih menatap bingung kearah Luhan dan teman anehnya tersebut hingga akhirnya Luhan kembali ke posisinya tepat disamping Sehun. Luhan menatap sebentar kearah Sehun dan menatap bingung melihat tatapan Sehun yang dingin kearah Chanyeol sekarang. Chanyeol dengan segera menoleh kembali kearah mereka dengan senyuman miringnya melihat Sehun terus menatapnya dengan tatapan dinginnya.

"Mwo? Ada apa dengan tatapanmu itu bocah?" Chanyeol menatapnya dengan kesal dan mengepalkan kedua tangannya. Luhan pun menggigit bibir bawahnya sendiri, tiba-tiba ia merasa takut mereka akan bertengkar.

"Menurutmu?" tanya singkat Sehun.

"Sepertinya kau meminta belas kasihan ku untuk memaafkanmu, Sehun." Ucap Chanyeol sambil membalas tatapannya ke Sehun. Merasa tidak mau suasana lebih panas lagi, Luhan menarik lengan Sehun untuk menjauh.

Sehun menarik lepas lengannya dari pegangan Luhan, lalu Luhan menoleh kebelakang dengan helaan nafas kecilnya. Sehun terdiam malas lalu membalikan tubuhnya untuk berjalan meninggalkan Luhan. Luhan terdiam bingung melihat Sehun yang bertingkah aneh tersebut.

"Kau aneh!" teriak Luhan, Sehun yang berjalan jauh membelakangi Luhan pun akhirnya menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh kebelakang.

"Apa kau sadar? Kaulah yang aneh. Kau tidak ada hak apapun untuk menghentikanku melakukan apapun, bahkan menarik lenganku seolah-olah kau sudah mengenalku" Sehun memasang wajah datarnya dan berbicara sejenak, ia melangkahkan kakinya lagi dan menghilang jauh dari tatapan Luhan.
"Aku yang aneh? Seolah-olah aku sudah mengenalnya? Apa selama ini dia berfikir aku dan dia tidak saling mengenal?" tanya Luhan dalam diamnya dijalan setapak di belakang halaman sekolahnya.

.

Suara ketukan bolpoin masih terdengar dimeja kamar Luhan, ia menyiku dagunya dengan satu tangannya dan menatap kosong kearah bukunya tersebut. Lalu ia menutupnya dan mengacak-acak rambutnya lalu menjatuhkan dahinya kemeja sehingga memberikan benturan pada jidat mungilnya yang putih tersebut. Dia terus terbayang oleh Sehun, sikap dinginnya selalu terlukis dibenak Luhan.

"Mengapa seolah-olah Sehun melindungiku? Kenapa ia terus muncul dihadapanku? Apa yang tadi itu Sehun sedang marah padaku?" tanyanya kepada dirinya sendiri sambil memiringkan kepalanya.

Tak lama kemudian, tiba-tiba kepala Luhan terasa penat, matanya begitu ber-embun, penglihatannya kabur begitu saja. Dia berlari kecil ke arah laci disamping ranjang kecilnya dan mengambil beberapa pil dari botol kecil tersebut dan menengguknya. Hidungnya mengeluarkan darah kental berwarna merah kehitaman, dengan segera ia mengusap hidungnya dan berlari kearah kamar mandi dan mencucinya dengan bersih. Luhan tersenyum setelah itu kearah kaca didepannya.

"Luhan, kau sedang penat. Aku harus mencari udara segar" ucapnya pada dirinya sendiri dengan wajah pucat dan tersenyum manis.
Luhan keluar dari rumahnya dengan menggunakan jaket yang sedikit tebal pada malam yang sudah gelap. Rasa sakit dan nyerinya sedikit menyusut, ia tersenyum kecil dan menarik nafasnya dengan pelan.

Ia berhenti pada market kecil di daerah rumahnya dan membeli sebungkus ramen untuk ia makan pada malam itu ditempat peristirahatan market tersebut, ia menyeduh ramennya dan menutupnya hingga matang. Sembari menunggu ramennya matang, ia membuka ponselnya dan melihat kontak ibunya sebentar. Beberapa kali ia hampir menekan tombol hijau untuk menelfonnya tetapi dalam hitungan detik ia menekan tombol merah. Lalu ia lebih memilih mengirim pesan pada ibunya.

"Ibu, kau apa kabar? Aku merindukanmu." Luhan mengirim pesan tersebut dan langsung menyimpan ponselnya dikantungnya. Dengan segera ia membuka ramen yang ia tutupi dan mengabil sumpit untuk ia raih bersamaan helaian ramen yang akan ia kunyah.

"Seorang kasir tadi mengatakan padaku bahwa ada seorang laki cantik lupa membawa minuman yang ia beli" seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit pucat tersebut meletakan sebotol jus jeruk dimeja Luhan, Luhan segera tersedak dan terkejut ketika mendongakan kepalanya untuk melihat kearah wajah laki-laki tersebut.

"Oh Sehun?!" Luhan ternganga kaget melihatnya. Sehun tersenyum lalu menarik bangku di sebelahnya agar duduk mendekati laki-laki manis tersebut.

"Sedang apa kau disini?" tanya Luhan dengan wajah yang masih tidak percaya.

"Aku kan tinggal disekitar sini, mengapa kau terus bertanya hal yang sama?" tanya Sehun dengan tatapan dinginnya.

'Apa dia mengikutiku lagi? Dan minuman tersebut- aku tidak merasa aku membelinya' ucap Luhan dalam benaknya sambil menatap Sehun dengan wajah bingungnya.

"Makanlah, jangan menatapku seperti itu." ucap Sehun dengan menyimpulkan senyumnya, Luhan segera tersadar dan langsung menyantap makanannya dengan terburu-buru hingga tersedak.

"Minumlah." Sehun membukakan tutup botol tersebut dan memberikannya ke Luhan, Luhan memang sedikit ragu dan merasa aneh oleh tingkah Sehun yang berubah-ubah, namun akhirnya ia menerima minum tersebut dan tersenyum kecil kearah Sehun.

"Gomawo" Luhan menunduk kecil dan tersipu malu. Sehun hanya memalingkan wajahnya dan terlihat serius dengan ponselnya, Luhan hanya terdiam setelah menghabiskan makanannya.

Ia bingung dan tak tahu harus berbicara apa dengan Sehun. Tiba-tiba pikiran Luhan terlintas pada wajah ibu dan ayahnya, ia sangat rindu dengan orang tuanya di Cina, akan tetapi ini akan menyulitkannya saja. Ayahnya akan tetap berbuat kasar dengannya, Ibunya akan tetap tidak peduli dengannya. Luhan benar-benar membenci keadaannya seketika. Lalu ia menjatuhkan kepalanya dengan kasar ke meja membuat suara dengkuran terdengar, merasa bodoh dan malu Luhan membiarkan wajahnya menatap kearah bawah kakinya dan kepala yang masih tetap terdiam dimeja tersebut.

"Kau baik-baik saja?" Sehun tetap terlihat dingin, ia sempat terkejut kecil tetapi pada akhirnya ia tetap melanjutkan kegiatannya bersama ponselnya.
Luhan tidak menjawab, dia tetap pada posisi yang sama dan tidak berubah. Sehun berdiri dari duduknya dan berniat untuk pulang meninggalkan Luhan, tetapi ia menatap Luhan sebentar dan membangunkan Luhan yang sepertinya tertidur lelap dimeja tersebut.

"Hey rusa sombong, pulanglah. Besok kita harus sekolah." Sehun berbisik kecil disampingnya, Luhan pun terkejut dan segera berdiri. Lalu mereka berjalan bersamaan,

Luhan masih tetap memikirkan kedua orang tuanya. Mereka berjalan sejajar dan melangkah bersama, Luhan masih tertunduk malas dan membuat lekukan pada wajahnya.

Tingkah Sehun jelas saja membuat Luhan membuka matanya dengan lebar dan terkejut luar biasa, ia meraih tangan Luhan dan menggandengnya. Luhan tak dapat berkutik, Luhan seperti sedang koma saat ini. Ia benar-benar terkejut dan tak mengerti mengapa Sehun menggandengnya, tangan Sehun pun sangatlah hangat, Luhan merasakan kenyamanan dan tersipu malu saat itu juga. Luhan menghentikan langkahnya dan menatap kearah manik mata Sehun yang tajam dan wajah yang tampan tersebut.

"K-kau." Luhan membuka matanya dengan lebar dan menatap senyum simpul Sehun yang manis dan tampan.

"Sudahlah ayo pulang-" Sehun menarik tangan Luhan dan berjalan seiringan. Hati Luhan saat ini sangatlah berdegup kencang, ada yang aneh dengan tingkah Sehun.

Dia jelas-jelas baru mengenal Luhan, dan bersikap sangat dingin. Tetapi kenapa ia terus muncul dihadapan Luhan disetiap kondisi dan tingkah yang berbeda? Apa ia benar-benar pernah mengenali Luhan? Tunggu dulu. Saat ini Luhan sedang menghitung jumlah mantannya dan mengingat semua nama mantannya. Dia benar-benar belum pernah menemui laki-laki tampan bernama Oh Sehun sebelumnya.
Sehun sampai pada pertigaan didekat rumahnya, dengan segera Sehun melepas gandengannya dan meninggalkan Luhan tanpa kata-kata, Luhan ternganga bingung melihatnya. Sehun tidak menoleh kebelakang sama sekali untuk tersenyum sebentar atau menatapnya sebentar, ia benar-benar tidak melakukan hal apapun. Luhan masuk ke kontrakannya dan menekan kedua pipi merahnya tersebut, ia memastikan jika ini benar-benar bukan mimpi. Ia tersenyum dan merebahkan tubuhnya dikasur, hatinya benar-benar bergejolak saat ini. Ia memukul-mukul kasurnya dan tersenyum dengan riang dengan wajah yang merona. Lalu dengan segera ia tersadar dan terdiam.

"Mengapa kamu bahagia? Haiss- aku ini bodoh sekali" Luhan segera menekukan wajahnya kembali.

"Tetapi- gandengan tersebut? Ia menyukaiku-? Dia benar-benar mengeratkan pegangannya dan tersenyum hangat kearahku?" Luhan menanyakan dirinya sendiri sembari membayangkan kejadian yang baru beberapa menit terjadi, ia kembali tersipu malu dan menatap langit-langit pada kamarnya.

Luhan bangun terlalu larut, matahari belum tiba dan alarm dikamarnya pun belum berdering. Ia berdandan rapih dan seragamnya pun wangi semerbak parfum yang ia gunakan. Ia tersenyum beberapa kali ke kaca didepannya dengan semangat dan berjalan keluar meninggalkan kamarnya. Ia menunggu dipertigaan, menunggu seseorang yang membuatnya tersenyum dan bertingkah aneh semalaman.
Dari sudut panjang dan lumayan jauh, ia melihat sosok laki-laki yang ia tunggui. Ia masih saja dengan tatapan tajamnya dan tingkahnya yang dingin. Luhan langsung berlagak berjalan pelan dan memutarkan pandangannya agar menarik perhatian Sehun. Dengan tingkah dinginnya Sehun mendiamkan Luhan dan memalingkan wajahnya untuk tidak melihat Luhan, Luhan mengintip kecil kebelakang dan melihat Sehun tidak menatapnya sama sekali. Usaha Luhan menarik perhatiannya sia-sia.

Mereka sampai di halte bus, mereka tidak saling menatap dan berbicara. Luhan menatap kearah ponselnya sebentar dan melihat ada sebuah pesan masuk, dengan segera ia membukanya.

"Luhan, Ibu juga rindu padamu." Secarik kata dari ponselnya tersebut membuat Luhan menghela nafasnya dengan panjang dan tersenyum kemudian.

"Bau-mu sangat menyengat, jangan dekat-dekat denganku" keluh Sehun dengan tatapan lurus kedepan dan dengan wajah dinginnya. Luhan pun terdiam kaget dan memanyunkan bibirnya sebentar.

Bus datang, Sehun dengan segera melangkahkan kakinya terlebih dahulu untuk masuk kedalam bus tersebut dan duduk dipertengahan, Luhan dengan segera mengikutinya dan berniat untuk duduk disampingnya.

"Menjauhlah, disana kan masih ada bangku kosong." Sehun tidak menatapnya dan hanya terfokus pada buku pelajarannya. Luhan terdiam bingung dan duduk didepan kursi Sehun.

'Aneh, kemarin dia bersikap manis padaku' ucap Luhan dalam hati. Sehun terlihat menjauhinya bukan? Luhan merasa bingung dan aneh terhadap Sehun, sebenarnya apa yang dilakukan Sehun? Apa yang dipikirannya? Dan mengapa ia seolah-olah selalu hadir disetiap detik hidupnya?

Mereka masih turun dihalte yang sama, dan Luhan mencoba untuk menjaga jaraknya dengan Sehun. Xiumin sang sahabat Luhan sudah menunggu didepan gerbang sekolahnya dengan senyuman cerah dan imutnya kearah Luhan yang terlihat cukup jauh.

"Lu-ge!" Teriaknya dengan semangat dan melambaikan tangannya. Luhan tersenyum dan menghampirinya dengan cepat.

"Tidak biasanya kamu menjemputku di gerbang, ada apa?" tanya Luhan dengan senyuman semanis gadis kecil tersebut.

"Aku- sudah putus dengan Chen." Ucapnya dengan senyuman cerahnya. Tentu saja Luhan menghentikan langkahnya dan menatap kearah Xiumin.

"Mengapa? Apa ini tidak menyiksa perasaanmu?" tanya Luhan dengan nada khawatirnya.

"Tidak kok, aku akan semakin tersiksa saja kalau masih melanjutkan hubunganku dengannya, aku benci sikapnya yang masih takut kehilangan penggemarnya karena aku." ucap Xiumin sembari merangkul sahabatnya.

"Kau telah menemukan jalan terbaik yang menurutmu benar, aku mengerti perasaanmu kok." Luhan tersenyum serta membalas rangkulan sahabatnya dan berjalan bersamanya seiringan tawanya.

.

.

.

.
Annyeong ^^

Mianhae ya update malam-malam dengan cerita yang membosankan dan juga banyak typo *yang kemarin juga.

Ciye pada bingung sama tingkah Sehun~

Makasih yang udah review, seneng kok bacanya. Jangan bosan mereview yaa hehehe

Review, please? ^^