.
.
.
Lu In Love!
Yaoi, Boy x Boy, BL
By : Styli
.
.
.
Bel belum berdering, Luhan telah berpisah dengan Xiumin dari persimpangan kelas yang berbeda. Luhan telah sampai dikelasnya, ia mengambil posisi duduknya seperti biasa saat ini. Hanya saja ada yang berbeda, Baekhyun terlihat lemas tidak seperti biasanya, bahkan ia menatap Luhan dan tersenyum sebentar. Luhan terdiam bingung dan hanya membalas senyuman itu dengan tatapan sulit dimengerti.
Dan Chanyeol tiba, dengan segera ia menghampiri meja Luhan dan melewatkan Baekhyun begitu saja. Itu cukup mengerikan untuk Luhan dan menyedihkan untuk Baekhyun, lalu Chanyeol tersenyum menyeringai kearahnya.
"Wae?" tanya Luhan dengan tatapan tidak suka melihat kearah laki-laki bertubuh tinggi dihadapannya.
"aku ingin duduk disebelahmu, bisa kau bergeser?"
"Tidak." Luhan menggeleng kecil.
"Duduk saja dengan Baekhyun, bodoh!" Luhan berteriak kecil ketika Chanyeol melempar tasnya ke bangku kosong disebelah Luhan.
Baekhyun hanya terdiam dan tersenyum sambil menundukan kepalanya. 'Aneh, sebenarnya ada apa? Apa mereka putus karena ku?' ucap Luhan dalam hatinya. Chanyeol menarik lengan Luhan yang sedang terduduk manis sembari menatapnya dengan tatapan bingungnya. Setelah Luhan berdiri karena tarikannya, Chanyeol segera melepasnya dan duduk disebelah bangku Luhan- tepatnya di sudut tembok dan menarik Luhan untuk duduk disampingnya.
Luhan masih menatap Baekhyun dari belakang dengan tatapan bingung dan iba-nya. Sungguh Chanyeol benar-benar tega memainkan perasaan Baekhyun yang tulus dengannya. Jika dipikir, mana ada orang yang mau berpacaran dengan orang gila sepertinya.
.
.
Istirahat telah tiba, Luhan dengan segera menjauhi Chanyeol dan berjalan dengan cepat meninggalkan kelasnya. Yah, Chanyeol tidak akan mau melepaskan Luhan begitu saja. Dengan secepat kilat, ia menghampiri Luhan dan mensejajarkan langkahnya agar bersamaan dengan Luhan.
"my little-deer, mau makan apa hari ini?" Chanyeol menghentikan langkahnya dengan berdiri dihadapannya.
"Minggirlah, murid disini pasti akan berfikir aku yang merusak hubunganmu." Luhan tidak mau menatap wajah laki-laki dihadapannya dan membelokan langkahnya.
Seakan tak mau Luhan menjauh darinya, Chanyeol menarik paksa lengan Luhan yang baru saja ingin meninggalkannya dan membawanya pergi dari arah berlawanan.
"Ap-apa yang mau kau lakukan?! To-tolong!" Luhan dengan sekuat tenaga melepas cengkraman tangannya pada lengan dari laki-laki tinggi yang menurutnya sudah 'gila' tersebut dan berteriak seakan ada orang lain mau menolongnya. Tetapi semua percuma, Chanyeol hanya mencengkramnya makin kuat saja dan tidak ada satupun yang mau menolongnya, mereka hanya menatap Luhan saja sepanjang Luhan ditarik oleh laki-laki tersebut. Mereka sampai disebuah tempat yang cukup dikenal Luhan, dan Chanyeol mendorongnya dengan kuat ke dalam ruang gudang sekolahnya.
BRAKKK!
Pintu tersebut tertutup oleh tangan Chanyeol yang dengan sengaja membantingnya dengan keras.
"Kau membuatku jengah juga ya. Apa kau tahu perjuanganku untuk putus dengan Baekhyun bagaimana?" tanya Chanyeol dengan tetap mencengkram tangan Luhan dengan tatapan amarahnya, membuat Luhan bergetar kecil karena takut.
"Aku tidak pernah memintamu putus dengan Baek! Dan dengar Chanyeol, kau adalah seseorang yang paling menakutkan dalam hidupku melebihi rasa takutku dengan ketinggian." Luhan memaksakan kehendaknya untuk melawan Chanyeol yang semakin gila saja.
"Katakan padaku, kau menyukaiku." Chanyeol semakin mencengkram lengan Luhan dan mendorong bahu Luhan untuk memundurkan langkahnya ke sudut tembok, tepat dimana Luhan sudah tidak bisa meloloskan diri lagi. Cengkramannya sungguh membuat Luhan terluka dan meringis.
"Argh-!" desis Luhan, bahkan ia memejamkan matanya karena sungguh Chanyeol sudah menguncinya dengan lengannya yang menyudutkan dirinya di sudut tembok.
"Sekarang- aku ingin mendengar kata cinta dari mulutmu." Chanyeol berdesis pelan, mendekatkan wajahnya dan berhenti tepat didepan bibir Luhan, dan hampir saja menyentuhnya.
Dengan gerakan yang gusar, Luhan menendang tulang kering dibetisnya dengan sekuat tenaga. Itu membuat Chanyeol tersungkur dan meringis kesakitan, Luhan berjalan cepat dengan kaki bergetar. Ia tidak sanggup jika harus berlari. Chanyeol yang tersungkurpun menyeringai dan memaksakan dirinya untuk berdiri menahan lengan Luhan.
Krekk!
"CHANYEOL!" Seorang wanita paruh baya yang dikenal sebagai kepala sekolahnya segera membuka pintu tersebut dan menatap kearah Chanyeol dengan tajam dan terkejutnya. Tentu tidak sendirian, ia bersama seorang laki-laki tinggi dan tampan dibelakangnya.
Chanyeol segera melepas cengkramannya, dan Luhan dengan segera tersungkur dilantai, bercak darah berjatuhan dari hidung mungilnya. Bahkan penglihatannya pun menjadi samar-samar, ia dapat mendengar dengan samar orang-orang disekelilingnya.
"Luhan- kau baik-baik saja?" tanya seseorang yang terdengar samar sebelum ia benar-benar terpingsan dari posisinya saat ini.
.
.
Luhan membuka matanya dengan berat, ia menatap keseliling ruangan, kepalanya begitu sakit ketika ia mencoba memaksa matanya untuk terbuka dengan lebar.
"Lu!" suara sahabatnya dengan segera terdengar jelas ditelinganya.
"Kyungsoo-" ucap Luhan lirih.
"Lu-ge!" dan satu sahabatnya lagi.
"Xiumin- bagaimana bisa kalian disini dan mengapa aku disini?!" tanyanya ketika sadar sekarang ia berada dirumah sakit.
"Tadinya aku mau membawa mu ke UKS, tetapi Sehun bilang kau harus dilarikan ke rumah sakit" ucap Xiumin.
"oh. Apa?! Sehun?!" tanyanya dengan nada kagetnya.
"Iya dia yang memberitahu kepala sekolah bahwa Chanyeol memaksamu ke gudang untuk melakukan hal buruk."
"heh? Bagaimana ia bisa tahu?" tanya Luhan dengan nada pelan.
"Pokoknya, aku akan satu sekolah bersamamu. Aku sudah mendaftarkan diriku disana, agar aku bisa bersamamu!" Bentak Kyungsoo.
"Astaga, aku lupa mengenalkan kalian. Kyungsoo kenalkan dia Xiumin sahabatku disekolah.." Luhan tersenyum kearah mereka, dan mereka berjabat tangan untuk saling mengenal.
"..Dan kenalkan, dia Kyungsoo sahabatku dari cina, walaupun dia asli warga Korea sih kkkk." Luhan tertawa kecil sembari menatap mereka.
.
Mereka berdua telah lebih pulang dahulu, Luhan lah yang meminta mereka, karena Luhan juga akan segera pulang beberapa jam lagi. Dan sekarang, Luhan telah sendiri diruangannya dan menatap langit-langit diruangannya tersebut. Tiba-tiba terlintas wajah Sehun dipikirannya.
"Bahkan dia tidak mau dekat denganku tadi pagi, bagaimana bisa ia menyentuhku dan menolongku?" ucapnya dengan tampang polosnya.
"Tapi- dia menolongku ya? Dia selalu hadir dan membawa kejutan-kejutan singkatnya. Ini benar-benar aneh." Ucapnya sembari menaikan sudut bibirnya dan tersenyum merona.
Krekk-
Pintu terbuka, suara itu terdengar oleh Luhan. Seseorang berpakaian dokter itu segera menghampirinya dan tersenyum kearahnya.
"Luhan, apa sakitnya membaik?" tanya dokter tampan dihadapannya, membuat Luhan menarik senyumnya sehingga wajahnya tertarik membentuk eyesmile dihadapan sang dokter.
"Syukurlah, aku dibawa kerumah sakit ini. Aku jadi bertemu Seok Jin-ssi dan kabarku sudah membaik."
"Hahaha, kau bisa saja Luhan. Tadi ada seorang pria tampan yang menggendongmu kesini, dia terlihat panik." Luhan yang mendengar perkataan sang dokter segera membolakan matanya dengan cepat.
"Ciri-cirinya seperti apa dok?" tanya Luhan dengan nada seriusnya.
"Aku tidak begitu melihatnya, sepertinya dia tampan, tinggi dan memiliki badan yang athletis-"
"-Dan satu lagi, dia mengetahui penyakitmu Luhan." Luhan segera bangkit dari posisinya dan meringis sebentar.
"Luhan kamu tidak perlu memaksakan dirimu untuk bangkit, berbaringlah."
"Bagaimana ia tahu penyakitku? Apa kau memberitahunya?" Luhan benar-benar terkejut saat ini. Jawaban dokter hanyalah menggeleng kecil.
.
.
Luhan keluar dari taxi, menatap kearah sekitar daerah kontrakannya dan menghela nafasnya. Ia membuka kamar kontrakannya dengan wajah yang tenang, karena rasa sakitnya sudah membaik. Ia merebahkan tubuhnya diatas sofa yang selama ini membuat tubuhnya nyaman. Ia menatap kearah televisi dengan tatapan kosong dan mengingat perkataan dokter tersebut.
"Dia benar-benar khawatir padamu, lalu menanyakan 'apakah penyakitmu bisa dilakukan dengan semacam pengobatan?' Aku sempat terkejut karena ternyata dia mengetahui hal tersebut. Aku belum menjawab, tetapi dia meninggalkan ruangan ketika kedua temanmu yang lain datang."
Luhan terdiam dan terasa kaku, dirinya benar-benar terasa sudah terbawa oleh suasana yang menghanyutkan dirinya di keadaan yang membingungkan dan menggelisahkan.
"Bagaimana dia tahu sih? Bahkan orang tuaku saja tidak tahu tentang ini. Bagaimana jika dia memberitahu orang lain?" Luhan memijat keningnya yang terasa sudah mulai pusing.
"Ayolah Luhan, jangan dipikirkan. Ini hanya membuatmu tersiksa" Luhan mengerutkan dahinya dan menghela nafasnya dengan panjang.
.
.
Matahari pagi telah menyambut sosok Luhan yang baru saja bangkit dari kasurnya. Ia memijat keningnya pelan, entah mengapa ia masih merasa pusing. Luhan tetap membangkitkan tubuhnya dan membasahi tubuhnya dinaungan rintikan air dari shower dikamar mandinya.
'aku harus berbicara dengannya' batinnya.
.
Ia berjalan keluar dengan seragam sekolahnya yang lengkap, tidak lupa juga dengan wajahnya yang masih memucat. Berharap tiba-tiba Sehun memunculkan jejaknya dari perbelokan dimana biasa mereka bertemu. Tetapi Luhan tidak sama sekali melihat pria tampan dengan dagu lancipnya, Luhan benar-benar tidak kuat. Ia harus segera menemui Sehun, tetapi bahkan dia tidak tahu dimana rumah Sehun.
"Apa mungkin dia sudah berangkat terlebih duluan?" Luhan menggerutu sendiri sambil melangkahkan kakinya menuju halte.
"Se..hun" dapat dengan jelas Luhan melihat Sehun dari kejauhan dengan manik mata hitamnya yang tajam. Luhan memanggil kecil namanya dan dengan segera menghampirinya.
Sehun menatap kearah Luhan yang berjalan sangat pelan- seperti menyesakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Bahkan hanya jalan beberapa langkah Luhan sudah mengeluarkan keringat dinginnya dan wajahnya yang pucat.
"Ada apa?" Sehun tidak melangkahkan kakinya untuk sekedar membantu Luhan yang berjalan begitu lemah, dia hanya menatap Luhan dari sisi halte dan berbicara dingin dengannya.
"Aku- ingin berbicara sesuatu padamu." Luhan berjalan dan berhenti dihadapan Sehun yang masih mematung pada posisinya.
"Bicara saja." Sehun memalingkan wajahnya.
"Kau- kemarin yang membawaku kerumah sakit?"
"Iya."
"Apa kau mengetahui penyakitku dan menanyakan hal itu pada dokter-?"
"Iya."
"Kamu tahu dari mana? Apa kita pernah bertemu se-"
Belum Luhan melanjutkan pembicaraannya, seorang wanita tiba-tiba lari dan berhenti dihadapan Sehun. Tentu saja Luhan terlonjak kaget melihat gadis manis dihadapannya yang jelas-jelas dikenalnya.
"Yoona?" Luhan mengernyit bingung menatap gadis yang jelas ia kenal.
"Omo- Luhan sunbae. Apa kalian tinggal berdekatan?" ucap adik kelas itu menatap lawan bicaranya.
"hmmm-" jawaban Luhan hanya menyingkat dan mengangguk pelan.
"Oia- Maafkan aku telat oppa." Yoona tersenyum dan
"Lu-sunbae, aku berpacaran dengan Sehun oppa. Jangan beritahu siapapun ya tentang ini." Pernyataan yang keluar langsung dari bibir si gadis dancer disekolahnya membuat Luhan membuka matanya dengan lebar.
"emm, Sunbae apa kau baik-baik saja? Wajah-mu memucat? Apa kau yakin kesekolah dengan wajah yang memucat tersebut? Astaga aku ingat! Kemarin Chanyeol yang membuatmu seperti ini ya?" tanya Yoona dengan nada yang panjang.
"Kurasa aku harus pulang. Aku benar-benar pusing." Tanpa menjawab apapun, Luhan membalikan tubuhnya dan meninggalkan mereka kearah dimana jauh dari halte tersebut.
.
.
.
.
Sehun kejem ya?
Masa Luhan sempoyongan ga dibantu? :v
Sorry udah ga fast update dan ceritanya ga jelas~
Sinyal ga mendukung soalnya kekekek :3
.
Thanks for Review Chagii~
Jchoi18, melaty, Nurul851 II, auliaMRQ, bijin YJS, ohluhan07, tjabaekby, Arifahohse, Eunmi762, hunexohan.
Di tunggu review selanjutnya, makin banyak review makin fast up *canda tapi beneran tapi candaan :3
Mian kalo banyak typo bhaks~
Mind to review? :p
