Hai, hai, Gomen ne... Kebanyakan review dari kalian masuk ke emailq... jadi mumpung lenggang aq akan jawab review kalian yang masuk ke emailq..^^
Aiichan : reviewmu masuk ke email, iya nanti naru nikah tapi masih lama, soal pair ikutin ficnya aja ya? , Akasaka kirachiha : Hehe... aku emang mau nyiksa sasu*dichidori sasukeT.T , Guest : untuk fic ini mungkin emang rencananya aq mau nambahin lemon tapi belum nemu feel yang pas, jadi rate-nya mungkin nanti aku ganti M, En : Arigatou ne XD, NaruSasu : Hmmm... -.-*menimbang-nimbang, DobeTeme-chan : Hngg... soal pair ikutin ficnya aja ya , Ariza Shouta Ryuuji : Ceritanya berkaitan di chapter depan nanti..., Iko Nacht : Ok boss ^^*, DrackYellow : Arigatou3 *bungkuk-bungkuk* Lanjut kox... , Blackknightskyeye : Arigatou ne.., Rannada Youichi : Ok bozz*
Arigatou ne mina-san, ... Happy reading!
.
.
.
SHACKLES
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NejiSasu, NaruSasu
Genre : Romance and Hurt/Comfort
Warning! : BL, Shounen-ai, Shoujo, OOC, death chara, action, Gaje
'
.
.
Chapter 3
.
.
.
.
Suasana pagi paska perang dunia Ninja itu telah merileks, tidak ada ketegangan, tidak ada ketakutan. Masih di tempat yang tidak jauh dari pusat perang Juubi dan kelompok Naruto bertarung dulu, tenda medis dan tenda-tenda khusus lainnya berdiri tegak disana. Tenda-tenda itu berada di tengah hutan lebat, dijaga oleh para jounin gabungan di setiap sudut. Beberapa tenda besar juga dibangun khusus untuk para Kage dan orang-orang penting lainnya.
Salah satu tenda besar telihat ramai, banyak yang berkumpul di sana. Kebanyakan berasal dari Konoha. Mereka duduk di ruangan yang disediakan bersama. Kakashi berdiri bersandar di sisi meja yang terletak di sisi ruangan bersama Iruka, Sai dan Yamato. Gay dan kedua anak muridnya, Lee dan Ten Ten duduk berdampingan dalam satu kursi panjang bersama Hanabi dan Hiashi. Shino dan Shikamaru, berdiri mengamati suasana luar tenda dari jendela tenda. Kiba duduk beralas tanah bersandar di tubuh Akamaru yang terbaring di belakangnya bersama Choji. Sedang Hinata berdiri bersisian dengan Neji yang bersidekap memejamkan mata.
Di lihat dari wajah mereka, terukirlah ekspresi murung, cemas, gelisah, dan berusaha bersikap tenang. Mereka menunggu hasil pemeriksaan dari kedua orang yang berada di ruangan medis paling dalam dari tenda itu. Dua orang yang berjuang untuk melanjutkan hidupnya.
Di ruangan besar berisi peralatan medis lengkap terbaringlah dua tubuh berbeda paras di dua ranjang yang saling bersisian. Tubuh mereka terkulai lemas dengan beberapa perban yang membalut di sebagian tubuhnya. Dua wajah berbeda warna kulit itu pucat dihiasi beberapa goresan luka. tidur damai dan tenang.
Pemuda berambut matahari tertidur damai dengan alat bantu pernafasan yang menghias di wajahnya, di sisi ranjang terdapat infus dan alat pantau detak jantung. Sedang seorang lagi tertidur tanpa alat bantu apapun. Hanya infus yang menggantung di sisi ranjang yang metancap di pergelangan tangannya.
Empat orang perempuan duduk berhadapan dalam diam di ruangan yang sama. Beristirahat sejenak setelah kegiatan melelahkan yang mereka lakukan selama 3 hari tanpa henti. Merawat dua orang itu tentu saja.
"...bagaimana sekarang?" bisik Sakura lirih. Wajahnya tertunduk dalam sambil menggenggam gelas di tangannya erat.
"...Sakura..." Ino mengelus lembut lengan kiri sahabat yang duduk di sebelahnya.
Tsunade yang duduk di depan mereka menghela nafas lelah, sungguh masalah ini membuatnya frustasi. "...Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang..."
Shizune menoleh pada Tsunade di sampingnya.
"Kita hanya bisa menunggu dan memantau perkembangan mereka. Terutama Sasuke..." lanjut Tsunade.
Seketika Sakura mengangkat wajahnya menatap Tsunade. "Naruto akan baik-baik saja, tapi keadaan Sasuke tidak wajar. Jantungnya tidak berdetak, bahkan dia tidak bernafas! Kita harus segera lakukan sesuatu!" ujarnya dengan suara tinggi.
"Lalu apa? Kau sendiri tidak tahu caranya apalagi kita, Sakura! Tenanglah!" balas Tsunade tidak kalah tinggi.
Sakura kembali menunduk. Tangannya terkepal gemetar. Takut dan bingung. Ino sedih melihat sahabatnya saat ini. Dia tahu jika Sakura sangat khawatir dengan keadaan Naruto dan terutama Sasuke. Karena setelah pemeriksaan, Sasuke tidak menunjukkan tanda-tanda 'kehidupan'.
"Tenanglah Sakura, mereka akan baik-baik saja..." hiburnya.
Tsunade beranjak dari duduknya, berjalan menuju ranjang tempat Sasuke terbaring. Dipandanginya tubuh yang lebih kecil dari Naruto itu sambil terdiam. Sungguh keadaan Sasuke tidak wajar sekarang. Dari gerakan cakra, Sasuke 'hidup' tapi seperti 'mati'.
'Apa yang harus aku katakan jika bocah rubah itu tahu keadaan Sasuke saat bangun nanti?' innernya resah.
Tanpa sadar Tsunade mengulurkan tangannya membelai rambut raven Sasuke yang kusam. Entah kenapa dia merasakan perasaan simpati pada bocah Uchiha terakhir itu bila sudah berkaitan dengan Naruto.
'Sasuke adalah Saudaraku yang berharga meski dia membenciku'
kata-kata Naruto itu selalu tergiang di kepala Tsunade tiap kali menatap Sasuke. Tapi apa Sasuke juga beranggapan sama pada Naruto?
Sekilas Tsunade teringat waktu memeriksa keadaan Sasuke, dia melihat tato bergambar 9 Tomoe hitam melingkar di kulit dada kirinya. Tsunade memperhatikan dada Sasuke yang tertutup perban, hingga tidak bisa melihat tanda itu.
'Tato apa itu? Segelkah?' batinnya.
.
.
.
.
.
Para penunggu di depan ruangan tempat Naruto dan Sasuke dirawat itu terkejut, waktu melihat Tsunade keluar dari ruangan dalam bersama Sakura dan Ino. Mereka segera berdiri tegak dan menghampiri sang Hokage.
"...Bagaimana?" Iruka memberanikan diri bertanya pada Tsunade. Sungguh dia yang paling ingin tahu keadaan Naruto yang sudah dianggap anaknya sendiri.
Tsunade terdiam sesaat, menghela nafas. "Keadaan Naruto baik-baik saja, walau terluka parah dia akan cepat pulih berkat cakra Kyuubi. Hanya perlu istirahat sebulan penuh sebelum aktif kembali," katanya tersenyum.
Semua yang mendengarnya bernafas sambil tersenyum lega sekaligus senang. Pahlawan mereka telah melewati masa kritisnya. Kakashi dan Iruka berlahan merileks karena sedari awal tegang mengenai keadaannya.
"...Lalu, bagaimana dengan Sasuke?"
Suara bariton pemuda mengalihkan perhatian semua orang yang berdiri di ruangan itu. Mata mereka tertuju pada pemuda bertubuh tinggi kekar berdiri di ujung ruangan berdampingan dengan sepupunya. Ekspresi pemuda itu memperlihatkan keseriusan. Hyuuga Neji.
Mendengar pertanyaan itu, Sakura menunduk dalam. Jemarinya gemetar terkait erat. Ino kembali mengelus lengan Sakura menenangkan.
"..." Tsunade terdiam, menimbang apakah harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"Tsunade-sama, bagaimana keadaan Sasuke?" Kakashi bertanya, hampir saja dia lupa dengan Sasuke karena mendengar kondisi Naruto barusan.
"... Aku tidak bisa menjelaskannya..." jawab Tsunade pada akhirnya.
Kakashi tercengang, "Apa maksudmu?"
Tsunade kembali terdiam. Matanya melirik Sakura disampingnya. Merasa Tsunade meliriknya, Sakura menjawab tanpa mengangkat wajahnya.
"... Sasuke... dia koma..."
Gumaman Sakura barusan membuat mereka melebarkan mata. Tubuh Kakashi langsung meringsut mundur, hingga ditahan oleh Yamato di belakangnya. Shock. Terkejut setengah mati, Mantan murid yang disayanginya, Koma?
Tubuh Neji menegang mendengar penuturan Sakura. Wajahnya mengeras, giginya bergemelatuk. Tangannya terkepal erat. Kata-kata barusan benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Tapi dia tidak menunjukkannya di hadapan orang lain. Hinata menatap Neji sendu, dia tahu bagaimana perasaan pemuda itu. Pasti sakit jika mengetahui keadaan pujaan hatinya yang memburuk.
Ya, Neji mencintai seorang Missing-nin bernama Uchiha Sasuke. Perasaan tidak wajar, cinta sesama jenis. Dia tidak peduli apa tanggapan orang lain yang mungkin tahu perasaannya ini. Baginya Sasuke adalah satu-satunya alasannya berjuang. Dia tidak akan mundur walau tahu perasaan pemuda itu bukan untuknya, tapi untuk pahlawan mereka. Uzumaki Naruto.
"...Dia pasti akan baik-baik saja..." bisik Hinata kecil, menggenggam tangan Neji yang terkepal, berusaha menenangkan.
Tsunade menghela nafas berat, reaksi seperti ini tentu terjadi. Apalagi dirinya dan Sakura yang memeriksa kondisi uchiha terakhir itu. "Aku akan ke tenda Kage dengan Shizune. Sakura, tetaplah di sini bersama Ino merawat mereka. Bila ada sesuatu segera panggil aku."
Ino mengangguk menggantikan Sakura yang masih setia tertunduk dalam.
"Neji, kau ikut denganku. Ada yang ingin kami bicarakan padamu," perintah Tsunade menatap Neji.
Neji mengangkat wajahnya. Dengan wajah dingin dia mengangguk.
.
.
.
.
.
Malam meraja kembali. Membawa suasana gelap dan angin dingin. Api unggun di beberapa tempat dalam lingkungan tenda itu menyala sebagai pengganti penerangan. sebagian ninja gabungan mulai tertidur, mengistirahatkan tubuhnya. Sebagian lagi berjaga. Tapi sepertinya tidak bagi beberapa manusia yang masih terjaga di dalam tenda besar ini.
Mereka, Kakashi, Iruka, beserta Hinata dan Hiashi masih berada di dalam tenda tempat Naruto dan Sasuke dirawat. Duduk berseberangan. Tsunade mengatakan jika Naruto sudah di pindahkan di ruangan berbeda. Karena keadaan Naruto yang cukup membaik, dia dipindahkan ke ruang rawat biasa, sedang Sasuke masih berada di ruang khusus untuk dipantau perkembangannya lebih lanjut. Tapi Tsunade malarang, untuk tidak menjenguk dulu sebelum ada perintah.
Iruka agak heran, kenapa keluarga Hyuuga masih di sini. Padahal mereka sama sekali tidak berhubungan dekat.
"Anoo..., Hiashi-san.." Hiashi yang merasa dipanggil, mengangkat wajahnya memandang Iruka di hadapannya.
"Ya, ada apa?"
"Aah, tidak, hanya heran. Tidak biasanya aku melihat anda sekalian mau menunggu Naruto dan Sasuke." jawab Iruka canggung.
Hiashi terdiam sesaat, sebelum membalas, "...Yaah, aku hanya menemani anakku yang ingin menunggui mereka." tersenyum sambil menengok Hinata di sampingnya.
"A-aku masih ingin menunggu Naruto-kun..." jawab Hinata menunduk gugup.
Iruka tersenyum, "Arigatou, tapi kau tidak perlu memaksakan diri. Dia akan baik-baik saja. Kau bisa istirahat kalau mau,"
"Ti-tidak apa-apa, karena kami juga ingin menunggu Sasuke," kata Hinata mengangkat wajahnya. "Bo-bolehkah?"
Kakashi terkekeh kecil, semenjak tadi dia hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka, "Tidak apa-apa, kami malah senang. Kau tidak perlu gugup begitu Hinata." katanya menyipitkan kedua matanya yang tidak tertutup ikat kepala Konoha.
Iruka mengangguk, membenarkan. "Kemana Hanabi?" tanyanya ketika tidak melihat bungsu Hyuuga bersama mereka.
"Hanabi kembali ke tenda bersama Ten Ten, lelah mungkin." jawab Hiashi.
"Hmm, tadi juga Neji dipanggil Tsunade-sama. Apa itu ada kaitannya dengan penguasaan jutsu elemen air Neji?" Kakashi menduga.
"Aku kurang tahu, tapi mungkin saja iya. karena selama ini di Klan kami tidak ada yang memiliki jutsu elemen itu selain Byakugan." jawab Hiashi kembali.
"Elemen air jarang ditemukan pengendalinya di Konoha, wajar jika Tsunade-sama tertarik. Apalagi pengendalinya keturunan Hyuuga." Kakashi berpikir sejenak. "Gay sampai tidak tahu kemampuan Neji. Jadi dari mana Neji mempelajarinya?"
"K-kami tidak tahu. Kami baru pertama melihat, sa-saat Nii-san melakukannya tadi." Hinata menjawab lalu memandang Hiashi, meminta kebenaran.
"Benar, aku bahkan belum pernah melihat dia menggunakannya." Hiashi mengangguk.
Mendengar itu, Kakashi terdiam. Dia berpikir, 'apakah Neji melihat gulungan jutsu elemen air dan es yang ada di negeri Kabut? Tapi bagaimana Neji bisa menemukannya?' batinnya bertanya.
Keheningan itu berlangsung singkat, ketika tirai tenda dibuka. Mereka terkejut melihat kedatangan Orochimaru yang masuk beserta tiga anak buahnya, Suigetsu, Juugo, dan Karin.
Kakashi berdiri tegak dari duduknya memandang orochimaru tajam. "Ada apa kau kemari?" tanyanya dingin.
Orochimaru menyeringai, "Seperti biasa. Kau dingin sekali padaku, Kakashi."
Iruka ikut berdiri di samping Kakashi, disusul Hinata dan Hiashi.
"Jika kau datang untuk mengganggu, keluarlah dari sini!" ujar Iruka menekan. Jujur, dia masih belum percaya pada pria ular itu meski sudah membantu memenangkan perang.
"Tidak sopan, kami tidak ada maksud apa-apa, tahu. Kami hanya mau menjenguk Sasuke." balas Suigetsu kesal.
Kakashi berjalan menegahi ruangan, "Maaf. Sayangnya aku tidak akan mengijinkan kalian lewat. Naruto dan Sasuke harus istirahat total." ujarnya dingin masih menatap tajam.
"...Apa?! Hei, kami...!"
"Hentikan Karin, jaga emosimu," potong Orochimaru melirik karin.
"Huuh, itu salahmu sendiri lho. Kalau ada apa-apa dengan Sasuke, aku tidak akan membantu karena sudah kau larang." Karin mendengus sebal. 'Walau sebenarnya aku akan tetap menolongnya, sih.' inner Karin berlawanan dengan perkataannya tadi.
Kakashi menaikkan sebelah alisnya, "Apa maksudmu?"
"Begitulah, kami datang karena Tsunade memintaku dan Karin untuk memeriksa kondisi Sasuke. Kau bisa tanya langsung padanya." jawab Orochimaru enteng.
"...Kenapa ha.."
"Benar Kakashi-sensei, aku sudah diberi tahu Tsunade-sama. Katanya mungkin Orochimaru bisa membantu." Ucapan Kakashi terpotong ketika Sakura keluar dari dalam. Dia berdiri di sebelah Kakashi.
"Kau dengar sendiri, 'kan?" Orochimaru menyeringai tipis.
Kakashi menatap Orochimaru kembali. Dia sungguh tidak ingin Sasuke disentuh lagi oleh pria ular di hadapannya sekarang. Tapi jika itu perintah Hokage langsung, apa daya. Mungkin benar, Orochimaru bisa membantu. Karena dia pernah bersama Uchiha terakhir selama beberapa tahun terakhir.
"...Baiklah. tapi aku akan ikut bersamamu." katanya pada akhirnya.
"Silahkan, tuan pengawas." ucap Orochimaru menyindir.
.
.
.
.
.
Tenda Kage itu dikelilingi para Jounin gabungan, berjaga agar tidak ada orang yang masuk sembarangan kecuali ada ijin khusus dari Kage. Tenda besar itu terletak menyendiri dari lingkungan tenda para ninja gabungan berada. Seolah memberitahukan bahwa daerah itu adalah lingkungan khusus untuk para Kage.
Di dalam Tenda itu terdapat ruangan luas yang diisi dengan meja berbentuk setengah lingkaran, lengkap dengan kursi Kage. Para Kage dari 5 desa besar ninja duduk didampingi asisten mereka yang berdiri di belakangnya. Di hadapan mereka berdiri pemuda keturunan Hyuuga yang dipanggil secara khusus, Hyuuga Neji.
"Jadi, bisa kita mulai?" kata Mizukage memecah keheningan yang sedari tadi terjadi. "Kasihan lho, membiarkan pemuda tampan ini berdiri terus dari tadi." Godanya.
Asisten Mizukage dibelakangnya menghela nafas lelah dengan tingkah laku sang pemimpin yang tidak berubah.
"Kau benar-benar suka menggoda, ya." Raikage mendengus.
"Hahaha... jangan heran Raikage, dia memang begitu," Kage paling tua itu tertawa, Tsucikage.
"Karena aku suka pemuda tampan," lanjut Mizukage tersenyum manis. Raikage sedikit merona melihatnya.
"Ehem...tolong segera mulai saja," Gaara berdehem kecil.
"Baiklah, pemuda Hyuuga..." Raikage memulai, menatap langsung Neji.
Neji menggangguk sekilas, tanda dia mendengarkan.
"Kau pasti tahu, mengapa kami memanggilmu kemari."
"...Ini berkaitan dengan jutsu elemen airku, 'kan?" tanya Neji tenang.
"Benar yang ingin kami tahu adalah, darimana kau mempelajarinya? Jutsumu hampir setara dengan milik Nadaime Hokage." Mizukage menambahkan.
"Tentu juga kami bisa melihat elemen airmu yang mengalir cakra Yin dan Yang aliran Hyuuga." lanjut Tsunade.
Neji terdiam sejenak, "... Aku mempelajarinya dari gulungan air dan es yang kutemukan di negeri Kabut."
"Negeri Kabut? Tempat ketujuh ahli pedang tinggalkah?" Gaara bertanya.
"Benar..."
"Mustahil. Terakhir kali aku ke sana, gulungan-gulungan jutsu di negeri Kabut sudah dihancurkan. Dan itu terjadi 4 tahun yang lalu," kata Raikage. Tsucikage mengangguk membenarkan.
"... aku juga mempelajarinya 4 tahun lalu," ucap Neji mengakui.
"Apaa?" Tsunade terkejut, "Jadi kau ada di sana waktu kekacauan itu terjadi? Apa yang kau lakukan di sana?!" tanyanya gusar.
"Anda memberiku misi rangking C di sekitar desa negeri itu, Tsunade-sama." Jawab Neji tenang. "Waktu itu aku terluka saat misi dan terpisah dari kelompokku. Aku ditemukan salah satu warga yang ternyata adalah mantan tetua dari negeri itu. Lalu dia merawatku dan memberiku gulungan jutsu elemen itu." jelasnya.
"Tetua?" Tsucikage mengangkat alis.
Neji mengangguk, "Sayangnya dia sudah meninggal saat kekacauan itu terjadi."
"Lalu, kau mempelajarinya sendiri?" tanya Mizukage.
Neji mengangguk kembali.
"Kenapa kau tidak menunjukkannya pada kami? Padahal dengan kemampuanmu, kau bisa menjadi Jounin tingkat elit." Tsunade mendengus.
"Sayangnya aku tidak tertarik. Aku mempelajarinya karena suatu alasan..." ujar Neji mengelak.
"Alasan?" Raikage menimbrung.
Neji tidak menjawab, dia terdiam hingga ruangan menjadi hening.
Tsunade menghela nafas, "Hhh, terserah jika kau tidak ingin mengatakannya. Itu hakmu. Kau boleh kembali sekarang."
Neji menunduk singkat, bermaksud berterima kasih. Kemudian dia melangkah pergi keluar dari ruang Kage itu. Tapi sampai di ambang pintu, langkahnya terhenti.
"Neji, aku ingin kau menjaga tenda tempat Naruto dan Sasuke dirawat." perintah Tsunade.
Neji berbalik dan mengangguk hormat, lalu melanjutkan langkahnya.
"Jadi, bagaimana keadaan bocah rubah dan bocah Uchiha itu sekarang?" tanya Tsucikage setelah Neji menghilang dari pandangan mereka.
"...Naruto baik-baik saja, jantungnya sempat melemah karena tertembus saat bertarung tadi. Tapi lukanya berangsur membaik berkat cakra Kyuubi. Walau masih belum sadar, aku yakin dia akan pulih dalam 2 minggu." Terang Tsunade.
"Dan Uchiha Sasuke?" Gaara bertanya.
Tsunade menoleh, menatap Gaara. Dia tampak ragu menjelaskan. Tapi jika tidak, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Buntu, dia perlu bantuan. Tsunade belum pernah menangani kasus seperti yang di alami Sasuke sekarang. Namun sebagai ninja yang berasal dari Konoha meski status Sasuke Missing-nin, Hokage harus bisa mengatasi masalah ini sendiri.
"...Uchiha Sasuke selamat, tapi dia seperti 'mati'," ungkap Tsunade.
"Apa maksudmu?" Raikage menyerngitkan alis tidak mengerti.
Tsunade mengaitkan jemarinya di atas meja, "...Uchiha Sasuke...koma.."
Akhirnya Tsunade memutuskan memberi kabar itu tanpa mengatakan yang sebenarnya, karena ini adalah masalah desanya.
Raikage menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, "Yaah, wajar saja karena lukanya yang parah. Bisa selamat pun keajaiban."
"Keturunan Uchiha 'kan kuat," Mizukage tersenyum. Menumpukan dagunya di punggung tangan.
"Kira-kira berapa lama keadaan itu berlanjut?" tanya Tsucikage.
"Aku tidak yakin, itu tergantung dirinya sendiri. Mungkin beberapa hari atau minggu ke depan," jawab Tsunade.
"...Baiklah, kita akan menunggu. Sampai dia sadar nanti, kita akan memikirkan apa hukuman yang tepat untuknya." putus Raikage. "Kita tidak akan memberikan keringanan padanya walau dia sudah membantu memenangkan perang. Karena perbuatannya selama ini adalah salahnya juga." katanya melirik Tsunade.
"...Aku mengerti." Tsunade mengangguk.
Gaara diam membisu, dia agak ragu dengan penjelasan Tsunade barusan. seperti ada yang disembunyikan. Tapi dia tidak bertanya apa-apa.
Tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan pembicaraan mereka dari luar. Dia menghilangkan cakranya dengan sempurna hingga tidak seorangpun tahu keberadaannya. Tangannya terkepal erat. Mulutnya berdesis lirih. Seolah tidak suka dengan isi pembicaraan para Kage barusan.
.
.
.
.
.
Di salah satu ruangan tenda besar itu, berkumpul empat orang bergender berbeda. Mereka mengelilingi seseorang beryukata putih yang terbaring di ranjang. Gadis berambut merah dengan kacamata berbingkai tebal, Karin, mulai mendekati Sasuke memeriksa keadaannya. Sakura membacakan hasil pemeriksaan Sasuke dari papan pasien yang dibawanya di belakang.
"Aku dan Tsunade-sama sudah memeriksanya sejak 3 hari lalu. Hasilnya Sasuke terluka parah, tapi bisa di atasi. Hanya saja, jantungnya tidak berdetak. Dia tidak bernafas. Lebih lagi aliran cakra yang tenang di tubuhnya memberi bukti bahwa dia tidak 'mati', dia 'hidup'." terang Sakura panjang lebar.
"Hmm, aku tahu itu. Adakah keganjalan lain selain itu?" tanya Karin menoleh pada Sakura di sebelahnya.
Sakura menggeleng bisu, tapi Karin mengerti maksudnya. Dia menoleh ke arah Orochimaru yang ada di belakang mereka, berdiri dengan Kakashi.
"...Aku juga tidak mendapat apa-apa selain yang dikatakan olehnya. Kita hanya bisa menunggu sampai Sasuke sadar, mungkin beberapa hari atau minggu." jelas Karin.
"Hmm, aku tidak pernah melihat keadaan seperti ini sebelumnya. Ini seperti dia hidup dengan jantung mati.." pikir Orochimaru.
Kakashi yang sedari tadi menyimak, membelalak tidak percaya. Ternyata kondisi Sasuke lebih parah daripada koma. Dari perkataan mereka, bisa dia simpulkan sendiri bahwa Sasuke 'hidup' tapi 'mati'.
Mayat hidup?
"Sakura... kau tidak salah 'kan?" tanya Kakashi lirih.
Sakura terdiam, lalu menggeleng berlahan tanpa bicara sedikitpun.
Dada Kakashi serasa sesak. Padahal Sasuke sudah kembali dan mungkin mereka dapat berkumpul seperti dulu, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Takdir berkata lain. Sasuke bisa di'ambil' kapan saja oleh Kami-sama.
Orochimaru bersikap dingin seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi sedingin-dinginnya dia, tetap saja dia merasa peduli dengan mantan murid sekaligus pembunuhnya itu. Lagipula dia agak tertarik untuk meneliti kondisi Sasuke lebih lanjut.
Keheningan itu terpecah dengan kedatangan Neji yang memasuki ruangan. Pemuda berseragam Jounin itu tidak terkejut melihat Orochimaru dan Karin ada di dalam ruangan tempat Sasuke dirawat. Hinata sudah memberitahunya lebih dulu saat tiba di tenda ini, sewaktu dia menemukan Suigetsu dan Juugo duduk bersama mereka di depan pintu masuk.
"Ooh, pemuda Hyuuga datang menjenguk rupanya." kata Orochimaru melirik Neji.
Neji diam, tidak menbalas. Bersikap dingin pada pria ular yang telah menjerumuskan orang yang disukainya.
"Aku disuruh Tsunade-sama untuk menjaga Naruto dan Sasuke. Jadi aku kemari bermaksud memberitahumu, Haruno." katanya menatap Sakura.
Sakura mengangguk sekilas, "Baiklah. Arigatou Neji."
"Sebaiknya kita keluar mambahas ini lebih lanjut, Sasuke perlu ketenangan." ucap Kakashi melirik Orochimaru dan Karin.
"Baiklah, terserah kau saja." Orochimaru melangkah keluar ruangan diikuti Karin yang menggerutu di belakangnya. Sepertinya Karin belum rela meninggalkan Sasuke.
"Ayo, Neji." ajak Sakura saat melewati Neji, dia mengikuti Kakashi yang berjalan duluan.
Neji menatap wajah Sasuke yang masih tertidur itu sejenak, sebelum dia berbalik keluar ruangan mengikuti yang lainnya.
ketika sampai di depan pintu ruangan Sasuke, Neji berhenti melangkah. Dia sengaja tinggal sebentar hingga Kakashi, Sakura, Orochimaru, dan Karin berbelok ke ruangan lain dan menghilang dari pandangan. Setelah memastikan tidak ada seorangpun di dekatnya, Neji membentuk segel tangan. Kemudian Neji meletakkan sebelah tangannya di atas tanah yang diinjaknya hingga muncul pentagram segel.
"Elemen air, jurus pengikat." Bisiknya pelan.
Pentagram itu berlahan membelah menjadi beberapa bagian. Lalu bergerak ke setiap sudut ruangan Sasuke dirawat, dan menghilang seolah terserap ke dalam tanah. Dapat dirasakan atmosfer berat di sekitar Neji berubah meringan, kembali seperti sedia kala.
Segel itu dipasang guna mencegah seseorang dengan cakra yang tidak dikenal oleh Neji masuk ke tempat Sasuke. Jika orang asing itu masuk tanpa ijin, segel akan aktif. Segel itu akan memunculkan bola air raksasa dari dalam tanah dan mengurung orang itu di dalamnya serta membekukannya.
Neji memasang segel itu hanya untuk Sasuke seorang. Dia tidak memasangnya di sekeliling tenda karena dia hanya fokus untuk melindungi Sasuke saja. Neji melakukannya karena dia tahu apa yang telah dilakukan Sasuke hingga menjadi seperti sekarang.
"Aku tidak akan membiarkanmu bertindak gila untuk kedua kalinya, Sasuke." gumam Neji sambil melirik tirai penutup ruangan Sasuke di belakangnya sebelum melanjutkan langkahnya menjauh dari tempat itu.
.
.
.
==========TBC==========
.
.
.
Yap, chapter 3 kelar. Selanjutnya chapter dimana Naruto sadar...
Keep reading Mina-san...
Review please! ^^*
.
