Hai... Update buat chapter 4 nich..^^
Aku lagi semangat update ...Woooww! (*semangat dengan mata membara)
Arigatou ne mina-san, ... Happy reading!
.
.
.
SHACKLES
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NejiSasu, NaruSasu
Genre : Romance and Hurt/Comfort
Warning! : BL, Shounen-ai, Shoujo, OOC, death chara, action, Gaje
'
.
.
Chapter 4
.
.
.
.
Ketika membuka mata, pandangannya memburam. Setelah berkedip beberapa kali akhirnya penglihatannya menjadi jelas. Awalnya yang terlihat hanyalah ruangan dengan penerangan minim. Tempat yang seperti lorong panjang dengan air yang menggenang di bawah kakinya. Namun ketika melangkahkan kaki lebih jauh mengikuti jalur lorong, sampailah pada tempat luas yang terang dan bersih.
Tempat ini berbeda, tapi tidak asing bagi Uzumaki Naruto. Pemuda pirang dengan tanda lahir tiga kumis kucing di masing-masing pipinya yang sekarang berdiri tegak di tempat ini. Naruto menoleh ke segala arah, berniat mencari sesuatu.
"...Kurama?"
"...Di sini,"
Panggilan Naruto terjawab oleh suara berat yang berasal dari depan. Saat Naruto memandang, dia bisa melihat seorang pria jangkung dengan rambut panjang merah menyala berdiri tidak jauh darinya. Pria itu memakai jubah perang panjang sewarna bulu rubah dengan aksesoris kalung 9 Tomoe hitam.
"...Kau sudah bangun rupanya," ujar pria yang dikenal Naruto sebagai Kurama Kyuubi sambil tersenyum. Kurama Kyuubi adalah Kitsune yang bersemanyam dalam dirinya.
"Hehe...kau juga, kelihatannya kita lumayan babak belur ya," Naruto nyengir lebar. Dia berjalan mendekati Kurama.
"Yaah, berkat bocah Uchiha itu juga kita berhasil mengalahkan pria tua Madara," kata Kurama.
"...Oh ya, aku tidak tahu karena aku 'dah keburu pingsan, sih."
"Kita keburu pingsan,"
Naruto terdiam sejenak sebelum tersenyum pada Kurama. "Gimana lukamu?"
"Lumayan menghabiskan waktu untuk pulih, bertarung dengan si tua brengsek itu bikin pegal saja." Kurama mengeluh kesal.
"Heeh... rupanya kau bisa ambruk juga ya," ejek Naruto.
"Kau pikir aku robot, hah?"
"Dilihat dari banyaknya cakramu yang nggak bakal habis, bisa dibilang begitu," Naruto menyeringai sambil mengangkat kedua bahunya.
Muncul perempatan di pelipis Kurama, pertanda dia kesal. Ingin rasanya dia menjitak bocah di hadapannya. Tapi urung.
"Kau juga parah sekali dihajar si brengsek itu, tahu!" balas Kurama.
Naruto menundukkan wajah, dia memegang dada kiri tempat jantungnya berada, "...Kau tahu, waktu itu aku merasa jantungku hancur karena tertusuk jutsu kayu Madara. Kupikir aku akan mati, tapi nyatanya aku masih hidup." katanya.
Kurama terdiam mendengarkan.
"..aneh, padahal harusnya aku mati detik itu juga. Tapi jantungku masih utuh." gumamnya berpikir.
Kurama juga bingung. Pasalnya dia melihat sendiri dengan mata kepalanya saat Naruto tertusuk sulur kayu itu tepat di jantungnya. Sebelum Kurama ikut roboh karena pingsan, dia tidak bisa mengingat apapun setelah kejadian itu.
"...Kau tidak ingat kejadian setelahnya, Kurama?" Naruto mendongak, menatap Kurama yang lebih tinggi darinya.
Kurama menggeleng kecil, "Tidak, aku tidak ingat apapun sama sekali."
Naruto terdiam, berpikir mungkin saja sulur kayu itu tidak pernah menusuk jantungnya. Mungkin menusuk dadanya tapi tidak mengenai jantung. Saat mengingat tentang kejadian itu, matanya terbelalak kaget.
"Sasuke?! Bagamana dia?!" kejutnya saat teringat Sasuke.
"Oh ya, aku tidak begitu memperhatikannya kala itu. Tapi sepertinya lukanya bertambah dari sebelumnya." jawab Kurama mencoba mengingat.
Mendengar itu, Naruto mengepalkan tangannya. Menggeram marah. Lagi-lagi Sasuke terluka.
Dengan cepat Naruto berbalik arah, berniat pergi.
"Kau mau kemana?" Kurama bertanya.
Naruto menghentikan langkahnya, "...aku mau kembali, aku ingin bertemu dengan Sasuke." jawabnya tanpa menoleh.
"..Baiklah, jangan memaksakan diri." Kurama menghela nafas. "Kurasa bocah itu masih belum sadar."
Naruto tidak membalas, dia kembali berjalan. Berlahan tubuhnya menghilang dari tempat itu.
.
.
.
.
.
Sinar mentari pagi yang berasal dari jendela tenda menyapa ketika Naruto membuka matanya. Mengerjapkan matanya berlahan menyesuaikan keadaan hingga penglihatannya sempurna. Mata Shappirenya mengerling berlahan ke segala arah. Bisa dilihat Naruto ruangan tenda serba putih dengan peralatan medis yang berada di samping ranjang. Juga sebuket bunga di vas yang menghias meja kecil di sudut ruangan.
Berlahan Naruto menggerakkan tangan kanannya menyentuh pelipis, "...Dimana ini?" gumamnya lirih.
Setelah terdiam beberapa saat, Naruto bergerak berlahan untuk duduk bersandar di sandaran ranjang. Sesekali melenguh kecil merasakan sakit dari lukanya yang terbalut perban. Tepatnya di dada dan perutnya. Setelah menemukan posisi duduk nyaman, Naruto menyibak yukata putih yang dipakainya. Memperlihatkan perban yang membungkus dadanya.
'Jadi benar aku terluka di dada?' pikir Naruto.
Naruto mengalihkan pandangannya saat tirai ruangan terbuka. Sakura yang masuk bersama Tsunade, terkejut mengetahui Naruto siuman.
"Na..ruto..." panggil Sakura lirih, masih tidak percaya pada penglihatannya.
Naruto tersenyum, lalu nyengir lebar, "Hai, Sakura-chaan!" sapanya melambaikan sebelah tangan.
Sakura menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Berlari cepat dan menjitak kepala Naruto.
BLETAAK!
"Uaagh...Itai!"
"Dasar bodooh!"
Naruto berhenti mengelus puncak kepalanya yang sakit akibat jitakan sayang Sakura. Dia Menatap gadis bersurai merah muda sewarna bunga musim semi yang menunduk dengan bahu gemetar.
"Kau.. bisa-bisanya kau bertindak nekad! Kau terluka parah karena tertusuk di dadamu tahu! Kalau saja bukan karena cakra Kyuubi, kau pasti sudah mati! Sadar doongg!" teriak Sakura.
Naruto tertegun.
"A..Aku akan mengutukmu... hiks..jika kau berani membuatku..hiks.. khawatir seperti ini.. lagi!" suara Sakura bergetar sesegukkan. Sebelah tangannya mengusap air matanya yang mengalir deras.
Yaa, Sakura menangis. Menangis karena takut, takut jika bisa saja dia kehilangan sahabatnya saat itu terjadi.
Pandangan mata Naruto melembut. Sambil tersenyum dia mengulurkan tangannya, meraih lengan Sakura yang masih menunduk menangis. Naruto menariknya dan merengkuh tubuh bergetar Sakura erat.
"Ne.. Sakura-chan. Gomen ne. Maaf membuatmu khawatir. Aku baik-baik saja." ucap Naruto sambil membelai rambut halus Sakura. "Jangan menangis lagi..." lanjutnya menepuk punggung Sakura pelan.
Tubuh Sakura merileks, mulai membalas pelukan Naruto, "...Kau menyebalkan..." lirihnya meredam sesegukkan akibat menangis.
"Hehehe...seperti kau tidak tahu aku saja..." Naruto nyengir.
Tsunade bernafas lega, bocah kesayangannya memang tidak henti membuatnya Sakura khawatir karena tindakan nekadnya. Sungguh dia merasa senang melihat interaksi ini terjadi kembali setelah kejadian menyakitkan seminggu lalu. Akhirnya Uzumaki Naruto benar-benar kembali.
"Kau sungguh merepotkan, bocah." Ujarnya tersenyum.
Naruto nyengir membalas. "Berapa lama aku tidur?" tanyanya tiba-tiba.
Sakura melepas pelukkan dari Naruto, "...Kau tidur selama seminggu, lukamu parah sekali. Tapi berkat cakra Kyuubi lukamu berangsur pulih." jelas Sakura dengan mengusap air matanya.
"Jantungmu melemah karena kehilangan banyak cakra dan darah. Jadi kau harus istirahat sebulan penuh. Lalu aku tidak mau melihatmu berkeliaran sebelum sembuh total!" perintah Tsunade.
Naruto merengut kekanakan, "Kejam, kau tahu aku tidak suka duduk diam sendirian, Ba-chan!"
"Mau kuikat?" tawar Tsunade sambil menunjukkan seikat tali yang entah didapatnya dari mana.
Sontak Naruto menggeleng cepat. Sakura terkikik geli.
"Sekarang diam di tempat tidur, biarkan aku dan Sakura bekerja memeriksamu!" perintah Tsunade menghampirinya.
Naruto mengangguk, dia membenarkan posisi duduknya hingga Tsunade bisa memeriksa luka dan cakranya. Sakura yang berdiri di belakang Tsunade mencatat hasil pemeriksaan di papan pasien.
"Bagus. Aliran cakramu dan cakra Kyuubi lancar. Sakura, ambilkan kotak medis di meja itu," kata Tsunade pada Sakura sambil menunjuk kotak medis di meja pojok ruangan. "Buka bajumu, aku mau mengganti perbannya." lanjut Tsunade pada Naruto.
Naruto menurut, dia agak kesulitan saat membuka yukata karena sakit pada lukanya. Sampai Tsunade membantunya. Tsunade mulai membuka perban yang melilit di dada dan perut Naruto. Saat perban terakhir dibuka, Naruto bisa melihat lukanya yang cukup kering dan menutup.
"Lukaku banyak juga..." kata Naruto memegang luka jahitan di dadanya.
"Bahu kananmu hanya terluka ringan, mungkin sekarang sudah menutup sempurna jadi tidak perlu ganti perban. Angkat tanganmu." ujar Tsunade mengambil perban bersih dan mulai memerban luka Naruto kembali.
Naruto terdiam sejenak memerhatikan tangan Tsunade yang bekerja. "...Bagaimana dengan Sasuke?"
Tangan Tsunade berhenti mendadak mendengar pertanyaan Naruto. Tubuh Sakura sontak membeku. Dia menundukkan wajah hingga tetutup anak rambutnya, mengalihkan pandangannya dari Naruto. Hening. Naruto mengerutkan alis merasakan perubahan atmosfer di sekitarnya. Lalu, dia melebarkan matanya.
"...Ba-chan, bagaimana dengan Sasuke?" tanya Naruto lagi.
Tsunade membisu, dia kembali bekerja melilitkan perban di tubuh Naruto.
Naruto menangkap pergelangan tangan Tsunade. "...Aku tanya, bagaimana dengan Sasuke?" tanyanya berdesis kesal.
Tsunade melepas tangan Naruto dan membuat ikat simpul pada perban mengakhiri kegiatannya. "...tenanglah sedikit." jawabnya.
Naruto terdiam kembali menunggu penjelasan Tsunade. Tsunade menghela nafas, "Uchiha Sasuke koma sekarang."
Ucapan barusan membuat Naruto membelalakkan mata kaget. Sasuke koma?
"Dia terluka parah hampir di sekujur tubuhnya. Waktu kami memeriksanya setelah pertarungan kalian, jantungnya tidak berdetak. Dia juga tidak bernafas, tapi dari aliran cakranya yang tenang, membuktikan bahwa dia masih 'hidup'," jelas Tsunade panjang lebar. "Sampai sekarang kami tidak tahu penyebabnya, jadi hanya bisa menunggu." lanjutnya.
Tangan Naruto mencengkram erat selimut yang menutupi pinggang hingga kakinya. Wajahnya tertunduk dalam. Mulutnya berdesis. Matanya berkilat sesal.
Rasa kecewa, marah, dan khawatir berkecamuk dalam hatinya hingga membuatnya sesak saat ini. Kecewa dan marah pada diri sendiri yang tidak bisa melindungi saudaranya, khawatir dengan keadaan Sasuke yang sampai sekarang masih koma.
Dengan memantapkan hati, Naruto mengangkat kepalanya menatap Tsunade dan Sakura. "Aku ingin bertemu Sasuke."
Tsunade mendengus, tahu bahwa Naruto pasti akan berkata begitu. Melarang pun percuma karena bocah pirang itu pasti akan melakukan apapun hingga keinginannya terpenuhi.
"...Baiklah."
.
.
.
.
.
Ruangan serba putih itu sangat terang karena diterpa sinar matahari. Jendela tenda terbuka lebar, membiarkan angin pagi memasuki ruangan seolah bisa mengusir bau obat di dalamnya. Ruangan yang berisi peralatan medis lengkap itu ditempati pemuda yang sedang tertidur di atas ranjang pasien. Pemuda bersurai langit malam keturunan Uchiha, Uchiha Sasuke.
Sasuke tertidur tanpa alat bantu medis apapun. Hanya infus yang tertancap di pergelangan tangannya untuk asupan nutrisi tubuhnya. Wajah putih pucatnya tampak semakin pucat. Matanya tertutup menyembunyikan Onyx indah di dalamnya. Anehnya, dadanya tidak naik-turun seperti orang tidur kebanyakan. Menunjukkan bahwa dia tidak bernafas.
Di samping ranjangnya berdiri pemuda jangkung berpakaian hitam dengan lambang merah khas Jounin di lengan bajunya. Rambut coklat gelapnya yang tergerai bergerak pelan mengikuti hembusan angin yang memasuki ruangan. Mata lavendernya tidak lepas dari wajah tidur Sasuke. Belahan tangannya terulur membelai rambut halus namun kusam milik pemuda pujaan hatinya.
"...Sampai kapan kau mau tidur, Sasuke?" tanyanya lirih.
Seminggu sudah Sasuke tertidur koma dengan kondisi tubuh yang tidak diketahui penyebabnya oleh Tsunade dan Sakura. Tapi Neji tahu penyebabnya. Dia tidak mau memberitahukannya pada Tsunade dan lainnya. Biarlah dia menyimpan apa hal gila yang telah dilakukan Sasuke untuk menyelamatkan pahlawan mereka, walau Neji tidak setuju dengan caranya.
Jemari Neji menyusup dalam helaian rambut Sasuke lembut. Neji sangat suka membelai rambut Sasuke.
...Sejak kala itu.
Neji merendahkan wajahnya, berbisik lirih di telinga Sasuke. "...Bangunlah..,"
Neji kembali tegak berdiri ketika merasakan tiga cakra berbeda berjalan menuju ruangan ini. Dengan enggan, dia melepaskan tangannya dari rambut Sasuke.
Beberapa menit setelahnya, tirai ruangan itu tersibak. Naruto, Sakura dan Tsunade memasuki ruangan. Naruto dan Sakura agak terkejut mengetahui keberadaan Neji di tempat Sasuke.
"Neji..?" panggil Naruto.
Neji menoleh. "...Kau sudah bangun, Naruto." ucapnya tersenyum tipis.
"Sejak kapan kau di sini?" tanya Sakura.
"Heeh? Jadi Neji selalu kesini?" tanya Naruto memandang Sakura heran.
"Soalnya Neji diminta Tsunade-sama menjagamu dan Sasuke." jawab Sakura.
Tsunade berjalan menghampiri Neji, "Kau bertugas dengan baik."
Neji membungkuk rendah pada Hokage wanita itu dalam diam.
Mata Naruto tertuju pada Sasuke. Dapat dilihatnya Sasuke tertidur tenang di ranjang. Dia berjalan mendekat untuk menelisik Sasuke lebih jelas. Neji dan Tsunade menyingkir memberi ruang pada Naruto.
Iris Shappire Naruto terus memperhatikan Sasuke. Lalu detik itu matanya membulat mendapati dada Sasuke tidak naik turun. Tangannya berpindah ke hidung Sasuke. Benar, dia tidak bisa merasakan hembusan nafas hangat Sasuke yang membuktikan manusia hidup. Naruto mengepalkan tangannya geram.
"...Bagaimana bisa kau seperti ini, Teme?" gumam Naruto menundukkan wajahnya.
Tangannya yang terulur tadi menyentuh pipi pucat Sasuke. Seketika rasa dingin menjalar di telapak tangan Naruto saat dia mengusapnya.
Neji menyerngit tidak suka melihat cara Naruto yang menyentuh wajah Sasuke. Seolah dia adalah kekasih sang pemuda raven. Dengan muak, dia mengalihkan pandangannya dan berjalan ke arah jendela tenda. Mungkin memperhatikan keadaan luar tenda lebih baik daripada melihat adegan menyesakkan di belakangnya.
"... Bangunlah Teme..," bisiknya sambil merendahkan kepalanya, melihat Sasuke lebih dekat. "Aku tidak terima jika kau meninggalkanku, aku sudah berjanji untuk membawamu 'kembali'."
Diam. Tidak ada jawaban Sasuke. Membuat dada Naruto sesak seperti terhimpit. Tangannya yang lain mencengkram pinggiran ranjang Sasuke kuat.
"...Bangun...Sasuke..."
Sakura sedih melihat pemandangan di hadapannya. Dia mengerti perasaan Naruto yang selama ini ditinggalkan Sasuke. Bagi Naruto, Sasuke bukan hanya teman, sahabat, atau rival, tapi Saudara dekat yang selalu disayanginya.
Tsunade menghela nafas berat. Sesal rasanya tidak bisa berbuat apapun untuk Saudara pemuda pirang selain menunggu.
Masih memunggungi mereka bertiga, Neji berdiri kaku menghadap luar jendela. Tangannya terkepal kuat. Dengan menggigit bibir bawahnya, dia berusaha menahan geraman agar tidak keluar dari mulutnya.
Sungguh dia tidak rela Sasuke disentuh atau menjadi milik orang lain. Dia ingin Sasuke menjadi miliknya seorang. Tapi, tidak bisa. Karena perasaan pemuda itu bukan untuknya.
.
.
.
.
.
"...Kau mau tidur sampai kapan, Sasuke?"
Suara berat itu memecah keheningan yang sedari tadi mengiringi mereka berdua. Sasuke dan Rikudo Sennin.
Saat ini mereka berada di bawah pohon rindang yang memayungi mereka dari teriknya matahari. Membuat langit biru bersinar cerah berhiaskan awan putih yang begerak acak. Di hadapan mereka terpampanglah pemandangan ladang bunga Sawawi yang luas. Sungguh suasana laksana musim semi. Tenang dan asri. Dunia khusus yang dibangun Rikudo Sennin di dalam alam bawah sadar Sasuke.
Sasuke berbaring nyaman beralaskan rumput hijau di bawahnya. Menutup mata menikmati hembusan angin sepoi yang membelai kulit wajahnya. Secara tidak langsung dia mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan Rikudo, pria yang duduk di sebelahnya.
Rikudo menghela nafas, sudah ketiga kalinya pertanyaan yang sama darinya diabaikan oleh Sasuke.
"Kau tahu...kau bisa membuat orang-orang khawatir padamu..." katanya lagi.
Berlahan Sasuke membuka matanya. Dia tetap bertahan pada posisinya.
"...Tidak ada yang menungguku..." jawab Sasuke lirih.
Rikudo menatap Sasuke, "...Kau salah, kau hanya takut jika kau membuka mata, kau tidak akan bisa bersamanya..."
Sasuke terdiam sejenak, "Aku memang akan mati 'kan?,"
"Lalu, apa kau mau menyia-nyiakan kehidupan ini tanpa mengatakannya padanya?" Rikudo mengangkat alis.
"Kukatakan pun, dia tidak akan menerimanya. Percuma..." ujar Sasuke pelan. Menutup setengah wajahnya dengan lengan kanannya.
Rikudo terdiam menunggu.
"Naruto menyukai Sakura dari dulu. Dia pasti akan jijik jika tahu perasaanku." tutur Sasuke lirih.
Entah sejak kapan, Sasuke merasa tenang bersama Rikudo. Aura yang dikeluarkan Rikudo membuatnya nyaman. Seakan dia mengobrol dengan keluarganya. Hingga tanpa sadar dia percaya dan menceritakan isi hatinya pada pria itu.
Rikudo membisu. Dia mengerti perasaan terlarang yang dimiliki pemuda itu. Memang tidak mudah bagi orang-orang untuk menerima perasaan yang tidak biasa terjalin di sekitar mereka. Apalagi ini cinta sesama jenis.
"...setidaknya biarkan dia tahu keberadaanmu di sisinya..." nasehat Rikudo. "Bila memang prasangkamu benar, janganlah putus asa."
Sasuke diam masih menutup wajahnya. Tapi dia mendengarkan.
"Tetaplah hidup, aku yakin kau akan menemukan orang yang lebih baik darinya." lanjut Rikudo sambil tersenyum lembut.
Sasuke membuka lengannya berlahan, menampakkan mata Onxy yang berkabut tipis. "...Hn," jawabnya.
Rikudo melihat Sasuke yang beranjak bangun dari tidurnya. Duduk menatap tanah lapang berhias ladang bunga kuning cerah. Dia mengulurkan tangannya mengusap puncuk kepala Sasuke lembut.
"...Kembalilah. Temui mereka. Datanglah kapan saja jika kau ingin bicara denganku..."
Sasuke membisu menikmati usapan tangan Rikudo. Hangat dan besar, seperti tangan seorang ayah. Kemudian dia mengangguk pelan.
Mungkin benar, bila Sasuke bangun nanti dia bisa bertemu Naruto dan lainnya. Biarkanlah dia menikmati hidupnya yang hanya sebentar sebelum ajal menjemput. Biarkanlah dia merasakan kehangatan sesaat sebelum dingin 'mengambil'-nya.
Dan biarkanlah dia merasakan cinta walau cinta itu semu...
.
.
.
.
.
Tsunade memasuki tenda Kage yang lenggang siang ini. Tangannya membawa setumpuk kertas putih bercoret tulisan. Dia memilah kertas itu menjadi lima bagian. Setelah memasuki ruangan besar, ruang khusus para Kage, dia segera membagikannya pada keempat Kage yang duduk di kursinya masing-masing.
"Apa ini?" tanya Raikage tidak mengerti. Dia membuka kertas itu dan mulai membacanya.
"Data masing-masing ninja yang berasal dari negara kecil di sekitar 5 negara besar ninja. Mereka tergabung dalam ninja gabungan saat perang kemarin." jawab Tsunade memndudukkan diri di kursinya.
"Lalu?" Tsucikage memandang Tsunade.
"Kepala negara mereka ingin berkerja sama dan bergabung dengan negara kita." lanjut Tsunade.
"Maksudnya mereka ingin menjadi bagian dari negara kita, begitu?" Mizukage memperjelas.
Tsunade mengangguk mengiyakan.
"Bagus, kita bisa mendapat banyak sekutu untuk menghadapi musuh yang merepotkan seperti Uchiha Madara nantinya." Raikage menyeringai.
"Oh ya, bagaimana dengan kelompok Orochimaru?" ujar Mizukage teringat.
"Benar, kita tidak mungkin membiarkannya berkeliaran seenaknya. Walau dia juga sudah membantu perang kita," Tsucikage mengangguk.
"Makanya, aku ingin membahas masalah itu juga sekarang. Apa kita akan mengasingkan mereka atau memberikan hukuman yang setimpal." Tsunade mendengus.
"Hmm, menurutku hukuman apapun tidak akan bisa menundukkan ambisi dan niatnya." kata Gaara.
Mizukage menatap Raikage, "Ya, dia perlu penanganan khusus."
"...Kita akan pikirkan itu setelah bocah Uchiha itu bangun." putus Raikage.
Gaara membaca lembar terakhir dari kertas di tangannya. Matanya sedikit melebar ketika membaca kalimat pertama yang merupakan judul di kertas itu.
"Tsunade-sama, ini..." gumam Gaara.
Keempat orang Kage lain mengalihkan pandangannya menuju Gaara serentak.
"Tuntutan pada Missing-nin Uchiha Sasuke..." ucap Gaara mengeja tulisan yang dibacanya.
.
.
.
.
.
Sinar bulan memasuki ruangan serba putih yang bercahaya remang dari api lampion kertas yang menyala di sudut ruangan. Ruangan yang cukup luas itu dihuni oleh dua orang yang tertidur lelap. Salah satu penghuni ruangan yang terbaring di ranjang itu menggeliat pelan terbangun.
Kelopak mata berkulit pucat itu akhirnya terbuka secara berlahan. Menampilkan permata Onyx indah yang tersembunyi di dalamnya. Pandangan samar menyapanya saat melirik sekitar. Terdiam sesaat, dia merasakan kehangatan yang menjalar ke tubuhnya. Ketika menoleh berlahan ke samping, Sasuke melihat kepala seseorang yang menelungkup di sisi tubuhnya. Terlihat samar hingga membuatnya harus mengerjapkan mata beberapa kali.
Matanya melmbulqat saat pandangannya jelas. Orang itu tidur dalam posisi duduk menyenderkan kepalanya di pinggiran ranjang Sasuke sambil menggenggam tangannya erat. Wajah tampan tanpa celanya nampak damai. Rambut panjangnya menyapa kulit tangan Sasuke lembut.
"...Neji?"
.
.
.
==========*TBC*==========
.
.
.
Chapter ini lebih sedikit karena kau hanya fokusin tentang bangunnya Naruto dan Sasuke.. hehe ^^
Baiklah saatnya balas review yang masuk saat ini...
Rannada Youichi : nich udah update, moga nggak mengecewakan ya.., Aicinta : Iya Neji udah tahu soal Sasu, pair apa saja aku memang suka kalo Sasu yang jadi Uke, BlacknightSkyeye Yue- Hime : Kenapa menangis Hime-san? 0.0a, Guest : Hehe sayangnya aku gak ada rencana buat NaruGaa, bukan baca aja siapa yang nikah nanti ^^*
Arigatou buat riviewnya, arigato buat reader semua...
Keep reading Mina!
Review please!
.
.
.
