Chapter 5 update...Nyeheheheh XD
Gomen updatenya agak lama...
Kemarin Naru dan Sasu dah sadar, chapter ni ada kejutan lho... ^^*
Happy reading!
.
.
.
SHACKLES
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : NejiSasu, NaruSasu
Genre : Romance and Hurt/Comfort
Warning! : BL, Shounen-ai, Shoujo, OOC, OC, action, Gaje
'
.
.
Chapter 5
.
.
.
.
"...Neji?"
Panggilan Sasuke yang lirih membuat pemuda yang tertidur di sampingnya membuka mata berlahan. Onyx Sasuke yang masih berkabut bertautan dengan sepasang iris mata Lavender keperakan indah. Walau tidak begitu jelas melihatnya sekarang, diakui mampu membuat dirinya terpesona selain mata Shappire pemuda yang dicintainya, Uzumaki Naruto.
Neji mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengusir rasa kantuk yang menderanya. Sepertinya dia benar-benar jatuh tertidur kali ini, karena biasanya dia hanya setengah tidur untuk menjaga Sasuke. Ya, dia selalu bermalam di ruangan tempat Sasuke dirawat. Neji tidak perlu mempedulikan Naruto yang bertempat tidak jauh dari ruangan Sasuke. Sebab, Iruka atau Sakura pasti akan menjaganya. Dia tidak perlu khawatir kepergok menginap di sini, lantaran tidak ada yang datang selain dirinya. Karena Neji memang ditugaskan Tsunade menjaga pemuda di hadapannya.
Setelah pandangannya menjelas, hal pertama yang dilihatnya adalah Sasuke yang menatapnya kejut. Pemuda raven itu telah bangun dari tidur panjangnya. Neji tersenyum tipis, lega akhirnya bisa melihat permata Onyx hitam yang disukainya. Sasuke masih menatap Neji di hadapannya tidak percaya. Bahkan saat Neji beranjak bangun untuk duduk tegak, Sasuke masih tidak berkedip.
"...,"
"...,"
Sasuke berkedip memperjelas penglihatannya tetapi tetap berkabut. Kemudian dia melirik tangannya. "...Bisa ...kau lepaskan tanganku?" pinta Sasuke parau, khas orang bangun tidur.
Neji mengerlingkan mata memandang tangannya dan tangan Sasuke yang saling bertautan. "Aah maaf..." gumamnya sambil melepas tangannya walau tidak rela.
Entah kenapa Sasuke merasa agak kecewa ketika kehangatan itu hilang bersamaan dengan tangan Neji yang melepas tangannya.
"...,"
"...,"
Hening.
Tidak ada dari mereka yang membuka suara.
Menjadikan atmosfer di sekitar canggung. Walau hanya Sasuke yang merasakannya.
'...Kenapa Neji ada di sini?' inner Sasuke canggung, gelisah sendiri. Matanya melirik ke sembarang arah selain Neji. 'Kenapa bukan Sakura atau si Kakashi yang di sini? Lalu si Dobe itu kemana?' batinnya jengkel.
"...Uggh!" Sasuke melenguh sakit saat akan mengangkat sebelah tangannya bermaksud menopang tubuhnya untuk bangun.
"Jangan bergerak dulu. Kau terluka parah, masih dalam pemulihan!" peringat Neji menahan tangan Sasuke untuk bergerak.
Sasuke menurut. Kembali ke posisi tangannya semula. Dia menolehkan kepalanya berlahan ke sekeliling ruangan. Dilihat dari sudut matanya yang samar, ada segelas air putih di atas meja kecil dekat ranjang. Haus.
"Kau mau minum?" tanya Neji, agaknya dia menyadari tatapan Sasuke ke arah segelas air yang disediakannya.
Sasuke terdiam sebentar sebelum mengangguk.
Neji membantu Sasuke bangun untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Dia melakukannya dengan berlahan dan lembut agar tidak menyakiti Sasuke. Meski begitu sesekali Sasuke meringis saat bergerak. Setelah memastikan posisi Sasuke duduk nyaman, Neji mengambil segelas air dan sedotan dari atas meja lalu memberikannya pada Sasuke.
Wajah Sasuke muncul semburat tipis. Entah kesal atau malu karena situasinya. Saat ini dia meminum air dengan sedotan yang gelasnya dipegang oleh Neji. Memang tangannya belum kuat menyangga gelas karena luka, tapi masa' seorang Uchiha harus diperlakukan begini sih? Dia 'kan hanya luka, bukan cacat!
Sasuke ingin memprotes, tapi urung gara-gara canggung. Seumur-umur dia belum pernah secanggung ini menghadapi seorang Hyuuga Neji.
"Sudah?" tanya Neji kembali ketika Sasuke menyudahi kegiatannya.
"Hn..." gumam Sasuke tidak jelas tapi Neji tahu maksudnya.
Sasuke memandang arah jendela. Di luar sana malam sangat sunyi, mungkin banyak ninja sudah tertidur lelap dalam tenda-tenda yang disediakan. Sasuke juga bisa melihat dengan samar sebagian ninja yang berkeliling untuk patroli atau sekedar duduk berbincang di depan api unggun yang menyala terang. Batinnya berpendapat bila sekarang dia ada di dalam tenda darurat yang didirikan tidak jauh dari bekas perang.
Sasuke mengucek matanya, entah kenapa pandangannya masih samar. Mungkin karena baru bangun. Berlahan tangan Sasuke beralih memegang dadanya, lalu mengarahkan tangannya ke depan hidung. Dia merasa ada yang kurang dan kosong. Terdiam sejenak, ah ya, dia baru ingat bahwa degubpan jantung dan nafasnya tidak ada. Jantungnya ada dalam tubuh Naruto.
"...Mana Naruto?" tanya Sasuke tiba-tiba saat Neji beranjak mengisi gelas setengah kosong dengan air teko yang ada di sudut ruangan.
"...Naruto ada di kamar tak jauh dari sini. Dia juga tengah dirawat karena lukanya belum pulih benar." Jawab Neji melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh pada Sasuke. "...tadi pagi dia datang menjengukmu."
Mendengar itu, Sasuke menghela nafas lega. Misinya menyelamatkan pemuda Uzumaki itu berhasil. Neji berbalik menatap Sasuke dalam. Terdiam sesaat sebelum kembali mendudukkan diri di kursi dan meletakkan segelas air penuh di meja samping ranjang Sasuke.
"Kau koma selama seminggu, Tsunade memerintahkanku menjagamu selagi Sakura menemani Naruto." ungkap Neji.
Kalimat Neji barusan menjawab pertanyaan yang dipikirkan Sasuke kenapa pemuda ini ada di ruangannya. Namun ada sepercik rasa nyeri di dadanya ketika Sasuke mendengar hal itu. Berarti mungkin sekarang ini Naruto ditemani Sakura.
Sasuke keki. Dia sangat ingin orang yang menemaninya itu Naruto, bukan Neji. Dia ingin yang dilihatnya waktu bangun tadi adalah Naruto, bukan Neji. 'Tapi kenapa begini, sih?'
Melihat wajah Sasuke yang menahan rasa jengkel, membuat Neji tersenyum geli. Dia tahu, Sasuke ingin bertemu atau bahkan ingin ditemani Naruto. Tapi tidak terkabul karena dirinya yang berada di sini. Meski begitu ada keinginan dalam hatinya kalau Neji tidak ingin Sasuke bersama dengan Naruto.
"Naruto janji akan datang menjengukmu besok, jadi kau bisa bertemu dengannya juga Haruno dan Kakashi-san," lanjut Neji. Merasa agak berat hati mengatakannya.
Sasuke memandang Neji sambil menyerngit ganjil. Dari ungkapan Neji tadi, seolah pemuda jangkung itu tahu apa yang sekarang Sasuke pikirkan. "...Hn."
"...,"
"...,"
Hening.
"...Lebih baik aku tidur." celetuk Sasuke tiba-tiba, tidak tahan dengan keheningan yang melanda mereka.
"Sebaiknya begitu." jawab Neji, membantu Sasuke membaringkan diri.
Neji membenarkan selimut setelah dirasa Sasuke terbaring nyaman. "Tidurlah, aku akan menjagamu," lanjut Neji tersenyum lembut.
Sasuke merasakan wajahnya memanas melihat senyum Neji. Segera saja dia memiringkan kepala ke arah lain agar Neji tidak bisa menangkap wajahnya yang memerah. Kesal. Jadi dirinya akan bersama Neji semalaman? Kalau saja itu Naruto pasti dengan senang hati Sasuke mengijinkan, tapi ini Neji.
Sasuke tahu, jika pemuda jangkung di hadapannya tengah memiliki perasaan padanya. Dia tahu Neji mencintainya. Bahkan Neji pernah menyatakan cintanya pada Sasuke langsung dulu. Tapi Sasuke tidak bisa menerimanya karena hatinya hanya untuk Naruto. Seorang pemuda yang tidak lelah mengejar dan mengajaknya kembali ke Konoha.
Lelah berpikir, Sasuke mulai menutup mata. Mencoba memasuki alam mimpi. Mata Neji tidak lepas dari gerak-gerik Sasuke. Dia tersenyum saat pemuda raven itu mulai mengantuk kembali. Membenarkan posisi duduknya, Neji bersandar nyaman di badan kursi. Duduk bersidekap berusaha terjaga untuk menjaga Sasuke yang tertidur lelap.
Termangu menatap langit malam berhias bintang dari balik jendela tenda, membuat Neji mengingat kembali pertemuan mereka dulu.
.
.
.
.
.
Flashback on
.
.
4 tahun lalu
Neji berlari kencang menyusuri jalan setapak, menerobos masuk ke dalam hutan kabut. Terlihat sekali dia terburu-buru. Dia menengok ke belakang, memandang ke sembarang arah sambil terus berlari. Langsung saja dia mendecak gusar saat sekelebat bayangan hitam masih mengejarnya. Neji menambah kecepatan larinya. Tidak peduli dengan rasa perih hebat yang berasal dari luka melintang di dadanya. Yang ada dalam benaknya sekarang adalah lari, lari jika masih ingin selamat.
Neji terpisah dari Lee dan Ten Ten, teman sekelompoknya ketika mereka sedang menjalankan misi untuk mengawal para pedagang yang ingin kembali ke kampung halamannya. Saat melewati hutan kabut, mereka berpapasan dengan segerombolan bandit yang berdiam di walayah itu. para bandit itu bermaksud merampok dagangan dan uang milik klien. Neji, Lee dan Ten ten berusaha menghentikannya. Namun mereka kalah jumlah. 3 lawan 40 orang. Hingga Neji berinisiatif untuk menahan para bandit yang tersisa. Mengalihkannya selagi Lee dan Ten Ten membawa pergi menyelamatkan para pedagang. Awalnya Lee dan Ten Ten menolak, tapi terpaksa melakukan saran Neji waktu mereka sudah semakin terdesak. Alhasil, beginilah Neji sekarang. Berlari cepat kabur dari kejaran bandit sendirian.
"Bandit sialan! Kalau saja jumlahnya tak sebanyak itu, aku pasti sudah membabat habis mereka!" umpat Neji, meringis sakit dalam larinya.
Neji berhenti mendadak detik itu juga saat salah seorang bandit berdiri menghalangi jalannya. Membuat Neji mengumpat kembali karena berhasil terkejar. Bandit itu siap menyerang dengan katananya. Menyeringai mengejek, dia berlari menerjang Neji. Mengeluarkan Byakugan, Neji membalas serangan dengan Jyuuken.
Bandit itu mengayunkan katananya berusaha menebas bagian kiri tubuh Neji. Neji melompat ke atas menghindari serangan. Dia berpindah ke belakang bandit dan menyarangkan pukulan gelombang cakra membuat lawan terhempas. Bangkit dari jatuhnya, sang bandit menyerang Neji kembali. Neji bergerak acak menghindari tebasan lawan dan menyerang saat terbuka celahnya. Neji menggeram kesal, melihat bandit itu masih menyerangnya kembali setelah jatuh berkali-kali. Cakranya semakin menipis, dia harus segera menyelesaikan ini. Bandit yang sudah babak belur itu diam-diam menyeringai melihat ke belakang Neji. Di sana terbentang jurang yang dalam. Dia terus menyerang Neji, menggiring pemuda itu ke jurang yang belum disadari Neji. Hasilnya, Neji terjepit. Ninja muda itu kehilangan pijakannya saat mundur menghindari hantaman lawan.
Neji terperanggah. Matanya melebar memandang jurang berkabut di bawahnya. '...Siaall!'
Neji sukses terjun bebas. Sempat dia mendelik tajam saat bandit itu menyeringai melihatnya jatuh ke dalam jurang dari atas.
Pandangannya mulai berkabut. '...sampai di sini sajakah?' tanyanya dalam hati putus asa.
Neji menutup mata. Pandangannya menggelap setelah tubuhnya menerima tubrukkan keras.
Sementara di tempat yang tak jauh dari situ, berdiri seseorang yang sedang mencabut beberapa tanaman hijau. Sepertinya tanaman obat. Tersentak kaget mendengar suara debuman keras, membuatnya segera menghentikan kegiatannya. Dilanda rasa penasaran orang itu berjalan menuju arah suara berasal. Hingga dia menemukan tubuh yang tergeletak lemas dengan luka di dadanya berada di samping tebing. Orang itu merasa familiar. Bergerak mendekat lalu terpaku saat melihat wajah Neji serta lambang konoha di dahinya.
"...Hyuuga neji?"
.
.
.
.
.
Angin dingin berhembus membelai wajah Neji yang berasal dari jendela terbuka. Membangunkan Neji dari pingsannya. Lamat-lamat tirai mata ninja muda itu terbuka berlahan. Pandangannya memburam. Neji mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangan.
"...sudah bangun?"
Suara seseorang, mengundang Neji untuk melihat ke arah suara itu berasal. Di sana berdiri seorang pria paruh baya yang membawa baskom sedang berisi air dan kain basah di dalamnya. Pria berambut hitam keunguan dengan iris coklat itu tersenyum, menutup pintu ruangan pelan. Dia berjalan mendekati ranjang tempat Neji terbaring setengah telanjang dengan balutan perban di dadanya.
"...kau pemuda yang kuat, kupikir kau tidak akan bangun sekitar beberapa hari karena kondisimu yang parah. Tidak disangka kau bangun setelah sehari pingsan." Pujinya serambi mendudukkan diri di kursi dekat ranjang.
Neji memandang sekeliling. Menampakkan sebuah ruangan yang cukup lenggang dengan beberapa perabotan di sisinya. sepertinya dia berada di ruangan milik pria di hadapannya. Mungkin pria itu yang menemukan dan merawat luka di dada Neji yang terbalut perban rapi.
"...Siapa?" lirih Neji mengamati orang itu.
"...panggil saja aku Hajime," pria itu mengenalkan dirinya tersenyum. Meletakkan baskom yang dibawanya di bawah kakinya.
"...anda yang menemukanku?" tanya Neji.
Pria itu menggeleng. "...tidak usah formal begitu." dia mengambil segelas air di atas meja kecil samping ranjang dan menyodorkannya pada Neji. "Temanku yang menemukan dan membawamu kemari. Dia memintaku merawatmu."
Neji bangkit berlahan, duduk bersandar di kepala ranjang. Kemudian menerima gelas berisi air itu dan meminumnya.
"Kau beruntung bisa selamat setelah jatuh dari tebing setinggi itu. Kalau saja tubuhmu tidak kuat tahan banting, kau pasti sudah berada di alam baka sekarang." Puji Hajime kambali.
Muncul urat kekesalan di pelipis melap bibirnya yang basah, neji menatapnya jengkel. "...arigatou pujiannya."
Hajime terkekeh. "...jangan kesal begitu, aku tidak bermaksud meledekmu." katanya seraya mengambil perban bersih dari laci meja kecil didepannya. "Tegakkan badanmu. Aku akan ganti perbannya."
Neji menurut. Mengangkat tangannya ketika Hajime mulai melepas perbannya.
"Masih terasa sakit?" tanya Hajime yang dijawab gelengan kepala oleh Neji.
Setelah perban itu terlepas sempurna, Neji menilik luka kering di dadanya yang terjahit rapi plus olesan obat herbal. Hajime meremas kain basah dari baskom tadi. Dengan telaten dia membersihkan luka Neji lalu mengoleskan obat herbal yang tersedia di atas meja kecil. Setelah selesai dia membungkus luka Neji kembali memakai perban bersih.
Suara berderit dari pintu ruangan yang terbuka, membuat Neji dan Hajime mengalihkan pandangannya. Mata Neji terbeliak kaget menangkap pemandangan yang tidak asing baginya. Seorang pemuda bermata Onyx malam dengan gaya rambut melawan gravitasi. Berdiri membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat.
"...Uchiha Sasuke?"
"...Hn,"
.
.
.
.
.
"...Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu disini,"
Saat ini mereka tengah duduk santai di ruangan dengan jendela kaca besar yang terbuka lebar. Menghadap langsung ke suasana siang hari di halaman belakang berhias ladang hijau. Neji memutuskan untuk bergerak bebas daripada tiduran di ranjang. Makanya, dia mengambil kesempatan untuk mengobrol dengan pemuda yang lebih muda setahun darinya.
"...memangnya aku mau?"
Jawaban pedas dari Sasuke membuat Neji pegal. Stoic dan dingin. Dia bahkan tidak memandang Neji sedikit pun. Masih tetap fokus menekuni kegiatannya yang mengupas kulit jeruk sekarang. Tidak bisakah pemuda yang duduk di hadapannya ini ramah sedikit?
Mendengus kecil, Neji mambalas sarkatis, "...Ooh maaf jika kau tidak suka dengan keberadaanku di sini. Arigato sudah menolongku."
Sasuke menghentikan kerja tangannya, menatap Neji datar. "... suka tidak suka pun sudah terlanjur terjadi." lanjutnya mengupas lagi.
Neji mendesah lelah dalam hati. Tidak habis pikir, sebenarnya iklas tidak sih, Sasuke menolongnya? Neji memindah perhatiannya ke luar. Halaman hijau itu penuh dengan berbagai tanaman sayur dan obat. Neji hanya bisa mengenali nama dan jenisnya sedikit. Lalu mata lavendernya menjumpai pepohonan besar yang berjajar rapi. Sepertinya ini daerah pinggiran hutan.
"...Kenapa kau bisa jatuh di sana waktu itu?" tanya Sasuke, menyelesaikan kupasan jeruknya dan mulai membersihkan serabutnya.
Neji menaikkan alis. Tidak biasanya sang Uchiha ini memulai pembicaraan. "... Aku dan kelompokku menjalankan misi, lalu terpisah dari mereka saat diserang gerombolan bandit. Mungkin mereka mencariku sekarang." jelasnya.
Sasuke mengangguk singkat, memasukkan bilah orange itu ke mulutnya.
"...Lalu kenapa kau juga ada di sini? Negeri kabut ini jauh dari Konoha." tanya Neji yang juga penasaran.
"... aku liburan,"
Jawaban singkat Sasuke kembali memicu keheranan Neji. Antara mengerti dan tidak mengerti. Liburan memang alasan masuk akal, tapi Konoha tidak mungkin membiarkan salah seorang penduduknya keluar desa dengan mudah. Apalagi tanpa ijin khusus atau misi luar desa.
"...Sendiri?"
"...Hn,"
"Bagaimana bisa?"
"Sasuke sering datang kemari. Hokage ke-tiga yang memberi ijin khusus padanya." tuturan Hajime ketika memasuki ruangan membawa beberapa gelas jus dalam nampan.
"...Kau siapanya Sasuke?" Neji menerima minuman yang diberikan Hajime untuknya.
"Bukannya aku sudah memberitahumu tadi? Aku teman Sasuke..." jawab Hajime tersenyum, mencomot bilah jeruk sambil duduk di sebelah Sasuke.
"...Maksudku bagaimana kalian saling kenal?"
"Hmm, kurang lebih sama sepertimu. aku mengenal Sasuke saat dia dalam misi solo mengantar gulungan berharga negeri ini. Waktu itu dia babak belur karena melawan para pemburu, lalu aku yang merawatnya." terangnya melirik Sasuke di sebelahnya yang memakan buah malas.
"jadi kau ada hubungan langsung dengan kepemimpinan negeri ini?" Neji bertanya kembali.
"Karena aku tetua negeri ini, tepatnya mantan."
Neji terkejut. "Maaf, aku tidak tahu jika anda—"
"Sudah kubilang jangan formal padaku," potong Hajime terkekeh kecil. "Lagipula aku hanya mantan tetua."
"Kau bahkan tidak seperti orang yang punya jabatan tinggi." ejek Sasuke.
"haha...aku ambil pensiun cepat karena aku lelah mengurus negara, Sasu-chan."
Sasuke mendeath glare Hajime, "Jangan pernah panggil aku 'chan'!"
Hajime tertawa mengacak rambut raven Sasuke, membuat Sasuke cemberut sebal dan menyingkirkan tangannya kasar. Neji terpaku. Dilihat dari interaksi mereka mungkin sudah kenal lama. Jarang-jarang dia melihat Sasuke yang berekspresi seperti ini. Biasanya hanya stoic yang menghiasi wajah putih itu.
"Kalau mantan tetua, kenapa orang sepenting kau tinggal di pinggir hutan tanpa pengawalan?" sidik Neji mengerutkan alis.
"Apa salah bila aku ingin hidup sendiri dengan ketenangan?" Hajime balik tanya.
Neji terdiam sebelum menggeleng. "Heran saja, orang penting 'kan 'berharga' bagi negara."
"Kau benar, tapi aku sudah melepas semua itu." Hajime meminum jusnya.
"...,"
Neji terdiam, lebih baik tidak usah membahas lebih lanjut. Dia kembali meminum jusnya.
"Kau genin Konoha seperti Sasuke?"
Neji mengangguk atas pertanyaan Hajime.
"Misi apa yang kau jalani?"
"Hanya misi mengantar para pedagang kembli ke kampung halaman."
"Ooh, pantas saja. Jika kalian melewati hutan kabut kalian akan bertemu para bandit yang berdiam di wilayah itu. kalau sudah begitu, kalian harus kerja ekstra menyingkirkan mereka."
"Apa kau bisa beritahu cara keluar dari hutan ini ke desa kabut?"
"Sasuke tahu," Hajime menoleh pada Sasuke. "Kau mau mengantarnya 'kan, Sasuke?"
Sasuke mendesah malas, "...Hn."
"Sasuke bisa mengantarmu ke sana. Lagipula dia juga sekalian pulang ke Konoha. Tapi kau harus pulih dulu, aku tidak mau menolong orang setengah-setengah." peringat Hajime.
"..Arigatou," Neji membungkukkan kepala rendah.
Sore menjelang Neji menemani Sasuke pergi mengambil tanaman obat tidak jauh dari rumah Hajime. Dia menawarkan diri untuk membantu dengan alasan agar tidak kaku saat bergerak. Hajime mengingatkan agar Neji tidak memaksakan diri, sebab lukanya belum sembuh benar. Kalau hanya untuk melakukan pekerjaan kecil, tidak masalah.
Berbekal keranjang rotan dan sepasang sarung tangan, kini Neji dan Sasuke berjongkok mencabut tanaman obat di tanah lapang yang dikelilingi pepohonan hutan tinggi. Sama-sama terdiam tanpa suara. Sasuke mencabuti tanaman dengan cuek, membuat Neji mengelengkan kepala karena sikapnya yang dingin.
"Kau sering mengambil tanaman obat di sini?" Neji memecah keheningan memandang Sasuke yang tak jauh darinya.
"...Hn," jawab Sasuke tanpa mengalihkan matanya dari tanaman di tangan.
"Dari caramu memilah tanaman, sepertinya kau sudah hapal betul. Untuk apa Hajime-san membutuhkannya?"
"Hajime bekerja sebagai tabib lepas di desa pinggir hutan."
Neji paham, "Kau selalu datang ke tempatnya sendiri? Tidak mengajak teman setimmu?"
Sasuke melongok pada Neji, "Tidak, mereka tidak perlu kuajak."
Neji menyerngit heran.
"Aku hanya kemari waktu libur misi dan karena permintaan Hokage ke-tiga. Pak tua itu biasanya kirim surat untuk Hajime. Jadi aku pengantar suratnya."
"Rupanya kau mau saja melakukan hal itu..." Neji tersenyum geli.
"Terpaksa." Sasuke mendengus.
Tersenyum kecil Neji mengamati sekeliling tempat mereka sekarang. Mulai berkabut tipis, tapi Neji masih bisa melihat dengan jelas. "Kau menemukanku di mana?"
"Di tebing sebelah sana." Kata Sasuke menunjuk arah belakang dengan jempol kirinya.
Neji memperhatikan arah tunjukkan Sasuke. Benar, samar-samar dia bisa melihat ada tebing tinggi yang tertutup pepohonan dan kabut tipis di sana. 'Tinggi juga' Batinnya mendongak ke atas batas tebing.
"Dimana arah desa dari tebing sana?"
"500 meter ke arah selatan, di sana ada desa padat penduduk dan tempat Hajime bekerja." jelas Sasuke.
"Hmm..." Neji mengangguk mengerti, meneruskan kerjaannya kembali. 'Berarti mungkin Lee dan Ten Ten ada di sana sekarang.'
Sasuke selesai setelah dirasa tanaman obat itu cukup memenuhi keranjangnya. Apalagi hari sudah cukup gelap karena langit sudah berwarna jingga kebiruan. Sekilas Sasuke teringat pemuda pirang saat menatap langit senja itu. Pemuda onar teman setimnya. Uzumaki Naruto.
Neji selesai beberapa menit setelahnya. Ketika hendak mengajak Sasuke pulang, Neji terdiam melihat Sasuke yang mengarah ke langit sore. Dapat ditangkapnya binar rindu dan sayang di mata Onyx Sasuke. Pemuda itu tersenyum tipis lembut penuh kasih. Efek angin sepoi yang menerbangkan anak rambut ravennya menambah keindahan wajahnya. Tampan dan cantik di saat yang sama. Membuat Neji terpana.
– Tertarik.
Sasuke berdiri dari jongkoknya bersama keranjang di tangan. Agak kaget waktu mendapati Neji memperhatikannya. "Kenapa?"
Neji terkesiap, segera saja dia mengembalikan ekspresi wajahnya. "Aa, tidak.." jawabnya setenang mungkin.
Neji berdiri mengikuti gerak Sasuke. "Ayo kembali, sudah petang."
"Hn."
Dan mereka berjalan pulang dalam diam.
.
.
.
Flasback continued
.
.
.
.
.
"Sebaiknya kau tidur Naruto,"
Sakura mendengus kesal melihat tingkah si pemuda pirang yang masih setia terjaga. Padahal Naruto belum sembuh benar, makanya dia harus banyak istirahat. Tapi lihat saja sekarang. Pemuda kekar berkulit tan itu malah berdiri di depan jendela tenda memandang keluar. Naruto bahkan tidak bergeming sedikitpun. Sungguh membuat Sakura di belakangnya sebal.
"Sampai kapan sih kau mau terus bangun? Ini 'dah malam, harusnya kau itu istirahat dan tidur sekarang!" ujar Sakura jengkel.
Tidak ada jawaban dari Naruto. Pemuda itu masih asyik melihat suasana malam di luar sana. Sakura hanya bisa menghela nafas lelah.
"...Kau mencemaskan Sasuke, ya?" tanya Sakura lirih.
"...,"
"...Sasuke akan baik-baik saja, Naru. Dia pasti 'kembali'," Sakura mencoba meyakinkan Naruto agar tidak terus khawatir. Meski dia juga khawatir dengan Sasuke.
Naruto berbalik, menatap gadis teman setimnya yang sedikit menundukkan kepala. Sepertinya tanpa sadar, dia memicu Sakura sedih juga.
"... Aku tahu," gumamnya. "Tapi tetap saja, Sasuke bisa di-'ambil' kapanpun dari kita oleh Kami-sama,"
"Jangan berkata begitu!" sergah Sakura cepat. "Sasuke akan selamat, dia akan kembali berkumpul dengan kita lagi. Bukannya kau yang paling ingin itu terjadi?!" kata Sakura sedikit berteriak.
Naruto terdiam.
"...Aku berterima kasih padamu karena kau sudah membawa Sasuke kembali, Naruto. Tapi aku juga tidak mau kalau kau harus merasa bersalah karena hal ini terjadi," mata Sakura berair, menahan tangis. "... makanya jangan..."
Sakura mengusap air matanya yang mengalir dari sudut matanya. Dia sangat sedih tidak bisa melakukan sesuatu untuk dua orang yang sangat disayanginya ini. Naruto berjalan mendekati Sakura. Menarik gadis berambut merah muda sebahu itu dalam pelukannya.
"...Maafkan aku Sakura. Maaf aku membuatmu menangis," bisik Naruto di telinga Sakura. Dia mengusap punggung Sakura lembut. "...Aku hanya ingin janjiku terwujud nyata,"
Sakura menggeleng kecil, menyandarkan kepalanya di dada bidang Naruto. "...Tidak, kau sudah mewujudkan janjimu Naru. Kau sudah membawa Sasuke pulang," jawabnya. Sakura membalas pelukan Naruto, "Kita hanya perlu menunggunya 'kembali'."
Naruto mengangguk, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Sakura. Menghirup wangi gadis dalam pelukan yang bisa menenangkan dirinya. Wangi ceri dari tubuh Sakura yang sangat disukainya.
"Sekarang tidurlah. Aku akan disini menemanimu." kata Sakura sambil menepuk punggung Naruto pelan. Tidak bermaksud menyakiti.
"...Hm, arigato." balas Naruto tersenyum, melepaskan rengkuhannya.
Naruto segera beranjak naik ke ranjang pasien. Dia berbaring memiringkan tubuhnya bersiap untuk tidur. Sakura menutup jendela tenda, kemudian menuju kursi panjang di sisi ruangan untuk istirahat sambil bergelung dalam selimut hangat.
Walau mereka sudah dalam posisi yang nyaman untuk tidur, mereka tetap saja masih membuka mata. Dalam hati mereka masih memikirkan pemuda raven bungsu terakhir Uchiha yang tertidur lelap saat ini.
.
.
.
.
.
==========TBC==========
.
.
.
Hehehe... akhirnya ada feel juga buat flashback NejiSasu dulu... XDD
gomen ya aku potong... coz biar sama-sama ngelanjutin kejadian sekarang...^^a
Jadi flashback ini akan nyeritain Neji yang jatuh cinta ma Sasu-chan..(Ssstt* Bocoran) flashback saat Sasu masih di Konoha dan mungkin sesudahnya...^^*
Special thanks :
Rannada Youichi, BlacknightSkyeye Yue- Hime, Aicinta, Yuki si lily putih, Drack Yellow, Nura, Guest, 'n para reader semua o.-*
Keep reading Mina-san!
Review!
.
.
