Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di mimpimu?
Seorang gadis tidur lelap di kamarnya. Namun, kelelapan itu tak bertahan. Tak lama dari mulutnya keluar sebuah nama. Sebuah nama yang selalu gadis itu ingat dan pikirkan sosoknya.
"Ron!"
Gadis itu terbangun dengan meneriakkan nama temannya. Ah, tepatnya orang yang dia cintai sejak dulu. Gadis itu turun dari kasurnya dan berjalan menuju jendela. Dia melamun. Melamunkan orang yang dicintainya.
"hei, Ron, apakah kau memimpikan aku malam ini? Apakah kau memimpikanku setiap hari layaknya diriku yang memimpikanmu?"batin sang gadis.
Gadis itu kembali hanyut dalam ayunannya. Tatapannya tampak sendu memandang langit malam yang kelam. Dalam hatinya sebuah harapan terucap.
Di hatiku terukir namamu c
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu
Tiga orang gadis sedang memakan bekal makan siang di bangku taman sekolah. Mereka makan sambil mengobrol banyak hal. Acara makan makan mereka sempat terhenti ketika melihat seorang laki-laki sedang bergandengan dengan seorang gadis lewat di depan mereka.
"hei, hei, Lizzie bukankah itu Ronald orang yang kau sukai?"tanya salah seorang gadis yang berambut coklat gelap. Lizzie hanya mengangguk.
"hm, benar juga kata Ana. Kau kan sudah satu tahun ini menyukai Ronald. Kau tidak cemburu ngelihat mereka?"tanya gadis satunya yang berambut hitam kelam.
Lizzie menggeleng pelan, "kalau boleh jujur aku akan mengatakan cemburu tapi tidak mungkin kan aku melabrak mereka dan secara terang-terangan mengatakan bahwa aku cemburu. Aku tidak senekat itu."
Kedua teman Lizzie mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit banyak mereka memahami perasaan Lizzi. Lalu kedua teman Lizzie melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi namun Lizzie sama sekali tidak memperhatikan. Dia hanyut dalam pemikirannya.
"namamu telah terukir dalam hatiku. Rasa cinta ini akan sulit terhapus. Setiap waktu rasa cinta dan rasa rinduku padamu membuncah. Namun, adakah aku di hatimu?"batin Lizzie.
Bila saja kau di sisiku
Kan kuberi kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya
Adakah aku di rindumu?
Lizzie sedang duduk sendirian di kursi yang terletak di salah satu sudut kafe langgananya. Matanya tak lepas dari pemandangan di luar kafe. Tatapannya menjadi kosong setiap ada sepasang kekasih yang lewat.
"hei, Liz, Lizzie. Oi, Lizzie."
Sebuah suara menyadarkan Lizzie dari lamunannya. Lizzie menolehkan kepalanya ke asal suaranya. Tampak Ronald dan pacarnya sedang berdiri di samping kanannya.
"Ron, ada apa?"tanya Lizzie berusaha setenang mungkin. Padahal hatinya sudah berdetak kencang.
"tidak ada apa-apa. Hanya saja aku tadi melihatmu duduk bengong sendirian di sini. Aku hanya ingin menyaa. Kita sudah lama tidak mengobrol,"jelas Lizzie.
"hn, kau benar. Apa kalian sedang kencan?"
Ronald hanya mengangguk. Mereka mengobrol sebentar sebelum Ronald dan pacarnya berpamitan untuk pergi.
"andai kau ada di sisiku, aku akan sangat bahagia. Akan kuberikan segalanya padamu karena aku tidak ingin kehilanganmu. Namun sekarang kau tidak berada di sisiku,"batin Lizzie.
Tak bisakah kau sedikit saja
Dengarku, dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu
Lizzie beranjak dari kursinya. Dia melangkah keluar kafe. Dia melirik ke salah satu pasangan yang duduk di dekat pintu keluar kafe.
"apakah kau tak bisa mendengar simfoni cintaku untukmu? Ataukah hatiku kurang keras menyanyikan simfoni ini? Lizzie, mungkin mulai saat ini aku akan mencoba menghapus rasa ini karena aku tau kau tidak akan bisa mendengar simfoni cintaku untukmu."
