Naruto © Masashi Kishimoto, I own nothing :3

Shinigami-kun to Juu San Nin no Akuma—Shinigami-kun and Thirteen Devil

Warning: OOC (mungkin), AU, Shou-Ai/BxB, AU

Genre: Supranatural, Fantasy, Romance, Harem

RnR~


Target 1: Apollo

Act 1: The Devil


.

.

Kabut mengambang, embun menetes pelan. Suara kicau burung penyanyi terdengar dari kejauhan, merdu nan ceria di pagi hari yang dapat dibilang cukup menyenangkan. Sepoi angin berhembus, menerbangkan ujung gorden di jendela yang terbuka dari sebuah ruangan hingga meliuk-liuk seperti ombak di pantai yang tenang. Matahari menyembul malu-malu dari ufuk Timur, sinarnya merangkak pelan membuat warna pagi di dominasi jingga muda—ditambah dengan nuansa cokelat oleh dedaunan yang berserakan di tanah mengingat sekarang sudah sudah pertengahan musim gugur.

Seberkas cahaya menyusup diam-diam dari jendela tersebut, membuat sebidang bagian di dalam ruangan menjadi cerah hingga kau dapat melihat lebih jelas karena sedari tadi ruangan ini tak diberi penerangan.

Patung kepala dan torso mengumpul di sudut kanan ruangan. Kereasi seni yang hampir tak dikenali tertumpuk di dekat kloset alat-alat kebersihan. Kanvas-kanvas tak terpakai menumpuk di atas lemari, di bawah meja, dan bertebaran begitu saja di beberapa tempat, sedangkan yang telah digambar dipajang dekat jendela. Papan palet cat air berserakan di dekat sebuah kanvas yang ditutupi kain putih. Cat berceceran membentuk titik-titik berbagai warna; leaf green, baby blue, shell pink, orange marmalade, red rose, violet, dan beberapa warna yang sudah tercampur menjadi sedikit hitam. Aroma metalik cat air menguar di ruangan ini bercampur dengan aroma minyak, oli, dan nektar bunga yang tumbuh di dekat jendela.

Klub Seni.

"Howdy Apollo," dan nampaknya di pagi buta ini, ruangan klub telah dikunjungi seseorang.

Ada dua sosok di ruangan ini, mereka tengah berdiri berhadapan. Yang bersuara barusan sama sekali tidak menampakkan wajahnya karena seluruh tubuhnya terbungkus jubah hitam dan samar-samar di daerah punggungnya terlihat sesuatu seperti sayap yang tengah tertutup berbulu hitam, amat mirip dengan sayap burung gagak. Jelas bukan manusia.

Dan satu lagi adalah seorang murid yang tidak memakai seragamnya, hanya sebuah kaus putih yang telah bebercak cat air di bagian dada. Pemuda bersurai hitam yang awalnya berekspresi datar itu kini jelas tengah kaget melihat kedatangan orang berjubah hitam tersebut yang muncul begitu saja dari udara kosong. Saking kagetnya hingga tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia mencoba untuk menganggap kalau sosok tersebut hanyalah halusinasinya karena belum tidur hampir dua hari ketika mengurusi lukisan di kanvas yang ditutupi kain putih di tengah ruangan klub.

"Apollo, waktunya bangun," desis sosok hitam sambil menjentikkan tangannya, dan beberapa saat kemudian eksrpesi kaget di wajah murid bersurai hitam itu digantikan dengan sebuah seringaian lebar dan alis yang diangkat sebelah. Ekspresinya seakan mengatakan 'aku anak bandel, jauh-jauh atau kau akan menyesal'.

"Yo Thanatos," ucap murid laki-laki tersebut sambil meregangkan tubuhnya beberapa kali, "ugh… Sai pemalas! Dia jarang sekali menggerakkan tubuhnya, aku sudah muak mencium aroma cat air selama hampir 48 jam," cerocosnya tanpa jeda. Ekspresi kesalnya melunak ketika dia melihat berkas sinar matahari di dekat jendela, kemudian mulai menjemurkan diri.

"Ah… tak ada yang lebih nikmat daripada berjemur di pagi hari," ujarnya puas, "harusnya Sai lebih sering berada di luar ruangan daripada mendekam di tempat ini terus-menerus," gerutuan pemuda itu nampaknya belum berakhir.

"Kau harus bersabar," ucap Thanatos sambil melemparkan sebuah smartphone pada Apollo yang langsung ditangkap pemuda itu.

"Aw… man, kau benar-benar tak bisa memperlakukan barang elektronik dengan cara halus?" Tanya pemuda itu sambil memencet sebuah icon surat di layar smartphone, "Hum… oke jadi Dia memerintahkanku untuk menyambut Shinigami ketika aku belum menguasi tubuh ini secara penuh? Wah kabar gembira, kenapa tidak sekalian Dia suruh aku terjun bebas ke jurang?" Ucapnya sarkastik.

"Hati-hati dengan ucapanmu, Apollo, dia adalah Tuan kita," balas Thanatos dengan nada peringatan dan Apollo hanya mendecih.

"Baik, baik... kau memang anak emasnya, tak perlu mengancamku dengan tatapan itu," jeda sejenak, "hei! Kubilang jangan tatap aku seperti itu, kau tahu, kau lebih menakutkan daripada dia-yang-kau-sebut-tuan!" Erang Apollo sambil melemparkan sebuah palet warna yang membuat jubah hitam Thanatos kelihatan konyol dengan cipratan warna pink di daerah dadanya.

"…jubah ini baru kubeli, kirim uang ke rekeningku untuk laundry," ucap Thanatos dengan nada tak senang.

"Huh? Jubah hitam kucal yang kau pakai itu masih baru? Kukira kau memungutnya dari tong sampah," Apollo mendengus setengah mengejek.

"Ini mahal."

"Tch baiklah," Apollo mengernyit ketika Thanatos menyelipkan sedikit nada mengancam di suaranya, lalu dia mencoba mengingat-ingat uang di tabungan pemuda yang saat ini tubuhnya sedang dia pinjam.

"Ok joke aside, jadi ini sudah keputusan final?" Tanya Apollo dengan tatapan sedikit memelas dan ketika dia tak melihat ada perubahan gerak-gerik Thanatos, Apollo lalu mengendikkan bahunya. "Sweet… aku akan melakukan tugas itu dengan senang hati, oh aku jadi tak sabar untuk bertemu dengan Shinigami yang mungkin akan merenggut nyawaku, menenangkan sekali," ucapnya memisuh sambil merebahkan tubuhnya ke lantai.

"Ingat kau hanya boleh menyerang Shinigami ketika malam hari saat energi devil-mu cukup kuat untuk berubah menjadi sosok aslimu," Thanatos membalikkan tubuhnya, "jangan gegabah," desisnya pelan sebelum sosoknya menghilang ditengah udara kosong.

"Oke~ baiklah, akan aku coba untuk tidak mengacau, Thanatos," ucap Apollo pelan, "nah Sai, silakan ambil tubuhmu kembali," lanjutnya kemudian menutup matanya pelan lalu beberapa saat kemudian kelopak matanya terbuka, matanya terbelalak dengan pupil yang menari liar di rongga matanya dan napas yang sedikit menderu.

"Uh…," pemuda bernama Sai itu bangun dari posisi tidur kemudian menatap sekitarnya dengan ekspresi bingung, "kenapa aku bisa terkapar?" Bisiknya pada dirinya sendiri.

.

.

.

.

HOW TO SEDUCE MEN FOR DUMMIES

Langkah-Langkah Jitu Mendekati Si Dia!

Dilengkapi dengan cara-cara mudah bagi pemula yang masih hijau.

Perhatian! Buku ini dikhususkan bagi mereka yang masih virgin.

Naruto Uzumaki, pagi ini officialy galau. Dia meremas buku laknat yang diberikan oleh partner Shinigami-nya beberapa saat yang lalu ketika jam istirahat siang dimulai. Tidak hanya tadi pagi Si Pantat Ayam itu merebut ciuman pertamanya (yang mana Naruto mencoba untuk denial, tapi nyatanya tidak bisa), sekarang Naruto malah disuguhi buku petunjuk merayu lelaki.

Ih, mendadak Naruto merasa tengah dipaksa belajar jadi gigolo.

"Woy Teme!" Naruto melempar buku penuntun itu ke arah Sasuke yang terlihat acuh tak acuh pada Naruto karena pemuda bersurai raven itu tengah sibuk dengan bekal makan siangnya. "Kau serius memberiku buku seperti itu?!" Seru Naruto dengan suara TOA-nya. Untung mereka tengah berada di atap sekolah yang ditempati mereka berdua saja, jadi suaranya yang menusuk gendang telinga itu tidak mengganggu siapa-siapa (kecuali Sasuke).

Atap sekolah sepi ketika jam makan siang di hari pertama dua pemuda shinigami tersebut. Langit nampak bersahabat dengan hembusan angin musim gugur yang selalu berhasil membuat orang malas dan mengantuk di jam-jam tidur siang seperti saat ini. Suara bising murid-murid terdengar sesekali di bawah sana, di tengah lapangan basket yang nampak dipenuhi murid laki-laki yang berteriak-teriak. Selain itu tak ada sumber kericuhan lain, suasana tenang dan damai.

"Hn?" Sasuke mengerling ke arah Naruto sambil mengunyah sosis yang dibentuk seperti gurita, "tentu saja aku serius," lanjutnya lagi dengan tatapan masa-gak-tau?

"Tapi tidak perlu sampai merayu laki-laki kan? Kita hanya perlu mencium inang tempat iblis tinggal kan?" Tanya Naruto dengan ekspresi seperti tengah menahan mulas.

"Tidak sesederhana itu," ucap Sasuke, "tadi sudah kujelaskan bukan kalau kau ingin membebaskan Si Inang dari kukungan iblis, kau harus mengisi hati-nya dengan perasaan lain yang lebih kuat agar iblis tak mempunyai ruang sedikit pun di hati Si Inang," Sasuke bicara sambil mengunyah yang membuat beberapa nasi terbang ke wajah Naruto.

"Maksudmu?" Tanya Naruto sambil mengelap wajahnya, mencoba untuk tetap sabar dan tak terpancing godaan untuk mencak-mencak ke Sasuke.

"Bayangkan hati seseorang seperti gelas kosong, dalam keadaan seperti itu iblis dapat dengan mudah merasuki manusia dan memenuhi gelas tersebut dengan kekuatan iblis," jeda sejenak agar Naruto dapat menyerap informasi, "nah, dengan mengisi penuh gelas tersebut dengan suatu emosi, dalam hal ini; cinta, maka iblis akan keluar dengan sendirinya karena tak punya tempat lagi di dalam gelas yang sudah penuh dengan luapan energi positif."

"Jadi kita harus membuat Si Inang mempunyai perasaan khusus pada kita sebelum kita menciumnya untuk melepaskan kukungan dari iblis," Sasuke meletakkan kotak bekal makan siangnya kemudian meminum jus apel kalengan.

"Singkatnya, kita harus membuat Si Inang jatuh cinta pada salah satu di antara kita," Sasuke menotolkan telunjuknya ke dada Naruto setiap dia mengucapkan satu kata, "mengerti?" Tanya Sasuke dengan nada bosan karena dia sudah menjelaskan hal ini tiga kali pada Naruto dan dia berharap kalau sesi penjelasan ini adalah yang terakhir. Dia heran, sebenarnya apa saja sih yang ada di kepala bocah pirang itu?

Naruto terdiam dengan ekspresi nelangsa kemudian mengangguk pelan sambil memungut kembali buku laktat cara menggaet cowok yang tadi dia lemparkan ke Sasuke. Lalu sebuah pemikiran muncul di kepalanya.

"Uhm… apakah kita tidak keterlaluan?" Tanya Naruto sambil meremas buku di tangannya.

"Hn?" Sasuke menyahut dengan nada tanya.

"Kita harus membuat Si Inang jatuh cinta pada kita… kesannya kita tengah mempermainkan perasaan orang lain," ucap Naruto dengan dahi berkerut karena dia merasa kalau cara ini tidak benar.

"Terpaksa," Sasuke menjawab, "kita harus melakukannya, suka atau tidak suka, karena kalau kita tidak segera mengeluarkan iblis dari tubuh manusia, maka manusia tersebut akan menjadi iblis seutuhnya dalam hitungan tahun atau bahkan bulan," Sasuke menjelaskan panjang lebar dengan perlahan, mencoba menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh Naruto agar tak perlu mengulanginya lagi. Sedangkan Naruto hanya dapat menghela napas panjang, kemudian memasang senyumnya yang khas. Senyum selebar tiga jarinya.

"Ini demi keselamatan manusia," ucapnya meyakinkan diri.

"Hn," Sasuke mengiyakan.

Tatapan pemuda Uzumaki itu kembali pada buku di tangannya. Tekadnya sudah bulat untuk menguasai teknik merayu. Kemudian, setelah menghembuskan napas panjang Naruto mulai membuka beberapa halaman kemudian membaca sebuah artikel yang berjudul:

Merayu Lelaki dengan Ucapan Verbal.

"Langkah pertama," Naruto mulai membaca dengan volume suara yang amat kecil, "buat suaramu sedalam mungkin, seksi, dan sedikit mendesah," setelah membaca kalimat itu, Naruto jadi merinding sendiri. Dirinya oke dengan suara yang dibuat agak dalam, tapi kalau harus terdengar seksi dan disertai dengan sedikit desahan?

Ih…

"Coba padaku," ucap Sasuke yang langsung menggeser posisi duduknya hingga berhadap-hadapan dengan Naruto yang jaraknya tak lebih dari sepuluh senti.

"H-huh?! Padamu?!" Seru Naruto sedikit tergagap. Sebenarnya dia tidak masalah mencobanya pada siapapun juga, tapi pada Sasuke yang tadi pagi sudah merebut ciuman pertamanya? Uh… entah mengapa Naruto merasa malu walaupun dia tahu kalau ciuman Sasuke tadi pagi hanya untuk membuatnya tidak protes dan banyak alasan agar mau mengerjakan misi tanpa halangan. Tapi… tetap saja…

"Oke," ucap Naruto dengan alis yang saling bertautan, tanda kalau dirinya sedikit resah. Dia terdiam, kepalanya dipakai untuk berpikir lebih keras daripada biasanya untuk mencari kata-kata yang bisa dikategorikan sebagai rayuan untuk laki-laki. Namun tak ada yang muncul di kepala Naruto bahkan setelah sepuluh menit berlalu dan Sasuke mulai tak sabar.

"Mau sampai kapan?" Tanya Sasuke sambil mendekatkan wajahnya Naruto yang terlihat tengah berpikir keras kemudian, "bo!" Ucap Sasuke ketika wajah mereka berjarak tak lebih dari lima senti hingga membuat Naruto terperanjat kemudian mengumpatkan sesuatu yang sayangnya malah terdengar seperti suara berkumur, ditambah sedikit rona kemerahan menjalar di kedua pipinya. Sedangkan Sasuke hanya menyeringai, seakan menikmati ekspresi kaget kolega shinigami-nya.

"Nah seperti itu cara merayu, Naruto," ucap Sasuke yang kembali menegakkan tubuh bagian atasnya, memberi jarak yang lumayan jauh untuk membuat bocah berkulit tan itu kembali tenang.

"Si—sial kau, Sasuke!" Naruto mengumpat pelan, dia yakin kalau Sasuke ini merupakan salah satu spesies lelaki yang dikelompokkan ke kelompok playboy kawakan dan buaya darat yang sudah punya beratus-ratus pengalaman dalam urusan seperti ini. Pasti pacarnya bertebaran di organisasi shinigami, puh! Memikirkannya saja sudah membuat Naruto kesal karena dia tak pernah punya hubungan khusus dengan lawan jenis.

Naruto memukulkan buku di tangannya ke kepala Sasuke yang sama sekali tidak menghindar dan hanya menyeringai iseng setelah terkena pukulan. Pemuda Uzumaki itu kemudian berdiri sambil menepuk celananya, mendelik sinis pada Sasuke yang nampak tengah merendahkannya dari tatapannya.

"Huh! Bukannya aku tak bisa merayu, tapi aku tak mau melakukannya padamu!" Seru Naruto yang berusaha mati-matian untuk terlihat meyakinkan walaupun kenyataannya dia sama sekali tidak bisa merayu. Sasuke mendengus geli, seakan berkata 'usaha bagus, coba lagi lain kali' dengan tatapan yang benar-benar membuat Naruto geram.

"Sasuke! Kau benar-benar menyebalkan!" Naruto kembali hendak memukulkan buku ke Sasuke namun kali ini tangan pemuda bersurai raven tersebut menangkap tangan Naruto hingga pukulannya tak sampai pada Sasuke. Lalu tanpa aba-aba, pemuda Uchiha itu menarik tangan Naruto dengan kuat hingga bocah pirang itu terhuyung ke arah Sasuke dan puncaknya berakhir dengan wajah Naruto yang terbenam di dada Sasuke.

Naruto mencoba mendongak ke atas namun dirinya terdiam ketika menatap biner hitam milik Sasuke yang seperti tengah menghipnotisnya dengan kekuatan magis. Dan tanpa di sadarinya jantungnya berdetak, lebih cepat, kemudian lebih cepat lagi.

"Whoa… jantungmu berdebar kencang sekali, Naruto," ucap Sasuke sambil menekan nadi Naruto di pergelangan tangan pemuda berkulit tan tersebut, "nah, semoga kau bisa belajar cara merayu yang jitu, do—be," ucap Sasuke sambil melepaskan tangannya dan langsung berdiri tiba-tiba hingga tubuh Naruto menghantam lantai dengan debuman yang cukup keras kemudian pemuda Uchiha itu langsung berlalu ketika bel masuk berbunyi.

Hening…

Naruto dengan tubuh masih tertelungkup di atas lantai nampak tengah menarik napas dalam-dalam kemudian…

"TEME YAROOOOOO!" Gerungan murka Naruto membelah langit.

.

.

.

.

Sasuke menatap Naruto dengan ekspresi bertanya keesokan harinya. Sedangkan Naruto berusaha untuk melupakan perlakuan Sasuke padanya kemarin siang di atap sekolah karena ada hal yang lebih penting yang harus dia sampaikan pada rekan sesama shinigami. Naruto mengerling ke kanan dan kiri ketika mereka telah memasuki gerbang sekolah mereka. Naruto menarik ujung lengan seragam Sasuke (berusaha sebisa mungkin tidak menarik tangan pemuda yang membuatnya kesal habis-habisan) kemudian membawa Sasuke ke belakang sebuah bangunan.

"Apa?" Tanya Sasuke yang mengerti kalau Naruto punya berita penting yang hanya boleh didengar mereka berdua, "ada hubungannya dengan akuma?" Tanyanya dengan volume rendah dan langsung dijawab dengan anggukkan singkat dari Naruto yang mengelurkan sebuah smartphone lalu menekan ikon tengkorak yang berkedip di layar sentuh.

"Semalam aku merasakan aura akuma yang amat kuat di dekat sini," ucapnya serius, "dan benar saja, ketika malam datang aku mengikuti auranya dan kulihat seorang murid lelaki bertransformasi menjadi akuma!" Serunya, masih berusaha untuk menahan volume suaranya sekecil mungkin.

"Lalu? Kau lihat siapa murid itu?" Tanya Sasuke.

"Tidak," jawab Naruto, namun tak ada gurat penyesalan di wajahnya, "tapi aku berhasil menempelkan sensor iblis pada akuma itu sebelum dia menghilang," ucap Naruto bangga sambil menunjukkan layar smartphone yang menampakkan peta sekolah mereka dan ada satu titik merah yang berkedip-kedip. Sasuke dan Naruto menyeringai.

"Kerja bagus, partner," bisik Sasuke.

"Hah, kau baru tahu kalau aku hebat? Tapi tak masalah," balas Naruto dengan seringai puas, "dan kau tak perlu bergerak ke arah titik merah ini karena aku sudah tahu siapa target pertama kita," lanjutnya dengan ekspresi yang kembali serius.

"Sai dari kelas 1-C," ucap Naruto sambil menunjuk ke kiri, beberapa belas meter di jendela ruangan klub seni, "anggota klub seni, dan aku dapat informasi dari ero senn—maksudku, Jiraya-san kalau iblis yang merasuki Sai adalah Apollo yang merupakan salah satu tahanan iblis yang kabur dua tahun lalu," lanjut Naruto dengan seringai yang makin lebar, merasa puas karena berhasil mendahului Sasuke dalam mencari informasi.

"Hebat," ucap Sasuke sambil menarik smartphone Naruto, "jadi… kita bisa mulai dari sekarang," lanjut pemuda bersurai raven itu sambil mengerling jahil pada Naruto.

"Apa?" Tanya Naruto yang mendadak mendapat firasat buruk.

"Pendekatan dengan Sai," ucap Sasuke dengan seringai yang tak bisa disembunyikan, "kau sudah siap merayunya ketika waktunya tiba?"

Mendadak Naruto yang tadi memasang ekspresi penuh kemenangan kini langsung membatu. Ah… tentu saja, setelah menemukan Si Inang, Naruto dan Sasuke harus membuat pemuda itu jatuh cinta pada salah satu di antara mereka. Naruto mengerling ke arah Sasuke yang menatapnya balik dengan ekspresi jahil lalu darah Naruto seakan menggelegak dan rasa kesalnya pada Sasuke yang dia tahan menuntut untuk dikeluarkan.

"Tentu saja! Lihat saja nanti aku pasti bisa merayu Sai!" Seru Naruto sambil menyembunyikan nada grogi dari suaranya.

"Hm… oke, semoga berhasil kalau begitu," Sasuke merangkul pundak Naruto, "do—be," lanjutnya sambil menyeret Naruto untuk pergi ke kelas mereka. Sedangkan Naruto hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena telah mengumumkan pada Sasuke kalau dirinya bisa merayu lelaki.

'Hii…. Kami-sama, tolong aku!' Jerit Naruto dalam hati.

.

.

Apollo Arc—TBC

.

.

Halo semuanya :3 Terima kasih sudah mau baca dan riview di chapter 1 XD. Saya senang sekali mendapat respon yang baik dari para reader sekalian. Hm... di chapter ini saya utamakan pada penjelasan tentang Akuma/Devil/Iblis karena bikin cerita tema fantasi itu emang harus mendetail karena ada unsur-unsur yang harus ditekankan di awal cerita ( ._.) mungkin agak membosankan di chapter ini tapi mau gimana lagi *joged* *ditendang*

Oh iya, fic ini ada unsur Harem-nya jadi tentunya Naruto dan Sasuke akan ketemu cowok-cowok lainnya di masa depan ahhahahahaha #author laknat #dihempas

Oke... mind to riview, ne? :3 *puppy eyes*

KINIWikipedia: KINI is a radio station broadcasting a Variety music format.