Naruto © Masashi Kishimoto, I own nothing :3
Shinigami-kun to Juu San Nin no Akuma—Shinigami-kun and Thirteen Devil
Warning: OOC (mungkin), AU, Shou-Ai/BxB, AU
Genre: Supranatural, Comedy, Action, Fantasy, Romance, Harem
RnR~
Target 1: Apollo
Act 2: Sai's Conqueror Strategy. Begin!
.
.
.
"Sai?"
Setelah nama itu terucap, kontan seorang pemuda bersurai hitam menoleh ke belakang, merasa terpanggil. Dan saat itu dia melihat dua orang pemuda yang tengah berdiri bersisian. Salah satu bermuka masam dan yang lainnya memasang ekspresi yang mirip seperti tengah menahan kentut. Oke, Sai tak kenal kedua orang tersebut, yang dia tahu hanyalah mereka dari tingkat yang sama—kelas satu—dari badge keemasan angka romawi 'I' yang tersemat di kerah blazer dua pemuda tersebut.
Sai mengangguk sekali, mengonformasi pertanyaan (entah siapa yang bertanya, sepertinya sih yang berambut pirang) kalau mereka tidak salah orang.
"Ada urusan apa denganku?" Tanya Sai dengan ekspresi datar, dengan sebuah senyum yang terlihat amat kaku terukir di wajahnya yang mana membuat ekspresinya jadi terlihat sedikit aneh. Sai baru menyadari kalau pertanyaannya barusan terkesan amat tidak sopan dan sedikit dingin, namun dirinya tak tahu harus berkata apa karena memang jarang berinteraksi dengan makhluk yang bernama manusia. Dan dia tak mengubah ekspresi wajahnya, pun dia tak merasa keberatan kalau dua orang pemuda itu merasa tersinggung dan mulai membencinya.
Karena dia sudah terbiasa dengan itu.
Namun dua pemuda yang bahkan tak dikenal oleh Sai itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesal. Mereka masih memasang ekspresi sama seperti sebelumnya; yang satu masam dan yang lainnya seperti tengah menahan kentut.
"Tidak, kami hanya... memperkenalkan diri pada ketua klub seni Konoha Gakuen," ucap pemuda bersurai biru gelap yang mengingatkan Sai pada warna langit di malam tanpa bulan, ah... mendadak dia punya inspirasi untuk gambar selanjutnya. Butuh beberapa saat untuk Sai agar kembali dari daydreaming mode ketika pemuda tadi berkata lagi, "Aku Sasuke Uchiha dan dia Naruto Uzumaki, kami hanya ingin mengatakan kalau...," pemuda bernama Sasuke itu berhenti bicara untuk beberapa jenak sebelum melanjutkan.
"Kami... menawarkan diri untuk menjadi model lukis di klub seni," ucap Sasuke sambil mengendikkan kepala ke arah pamflet pencarian model oleh anggota klub seni yang ditempel di papan pengumuman yang berjarak beberapa kaki di sebelah kirinya.
"Oh...," hanya itu yang keluar dari mulut Sai, kemudian dia mengangguk sekali, "kalau begitu jam 4 sore, ruang klub," ucapnya singkat kemudian berbalik meninggalkan Sasuke dan Naruto yang masih memandang punggung Sai sebelum menghilang di tikungan koridor. Dua shinigami dalam penyamaran itu saling pandang, kemudian Naruto menghembuskan napas panjang dengan alis saling bertautan, dari ekspresinya sudah dapat ditebak kalau dirinya sedikit khawatir.
"Sepertinya tipe yang sulit didekati," ucap Naruto sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.
"Tidak juga," jawab Sasuke santai sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada, "tipe seperti itu memang sulit didekati...," Sasuke mengiyakan pernyataan Naruto, namun dari cara dia menggantung kalimatnya barusan nampaknya Sasuke punya pemikiran sendiri pada kasus ini, dan seringaian penuh percaya dirinya itu terlihat sangat menyebalkan. Hal itu membuat Naruto jengah karena Sasuke nampak tidak khawatir, seakan-akan dia punya cara ampuh untuk mendekati Sai—dan nampaknya hal itu benar karena bagaimanapun, Sasuke memang punya tampang player yang sudah berpengalaman dengan segala macam tipe. Namun Naruto mencoba untuk tetap fokus pada misi mereka.
"Baiklah... jadi apa rencanamu?" Tanya Naruto dengan nada mengalah karena dia tak punya ide bagaimana caranya mendekati pemuda berwajah datar tersebut.
Sasuke menyeringai dan Naruto langsung mendapat firasat buruk.
.
.
.
.
"Uh... Sasuke?"
"Hn?"
"Apa hal yang tengah kita lakukan sekarang ada hubungannya dengan misi?" Naruto bergerak-gerak gelisah, kedua lututnya terasa begitu lemas dan dadanya berdebar kencang menahan malu.
"Hm... bisa jadi," jawab Sasuke santai sambil lalu.
"Apa maksudmu dengan bisa jadi?!" Naruto menoleh ke belakang, tepat ke arah Sasuke yang menempelkan dadanya ke punggung pemuda berkulit tan tersebut.
"Ini salah satu cara untuk menginfiltrasi ruangan klub seni tanpa harus bergabung dengan klub ini," jawab Sasuke, kemudian kedua tangannya merangkul pinggul Naruto, mengikuti sebuah arahan seorang anggota perempuan klub seni.
"Dengan menjadi model yaoi?!" Seru Naruto dengan volume suara yang masih bisa dikategorikan sebagai bisikan. Tubuhnya merasakan kejut-kejut kecil yang tak dapat dijelaskan di pinggulnya, tepat di mana tangan sasuke merangkulnya. Perutnya seperti dihuni ratusan kupu-kupu yang mengepakkan sayapnya secara bersamaan; mulas, rasanya seperti terkena maag kambuhan ketika gugup.
Naruto punya hak untuk gugup karena sekarang dirinya topless, dengan dasi yang dibiarkan menjuntai di daerah lehernya (kata anggota klub sih biar kelihatan seperti adegan fore play—serius, Naruto merinding mendengar penjelasan mereka). Sedangkan Sasuke berada di belakangnya yang juga tidak memakai atasan hingga dada bidangnya yang berkulit putih pucat terekspos, dagunya ditumpukan di salah satu bahu Naruo dengan kedua tangan memeluk pinggul Naruto dari belakang. Napas Sasuke yang hangat sesekali menyentuh pipi Naruto hingga membuat pemuda Uzumaki itu merasa sedikit grogi.
Ruangan klub seni dipenuhi suara jeritan tertahan dari para member perempuan yang dikenal sebagai fujoshi yang tengah mencari model untuk menjadi lukisan setengah nude dari dua orang lelaki yang memeragakan pose sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Aura membara terasa begitu kuat dari para gadis yang setengahnya hampir bisa dipastikan sukses nosebleed melihat dua orang tersebut yang terlihat amat natural dan serasi satu sama lainnya. Beberapa diantaranya bahkan meneteskan liur yang membuat ekspresi wajah mereka seperti maniak (pasti penggemar berat hard yaoi yang imajinasinya udah kemana-mana). Suara pensil yang digores pada kanvas terdengar seperti suara kucing yang tengah menggaruk kursi dengan kukunuya, mengerikan sekali ketika melihat semua fujoshi tersebut menggambar dengan kecepatan super dengan nafsu membara.
Sedangkan Sai dan beberapa member lelaki duduk jauh-jauh, tak ingin terlalu memerhatikan pose peluk-pelukan Naruto dan Sasuke. Dan sepertinya mereka memasang pamflet pencarian dua model lelaki karena mereka tak ingin dijadikan tumbal model imajinasi liar para fujoshi.
Pengambilan gambar Sasuke dan Naruto memakan waktu cukup lama hingga keduanya pegal berdiri sambil ditonton oleh hampir selusin cewek yang sesekali menahan jeritan dan menyumpalkan tisu di hidung mereka yang mulai mengucurkan darah. Namun sesi neraka itu akhirnya selesai dengan aura cerah dari para cewek fujoshi yang memulai konversasi ringan sambil berjalan ke luar ruang klub. Mereka tengah membahas pendirian sebuah fans club Sasuke x Naruto dalam waktu dekat karena nampaknya mereka benar-benar me-worship kedua pemuda tersebut.
Naruto pura-pura tidak mendengar, sedangkan Sasuke cuma nyengir.
"Sasuke-kun," ucap salah satu anggota klub seni yang kemudian diketahui bernama Ino menghampiri Sasuke, "teman-teman yang lain mengajakmu dan Naruto-kun karaoke sebagai hadiah kerja keras kalian, mau?" Ajak Ino dengan suara riang.
Naruto yang mendengar ajakan seorang cewek untuk karaoke mendadak jadi semangat padahal beberapa saat lalu dia merasa amat lesu setelah menjadi model fantasi para cewek ganas tersebut. Namun hal semacam ajakan main ke karaoke oleh lawan jenis adalah hal baru baginya karena di organisasi dia sama sekali tidak pernah mendapat ajakan main semacam ini. Naruto berlari menghampiri mereka sambil memasang kembali seragamnya.
"Hm... oke," jawab Sasuke yang membuat Naruto makin girang, "tapi sayang sekali Naruto tak bisa ikut karena harus menemani Sai, katanya dia tertarik melihat Sai melukis," ucap Sasuke yang memasang senyum cerah yang belum pernah Naruto lihat hingga membuat pemuda berkulit tan itu berhenti sejenak untuk melihat ekspresi tersebut, namun hal itu tak bertahan lama ketika dia sadar kalau dia sengaja ditinggal di ruang klub sedangkan Sasuke akan bersenang-senang.
"Aku mau ik—," protes Naruto terpotong, mulutnya sudah keburu dibekap oleh Sasuke.
"Kau mau ikut Sai, iya kami tahu nah kalau begitu bersenang-senanglah melihat Sai melukis," ucap Sasuke yang kemudian berlalu bersama kerumunan cewek fujoshi lainnya. Sedangkan Naruto yang tak bisa protes karena tadi Sasuke sempat membisikkan kata 'ini demi misi' mulai menyesali dirinya yang tidak memberontak pada Sasuke tadi. Uh... dia ketinggalan acara menyenangkan dan harus terperangkap bersama Sai di tempat ini.
Naruto melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore lebih empat puluh satu menit, pantas saja langit kini terlihat oranye kemerahan, ada sedikit aksen biru yang menandakan malam akan segera menggantikan singgasana matahari yang hampir tergelincir di ufuk Barat. Suara koak burung gagak terdengar sesekali dan suasana sunyi di klub seni membuatnya sedikit tak nyaman, terlebih sekarang dia berduaan saja dengan manusia yang dihinggapi akuma yang dapat bertransformasi menjadi iblis kapan saja ketika malam sudah tiba. Tapi toh dirinya tak mendapat title sebagai shinigami hanya untuk show saja, dia pun setidaknya bisa melakukan perlawanan serius bagi iblis level tinggi ini—semoga.
Aroma metalik cat akrilik menguar ketika Naruto baru tersadar kalau Sai tengah sibuk mengembara di dunianya sendiri sambil mulai mencoret-coret kanvas putih yang kini sudah banyak ditimpa dengan warna-warna hangat seperti oranye dan merah marun. Naruto masih berdiri di dekat ambang pintu, sedangkan Sai yang nampaknya tak menyadari kehadiran Naruto terus mengoleskan kuas ke kanvas sambil sesekali mencolek papan palet warna.
Angin berhembus pelan hingga membuat chime di dekat daun jendela berdenting pelan, berkali-kali sebelum suasana kembali senyap.
Ugh... Naruto paling tidak suka suasana seperti ini. Rasanya tengah mendengarkan dongeng di kelas sejarah yang menyebalkan. Naruto menggerung pelan, kemudian menghampiri Sai yang masih terus terpaku pada lukisannya. Pemuda berkulit tan itu duduk di sebuah kursi yang ada di samping Sai sambil mengingat-ingat artikel dari buku HOW TO SEDUCE MEN yang diberikan Sasuke kemarin. Namun sayangnya, waktu sudah berlalu hampir sepuluh menit dan Naruto sama sekali belum mulai berkicau.
'Ah... persetan dengan buku laknat itu! Aku bahkan tak tahu harus bicara apa sekarang!' Inner Naruto menjerit-jerit. Lalu saat itu Naruto melirik ke arah lukisan Sai dan baru disadarinya kalau Sai tengah menggambar pemandangan sore hari di luar jendela klub. Bahkan untuk ukuran Naruto yang tak tahu menahu soal urusan melukis, dirinya bisa tahu kalau Sai merupakan pelukis yang amat berbakat. Hanya dengan melihat campuran warna merah, oranye, cokelat, biru tua, ungu muda, dan merah muda, Naruto seakan dapat merasakan angin sepoi hangat dari sinar mentari senja yang temaram dari permukaan kanvas.
"Gambarmu bagus," ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya, Naruto bahkan tak sadar kalau dirinya sedang tersenyum sekarang. Dia menoleh ke arah Sai yang menelengkan kepalanya dengan tatapan heran karena baru sadar kalau Naruto duduk di sampingnya sedari tadi, "kau benar-benar hebat!" Pujinya Naruto tanpa nada dusta di suaranya yang berhasil membuat pemuda berwajah datar itu terlihat sedikit kaget, namun sedetik kemudian ekspresinya melunak hingga Naruto berani bersumpah kalau dia melihat kurva bibir pemuda itu yang terlihat amat tulus, tersenyum dengan mata sedikit terpejam. Singkat, namun cukup untuk membuat Naruto sadar kalau Sai juga manusia sepertinya.
Setidaknya dia tahu cara tersenyum.
"Ari...gatou, Uzumaki-san," ucapnya samar dibalik wajahnya yang kembali berekspresi datar.
Dan dia tau cara berterima kasih dengan cara yang amat manis. Naruto jadi yakin kalau Sai bukanlah orang yang menutup sempurna dirinya dari orang lain. Karena Sai bisa terlihat amat tulus.
Hembusan angin menerbangkan beberapa gugur daun hingga masuk ke ruang klub lewat jendela yang terbuka, chime berdenting sekali dan kembali sunyi.
"Boleh aku datang lagi besok?" Tanya Naruto sambil menggerakkan kuas bersih seperti tongkat derijen yang memimpin paduan suara.
Dan saat itu Naruto seakan tengah melihat salju yang mencair di awal musim semi ketika melihat senyum lebar Sai yang terukir di wajahnya. Tanpa perlu mendengar jawaban Sai, Naruto yakin kalau jawabannya adalah; iya.
Saat itu, ketika suasana hening tersebut terinterupsi oleh suara Sasuke yang datang kembali ke ruang klub dan menjelaskan kalau dirinya tak jadi pergi karaoke, Naruto bersumpah untuk membebaskan Sai dari belenggu iblis di hatinya.
.
.
.
.
"Ternyata rencanaku meninggalkan kalian berdua di ruangan klub berhasil lebih baik dari yang kukira," ucap Sasuke sambil menyedot teh kotak di tangannya. Biner onyx-nya menatap ke arah Naruto yang nampak tengah sibuk berenang di lautan pikirannya sendiri, sama sekali tidak mengindahkan ucapan Sasuke barusan. Sejak mendeklarasikan (hanya pada dirinya sendiri) kalau dia akan membeaskan Sai dari iblis, Naruto jadi larut dalam pemikirannya sendiri, mencoba mencari cara yang paling cepat untuk membuat Sai jatuh cinta pada dirinya. Walaupun dia merasa kalau cara ini tetap saja salah, namun kecemasan itu harus disingkirkan jauh-jauh kalau dia ingin membebaskan Sai.
"Naruto... hei Naruto!" Sasuke yang paling tidak suka diabaikan, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Naruto hingga membuat bocah Uzumaki itu mengerjap beberapa kali sebelum menoleh ke arah Sasuke sambil berkata 'nani?' tanpa suara. Sasuke mendengus pelan sambil kembali menatap ke depan, tak tertarik untuk mengajak bicara Naruto yang kini pikirannya dipenuhi oleh Sai. Entah kenapa dia jadi sebal sendiri. Well... setelah hampir seumur hidup selalu jadi pusat perhatian, Sasuke tak terbiasa ketika merasa diabaikan seperti sekarang.
Naruto mengernyit, menatap bingung ke arah Sasuke namun dirinya tak mau ambil pusing. Terlebih sekarang sudah hampir jam sembilan malam dan dia sudah capai dan tak mau buang energi hanya untuk merecoki Sasuke. Lalu beberapa detik kemudian, dua shinigami itu bergidik saat merasakan sebuah aura iblis yang kuat menusuk hingga tulang punggung mereka, aura yang menguar dari jarak yang begitu dekat.
"Apollo!" Seru Naruto yang mengenali aura iblis itu karena kemarin dia sempat melihat Sai bertransformasi menjadi iblis.
"Cepat! Pasanng haori no yome (robe of underworld)," balas Sasuke yang menepuk kedua tangannya tiga kali kemudian membacakan sebuah mantera lalu yukata putih bersih muncul begitu saja dari udara kosong, Naruto juga melakukan hal yang sama sehingga tak lama kemudian mereka telah berpakaian layaknya shinigami.
Haori no yome berfungsi membuat tubuh mereka menjadi bersifat astral (menjadi seperti roh) sehingga dapat berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, menembus diding, melayang di udara dalam waktu singkat, dan yang terpenting mereka jadi tak terlihat oleh manusia biasa.
"Pakai topeng kitsune! Wajah kita tak boleh dikenal oleh Apollo," lanjut Sasuke sambil melemparkan topeng berbentuk musang yang langsung dipasangkan di wajah kedua shinigami tersebut. Keduanya hampir tak sempat melompat ke udara ketika sebuah bola api sebesar wrecking ball menghantam jalan hingga meninggalkan lubang sedalam setengah meter.
Naruto dan Sasuke melayang beberapa saat di udara sebelum keduanya mendarat di dua atap rumah yang sedikit berjauhan. Mereka mendongak ke langit dan di sana melayang sosok iblis yang masih memakai wajah Sai namun memiliki sayap elang keemasan di punggungnya. Busur sewarna matahari membara di tangannya, celah matanya bersinar sedikit berasap, rambutnya menyala-nyala berwarna pirang emas hampir terlihat seperti terbakar.
"Salute, Shinigami," ucapnya dengan suara Sai, menunduk pelan memberi salam namun sedetik kemudian langsung muncul sebuah seringai timpang dan alis yang terangkat sebelah seakan tengah meremehkan dua shinigami yang memakai topeng untuk menutupi wajah mereka.
"Kalian amat putus asa untuk menyembunyikan wajah kalian yang jelek dengan topeng butut, ara ara... apakah shinigami generasi sekarang benar-benar tidak punya cita rasa pada seni?" Ucap Apollo sambil melesatkan satu anak panah yang berubah menjadi bulatan api besar berkecepatan tinggi yang langsung meledak di udara ketika Sasuke dengan susah payah menghindari anak panah super cepat tersebut.
"Ah... kukira yang datang untuk memburu kami, tiga belas akuma level S adalah sekelompok shinigami elit tua bangka, namun ternyata yang datang tak lebih dari dua bocah bau kencur yang hampir tak punya pengalaman," Apollo melayang dengan kedua sayap yang mengibas dengan konstan.
Naruto dan Sasuke tak menjawab, keduanya kini telah memanggil sabit hitam besar milik mereka kemudian mulai melompat dari satu atap ke atap lainnya lalu melompat tinggi ke angkasa dengan kecepatan penuh, menyerang Apollo dari dua sisi yang berbeda.
"Tsk... tsk, anak kecil harusnya sudah tidur jam segini," Apollo menggeleng-gelengkan kepala sebelum dia berpindah tempat seperti tengah berteleport membuat Sasuke dan Naruto kaget ketika mereka hampir menyabit satu sama lainnya karena pergerakan Apollo yang tiba-tiba.
"Cih, inikah kekuatan iblis level S?" Ucap Naruto geram ketika dirinya berasil mendarat di sebuah dahan pohon dengan selamat.
"Tak salah lagi," sahut Sasuke yang mendarat di sebuah atap tak jauh dari Naruto, "Namun harus kau ingat Naruto, kalau Apollo sekarang belum menguasai penuh tubuh Sai, dia tak bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya dan kau tahu...," Sasuke mengerling ke arah Naruto dengan tatapan yang memberi kode pada Naruto.
"Ya, kita masih punya kesempatan," jawab Naruto dengan nada optimis.
"Hoya hoya... apakah sesi strategi telah selesai? Aku mulai bosan," ucap Apollo yang kembali menembakkan anak panah yang berhasil membuat dahan pohon yang menjadi pijakan Naruto patah dan terbakar. Namun Naruto sudah mengantisipasinya dengan melompat lebih cepat beberapa detik sebelum bola api meledakkan tubuhnya. Dan kini dirinya telah melayang jauh lebih tinggi dari pada Apollo.
"Kau tahu akuma-san," Naruto berkata sambil mengeluarkan dua bulatan yang berbentuk seperti bola tenis, "kalau shinigami generasi sekarang banyak akal!" Serunya bersamaan dengan lemparan dua bola tersebut ke Apollo.
"Huh... manian anak-anak zaman sekarang," ucapnya bosan yang kemudian langsung melancarkan dua tembakan anak panah sekaligus yang langsung menghancurkan dua bola tersebut dengan ledakan api, "lihat?" Lanjutnya dengan nada angkuh.
Namun sedetik kemudian Apollo hampir tak dapat melihat apa-apa ketika sinar dengan intensitas yang membutakan menguar dari ledakan kedua bola tersebut, membuatnya tak sempat menghindar ketika dua sabit shinigami muda yang memakai topeng kitsune itu berhasil menyabet sayap keemasan Apollo hingga putus dan menyebabkan iblis tersebut menggerung murka sebelum berubah menjadi buntalan kelam yang lansung menyelinap ke bayang-bayang dan menghilang dalam keheingan malam.
Naruto dan Sasuke memutuskan untuk tidak mengejar Apollo yang kini pasti telah bersembunyi di suatu tempat sambil menekan aura iblisnya. Pasti akan buang-buang waktu dan energi kalau mereka ngotot mengejar iblis tersebut. Dua shinigami tersebut melepas topeng di wajah mereka dengan peluh yang mengucur deras dari pelipis mereka. Namun mereka malah nyengir lebar.
"Tak buruk untuk aksi pertama, eh?" Tanya Sasuke sambil mengelap keningnya dengan ujung haori no yome miliknya.
"Yeah, tidak buruk untuk ukuran shinigami bau kencur melawan iblis level S," jawab Naruto yang langusng merebahkan tubuhnya di atap sebuah rumah sambil ngos-ngosan.
"Untungnya wajah kita tak terekspos," Sasuke duduk di samping Naruto dengan napas yang terengah-engah.
"Setidaknya dia tak bisa menebak kalau dua shinigami telah mendekati inang-nya," ucap Naruto, "untung kau memberiku pil penekan aura shinigami ketika kita mendekati Sai seharian tadi," lanjutnya sambil nyengir lebar.
"Ha, tentu saja, aku kan penuh perhitungan," jawab Sasuke dengan kepercayaan diri tinggi yang anehnya tak membuat Naruto kesal untuk saat ini. Pemuda bersurai raven itu ikut merebahkan tubunya ke atap rumah sambil menatap langit malam yang terlihat begitu cerah tanpa awan, namun agak sepi tanpa kehadiran bulan.
"Mulai saat ini dan kedepannya musuh pasti tak akan meremehkan kita lagi, jadi keberuntungan seperti tadi mungkin tak akan terulang," ucap Sasuke dan Naruto mengiyakan dengan sekali menganggukan kepala.
"Tapi kita juga belum memperlihatkan kekuatan sebenarnya shinigami generasi sekarang, kan?" Ucap Naruto yang mengerling ke arah Sasuke sambil nyengir.
"Ha! Tentu saja," ucap Sasuke, "uh... tapi sekarang aku mau tiduran dulu sebentar di sini, capai," ucap Sasuke sambil menjulurkan tangannya lalu menepuk puncak kepala Naruto beberapa kali. "Kerja bagus, partner," ucapnya sambil tersenyum yang berhasil membuat Naruto salah tingkah karena mendapat perlakuan baik dari Sasuke. Biasanya kan dia selalu dikerjai dan dibully habis-habisan.
Tapi... dipuji seperti ini tak buruk juga. Saking senangnya, Naruto bahkan tidak sadar kalau sudah tertidur sebelum dibangunkan dengan sebuah injakan kaki oleh Sasuke ketika matahari mulai terbit keesokan harinya.
.
.
.
Apollo Arc—TBC
.
.
.
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih bagi para riviewer di chapter sebelumnya; zheptia. vhiyavhia , Foschidelic Reika, hanazawa kay , Uzumaki Prince Dobe-Ni, Lsamudraputra, Viviandra Phantho, alvida the dark knight
Saya sudah balas komentarnya via PM hehe makasih sekali lagi.
Dan untuk guest riviewer, karena saya gak bisa balas komennya via PM jadi saya balas di sini saja :D
Azure'czar: Wah nggak nyangka fic saya bisa bikin gemes mfufufu... dan iya ini bergenre harem jadi nanti pasti banyak cowok2 yang lain setelah arc Apollo *otak nista* ahaha
NamiMirushi: Hihi reaksi Sasu biasa aja X3 kan baru kenal, tapi di chapter ini Sasuke kelihatan gak suka pas liat Naruto terlalu banyak mikirin Sai di jalan pulang mfufufufu... Hehehe maaf kalau kurang panjang X3 di chapter ini saya panjangin dikit (cuma 500 kata XD).
Ebina A: Wah saya juga ketawa-tawa sendiri pas baca ulang XD hehe berarti saya berhasil membuat cerita yang ada unsur komedinya padahal saya paling gak bisa bikin humor yang pol :3
.
.
Oke di chapter ini udah ada battle-nya XD ahahah... semoga adegan action-nya gak abal-abal banget ya ( ._.) soalnya bikin scene battle lewat tulisan itu susahnya ampun-ampunan XD
Oke minna-sama~ Mind to Riview ne :3
