CHAPTER 3
JODOHKU DITANGAN SIAPA?
Setelah melakukan aksi mempermalukan yunho didepan umum akhirnya aku dapat karma sepulang sekolah.
"Kau tahu dengan Jung Yoonhae?" Tanya ummaku serius.
"Apa pemilik retail supermarket yang terkenal itu?".
"Kau kenal anaknya bukan?". Tanya umma lagi
"Iya, kami satu sekolah, memangnya kenapa kau menanyakannya?"
Ummaku diam sejenak sambil menarik nafas sebelum berbicara lagi padaku
"Kau tahu keluarga kita akan bangkrut kan?".
"Iya".
"Umma dan pamanmu melakukan segala cara demi menyelamatkan aset keluarga kita, kami meminjam uang ke bank namun kami tidak sanggup untuk membayarnya karena kami terus-terusan merugi, pamanmu lalu bertemu dengan tuan Yoonhae untuk meminta bantuan karena ia adalah sahabat ayahmu, untungnya ia bersedia untuk membantu kita namun dengan satu syarat".
"Apa syaratnya umma?" jantungku mulai berdegup dengan tatapan serius umma, apakah ini ada kaitannya dengan diriku?.
"Mereka meminta kami untuk menjadikanmu sebagai menantunya".
Jantungku berdegup dengan cepat, sangat cepat sekali sehingga rasanya ingin loncat keluar.
"Apa itu berarti aku harus menikah dengan salah satu anaknya tuan Jung?". Tanyaku dengan was-was.
"Ia hanya punya satu orang putra". Kata ummaku menjelaskan, rasanya hatiku seakan berhenti, rasanya aku ingin pingsan saja.
"Kami…akan menjodohkanmu…dengan Jung Yunho".
Kepalaku langsung berkunang-kunang, aku berharap aku hanya bermimpi namun rasanya sakit ketika aku mencubit tanganku untuk membuktikan bahwa umma berbicara langsung padaku.
"T—tapi kami berdua adalah laki-laki, kita tidak bisa meneruskan keturunan jika kami menikah".
"Kami tahu, awalnya mereka juga tidak setuju namun setelah pamanmu memperlihatkan hasil lab tubuhmu mereka menyetujuinya, kau mempunyai kemungkinan X di organ reproduksimu sayang, yang berarti kau bisa melahirkan".
Kepalaku semakin sakit lagi.
"Umma itu tidak mungkin…lagipula walaupun kecil kemungkinannya aku bisa mengandung aku tetap tidak mau hidup dengannya".
Umma mengambil tanganku.
"Jae sekarang ini kau jangan pikirkan dirimu saja, kau harus memikirkan nasib umma, keluarga pamanmu, kakakmu, nasib kami semua ada ditanganmu". Ujar umma dengan wajah penuh harap, aku tahu aku harus berkorban demi keluarga ini namun jika untuk menikah dengan orang itu….rasanya—rasanya itu sangat mustahil.
"Ke—kenapa harus aku?".
"Karena kau anak umma yang manis dan kau punya wajah yang bisa membuat lelaki bertekuk lutut padamu".
"Umma tapi bagaimana kalau ia menolakku".
"Tidak perlu khawatir dengan itu, kami akan membuatnya menyetujui pernikahan ini".
"Umma…".
"Kau tidak akan mengecewakan ummamu ini kan?".
"Tentu saja tidak".
"Baiklah, itu artinya kau akan menurut apa kataku, bersiaplah, orangtua yunho mengundang kita makan malam di rumahnya". kata ummaku dengan tenang.
Ya tuhan aku dalam masalah
Apa ini karma untukku? Memangnya apa salahku? Apa karena kami selalu bertengkar disekolah?.
Menikah? Tidak mungkin, kenapa aku harus menikah dengan setan satu itu, bagaimana jika kami punya anak, anak kami tentu akan mempunyai perilaku buruk sepertinya. Uh tidak...kenapa aku harus berpikiran punya anak dengannya. Aku buru-buru membasuh mukaku untuk menyegarkan pikiranku namun bayangan senyum liciknya membuat kepalaku pusing lagi.
OoO
"Aduh inikah yang namanya Kim Jaejoong?…duh cantik sekali, kau benar-benar flower boy yah".
Mrs. Jung memegang-megang pipiku lalu menelusuri bagian tubuhku dengan seksama, ia terlihat begitu menawan serta parfum mahalnya menyengat hidungku namun aku suka wanginya, jika yunho punya mata menarik pastilah dari ibunya ini.
"Mari masuk…yunho…anak itu belum pulang katanya ia sedang menonton bersama teman-temannya".
Aku bernafas lega ternyata yunho tidak akan pulang cepat, pada jam segini ia akan menghabiskan waktu bersama sahabatnya.
lalu mengajak kami masuk sambil memperlihatkan koleksi lukisan mereka yang jumlahnya puluhan, setelah asyik berputar-putar kami bertiga lalu duduk di ruang tamu sambil bercakap-cakap ditemani teh hangat dan cemilan kecil.
"Jaejoong-ah yunho bercerita banyak tentang dirimu disekolah, katanya kau sangat terkenal sekali"
Aku tersenyum dengan berat menaggapi perkataan Ms. Jung, tentu saja itu tidak benar, yunho tidak mungkin memujiku pada orangtuanya.
"Jaejoong juga memuji anak anda disekolah, katanya yunho murid yang sangat berprestasi dan ramah pada semua orang"
Aku langsung tersedak mendengar omongan umma, kapan aku pernah berbicara tentang yunho padanya?.
"Anak kita rupanya sudah mengenal baik satu sama lain, mereka memang berjodoh…hahahha" timpal mrs Jung yang diiringi suara tawa dari ummaku.
Aku hanya tersenyum dengan terpaksa mendengar segala omong kosong ini, ingin rasanya aku menghindar namun aku tidak ingin mencewakan ummaku.
"Jaejoong bisa kau ambil album foto di kamar yunho?"
"Eh?!"
"Ummamu ingin melihat foto yunho masih kecil, kau cari saja di rak bukunya ya"
"Baiklah"
Dengan beat hati aku naik keatas tangga menuju kamar yunho yang telah ditunjukkan oleh , deretan kamar-kamar kulewati kemudian aku melihat tanda No Trespassing dipintu, tanda itu pasti milik Yunho.
Kamar yang sangat besar dengan kasur yang nyaman dan tv layar super besar.
Aku sedang mencari album foto Yunho ketika seseorang membuka pintu, aku menoleh dan ia kini menatapku tajam dengan berdecak pinggang, aura kemarahan tampak jelas diwajahnya.
"Apa yang sedang kau lakukan di kamarku?!". Teriak Pemuda bertubuh jangkung putra dari Mrs. Jung.
"A..A—aku sedang disuruh ibumu mengambil album foto". balasku
"Kau berani sekali masuk ke kandang harimau ya!".
"Aku disuruh, memangnya aku ingin masuk kamarmu apa?".
Aku segera bangkit dan mengambil langkah seribu namun ia menghalangi jalanku.
"Mau kemana?".
"Keluar".
"Karena kau disini bagaimana kalau kita melanjutkan permainan kita tadi siang".
Yunho menarik tanganku lalu mendorong tubuhku ke kasurnya.
"K—kau mau apa?".
"Tentu saja mau memberi pelajaran untukmu, kau berani sekali mempermalukanku di depan semua orang".
Ia naik ke atas ranjang dan mendorong pundakku.
"K—kau masih marah soal itu…Tck…yunho nyalimu itu kecil sekali jika kau terganggu oleh imagemu seperti itu".
"Ya aku marah sekali, apa kau tahu rasanya dipermalukan didepan umum!".
Ia mencengeram wajahku dengan erat, kedua kakinya menahan kakiku.
"Apa kau tidak tahu cara meminta maaf?". katanya lagi.
"Aku tidak tahu ada kata itu". Balasku dengan santai, ini membuatnya semakin marah.
"Katanya kau mau jadi istriku ya…lihatlah muka kurus ini, mana mau aku denganmu".
Tangannya mencengkeram wajahku lalu mendorongnya keatas bantal.
"Aku juga! Memangnya aku ingin dengan muka tembok sepertimu". balasku
"Apa? Muka tembok?".
Ia mengambil kamera poket dari lacinya.
"Baiklah, kalau begitu kita lihat dimana harga dirimu".
Yunho tanpa diduga menarik kaosku keatas, aku segera menghentikannya namun tangannya memaksa lagi.
"Lepaskan aku!".
Aku segera menendangnya kuat-kuat dan ia tersungkur ke bawah.
"Och!".
"Melawanku saja kau tidak bisa, kau pikir aku mau dengan pria lemah sepertimu!".
"Oya, memangnya aku juga mau menikah dengan orang kurus sepertimu!"
Buk. Aku meninju perutnya.
"Orang kurus katamu…kau pikir tubuhmu itu bagus apa? tubuhmu itu seperti orang kelaparan, sapu lidi".
"Apa!"
Ia mendorongku lagi keatas ranjang dan memaksa untuk melucuti bajuku, kali ini tenaganya diatasku, rupanya ia benar-benar marah padaku.
"Aku ingin memoto dirimu sedang telanjang lalu akan kutempel didinding sekolah" katanya berapi-api sambil berusaha melucuti pakaianku.
"Lepaskan!" aku merongrong dengan hebat sampai pintu terbanting didepan kami, umma dan melihat kami dengan mulut menganga.
"Yah! Kalian sedang apa?".
OoO
Kami lalu diinterogasi di ruang tengah, kakiku dan kaki yunho saling beradu, ia menggira semua kesalahpaham ini adalah gara-gara aku padahal ini semua adalah kerjaannya.
Didepan kami dua orang wanita tengah asyik berbincang sesuai pendapat mereka.
"Beginilah anak muda jaman sekarang". Ujar mrs. Jung sambil menatap kami satu persatu.
"Iya beda sekali dengan jaman kita, aku jadi malu". Kata umma sambil melirik kearahku, kaki yunho menginjak kakiku lagi.
"Mungkin kita memang harus cepat-cepat menikahkan mereka"
"Mwooo?!" ujar kami bersamaan.
"Umma bukan seperti itu kejadiannya". ujar yunho berusaha membela diri
"Ah ya ya sudahlah bagaimanapun kalian tidak mungkin mau mengaku, mana ada maling yang mengaku".
"Appanya yunho ingin menikahkan kalian setelah kalian lulus sekolah, tapi melihat gejolak anak muda didiri kalian sepertinya kami harus mengawinkan kalian secepatnya".
"UMMA!". Kami kompak berteriak.
OoO
Sepulangnya dari rumah yunho HPku berbunyi, ada pesan masuk.
Dasar kau rubah.
Ini dari si muka tembok yunho itu, buru-buru kuketik balasannya.
Yah dasar kau serigala.
Ia lalu membalasku lagi.
Awas kau di sekolah.
Kukirim balasannya lagi.
Kau mau melawanku…takuuuut.
Beberapa detik kemudian ia membalas.
Y: Awas kau, kuperkosa baru tahu rasa.
Aku: Katanya kau tidak tertarik dengan tubuhku? Dasar pembual.
Y: Aku tidak tertarik dengan tubuhmu aku hanya tertarik untuk mengotorimu.
Aku: Otakmu tidak beres.
Y: Wajahmu tidak beres, kau seperti wanita.
Aku: Yah aku mau tidur! Kau menghabiskan pulsaku.
Tidak lama kemudian HPku berbunyi dengan no yang sama, aku mengangkatnya.
"Hei aku sedang nonton discovery channel, kulihat ada dirimu disana"
Aku segera keluar kamar dan merebut remote dari tangan ummaku lalu aku menekan tombol channel discovery, para kudanil sedang berendam di sebuah kolam di padang afrika sana.
"Mwoo? Yah jangan bercanda! Kau menyamakan aku dengan binatang-binatang itu?!".
"Lucu bukan? Hidungnya besar sekali".
"Kau seperti Orang Utan!" kataku berteriak pada telepon lalu aku menutup teleponnya, aku balik lagi ke kamarku, melemparkan tubuhku keatas kasur sambil menggerutu.
"Sial..sial...sial kenapa aku harus djodohkan dengan manusia aneh itu.
Teleponku lagi-lagi berbunyi, kulihat pesan disana.
Malam kudanil yang cantik, pantatmu pasti sexy seperti mereka XD.
"Aisshh!".
Aku langsung membanting ponselku ke atas kasur, menutup kepalaku dengan bantal sambil mengutuk dirinya.
OoO
Yang udah baca ni FF versi mungkin bingung karena ceritanya tidak sama dengan versi sebelumnya.
Ini adalah REMAKE so, it's gonna be different…enjoy.
