CHAPTER
4
OooooooooooooooooooooO
Besoknya aku pergi ke sekolah dengan perasaan kesal, pasti nanti di sekolah ia akan mengusiliku lagi, pikirku sambil memasukkan seluruh peralatan sekolah sambil menggerutu, ketika baru keluar rumah tiba-tiba Hyung mencegatku.
"Ada apa Hyung?".
"Kau akan jadi partner Jung Yunho kan?" Tanyanya tiba-tiba dengan nada serius.
"Apa maksudmu?".
"Umma sudah memberitahuku, katanya kau akan dijodohkan dan aku akan jadi kakak ipar Yunho".
"Aku tidak mengerti ucapanmu aku harus pergi ke sekolah" kataku buru-buru mengambil langkah seribu namun kakakku menghalangiku jalanku.
"Jae maukah kau menolongku?".
"Menolong apa?".
"Pinjamkan uang pada pacarmu Yunho?".
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus meminjam uang padanya? Dan lagipula dia bukan pacarku".
"Tolonglah, aku punya hutang pada seseorang".
"Hutang apa?".
"Aku memakai uang kuliahku selama dua tahun, dan untuk membayar biaya kuliahnya aku meminjam pada rentenir, aku harus mengembalikan uangnya".
"Yah Hyung itu urusanmu, kau ini memang suka bikin masalah ya, kenapa juga pinjam uang pada rentenir". Balasku kesal lalu aku pergi meninggalkannya menuju Junsu yang sudah menungguku dari tadi.
OoO
Ketika kami asyik berbincang sambil memasuki gerbang sekolah tiba-tiba suara klakson berbunyi dengan kencang, sekumpulan murid-murid disampingku semuanya minggir demi memberi jalan pada si pemilik mobil, Junsupun memilih berjalan di tepi namun aku tetap berjalan di tengah-tengah dengan santai karena tahu siapa pemilik mobil itu.
TIIIIIIIIIINN
Erang suara klakson itu lagi memenuhi telingaku, namun aku tidak ingin beranjak dari jalan yang sedang kupijaki.
"Jae minggir" ujar junsu padaku sambil matanya menunjuk-nunjuk pada si pemilik mobil dengan ketakutan.
"Apa? biar saja, memangnya ini jalan punya ayahnya?" balasku kesal sambil terus berjalan di belakang mobilnya.
"Hei Kudanil minggir!" teriak seseorang dibelakangku, karena diteriaki demikian kepalaku langsung berputar 180 derajat. Aku langsung kesal sekali ketika melihat wajah Yunho terjulur dari balik jendela.
"Yah siapa yang kau sebut kudanil" ujarku kesal, karena pria di mobil itu nampaknya tersenyum melihat tingkahku aku jadi semakin kesal lalu aku memukulkan kakiku pada bemper mobilnya berkali-kali.
"Hei jangan mengotori mobilku!".
Ia keluar dari mobil mewahnya sambil melotot kearahku.
"Bersihkan!".
"Bersihkan sendiri! Memangnya ini jalan punyamu! Ini jalan umum tahu!".
"Aku membayar pajak ke sekolah, memangnya kau memberi apa kesekolah ini?". katanya dengan sangat menyebalkan.
"Oooh Baiklah kalau begitu kau boleh berjalan dibelakang pantatku yang sexy". Ujarku dengan tenang lalu membalikkan badanku lagi sambil berjalan pelan.
Mobilnya juga mengikuti dibelakangku berjalan dengan sangat pelan, tiba-tiba tanganku ditariknya.
"Hei ayo naik". Perintahnya padaku dengan memaksa.
"Yah lepaskan!".
"Begini lebih baik, kau tidak akan menghalangi jalanku".
"Ooh Begini ya rasanya naik mobil mewah" kataku dengan nada menyebalkan.
"Lebih nyaman dibanding naik bis kan?" balasnya dengan sombong.
"Oh tentu saja, oya bagaimana jika kutinggalkan kenang-kenangan disini".
Aku membawa spidol dari dalam tas lalu mencoretkannya di jok dibelakangku.
"Yah apa yang kaulakukan!".
"KIM JAEJOONG" kataku sambil menambahkan love di ujung atas huruf G
"Wah bagusnya…" sambungku lagi sambil bertepuk tangan.
Matanya seakan keluar saat melihat namaku terpampang dengan besar pada jok mobilnya dengan spidol putih permanent.
"Yah keluar kau!"
"Terimakasih untuk tumpangannya ya" kataku sambil melambaikan tangan terhadapnya.
OoO
"Kau sejak kapan jadi dekat dengannya?" Tanya Junsu kemudian padaku saat makan siang.
"Siapa yang dekat, ia hanya ingin mengerjaiku dan aku juga ingin membalasnya" kataku sambil menyantap udang dari box makan siangku.
Murid-murid wanita yang melintasi kami melirik pada kami dengan tatapan menyelidiki, kupikir mereka hanya beberapa murid aneh namun semua orang yang kulihat kini melirik dengan aneh padaku dan Junsu.
"Jae ada apa dengan mereka? Kenapa mereka melihat kita demikian?".
"Entahlah". Jawabku. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
Saat kami melewati lorong sekolah aku melihat murid-murid mengerubungi sesuatu, aku segera mengusir mereka untuk mengetahui apa yang sedang mereka lihat, ternyata banyak sekali foto-foto aku dan junsu sedng berduaan terpampang disana, semua foto itu murni rekayasa dan dibawahnya terdapat tulisan.
PASANGAN HOMO
Junsu yang melihat foto tersebut langsung berlari entah kemana, melihat foto-foto palsu tersebut pastinya sangat melukai harga dirinya, tak lama kemudian Yunho dan kawan-kawannya melewati kami, saat melewatiku aku melihatnya tersenyum simpul, saat itu aku sadar ini pasti perbuatannya.
"Jung Yunho tunggu sebentar!" kataku menghentikan langkahnya dan teman-temannya. Semua murid juga masih melihat kearahku sambil menggunjing tentang diriku.
"Ya ada perlu apa?" tanyanya
Kakiku langsung melangkah, mendekatinya, kakiku sedikit berjinjit lalu dengan spontan aku mencium bibirnya, matanya membesar, sepuluh detik kemudian aku menurunkan kakiku dan bibir kami terpisah. Ia kelihatan speechless.
"Kau mau menyembunyikan hubungan kita ya" kataku tersenyum sambil bersuara lantang padanya, setelah itu aku berbalik dan melangkah pergi, walaupun demikian aku masih bisa mendengar suara riuh murid-murid dibelakangku dan sahabatnya changmin berteriak.
"Y—Yunho K—Kau kau juga…apa kau juga HOMO?!"
OoO
Aku membasuh wajahku lalu menyapu bibirku dengan tanganku berulang-ulang. kenapa aku harus berbuat seperti ini. Lelaki sialan itu sudah membuatku marah, kataku pada cermin didepanku, lalu wajahnya pun tiba-tiba muncul di cermin, mendekatiku dari belakang.
Kenapa aku selalu berjumpa dengan makhluk menyebalkan itu.
"Kau pintar ya jae?" ujar Yunho padaku.
"Benarkah? Ya aku memang pintar hanya nasibku yang tak sebagus dirimu" kataku sambil terus membersihkan bibirku.
Tangannya melingkar dileherku, dadanya menempel pada pundakku, lama-lama aku merasa ikatannya semakin kencang membuatku dadaku sesak.
"Kau harum juga ya".
"Yah kau mau apa?".
"Apa maksudmu, bukankah kita harus memperlihatkan hubungan kita…hmm" ucapnya sambil mengendus pada telingaku. Dari cermin aku melihat matanya yang membesar dengan senyum evil tersungging di bibirnya.
"Lepaskan aku sebelum aku meremukkanmu".
Ia mencengkeram rahangku
"Kau sudah mulai pandai menyulut api ya, selalu membuatku marah".
Aku menangkis tangannya dan mendorong tubuhnya.
"Minggir!. Kau boleh menggangguku tapi jangan bermain-main dengan temanku! Atau…"
"Atau apa…?".
"Atau kau akan memohon padaku demi keselamatan hidupmu". balasku
"Kau yang akan memohon padaku".
"Jangan membuatku tertawa!" ujarku sambil mendorong tubuhnya dan melangkah pergi, sesampainya dikelas aku berusaha menghibur kawanku Junsu, setelah kejadian ciuman mendadak tadi orang-orang tidak terlalu memperhatikan junsu lagi, malah kini mereka semua menatapku dengan tatapan sinis. Sesekali terdengar nada sinis dari kanan kiriku.
"Bagaimana bisa Yunho menyukainya"
"Ya walaupun Si Jae itu terkenal dia kan tetap tidak selevel dengan Yunho".
"Si Jae itu pakai guna-guna apa ya kok Yunho yang tampan itu mau dengannya".
Semua omongan sinis depan belakang samping kiri kanan tidak kugubris, aku sama sekali tidak khawatir dengan image diriku disekolah, selama Junsu dan keluargaku aman aku akan baik-baik saja, namun hidupku selalu tidak tenang.
KRRRRIIING
Tiba-tiba suara teleponku berbunyi.
"Jae tolong aku" ujar suara diujung sana dengan nada panik.
"Hyung?…Hyung kau dimana? Kau kenapa?".
"Dengar! setelah kau punya uang 5 juta won telepon lagi untuk instruksi selanjutnya, tidak lebih dari 12 jam atau bagian tubuh kakakmu akan tercecer didepan rumah kalian, apalagi jika kau melibatkan polisi, kami akan mengirim kepalanya langsung ke ibu kalian" ujar suara asing kemudian.
Telepon lalu ditutup
Aku melongo dengan panik, rupanya kakakku benar-benar punya masalah dengan rentenir, 5 juta won? aku harus mencuri dimana uang sebanyak itu? dan aku tidak mungkin menelepon polisi dan ummaku, dia bisa terkena penyakit jantung.
OoO
Lalu aku selanjutnya diam di mobil musuhku.
Baru saja ia masuk mobil ia langsung terperanjat oleh penampakanku dimobilnya. Jika bukan karena si penyuka masalah Jungmin itu aku tidak akan berada disini.
"K—kau sedang apa disini!". Tanyanya kaget
"Kemudikan saja mobilnya" kataku pada Yunho yang masih terkejut oleh penampakanku.
"Bagaimana kau bisa masuk mobilku, jangan-jangan kau mau mencuri mobilku ya?!".
"Yah jalan saja!".
Kami lalu meninggalkan sekolah kami, dijalan aku sedikit menundukkan wajahku sambil terlihat memelas.
"Kau ini kenapa? Kambuh lagi sakit jiwanya?" katanya
"Aku…kurasa aku mau mati saja".
"Kenapa tidak secepatnya". Timpalnya dengan cepat
Tanganku memutar kemudinya, mobil sedikit oleng sebelum ia mendorongku ke bangku.
"Kau gila! Ada maslah apa dengan dirimu?".
"Pinjami aku uang 5 juta won".
"Apa! Kau ini benar-benar tidak waras ya".
"Yunho tolonglah aku, kitakan satu keluarga".
"Satu keluarga dari mana?".
"Kurasa aku akan menikah saja denganmu".
Yunho langsung mengerem mobilnya, kepalaku hampir membentur kaca mobil.
"Yah hati hati!" ujarku berteriak namun teriakannya lebih kencang lagi.
"Kau ini bicara apa! Kau minta uang dan ingin menikah denganku!".
"Maukah kau menolongku kalau aku memohon?" tanyaku dengan wajah memelas dan memperlihatkan puppy eyes.
10 menit kemudian.
"Oh jadi kakakmu ditawan untuk jaminan hutang ya?".
"Iya".
"Laporkan polisi saja".
"Tidak bisa, nanti mereka menguliti kakakku".
"Ceritamu benar-benar aneh, apa kau berkata jujur?".
"Cepatlah! Kau mau memberi uang padaku atau tidak!".
"Hei kau memohon padaku tapi berani berteriak padaku".
"Maaf, tapi waktunya terus berputar".
"Aku tidak punya uang sebanyak itu".
"Yang benar saja mobilmu saja sebagus ini, tabunganmu pasti banyak".
"Yang punya uang banyak itu ayahku, aku ini masih SMU".
"Lalu bagaimana dengan nasib kakakku?".
"Kita memohon saja pada ayahku".
"Memohon bagaimana?"
OoO
Satu jam kemudian kami berdua mendatangi kantor ayahnya, setelah yunho panjang lebar menjelaskan ayahnya tersenyum dengan bahagia.
"Jadi kalian butuh uang untuk persiapan pernikahan kalian ya?"
"Iya" jawab Yunho.
"Aku senang mendengarnya, ternyata kalian lebih bersemangat dibanding ibu-ibu kalian…tapi kalian tidak perlu khawatir dengan biaya pernikahannya kami akan menyiapkannya sampai beres untuk kalian".
"Kami ingin menyiapkannya sendiri Appa, kami ingin menyewa sebuah apartemen dan membeli perabotan, kami tidak ingin menyusahkan kalian" ujar Yunho, dan kulihat Appanya pun tidak sama sekali curiga pada cerita bohongnya.
"Apa tidak terlalu dini jika kalian hidup bersama?".
"Bukan itu maksud kami, kami akan hidup bersama setelah keluar sekolah, kami hanya ingin menyicil apartemen dan perabotannya sejak awal saja." terang Yunho lagi. Ayahnya manggut-manggut sambil melihat kearahku.
"Kau benar-benar sudah siap menikah dengan anakku Yunho?".
"Eem I-iya aku sudah siap". kataku bohong sambil tersenyum lebar, mata menyipit, mata kami lalu bertemu dan kami langsung mengendorkan senyum dari bibir kami masing-masing dan memalingkan wajah kami ke sudut yang berlawanan.
"Aku cukup kaget Yunho memohon sesuatu untuk masa depan kalian, baiklah kalau begitu".
Kami lalu keluar kantor dengan berseri-seri serta uang tebusan ditangan kami.
"Wah ternyata mendapatkan uang gampang sekali ya".
"Kau tipu ayahku sekali lagi kita akan masuk penjara seumur hidup".
"Aku akan mengembalikan ini secepatnya dan meminta maaf pada beliau, kau tenang saja".
"Bagaimana cara kau mengembalikannya?".
"Aku akan mencari cara agar bisa mengembalikan uang ini dengan cepat".
"Dengan cepat? Apa kau mau jadi gigolo?".
"Yah! aku ini tidak serendah dirimu!".
"Kalau kau tidak bisa mengembalikannya bagaimana?".
"Kalau begitu tidak ada jalan lain aku akan menikah denganmu saja".
"Hffft kau bermimpi ya" ujarnya sambil mendorong dahiku dengan jarinya.
"Yah! kau seharusnya bersyukur aku berkata seperti ini, tidak ada orang waras yang mau menikah dengan orang utan sepertimu!, tidak punya sopan santun, tidak berperikemanusiaan, suka main kasar! tidak ada hal baik dari dirimu selain mobilmu!".
Yunho tertawa mendengar ucapanku.
"Selesaikan saja urusan kakakmu dulu, nanti kita bicara lagi".
"Baiklah".
"Kau mau kutemani?".
"Ini masalah keluarga, biar aku hadapi sendiri, terimakasih atas bantuannya".
"Ya sudah aku pergi dulu, jangan hubungi aku ya kalau kau masuk rumah sakit".
"Sana cepat pergi!". teriakku dengan kesal.
Yunho melambaikan tangannya sambil menggas mobilnya meninggalkan diriku di stasiun kereta.
Aku lalu menghubungi nomor semula yang menghubungiku dan kami sepakat bertemu di sebuah gudang tua. Sesampainya disana aku masuk kedalam sebuah gudang yang pintunya langsung ditutup ketika aku masuk.
"Mana uangnya?" ujar salah seorang pria bertubuh besar. Ada empat pria bertubuh sedang, satu kecil dan satu bertubuh besar mengelilingiku.
"Perlihatkan dulu kakakku".
"Uangnya dulu".
"Kau mau ini? perlihatkan kakakku dulu".
"Uang dulu".
"Kakakku dulu!"
"Kau ingin dihabisi ya"
Mereka langsung mengeroyokku, dengan sigap aku melawan setiap serangan demi serangan yang datang, menjatuhkan satu persatu lawan-lawanku sampai orang yang paling bertubuh besar tumbang.
"Kau adik dari Kim Jungmin?" ujar seseorang yang tiba-tiba datang dari ruang sebelah, perawakannya tinggi, berkulit bersih, pakaiannya sangat rapi beda sekali dengan berandalan-berandalan yang kuserang tadi.
"Mana kakakku?".
"Serahkan dulu uangnya".
"Aku mau lihat kakakku dulu".
"Kau ini keras kepala ya".
Ia berlari kearahku dan menyerangku, aku coba untuk mengalahkannya seperti yang kulakukan pada orang-orang tadi, menendang, memukul, namun orang itu mahir sekali martial art, tangannya membelit tanganku yang merantai ke leherku lalu ia menjatuhkanku ke lantai.
"Kau keras kepala ya" bisiknya di telingaku, posisinya diatasku, menahan tubuhku.
"Mana kakakku?".
Seketika ia bangkit lalu menarik tanganku untuk berdiri.
"Kau tidak perlu repot-repot begini kalau kau dari tadi menyerahkan uangnya" ujar lelaki tampan itu.
Setelah aku diantar keruangan sebelah aku melihat kakakku sedang duduk disana, semula air mataku hampir terjatuh karena terharu namun ketika kulihat penampakannya yang sedang memegang stik Play Station rasa haruku seketika buyar.
"Yah Hyung kupikir kau sedang dirantai dan dipukuli".
"Kemari Jae, maaf membuatmu takut tapi mereka memang rentenir". ujarnya tanpa rasa bersalah padaku.
"Kau sebenarnya berhutang atau tidak pada mereka?!".
"Aku punya hutang dan mereka memang menahanku sampai aku sanggup membayarnya".
"Lalu tubuhmu yang mau dikuliti itu?".
"Itu hanya joke mereka, sebenarnya mereka tidak akan sampai setega itu membunuh diriku".
"Yah kau membuatku cemas! Kau keterlaluan sekali, kalau umma tahu ia pasti menghabisimu".
"Selain dirimu aku minta tolong pada siapa lagi…tapi kau bisa memukul mereka dengan KO kan?".
"Tidak yang satu itu" kataku pada pemuda yang mendekati kami.
"Tuan Choi kenalkan ini adikku Kim Jaejoong, dia yang kuceritakan padamu".
Ia mengulurkan lengannya yang panjang, senyum tersirat di bibirnya.
"Salam kenal, aku Choi Siwon".
OoO
Sori kalo ada salah ketik, udah berapa kali dichek tetep salah terus. kok yang baca fic ini dikit ya padahal ini lebih seru dibanding fic sebelum-sebelumnya.
Enjoy. Give me your review...
