CHAPTER 5
Don't Judge From The Cover
oOooOo
Setelah penyelamatan aksi kakakku yang konyol itu kami tiba dirumah, saat akan berbaring teleponku tiba-tiba berbunyi.
"Halo?".
"Hei kau masih hidup?". Ujar suara di ujung sana.
Mendengar suaranya membuat darahku naik lagi.
"Kau kecewa aku masih hidup?".
"Bagaimana dengan kakakmu?".
"Ia baik-baik saja".
"Baguslah…oya kapan kau bisa kembalikan uangnya?"
"Belum tahu".
"Kau harus kembalikan secepatnya, kalau tidak kita akan kena masalah".
"Apa seberat itu?".
"Ummaku rewel sekali, ia tadi bertanya padaku dimana kita akan menyewa apartemen lalu ia menyarankan banyak tempat padaku…kau tahu, ia sangat bersemangat sekali, kita harus segera melakukan seseuatu sebelum ia shock karena kita hanya berpura-pura".
"Iya aku juga tahu, tapi bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Itu urusanmu".
"Kalau aku tidak bisa mengembalikannya?"
"Kita akan benar-benar dikawinkan".
"Ya sudah kalau begitu, aku akan mengorbankan diriku saja".
"Kau pikir aku mau tinggal denganmu?!"
"Yah kau pikir aku juga suka hidup denganmu seumur hidupku?!...kau tahu aku lebih baik hidup dengan alien daripada tinggal dengan pria pecicilan, lemah, anak mami sepertimu"
"Yah kau banyak omong! Cepat kembalikan uangnya segera!"
Telepon langsung ditutup, aku menggerutu dalam hati.
Hidupku sungguh menyebalkan!
.
Besoknya disekolah pada jam istirahat Yunho datang kekelasku, anak-anak saling berbisik dengan kehadiran Yunho, ini menambah rumor tentang kami semakin kuat.
"Hei itu Jung Yunho, mau apa kesini?". bisik salah satu murid dikelasku pada temannya yang lain, aku pura-pura tidak melihat ia berjalan kearahku.
"Jae bisa kita bicara?". Tanyanya padaku. Aku lalu menyeretnya ke atas sekolah karena semua orang menatap ke arah kami dengan tatapan penasaran.
"Yah sebaiknya kau hentikan aksi menguntit diriku sampai ke kelas, itu sungguh membuat banyak orang salah paham!" kataku kesal.
"Hah! Yang benar saja! Siapa yang mau menguntit orang sepertimu, pria terhormat sepertiku ke kelasmu?...hahaha…jangan bercanda! Kau pikir pangeran mana yang mau menginjakkan kakinya ke tempat sampah"
"A—apa! Apa katamu?, kau bilang kelasku seperti tempat sampah, kau pikir kelasmu itu seperti istana apa? Disana hanya berkumpul orang-orang sok tahu yang kerjaannya minta uang pada orangtua".
"Yah jaga mulutmu!".
"Sudah cepat katakan apa maumu?!, kalau tentang uang aku belum punya".
"Pulang sekolah kau tunggu aku".
"Kenapa?".
"Umma akan datang menjemput kita".
"U—ummamu?, untuk apa?"
"Ia ingin mengajak kita berkeliling mencari tempat tinggal sepulang sekolah"
"A..apa?"
"Ini semua gara-gara dirimu"
"Yah! kenapa kau selalu menyalahkan aku, kau juga bodoh pakai alasan yang tidak masuk akal pada ayahmu! Jadinya mereka salah paham"
"Hei aku ini membantumu ya! dasar tidak tahu terimakasih!"
"K—Kau"
"Sudahlah sepulang sekolah tunggu aku di depan gerbang". Katanya dengan judes padaku sambil berlalu pergi.
Kenapa ia harus marah padaku, aku juga kesal gara-gara kasus uang itu kami harus mengalami salah paham dengan orangtuanya sampai sejauh ini.
.
.
.
Pulang sekolah Junsu pamit untuk pulang duluan sedangkan aku menunggu Yunho di depan gerbang.
"Kau sudah disini lama?".
"Iya sampai berbusa".
"Permen?"
Yunho menawarkan permen karet padaku.
"Aku tidak butuh".
"Makanlah, ini akan mengurasi rasa panik" katanya sambil menaruh permen karet ditanganku, Yunho mengunyah permen karetnya sambil merapatkan jaketnya, jika ia sudah baik begini aku tidak bisa membencinya.
"Terimakasih".
Tak lama kemudian sebuah mobil sedan mengkilap mendatangi kami, wanita berparas cantik menyapa kami dengan senyum khasnya.
"Ara…putraku yang tampan dan calon menantuku" sapanya pada kami sambil memeluk kami satu persatu.
Tidak lama kemudian kami sudah berada di dalam mobil menuju tempat yang ingin dituju oleh ibunda Yunho.
"Aku tidak menggira kalian bisa dekat secepat ini, kau pasti sangat menyukai anakku bukan?" tanyanya padaku didalam mobil, aku menyenggol tangan Yunho, dia balik menyenggolku.
"Eh…uhmm i—iya"
"Ia yang menyukaiku duluan" kata Yunho dengan muka tenang. Aku mencubit tangannya.
"Tapi Yunho yang menyatakan duluan" kataku membela diri, ia melotot padaku.
"Jae yang menggodaku duluan" balasnya dengan kalem sambil tersenyum evil.
"Yunho memaksaku menerimanya" kataku membalas, ia melotot kepadaku tidak senang.
"Ahahaha iya iya aku paham bagaimana percintaan anak muda" ujar ummanya Yunho berusaha melerai kami, namun yunho belum bisa mengalah.
"Jae ini tidak bisa hidup tanpaku".
"Yah! hentikan".
"Oya, siapa yang menciumku duluan?".
"Itukan karena dirimu duluan".
"Ha HA HA HA rupanya kalian ini cocok ya".
"Apa?!" ujar kami bersamaan saling berpandangan,
"Sudah sudah tidak usah bertengkar, kalian memang saling menyukai, aku bisa melihat itu dari mata kalian".
Kami saling berpandangan, bibir kami terangkat sambil melihat satu sama lain, saling menyukai? Kelihatan darimana?, sudah jelas-jelas kami ini seperti musuh.
"Oh sudah sampai" ujar umma Yunho.
Kami tiba di sebuah gedung property, setelah kami sampai kedalam kami diperkenalkan dengan teman dari ibu Yunho, ia lalu memberikan beberapa foto apartemen di sekitar kota ini pada kami.
"Kalian ingin type seperti apa?" Tanya ibunya Yunho pada kami
"Apa?" aku melirik pada Yunho, ia hanya diam tidak ingin menanggapi pertanyaan ummanya.
"Yang seperti ini" kataku asal sambil menunjuk pada sebuah apartemen minimalis yang kelihatan sangat rapi itu.
"Wah yang ini boleh juga, berapa sewa sebulannya?"
"Sepuluh juta, dan uang jaminan 20 juta"
"Se…sepuluh juta?!" kataku dengan sedikit berteriak.
"Ya sudah kami ambil yang ini saja". Kata umma Yunho
"Umma kami tidak ingin menghabiskan uang hanya untuk apartemen tersebut". Balas Yunho pada ummanya
"Tenang saja, ini hadiah dariku, uang yang kalian pinjam dari suamiku pakailah untuk membeli barang keperluan kalian atau tabunglah untuk anak kalian kelak"
Mendengar kata anak hatiku langsung melengos jatuh, memandang Yunho untuk menyalukan sedikit rasa gundahku sepertinya tidak mempan, ia kelihatan seakan hendak memakanku.
"Jangan senang dulu, aku akan menyewanya untuk dua tahun, setelah itu kalian harus membayarnya sendiri, atau kalian bisa mencari tempat tinggal yang lebih murah saat masuk kuliah nanti".
Kami menjawab dengan lemas
"Iya".
oOo
"Terimakasih untuk semuanya hari ini, saya sangat senang sekali". Kataku pada ibunda Yunho saat mengantarkanku sampai depan rumah.
"Hohoho tidak usah sungkan, aku ini sebentar lagi akan jadi ibumu juga…salam buat ibumu ya".
"He…iya" balasku dengan berat hati.
"Umma aku akan main sebentar ke rumah jae ya"
"Kau kan bisa bertemu dengannya besok disekolah".
"Umma…kau seperti tidak tahu saja kami anak muda".
"Ya sudah jangan pulang terlalu malam ya".
"Iya"
Kami melambaikan tangan pada Umma Yunho yang pergi meninggalkan kami. Ia lalu langsung menerik tanganku ke dalam rumah.
"Ayo kita perlu bicara"
"Yah ini rumahku!"
Pada saat bertemu Ibuku kami menyapanya sebentar lalu Yunho langsung pamit untuk masuk kekamarku.
"Bagaimana ini!" katanya panik.
"Bagaimana apanya?".
"Keadaannya jadi kacau seperti ini"
"Kenapa menyalahkanku, kau juga jadi bagian dalam kekacauan ini"
"Apanya? Jelaskan bagian yang mana?" ujarnya sambil melangkah menyudutkan tubuhku sampai aku terjatuh ke ranjang.
"K—kau sendiri yang memulai tentang siapa suka siapa duluan"
"Ini semua karena dirimu!" ia duduk diatasku sambil menarik kerahku, matanya berapi-api, lalu pintu pun terbuka
"Kalian sedang apa?" Tanya ibuku dengan shocknya, Yunho buru-buru turun dan melepaskanku.
"Kami sedang berlatih bela diri" ujar Yunho berusaha mengelak.
"Aku membuatkan pudding untuk kalian"
"I—iya terimakasih"
"Sampaikan terimakasih pada ibumu nanti ya untuk cokelatnya"
"Iya"
Ibuku lalu pergi keluar dan kami menghela nafas.
"Dasar kau bodoh"
"Ya aku selalu kena sial kalau didekatmu"
"Pulanglah nanti besok kita bicara lagi"
"Aku ingin menjadi dokter" Ujarnya tiba-tiba.
"Apa?".
"Aku ingin kuliah di luar negeri dan menjadi dokter, jika aku terjebak bersamamu aku tidak bisa meneruskan kuliah ke luar dan kita akan selalu bertengkar" katanya menjelaskan padaku.
"Kau kan masih bisa meneruskan sekolahmu disini, disini juga banyak fakultas kedokteran yang baik"
"Aku ingin mencari pengalaman diluar…Selama ini aku selalu hidup berkecukupan, aku ingin sekali bisa hidup sesuai jalanku sendiri, berdiri sendiri dan menjadi seseorang atas kerja kerasku sendiri"
"Aku memang manja dan brengsek namun saat tahun berganti aku ingin menjadi dewasa dan bisa membuat orangtuaku bangga" ujarnya lagi.
"Maafkan aku"
"Aku akan pulang, jika kau nantinya tidak bisa mengembalikan uang ayahku, kita akan bicara pada mereka dan menjelaskan tentang semuanya, mungkin mereka akan mengerti".
"Iya".
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu".
"Makan dulu pudingnya".
"Baiklah".
Kami lalu menikmati pudding buatan ibuku dengan tenang, tidak ada suara kencang atau tinggi disekitar kami, aneh sekali jika seperti ini kami jadi canggung.
"Ehmm enak tidak?" tanyaku memecah suasana
"Iya".
"Aku juga bisa buat seperti ini". kataku
"Aku lebih baik beli di toko daripada makan buatanmu".
"YAH! kau harus gembira jika tinggal denganku kita bisa berhemat".
"Huh, lebih baik aku kabur saja segera keluar negeri".
Ia bangkit sambil membawa tasnya
"Aku pulang dulu, terimakasih untuk pudingnya" katanya lagi seraya beranjak keluar, dalam hati aku berpikir
Apa hidup denganku sebegitu burukkah?
Aku meihat sosoknya menjauh dari rumahku, malam itu aku baru mengenal sosok yunho yang lebih dewasa, walaupun ia menyebalkan tidak bisa dipungkiri ia juga sudah membantuku dan aku akan sangat bersalah jika ia tidak bisa mengejar cita-citanya hanya karena harus terjebak denganku, aku harus segera beraksi, setelah mengobrak–abrik tas akhirnya aku mendapatkan sebuah kartu nama.
OoO
Setelah pulang sekolah aku pergi ke kawasan hiburan di kawasan gangnam, disana ada sebuah diskotik, tanpa sungkan aku masuk kedalam, karena diskotiknya baru buka malam hari maka kondisinya sekarang masih sepi dan aku hanya bertemu dengan pelayan disana yang sedang bersih-bersih.
"Ingin mencari siapa?".
"Maaf, aku ingin bertemu dengan Tuan Choi Siwon".
"Ia tidak ada disini".
"Oh kapan ia ada disini?".
"Entahlah ia hanya datang sesekali untuk berkunjung".
"Biasanya ia ada dimana?".
"Di tempat prostitusi Love-Love"
"Huh?".
Aku lalu menelusuri jalan yang dibilang oleh sang pelayan, tak jauh dari sini aku melihat papan pink besar bertuliskan Love-Love Snack, itu pastinya tempat yang dimaksud, belum juga masuk kedalam beberapa wanita berpakaian seksi langsung mengerubutiku.
"Hei apa kau mau menyewa kakak?".
"Kau rupanya tampan juga ya, apa kau punya uang datang kemari?".
"Ayo sewa aku saja…murah"
Karena banyaknya wanita yang menarik-narik tanganku aku jadi kerepotan namun kebetulan sekali karena tiba-tiba seseorang datang dan mereka semua langsung melepaskan tanganku dan membungkuk kearah pria yang baru datang tersebut.
"Selamat datang!" ujar para wanita itu kompak pada pria yang baru datang, ia memakai setelan jas putih, sangat mencolok sekali apalagi saat ia membuka kacamata hitamnya, sinar terang seakan menyinari dari belakang wajahnya.
"Tuan Choi?!"
"Oh kamu? Adiknya Jungmin?"
"Iya"
.
.
Diruangan karaoke ia menuangkan minuman padaku, kelap-kelip lampu disko dan para wanita yang sedang berjoget didepan kami membuatku semakin panik berhadapan dengannya.
"Tidak usah, aku tidak minum alkohol" kataku dengan sopan padanya.
"Tidak usah takut ini free alkohol" katanya menenangkanku.
"Kau baru pertama kali datang ke tempat ini?" katanya lagi.
"Iya".
Ia tersenyum.
"Kau tenang saja, kau aman disini".
"Iya".
"Jadi ada apa kau mau menemuiku?".
"A..aku ingin melamar pekerjaan pada anda".
"Apa kau tidak salah?".
"Tidak, kata kakakku kau punya banyak bisnis disini, kalau kau tidak keberatan bisakah kau masukkan aku ke salah satunya".
"AHAHAHa kau ini lucu sekali, lihatlah disekelilingmu, bisnisku seperti ini, apa kau tidak takut?".
"Bukan yang seperti ini, maksudku bisnis yang tidak terlalu hitam".
"Hahahaha kau lucu sekali, mana ada bisnis abu-abu seperti itu".
"Aku masih pelajar, tidak mungkin bekerja di tempat seperti ini".
"Kenapa kau ingin bekerja, bukankah kau masih sekolah?"
"Aku harus membayar hutang pada seseorang".
"Oh hutang untuk menebus kakakmu itu ya".
"Iya".
"Hmm, baiklah, aku mungkin bisa merekomendasikan pekerjaan bagus untukmu".
"Apa itu?".
"Bekerja di bar, kau cukup menjual gelas sebanyak mungkin pada pengunjung".
"Tapi aku belum pernah jadi bartender".
"Kau akan diajari dan kau tidak perlu takut karena kami akan menjaga rahasia identitas dirimu".
"Benarkah?"
"Upahnya lumayan 2 kali lipat dibanding jika bekerja di tempat biasa, kau bisa bekerja setelah sekolahmu usai sampai tengah malam…kau bersedia?".
"Iya, aku bersedia".
"Baiklah karena kau sudah kemari ayo kita bersenang-senang".
"EH!"
Ia menarik tanganku, semula aku menggira ia akan melakukan yang tidak-tidak padaku, ia menarikku kedepan dan memberiku mic.
"Bernyanyilah untukku"
"Apa?"
Ia membuka buku karaoke
"Apa ya…bagaimana kalau yang ini" katanya sambil menekan tombol remote
"AKB48 HEAVY ROTATION"
"A—aku tidak bisa"
"Ayolah bernyanyi saja"
"I LOVE YOU…I MISS YOU…I NEED YOU…"
Saat lagunya diputar para gadis penghibur bertepuk tangan dan bernyanyi bersamaku, karena semuanya baik padaku aku tidak merasa tegang dan bersenang-senang malam itu. Kami menari, bernyanyi, tertawa bersama, image sosok kelam yang semula aku kira melekat di diri tuan choi seperti sirna.
oOo
Di Kantin Sekolah
"Kenapa kau senyum-senyum begitu?"
"Aku akan bekerja mulai malam ini"
"Huh bekerja, dimana?".
"Ssst rahasia".
"Yunho tahu kau bekerja?".
"Kenapa ia harus tahu memangnya dia siapa?".
"Bukankah ia kekasihmu? Semua orang membicarakan kalian".
"YAH yang benar saja, sejak kapan kami ini jadi kekasih?!".
"Kita sudah jarang bersama akhir-akhir ini, kau lebih suka terlihat bersama dengannya". Ucap junsu sedih.
"Junsu bukan begitu…"
"Tuh ia datang, aku pergi dulu ya" ujarnya pada sosok yang mendekat, ia bangkit lalu pergi menjauh.
"Hei junsu!"
"Kenapa ia pergi?" Tanya Yunho yang baru saja datang
"Entahlah mungkin ia malu denganmu…ada apa?"
"Minggu ini kau ada acara?".
"Memangnya kenapa?".
"Kita harus beli beberapa barang untuk rumah baru kita".
"Aku sibuk".
"Sibuk apa?".
"Bukan urusanmu".
"Yah! kau benar-benar tidak tahu diri ya, ummaku sudah memberikan tempat tinggal dan kau seenaknya menelantarkannya begitu saja!".
"Aku memang sibuk, lagipula kau saja yang beli nanti aku yang akan bersih-bersih".
"Awas kau ya berani menyuruh padaku"
"Terserah! Memangnya aku takut padamu!" kataku sambil beranjak dari tempat duduk dan mendorongnya, dalam hati aku menggerutu.
Katanya mau pergi ke luar negeri, masih saja memikirkan tentang rumah baru kita, menyebalkan!.
oOo
Author tidak rela…kenapa fic ini tidak laku…hik hik hik…padahal seru lho (Promosi!)
