CHAPTER 6

PROPOSAL

Sudah beberapa hari ini aku bekerja sebagai bartender, pekerjaannya sendiri tidak terlalu sulit hanya menyajikan minuman, untungnya seniorku Heechul tidak segan untuk mengajarkan bagaimana meracik minuman enak.

"Kau pegawai baru?" Tanya beberapa pelanggan padaku, tak hanya para wanita beberapa pria pun terlihat ingin mengajakku kenalan, di tempat ini bukan hanya menjual minuman namun membuat pelanggan nyaman dan betah sehingga mereka memesan minuman berkali-kali adalah tugas kami juga. Makanya skill untuk menarik pelanggan juga adalah salah satu modal untuk pekerjaanku.

"Kau sudah punya pacar?" Tanya seorang wanita padaku.

"Sudah" jawabku simple, aku tidak ingin panjang-panjang menanggapi pertanyaan tersebut.

Aku kembali menuangkan bir untuk seorang pelanggan lainnya.

"Mau bermain bersama kakak sebentar?" sahut wanita tadi lagi mencoba menggodaku.

"Tidak terimakasih, pacarku galak kalau tahu aku selingkuh"

"Wah kau tipikal pacar yang setia ya".

"Sudahlah jangan menggodanya, ia sudah punya pacar" bela heechul-nim padaku.

Hpku bergetar, aku melihat pesan didalamnya.

Kau dimana? Kapan kau pulang?

Pesannya selalu sama beberapa hari ini, aku membalasnya dengan cepat

Bukan urusanmu

Lalu ia membalasku lagi

Awas kau! dasar tidak tahu berterimakasih.

"Siapa?" Tanya pelanggan wanita tadi

"Oh ini pacarku" jawabku cepat, ia tersenyum kecut padaku.

Ada saja kelakuan tiap pelanggan di diskotik ini, kadang ada yang muntah karena mabuk, kadang ada yang memaksaku untuk berdansa, kadang ada yang memaksa mengajakku berkencan, kemarin aku baru saja kena teguran karena meninju seorang pria yang mencoba meraba pantatku saat aku mengantarkan minuman ketempatnya. Sungguh bukan pekerjaan nyaman namun mengingat jumlah gajinya aku harus bersabar.

Belum lagi masalah dengan para pelanggan masalah dengan umma juga mencuat, umma marah karena aku sering pulang lewat tengah malam dan aku selalu mengelak ketika ditanya apa pekerjaan paruh waktuku.

Namun diantara semua masalah itu hal yang paling kutunggu adalah liburan, karena aku hanya diberi libur satu hari pada hari minggu saja aku ingin menghabiskan hari liburku dengan tidur puas seharian namun rupanya ada saja penggangu. Pagi-pagi aku ditelepon.

"Apa?!" kataku sambil menutup kepala dengan selimut, aku baru tidur beberapa jam, kepalaku sakit sekali.

"Cepat kemari dasar pemalas!" ujar suara diujung sana berteriak.

"Kemana?".

"Rumah baru kita, aku beri alamatnya, cepat datang kesini sekarang juga!" teriaknya lagi.

Aku menutup kepala dengan selimut, mencoba untuk mengacuhkan teleponnya namun ia terus-terusan meneleponku sampai kepalaku tidak kuat menahan suaranya.

Jam sebelas aku sampai di lantai empat gedung apartemen kami, ia membuka pintu untukku.

"Lama sekali, dasar pemalas".

"Aku ini bekerja ya…bekerja!".

"Bekerja apa? Subuh-subuh baru pulang, untung saja tidak ada yang melaporkanmu".

"Bukan urusanmu".

"Ni sana bersihkan rumah!" ujarnya sambil melemparkan sapu padaku, kukira ia akan membantuku bersih-bersih juga namun ternyata ia hanya duduk manis sambil minum kopi dan menyalakan TV.

"Yah kau kenapa duduk saja, kau juga harus membantuku!"

"Aku sudah membeli semua kebutuhan rumah kita, sekarang giliranmu yang harus membayar dengan tenaga".

Aku menatapnya kesal sambil memajukan bibirku.

Lantai kusapu, tiap sudut perabotan kubersihkan, karpet-karpet disedot, Yunho sangat senang sekali menunjuk nunjuk pada bagian yang menurutnya kotor padahal tidak kotor sama sekali.

Ketika membersihkan perabotan sekilas aku melihat surat dari sebuah universitas terkenal di Inggris, nama Yunho tertera disana, rupanya ia benar-benar berniat untuk kuliah diluar negeri, aku kembali berfikir bahwa aku harus segera mengembalikan uang itu dan membatalkan rencana perjodohan kami demi masa depan kami masing-masing.

"Kau sedang apa melamun?" tanyanya menegurku.

"Ah Tidak, aku hanya ingin mengepel ini"

"Yang bersih ya…kalau tidak kau harus kesini lagi besok untuk bersih-bersih.

Aku memajukan bibirku kesal.

Satu jam kemudian

"Aaah"

Aku mengelap keringat sambil minum minuman dingin dari kulkas.

"Sudah beres?" tanyanya.

"Lihat sendiri bereskan" jawabku sambil berdecak pinggang pada ruangan yang baru kubersihkan.

"Baiklah, sekarang kau pilih mau yang mana?".

Ia mengeluarkan barang belanjaannya, dua buah sikat gigi yang satu berwarna pink yang satu lagi berwarna biru.

"Kau seperti wanita kan, kau yang ini" katanya sambil memberikan sikat gigi pink padaku.

"Aku suka yang warna biru". kataku

"Biru untukku".

"Tapi aku ingin yang biru" aku memaksa.

"Yah! aku yang membelinya, kau pakai saja, jangan pilih-pilih!".

Aku manyun.

Lalu ia mengeluarkan dua buah gelas, jika dirapatkan akan nampak gambar kartun sepasang pria dan wanita sedang bergandengan tangan, jika dipisah tangannya terpisah hanya ada gambar pria dan wanita saja di masing-masing gelas.

"Kau sepertinya yang ini saja" katanya sambil melemparkan gelas bergambar wanita padaku tanpa bertanya terlebih dahulu padaku.

"Yah! aku ini lebih kuat darimu, mana ada aku ini wanita".

"Hei aku ini lebih punya uang darimu, artinya aku ini adalah pemimpinmu".

"Apa?!".

Aku manyun lagi.

"Handuk mau yang mana?".

Yang satu bunga-bunga warna merah yang satunya lagi cokelat polos.

"Mau yang itu" kataku pada handuk polos bermerk burberry.

"Yang ini lebih cocok untukmu" katanya sambil melemparkan handuk merah bunga-bunga padaku.

"Yah! Jung Yunho! Tidak ada gunanya kau bertanya padaku kalau kau yang menentukan semuanya".

"Kita harus hidup berdemokrasi".

"Itu namanya pemaksaan kehendak!".

"Aku kan hanya bertanya padamu bukan berarti menyetujuinya".

"Yah! dasar licik".

Aku manyun lagi.

"Ini sandal mau yang mana?".

Yang satu slipper gajah yang satu beruang.

"Menurutmu yang mana?" kataku bertanya padanya dengan kesal.

"Kau ini saja!" katanya sambil melemparkan slipper abu-abu kepala gajah padaku.

Masih dengan bibir yang maju ia membawaku ke ruang tidur utama kami, disana hanya ada satu kasur springbed besar ukuran 200x200.

"Kau mau disudut itu atau itu?"

"Aku ingin yang dekat jendela" jawabku

"Sayang sekali itu milikku" katanya menyebalkan.

"Yah Jung Yunho!"

Aku buru-buru tidur terlentang di sudut kiri kasur yang dekat jendela.

"Ini posisiku, siapa cepat dia dapat" ujarku

Tanganku ditariknya dan ia tidur terlentang menggantikanku

"Ini milikku sekarang"

Aku menarik kakinya sampai jatuh kebawah.

"Ini milikku lagi".

Ia menarik tanganku lagi.

"Jadi milikku".

Aku menarik celananya lagi.

"Punyaku".

Sepuluh menit kami bertengkar berebut posisi tidur sampai bergulat di tempat tidur, lalu kami berakhir terkulai, kepalaku di atas dadanya, sungguh situasi yang aneh bagiku.

"Apa kita akan seperti ini setiap hari?".

"Kelihatannya begitu".

"Kenapa kau tidak memesan dua kasur saja?".

"Kau pikir ummaku akan menerima itu, kita ini menikah…menikah ya…bukan hidup berteman".

"Beli saja sekarang toh ummamu tidak akan tahu".

"Kau cerewet sekali, kau saja yang beli kasurnya".

"Yah!".

Kami bergulat lagi, kami masih tidak ingin mengalah satu sama lain sampai kami terjatuh dari atas kasur dan ia menindihku, kemaluannya menempel diatas kemaluanku, berdenyut-denyut, aku panik sekali namun aku tidak ingin menunjukinya.

"Kau berat sekali, minggir!".

"Aku lelah sekali kau saja yang bangun" balasnya usil dengan nada menyebalkan.

"Apa maksudmu? Apa kau mau kubunuh! Kau yang diatasku".

"Tapi aku lelah sekali aku tidak bisa bangun".

Karena kesal aku menonjok wajahnya sampai ia terguling.

"Paboo, itu-mu yang akan bangun kalau kau tidak bangun".

Aku bangkit keluar mencari minum karena kesal.

"Hei kau ini sebenarnya bekerja dimana?" tanyanya sambil memegang hidungnya yang kesakitan.

"Bukan urusanmu".

"Ini urusanku, karena kita akan jadi keluarga".

"Kau ketabrak mobil ya, sejak kapan kau peduli padaku".

"Ummamu bertanya padaku, dimana kau bekerja sampai pulang pagi-pagi".

"Aku bekerja demi bayar hutang padamu".

"Hati-hatilah kalau kau ketahuan bekerja di tempat yang tidak-tidak, kau bisa dikeluarkan dari sekolah".

"Aku tidak bekerja ditempat aneh-aneh, aku hanya bekerja di bar".

"Bar? itu juga dilarang".

"Memangnya kenapa? aku hanya menyediakan minuman untuk orang, aku tidak menjual tubuhku".

"Bar dan diskotik juga dilarang untuk anak SMU bekerja paruh waktu disana".

"Aku tahu".

"Jangan bodoh. Keluar saja".

"Aku tidak mau, aku mau mengembalikan uangmu".

"Sudahlah, lagipula jika menikah utangmu dianggap lunas oleh ayah".

"Tapi bukankah kau ingin kuliah di luar negeri?".

Aku lalu mengambil surat dari atas lemari perihal surat penerimaan dirinya di salah satu universitas di Inggris.

"Kau sudah diterima disana kan?".

"Itu bisa kupikirkan lagi, lagipula kuliah disini juga tidak terlalu buruk, umma juga memintaku untuk tinggal disini saja".

Ia membuka jendela, tirainya menari-nari ditiup angin, aku melihat rambut Yunho sedikit ditiup angin, wajahnya lumayan tampan.

"Aku selalu rindu bau cristantium bunga Korea". Ujarnya.

"Bunganya hanya mekar di bulan april saja" balasku.

"Kau mau kan keluar dari pekerjaanmu?"

"Akan aku pikirkan lagi".

"Kau ini juga bodoh sekali seharusnya biarkan saja kakakmu itu yang membayar hutangnya kenapa kau yang harus susah-susah demi si bodoh itu".

"Sudahlah tidak penting siapa yang membayarnya, lagipula kakakku itu akan ujian akhir, kalau ia bekerja ujiannya akan terbengkalai".

"Terserahlah asal jangan melibatkanku lagi kalau kau berurusan dengan sekolah".

"Baiklah".

"Kau lapar?".

"Iya".

Aku sudah tersenyum dengan lebar, aku membayangkan ia akan mengajakku ke restoran mahal.

"Sana masak, aku juga lapar!" katanya yang membuat otot bibirku mengendur.

Sialan

OoO

"Pesan satu Vodka".

"Mr. Siwon".

"Kau betah kerja disini?".

"Iya lumayan…ini pesanannya". Ujarku menyodorkan gelas pesanannya.

"Sejak kau disini penjualan minuman kita naik, kalau begini terus kita akan banyak untung gara-gara kamu"

"Benarkah? Itu berarti aku berhak dapat bonus".

Ia tertawa kecil

"Jangan khawatir, aku sendiri yang akan memberi bonus jika kinerjamu memuaskan sampai bulan ini"

"Terimakasih".

Ia menenggak minumannya, matanya menatap kedepan seolah ada yang ia pikirkan.

"Kau sedang sedih?". tanyaku

"Tidak".

"Kau sepertiya tidak tidur semalaman, kantung matamu terlihat jelas".

"Ya. pacarku kabur dari rumah membawa uang dan emas dari brangkasku".

"Aku turut berduka".

"Sudahlah, hanya uang dan wanita bodoh, dimana2 wanita selalu sama".

"Ini untukmu". Uajrku sambil menyodorkan segelas cocktail.

"Apa ini?".

"Cocktail buah soda ala Kim Jaejoong".

"Aku tidak suka minuman anak-anak".

"Cobalah dulu, ini bisa membuatmu ceria".

Ia menyeruput minumannya pelan-pelan.

"Iya lumayan rasanya warna warni".

"Kalau kau kesepian datanglah kemari, setidaknya aku bisa menghiburmu lewat minuman".

"Kau ini pandai bicara ya, pantas banyak orang yang membicarakanmu, kau terkenal disini".

"Aku ini cocok dong jadi artis".

"Kau ingin jadi artis?".

"Aku hanya bercanda, mana mungkin aku jadi artis".

"Aku punya bisnis dengan agensi artis-artis terkenal".

"Kau mengurus itu juga?".

"Iya, aku punya bisnis banyak, bukan hanya tempat hiburan".

"Apa kau bisa menjadikanku artis?".

"Kau mau?".

"Aku hanya bercanda lagi…ini dessert untukmu".kataku sambil memberi agar-agar buatanku sendiri.

"Apa ini? Seperti restoran saja".

"Kau akan dapat banyak bonus jika datang kesini". Kataku sambil mengedipkan mata.

OoO

Bukan hanya umma yang uring-uringan dengan pekerjaanku, Yunho pun nampak sudah kesal dengan diriku, siang ini dia datang ke kelasku seperti biasa hendak mengajakku mengobrol, aku menyuruhnya mencari tempat sepi dimana tidak ada murid-murid berkeliaran.

"Kenapa kau masih bekerja?". Tanyanya setelah kami menjauhi kelas

"Memangnya kenapa?".

"Kau bilang akan keluar".

"Aku kan bilang akan memikirkannya, bukan berjanji akan keluar".

"Kau ini sulit untuk diatur ya".

"Lagipula mungkin aku bisa direkomendasikan".

"Rekomendasi apa?".

"Menjadi artis, bosku punya koneksi kesana".

"Kau mau jadi artis…Bhahahaha apa kau mimpi?".

"Yah! kalau aku jadi bintang film atau penyanyi aku akan lebih cepat mengembalikan uangmu".

"Bukankah sudah kubilang tidak usah memikirkan uangnya, kalau kita menikah ayahku tidak akan menganggap hutangmu".

"Yah Yunho itu urusanku, lagipula kau kenapa terus menerus datang ke kelasku, sekarang semua orang membicarakan kita".

"Biar saja sudah terlambat untuk menyangkalnya".

Kami berdua lalu melihat sepasang murid yang sedang berciuman didepan kami, aku melirik yunho dengan gugup, ia melihat kearahku kelihatan sama gugupnya.

"Apa?"

"Tidak"

"Kenapa kau membawaku ke tempat seperti ini?" protesku

"Kau bilang ke tempat yang orang tidak bisa melihat kita".

"Kau bodoh, orang-orang akan lebih curiga kalau kita ke lorong gelap ke tempat untuk murid-murid bermesum ria seperti ini".

"Kau ini pikirannya memang mesum ya, memangnya aku mau berbuat yang tidak-tidak denganmu?!". Katanya sambil menoyor kepalaku.

Aku melihat lagi kearahnya dengan gugup.

"Mau coba berciuman ditempat ini?" bisiknya menggodaku.

Aku langsung memukul tubuhnya.

"Kau perlu seratus tahun lagi sampai sanggup menciumku".

oOo

Belum puas dengan jawabanku Yunho akhirnya muncul di diskotik tempat aku bekerja. Sebelum aku pergi kesini ia mengikutiku dari rumah, alhasil ia mengetahui dimana aku bekerja.

"Kau sedang apa disini?".

"Memangnya tidak boleh?, aku ingin melihat pekerjaanmu".

Tiba-tiba heechul-nim mendekati kami.

"Wah kau siapa? Teman kim jaejoong?" Tanya seniorku pada Yunho

"Iya".

Heechul nim mengambil segelas bir penuh lalu disodorkannya ke Yunho

"Ini untukmu, hadiah" ujarnya dengan genit. Ia memang antusias dengan wajah baru yang segar.

"Hei jangan meladeninya" kataku pada Yunho.

"Memangnya kenapa?"

"Dia itu gay".

"Lalu?".

"Apa maksudmu lalu, jika ia mengincarmu kau yang akan repot".

"Kau belum jadi istriku saja sudah cemburu seperti itu".

"A..apa katamu! cemburu?! Hah! Jangan membual ya, untuk apa aku cemburu padamu?!".

"Kau ini pandai pura-pura".

"Apa Maksudmu!".

"Dimana bosmu?".

"Malam ini tidak datang, memangnya mau apa?".

"Aku mau bilang kau mau berhenti kerja".

"Yah Jung Yunho, jangan berbuat seenaknya disini".

"Kalau begitu siapa wakilnya?".

Aku menunjuk pada seorang bodyguard yang berjaga didepan, Yunho mendatanginya, sempat terjadi adu mulut diantara mereka lalu tak berapa lama kulihat beberapa orang sudah mengelilingi mereka, karena panik aku segera ketempat itu, Yunho dan orang kepercayaan tuan Siwon sedang baku hantam, orang-orang berusaha melerai perkelahian tersebut, aku buru-buru menarik Yunho dari sana.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku padanya, aku membeli perban dan obat merah untuknya.

"Kau lebih baik keluar saja, tidak ada gunanya bekerja ditempat seperti itu…auch".

"Aku harus minta ijin pada tuan Siwon".

"Untuk apa minta ijin padanya".

"Gajiku ada padanya".

"Tidak digaji juga tidak apa-apa".

"Apa maksudmu?... Yah jangan menyamakan kondisiku dengan dirimu…kau bisa pergi begitu saja tanpa memperdulikan uang sepeserpun tapi bagiku uang sekecil apapun berharga untuk aku hidup dan keluargaku".

"Aku hanya membantumu"

Ia mendesah, menatapku kesal

"Aku ini memang sudah gila, sejak awal kau selalu berulah dan aku selalu membantumu, kau sama sekali tidak mendengarkanku". Katanya lagi.

"Kenapa kau membantuku? Bukankah kau benci padaku?".

"Entahlah semakin aku membenci dirimu semakin aku tidak ingin kau dapat masalah selain dari diriku".

"Apa maksudnya itu?".

"Artinya aku ini pria baik-baik".

"Tsk…lucu sekali"

"Ayo kuantar pulang, ummamu menunggu".

"Iya".

"Kau lapar?"

"Ya sudah kita makan dulu"

"Baiklah"

.

.

.

Besoknya terjadi kehebohan di sekolah karena ada seseorang yang melaporkan kejadian semalam pada sekolah kami dengan bukti CCTV.

Alhasil Kepala sekolah memanggil Yunho untuk diinterogasi, murid-murid saling berebut demi mendapat akses pemberitaan apa yang akan diterima Yunho dari kepala sekolah, aku mendengar murid- murid berbicara tentang masalah itu seharian ini.

"Bagaimana nasib Yunho?" Tanya Junsu padaku.

"Aku tidak tahu, ia tidak menjawab ponselku".

Teman-teman sekelas kami juga sedang membincangkan tentang Yunho dan kepala sekolah, aku dan Junsu menguping karena suara mereka terdengar cukup keras.

Murid A : Kabarnya Yunho diskors selama dua minggu?.

Murid B : Kau tahu dari mana?.

Murid A : Dari Pak Min, wakil kepala sekolah, anaknya yang bilang padaku.

Murid C : Kudengar ada seorang murid yang bekerja disana dan katanya juga Yunho berkelahi karena Murid tersebut…Kepala sekolah juga memaksanya memberitahu siapa murid tersebut tapi Yunho bersikeras ia tidak tahu menahu tentang murid tersebut.

Junsu melirik padaku.

Murid B : Itu berarti Yunho berusaha melindungi murid itu.

Murid A : Padahal jika murid tersebut diketahui, ia juga akan dikenai sangsi karena bekerja di bar dan diskotik.

Murid C : Kasian ya Yunho, apalagi kudengar beasiswa kuliahnya juga akan ditarik gara-gara masalah ini.

Murid A dan B : Benarkah?.

Aku bangkit dari kursi, berlari untuk mencari Yunho. Aku mencari dikelasnya ia tidak ada, akhirnya aku menemukannya di ruang olahraga sedang bermain basket sendirian, surat pengantar untuk kuliahnya terbengkalai di kursi pemain.

Aku pelan-pelan mendekatinya.

"Yunho maafkan aku" kataku berulang-ulang, ia tidak mendengarkanku, ia terus memasukan bola ke dalam keranjang, aku lebih mendekat lagi.

"Maaf".

Ia masih saja mengacuhkanku, lalu aku merebut bola ditangannya, dan ia kini memperhatikanku.

"Maafkan aku".

"Maaf untuk apa?".

"Karena aku kau tidak bisa kuliah di luar negeri".

"Bukankah sudah kubilang aku akan memikirkannya lagi, lagipula kuliah disini juga tidak buruk".

Aku mulai menangis.

"Maafkan aku…aku benar-benar minta maaf".

Yunho mendekatiku, meraih pundakku lalu memelukku

"Jae mungkin kita memang ditakdirkan untuk selalu bersama…baik menjadi musuh atau sebaliknya".

Ia mendorong bahuku dan menempelkan kepalanya pada kepalaku.

"Aku tahu kita saling membenci…Tapi…"

Ia mempause kata-katanya

"Menikahlah denganku".

Wajahku seketika memerah, aku tidak bisa melihatnya atau berkata apa-apa, yang bisa kulakukan hanya mengangguk pelan.

oOoOo

FF Oh He's My Boyfriend UPDATE…cekidot