CHAPTER 7
FIRST NIGHT
Akhirnya upacara pernikahan kecil-kecilan dilaksanakan di rumah Yunho dengan dihadiri keluarga dekat dan para sahabat saja, karena kami masih belum lulus makanya pernikahannya cukup diadakan dengan sangat sederhana.
"Selamat ya" ujar Junsu menyelamatiku dikamar.
"Iya".
"Kau kenapa? Kau kelihatan tidak senang".
"Junsu bagaimana jika pernikahan ini tidak berhasil?, aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku, aku menikah dengannya hanya karena ingin menyelamatkan keluarga serta hutang budi padanya".
"Kau akan perlahan-lahan suka padanya, kalian sudah mengetahui karakter satu sama lain bukan?"
"Iya tapi bukan sebagai teman baik".
"Hei, jangan takut, semua akan baik-baik saja". Ujarnya sambil memegang tanganku, tak lama kemudian kakakku datang memberitahu kami.
"Ayo Jae penghulunya sudah datang". Katanya.
Junsu mengantarku ke pelaminan, disana Yunho sudah berdiri di depan penghulu, seperti ritual upacara pernikahan lainnya kami ditanya sumpah sehidup semati lalu melakukan pemasangan cincin di tangan kami masing-masing, setelah semua selesai semua orang menyalami kami.
Acara pernikahan yang begitu sederhana dan khidmat itu berlalu dengan sekejap mata, aku tidak sadar bahwa sekarang aku sudah terikat dengannya, aku sendiri sangat sedih sekali saat Umma dan Kakakku memelukku lalu menyerahkanku pada Yunho, dilain pihak aku melihat Yunho sama sekali tidak sedih, entah ia berpura-pura atau benar-benar serius terhadap pernikahan ini, namun aku meragukan ketulusannya menikah denganku.
oOo
Sorenya kami langsung pulang kerumah baru kami, karena kami masih sekolah kami belum bisa bepergian untuk mengambil libur panjang untuk bulan madu walaupun Yunho sangat bersemangat untuk mengajakku ke luar negeri, katanya ia ingin mengunjungi Madrid jika kami sudah lulus.
"Ah lelah sekali" ujar Yunho langsung berbaring ditempat tidur setelah kami sampai di rumah.
"Aku ingin mandi dulu" kataku padanya yang langsung mengambil handuk dan mengunci pintu kamar mandi.
Aku berendam dalam bathtub dengan busa yang sangat banyak, menenggelamkan tubuhku sampai dagu ke dalam air, aku bingung dengan apa yang akan kulakukan selanjutnya.
Kami memang sudah berdiskusi tentang siapa yang akan memegang peranan pada pernikahan ini, karena aku sendiri positif bisa hamil maka posisiku adalah wanita, apalagi dengan ego Yunho yang tinggi, dia pastinya tidak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan memposisikan dirinya sebagai wanita dalam hubungan kami.
Ia mengetuk pintu kamar mandi
"Kau sudah selesai?" tanyanya
"I…iya"
Aku buru-buru mengambil handuk, menutup bagian bawah sampai pinggang lalu keluar kamar, Yunho melihatku keluar kamar setengah telanjang dengan rambut basah.
"K..kau mau mandi?" tanyaku kikuk, mungkin orang yang baru mengalami malam pertama akan kikuk seperti ini juga kepada pasangannya.
"Iya" jawabnya sambil buru-buru mengambil handuknya lalu bergegas ke kamar mandi.
Aku menyeka tubuhku lalu menutupnya dengan pajama baru dari lemari, yunho membelikan baju-baju baru untukku namun sayang hampir semuanya berwarna feminim yang sama sekali tidak kusukai, bagaimana lagi ini karena ia menganggapku sebagai wanitanya.
Selesai mandi tanpa malu ia melepas handuknya dan berganti pakaian didepanku.
"Kau tidak lapar?". Tanyanya kemudian memecah keheningan.
"Tadi sudah makan banyak". Balasku, aku tidak ingin melirik kearahnya.
"Ooh".
Ia mulai naik keatas ranjang, aku menggeser tubuhku.
"Sedang mendengarkan apa?" tanyanya padaku, aku mencabut earphoneku.
"Apa?...oh ini lagu Mika, kau mau mendengarkan?"
"Tidak aku mau baca buku saja". Balasnya sambil mengambil buku dari dalam lemari
Tik tok tik tok
Suara jam berdetak detak dengan sangat kencang, aku sebenarnya tidak bisa konsentrasi mendengarkan lagu karena ada Yunho disebelahku, aku bertaruh ia juga demikian, kami sama sekali baru dengan kondisi ini.
"Yunho aku mau tidur". Kataku satu jam kemudian.
"Jae…Kita harus melakukannya sekarang" ujarnya. Aku mengerti kemana arah pembicaraannya.
"Aku lelah, nanti saja".
"Kita harus melakukannya, kalau tidak semua orang akan menertawakanku".
"Apa maksudmu?".
"Teman-teman dikelasku bertaruh jika kita bisa melakukan malam pertama langsung atau tidak".
"Yah kenapa kau membuat taruhan konyol seperti itu?!".
"Changmin yang mengompori mereka!".
"Dasar sabahatmu itu sungguh keterlaluan!"
"Sudah cepat buka bajumu!...Ini bukan karena aku mau menyentuhmu ya…ini gara-gara taruhan itu"
"Apa maksudmu? Mereka yang bertaruh bukan berarti kau harus menurutinya!".
"Yah cepat, kau mau tidak!"
"Tidak mau, aku tidak suka padamu!" jawabku langsung, aku ingin tahu apakah ia tersinggung, tapi kenapa harus tersinggung toh ia juga tidak menyukaiku.
"Apa?!"
"Aku ingin melakukannya saat aku siap" kataku menjelaskan.
"Yah apa maksudmu, aku ini suamimu yang sah, aku bisa memaksamu kapan saja ketka aku ingin berhubungan".
"Dengar ya Yunho, aku mau menikah denganmu bukan berarti aku mau tunduk terhadapmu...kita harus memposiskan kita ini sederajat, aku berhak mengemukan pendapat dan kau tidak boleh memaksakan kehendak padaku".
"Yah jangan lupa aku pemimpin di rumah ini, kau harus tunduk padaku".
"Begitu ya! Oh jadi kau mau membuatku marah ya!"
"Jangan banyak alasan cepat buka bajumu!
"Lepaskan!"
Yunho menarik tanganku dan berusaha melucuti pijamaku, aku yang tidak terima melawan sekuat tenaga, ia masih kalah jika bertarung denganku, Yunho terjelembab kebawah setelah kutendang dengan kuat.
Kukira ia akan membalasku namun ternyata ia keluar kamar dan menyalakan TV.
Ah sudahlah aku tidur saja, lagipula aku memang tidak ingin melakukan apa-apa dengannya. Pikirku sambil menarik selimur keatas tubuhku.
Paginya Yunho sudah ada disebelahku sedang tertidur dengan pulas ketika aku bangun, aku segera bangkit untuk melaksanakan tugasku memasak, karena aku tidak pernah memasak sebelumnya aku memasukkan semua potongan sayuran lalu memberikan garam secukupnya.
"Rajin sekali?" ujar suara dari belakang mengagetkanku.
"Aku ingin jadi istri yang baik" jawabku
"Istri yang baik seharusnya melayani suaminya diranjang" sindirnya sebelum ia menggosok gigi.
"Yah kalau itu beda, aku tidak ingin melakukannya sebelum siap" balasku, aku menyiapkan dua mangkuk kecil nasi yang mengepul, sayuran, dan daging ayam bumbu istant bulgogi keatas meja.
"Memangnya kapan kau siap?" tanyanya setelah selesai menggosok gigi.
"Bukan urusanmu, cepat makan!".
oOo
Ini pertama kalinya juga aku pergi ke sekolah bersamanya, walaupun rasanya canggung datang dengan mobil Yunho yang biasanya selalu kuusili.
"Yunho nanti istirahat aku ingin makan dengan Junsu". Kataku padanya sebelum keluar mobilnya.
"Oh baiklah" balasnya.
OoO
Suasana dikelas Yunho nampak ribut ketika ia masuk kelas, changmin dan Yoochun langsung merangkul lehernya.
"Yah! yah! bagaimana kabar pengantin baru kita?" tanya yoochun semangat sambil mendudukkan Yunho di kursinya.
"Ceritakan pada kami, pengalaman malam pertama kalian" Changmin mengompori.
"Kalian ini kenapa sih, aku ingin belajar" ujar Yunho berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hei sudah jangan malu ceritakanlah, apa kau melakukannya atau tidak?"
"Apa sih!"
"Yah katakan! biar kami bisa tahu kalau aku ini menang taruhan...Kau tidak bisa menyentuh sainganmu bukan?" kata Changmin setengah tertawa. Yunho hanya terdiam.
oOo
"Bagaimana malam pertamamu?" Tanya Junsu saat kami istirahat, sepanjang pelajaran ia terus melirik padaku sambil memberikan kertas padaku disela-sela guru menerangkan pelajaran.
Bagaimana rasanya? apakah sakit?
Karena aku tidak tahu jawabannya aku tidak mengembalikan kertasnya apalagi menjawabnya langsung, alhasil dia terus merongrongku dengan pertanyaan yang tidak penting ini.
"Ah kau ini apaan sih" kataku dengan kesal
"Jangan-jangan kau masih perawan"
"Yah! jangan menggangguku!". Ujarku galak pada Junsu.
Entah apa yang menarik selain mengorek apakah kami melakukan malam pertama atau tidak, changmin dan Yoochun juga tiba-tiba mendatangiku saat aku bersama Junsu, menanyaiku apakah kami benar-benar melakukannya"
"Hei! Bagaimana?!" Tanya Yoochun dan Changmin mengepungku.
"Apa maksud kalian?"
"Cepat beritahu kami!"
"Kau masih perawan kan!"
"Yunho tidak bisa menyentuhmu kan"
"Kalian ini berisik, tanyakan sendiri padanya"
"Kami sudah bertanya, katanya tanyakan padamu" balas yoochun, karena kesal aku langsung mengambil makananku menjauh.
"Idiot…kalian pikir sendiri saja jawabannya!" seruku sambil berjalan pergi
"Hei temanmu itu kenapa?" Tanya yoochun pada Junsu.
"Aku tidak tahu".
"Lagi tidak mood kali karena Yunho gagal menyentuhnya" seru changmin.
Lalu kudengar tiga orang itu tertawa di belakangku.
Memangnya kenapa kalau aku ini masih perawan!
oOo
Pulang sekolah aku melihat Yunho sudah menungguku dimobilnya.
"Hey kamu ini lama sekali!" teriaknya
"Aku pulang naik bis saja".
"Apa maksudmu! Aku sudah menunggumu dan kau mau naik bis?".
"Aku tidak biasa naik mobilmu"
"Yah! jangan membuatku marah ya, kau ini sudah keterlaluan"
Yunho menarik paksa tanganku masuk kedalam mobil, ia lalu membawa mobilnya dengan kecepatan penuh, ia kelihatan marah sekali.
"Turun!" katanya padaku saat kami mencapai parkiran apartemen kami. Setelah aku turun yunho langsung memarkir mobilnya dengan cepat, ia lalu menarikku kedalam rumah.
"Kau mau apa?" tanyaku setelah kami di dalam kamar
"Dengar Jae? Aku tidak tahu dimana jalan pikiranmu tapi aku serius tentang pernikahan ini"
"Aku juga"
"Kalau kau serius kau harus menghormatiku".
"Apa maksudmu menghormatimu?!, aku tidak ingin diperintah hanya karena kau menganggap posisiku ini adalah istrimu!"
"Tapi kita tidak bisa seperti ini terus, kita sudah sepakat tentang posisi kita".
"Tapi bukan berarti kau berhak mengaturku!".
"Kau sendiri yang meminta untuk menikah denganku jika tidak bisa membayar hutang kakakmu!"
"Bukan berarti aku mau jadi budakmu!"
"Memangnya siapa yang menganggapmu budak!"
Yunho kelihatan sudah tidak bisa menahan amarahnya, ia mendorongku ke ranjang dan mencoba melepas pakaianku dengan paksa.
"Lepaskan aku!"
Karena aku juga tidak ingin kalah kami bertarung, benar-benar bertarung sampai aku hampir mematahkan rahangnya.
"Dengar ya aku ini masih punya harga diri!" kataku berteriak padanya. Aku lalu membawa tas besar dari lemari, memasukkan baju-bajuku kedalam tas.
"Yah jae kau mau kemana?!"
Yunho menahan tanganku.
"Kemana lagi…ya pergi!".
"Kau mau pergi kemana? Ibumu akan khawatir"
"Entahlah, kemana saja asal tidak hidup denganmu".
"Ya sudah maafkan aku, aku tidak akan memaksamu lagi" ujar Yunho, tangannya masih menggenggam tanganku.
"Kau janji?"
"Iya, kalau kau tidak mau aku tidak akan memaksamu"
"Baiklah".
Aku menurunkan barang-barangku lagi karena memang sebenarnya aku tidak ingin pergi kemana-mana..
Yunho terlihat sudah tenang lalu ia pergi ke kamar mandi, aku membereskan rumah dan memasak agar ia tidak marah lagi padaku, setelah makan malam aku menemaninya menonton tv.
Sial seribu sial film yang sedang ia tonton adalah Ju-On, sebenarnya aku tidak suka filmnya karena itu film horor, aku jadi suka mimpi yang tidak-tidak jika nonton film seram seperti itu tapi aku masih ingin menemaninya".
"Kau ada ujian besok?" tanyanya padaku, ia melihatku yang mencoba mengelap keringat leher karena ketakutan.
"Bahasa inggris". Jawabku mencoba menjawab dengan nada normal padahal aku ingin sekali berteriak karena sekarang di filmnya sedang adegan wanita berbaju putih, berambut panjang sedang berjalan menuju CCTV.
"Kau lebih baik belajar".
"Oh iya ya…aku mau belajar" kataku kikuk sambil langsung melarikan siri ke dalam kamar.
Dua jam kemudian
"Kau mau kopi?" ujar Yunho sambil menaruh kopi dimeja belajarku.
"Aku tidak mau, nanti aku tidak bisa tidur"
"Ini enak, cobalah, aku tidak memasukkan pil tidur kok".
"Bukan itu, aku memang ingin tidur, memangnya kau tidak?"
"Aku tidak bisa tidur". balasnya
"Ya sudah kalau begitu aku tidur duluan ya".
"Iya".
Aku naik keatas ranjang dan mulai menutup mataku
.
.
.
Jae…Jae….Jae
Seseorang memanggilku dalam kegelapan, aku tidak bergerak ataupun berlari, seolah ada yang menahan kakiku seolah aku harus berada disana. Lama lama lingkaran hitam didepanku kian mengecil dan suara bisikan namaku kian keras terdengar.
"Jae…Jae…Jae.."
Aku mencoba berjalan mendekatinya, pelan-pelan, tidak kurasakan apa-apa pada kakiku atau pada tubuhku, biasanya aku bergetar ketakutan, ketika aku perlahan mendekati lingkaran hitam itu aku melihat ada seseorang disana menungguku, perempuan berambut panjang dengan baju putih membelakangiku, sayup-sayup ia memanggilku.
"Jae…"
"Jae"
Karena merasa tidak takut aku mendekatinya dan menggeser badannya, tubuhnya perlahan bergeser kearahku dan ia menatapku…namun kemana bibir dan rahangnya!
.
.
.
Aku membuka paksa mataku.
"Hah..hah..hah!"
Tenggorokan tercengkat, tangan dan badanku berkeringat, tubuhku bergetar hebat dan Yunho memegang pundakku.
"Kau kenapa Jae?".
"A…aku Yunho A..aku?"
"Kau pasti bermimpi buruk".
"Mimpi buruk?".
Yunho hendak pergi tapi aku menahannya.
"Mau kemana?"
"Sebentar" katanya.
Yunho pergi ke dapur sebentar kemudian kembali lagi untuk memberiku air putih
"Minumlah". Ujarnya sambil menyodorkan minuman padaku.
Aku langsung menenggak minuman itu, perlahan-lahan dadaku mulai berdetak normal dan Yunho membaringkanku. Ketika aku mencoba untuk tidur kembali aku merasakan dari belakang yunho memelukku, anehnya aku tidak memberontak kali ini, mungkin karena aku merasa takut.
"Kau tidak perlu takut aku disampingmu" bisiknya menenangkanku.
Aku membalikkan badanku dan melihat wajahnya, tangannya masih melingkar ditubuhku
"Kau mau cari-cari kesempatan ya?"
Ia tersenyum.
"Mungkin, tapi kau tidak akan melepaskanku karena kau masih takut kan?"
Aku menutup mulutku, tidak bisa berkata apa-apa, aku memang takut setelah mimpi buruk tadi.
"Tidurlah, kau ujian besok" bisiknya
"Iya".
"Jangan lupa bangun pagi dan masakkan yang enak untukku".
"Aku malas masak besok"
"Dasar pemalas". Katanya.
Aku lalu menatap wajahnya
"Yunho…?"
"Hmmm?"
Aku menggeleng kepala
"Tidak. aku hanya ingin memanggil namamu". Kataku berseloroh
"Dasar aneh". Katanya.
Aku bergeser lebih dekat ke tubuhnya dan ia memelukku lebih erat.
OoO
FF sebelah H.I.A.T.U.S…
