CHAPTER 8
BASIC 1: DO NOT LYING
Besoknya entah mengapa mukaku panas sekali saat sarapan dengannya, mungkin ini pengaruh karena aku tidak bisa melepaskannya selama tidur semalaman, kenapa aku jadi malu-malu begini ya?. Pikirku heran terhadap diri sendiri.
"Hei kau kenapa?" tanyanya sambil mendekatkan mukanya padaku, aku semakin gugup.
"Apa?".
"Wajahmu? Dari tadi kau seperti tidak ingin melihatku…aaah jangan-jangan kau malu ya semalaman berpelukan denganku?" tanyanya menggodaku.
"Yah jangan ngomong sembarangan, siapa yang malu?"
"Ah iya iya baiklah…Oya sore nanti kita nonton ke biskop yuk ada film bagus".
"Film apa? Aku tidak suka film hantu"
"Film robot….yah hitung-hitung menonton dirimu, kau kau dingin seperti robot" ujarnya yang langsung membuat mataku melotot.
"Apa maksudmu!"
"Yah aku hanya bercanda, jika kau adalah robot maka kau ini adalah robot termanis yang pernah ada didunia" ujarnya menggodaku, mukaku memanas lagi, melihatku gugup seperti itu ia semakin mengerjaiku.
"Tapi untung saja robot termanis didunia itu sudah jadi milikku"
Mukaku sudah seperti kepiting rebus sekarang.
"Yaaaah…walaupun tetap saja namanya robot, tubuhnya tidak bisa diapa-apakan seperti robot" ujarnya lagi melanjutkan.
"Apa!"
Aku langsung memukul pundaknya berkali-kali sampai ia meminta maaf karena bercanda, yah memang berbicara dengannya menguras kesabaranku tapi lama-kelamaan rasa sayang itu mulai tumbuh dan setiap hari bersamanya aku merasa nyaman.
oOo
.
.
"Hei kalian sudah melakukannya belum?" Tanya Junsu yang terus-terusan seperti radio berjalan setiap harinya padaku, tidak dikelas ataupun di kantin pertanyaannya seperti hendak mengajakku bertengkar.
"Kau ini berisik sekali! Apa gunanya untukmu jika kami sudah melakukannya atau belum?"
"Aku hanya tidak suka teman-teman Yunho menghinamu, katanya kau bukan istri yang baik" balas Junsu.
"Yah kau sudah mulai mengkhianatiku ya, sejak kapan kau berkawan dengan dua serigala itu?"
"Jae…kau dan pangeran kita kan sudah menikah, otomatis Aku, Yoochun dan Changmin menjadi keluarga sekarang"
"Apa maksudnya keluarga, hobi kalian hanya menggosip dan membuat orang kesal saja"
"Memangnya kenapa? lagipula aku kesepian sejak kau menempel terus pada suamimu, untung saja ada mereka yang mau menjadikanku teman…walaupun mereka lebih banyak bersikap menyebalkan"
Kriiing Kriiing
Tiba-tiba HPku berbunyi
"Halo?"
"Kim Jaejoong?" ujar suara berat diujung sana
"Mr. siwon?"
"Kau lupa dengan gajimu ya?
"Gaji? Aku masih punya gaji?"
"Datanglah sore ini ke kafe, ada yang perlu kita bicarakan"
"Baiklah"
Setelah telepon kututup aku baru ingat ternyata sore ini aku ada janji kencan dengan Yunho, aku langsung mengiriminya pesan.
Yunho maaf sore ini pulang sekolah aku masih ada urusan, kau pergi duluan ke bioskop aku akan menyusulmu.
Ia pun membalasku
Kau tidak usah dandan yang cantik demi diriku
Aku tersenyum lalu membalasnya
Aku akan berdandan yang cantik, kau akan terkejut.
.
.
.
Tuan siwon sepertinya marah padaku, aku hanya berniat meminta maaf padanya lalu pergi menemui Yunho namun sepertinya Tuan Siwon terlihat serius padaku atas pengunduran diriku yang tiba-tiba, sepuluh menit berlalu ia hanya berbasa-basi sambil meminum kopinya.
"Bagaimana sekolahmu?" tanyanya
"Lumayan baik"
Ia mengambil gula dan memasukkannya kedalam kopinya
"Kau tampaknya tidak kuatir dengan kehidupanmu lagi…aku masih ingat saat kau datang padaku dan memohon pekerjaan padaku"
Bibir kanannya naik sedikit kemudian ia bicara lagi.
"Setelah semua yang kulakukan untukmu sekarang kau pergi begitu saja?"
"Maafkan aku, ini semua salahku, aku tidak ingin menimbulkan masalah untukmu, makanya aku keluar tanpa memberitahumu"
"Aku tidak peduli kau keluar begitu saja dari diskotik, hanya saja bukankah kau punya kewajiban memberitahu orang yang sudah memberimu pekerjaan" ujarnya yang semakin membuatku merasa bersalah.
"Maafkan aku…aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan, sungguh maafkan aku"
"Kau lupa sekarang padaku karena kau sudah jadi menantu orang kaya ya"
"Bagaimana tuan tahu?"
"Kakakmu yang bilang"
"Hyung?"
"Jangan khawatir, aku bukan tipe pendendam, aku hanya tidak suka kau pergi begitu saja tanpa pamitan padaku, bahkan kau tidak mengundangku ke acara penikahanmu"
"Bukan seperti itu, acaranya hanya kecil-kecilan"
"Heeh begitu ya…baiklah ini gajimu" katanya sambil menyodorkan amplop padaku.
"Aku masih mendapat gaji?"
"Ya ini adalah hakmu, ambillah"
"Terimakasih...oh ya bagaimana kalau besok kau kutraktir dengan ini" kataku mencoba membuatnya senang.
"Tidak usah untukmu saja"
"Ayolah sekali saja mumpung aku ada uang"
"Baiklah kalau begitu temani aku mengobrol saja"
"Sekarang?"
"Iya, aku hanya ada waktu sekarang, kenapa? kau ada janji?"
Aku melihat kearah jam tanganku dengan gelisah, filmnya pasti sudah mulai dan aku masih harus menempuh perjalanan kesana selama 30 menit.
"Ah tidak, aku akan menemanimu mengobrol saja" kataku kemudian memutuskan menemaninya. Toh nannti aku tinggal minta maaf saja pada Yunho.
.
.
.
Aku berlari dengan cepat sekali sampai ke depan bioskop, Yunho menyilangkan kedua lengan didadanya saat aku datang tepat di hadapannya, mukanya masam melihatku.
"Ma..af…hah hah maaf aku terlambat" kataku terbata-bata karena kelelahan berlari.
"Kau pikir ini jam berapa?" tanyanya setengah marah.
"Maafkan aku, pemilik tempatku bekerja dulu tidak berhenti bicara, aku tidak bisa pulang"
"Oh begitu ya. Kau kencan dengan orang lain dan kau meninggalkan suamimu menonton sendirian disini?"
"Siapa yang sengaja meninggalkanmu disini sendirian, aku tidak punya pilihan"
"Ya ya ya…malang sekali nasibku"
"Sudah jangan banyak bicara, kau harus memaafkanku" ujarku sambil menjulurkan tanganku padanya
"Begitu saja?"
"Kalau kau memaafkanku aku akan mentraktirmu dengan gajiku" ujarku sambil menggoyangkan amplop cokelat di tanganku.
"Aaah jadi semua ini karena uang ya" katanya yang terus membuatku kesal.
"Yah! cepat maafkan aku atau kita musuhan saja selamanya" ujarku berteriak sambil masuk kedalam mobilnya, aku cemberut saat ia mengikutiku masuk.
"Aaah kau ini sensitif sekali, siapa yang berbuat salah, siapa yang ngambek" katanya menyindir padaku.
"Aku sudah minta maaf kenapa kau masih menyebalkan!"
"Iya iya baiklah, aku tidak akan marah lagi padamu, tapi sekarang kau traktir aku ya"
"Baiklah, suamiku tersayang kau mau makan apa?" tanyaku
"Makanan Italy" balasnya
"Bagaimana kalau Kalbi yang di Itaewon saja, aku suka sekali makan kalbi" ujarku
"Aku mau makanan Italia…lagipula aku yang mau ditraktir kok kamu yang ngotot?"
"Ya sudah ke Itawoen saja, makan Kalbi ya"
"Apa?"
"Sudah cepat jalan!" kataku berteriak.
Yunho tersenyum kecil padaku sebelum ia menjalankan mobilnya, aku rasa aku semakin menyayanginya, bagaimana tidak sayang, jika sebelumnya, sebelum kami menikah kami akan memaksakan kehendak satu sama lainnya namun kini ia akan berusaha mengalah demi diriku, yaa walaupun kata-katanya menyebalkan namun ia bersikap lebih lembut padaku dan yang lebih penting aku sudah mulai menyayanginya.
Tiba-tiba dalam perjalanan ke tempat kami makan kami terjebak dalam kemacetan, yunho menyalakan radio agar suasana tidak sepi, aku memutar pelan volumenya.
"Bagaimana filmnya? seru tidak?" tanyaku membelah kesunyian
"Ya begitu deh" jawabnya sekenanya.
"Begitu bagaimana?"
"Filmnya sih seru tapi aku tidak tahan dengan orang-orang sekitarku".
"Memangnya kenapa dengan mereka?".
"Kau pikir bagaimana perasaanku jika kanan kiri depan belakangku semuanya sibuk bercumbu dengan pasangannya masing-masing sedangkan diriku hanya memandang ke depan layar berusaha mengacuhkan semua itu".
"Yah kau ingin menjebakku masuk kesana agar bercumbu denganmu seperti orang-orang itu kan?"
"Bukan itu maksudku"
"Hah untung sekali aku tidak datang".
"Oh begitu! jadi kau lebih senang mengobrol dengan bos mafiamu itu daripada menemaniku di bioskop?"
"Yah kenapa kau jadi menyalahkanku lagi?"
"Memang begitu kan?"
"Ah terserah dirimu sajalah, aku kan sudah minta maaf" kataku langsung cemberut dan memalingkan muka padanya
"Hei Jae…"
"Apa?"
"Kau mau tahu apa yang orang-orang lakukan kalau terjebak macet didalam mobilnya?" tanyanya dengan wajah mencurigakan padaku
"Memangnya aku perlu tahu!" kataku sewot
Yunho tiba-tiba mendekatkan wajahnya padaku lalu mengecup bibirku dengan cepat, aku tidak marah ataupun berteriak seperti biasanya, malahan mukaku langsung memanas, karena melihat tingkahku yang seperti itu Yunho mendekat lagi padaku dan menciumku lagi, kali ini tidak langsung ia lepaskan, bibirnya menekan bibirku dan ia lalu melumatnya, walau aku tidak membuka mulutku lidahnya terus menjulur mengenai bibirku sambil bibirnya melumat bibirku sampai basah.
Tut tut tut
Suara klakson menghentikan kegiatan kami, Yunho kembali duduk dengan tenang dikursinya sambil mulai mengemudikan mobilnya sedangkan aku masih terpaku dengan apa yang barusan terjadi.
"Panas" kataku kemudian, mungkin ini efek dari ciuman tadi.
"Matikan saja ACnya, kita buka jendelanya"
Yunho mematikan ac dan membuka jendela mobil, aku buru-buru protes padanya.
"Yah tutup jendelanya banyak debu". kataku
"Yah sejak kapan kau perhatian pada hal seperti itu, kau kan sudah biasa naik bus dan sepeda"
"Ini semua salahmu kenapa kau lewat jalan ini jadinya macet"
"Pikiranmu memang sempit ya Jae, memangnya siapa yang mau makan di Itaewon?, kau ini! jika bukan karena kau istriku sekarang kau sudah kuturunkan dari mobil"
"Yah kau berani padaku!, kau sudah berani berbuat tidak-tidak padaku lalu mau mengusirku?!"
"Ah sudahlah aku jadi lelah, kita makan saja" katanya saat sampai di parkiran
"Awas kau kalau berbuat seperti itu lagi padaku!"
Aku sendiri berpikir sebenarnya ada apa dengan hubungan kami, sebentar kami bertengkar sebentar romantis sebentar kemudian bertengkar lagi, namun dibalik semua itu justru hubungan maju mundur seperti inilah yang membuatku semakin sayang padanya, entah bagaimana perasaannya padaku namun ketika ia menciumku aku merasakan rasa sayangnya padaku. Ah aku jadi malu lagi mengingatnya.
.
Pulang ke rumah kami bertengkar lagi pasalnya karena Yunho berlama-lama di kamar mandi, aku bertanya padanya tapi ia malah marah padaku
"Yah Yunho, aku hanya bertanya apa kau masturbasi di kamar mandi kenapa kau marah?"
"Kau sudah tahu jawabannya kenapa kau bertanya lagi!"
"Ya sudah kalau begitu, aku hanya tidak ingin menunggu kencing hanya demi memberimu waktu bercinta dengan tanganmu di kamar mandi"
"Kau tidak akan membuang waktuku seperti ini jika kau sadar kesalahanmu" katanya dengan sinis padaku
"Memangnya apa salahku? Aku hanya minta kau berbuat itu setelah aku tidur, kenapa kau yang marah"
"Kau ini benar-benar menguji kesabaranku ya"
"Lalu apa maumu agar kau tidak marah-marah seperti ini?"
"Kau tahukan apa mauku?" ujar Yunho menanya balik.
"Sudah kubilang aku akan melakukannya jika aku mau!"
"Ya sudah kalau begitu jangan mengeluh jika aku memakai kamar mandi lama!" ujarnya setengah berteriak padaku, aku sedikit sakit hati dengan sikapnya, aku lalu tidur dengan memalingkan wajah darinya.
"Yunho dingin" ujarku kemudian sambil terisak, ia memelukku dari belakang.
"Maafkan aku, aku tidak akan marah lagi padamu" katanya sambil mendekapku erat.
"Aku memang tidak berguna…tapi kumohon jangan marah padaku karena hal itu"
"Iya maaf, aku sayang padamu, aku akan menunggumu dengan sabar" ujarnya
Ah yunho maafkan aku, bersabarlah suatu hari aku akan siap memberikan segalanya untukmu.
oOo
Di kelas Yunho
Sebuah bingkisan tergeletak di meja Yunho, karena penasaran pemuda jangkung itu membuka bingkisan coklat tersebut, matanya seketika terbelalak ketika mengetahui isi dari bungkusan tersebut, belum habis rasa kagetnya dua temannya tiba-tiba muncul. mengagetkannya.
"Kau suka hadiah dari kami?"
"Apa maksud kalian dengan ini" ujar Yunho sambil melempar majalah dewasa tersebut.
"Kami membelinya untukmu, kali saja kau ingin berfantasi waktu masturbasi...bwahahaha"
Seketika tawa yoochun meledak diikuti suara ledekan dari Changmin.
"Yah aku sudah menikah, kalian tidak boleh memberiku barang seperti ini lagi, kalau jae melihat ia akan membakarku"
"Yunho kami ini kasihan padamu, kau menurut apa saja kata istrimu, ia bahkan tidak membiarkanmu menyentuhnya, kalau aku jadi dirimu aku sudah menceraikannya" ujar yoochun berseloroh.
"Aku bukan sepertimu Yoochun, aku menyayanginya"
"Lalu kau akan seperti ini terus seuumur hidupmu, hidup seperti saudara tanpa berhubungan badan?"
"Entahlah aku belum memikirkannya"
"Kasihan sekali, masa mudamu terbuang percuma"
"Jangan bilang seperti itu padaku, kami masih punya banyak kesempatan"
"Hei Yunho bagaimana kalau malam ini kau berpesta dengan kami?'
"Aku tidak bisa, aku harus menemani Jaejoong"
"Kami akan mengajak beberapa wanita"
"Ya ya yah aku tidak bisa mengikuti kebiasaan kalian lagi, aku ini sudah menikah, MENIKAH…catat itu"
Yoochun tergelak, changmin menutup mulut menahan tawanya keluar.
"Hei Yunho kami tahu libidomu itu paling tinggi di antara kami, kau bahkan bisa meniduri dua wanita sekaligus dalam semalam tapi kini kau bahkan belum melakukan apa-apa dengannya sampai sekarang, lalu apa gunanya kalian menikah?" ujar Yoochun sambil menahan tawanya.
"Diam kau, aku ini tipe orang setia" bela Yunho
"Hffft setia katanya" seru changmin setengah tertawa.
"Dengar ya urusan cinta dan seks tidak ada hubungannya, kau masih bisa bercinta dengan siapa saja tanpa kehilangan status pernikahanmu"
"Kalian gila, kalian menyuruhku selingkuh dari Jae?!"
"Terserah apa katamu Yunho, yang pasti jika kau kesepian datanglah malam ini, para gadis akan melayanimu, setidaknya mereka lebih berguna dibanding istrimu yang kaku itu" terang yoochun sebelum bel memisahkan perbincangan ketiga pemuda tersebut..
oOo
"Masukkan potongan wortel kedalam wajan" ujarku mengulangi langkah-langkah sesuai resep.
"Masukan daging cincang, sedikit bawang Bombay biar harum…hmmm"
"Kau sedang masak apa sayang?" Tanya Yunho tiba-tiba, tangannya melingkar di pinggangku, membuatku tidak bisa bergerak.
"Sayur sup iga"
"Kelihatannya enak" ujarnya sambil mencium pipiku.
"Tentu saja, kalau tidak enak kau tetap harus menghabiskannya"
"Baiklah"
Hidungnya mengendus-endus leherku, ia aneh sekali hari ini, sepertinya libidonya sedang naik.
"Kau kenapa sih, geli tahu".
"Baumu harum sekali…hmm"
"Yah Jung Yunho kalau tidak ingin air panas ini mengenai mukamu lepaskan aku!"
"Kau galak sekali, aku kan ingin bermesraan denganmu"
"Kau ini kenapa sih, sana ke toilet, main dengan tanganmu"
"Aku bosan main dengan tangan, aku ingin main denganmu" protesnya seperti anak kecil yang ngambek.
"Ya sudah cium aku kalau begitu"
"Bosan, lagipula kau tidak pernah membiarkan lidahku msauk"
"Lalu kau mau apa?"
"Blowjob, sekali-kali aku ingin merasakan juniorku di mulutmu"
"Yikes, itu menjijikkan"
"Makanya kau harus belajar"
"Aku sudah lelah belajar disekolah dan juga belajar masak, aku tidak ingin belajar bercinta!"
Yunho menghela nafas sambil mempoutkan bibirnya.
"Ah ya sudah kalau begitu aku nonton film porno saja".
"Kecilkan suaranya ya".
Aku menggeleng kepala dengan kelakuannya, Yunho memang mencoba untuk mengajakku bercinta setiap hari namun ia tidak pernah memaksa jika aku menolaknya, padahal aku sendiri juga ingin mencoba untuk bercinta dengannya tapi aku sangat takut sekali ia akan menyakitiku. Sungguh alasan yang konyol, aku hanya tidak siap dan belum siap.
Kami berkumpul kembali diruang makan untuk dinner, Yunho yang baru selesai nonton film porno tampak tidak ceria sama sekali.
"Kau kenapa?" tanyaku
"Tidak apa-apa kepalaku hanya sedikit pusing" jawabnya.
"Nanti aku akan pijiti".
"Terimakasih"
Kami lalu menikmati makan malam kami dengan tenang, wajahnya masih tampak resah.
"Bagaimana masakanku?" tanyaku
"Lumayan, sudah ada kemajuan" balasnya sambil tersenyum kecil.
"Kau mau makan apa besok?, aku akan mencarinya di internet"
"Apa saja" ujarnya sambil meletakkan sumpit ke meja.
"Tidak enak ya?"
"Bukan, enak kok aku hanya kenyang tadi sudah makan kentang"
"Kalau begitu makan nanti saja biar aku panaskan" kataku sedikit kecewa, memang sih masakanku sedikit asin tapi Yunho selalu pura-pura untuk menyukai hasil masakanku bahkan memakannya sampai habis, tapi kali ini ia malah tidak selera makan.
"Jae…"
"Iya?"
"Malam ini Yoochun dan Changmin mengajakku main di rumah mereka"
"Main apa?"
Matanya berpaling dariku sebelum memberikan jawaban padaku
"Ah itu main Playstation"
"Oooh kalau begitu pergilah" kataku kemudian, Yunho pasti ingin sesekali main dengan kawan-kawannya, aku tidak boleh melarangnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya padaku.
"Aku tidak apa-apa. Lagipula kau pasti bosan setiap hari denganku, pergilah"
"Kau mau dibelikan apa ketika aku pulang nanti?" tanyanya padaku
"Es krim"
"Baiklah akan aku usahakan pulang sebelum tengah malam".
"Baiklah hati-hati".
Aku mengantarkannya sampai ke pintu depan lalu setelah itu aku mengangkat tanganku keatas.
"Aaaaaaah bebas…aku akan pergi main dengan Junsu saja"
Aku lalu menelepon Junsu dan memintanya untuk bertemu denganku di tempat bowling langganan kami, mempunyai waktu senggang bersama teman perlu juga dalam hubungan rumah tangga.
"Dimana suamimu?" Tanya Junsu ketika bertemu denganku
"Sedang main dengan teman-temannya"
"Main apa? Tumben" tanyanya lagi, matanya penuh dengan kecurigaan.
"Main PS"
"Kau percaya?"
"Iya, memangnya mereka mau main apa lagi?"
"Kalau main wanita bagaimana?"
"Ah tidak mungkin Yunho itu tidak mungkin seperti itu"
"Aku tidak percaya kawanan serigala itu puas hanya bermain-main game seperti itu, mereka kan terkenal suka tidur dengan banyak wanita" ujar Junsu mencoba meyakinkanku.
"Yah Junsu kau ini sama saja dengan Yoochun dan Changmin, kerjaannya membuat orang kesal"
"Aku kan hanya mengutarakan pendapatku, kalau suamimu kenapa-kenapa juga bukan urusanku" ujar Junsu sambil menyambar bola pertamanya.
Karena kuatir aku hendak meneleponnya untuk mengkonfirmasi keberadaannya namun kemudian aku menutup teleponnya kembali. Aku tidak ingin disangka over protektif dan cemburuan oleh Yunho, kurasa aku harus lebih memberi kepercayaan padanya, kataku meyakinkan hatiku.
.
Besoknya disekolah saat jam makan siang Junsu berkicau lagi.
"Kau tahu Yunho kemana kemarin malam?".
"Yah kau masih meresahkan tentang itu?".
"Jae aku hanya ingin kau hati-hati untuk lebih memperhatikan suamimu"
"Aku percaya padanya, setelah ia pulang tidak ada bau apapun selain bau alkohol dimulutnya" balasku.
"Wah dia memang hebat ya bisa menyembunyikan barang bukti serapi itu"
"Yah apa maksudmu?"
"Aku tadi menyelidiki, Yoochun bilang mereka semalam disebuah bar"
"Mungkin hanya minum-minum disana" kataku dengan cuek.
"Yoochun juga bilang mereka bersama para wanita"
"Mungkin saja para wanita itu juga pesanan Yoochun dan Changmin" ujarku tidak ingin kalah.
"Lalu untuk apa suamimu disana kalau hanya untuk melihati orang bermain seks?"
"Junsu kau mau kupukul ya" ujarku mulai kehilangan kesabaran
"Mereka kan sudah biasa party seks dengan wanita bayaran, itu sudah jadi rahasia umum di kalangan murid-murid kok, kau saja yang polos dengan hal seperti itu"
"Yah tutup mulutmu, aku tidak ingin bicara lagi denganmu"
Dengan marah aku menjauhi Junsu yang mencoba memprovokasiku, aku percaya pada Yunho tapi aku ingin membuktikan sendiri kebenarannya agar aku tidak resah, karena aku tidak bisa menanyai Yunho dan teman-temannya maka aku mencari jejaknya semalam dimobilnya, alat navigasi mobilnya punya alat perekam kemana saja dan dimana saja mobil itu berhenti.
Dengan alasan ada barang yang ketinggalan aku meminjam kunci mobil pada suamiku, setelah dimobil aku langsung mengotak-atik alat navigasi mobilnya, aku setengah tidak percaya saat melihat alamat sebuah Hotel tertera di rekaman tersebut, waktunya tepat menunjukkan waktu semalam satu jam setelah ia pamitan padaku.
Dadaku langsung sakit luar biasa, aku berlari menuju Junsu yang sedang menuju kelas, aku menarik tangannya, setengah marah aku berteriak padanya.
"Kenapa kau memberitahuku tentang itu, kau jahat sekali, kau bukan sahabatku!" umpatku dengan kesal.
Junsu menatapku bingung, ia mencoba bertanya padaku namun pikiranku sudah gelap, aku berlari ke toilet dan mengunci diriku disana, aku tidak ingin bersikap cengeng tapi dadaku sakit sekali dan aku tidak bisa menahan airmataku jatuh.
oOoOo
Review Please…*wink*
