CHAPTER 11

THE DREAM AND FAMILY

Malam sepulang kerja dan Yunho kembali dari kuliahnya adalah malam yang sangat menyenangkan bagi kami, karena saat itu kami bisa menghabiskan waktu dengan bercanda sampai terlelap, kami tidak pernah pernah menyadari betapa waktu sangat berharga untuk kami berdua.

"Kenapa kau senyum –senyum sendiri?" Tanyanya padaku, diseberang meja sana aku melihat pemuda yang baru saja menyelesaikan latihan gymnya, tubuhnya terlihat kencang dan wajahnya terlihat bersinar, aku membayangkan sesuatu yang nakal di pikiranku.

"Tidak, memangnya aku senyum-senyum pada siapa?" jawabku sambil mengunyah kentang.

"Padaku, kau sedang menggodaku ya?" ujar Yunho padaku.

"Yah kau ini geer sekali, siapa yang sedang menggodamu"

"Malam ini jatahku" selanya sembari tersenyum, ah aku tahu ia pergi ke gym karena ia ingin melakukannya denganku malam ini, agar ia terlihat fit dan penuh stamina.

"Oya? Lalu dua hari kemarin itu apa?" tanyaku kesal

"Itu juga jatahku…" ujarnya lagi

"Aaah kau selalu begitu, sudah kuberi jadwal tapi kau selalu mengacaukannya"

"Tidak bisa dikontrol, gejolak anak muda" ujarnya memberi alasan.

"Dasar"

"Aku punya lagu untukmu, kita dengarkan setelah makan malam ya"

"Iya"

Yunho mengeluarkan CD dari tasnya lalu diputar ke mesin player, ia lalu menarikku untuk rebahan dikasur dan bersender dibahunya, sambil memelukku dari belakang ia membiarkan lagu itu memenuhi ruangan kamar kami

"Lagu apa ini?" tanyaku sambil melihat sampul CD yang bertuliskan SQUARE ENIX

"Ini instrumen dari game terkenal, lagunya menenangkan bukan?" katanya sambil sesekali mencium pipiku.

"Ehhm iya, kau ini ada-ada saja".

"Aku ingin setiap hari seperti ini denganmu, hidup tenang seperti ini"

"Jika punya anak tidak akan setenang ini" ujarku kemudian

"Apa kau mau kita cepat punya anak?"

"Ah Tidak, aku masih ingin cari uang, main dengan Junsu, bercanda denganmu setiap hari, jika sudah punya anak aku akan kerepotan"

"Tapi orangtuaku sudah memaksaku untuk memberi mereka cucu"

"Mereka seperti Ummaku saja"

"Kita punya anak satu dulu ya lalu kita istirahat beberapa tahun" ujarnya seraya menempelkan hidungnya dipipiku

"Ah tidak mau"

"Jae…ayolah, berikan aku seorang putra yang lucu, aku ingin menjadi ayah"

"5 tahun lagi, lagipula kita masih terlalu muda"

"Aku ingin sekarang" katanya sambil merengek, aku lalu mengambil tangannya dan kumasukkan kedalam kaosku, tangannya kuletakkan diatas nippleku

"Kau mau ini kan?" ujarku mencoba mengalihkan perhatiannya.

Yunho lalu naik keatas tubuhku dan mulai beraksi mencopoti helai demi helai kain di tubuhku, tanpa perlawanan yang berarti aku jatuh kepelukannya dan kami melakukan malam yang sangat erotis.

.

.

.

GLUK GLUK GLUK GLUK

Aku melihat Yunho minum air mineral seperti orang yang baru lari maraton, ia pasti sangat kelelahan setelah berhasil membuatku terkapar tak berdaya.

"Apa kau puas?" kataku menyindirnya.

"Belum, aku ingin melakukan satu putaran lagi denganmu"

"Yah kau mau membuatku tidak bisa bekerja besok"

"Jangan bekerja saja, lebih baik kita jalan-jalan besok" ujarnya sambil naik keatas tubuhku lalu mendekapku

"Aku tidak bisa, aku harus latihan untuk lomba nyanyi"

"Lomba nyanyi? Kau ikut lomba nyanyi?"

"Iya"

"Untuk apa kau ikut lomba?"

"Adiknya Junsu belum membayar uang sekolah, kami akan melunasinya"

"Kalian ini ada-ada saja"

"Yah Yunho aku ini pandai menghasilkan uang, lihat saja nanti, aku akan menang dan bawa pulang uangnya"

"Baiklah-baiklah terserah kau saja, yang penting kita main lagi ya malam ini" ujarnya sambil memutar tubuhku dan menciumku

"Hei! Hentikan!"

oOo

"Kau baik-baik saja?" Tanya Junsu padaku, seharian ini tubuhku sakit sekali jika harus membungkuk

"Sial, ini gara-gara si mesum yang membuat tubuhku rontok" jawabku kesal.

"Kalian ini pasti berbuat jorok semalam…ngomong-ngomong bagaimana soal pertandingannya?"

"Kau tidak usah khawatir, aku sudah bicara dengan manager, katanya ia tidak akan melarang kita ikut perlombaan asal kita mau lembur selama beberapa hari ini"

"Wow kau hebat"

"Tentu saja…Kim JaeJoong!"

"Hei…hei ayo kita latihan mumpung belum ada pelanggan"

oOo

Saat aku pulang kerumah tumpukan surat sudah memenuhi kotak surat kami, karena kesibukan kami masing-masing kami sampai lupa untuk mengeceknya, ada tagihan asuransi, kartu kredit, telepon, listrik, air, dll.

"Aku akan membayarnya" Ujar Yunho padaku.

"Bagaimana kau bisa membayarnya? Meminta uang pada ayahmu lagi?"

"Iya"

"Kau ini bagaimana sih, kenapa kau selalu minta padanya"

"Aku tidak punya pilihan, aku belum bekerja"

"Ya sudah ambil saja dari gajiku"

"Aku tidak mau, gajimu saja kecil, untukmu saja"

"Yunho kita tidak bisa begini terus"

"Aku akan coba bekerja paruh waktu di perusahaan ayahku"

Permasalahan ini membuatku sedikit khawatir pada keuangan kami, walaupun keluarganya kaya namun kami sudah sepakat agar hidup mandiri dan ternyata untuk mewujudkan semua itu sangatlah sulit

"Kau sudah siap?" ujar Junsu mengagetkanku, siang ini lomba karaokenya akan digelar, kami juga turut mempersiapkan dekorasi ruangan untuk panggung dan penonton

"Iya" kataku setengah semangat, Yunho yang kupikir bisa datang menyemangatiku tidak dapat hadir karena harus mengikuti seminar kesehatan.

"Lihat, yang datang semuanya terlihat bagus dan percaya diri"

"Kau tenang saja kita pasti bisa menang". Kataku memberi Junsu semangat, aku tidak khawatir padanya karena Junsu sejak dibangku sekolah sudah pandai bermain musik dan bernyanyi, dibalik wajah polosnya ia itu sangat berbakat jika dipoles.

Mataku lalu tidak sengaja tertuju pada pria jangkung yang bersama beberapa orang lainnya sedang bersiap di ruang penjurian.

"Apa mereka itu juri-jurinya?"

"Iya memangnya kenapa?"

"Kau tunggu disini"

Aku menyelinap ke ruangan sebelah tempat para juri berkumpul sebelum acara dimulai, pria jangkung itu sedang berdiri dan memperhatikan juri yang lainnya berbicara ketika aku mendekatinya dan menyenggol bahunya dengan sengaja

"Ah maaf" kataku berbasa basi berusaha mencuri perhatiannya

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya

"Maaf apa kita pernah bertemu?" tanyaku padanya yang sedikit demi sedikit mulai mengingat wajahku

"Kau…kau Jaejoong?" Tanyanya, ia adalah bos tempat aku bekerja dulu, ia juga yang punya masalah dengan kakakku dulu.

"Iya, aku kim jaejooong mantan pegawaimu"

Perbincangan kami lalu berpindah tempat pada ruangan yang cukup sepi.

"Jadi kau mengikuti pertandingan ini juga?"

"Iya dan aku tiidak menduga ternyata kau yang jadi salah satu jurinya"

"Ini salah satu hobiku"

"Apa jadi juri salah satu hobimu?"

"Kau sudah lupa ya, aku punya bisnis sampingan lainnya, mengurus beberapa manajemen artis"

"Ah iya aku baru ingat…Mmm ngomong-ngomong apakah kita bisa bekerjasama?" kataku mulai mengutarakan maksudku.

"Maksudmu?"

"Seperti konspirasi politik begitu" ujarku malu-malu

"Aah kau mau aku memenangkanmu"

"Iya…kita kan berteman, kau pasti mau membantuku"

Aku buru-buru mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakuku dan kuberikan padanya

"Kau mau menyogokku?" ujarnya

"Itu yang mereka lakukan di TV, ini bukan sogokan tapi tanda terimakasih, nanti akan aku tambahkan jika menang" kataku kemudian.

"Tapi aku hanya punya satu suara"

"Kau bisa sedikit mempengaruhi mereka….ehm katakan saja pada mereka pada saat aku tampil…itu Kim JaeJoong bagus juga ya" kataku memberi saran

"Ah iya baiklah, akan aku coba lakukan" katanya kemudian.

"Kau janji ya, nanti kau kutraktir"

"Baiklah"

Akhirnya pertandingan di mulai, satu persatu kontestan memperlihatkan kemampuan menyanyi mereka, saat giliranku pentas aku melirik pada Siwon, ia juga melirik padaku dan tersenyum

Saat naik ke pangggung semua mata memandang kearahku, karena aku sudah biasa dengan kerumunan orang banyak aku tidak sedikitpun takut tampil diatas panggung, aku menarik nafas dan mulai bernyanyi.

Tanpa terasa 3 menit berakhir dan suara riuh memenuhi ruangan, siwon dibangku jurinya tampak berdikskusi dengan yang lainnya, aku berharap ia mengikuti saranku untuk mempengaruhi juri yang lainnya.

"Kau hebat sekali" kata Junsu menyelamatiku setelah aku selesai menyanyi.

"Terimakasih kau juga"

Akhirnya pengumuman pemenang diumumkan, aku dan Junsu saling berpegangan tangan, berharap mereka akan memanggil nama kami kedepan.

Pemenang harapan telah diumumkan dan nama kami belum muncul, itu berarti kami masih punya kesempatan jadi juara umum

Saat juara tiga diumumkan tangan kami terkepal dengan kencang

Jangan nama kami jangan kami, ucap bibir kami bersamaan.

Lalu merekapun berlalu dengan juara tiga

Saatnya mengumumkan kandidat juara pertama dan kedua, tanpa diduga mereka memanggil nama kami berdua, belum juga diumumkan pemenangnya kami berdua berloncatan dengan girangnya.

"Baiklah yang akan memenangkan lomba karaoke ke 10 dengan hadiah uang blablablabla adalah…."

Tangan kami terkepal erat…sangat erat

"KIM…."

oOo

"Kau marah padaku?"

"Iya, kupikir aku akan menang" kataku kesal pada pria jangkung yang kupikir dapat membuatku menang itu

"Bukankah menjadi juara 2 juga hebat, lagipula yang menang itu temanmu sendiri, kau tidak seharusnya depresi begini"

"Tapi aku ingin juara pertama" kataku lebih kesal

"Apakah ini bisa diganti sebagai permintaan maaf dariku"

Ia mengeluarkan sebuah kartu nama, mulutku langsung menganga saat melihat nama dari kartu nama tersebut.

"Bukankah ini CEO CJ E&M Music?"

"Aku punya koneksi kesana kalau kau tertarik,,,jika kau tahu Roy Kim juga disana"

"A—Aku tertarik, aku tertarik" kataku dengan semangat.

"Aku akan membuat jadwal audisi untukmu"

"Iya"

"Wah cepat sekali, apa kau tidak tahu resiko menjadi penyanyi?"

"Aku tahu, aku akan terkenal, punya banyak uang dan diikuti penggemar"

"Kau akan kehilangan privasi"

"Aku tahu, aku siap untuk itu"

"Baiklah kalau kau siap menghadapi itu semua, tapi itu tidak gratis"

"Memangnya kau ingin bagian berapa?"

"Apa kau tahu banyak sekali orang yang bersedia melakukan apapun demi posisi yang kau inginkan tersebut"

"Aku tahu itu"

"Dan aku tidak sedang membutuhkan uang"

"Kalau bukan uang bagaimana aku membalas jasamu?"

"Aku ingin berkencan denganmu"

"Apa?"

"Aku akan membantumu mendapatkan apa yang kau mau asal kau juga memenuhi permintaanku"

"Memangnya sejak kapan kau menyukaiku?"

"Entahlah melihatmu hari ini aku langsung menyukaimu, bagaimana apa kau tertarik dengan tawaranku?" Tanya siwon lagi padaku. Aku sejenak terdiam.

"Baiklah kita akan berkencan" kataku kemudian.

oOo

Aku tidak bisa tersenyum ketika Yunho menjemputku beberapa menit kemudian di jalan, aku seharusnya gembira karena akan diberi kesempatan emas untuk jadi penyanyi tapi apa janji yang kutawarkan untuk berkencan dengan mantan bosku itu juga dapat Yunho pahami walaupun sebenarnya kami hanya akan kencan biasa.

"Selamat ya…juara dua tidak terlalu buruk" ujar Yunho yang mengetahuinya dari pesan yang kukirim.

"Kau mau kutraktir?" tanyaku kemudian

"Tidak usah, kau saja yang nanti kutraktir"

"Kau baru dapat uang dari ayahmu ya?"

"Iya" jawabnya

"Kau pakai saja uangku, masih ada sisa hadiahnya, kita bisa pakai untuk sewa rumah"

"Kau tidak perlu memikirkannya, simpan saja untuk tabunganmu, bukankah kau juga sedang menabung untuk tokomu nanti"

"Baiklah"

Butuh waktu lama sampai aku tiba pada apa yang ingin kusampaikan

"Yunho…ehm bagaimana pendapatmu jika aku jadi penyanyi profesional?" tanyaku dengan hati-hati

"Huh? Kau jangan bercanda" katanya tidak percaya.

"Aku tidak bercanda, ada yang menawariku jadi penyanyi setelah melihat penampilanku di lomba karaoke hari ini"

Yunho sedikit terusik dengan perkataanku, ia memindahkan mobilnya ke jalur pinggir dan mengemudikannya dengan perlahan.

"Kenapa mereka harus menawarimu bukannya Junsu yang juara pertama?".

"Katanya aku lebih punya potensi" kataku sedikit berbohong, jika mereka mengaudisi Junsu juga pastinya anak itu yang akan jadi penyanyi.

"Hah…kau ini, sudahlah lebih baik kita pikirkan saja bagaimana caranya membuat anak, orangtuaku ingin cucu!" katanya sedikit emosi

"Yah Yunho, kita ini masih kesulitan menghidupi diri sendiri kenapa bisa-bisanya kau memikirkan punya anak?"

"Kau jangan memikirkan hal itu, jika kita punya anak orangtuaku yang akan membiayai semua kebutuhan anak kita dengan senang hati" ujarnya lagi

"Kita sudah sepakat akan punya anak beberapa tahun lagi" balasku kesal.

"Aku berubah pikiran, aku ingin punya anak secepatnya" selanya dengan cepat, ia mencoba membuat alasan menolak keinginanku dengan mengalihkanku pada isu tentang anak.

"Aku tidak bisa" balasku lagi mencoba meyakinkannya.

"Kenapa tidak bisa?"

"Aku tidak bisa punya anak dalam waktu dekat, aku ingin jadi penyanyi dan membuat album"

Yunho tampak sudah tidak bisa menahan dirinya.

"Memangnya apa hebatnya jadi penyanyi?!, lagipula belum tentu kau akan sukses, tidak usah bermimpi terlalu tinggi, lebih baik kau besarkan anak-anak kita saja"

"Aku tidak mau, aku ingin sukses, aku ingin lebih sukses darimu!"

"Kau itu sudah menikah, kau harus paham posisimu"

"Jadi kau kira karena aku sudah menikah, aku harus hidup di rumah dan hanya membesarkan anakmu begitu?"

"Bukan begitu maksudku"

"Bukankah sudah kubilang walaupun kita menikah kita harus menyetarakan posisi kita, walaupun secara fisik, harkat dan martabat posisiku dibawahmu bukan berarti hidupku juga akan dikendalikan olehmu"

"Aku tidak mengendalikanmu Jae, aku hanya ingin kau disampingku" ujarnya mulai menurunkan nada bicaranya.

"Aku tidak akan berada disampingmu jika kau terus menerus egois seperti ini" kataku mengancam, melihat tingkahku yang ngotot seperti ini Yunho sepertinya mengambil langkah mundur.

"Ah baiklah kita bicarakan soal ini nanti saja"

Kami berdua lalu terdiam beberapa lama sebelum ia kemudian bertanya padaku

"Jae, kau mau makan dimana?"

Ia berusaha mencairkan suasana namun suhunya sudah terlalu dingin. Aku membalikkan tubuhku kearah jendela sambil merapatkan jaket diantara kedua lenganku.

"Aku tidak lapar, aku ngantuk ingin cepat tidur" kataku dengan nada kesal

"Baiklah" balasnya kemudian yang membawa kami pada keheningan yang panjang.

oOo