ANDROID

.

.

.

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Rated T

Genre : Romance, Hurt and Comfort

Pairing : NaruHina

Warning : Typo, OOC, abal, gaje.

.

.

ENJOY~


Part 1 : LIFE

Zresh, Blam, Brak...

Suara yang sangat berisik terdengar jelas dari sebuah ruangan, mari kita lihat lebih dekat lagi.

...

"Hah, akhirnya selesai juga!" suara helaan napas dan teriakan seseorang membuat ruangan itu semakin berisik,

"Ini akan menjadi maha karyaku yang terhebat!" serunya puas, laki-laki berambut putih perak itu menatap bangga pada karya terakhirnya itu. Bibirnya tak berhenti untuk tertawa, mata hitamnya memancarkan kesenangan tersendiri.

"Sekarang aku akan mengaktifkannya." Ujarnya, seraya berjalan mendekati sebuah mesin yang terlihat sangat rumit.

Dengan lihai, tangannya segera menekan beberapa tombol disana. Mengaktifkan sesuatu yang kini tengah terpajang rapi di sebuah tabung besar.

"..."

Laki-laki perak itu menunggu beberapa saat, sampai akhirnya tabung besar itu perlahan-lahan terbuka dan sedikit demi sedikit menampakkan seorang gadis berambut indigo. Mata gadis itu terbuka sedikit demi sedikit, membuat perasaan laki-laki itu semakin membuncah.

"..."

Kedip, kedip, kedip...

Mata lavender gadis itu berkedip berkali-kali, dan setelah itu mencoba menggerakkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Mencoba menggerakkan tangannya yang terasa kaku. Sampai akhirnya..

"Selamat datang." Ucap seseorang, membuat gadis itu sedikit tersentak kaget, namun kembali memperlihatkan wajah datarnya.

"..." Ia terdiam. Menyadari gerak-gerik gadis itu, membuat ia sadar akan sesuatu.

"Sepertinya aku belum menginput kata-kata untukmu." Ujar laki-laki perak itu kembali, Ia berjalan perlahan menuju meja penelitiannya dan mengambil beberapa chip kecil. Kemudian berjalan lagi menghampiri gadis indigo tadi.

"Tenang saja, Ayo putar badanmu." Ucapnya lagi, gadis itu hanya bisa mengangguk kecil, dan segera memutar tubuhnya. Laki-laki perak itu langsung memasukan beberapa chip tadi pada sebuah kotak kecil di antara punggung gadis itu.

"Dengan ini kau bisa berbicara layaknya manusia biasa."

Lagi-lagi gadis indigo itu mengangguk, membuat laki-laki perak itu tak bisa menahan senyumnya. Perlahan tangan kekarnya menyentuh puncak kepala gadis itu,

"Perkenalkan namaku Kabuto Yakushi,"

Gadis itu mengangguk,

"Aku adalah Profesor yang telah menciptakanmu."

"Men..cip..ta..kan..ku.." ucap gadis itu akhirnya.

"Ya, tak kusangka ternyata penelitianku berhasil, dan bisa menciptakan android sepertimu."

"Terima..kasih..Profesor.."

"Jadi yang..."

Tok, Tok, belum selesai Kabuto menyelesaikan kata-katanya, pintu ruangan terketuk tiba-tiba. Membuat laki-laki itu memilih untuk menyimpan dahulu perkataannya kali ini.

"Sepertinya mereka sudah datang," gumamnya kecil.

"Tunggu sebentar." Lanjutnya dan berjalan cepat menuju pintu, membiarkan gadis android itu diam disana.

oooooooooooooOOOooooooooooo

Pintu terbuka, dan kini menampakkan dua orang laki-laki dan dua orang perempuan tengah berdiri di depan pintu itu. Gadis indigo yang melihat itu dari jauh mengernyit bingung, sedangkan Kabuto tersenyum kecil.

"Silakan masuk, Hiashi-sama." Ucapnya.

"Hn," jawab seorang laki-laki paruh baya, seraya memasuki ruang penelitian Kabuto diikuti dengan ketiga orang di belakangnya.

"Silakan duduk disini," ujar laki-laki itu, kemudian ia berbalik lagi mendekati gadis android penelitiannya yang masih berdiri manis di tempat tadi.

"Ayo, kuperkenalkan dengan keluarga barumu," ucapnya,

"I..iya."

...

Kini gadis berambut indigo itu telah berdiri di depan orang-orang yang sama sekali tidak ia kenali, membuatnya sedikit takut. Kabuto yang melihat ekspresi androidnya berubah hanya bisa menghela napas pendek, Ia menepuk puncak kepala gadis itu.

"Tenanglah, Mereka yang akan menjadi keluarga barumu mulai hari ini~"

Gadis itu menatap profesornya itu sekilas, dan langsung menatap keempat orang yang kini tengah tersenyum melihatnya.

"Ke..luar..ga.." ucapnya terbata-bata.

Laki-laki perak itu untuk yang kesekian kalinya tersenyum, dan mengangguk kecil. "Iya, keluarga yang akan merawatmu mulai hari ini~"

"Tapi..bagaimana..dengan..Profesor.." ucap gadis itu, sudah mulai terbiasa berbicara.

"..." sedangkan Kabuto yang mendengar perkataan gadis android ini, hanya bisa tertegun dan kemudian mengedipkan sebelah matanya.

"Kau kan bisa mengunjungiku, kapan pun itu." jawabnya.

"Benarkah?"

"Iya,"

Mendengar jawaban profesornya ini, entah kenapa membuat sudut bibirnya tertarik.

'Ah, dia sudah bisa tersenyum rupanya~' batin Kabuto begitu melihat perkembangan yang sangat cepat dari android ciptaannya.

"Jadi gadis cantik ini yang akan menjadi anakku Profesor?" tanya seorang wanita berambut lavender, membuat Kabuto tersadar dari lamunannya itu.

"Iya, Hikari-sama. Kalau memang menurut anda gadis ini tidak begitu bagus, Saya bisa membuatkan kembali." Tawar Kabuto, dan tentu saja di jawab dengan gelengan kepala wanita cantik itu.

"Aaa~ Tentu saja tidak Profesor. Gadis ini benar-benar mirip denganku dan suamiku, kalau anda mengira kalau gadis ini tidak sebagus penelitian anda yang lainnya, Saya kurang setuju~" ujar Hyuga Hikari seraya beranjak dari sofa dan berjalan mendekati gadis android di depannya yang masih menatapnya datar.

"Selamat datang di keluarga Hyuga, karena nama ini sudah kupikirkan berkali-kali. Namamu sekarang adalah Hinata Hyuga, panggil saja aku Kaasan ya~" ucap Hikari lembut.

"Apa..itu...Kaasan?" tanya gadis yang kini bernama Hinata itu, maklum sebagai android baru ia termasuk dalam kategori pemula.

Hikari yang mendengar pernyataan polos Hinata langsung melirik ke arah Kabuto.

"Seperti yang anda ketahui Hikari-sama, kalau Hinata itu masih bisa disebut pemula karena dia baru saja diciptakan hari ini. Jadi seiring berjalannya waktu, Ia akan belajar bagaimana kehidupan yang sering dijalani oleh manusia pada umumnya. Itulah tujuanku menciptakan gadis ini." jelas laki-laki perak itu, Hikari mengangguk paham.

"Baiklah kalau begitu, sekarang akan Kaasan perkenalkan dulu dengan keluarga barumu,"

Wanita cantik itu mengajak Hinata mendekati suami dan anak-anaknya yang kini masih terduduk di sofa,

"Ini Tousanmu, Hiashi Hyuga. Suamiku inilah yang meminta Kabuto untuk menciptakanmu, Hinata-chan~"

"Tousan.." gumamnya.

"Dan pemuda berambut coklat ini Hyuga Neji, Nii-sanmu, lalu gadis kecil ini namanya Hyuga Hanabi~"

"Jadi Tousan dan Kaasan itu artinya kami berdua adalah orangtuamu, dan Nii-san artinya saudaramu, mengerti?"

Hinata akhirnya mengangguk paham, Ia menginput nama-nama orang yang akan menjadi keluarganya itu secara otomatis. "Iya," ucapnya.

"Kaasan, Aku sudah tidak sabar untuk bermain dengan Hinata Nee-chan, Ayo pulang!" seru Hanabi tidak sabar, gadis kecil itu menarik dan memeluk erat lengan Hinata. Membuat gadis android itu bingung.

"Ber..main.." ujarnya.

"Iya, nanti kita berdua bermain bersama-sama! Pasti menyenangkan!" seru Hanabi semakin bersemangat.

'Bermain..bersama-sama..menyenangkan..' Hinata kembali menginput kata-kata gadis kecil itu padanya tadi.

"Baiklah.."

"Eh! Hore! Neji Nii-san juga ikut ya!"

"Ya,"

"Yosh! Kalau begitu Kaasan, Tousan! Kami bertiga keluar dari tempat ini duluan ya!" teriak gadis kecil itu riang seraya menarik tangan kedua kakak-kakaknya.

Sedangkan Hiashi dan Hikari hanya bisa mengangguk kecil.

.

.

.

.

"Jadi semua chip yang ada di tubuh Hinata sudah terpasang rapi kan, Profesor?" tanya Hiashi, ketika melihat kalau sekarang hanya tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan itu.

Kabuto mengangguk, "Tentu saja Hiashi-sama, sisanya tinggal menyerahkan sepenuhnya kepada anda."

"..."

"Apa ada yang perlu di khawatirkan dari tubuh Hinata, Prof?" tanya Hikari.

"..." laki-laki itu berpikir sejenak, sampai akhirnya ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Yang perlu di khawatirkan hanya membuat anda berdua tetap menyimpan rahasia bahwa Hinata itu adalah sebuah android. Jangan sampai gadis itu mengeluarkan kekuatan androidnya, karena baik daya tahan tubuh, fisik, dan kekuatan Hinata benar-benar berbeda dengan manusia pada umumnya." Jelas laki-laki itu kembali.

Hiashi menghela napas panjang, "Baiklah, Akan kami usahakan memberitahu pada Hanabi dan Neji untuk merahasiakan hal ini." ucapnya.

"Bagus, karena kalau identitas Hinata terbongkar, gadis itu pasti secepatnya akan diincar oleh orang-orang jahat yang menginginkan membuat android sepertinya."

Hikari yang mendengar itu sedikit terkejut, wajah cantiknya perlahan-lahan memucat.

"A..aku tidak akan membiarkan Hinata-ku diincar oleh orang-orang seperti itu!" serunya tanpa sadar.

"Terima kasih karena anda berdua bersedia membantu penelitianku ini."

"Kamilah yang seharusnya berterima kasih pada anda Profesor, karena sudah mengabulkan permintaan kami merawat Hinata sebagai anak kami~" ujar Hiashi tersenyum kecil.

"Sama-sama, lagipula perusahaan anda sudah berjasa besar dengan seluruh kehidupan penelitianku ini. Jadi hitung-hitung membalas budi, tidak ada salahnya kan."

"Hahaha~ Ya, ya, ya,"

"Baiklah kalau begitu, pasti Hanabi, Neji, dan Hinata sudah menunggu di luar. Kami permisi dulu profesor." Ujar Hikari seraya beranjak bersama Hiashi dari sofa itu,

"Semoga anda berdua bisa merawat Hinata dengan baik, karena begitu juga gadis itu sudah kuanggap adikku sendiri sejak pertama kali ia kurancang~"

"Tentu saja Profesor, kami pastikan itu!" setelah akhirnya selesai berdiskusi dengan laki-laki perak itu, Hiashi dan Hikari segera berpamitan pulang.

'Semoga Hinata baik-baik saja di sana.'

oooooooooooooOOOOoooooooooooo

"Kyahaha! Hinata Nee-chan pintar sekali!" suara teriakan Hanabi membuat Hikari yang tadinya berjalan pelan keluar dari gedung tempat ia bertemu dengan Kabuto, mempercepat langkahnya. Ia takut, belum sempat memberitahukan untuk merahasiakan identitas Hinata pada orang lain, dan kedua anaknya sudah membongkar siapa sebenarnya gadis indigo itu!

"Hanabi!" teriaknya panik begitu keluar dari gedung itu sepenuhnya, dan melihat..

Hinata, Hanabi dan Neji yang tengah bermain lempar-lemparan bola di taman yang tidak jauh dari gedung tadi. Membuat wanita cantik itu menghela napas lega. Ternyata ia salah paham.

"Syukurlah~" gumamnya.

"Hikari lebih baik kita pulang sekarang, dan jangan memasang wajah takut seperti itu," ujar Hiashi yang kini sudah tepat berdiri di sampingnya dan menepuk lembut puncak kepala istri tercintanya itu.

"Pikiranku memang cemas sejak Profersor mengatakan hal itu," desah wanita itu pelan.

Laki-laki yang melihat gerak-gerik istrinya hanya bisa tersenyum kecil, "Jangan terlalu dipikirkan, kita berdua pasti bisa menjaga Hinata mulai hari ini." ucapnya berusaha menenangkan pikiran Hikari.

Hikari yang mendengar itu mengangguk paham, dan perlahan kembali melangkahkan kakinya menghampiri ketiga anak-anaknya.

"Neji, Hanabi, Hinata. Ayo kita pulang!"

"Oh, Iya Kaasan!" seru Hanabi seraya berlari cepat mendahului kedua kakak-kakaknya itu, sampai-sampai tangan mungil yang sejak tadi memeluk bola yang ia pakai bermain tanpa sadar terjatuh dan tergelinding ke arah jalan, membuat gadis kecil itu tersentak.

"Eh! Bolaku!" pekik Hanabi kecil,

Ia segera mempercepat langkahnya untuk mengambil bolanya yang terjatuh, tanpa melihat apakah ada kendaraan yang melintas di jalan itu.

"Ah, Akhirnya dapat juga~" serunya senang, sampai..

Tin, Tin! Suara klakson mobil memekakkan telinganya, dan langsung saja membuat Hanabi menoleh, seketika itu ia mendapati bahwa kini sebuah mobil besar tengah melaju cepat kearahnya.

"A...A...Kaasan, Tousan!" pekik Hanabi takut, air matanya sudah mengalir tanpa aba-aba lagi. Tubuhnya terasa lemas sehingga tidak dapat berlari menghindari laju kendaraan itu.

Sedangkan Hiashi, Hikari, dan Neji yang melihat kejadian itu berteriak panik. Hiashi berniat terjun menolong anak perempuannya, Hikari yang hampir pingsan melihat keadaan Hanabi, Neji yang secepat kilat ingin menolong adik kecilnya itu.

"HANABI!" Teriak kedua laki-laki itu bersamaan.

"..."

Dan kini Hinata yang melihat keadaan yang terpampang jelas di penglihatannya sekarang, membuat tangannya terkepal kencang. Mata lavendernya terbelalak, ada suatu perasaan yang tiba-tiba saja masuk kedalam jaringan-jaringan saraf komputernya, tawa kecil Hanabi yang terngiang-ngiang di pikirannya. Dan sebuah perasaan yang membuatnya takut kehilangan gadis kecil itu,

'Padahal aku baru bertemu dengannya..' batin gadis itu tanpa sadar.

'Tapi kenapa..melihat Hanabi...'

"Hanabi!"

Laju kendaraan itu melaju makin mendekati Hanabi, Hiashi dan Neji yang semakin kalut. Mereka tidak mempunyai kecepatan tinggi untuk menolong Hanabi,

"Kurasa aku mulai mengerti...rasa...menyayangi itu..seperti apa.." gumam Hinata kembali, senyum kecil terlihat di wajahnya. Dan tanpa basa-basi lagi, seluruh tubuhnya mulai menginput data-data penting yang sudah Kabuto berikan padanya, tangan kanannya mengetikan sesuatu di sebelah tangan kirinya, mengetikan suatu password yang bahkan authornya sendiri tidak tahu apa~

"Kyaa! Hanabi!" suara teriakan Hikari makin menjadi-jadi ketika mobil besar itu semakin mendekati anaknya, matanya mulai menghitam, tidak sanggup melihat keadaan sekarang..

"Aktifkan kecepatan cahaya..." Hinata mengambil aba-aba dan...

SIINGG!

BRAK!

TBC..

Yosh akhirnya Hikaru bisa juga buat fic NaruHina! Setelah di ajari oleh kakak sepupu Hikaru yang baik hati dan pandai menabung #plak# selama beberapa minggu, hehehe berhasil juga! Terima kasih buat para readers yang mau membaca fic newbie Hikaru, dan jangan lupa ya!

Meninggalkan jejak berupa RIVIEW

Sampai jumpa di part selanjutnya! :D