ANDROID
.
.
.
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rated T
Genre : Romance, Hurt and Comfort
Pairing : NaruHina
Warning : Typo, OOC, abal, gaje.
.
ENJOY~
Part 4 : Cry and Hurt?
"Eh?" terdengar jelas nada kecewa Hanabi, gadis kecil itu mengembungkan pipi untuk yang kesekian kalinya, Hinata yang melihat itu tentu saja terkikik geli.
"Maaf, nanti kalau ada waktu yang tepat, pasti Nee-chan akan mengatakannya padamu." Ujarnya, seraya mengamit tangan mungil Hanabi.
"Benar ya, Nee-chan?"
"Iya~"
Sebenarnya Neji juga ingin bertanya hal yang sama dengan adiknya, tapi begitu melihat ekspresi Hinata yang terkejut ketika mendengar pertanyaan gadis kecil itu. Ia langsung mengurungkan niatnya, dan memilih untuk membiarkan Hinata sampai gadis indigo itu mau menceritakan sendiri padanya.
"Hinata,"
"Ya, Neji Nii-san?"
"Kau tahukan sekolahmu akan dimulai besok?" tanya pemuda itu, Hinata mengangguk.
"Tousan sudah mengatakannya tadi padaku, jadi otakku sudah men-save semuanya." Jelas gadis itu singkat.
"Save?" Neji merasa sedikit aneh dengan perkataan adiknya tadi.
"Niisan lupa kalau aku seorang android?" tanya Hinata balik. Dan Neji yang mendengar perkataan Hinata lagi-lagi merutuki kebiasaan pelupanya ini.
"Hahaha! Niisan pelupa sekali?!" seru Hanabi, gadis kecil itu tertawa lebar.
"Ya, Niisan tahu~" pemuda coklat itu meringis tipis.
Senyum Hinata tak berhenti menghiasi wajah cantiknya, entah kenapa ia merasa senang ketika melihat kedua keluarga barunya tertawa bersama-sama seperti ini. Mata lavender gadis itu yang tadinya melihat tingkah Hanabi dan Neji tiba-tiba teralihkan pada satu titik,
"Itu kan.." Hinata tersentak kaget melihat ketiga orang yang tadi sempat ia tolong berjalan ke arahnya, gadis itu berusaha keras mengatur agar wajahnya tidak terlihat kaget. Perlahan langkah kaki ketiga orang itu berjalan semakin mendekatinya,
"..."
Dan ketika mereka semua hampir melewati Hinata, samar-samar dapat ia dengar..
"Aku akan mencari gadis itu." ucap pemuda berambut raven dengan nada dinginnya. Membuat Hinata sontak menatap ketiga orang yang hampir berjalan melewatinya itu, sebelum..
Lavender bertemu Saphire.
Tatapannya tak sengaja saling bertubrukan dengan pemuda berambut pirang yang ia ketahui bernama Naruto. Pemuda pirang itu menatapnya sekilas, tersenyum kecil, dan akhirnya berjalan melewatinya.
"Hei, kenapa kau tersenyum-senyum seperti itu?" tanya seorang gadis berambut merah muda pada sahabatnya itu.
"Tidak apa-apa kok, Sakura-chan~"
...
Dan Hinata kini, roda aki di dadanya tiba-tiba berjalan sangat cepat. Membuat wajahnya yang tadi sedingin es, perlahan-lahan menjadi hangat.
'Kenapa denganku?' batinnya bingung, Ia memegang pelan pipinya yang terasa hangat. Pikirannya tak berhenti mengingat senyuman pemuda pirang tadi. Ia benar-benar tidak mengerti..
'Apa ada bagian diriku yang rusak?' pikirnya kembali.
...
Sebuah tangan kecil menarik-narik baju miliknya, "Nee-chan kenapa melamun seperti itu?" tanya Hanabi, Ia menatap Hinata dengan pandangan bingung.
"Ti..tidak apa-apa kok," kilahnya, gadis indigo itu memilih menepis semua prasangkanya tadi dan berjalan kembali mengkuti langkah Neji. Masa dia baru saja di buat hari ini, sudah ada bagian yang rusak? Tidak mungkin kan?
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Hinata, Neji serta Hanabi kini sudah hampir sampai ke rumah mereka. Hanabi yang merasa perutnya lapar langsung berlari kecil.
"Hanabi lapar sekali!" serunya tak sabar.
Hyuungg~
'Lapar ya..' gadis indigo itu tiba-tiba merasa tubuhnya terhuyung-huyung. Seluruh badannya perlahan-lahan lemas dan hampir tidak bisa bergerak, langkah kakinya pun terasa kaku. Neji yang melihat itu segera mendekati adiknya,
"Kau kenapa Hinata?" tanyanya khawatir, jangan sampai gadis indigo ini kenapa-napa.
Hinata menggeleng pelan, "Sepertinya hari ini aku terlalu memakai banyak kekuatan, jadi.."
"Daya tahan tubuhku mulai melemah, Aku harus mengisi ulang tenaga kembali.." lanjutnya, tangannya memegang kakinya yang hampir kaku.
Neji segera memapah Hinata, membantu langkah gadis itu.
"Ayo biar Niisan bantu, Kita hampir sampai." Ujarnya.
Hinata tersenyum kecil, "Terima kasih Neji Niisan~"
/oooooooooooooo\
Setelah akhirnya sampai, tentu saja ketika Hikari membuka pintu dan melihat Neji yang memapah Hinata merasa sangat khawatir.
"Hinata-chan, Kau kenapa?!" pekiknya takut, menghampiri anak gadisnya itu dan memeluknya pelan.
"Neji apa yang terjadi pada Hinata?" tanya Hiashi cepat.
"Dia hanya kehabisan tenaga dan harus mengisi ulang tenaganya." Jelas Neji, Hinata yang melihat raut kekhawatiran di wajah Kaasan dan Tousannya entah kenapa merasa tak enak.
"Tenang..saja..Kaasan, Tousan..aku baik..baik saja.." ujarnya terputus-putus.
"Kaasan tidak ingin terjadi apa-apa denganmu, Hinata.."
Hiashi segera membantu Neji memapah Hinata, dan membawa gadis itu ke ruang tamu.
...
"Neji, kau tolong ambilkan kabel untuk Hinata," pinta Hikari, Neji mengangguk dan segera meninggalkan tempat itu.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Hinata?" tanya Hikari pelan.
"Tolong..Kaasan..lihat..leher bagian belakangku.."
Wanita itu mengikuti intruksi dari Hinata, ia segera menyingkirkan lembut rambut panjang gadis itu perlahan, dan sedikit kaget ketika melihat..
"I..ini.."
"Pasangkan..saja...kabel.. listrik itu di leherku." Ucapnya.
Lagi-lagi Hikari mengangguk paham, "Neji sudah kau temukan kabelnya?!" seru wanita cantik itu, dan tak lama kemudian Neji muncul dengan membawa sebuah kabel colokan berukuran kecil.
"Ini Kaasan." Ujarnya segera memberikan pada Kaasannya.
"Benar tidak apa-apa Hinata?" Hikari masih tidak yakin dengan perkataan gadis itu.
"Iya..Kaasan, sementara aku mengisi tenaga, aku akan memasuki sleep mode.." jelasnya lagi, Kali ini dengan takut-takut wanita itu mendekatkan kabel listrik di tangannya dan pelan-pelan ia memasukkan kabel kecil itu tepat di belakang leher Hinata.
"Sudah."
"Terima Kasih..Kaa..san.." suara Hinata perlahan-lahan menghilang, mata lavendernya yang tertutup dan pada akhirnya ia tertidur.
"..." tidak ada lagi perkataan keluar dari bibir gadis ini.
Hanabi yang berlari kecil menuju ruang tamu, terpekik kecil ketika melihat kakaknya itu tengah terduduk di sofa dengan mata terpejam. Ia jadi takut..
"Hinata Nee-chan kenapa?!" serunya seraya berlari menghampiri kakaknya.
Hikari menghela napas pelan dan menenangkan anak perempuannya, "Hinata Nee-chan hanya sedang isthirahat saja Hanabi~" jelasnya.
"Benar, Kaasan, Nee-chan tidak kenapa-napa kan?" tanyanya lagi, raut khawatir masih terlihat di wajahnya.
"Iya, kalau begitu sambil menunggu tenaga Hinata kembali, lebih baik kita makan malam dulu," ujarnya.
"Ta..tapi Nee-chan.." gadis kecil itu seakan tidak ingin meninggalkan Hinata.
"Nanti kalau Nee-chan melihat Hanabi sakit pasti dia sedih~" bujuk Tousannya.
"Ayo Hanabi, nanti kalau sudah selesai makan malam. Kau boleh kembali lagi kesini." Ucap Neji, tangan kanannya mengamit lembut lengan adiknya itu yang sepertinya hanya bisa mengangguk paham.
"Baiklah.." jawabnya dan segera pergi dari ruang tamu, meninggalkan Hinata disana.
.
.
.
.
Suasana makan malam berlangsung seperti biasanya,
"Tousan," ujar Neji tiba-tiba.
Hiashi mengadahkan wajahnya menatap putra sulungnya itu, "Ada apa?"
"Mengenai Hinata.."
"Memangnya ada apa dengan adikmu itu?" Hiikari ikut masuk ke dalam pembicaraan.
Neji mendesah sejenak, "Saat pertama kali aku melihat Hinata.." ucapnya, pemuda itu merenung dan menghentikan kata-katanya, membuat semua yang ada disana mengernyit bingung.
"Kenapa dengannya?"
"Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat, tapi aku lupa dimana.." lanjutnya, semuanya makin bingung.
"Apa maksudmu pernah melihatnya, bukannya Hinata itu karya Android yang baru saja dibuat oleh Professor Kabuto." Hiashi tidak lagi melanjutkan acara makan-makannya, sekarang perhatiannya tertuju jelas pada Neji.
"Aku juga kurang yakin, tapi.." kata-kata pemuda coklat itu terpotong oleh Kaasannya.
"Mungkin hanya perasaanmu saja Neji, Kaasan yakin Hinata itu baru saja diciptakan oleh Professor." Ucapnya.
"..." Neji terdiam lama, sampai akhirnya ia mengangguk setuju.
"Kaasan benar, mungkin hanya perasaanku saja~"
Hanabi yang mendengarkan permbicaraan ketiga keluarganya merasa bingung, Ia tentu saja tidak paham dengan topik yang semuanya katakan, tapi hanya satu yang ia tangkap.
Mereka tengah membicarakan Nee-channya..
'Kaasan, Tousan, dan Niisan sedang membicarakan apa tentang Hinata Nee-chan?' batinnya kecil.
/oooooooooooooo\
Hanabi tidak ingin berlama-lama lagi berada di ruang makan, ia merasa bosan berada di tempat itu. Kedua orang tuanya serta Niisan tengah membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan Hinata dan ia masih terlalu kecil untuk memahami perkataan mereka.
Jadi daripada bosan lebih baik ia pergi melihat Nee-channya di ruang tamu, sudah hampir dua puluh menit ia meninggalkan kakaknya itu pasti Hinata sudah bangun lagi.
...
Dan ternyata benar, senyum merekah di wajah Hanabi. Gadis kecil itu segera menghampiri Hinata yang masih duduk manis di sofa, matanya berkedip-kedip sekilas, tenaganya perlahan-lahan mulai pulih kembali. Walau belum sepenuhnya.
"Hinata Nee-chan!" seru Hanabi dan segera menghambur ke pelukan Hinata,
"Ha..Hanabi!" Hinata ikut-ikutan kaget,
"Kukira tadi Nee-chan kenapa-napa sampai di tusuk pakai kabel itu segala." Ujar gadis itu.
Hinata terkikik geli, di tusuk..hahaha adik kecilnya ini benar-benar lucu.
"Nee-chan hanya sedang mengisi tenaga saja kok~" jelasnya.
"Sakit tidak Nee-chan?" Hanabi menatap wajahnya dengan tatapan penuh tanya.
Gadis indigo itu menggeleng pelan, "Tidak kok, malah Nee-chan jadi lebih bersemangat sekarang!" jawabnya sambil tersenyum senang.
Hanabi ber-oh ria, kepala gadis itu mengangguk paham.
"Kukira sakit, soalnya ditusuk seperti itu.."
Mendengar kata sakit dari adiknya, entah kenapa Hinata mengingat perkataan salah satu berandal padanya tadi. Dan tanpa sadar..
"Hanabi,"
"Ya?"
"Monster itu menurutmu seperti apa?" tanya gadis itu, membuat Hanabi tersentak kaget.
"Monster?"
"Iya, bagaimana pandanganmu terhadap monster." Wajah Hinata tertunduk kecil.
Hanabi memikirkan kata-kata kakaknya itu, "Tentu saja monster itu menakutkan Nee-chan, apa lagi wajahnya Hanabi tidak suka! Apalagi pasti sudah pasti monster itu jahat!" pekiknya takut.
"Begitu.."
"Kenapa Nee-chan tiba-tiba berkata seperti itu?" lanjutnya.
Hinata menggeleng lagi, "Tidak apa-apa, hanya bertanya saja~" kilahnya.
"Oke, ngomong-ngomong Nee-chan.."
"Ya?" kali ini giliran Hanabi yang bertanya.
"Besok aku dengar Nee-chan akan mulai masuk sekolah ya?" tanya gadis kecil itu.
"Iya,"
"Wah enak dong, Hanabi juga ingin bersekolah di tempat yang sama dengan Nee-chan dan Niisan~" pintanya.
"Hanabi juga bisa kok seperti Nee-chan nanti."
"Iya sih, tapi kan lama~" gerutuan kecil terdengar dari bibir mungilnya. Dan lagi-lagi Hinata hanya bisa terkikik geli.
.
.
.
.
Malamnya, setelah Hinata akhirnya selesai mengisi kembali tenaganya. Tangan gadis itu langsung saja di tarik oleh Kaasannya dan menyuruhnya untuk masuk ke kamar wanita itu.
"Ayo, Kaasan ingin melihatmu memakai seragam sekolah untuk besok!" ujarnya tak sabar. Sementara Hinata hanya bisa pasrah saja mengikuti langkah Kaasannya.
...
Dan begitu memasuki kamar milik Tousan dan Kaasannya, dengan cepat Hikari menyambar seragam sekolah Hinata. Sebuah seragam dalam dipadukan dengan blazer berwarna putih, tak lupa dasi berwarna kotak-kotak merah di yang terpasang rapi di leher Hinata, serta rok berwarna setara dengan dasinya menambah aksen kecantikan gadis indigo ini. Hikari terpekik senang melihat penampilan anak perempuannya itu.
"Kyaa! Hinata kau cantik sekali!" pekik wanita itu senang. Sedangkan Hinata yang mendengar pujian dari Kaasannya itu hanya bisa menunduk kecil, ia tidak tahu, entah kenapa wajahnya terasa panas kembali persis seperti apa yang dialaminya tadi ketika berpapasan dengan pemuda pirang bernama Naruto itu.
Ia masih tidak mengerti..
"Terima Kasih Kaasan.." ujarnya.
"Kaasan jadi semakin bersemangat membelikan baju-baju untukmu nanti!"
"Baju?"
"Iya, pakaian yang Kaasan belikan dulu masih kurang, dan nanti kita bisa membelinya sama-sama!" seru wanita itu lagi.
Senang melihat wajah tersenyum Kaasannya itu, Hinata mengangguk kecil, "I..iya.."
"Kalau begitu ayo kita perlihat pada Neji, Hanabi dan Tousanmu~" tangan Hikari menarik tangan Hinata untuk yang kesekian kalinya, pergi meninggalkan kamar itu.
...
Dan seperti yang Kaasannya itu duga, begitu ketiga orang itu melihat Hinata turun dari kamar Hikari, semuanya terpaku memandang penampilan gadis itu. Membuat wajah Hinata semakin panas, Hiashi tersenyum kecil, Neji yang mengacak-acak pelan rambut indigo Hinata dan Hanabi yang berteriak persis seperti Kaasannya tadi.
"Kalau begitu besok kau sudah mulai bersekolah Hinata,"
"Ingat Neji, kau harus menjaga adikmu ini. Jangan sampai kenapa-napa." Jelas Hikari.
"Tentu saja Kaasan, tanpa disuruh pun aku akan menjaga adikku ini." ujar Neji, dan kembali mengacak-acak rambut Hinata.
Gadis indigo itu tersenyum senang, 'Benar-benar menyenangkan tinggal disini, Professor~' batinnya.
.
.
.
.
Skip Time
Tak terasa malam berlalu cepat, waktu kini telah menunjukkan pukul tujuh pagi, Hinata berdiri pada kaca di depannya. Matanya menatap pantulan dirinya di benda itu,
"Aku..benar-benar pergi ke sekolah..hari ini." ujarnya tak percaya, semalam Kaasan dan Tousannya sudah berpesan agar tidak membuang-buang tenaganya lagi. Agar tidak membuatnya kehabisan tenaga seperti kemarin, kalau ada yang tahu hal itu bisa-bisa terjadi sesuatu terhadapnya.
Dan malam itu Hinata saking tak sabarnya, Ia lupa mengaktifkan sleep modenya dan alhasil sampai pagi ini ia hanya bisa diam berbaring di tempat tidurnya (walaupun ia sebenarnya tidak memerlukan benda itu) seraya menatap langit-langit kamarnya.
...
Samar-samar gadis itu dapat mendengar suara langkah kaki menghampiri kamarnya, dan ternyata..
"Hinata, ayo Neji sudah menunggumu di depan~" Hikari berdiri di ambang pintu dengan wajah tersenyumnya,
"Iya, Kaasan." Hinata segera mengambil tas yang kedua orang tuanya itu berikan. Dan berjalan mendekati Kaasanya, mengecup pipi wanita itu sekilas. Karena menurutnya memang hal itu yang seharusnya dilakukan terhadap orang tuanya kan?
"Hati-hati di jalan, dan ingat apa yang Tousan, Kaasan katakan padamu kemarin."
Hinata mengangguk paham, "Aku tidak akan lupa Kaasan, semuanya sudah ku-save di memoriku."
"Baguslah, ayo~"
"Ya."
/ooooooooooooooo\
Dan begitu ia turun dari lantai atas, Neji tengah duduk di ruang tamu bersama Tousannya seraya menyesap tehnya.
"Selamat pagi Hinata." ujarnya ketika melihat adiknya itu akhirnya turun.
"Maaf membuatmu menunggu Niisan."
"Aa~ tidak apa-apa, kau sudah siap?" tanya pemuda coklat itu, mencoba membetulkan pakaiannya kembali dan meletakkan secangkir tehnya tadi.
"Ya!"
"Kalau begitu kita berangkat sekarang."
"Kaasan, Tousan, kami berangkat dulu." lanjutnya.
"Ya, Hati-hati, ingat pesan Kaasan, dan Tousanmu!" seru Hikari ketika melihat kedua anaknya itu perlahan berjalan menjauh meninggalkan ruang tamu.
"Oke."
ANDROID~
Dan disinilah Hinata sekarang, berdiri di sebuah gedung yang terlihat sangat besar baginya. Setelah membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke tempat ini. mata lavendernya terbelalak kaget. Tatapan kagum ia perlihatkan begitu melihat gedung megah di depannya ini. Neji yang melihat itu tentu saja tertawa melihat sikap Hinata.
"Kau suka dengan sekolah ini?" tanyanya.
Tentu saja Hinata mengangguk keras, "Aku suka sekali!" jawabnya antusias.
"Kelas akan dimulai satu jam lagi, Niisan ingin mengurus kelasmu dulu. Kau ingin ikut apa tidak?" tanya pemuda coklat itu kembali, mereka memang sengaja datang ke sekolah lebih pagi, karena memang Hinata yang menginginkan hal itu~
"Tidak apa-apa Niisan?"
"Kalau kau ingin berkeliling sekolah ini sebentar tidak apa-apa,"
Hinata masih merasa tidak enak, "Tapi bagaimana dengan Niiisan?"
"Jangan mengkhawatirkanku, nanti kalau urusan Niiisan sudah selesai, Niisan akan mencarimu disini, Oke?"
Senyum di wajah Hinata terlihat lagi, gadis itu mengangguk kecil dan segera berpamitan untuk melihat-lihat. "Kalau begitu aku mau melihat-lihat tempat ini dulu Niisan!" serunya senang.
"Baiklah, nanti pukul setengah delapan Niisan akan kesini lagi,"
"Iya~"
...
Mata lavender Hinata tak henti-hentinya berbinar-binar, melihat pemandangan sekolahnya mulai hari ini. langkah kakinya berjalan menuju sebuah padang rumput yang terlihat luas di belakang gedung sekolah itu, angin bersepoi-sepoi menggerakkan rambut panjangnya ke kanan ke kiri,
"Indah sekali~" ujarnya kagum. Tak ia sangka akan bersekolah di tempat semenarik ini.
Perlahan matanya terpejam, meski ia tak dapat merasakan angin dengan kulitnya tapi tidak apa baginya, ya tidak apa-apa..
Pikiran gadis itu mulai melayang-layang, sampai ketika..
"Naruto-kun tolong terima ini!" sebuah suara teriakan kecil terdengar jelas di telinga Hinata yang tergolong peka itu. gadis itu langsung mengenyahkan pikirannya tadi, dan memilih untuk mengikuti arah suara tadi. kenapa pagi-pagi seperti ini sudah ada seseorang selain dirinya dan Niisannya.
"..."
'Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya?' batinnya.
Dengan hati-hati ia langkahkan kembali kakinya, mendekati suara yang ternyata tidak jauh dari tempatnya berada tadi, beruntung sebuah pohon besar mampu menghalangi dirinya. Hinata segera bersembunyi di balik pohon itu dan kini ia dapat melihat jelas..
'Itu kan..'
Seorang gadis tengah memberikan sesuatu pada seseorang pemuda yang ia kenal siapa itu,
"Pemuda pirang yang kutemui kemarin?"
...
"To..tolong terima ini!" seru gadis itu lagi.
Sedangkan pemuda bernama Naruto itu menghela napas pelan, ia memandang gadis di depannya itu dengan perasaan bersalah, sebenarnya ia bosan dengan keadaanya sekarang ini karena setiap hari pasti ada saja beberapa gadis yang datang padanya dan menyatakan cinta. Bahkan idenya untuk datang pagi-pagi langsung hancur, dan tidak berguna.
"Maaf," hanya itu yang dapat ia ucapkan.
Gadis itu mengadahkan kembali wajahnya, air mata di pelupuknya mulai tergenang. Ah~ hal yang membuat Naruto makin merasa bersalah.
"Ta..tapi setidaknya kita bisa berkenalan dulu kan.." ujar gadis itu.
Lagi-lagi Naruto mendesah panjang, "Kau tahu kan kalau aku tidak berniat untuk mempermainkanmu, jadi dari pada memberikan harapan palsu. Lebih baik menyerah saja." Jelasnya.
Seakan tidak mau menyerah, "Setidaknya berikan aku kesempatan!"
"Maaf." Sebuah kalimat ending yang langsung membuat tangisan gadis itu menjadi-jadi, gadis itu segera melempar tas kecil yang niat ia berikan pada Naruto tepat pada pemuda itu.
"Kau tahu betapa sakitnya hatiku! Kau jahat Naruto-kun!" teriak gadis itu, sampai akhirnya berlari meninggalkan Naruto sendiri.
"Hah~ lagi-lagi.."
...
Mendengar kata-kata terakhir gadis itu, membuat Hinata kembali mengingat kejadian kemarin. Ia perlahan berjalan meninggalkan tempatnya dan memilih untuk kembali ke padang rumput tadi, gadis itu mendesah pelan.
/oooooooooooooo\
"Sakit..ya.." gumamnya kecil. Mata lavendernya melihat pemandangan di depannya kini. Pikirannya melayang kembali ketika mengingat perkataan berandalan kemarin serta perkataan adiknya.
"Hii..Hiii! Di..dia tidak normal, Monster! Semua bubar!"
"Monster itu menurutmu seperti apa?"
"Monster?"
"Iya, bagaimana pandanganmu terhadap monster."
"Tentu saja monster itu menakutkan Nee-chan, apa lagi wajahnya Hanabi tidak suka! Apalagi pasti sudah pasti monster itu jahat!"
"Monster..ya.."
Mata gadis itu langsung tertuju pada tangannya, Ia mencoba mencubit pelan lengan kanannya, dan...
"Tidak..sakit.." pandangan sendu terlihat jelas di wajah Hinata kini, matanya yang tadi berbinar-binar sekarang meredup. Sedih..itu yang ia rasakan. Pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini, dan entah kenapa ia benci dengan perasaannya ini.
"Jangankan merasa sakit...mengeluarkan air mata pun..aku tidak bisa.." gumamnya lagi.
"Ternyata tidak semuanya terasa menyenangkan.."
Pikiran gadis itu masih melayang-layang, sampai-sampai gadis itu tidak menyadari bahwa kini seseorang tengah berdiri di belakangnya, dan perlahan menghampiri dirinya.
"..."
"Kau tidak apa-apa?"
Suara dari arah belakangnya itu sontak membuat Hinata terkejut, Ia lengah. Gadis itu segera membalikkan badannya melihat siapa yang memanggilnya tadi..
Dan ternyata..
Manik Saphire itu kini menatapnya dengan raut cemas, bagaikan tersambar petir. Pemuda yang tadi sempat ia lihat, kini sudah berada tepat di belakangnya. Kenapa dia tidak sadar.
"Ka..kau kan.." ujarnya setengah gugup, masih tidak bisa mengontrol kekagetannya.
Manik Saphire itu masih menatapnya lekat, dan tanpa basa-basi lagi..
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya pemuda berambut pirang itu tiba-tiba.
Membuat Hinata makin kaget, dan tak tahu harus menjawab apa..
"Eh?"
TBC~
Bagaimana para readers, wordnya sudah Hikaru banyakin lho, hehe. Memang chap kemarin sedikit banget, jadi untuk chap ini semoga bisa lebih baik. Hikaru makin semangat buat ficnya begitu melihat riview yang penasaran dengan jalan cerita selanjutnya hehe :D
Big Thanks To :
fazrulz21, hikari mafuyu, aftu-kun, uzumakimahendra4, baladewa loveless, kensuchan, Shei-chan, Black market, Rin Keitami, The Nirvash Destruction, Lavenderamesthy, Trio Riuricky, Mushi Kara-chan, imink-chan, AN Narra, fazrulz21, Nervous, naruhina naruhina 35, Haru Akina, Amanda WaCha-chan, Dody Hyuuga Uzumaki, alvaro d diarra, hikolu, Atsuma Hibiki, namikaze immah-chan sapphire, Mangekyooo JumawanBluez, dan para Silent Readers :D
Sesi tanya jawab yukk! :
Sasuke dan Sakura pacaran : Ehmm, mungkin belum, #maksudnya?# hehe untuk sekarang Hikaru buatnya mereka sahabatan dulu, kalau nanti..ehhmm ditunggu aja yaa! :D
Mengenai pertanyaan Hikolu-san : Errr.. Hikaru belum mikir sampai sejauh itu sih, hehe liat aja deh nantinya #plak# :3 :D
Terima kasih banget buat para riviewer yang Hikaru sayangi #plak# :p, dan tak lupa buat para silent readers :3 :D
Makasih banyak atas riviewnya, Hikaru jadi semakin semangat ngelanjutin cerita ini! :D
.
.
.
Jangan lupa ya meninggalkan jejak berupa RIVIEW ya
Sampai jumpa di part selanjutnya! :D
