Disclaimer Standard Applied
Summer Vacation (c) rain
Genre: Horror, Mystery, Gore, Romance, Friendship
Warning: blood scene, gore explicit, death chara, NaruSaku, DLDR!
Chapter 3: Wanita misterius.
Sakura hanya berdiri diam menatap cermin itu. Ia tidak salah lihat, di dalam cermin itu berdiri seorang gadis tepat di belakangnya. Gadis itu menatapnya.
"Kau siapa?" tanya Sakura pada gadis yang ada di dalam cermin itu.
"Tolong aku..." rintih gadis itu.
"Menolongmu? Kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Sakura. Ia penasaran pada sosok gadis itu. Ada apa gerangan hingga sosok itu meminta pertolongannya. Tapi gadis itu hanya diam.
"Hei?" Sakura mengibaskan tangannya di depan cermin itu.
"Sedang apa kau Sakura?" tanya seseorang yang telah berada di belakang Sakura. Orang itu sedikit mengagetkan dirinya, dengan segera ia langsung menoleh ke belakang.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bicara sendiri di depan cermin?" tanya Naruto, orang yang memergoki Sakura yang tengah berbicara pada sosok di cermin.
"Naruto...aku..." kata Sakura terbata-bata. Kepalanya tiba-tiba pusing, tubuhnya linglung.
"Apa yang terjadi?" tanya Naruto yang melihat keadaan buruk Sakura.
Gadis itu akhirnya kehilangan keseimbangannya. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan roboh hingga mendorong Naruto. Keduanya langsung jatuh tersungkur dengan posisi Sakura berada di atas menimpa Naruto.
"Hei Sakura? Kau kenapa?" tanya Naruto panik sambil menepuk pelan pipi Sakura. Bagaimana tidak, gadis itu tiba-tiba saja pingsan dan jatuh menimpa dirinya.
.
Matahari baru saja terbenam, langit sore telah berganti menjadi kelam. Hitam pekat, bahkan bintang tak satupun menghiasi langit kala itu. Wanita itu berdiam diri di tepi sungai, menatap pantulan bayangannya di atas air. Ia mengusap pipinya sendiri. Dengan wajah sedih ia menutup matanya, ia tidak terima akan hal ini.
Wanita itu berwajah cantik. Kulitnya putih dan mulus. Kedua bola matanya bewarna ungu, sangat indah bila terkena pantulan cahaya bulan. Rambutnya panjang berkibar-kibar tatkala angin berhembus lembut. Siapapun pria yang melihatnya pasti langsung jatuh hati. Itulah yang diinginkan wanita itu. Membuat siapapun jatuh cinta dan menyembah kecantikannya.
Kini, di dalam pantulan bayangannya sendiri, ia tak lagi melihat pesona itu. Wajahnya yang dulu dipuja kini hanyalah berupa kerutan saja. Rambut yang selalu dibanggakannya kini telah dipenuhi uban bewarna putih. Usianya memang sudah tidak muda lagi. Wanita itu menginginkan wajah cantiknya kembali, ia ingin dipuja kembali.
Bulan telah datang menyinari langit malam. Desa itu, seperti biasa sangat damai dan tentram. Wanita itu berjalan sendirian. Semua penduduk di desa itu telah tertidur, mengingat ini sudah lewat tengah malam. Sepi dan dingin, wanita itu berjalan melewati rumah-rumah penduduk. Hanya satu rumah yang menjadi tujuannya malam itu.
Rumah yang sederhana itu hanya ditempati oleh sepasang suami istri. Mereka tertidur dengan nyenyaknya. Sang pria itu sangat kelelahan karena seharian bekerja di sawah. Api masih menyala mengepulkan asap yang keluar dari cerobong asap. Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Wanita itu berdiri di sebelah tempat tidur, menatap pria yang tengah tertidur nyenyak itu. Sebuah pisau dapur berada di dalam genggamannya. Merasa ada seseorang di dekatnya, pria itu akhirnya terbangun. Ia kaget tentu saja, saat mendapati seorang wanita berdiri di tengah rumahnya dan menatap dirinya yang sedang tertidur.
"Kau?" tanya pria itu, ia mengenali wanita yang terus saja menatapnya.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanya pria itu lagi.
"Dulu kau sangat memujaku bukan? Dulu kau selalu mengemis padaku, memintaku untuk menjadi istrimu. Wajahku memang cantik. Memang banyak sekali pria yang ingin menjadikanku istri. Tapi aku menolakmu. Dan sekarang, apa aku masih menarik bagimu?" tanya wanita itu yang sukses membuat pria itu terheran-heran.
"Aku sekarang sudah memiliki istri." Kata pria itu pelan, tak ingin membangunkan wanita yang tengah tertidur di sampingnya.
"Aku tanya, apa aku masih menarik bagimu?" tanya wanita itu datar.
"Dengan wajahmu yang seperti itu?"
Wanita itu langsung menghantam kepala pria itu hingga pingsan. Sang istri dari pria itupun terbangun. Tak ingin wanita itu menjerit akhirnya sebuah tusukan menancap di dadanya dengan kejam pisau dapur itu membelah dan mengoyal dada sang istri. Dengan darah segar yang bercucuran bisa dipastikan wanita itu tewas seketika.
Kemudian wanita itu menyeret pria yang sedang pingsan itu.
"Yah...sekarang aku sudah tidak lagi menarik bagi pria manapun." ucap wanita itu sambil menyeret tubuh pria yang akan dikorbankannya.
Sesampainya di sebuah bangunan tua. Wanita itu masuk ke dalam masih dengan menyeret tubuh pria malang tersebut. Di tengah-tengah ruangan yang gelap itu terdapat sebuah bathup. Di dalamnya terdapat cairan bewarna merah kental dan pekat. Darah.
Pria yang masih pingsan itu di baringkannya di dekat bathup itu. Dengan sebilah pisau dapur yang selalu dibawanya kemana-mana, wanita itu mulai menggorok leher pria itu. Darah segar segera mengalir dari lehernya, dengan segera wanita itu menampungnya di dalam bathup tersebut.
Wanita itu memotong kepala pria malang itu hingga putus. Darah segar masih mengucur deras. Wanita itu tersenyum tanpa dosa.
Baskom besar itu masih setengah penuh. Masih belum cukup, pikir wanita itu. Ia masih membutuhkan setengah dari isi bathup itu.
Sekarang, tubuh pria itu tak lagi bernyawa. Kepalanya masih berada di dalam genggaman sang wanita. Dengan kasar ia melemparkan kepala itu ke sembarangan arah. Ia tak lagi memerlukan tubuh itu.
Dan sekarang apa yang harus ia lakukan. Tak mungkin tubuh itu dibiarkan begitu saja. Dengan sebilah pisau dapur yang sangat tajam, wanita itu mulai mengoyak tubuh pria itu. Ia menikam bagian dadanya, dan kemudian merobeknya hingga kebagian perut. Mungkin jantung pria itu akan berguna. Tangan wanita itu mulai mengubek-ubek tubuh yang telah terbelah itu, mencari sebuah benda bernama jantung. Benda itu tak lagi berdenyut.
Setelah menemukan apa yang ia inginkan, wanita itu kemudian memotong bagian pinggang pria itu, hingga tubuh itupun menjadi dua bagian. Lengan dan kakipun ia potong menjadi beberapa bagian. Dengan cara ini, ia bisa menyembunyikan kejahatan yang telah dilakukannya. Kemudian tubuh yang telah terpotong-potong itu akan disebarkannya ke beberapa tempat.
Sudah hampir subuh, pekerjaannya telah selesai. Ia tersenyum tanpa dosa lagi. Besok ia berencana akan melakukan pembunuhan lagi. Tapi kali ini siapa korbannya? Ia masih membutuhkan lebih banyak darah lagi. Ah, bukankah ada 6 orang remaja yang sedang berlibur di desa ini? darah segar mereka akan sangat dibutuhkan.
.
Iris zambrud itu akhirnya terbuka. Pemandangan langit-langit kamar itu masih buram. Gadis itu masih merasa pusing. Ia terbangun, dan mendapati teman-temannya yang mengelilingi dirinya.
"Oh Sakura. Syukurlah kau sudah bangun.." ucap Ino penuh syukur. Ia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sakura bingung. Ia tak ingat kenapa bisa berada di kamarnya, dan semua teman-temannya menatapnya dengan pandangan penuh khawatir.
"Kami berjaga semalaman disini." jawab Shikamaru.
"Kau tidak ingat? Kau pingsan semalam. Membuat kami khawatir saja." kata Kiba.
"Apa yang terjadi padamu Sakura? Aku melihatmu sedang berbicara sendirian di depan cermin." kata Naruto.
Akhirnya Sakura ingat, ia tidak berbicara sendirian. Ia melihat sesosok gadis di dalam cermin itu. Mungkin sosok yang sama dengan yang dilihat Chouji waktu itu.
"Aku mendengar seseorang minta tolong." ucap Sakura akhirnya.
"Minta tolong? Siapa?" tanya Ino. Entah kenapa hal itu membuat bulu kuduknya merinding.
"Entahlah. Suara itu seperti suara seorang perempuan. Jadi aku mencari sumber suara itu." kata Sakura.
"Lalu?" tanya Kiba penasaran.
"Chouji." kata Sakura menoleh pada Chouji, pemuda tambun itu kaget saat Sakura memandangnya dengan pandangan serius. "Mungkin yang kau lihat itu memang benar-benar hantu." katanya lagi.
"Be-benarkah? Su-sudah kub-bilangkan ka-kalau aku melihat han-hantu." kata Chouji terbata-bata. Ia menjadi sangat ketakutan membayangkan sosok gadis yang berada di dalam cermin.
"Aku melihatnya di cermin itu. Dialah yang meminta tolong itu." kata Sakura. Semuanya terdiam. Percaya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Sakura.
"Aku jadi penasaran siapa hantu gadis itu. Apa tidak ada informasi mengenai pemilik villa ini sebelumnya?" tanya Sakura pada Naruto. Pemuda itu hanya menggelengkan kepala. Ia sama sekali tidak mempunyai informasi yang seperti itu.
"Aku akan bertanya pada ayahku. Mungkin ayahku tahu sesuatu." kata Naruto. Dengan anggukan dari teman-temannya, Naruto melangkah keluar untuk menelepon ayahnya. Beberapa saat kemudian, ia kembali ke dalam, "Percuma, tidak diangkat." katanya
Semuanya berpikir keras. Saat ini mereka membutuhkan informasi mengenai siapa pemilik villa ini sebelumnya yang mungkin ada hubungannya dengan hantu wanita yang ditemui Sakura.
"Apa di sini ada perpustakaan?" tanya Ino tiba-tiba memecah keheningan. "Bisa saja di sana ada catatan-catatan penting." Lanjutnya lagi.
"Wah, kau pintar Ino." puji Kiba yang langsung di sambut tatapan membunuh oleh Ino.
Dan keenam remaja itu kemudian buru-buru keluar dari kamar Sakura. Menemukan perpustaan itulah tujuan mereka. Satu persatu ruangan yang ada di villa megah itu mereka periksa.
Ruangan itu berukuran lebih besar dari kamar tidur biasa. Terdapat banyak rak buku yang berjejeran rapi. Tempat itu bersih, sepertinya pernah dikunjungi dan dibersihkan. Sakura melihat kesekeliling sesaat setelah dia berhasil membuka kenop pintu ruangan itu.
"Hei, aku menemukan ruangan itu." teriak Sakura memanggil teman-temannya. Setelah mereka berpencar, Sakuralah yang menemukannya terlebih dahulu setelah dua jam lebih mengelilingi semua bagian dari villa ini. Padahal kalau mereka menanyai Shion, mungkin ruangan itu bisa ditemukan lebih cepat.
Kemudian, mereka semua memasuki ruangan itu. Ino agak terbatuk-batuk karena masih ada sisa-sisa debu yang menempel di rak buku.
"Baiklah. Apa yang kita cari?" tanya Kiba.
"Umm... semacam informasi mengenai rumah ini. Bisa saja itu berupa buku harian atau surat-surat penting." jawab Sakura. "Aku harus menemukan petunjuk mengenai gadis yang kulihat di cermin itu." lanjutnya lagi.
Mereka semua pun mulai mencari-cari sesuatu seperti buku dan surat-surat. Ada berbagai macam buku yang terdapat di perpustakaan ini. Mulai dari buku cerita fiksi sampai buku mengenai pemahaman politik, semua jenis buku terdapat disini. Mungkin sang pemilik villa ini dulunya seseorang yang suka membaca hingga memiliki koleksi segitu banyaknya.
Saat sedang mencari, Ino mendapati perhatiannya pada sebuah lukisan yang terpajang di dinding perpustakaan itu. Orang di dalam lukisan itu mengenakan baju ala victoria yang artinya dia sudah hidup ratusan tahun lalu. Ino terpana melihat orang yang ada di dalam lukisan itu.
"Hei, Sakura. Lihat lukisan itu? Menurutmu dia laki-laki atau perempuan?" tanya Ino menunjuk-nunjuk lukisan yang ada di dinding tersebut.
Sakura langsung menoleh pada apa yang ditunjuk Ino. Dan memperhatikan orang yang ada di dalam lukisan itu.
"Tentu saja laki-laki. Kau tidak bisa membedakannya karena dia berambut panjang?" Sakura memutar bola matanya.
"Kalau begitu dia sangat tampan kan?" tanya Ino terus mempelototi lukisan tersebut.
Sakura hanya mendengus menanggapi pertanyaan Ino barusan, dia tidak memiliki waktu untuk mengagumi pria tampan yang ada di dalam lukisan tersebut.
"Hyuuga Neji." kata Ino, setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Apa?" tanya Sakura, ia berbalik dan berjalan mendekati Ino.
"Itu, tertulis di lukisan itu." jawab Ino.
Sakura mengamati lukisan itu. Setiap seluk beluk yang ada di lukisan itu. Ia menatap wajah pria yang ada di dalamnya. Memang tampan, pikir Sakura. Tapi yang paling menyita perhatiannya adalah mata pria itu. Mata itu mirip dengan mata yang dimiliki oleh hantu gadis yang ia temui. Mungkin mereka bersaudara?
-to be continued-
Wah, chapter yang ini pendek banget ya? Dan gimana gore nya? Apa sudah terasa? Atau masih mau nambah lagi?
Sebelumnya maaf banget ini update nya molor. Hehe maklum author yang paling ganteng sedunia ini juga yang paling malas seduinia ini kalo nulis harus tegantung mood. Jadi nge-update nya itu kalo pas lagi mood yang bagus.
Okeh, terima kasih kepada semua reader maupun reviewer yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan meriview fanfict gaje saya ini.
Sign
Rain Gantengnya Gak Berujung.
