Disclaimer : All characters are belongs to God, their parents, their agency, and themselves. But this fic is belong to me
Length : Chaptered
Warning(s) : Boys love, -maybe- typo(s), bahasa non-baku, AU, etc.
Cast : All EXO members and others.
Pairs : Official Couple and Crack Couple. Find them out with yourself!:)
.
Fallen © Mai Ravelia
.
Don't Like? Don't Read! I've warned you!
.
Enjoy!
.
Chapter 2
Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal pertama ia lihat adalah langit-langit kamar yang asing baginya.
Ini jelas bukan kamarnya. Tidak ada meja belajar di samping tempat tidurnya. Tidak ada poster tim sepak bola favoritnya. Hanya sebuah ruangan bercat putih dengan satu-satunya benda yang ada diruangan tersebut, yakni tempat tidur.
Beberapa perban baru yang membalut kening, tangan, dan kakinya. Dan kini, ia memakai piyama putih bercorak garis-garis biru vertikal yang-entah-punya-siapa.
Ini dimana? Siapa yang membawanya kesini? Sudah berapa lama ia tertidur? Siapa yang merawatnya? Dimana Baekhyun? Apa yang terja—OH!
Insiden malam itu, yang bahkan ia tak ingat kapan tepatnya. Apa ia sempat koma?
Rentetan pertanyaan itulah yang membayangi pikirannya.
Dan ia tahu, jika ia berdiam disini, ia tidak akan menemukan jawaban apapun.
Pertama, Luhan mencoba menegakkan tubuhnya, dan seketika rasa ngilu yang luar biasa mendera punggung dan pinggangnya.
"Ssshhh..." desisnya menahan sakit. Belum reda rasa sakitnya, ia dikejutkan oleh suara pintu ruangan yang terbuka pelan.
Dengan segera pandangannya tertuju pada pintu yang terbuka. Sesosok namja berkulit putih familiar mendongakkan kepalanya dan pandangannya segera tertuju pada Luhan.
Itu Baekhyun.
"Hyung! Kau sudah sadar? Syukurlah!"
Baekhyun segera menghampirinya dengan wajah yang berseri-seri. Luhan tersenyum sedikit, menanggapi hoobae-nya yang terlihat selalu bersemangat. Namun Baekhyun kali ini agak berbeda dari biasanya. Terlihat perban baru yang melilit pahanya sejumlah plester di tangannya.
"Baekhyun-ah, kau tidak apa-apa?" tanya Luhan.
"Aku tidak apa-apa, hyung! Kau sendiri? Bagaimana kondisimu?"
"Aku—entahlah.."
Luhan tak dapat melanjutkan perkataannya ketika ia melihat lagi kamar diruangan tersebut terbuka. Sesosok namja lain yang tak ia kenal melihat ke dalam dan kemudian ia tersenyum.
"Ah, kau sudah sadar rupanya."
Luhan tahu, perkataan namja tersebut untuk dirinya. Suaranya terdengar lega dan menenangkan. Namun tidak membuat Luhan menurunkan kewaspadaannya.
Namja tersebut masuk, diikuti dengan empat orang namja lain dibelakangnya. Luhan semakin mencengkram selimutnya, rasa cemas meliputi dirinya ketika lima orang namja asing tersebut mendekati tempat tidur yang ia tempati sekarang.
Sejenak atmosfer diruangan itu menegang. Tidak ada yang berbicara untuk beberapa detik ke depan. Mata Luhan bergerak-gerik meneliti lima orang namja dihadapannya.
"Baekhyun, siapa mereka?" tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya.
"Mereka—"
"Kami yang menyelamatkan kalian dari insiden malam itu."
Seorang namja berkulit tan menjawab pertanyaan Luhan yang sebenarnya ditujukkan kepada Baekhyun. Dan Luhan tidak menyukai nada suaranya yang terkesan—ugh—sombong?
"Benarkah?" Luhan menatap sangsi kepada lawan bicaranya. Yang ditanya hanya mengangkat bahunya.
"Err—begini," namja pertama mulai menjelaskan. "Agar tak terjadi kesalah pahaman, aku akan mengenalkan nama kami kepada kalian. Namaku Suho," tunjuknya pada dirinya sendiri. Kemudian ia (Suho) beralih ke namja tinggi disampingnya, "Dia Kris, dialah pemimpin kami."
Luhan menaikkan alisnya ketika melihat Kris, namja tertinggi diantara semua namja yang berada dalam kamar tersebut. Rambutnya pirang dan berwajah tampan, ekspresinya datar, tegas dan berwibawa.
Pantaslah ia menjadi seorang pemimpin.
"Ini Chanyeol," tunjuk Suho pada namja disamping Kris. Namja tertinggi kedua.
"Ni hao," sapa Chanyeol sembari tersenyum lebar yang menampakkan deretan gigi besarnya yang putih bersih.
Dia mengetahui aku adalah keturunan China? Tanya Luhan dalam hati. Namun ia tak mengutarakannya, dan merespon sapaan Chanyeol dengan anggukan singkat.
"Kemudian, ini Kai," tunjuk Suho pada namja berkulit tan yang tidak disukai Luhan. Ia berdiri tegak disamping Chanyeol, "—dan ini Sehun," Suho menunjuk namja terakhir yang berdiri paling ujung, bersebelahan dengan Kai. Kulitnya putih bersih dan sangat kontras dengan namja disampingnya. Sama seperti Kris, Sehun tidak menunjukan ekspresi yang berarti, alias datar.
"Baiklah, aku Luhan, dan ini adalah Baekhyun. Perkenalan kita sudah selesai, ne? Sekarang biarkan kami pulang," tukas Luhan cepat.
"Hyung—" bisik Baekhyun, seolah mengingatkan.
"Tidak."
Luhan segera menatap Kris, pemilik suara yang baru saja melarang keinginannya untuk pulang.
"Kenapa?"
"Kalian dibutuhkan."
"Apa lagi yang kalian butuhkan dari kami?" desis Luhan.
"—kau akan mengetahuinya nanti," jawab Kris singkat. Kemudian ia berbalik badan, berniat meninggalkan kamar tersebut dan diikuti para anak buahnya.
Tangan Luhan mengepal. Demi Tuhan, ia sama sekali tidak mengetahui tempat ini, seluruh tubuhnya terluka dan keluarganya dalam masalah. Sekarang, ia disuruh tinggal disini oleh orang-orang yang baru dikenalnya lima menit yang lalu?
Menggelikan.
"Hey!" ujarnya. "Aku bisa menuntut kalian dengan jalur hukum!"
Bingo!
Kris dan kawan-kawannya kembali menghadap Luhan dan Baekhyun yang duduk disamping ranjang.
"Apa maumu?" tanya Kris. Terselip sedikit rasa kesal disuaranya.
Luhan menyeringai dalam hati. "Keadilan," jawabnya. "Bebaskan kami atau kami akan menuntut kalian, dengan tuduhan telah menculik warga sipil yang tidak bersalah dan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kalian. Dan tuduhan menggunakan senjata api tanpa izin. Aku melihat salah satu dari kalian memakainya ketika malam insiden itu."
Kris tidak menjawab, hanya menatap dua orang namja dihadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian ia berjalan mendekat tempat tidur satu-satunya yang berada diruangan tersebut, merogoh sesuatu dari dalam kantung belakangnya, dan menunjukkannya—
-sebuah dompet, berisi tanda pengenal dan surat keterangan.
Kris membuka suaranya.
"Kami dari EXO's Quarantine and Military Exercises, atau yang biasa dikenal dengan EXO's Military. Sekolah militer yang meluluskan semua siswa dan siswinya menjadi terampil dalam bersenjata dan/atau ahli bela diri. Kami biasa membantu kepolisian, detektif atau disewa menjadi bodyguard terbaik. Kami juga mendapatkan izin sah dari pemerintah untuk melindungi, menangkap, menyandera, memecahkan kasus dan memakai senjata api layaknya kepolisian, demi kelancaran misi untuk melindungi apa yang memang harus kami lindungi."
"Dan kalian—dengan sangat terpaksa kami sandera untuk keperluan penyelidikan. Karena kalian adalah saksi mata insiden penculikan majikan kami, yang terjadi kemarin malam."
Tanpa menunggu respon apapun dari lawan bicaranya, Kris kembali berbalik memunggungi dua orang namja yang kini tidak tahu harus berbuat apa.
#
Sepanjang hari, Luhan hanya mondar-mandir disekeliling kamar tidur tersebut. Ia tau bahwa pintu ruangannya tidak terkunci, tapi Luhan merasa enggan untuk keluar. Ia tidak ingin bertatap muka dengan orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah bodyguard lulusan EXO's Military, terlebih dengan Kris dan Kai. Ia hanya tidak ingin emosinya semakin meledak jika melihat mereka.
"Hyung, makanlah dulu."
Karena terlalu sibuk mondar-mandir, Luhan tidak menyadari bahwa Baekhyun telah masuk dan membawa sebuah nampan ditangannya.
"Aku tidak lapar."
"Tidak mungkin, hyung. Kau belum makan sejak kemarin," sergah Baekhyun.
"Aku tidak berselera."
Baekhyun menghiraukan perkataan Luhan dan menaruh nampan tersebut dikasur. "Cobalah dulu," bujuknya.
Luhan menatap makanan dan minuman yang terletak diatas nampan.
"Baekkie."
"Ya, hyung?"
"Kau yakin mereka tidak meracuni makanannya?"
Baekhyun menggaruk kepalanya, "Kenapa kau menjadi paranoid seperti ini, hyung?"
"Selalu bersikap waspada tidak ada salahnya."
"Baiklah, baiklah," suara Baekhyun terdengar frustasi. "Kupikir tidak, hyung. Aku sudah memakan makanan dan meminum minuman yang disediakan mereka dan sampai saat ini aku tidak merasakan hal aneh apapun ditubuhku. Lalu, seperti yang dikatakan Kris tadi, mereka membutuhkan kita untuk membantu penyelidikan, dan mereka tidak akan mendapatkan keuntungan jika membunuh kita," jelasnya.
Alasan Baekhyun sebenarnya masuk akal, namun Luhan tidak mau menyerah begitu saja.
"Lalu, kenapa kau diperbolehkan bebas berkeliaran disini? Apa itu artinya kau sudah mempercayai mereka?"
Luhan dapat menangkap mata sipit Baekhyun melebar sejenak mendengar perkataannya. Namun kemudian Baekhyun tersenyum. Ia menghampiri sunbae-nya dan menepuk pundaknya.
"Cobalah mengenal mereka, hyung. Mereka tak seburuk yang kau bayangkan."
Setelah mengatakannya, Baekhyun keluar dari ruangan tersebut—meninggalkan Luhan yang terpaku ditempat.
#
Luhan membuka matanya untuk kesekian lagi. Sejak kemarin, ia sama sekali tidak keluar kamar. Makanan dan minuman yang dibawakan Baekhyun untuknya pun hanya ia cicipi sedikit. Sisanya telah dibereskan oleh-entah-siapa.
Seperti—tidak ada semangat hidup.
Pandangannya menuju satu-satunya jendela yang ada diruangan tersebut. Langit masih gelap, namun ada sedikit bias-bias berwarna biru cerah yang mewarnainya. Luhan menduga ini sudah pagi, mungkin sekitar pukul enam.
Luhan menyingkap selimutnya, dan kemudian duduk perlahan. Kembali, rasa nyeri mendera punggungnya, namun tidak sesakit kemarin. Namun, tetap saja membuatnya merintih.
Mungkin, tidak ada salahnya keluar.
Luhan menurunkan kedua kakinya perlahan dan seketika hawa dingin lantai yang dipijaknya merambati semua sistem sarafnya. Butuh waktu beberapa saat baginya agar terbiasa, kemudian ia mencoba melangkahkan kakinya satu-persatu.
Bagus, setidaknya kakinya tidak ada yang patah.
Meski agak terseok, Luhan tetap memaksakan berjalan menuju pintu ruangan. Sebenarnya, sedikit-banyak ia penasaran dengan apapun yang ada diluar ruangan ini.
Maka dibukanya pintu yang memang tidak terkunci itu.
Dan Luhan terkesiap melihat apa yang ada didepannya.
Sebenarnya tidak ada yang aneh. Hanya ada ruang tamu biasa, lengkap dengan satu set sofa, meja, televisi dan karpet yang terhampar. Disebelahnya ada dapur yang minimalis, namun rapi.
Berbeda dengan pikirannya selama ini, ia 'disekap' disebuah gudang, atau bangunan lama yang tak terhuni. Dan ternyata, selama ini ia berada didalam rumah biasa.
Luhan memandang sekeliling. Tidak ada orang.
Kemudian pandangannya tertuju pada barang-barang yang berada dimeja ruang tamu. OH Tuhan! Itu semua barang miliknya!
Dompet, handphone, tas punggung, bahkan bajunya yang sudah terlipat rapi.
Tanpa pikir panjang Luhan segera menghampiri meja tersebut dan memeriksa barangnya satu-persatu. Ia mengacak-acak isi tasnya, membuka dompetnya...
"Jangan khawatir, tidak ada yang hilang."
Suara itu berhasil menginterupsi kegiatannya memeriksa barang. Dilihatnya namja berkulit putih yang—menurutnya—paling ramah diantara yang lain.
Suho menghampirinya, dengan membawa segelas mug yang mengeluarkan asap mengepul diatasnya. Kemudian menaruhnya tepat dimeja depan Luhan.
Luhan mengerjapkan matanya melihat segelas cokelat hangat yang tersaji dihadapannya.
"Um, terimakasih," ucapnya canggung. Dan sedetik kemudian ia mengutukki kebodohannya karena terlihat salah tingkah.
"Sama-sama," jawab Suho sembari mempertahankan senyumnya.
Luhan tak meresponnya lagi. Aroma cokelat hangat dihadapannya segera memasuki indra penciumnya dan segera saja menimbulkan rasa lapar baginya. Jelas saja, ia tidak makan sejak kemarin.
Ia menyeruput pelan cokelat hangatnya dan menikmati setiap aliran yang membasahi kerongkongannya yang kering. Kemudian menaruh mug itu kembali setelah dirasakannya cukup.
Luhan hendak meraih tasnya, ketika itulah ia menyadari sebuah benda tergeletak diatasnya, sebuah koran pagi.
Bayangan terakhir Appa-nya yang membaca koran pagi seketika terlintas dibenaknya. Luhan menggapai koran pagi tersebut dengan ragu-ragu dan juga—takut. Ia tak tahu mengapa, tapi yang jelas, sepertinya ia harus membaca artikel dikoran itu.
Dan headline koran yang bertuliskan huruf kapital dan bercetak tebal segera mengambil alih perhatiannya.
.
XXX DAILY
'HANCURNYA BISNIS BESAR KELUARGA XI YANG TERKENAL'
.
Sebuah godam besar seakan menghantam tubuhnya hingga berkeping-keping.
.
Seoul, 13 Mei 20xx
Bisnis besar keluarga Xi, yang merupakan restoran seafood dan mempunyai beberapa cabang di Korea Selatan sangat berkembang pesat beberapa tahun belakangan. Namun, keinginan Xi Dingxiang (55) pemilik dan pendiri restoran keluarga tersebut dan istrinya Xi Yuan (50) untuk menambah cabang restoran mereka tampaknya kini hanya angan-angan belaka.
Dilansir seminggu yang lalu, sejumlah protes dilayangkan oleh pelanggan kepada pihak restoran karena para pelanggan mengalami gejala keracunan dan banyak yang telah meninggal setelah mencicipi makanan restoran tersebut. Bahkan, pihak kepolisian dan badan penelitian turut ikut campur dalam masalah ini.
"Setelah kami meneliti dengan sampel, kami menemukan racun Tetrodoxin di beberapa menu andalan restoran keluarga Xi. Racun ini biasa ditemukan dan dihasilkan oleh ikan Fugu, sejenis ikan buntal yang terkenal akan racunnya yang mematikan," jelas Dokter Lee Sungmin, kepala penelitian dan riset Korea Selatan.
Lusa kemarin (11/03) polisi mendatangi rumah keluarga Xi untuk menangkap dan meminta keterangan langsung dari pemilik restoran. Namun, karena terlalu shock, Xi Dingxiang (55) mendadak terserang stroke yang mengakibatkan ia harus dirawat intensif dirumah sakit. Istrinya, Xi Yuan (50) dan anak bungsu mereka, Zhang Yixing (19) turut dibawa guna dimintai keterangan. Namun, anak sulung mereka, Xi Luhan (20) dinyatakan hilang karena—
.
Luhan sudah tak peduli lagi dengan kelanjutan artikel yang ia baca. Airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Segera ia hempaskan koran pagi tersebut dan meraih handphone-nya dengan kasar. Dengan tangan yang gemetar ia segera mencari kontak Yixing, namun—
-sebuah tangan dengan cepat merebut handphone-nya.
"Apa aku belum bilang jika ada larangan memakai telepon selular dirumah ini?"
"Kembalikan..." desis Luhan. "KEMBALIKAN DASAR KEPARAT!"
Luhan menghapus airmatanya dengan kasar dan serta-merta menerjang Kris demi merebut kembali handphone-nya. Tak peduli lagi pada kenyataan bahwa tinggi badannya jauh lebih pendek dibandingkan Kris.
"HYUNG!" Baekhyun yang tak sengaja melihat adegan tersebut segera menghampiri sunbae-nya yang mengamuk. "LUHAN-HYUNG!"
Tak digubrisnya teriakkan Baekhyun. Maka dengan modal nekat, Baekhyun meraih kedua tangan Luhan untuk menahannya.
"Hyung! Hentikan!"
"Lepas, Baekkie!" Seru Luhan sembari meronta-ronta.
"Tunggu, hyung!"
"KAU TIDAK MENGERTI!"
"Hyung, dengarkan aku dulu—"
Baekhyun terhempas keras ke sofa dengan kepala yang menabrak dinding akibat sikutan Luhan. Luhan membelalakkan matanya setelah menyadari perbuatannya.
"Hyung, jebal—"
#
Chanyeol masih terengah-engah di sofa. Tenaganya lumayan terkuras ketika menahan Luhan yang sepertinya ingin menghabisi Kris ditempat. Ia melirik Luhan yang berada tepat disampingnya. Piyama yang dipakainya tampak kebesaran, jelaslah bahwa Luhan adalah pemuda yang bertubuh kurus, bahkan tingginya hanya sebatas pangkal leher Chanyeol, tapi tenaganya—
Kini Chanyeol melirik Baekhyun yang berada disamping Luhan. Tangan putih namja itu tak henti-hentinya mengelus pergelangan tangan dan punggung Luhan. Raut wajahnya sangat sedih, sedangkan tatapan mata Luhan seolah kosong, sulit digambarkan.
Kris, Kai, dan Sehun duduk di sofa sebrang, sedangkan Suho lebih memilih berdiri di samping Chanyeol. Dan belum ada yang membuka suara sejak lima menit yang lalu.
"Kalian tidak diperbolehkan memakai handphone selama bersama kami."
Ucap Kris sembari menatap Luhan dan Baekhyun.
Luhan tidak menjawab, namun rahangnya mengeras.
"Kau sudah membaca artikel barusan, kan? Sekarang, polisi sedang mencari keberadaan kalian, terutama kau, Xi Luhan. Jika kalian tetap menggunakan handphone kalian, polisi bisa melacak kalian melalui satelit dan menemukan kalian. Atau bahkan memasukkan kalian ke penjara karena Tuan Xi kini menjadi ter—"
"Lalu? Kenapa kalian menahan kami? Bukankah lebih baik kalian menyerahkan kami ke polisi dan semua urusan selesai? Polisi mempercayai kalian, bukan?" potong Luhan. Baekhyun yang menyadari perubahan suara sunbae-nya segera mengeratkan genggamannya pada lengan kurus Luhan. Seolah hendak menahan amarahnya.
"Tidak semudah itu," timpal Kai.
Luhan menaikkan alisnya. Sungguh, ia tidak mengerti semua kejadian yang menimpanya selama tiga hari terakhir ini. Semuanya terlalu abu-abu baginya. Luhan segera memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Bisa kalian jelaskan semua yang kalian ketahui, atau yang kalian sembunyikan padaku? Aku tidak mau mengalami gangguan jiwa sejak dini," pinta Luhan lamat-lamat.
Tidak ada jawaban. Kris memilih menundukkan pandangannya sembari menghela nafas.
"Kris-hyung," panggil Suho, membuat namja berambut pirang tersebut menolehkan kepalanya, "pelan-pelan saja."
Kris tidak segera menjawab. Membuat Luhan semakin gemas, namun ia berusaha menahannya.
"Apa yang kalian lakukan pada malam insiden itu?" Kris akhirnya bertanya.
"Awalnya kami menunggu taksi untuk pulang," Baekhyun yang menjawab.
"Lalu?"
"Ada sebuah mobil sedan hitam yang menepi dan akhirnya menuju bagian belakang kampus kami. Kami mengikutinya," lanjut Luhan.
"Kenapa kalian mengikutinya?" kali ini Suho yang bertanya.
"Mobil itu familiar, karena di plat nomornya terdapat stiker restoran Appa-ku. Appa-ku memang menyuruh semua pegawainya menempelkan stiker restoran kami pada kendaraan pribadi mereka."
"Volvo 960," timpal Chanyeol.
Kris mengangguk.
"Jadii—" Chanyeol tengah memikirkan kalimat yang pas untuk diucapkan. "—kau mengenal mereka yang ada dalam mobil itu?"
"Hanya satu orang," jawab Luhan. "Dia koki baru di restoran keluargaku."
"Siapa na—"
"Sayang sekali, aku tidak mengingatnya," sergah Luhan cepat.
"Menarik," gumam Kai.
"Bagaimana? Sudah cukup jelas apa yang kita hadapi sekarang?" tanya Baekhyun pada Kris yang terlihat masih berpikir.
"Lalu apa yang mereka lakukan? Kalian melihatnya kan?" tanya Kris.
"Ya," jawab Luhan. "Mereka mengeroyok seorang namja hingga pingsan dan membawanya masuk ke mobil."
Luhan dapat mendengar helaan nafas frustasi dari lawan bicaranya.
"Kita terpojok," ujar Suho.
Baekhyun menaikkan alisnya. "Kenapa? Memang apa hubungan kalian dengan para namja penculik itu?"
Sesaat tak ada yang menjawab.
"Bukan dengan penculiknya, namun dengan namja yang diculik," jawab Chanyeol. "Dia adalah Tuan Muda kami, kami adalah bodyguardnya."
"Orang sepenting apa dia sehingga mempunyai bodyguard sebanyak kalian?" tanya Baekhyun.
.
.
.
.
"Dia—adalah Huang Zi Tao, anak tunggal dari Tuan Besar Huang, seorang Duta Besar China yang menetap di Korea."
.
.
.
"M-mwo?"
Baekhyun yang pertama bereaksi. Matanya membelalak.
"Ada yang salah?" tanya Kris.
"Ani, tapi—aku tidak tahu ada seorang anak Duta Besar China di kampus. Maksudku, aku memang pernah mendengar ada seorang anak pejabat yang duduk di semester satu—" lanjutnya ambigu.
"Bagaimana dengan kau, Xi Luhan? Kau tahu sesuatu tentang Tuan Muda Huang?" Kris kini menatap Luhan yang masih menatap meja dengan pandangan kosong.
"Baiklah jika kau memang tidak—"
"Apa maksudmu dia adalah pemuda yang memiliki kantung mata tebal?"
Kris menaikkan alis, "Ya."
"Aku tidak mengenalnya. Tapi aku sering melihatnya diruang latihan matrial arts. Kupikir dia seorang atlet," jawab Luhan.
"Bukan. Tapi dia ahli bela diri wushu."
"T—tunggu dulu!" Baekhyun menginterupsi. "Kau bilang dia ahli wushu? Lantas kenapa ia harus repot-repot menyewa banyak bodyguard untuk menjaganya?"
"Itu keinginan ayahnya, Tuan Besar Huang."
"Jadi, dengan kata lain dia tidak ingin dikawal oleh bodyguard?" Luhan menarik kesimpulan.
Yang ditanya tidak merespon.
"—pada hari itu, Tuan Muda Tao memang sempat 'menghilang' dari pengawasan kami. Kami sendiri tidak tahu cara apa yang digunakannya, yang jelas, keberadaannya tidak bisa dilacak," jelas Chanyeol.
"Oh, itu sudah cukup menjelaskan semuanya," ujar Baekhyun santai sembari merilekskan posisi duduknya di sofa.
"Apa maksudmu?" tanya Kris tajam. Namun Baekhyun tak menghiraukannya.
"Pertama, Tuan Muda kalian adalah seorang ahli beladiri wushu. Kedua, aku menarik kesimpulan bahwa menurutnya, ia tak perlu dikawal bodyguard, karena mungkin—menurutnya—ia bisa menjaga dirinya sendiri tanpa pengawalan. Tapi itu adalah perintah ayahnya. Ya katakanlah itu sebuah formalitas bagi keluarga pejabat.
Ketiga, aku sering melihat atlet-atlet wushu ditelevisi ketika olimpiade. Tenaga mereka benar-benar kuat. Jadi, sangat kecil kemungkinan Tao akan lumpuh semudah itu," Baekhyun menarik kesimpulan.
"Jadi, kau ingin bilang bahwa Tuan Muda 'sengaja' membiarkan dirinya diculik?" Aura hitam mulai membayangi pertanyaan Kris.
"Kau tahu itu," ujar Baekhyun sembari tersenyum lebar.
Oh, ya. Luhan hampir lupa jikalau hoobae-nya yang satu ini punya sifat yang jahil dan menjengkelkan.
Luhan menatap ekspresi kelima namja yang baru dikenalnya. Chanyeol menggaruk-garuk pelipisnya, pandangan Kai yang menerawang kebawah—berpikir, Suho yang mengusap dagunya, Kris yang melipat kedua tangannya di dada—jelas sekali ia masih belum menerima kesimpulan Baekhyun, dan—
—Sehun. Luhan hampir lupa akan keberadaan namja itu. Dirinya yang salah, atau memang sejak tadi Sehun tidak mengeluarkan suara sedikitpun?
#
"Tao. Huang Zi Tao," gumam Baekhyun terus-menerus, seolah mengucapkan sebuah mantera.
"Memangnya kau tidak mengenalnya?" tanya Luhan.
"Mmm..." Baekhyun menggeleng. "Mungkin dulu aku pernah berpapasan dengannya, tapi itu sudah lama sekali. Kupikir dia orangnya jarang berkeliaran di kampus. Lalu kau, hyung. Bagaimana kau tahu tentang Tao?"
"Aku memang sering pulang malam. Tiap kali aku menghabiskan waktuku diruang musik, kadang aku masih bisa mendengar suara-suara diruang matrial arts. Dan ya, aku sering melihat namja berkantung mata tebal sedang latihan disitu. Awalnya aku tidak tahu namanya, tapi, ada temannya yang sering memanggil 'Tao'," jelas Luhan.
"Jadi, Tao itu sering pulang malam?"
Luhan mengangkat bahu, "Mungkin."
Mereka berdua masih berada di sofa ruang tamu. Kris dan yang lain meninggalkan mereka dengan alasan 'ada pekerjaan'. Baik Baekhyun maupun Luhan tidak ada yang mau beranjak dari ruangan itu.
Plek!
Sebuah kain hinggap dikepala mereka dan sejenak menghilangkan pandangan. Luhan dengan sigap menarik kain yang menutupi wajahnya.
Sebuah polo shirt dan jeans.
Ia menatap Baekhyun yang diberi pakaian yang sama—dengan cara yang sama pula; dilempar.
Kris memasang ekspresi datar setelah melempar pakaian pada dua namja tersebut.
"Apa ini?" tanya Luhan
"Pakaian."
Bisa didengarnya suara 'Pfftt' dari Baekhyun.
'Dongsaeng kurang ajar.'
"Aku tahu," Luhan berusaha membuat suaranya terdengar normal. "Kenapa kami harus memakainya?"
"Berterimakasihlah, Tuan Xi. Kau tentu tak ingin selamanya memakai piyama itu kan?" Kris balik bertanya.
"Yeah..."
Kris berniat meninggalkan mereka, namun ia berbalik lagi, "Sekedar informasi, aku dan yang lain akan pergi sebentar. Kalian jangan macam-macam dirumah ini dan jangan sekali-sekali berniat kabur, mengerti?" Ucapnya dengan penuh penekanan pada kata-kata terakhir.
Luhan meresponnya dengan mencibir.
#
Luhan melirik jam yang tergantung di dinding; 17:06
Ia bosan, sungguh.
Kris dan bawahannya telah pergi-entah-kemana sekitar setengah jam yang lalu. Suara kendaraan menjadi tanda bahwa mereka telah pergi.
Baekhyun sendiri memutuskan untuk tidur di 'kamar'nya.
Ngomong-ngomong, Luhan baru menyadari, sejak kemarin, hoobae-nya itu tidur dimana? Jelas sekali Luhan tidur sendiri sejak kemarin. Lantas Baekhyun?
Sebuah keingintahuan muncul di kepalanya. Ia bangkit dari sofa dan kemudian kakinya menuntun dirinya untuk berkeliling, sekedar untuk melihat-lihat.
Dan rumah ini memang selayaknya rumah biasa. Luas dengan satu tingkat diatasnya. Ia berhasil menemukan tiga kamar lain dilantai dasar.
Jika Baekhyun tidur di salah satu kamar itu, ia tidur dengan siapa?
Karena tidak menemukan jawaban apapun, Luhan meneruskan kegiatan melihat-lihatnya dan memutuskan untuk menaiki tangga satu-satunya dirumah tersebut.
Sunyi.
Hey, Kris benar-benar pergi dengan semua bawahannya? Tidak meninggalkan barang satu orangpun untuk menjaga 'rumah'?
Luhan terus berpikir, dan tanpa sadar ia telah sampai dilantai atas.
Dan—wow! Lihat apa yang ditemukannya!
Sebuah ruangan yang besar—dengan pintu balkon tertutup. Sebenarnya ruangan tersebut biasa saja, namun isinya—
—berbagai macam gadget yang berserakan. Kabel-kabel yang saling melilit satu sama lain. Beberapa set laptop lengkap dengan speaker dan printer, radio, walkie talkie, wireless, kumpulan handphone diatas meja disalah satu ruangan, scanner code, dan bahkan beberapa alat yang tidak pernah ia lihat dan ketahui sebelumnya.
—untuk apa gadget sebanyak ini?
Pertanyaan pertama yang terlintas di kepala Luhan.
Ia berjalan pelan-pelan memasuki ruangan tersebut, awalnya ia hanya memandang kagum dari ujung tangga. Namun sayang, Luhan tidak melihat sensor yang berada di sudut dinding bawah. Sensor itu sengaja dipasang untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Kakinya melewati sensor tersebut dan seketika seisi rumah menjadi gelap gulita.
Luhan kaget setengah mati. Matanya bergerak liar, namun ia tak dapat melihat apapun. Jakunnya naik-turun dan pelipisnya berkeringat. Ia membungkukkan badannya ketika dirasanya nafasnya tersendat-sendat.
'Sial, kenapa harus disaat seperti ini?'
Luhan berjalan tak tentu arah. Seketika kakinya tersandung salah satu kabel dan tubuhnya membentur meja yang berada tepat didepannya.
Duk!
Telinganya mendengar benda jatuh. Benda itu pastilah salah satu gadget yang ada diruangan itu. Namun Luhan tak bisa mengambilnya. Kepalanya mendadak berputar dan—
Prek!
Ia menginjak sesuatu.
Luhan jatuh terduduk karena tidak bisa menahan rasa pusing dikepalanya. Tepat setelah ia duduk, lampu-lampu dirumah tersebut kembali menyala.
Luhan segera menyingkirkan kakinya. Dan melihat sebuah handphone flip yang telah terbelah dua. Layarnya terpisah dengan keyboardnya.
Ia—baru saja menginjak handphone hingga terbelah dua.
"Kau..."
Luhan nyaris terlonjak kaget ketika mendengar sebuah suara. Ia segera menegakkan kepalanya dan mendapati—
—Sehun yang berdiri tepat dihadapannya.
"—apa yang telah kau lakukan?"
.
TBC
.
Sudah ketahuan kan siapa penyelamat Luhan dan Baekhyun? Yapp, mereka adalah cowok-cowok tampan cetar membahana dua dimensii :3 berbahagialah kalian yg menebak Sehun dan Chanyeol, kkk~
Sudah saya jelaskan sedikit perkaranya di chap ini, ada yg masih bingung? Atau malah makin bingung?;_; semoga gak ada ya :D
Soal ortunya Luhan, saya sengaja membuat OC karena saya agak kesulitan menentukan artis china kpop yg cocok, lol-_-
Balasan Review
Yool Pyromaniac : Yap, tapi aku lebih menekankan Luhan disini^^ sudah dilanjutkan yaa, makasih;)
fyeahkaisoo : hihi makasih;;; kalo soal pairing silahkan temukan sendiri :3 btw mereka bukan pencuri tapi penculik._. itu member lain kok/OC, bukan EXO. Makasih sdh menunggu;)
lisnana1 : pairingnya temukan sendiri ya;; makasih;)
ICE BLOCK : Ini udh dilanjutkan;; kalo soal updet kilat, mian aku gak janji;_; makasih;)
Ryu ryungie : sudah dilanjutkan;;;
LuExo : ihh samaa, bias pertamaku juga Luhan :3 iyaa ini yaoi. Soal couple temukan sendiri ya;; terimakasih;)
Hisayuchi : sudah dilanjutkan;; makasih^^
Shizuluhan : Iya, first fic di fandom screenplays maksudnya lol-_- ofc lulu itu uke forever ( '-')b pasangannya temukan sendiri ya;) makasih;)
aj : amin! Hehe, gomawo ne chingu^^
Han Ri Rin : iyaa, sengaja dibuat menggantung :3 /plak
ichigo song : diikuti terus ya biar gak bingung :3 /promosi terselubung/
Oh Hyunsung : yah, mereka HAMPIR diapa-apain, mengingat ini rated T /sigh/ yapp yg nolong termasuk Sehun Chanyeol :3
Love Couple : mian gak janji updet asap;_; gomawo:3
HaFa NiAl : jinjja?:O sudah ku lanjutkan, tapi mian gak janji updet cepet;_; gomawo:3
rinie hun : couplenya temukan sendiri yap:3 gomawo:3
krisyeol :yah berarti aku salah dong?T_T setauku happy virus julukan utk mereka berdua (BaekYeol) jeongmal mianhae kalo salah;_; makasih ya koreksinya;)
Btw, saya seneng bgt dapet respon dari kalian semua *bow* kalo ada yg salah, tolong dikoreksi, saya memang kurang dalam pelafalan Korea;_; baru tau dikit bgt. Oh, ya, bagi yg kirim saya PM, saya jarang buka PM, jadi ada kemungkinan lama dibalas atau malah gak sama sekali;_; kalo mau nanya2 lg, lewat twitter saja kimachanie :3
Fighting yg lagi ulangan!:-3 see ya~
Mai
