Disclaimer : All characters are belongs to God, their parents, their agency, and themselves. But this fic is belong to me
Length : Chaptered
Warning(s) : Boys love, -maybe- typo(s), bahasa non-baku, AU, etc.
Cast : All EXO members and others.
Pairs : Official Couple and Crack Couple. Find them out with yourself!:)
.
Fallen © Mai Ravelia
.
Don't Like? Don't Read! I've warned you!
.
Enjoy!
.
Chapter 3
Baekhyun terduduk di ranjang dan tidak bergerak sejak sepuluh menit yang lalu. Ia baru saja bangun, dan hal pertama yang dilihatnya adalah hyung-nya yang mondar-mandir tak tentu arah.
Pandangan Baekhyun terus mengamati setiap pergerakkan Luhan yang—bisa dibilang cukup absurd. Sebagai contoh; mondar-mandir dari sudut ke sudut ruangan, menggaruk-garuk kepala berulang kali, sesekali menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, bersandar di dinding, menghela nafas panjang—
"Hyung, kau membuatku pusing."
Luhan menghentikan pergerakkannya sejenak dan menatap Baekhyun. Matanya menyipit berbahaya;
"Kau tidak akan mengerti."
Baekhyun mem-pout-kan bibirnya, "Hyung, kau tinggal mendekatinya dengan hati-hati, lalu katakan: 'Hai, maafkan aku telah membuat handphone-mu terbelah dua. Aku tidak menaruh dendam apapun padamu, sungguh! Kau mau aku menggantinya? Tapi aku tak membawa uang saat ini. Bagaimana jika kau dan teman-temanmu membebaskan kami? Lalu aku akan mengambil uangku lalu men—'"
"Mana bisa seperti itu!" Pekik Luhan frustasi. "Aku bukan sepertimu, yang dengan mudah akrab dengan orang lain," lirihnya.
"—dan aku tidak akan mengatakan hal bodoh seperti itu."
"Dan kenapa pula kau lakukan hal bodoh seperti itu, hyung? Sudah jelas mereka bukan warga sipil biasa. Dan 'markas' mereka pastilah berisi barang-barang yang tidak biasa."
"Baiklah, kita sama-sama bodoh."
"Aku tidak bodoh, hyung. Kau saja."
Luhan tak menanggapinya, dan kemudian ia terduduk di ranjang. Untuk kesekian kalinya, ia menghela nafas panjang dan keras. Walaupun ia pernah mendengar kabar burung jika terlalu sering menghela nafas bisa memendekkan umur, namun ia tak memperdulikannya.
Ia merasa—bertambah tua setiap hari, dikurung disini.
Kejadian setengah jam lalu masih terekam jelas di otaknya. Kondisi ruangan yang gelap gulita, kakinya yang terus tersandung dan bergerak tak tentu arah, pusing yang dirasakannya—
—dan tatapan Sehun yang tajam.
Ini baru pertama kalinya ia mendengar Sehun berbicara. Bukan sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu memang, namun kenapa harus disaat-saat seperti itu?
.
.
-...-
"Kau—apa yang telah kau lakukan?"
Pandangan Luhan masih belum fokus, dan agak buram. Kakinya masih gemetar dan kepalanya masih terasa berputar. Namun, suara itu terdengar sangat mengintimidasi.
"A—aku..."
"Apa kau tidak pernah diajari sopan santun jika berada di tempat orang lain?"
Nada suara itu terdengar sangat datar dan juga mengesalkan. Ingin rasanya Luhan membalasnya dengan sebuah bentakkan, namun tidak bisa. Ia tak sanggup. Dadanya masih naik-turun tak beraturan.
"Dan apa kau tahu berapa harga telepon selular yang baru saja kau injak menjadi dua bagian?"
"Maafkan aku," dengan susah payah Luhan mengeluarkan suaranya. Ditatapnya Sehun—namja yang sedari tadi memojokkannya. "Aku—hhh..."
Sehun tidak merubah sedikitpun air muka maupun ekspresi wajahnya.
"Aku akan menggantinya."
.
.
.
Tidak ada respon yang berarti.
Sejenak Luhan memejamkan matanya, dan berangsur-angsur pening dikepalanya menghilang. Ia juga dapat merasakan peluh dipelipisnya mengalir.
"Aku berharap kau mengerti apa yang telah kau katakan."
Tanpa menunggu respon lawan bicaranya, Sehun berbalik meninggalkan Luhan yang masih terduduk lemas.
.
.
.
-...-
Perasaan gelisah terus-menerus membayangi Luhan. Terlebih perkataan Sehun yang terakhir. Apa yang dimaksud dengan mengerti apa yang telah kau katakan?
Luhan tidak mengerti dan tidak tahu. Tapi yang ia yakini, arti kalimat itu bukanlah sesuatu yang bagus.
#
Kali ini, Baekhyun terserang insomnia. Ia sudah melakukan berbagai macam cara dan bahkan berbagai macam posisi yang nyaman untuk tidur, namun hasilnya nihil. Sedangkan Luhan sudah tertidur sejak tadi disampingnya. Ia tak tahu kenapa, tapi sepertinya hyungnya itu sedang tidak enak badan. Tapi Luhan terus menyangkalnya dan berkata, "Aku tidak apa-apa."
Maka Baekhyun memutuskan untuk keluar kamar dengan hati-hati, agar tak membangunkan Luhan. Kris dan kawan-kawannya sudah pulang sekitar satu jam yang lalu.
Baekhyun melirik jam dinding; disitu tertera pukul 00:23.
Suasana rumah itu sepi, meskipun semua lampu dinyalakan. Baekhyun bukanlah seorang penakut, maka ia tak memedulikan suasana sekitar dan mengikuti kemanapun kakinya melangkah.
Dan kakinya melangkah ke bagian belakang rumah tersebut.
Rumah ini memang benar-benar terlihat seperti rumah biasa. Rumah keluarga yang damai, tenang, dan harmonis. Dibagian belakang rumah ini terdapat sebuah kolam renang pribadi dengan sebuah gazebo dipinggirnya. Disekitar kolam renang dipasang lampu-lampu temaram yang terlihat asri.
Baekhyun tersenyum sendiri, ia yakin Kris dan yang lainnya tak keberatan jika ia merendamkan kedua kakinya dikolam renang tersebut.
Baekhyun mengadahkan kepalanya, dan sebuah pemandangan yang menakjubkan terefleksi sempurna dimatanya.
Tidak istimewa memang, hanya langit malam berhiaskan bulan separuh dengan taburan bintang disekelilingnya.
Tapi percayalah, bagi orang-orang penghuni kota besar, kesempatan untuk melihatnya cerahnya langit malam dengan bulan dan bintang sudah menjadi momen yang langka sekarang. Terlalu banyak polusi udara sehingga menutupi keindahan malam.
Ini memang kebiasaan Baekhyun, menikmati keindahan terangnya lampu malam ketia ia berada dibalkon apartemennya—
Astaga, sudah sekotor apa sekarang apartemen tempat tinggalnya itu?
Tidak ada yang membersihkannya, karena Baekhyun memang tinggal sendiri.
Dengan bermodal tekad dan uang secukupnya, ia memutuskan untuk hidup mandiri di kota Seoul. Orangtuanya berada Bucheon, dan setiap bulan mereka mengirimi uang untuk anak mereka yang kini hidup mandiri di Seoul.
Hidup di ibukota sendirian bukanlah hal yang mudah. Baekhyun sadar betul jika uang yang dikirimi orangtuanya hanya cukup untuk membiayai makan dan sewa apartemennya, maka ia memutuskan bekerja sambilan menjadi seorang karyawan disalah satu cafe yang cukup terkenal.
Tapi itu hanya cerita lama, karena disuatu hari, atasannya menangkap basah Baekhyun sedang bersenandung sembari mencuci piring, dan menganggap suara miliknya patut didengarkan oleh orang lain. Maka sekarang inilah dia; Byun Baekhyun, mahasiswa berusia 18 tahun yang bekerja sebagai penyanyi cafe.
Mungkin sekarang, bossnya sudah mencari orang lain yang menggantikannya, karena dirinya sudah absen selama kurang-lebih seminggu tanpa keterangan apapun—larangan memakai ponsel dirumah ini adalah hal yang menyebalkan, sungguh—.
Yeah, dirinya kini tak lebih dari mahasiswa biasa.
Okay, ia dan Luhan harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Dan kemudian Baekhyun akan melakukan kebiasaannya yang dilakukan sekitar setahun yang lalu; membeli banyak surat kabar untuk melihat halaman belakangnya—kumpulan lowongan pekerjaan.
.
.
.
.
"Hei, kepalamu berasap tuh."
Sedikit lagi, jika Baekhyun tidak reflek berpegangan pada tangga besi kolam renang disampingnya, maka ia akan tercebur kedalam.
Dengan cepat Baekhyun menengok kesamping, dan yang didapatinya adalah sosok bertubuh tinggi dengan cengiran tak berdosanya yang lebar.
"Ups, aku mengagetkanmu, ne?"
"Sejak kapan kau datang?"
Chanyeol menggaruk tengkuknya, "Lumayan lama, sejak tadi aku berdiri disampingmu, tapi kau tidak sadar karena kau sibuk berpikir. Aku khawatir kepalamu berasap, makanya aku menegurmu, hehehe."
"Err—yah, terimakasih."
"Sama-sama."
Awkward conversation. Salah satu dari banyak hal yang dibenci Baekhyun.
"Boleh aku duduk disini?"
Baekhyun menggerakan tangannya yang entah mengapa terasa kaku, "Ah, silahkan," ia menggeser sedikit posisi duduknya ke kiri.
Chanyeol mendudukkan dirinya disamping Baekhyun dengan hati-hati. "Terimakasih."
Untuk beberapa menit kemudian, yang terdengar hanya suara kecipak air, semilir angin, suara jangkrik dan nafas mereka.
"Jadi kau—insomnia?"
Baekhyun menoleh kesumber suara. Chanyeol bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari—laptop dipangkuannya.
"Sejak kapan kau membawa laptop?"
Chanyeol berhenti sejenak, kemudian ia menaikkan alis, "Jadi kau benar-benar sedang berpikir keras, ya? Sampai tidak menyadari keberadaanku yang membawa laptop sejak tadi?"
Sejenak, Baekhyun kagum dengan Chanyeol yang bisa berbicara sepanjang itu dalam satu tarikan nafas.
Ia tersenyum. Kedua matanya menatap air yang beriak dikolam, "Kupikir wajar jika ada seseorang yang sedang dikurung disuatu tempat yang bahkan ia tak tahu namanya, lalu ia berpikir tentang bagaimana nasib keluarga, rumah, dan pekerjaan yang ditinggalkannya, dan buruknya lagi ia sama sekali tak dapat memberikan kabar. Dan untuk pertanyaanmu yang tadi—ya, aku sedang insomnia."
Baekhyun terus berbicara tanpa menatap lawan bicaranya. Ia hanya menghindari kemungkinan terburuk—kedua matanya terlihat berkaca-kaca, misalnya.
Menangis itu manusiawi. Tapi, ayolah—seorang namja tak mungkin menunjukkan langsung kelemahannya, terlebih kepada orang yang baru dikenalnya.
Diam sejenak, kemudian Baekhyun menoleh ke samping—
—Chanyeol menatapnya intens.
Kedua sudut garis mulutnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis.
"Aku mengerti, maaf."
Baekhyun tak merespon. Sebisa mungkin ia tetap menjaga wajahnya datar agar Chanyeol tak mudah membaca pikirannya. Terimakasih untuk Luhan-hyung yang selalu mengajarinya akan hal ini.
"Lalu, kau? Insomnia juga?"
Mengalihkan pembicaraan agar tak lama berlarut-larut.
Chanyeol masih mempertahankan cengirannya, "Aku memang biasa terbangun jam segini."
"Untuk apa?"
"Kerja."
Tanpa sadar Baekhyun memiringkan kepalanya. Matanya menatap laptop abu-abu yang terpangku di paha Chanyeol, "maksudmu, kau sedang mencari informasi?"
"Huh?"
Baekhyun mencibir, "Kalian tidak mungkin hanya duduk diam disini tanpa menyusun strategi untuk menyelamatkan Tuan Muda Huang, kan?"
Chanyeol terkekeh, "Untuk seukuran anak kecil, kau hebat juga, ya?"
"Siapa yang kau bilang anak kecil, huh? Aku adalah mahasiswa berumur 18 tahun!"
"18 tahun?" tanya Chanyeol sanksi. Matanya menatap Baekhyun dari ujung rambut hingga kaki.
"Apa? Kau tidak percaya karena tubuhku pendek?"
"Aku tidak bilang begitu, ya."
"Terserah."
Baekhyun kembali memunggungi Chanyeol yang sedang menahan tertawanya.
"Tapi—astaga, apa aku harus memanggilmu dengan sebutan 'Baekkie-hyung'?"
"Tentu saja, itu agar membuktikan kau—hey! tunggu dulu!"
Baekhyun kembali memutar badannya, kemudian mendekati wajahnya dengan wajah Chanyeol. Namja bertubuh tinggi tersebut memundurkan tubuhnya tanpa sadar, keringat mengalir dipelipisnya.
"Err—apa yang kau—"
"Kau—"
Mata Baekhyun menyipit berbahaya.
"Kau—lebih muda dariku?!"
.
.
.
"Ehehehe—"
"Astagaaaaa!" Baekhyun menutup wajahnya dengan helaan frustasi. "Jadi, selama ini aku berpikiran telah diculik segerombolan namja berumur 20-30 tahunan yang nyatanya bahkan lebih muda dariku dan Luhan-hyung?!"
"Apakah wajah kami setua itu?" Chanyeol meraba pipinya sendiri.
"Gaya kalian seperti namja dewasa! Jadi sebenarnya, berapa umurmu?"
"17 tahun."
"Bagaimana bisa seorang namja 17 tahun bisa tumbuh setinggi ini?"
"Kau saja yang pertumbuhannya terhambat, Baekkie-hyung."
"Aku tidak terhambat! Dan—apa yang kau bilang tadi? 'Baekkie-hyung'? Jangan merasa akrab denganku!"
"Tapi menurutku itu panggilan yang cocok."
"Terserah! Tapi aku tidak mau! Kau yang paling muda disini, kan?"
"Tidak, Kai dan Sehun yang paling muda disini, 16 tahun. Tapi Sehun adalah maknae-nya."
"Mereka yang bertampang seperti ahjussi itu ternyata masih 16 tahun dan berani menculik namja yang lebih tua dari mereka?! Apa kalian gila?!
"Whoaa! Calm down, hyung, calm down, kami tidak berniat menculik kalian," Chanyeol memegang pundak yang lebih kecil dihadapannya, yang sudah menegang sejak tadi.
"Bagaimana aku bisa tenang jika kenyataannya semengerikan ini?" pekik Baekhyun.
"Ini sudah malam, hyung. Kau tidak mau membangunkan Kris-hyung untuk menodongkan samurainya ke arah kita gara-gara membangunkan dia, kan?"
"Nah, ngomong-ngomong tentang Kris, berapa umur pemimpin kalian itu?"
"20 tahun kalau tidak salah."
Baekhyun menghela nafas. Pundaknya masih tegang, namun sekarang sudah lebih rileks.
"Aku—bingung. Kalian masih sangat muda, bahkan umur 16 tahun seperti Kai dan Sehun—demi Tuhan! Mereka itu seharusnya belum lulus SMA! Tapi, kenapa? Kenapa kalian bisa menjadi—"
"Menjadi?"
"—menjadi seperti ini? Kalian harus berkutat dengan alat-alat dan senjata aneh yang seharusnya kalian belum cukup umur untuk memakainya!"
"A—"
"Hentikan senyuman bodohmu itu! Aku butuh penjelasan!" bentak Baekhyun.
"Cengiran ini sudah menjadi ciri khasku, hyung, kalau kau mau tahu."
Baekhyun masih mengatur nafasnya.
.
.
.
.
"Well," ujar Chanyeol, "pada akhirnya kau dan temanmu memang harus mengetahui semuanya."
.
TBC
.
Q : Kenapa author gak dari awal sudah menentukan crack / official couple utama di fict ini?
A : Saya hanya ingin tokoh-tokoh disini berinteraksi alami, jadi kemungkinan official dan crack itu pasti ada. Jika dari awal sudah ditentukan (misal; main pair : KrisYeol, SuLay) maka interaksi Kris pasti mayoritasnya dgn Chanyeol, dan interaksi dgn tokoh lain hanya seperlunya saja. Saya ingin cerita ini mengalir alami(?)
Q : Tapi mengapa author menentukan setiap pairingnya di fict lain yg author sudah buat sebelumnya?
A : Karena saya ingin mencoba hal baru ;)
.
Balasan Review :
rinie hun : ada hunhan kan di chap ini? Dikit sih tapi._. Maaf ya kalau updatenya lama.
zhehoons : hallo, selamat datang^^ yeah, kita punya selera yg sama hehe. Maaf saya gak apdet asap._.
Ochaaa : iya ada official pair kok;) maaf ya gak updet asap._.
Ryeong : makasih :3 ada official dan crack pair, silahkan temukan sendiri^^
LuExo LuExo KyuElf : Yap, tebakan anda benar chingu, selamat ^^ oh ya, jgn terkecoh dgn pairing yg udah bermunculan ya, siapa tau nanti ujungnya beda, kan?;) aku 96line :3
fyeahkaisoo : jujur aku nyengir sendiri baca review mu, wkwk xD ini sdh diapdet, maaf lama._.
Hisayuchi : walaupun mereka uke, tapi mereka kan tetep cowok, jadinya sebisa mungkin aku bikin karakter yg wajar :3 iyak, iri sendiri sm si panda u_u
lisnana1 : maaf kalo gak updet asap._. Amin, semoga doanya buat Lulu terkabul o:)
TYSLAulia : Temukan sendiri ya couplenya n_n
0312luLuEXOticS : hallo selamat datang n_n iya main castnya si rusa cina ;) dan dia itu uke forever lol-_-
Love Couple : Tao nya nanti nyusul kkk xD
ichigo song : Yap, ini BxB *nunjuk warning(s) diatas* kalo masalah couple nya siapa aja itu silahkan temukan sendiri ;) dan jgn terkecoh dgn interaksi diawal karna di akhir bisa saja berubah kan? Ya, begitulah, aku pertama kali melihat Kai di MV MAMA juga kesannya dia nyebelin._. Lol. Hehe, no prob, justru aku suka review yg panjang dan banyak sarannya n_n
Rin Rin Kim ChenMin EXOtic : Chen dan Xiumin nya nanti nyusul kok n_n
Oh Hyunsung : Yeah, siapa yg rela dikurung sama orang tak dikenal dan punya kesan nyebelin, sementara dirinya sendiri punya masalah yg harus diselesaikan? Kkkk :D maaf gak bisa kilat u_u
HaFa NiAl : eits, jgn terkecoh sama pairnya ya^^ maaf ya updetnya lama._.
Riyoung Kim : sudah di apdet :3
dianhaniehunie : Yah, sehun agak marah sepertinya...xD
: sudah dilanjutkan :3
.
Yap, kemarin saya harus bertempur menghadapi UTS, galau SS5 Seoul (btw, saya skrg sebel sama Sungmin karena dia lbh cantik dari saya, terutama pas cross-dressing, lol) dan kegiatan sekolah lain sehingga lama apdet. Mohon dimaafkan dan dimengerti ._.
Untuk yg mau UN, stop baca / nulis fanfic dulu yak, hiatus gitu maksudnya. Fighting! ( '-')9
Saya gak bermaksud gombal, tapi, percayalah! Review kalian adalah semangatku! ( '-')9
Sign,
Mai
