Disclaimer : All characters are belongs to God, their parents, their agency, and themselves. But this fic is belong to me
Length : Chaptered
Warning(s) : Boys love, -maybe- typo(s), bahasa non-baku, AU, etc.
Cast : All EXO members and others.
Pairs : Official Couple and Crack Couple. Find them out with yourself!:)
.
Fallen © Mai Ravelia
.
Don't Like? Don't Read! I've warned you!
.
Enjoy!
.
Chapter 4
Pagi hari di saat itu begitu cerah layaknya musim panas pada tahun-tahun sebelumnya, meskipun belum saatnya musim panas. Terlihat dari cahaya matahari berwarna keemasan yang perlahan merambati dinding-dinding kamar dan memantulkan bayangan.
Kris mengawali pagi itu dengan berdiri menatap cermin.
Cermin lonjong besar yang ukurannya hampir setinggi dirinya, Kris berdiri didepannya dengan ekspresi yang ia sendiri tak bisa mendeskripsikannya.
Refleksi dirinya terpantul sempurna dicermin tersebut. Tubuhnya yang jangkung, rambut cepaknya yang berwarna hitam terlihat mulai memanjang, pipinya yang sedikit tirus, tubuhnya yang semakin mengurus sejak terakhir ia ingat, kulitnya yang berwarna sawo matang, dan—
—Kris baru menyadari bahwa ia memiliki kantung mata yang menghitam diwajahnya.
Oh, sudah berapa hari ia tidak bisa tidur?
Selama ini ia hanya tidur-tidur ayam. Kris hanya memejamkan kedua matanya, namun tak bisa tidur sepenuhnya. Bahkan jika dalam sehari ia bisa tidur selama 3 jam, ia akan sangat bersyukur akan hal itu.
Beban yang ia bawa—terlalu berat.
Kris mengelus tengkuknya yang terasa pegal—lagi-lagi ia salah bantal—, ia tidur pagi dan bangun pagi demi menyelesaikan kewajibannya. Ia sangat bersyukur, memiliki sebuah tim kecil yang sangat membantunya, meskipun tak pernah ia utarakan secara langsung.
Ia sudah pernah berjanji, bahwa ia akan melindungi dan menjaga apa yang telah diperintahkan untuknya. Meski sekarang, ia selalu mengutukki dirinya sendiri karena lalai dalam menjalankan tugasnya. Tugas melindungi seseorang, Tuan Muda Huang.
Kris mengepalkan kedua tangannya, ia takkan mengulangi hal bodoh itu lagi.
Benda mati dihadapannya telah menjadi saksi.
.
#
.
"Apa yang sudah kau dapatkan?"
Chanyeol mengangkat kepalanya yang sejak tadi ditumpukan diatas meja. Kacamata besarnya sedikit melorot tanpa berniat ia benarkan.
"Aku tidak tahu apakah ini hal yang bagus atau tidak."
"Katakan saja," suruh Kris.
Chanyeol melirik laptopnya sebentar, "Semalaman aku meretas dan melacak keberadaan 'mereka', sistem yang mereka gunakan sangat canggih. Aku sampai tidak tidur semalaman."
Kris tetap diam mendengarkan.
"Tapi, setelah aku hampir berhasil meretasnya—"
"Kau ketahuan?" sela Kris.
Chanyeol buru-buru menggeleng. "Tidak, tidak! Tiba-tiba saja markas besar mengirimkan perintah lain."
"Perintah?" Kris mengusap leher belakangnya, "tidak bisakah mereka memberiku waktu untuk bernafas?"
Chanyeol hanya tersenyum kecil, "Ya, markas besar meminta kita untuk membantu polisi menemukan tahanan mereka yang hilang."
"Apakah tahanan itu termasuk anggota 'mereka'"?
"Ya. Dia adalah Code Z."
Ujung bibir Kris terangkat sedikit. "Hm, sudah kuduga. Dengan sistem keamanan pihak kepolisian yang seperti itu, mudah bagi Code Z untuk melarikan diri."
Chanyeol mengerutkan kening. "Tapi, Code Z menjadi tawanan di penjara bawah, bukan? Penjara khusus untuk kriminal kelas kakap dengan sistem keamanan yang canggih."
"Sistem keamanan seperti itu tidak ada artinya bagi hacker sepertimu kan, Park Chanyeol?"
"Eummh—Code Z bukan seorang hacker kan? Maksudku dia—"
"Dia hanya anak kecil yang terlalu terobsesi dengan film-film psikopat, dan mentalnya sedikit terganggu," jelas Kris. "Dan tentunya, ia pasti memiliki teman yang bisa membantunya menjebol sistem keamanan. Lalu, ta-da! Kini dia berkeliaran bebas dan kita harus menangkapnya."
Chanyeol mengangguk mendengar penjelasan Kris. Detik kemudian, ia menghela nafasnya.
"Itulah hal yang ingin kukatakan padamu."
Kris menaikkan sebelah alisnya, "maksudmu?"
"Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, karena ini masih simpang-siur. Tapi, dari informasi yang kudapatkan, Code Z melarikan diri dengan bantuan dari—Code D."
Kris tetap menjaga ekspresi datarnya, meskipun tak dapat dipungkiri jiwanya sedikit terguncang ketika mendengar nama terakhir.
"Kalau memang benar seperti itu, biarkan saja. Code D memang sudah menjadi bagian mereka, bukan?"
Chanyeol berusaha mengangguk, tapi entah mengapa kini lehernya terasa kaku.
.
#
.
Luhan memutuskan untuk bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menghabiskan sebagian besar harinya di kamar yang pertama kali ia tempati di rumah tersebut. Lebih baik seperti itu dibandingkan ia harus mengamuk kepada orang-orang yang telah 'mengurungnya', begitu pikirannya.
Ia menengok kesamping, tidak ada Baekhyun disampingnya. Ya, semalam ia meminta hoobae-nya itu untuk tidur disampingnya. Dirinya sedang banyak pikiran dan tubuh sempat drop, tidak ada yang Luhan inginkan selain keberadaan seseorang disampingnya malam itu.
Dan benar saja, ketika ia membuka pintu kamar, ia menemukan Baekhyun sedang duduk di sofa ruang tengah sembari membaca koran. Dahinya terlihat mengkerut dan bibirnya sedikit mengerucut maju. Kemudian, Luhan menyadari bahwa beberapa koran juga berserakan disekitar Baekhyun.
Kelihatannya Baekhyun terlalu serius membaca koran, sehingga tidak menyadari keberadaan Luhan yang berdiri dalam jarak dekat.
"Kau sedang apa?"
Baekhyun melirik sebentar kearah Luhan, namun berpaling lagi, "membaca kolom lowongan pekerjaan, hyung."
"Hm?" Luhan menaikkan alisnya, "bukankah kau sudah menjadi penyanyi di cafe—apa itu namanya? Mouse Habit?"
"Mouse Rabbit," koreksi Baekhyun. "Mungkin tidak lagi. Yesung-hyung pasti sudah memecatku. Karyawan mana yang berani absen selama hampir seminggu—oh, tidak. Mungkin lebih—tanpa memberi kabar? Sudah pasti namaku di black-list," Baekhyun kembali mengerucutkan bibirnya.
"Mencari pekerjaan itu sangat sulit, harus menyesuaikan dengan kemampuanku," lanjutnya. "Jika sudah menemukan tempat yang cocok, aku juga harus memikirkan berapa banyak sainganku diluar sana. Berbeda dengan keluarga Luhan-hyung yang mempunyai—," Baekhyun langsung menutup mulutnya rapat-rapat, karena ia tidak sengaja menyinggung topik yang sensitif bagi Luhan.
'BODOH SEKALI KAU, PUTRA BYUN!' rutuknya dalam hati.
Baekhyun langsung berdiri dan membungkukkan badannya, "Jeongmal mianhae, Luhan-hyung. Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyinggung persoalan itu," ungkapnya dengan suara rendah. Ia merasa dirinya benar-benar bodoh.
"Lihat aku, Baekhyun-ah."
Baekhyun menelan ludahnya, pikirannya sudah memikirkan kemungkinan terburuk. Walaupun nada suara Luhan terdengar biasa, tapi tetap saja—
Dengan takut-takut Baekhyun menatap sunbae kesayangannya itu. Senyuman manis terpatri diwajahnya.
"Sudahlah, tidak apa-apa."
Baekhyun menggigit bibirnya.
Luhan memutuskan kontak mata mereka. Dirinya tidak marah, sungguh. Meskipun kenyataannya, topik keluarga kini memang menjadi hal yang sensitif baginya.
Luhan mendudukan diri di sofa, tepat disamping Baekhyun.
"Baekhyun-ah."
"Y-ya? Luhan-hyung?" Jawab Baekhyun sedikit terbata. Pikirannya masih melayang, alias masih merasa bersalah.
"Sampai kapan?"
Baekhyun tahu kemana arah percakapan ini.
"Sampai kapan kita disini?"
Baekhyun belum menjawab. Diam-diam ia melirik sunbae-nya yang ternyata sedang melihat kelangit-langit, menerawang. Luhan kini memang tidak berekspresi, namun matanya tidak bisa berbohong. Semua beban yang ditangguhkan padanya sudah berat, kini ditambah masalah besar yang bahkan Luhan sendiri masih belum mengerti seluk-beluknya. Disekitar matanya sudah tercetak lingkaran hitam dan matanya sedikit berair.
Baekhyun ingin— ralat, sangat ingin membantu Luhan dalam menanggung bebannya. Meski hidup berkecukupan, namun ia tahu, Luhan kini tidak sebahagia dulu.
Ia telah mengenal Luhan sejak bangku sekolah dasar, mereka dekat karena tinggal bersebelahan di kota Bucheon. Sebelum akhirnya setelah lulus sekolah dasar, keluarga Xi pindah ke Seoul. Dan ketika Baekhyun memutuskan kuliah di Seoul beberapa tahun kemudian, ia benar-benar tidak menyangka akan satu sekolah lagi dengan sunbae kesayangannya. Mereka juga sama-sama mengikuti kegiatan klub musik. Luhan selalu meluapkan emosinya ketika bernyanyi ataupun bermain piano.
Masih teringat jelas di kepala Baekhyun, ia lebih muda setahun dibandingkan Luhan, sehingga Luhan adalah kakak kelasnya di sekolah dasar. Luhan adalah anak yang periang, terkenal diseluruh penjuru sekolah dan hobinya adalah bermain sepak bola. Bahkan ia tak segan-segan menantang atau menerima tantangan dari para sunbae-nya dulu, karena notabene Luhan selalu menang.
Luhan adalah anak yang periang, dan dirinya sendiri adalah anak yang hiperaktif dan berisik. Tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya menjadi akrab.
Tapi, ketika dirinya bertemu kembali dengan Luhan, Luhan benar-benar jauh berbeda. Meskipun wajahnya tetap sama; baby face, perawakannya kecil dan rambutnya ikal, sunbae-nya jauh lebih dingin dibandingkan yang ia ingat. Luhan juga tidak mempunyai banyak teman dikampusnya, padahal ia juga cukup terkenal.
Ya, ia mengenal Luhan.
Baekhyun mengetahui sebagian besar beban yang ditanggung Luhan, karena ia melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Ya, ia mengenal Luhan.
Luhan tidak pernah menceritakan apapun yang telah membebaninya.
Itu jugalah yang membuat Baekhyun sulit membantunya.
"Tidak akan lama, aku yakin," Baekhyun meremas pundak kecil Luhan. Dan betapa terkejutnya ia ketika merasakan pundak kecil Luhan semakin mengecil dibandingkan yang ia ingat.
Luhan menatapnya, "Kau bisa berjanji?"
Baekhyun balas menatapnya. Ia ingin menangis, sungguh! Luka dalam yang tersirat dimata Luhan terlalu jelas. Baekhyun menggigit bibirnya, menahan airmata yang siap melesak kapan saja.
"Aku tidak bisa berjanji, hyung. Karena yang kita butuhkan adalah bukti."
"Jadi, hyung. Bantulah hoobae kesayanganmu ini, agar kita bisa bersama-sama keluar!"
Baekhyun menjulurkan tangannya.
Luhan menatap tangan Baekhyun yang terjulur dihadapannya.
Baekhyun menaikkan alis, "bagaimana?"
Luhan menyambut uluran tangan Baekhyun.
"Deal."
.
#
.
Baekhyun baru saja akan mandi sore—ia telah meminta Kris untuk membelikan beberapa potong pakaian untuknya dan Luhan, untunglah Kris tidak menolak walaupun tersirat dimatanya bahwa ia sedikit kesal karena seenaknya saja disuruh—dan mencoba pakaian baru miliknya. Tapi niatnya diurungkan karena tiba-tiba Kris menyuruhnya bergabung diruang tengah untuk membicarakan hal penting.
Mendengar kata 'penting', sesungguhnya Baekhyun sangat berharap bahwa Kris akan segera membebaskan dirinya dan Luhan. Namun, ia tidak mau terlalu berharap, dan tidak mau kecewa.
.
#
.
Luhan mengikuti Baekhyun yang berjalan di depannya. Kris memang sudah memberitahunya agar segera berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan hal penting. Namun, ia tidak mau kesana sendirian. Maka ia menunggu Baekhyun—yang menggerutu kesal karena tidak jadi mandi. Padahal sudah buka baju—memakai bajunya lagi dan segera bergabung diruang tengah.
Ternyata Suho menunggu mereka dari luar kamar dengan senyuman.
Luhan menatapnya dengan tatapan bingung.
"Suho-ssi?"
"Ayo, aku antarkan. Kalian sudah ditunggu."
Suho segera berbalik dan berjalan duluan.
Baekhyun menggaruk pelipisnya, "Antarkan? Bukannya ruang tengah itu didepan kita, ya?"
Luhan mengangkat bahu, "Entahlah, mungkin 'ruang tengah' yang dimaksudkan mereka adalah ruangan lain."
Mereka mengikuti Suho, yang ternyata membawa mereka menuju lantai atas.
'Lantai atas?' Luhan menggigit bibirnya, mengingatkan ia pada insiden dua hari yang lalu. Dimana ia 'tertangkap basah' oleh Sehun. Tapi, Luhan tetap menjaga ekspresinya agar terlihat biasa saja.
Setelah sampai sampai di tingkat dua, Luhan sempat melirik ruangan besar yang sempat dimasukinya kemarin lusa. Sudah tidak ada lagi gadget yang berserakan. Yang terlihat kini hanya ruangan luas belaka dengan televisi flat dan perangkat dvd, serta beberapa pintu kamar. Benar-benar tipikal 'rumah biasa'.
Tapi Suho tidak berhenti, ia tetap berjalan menuju tangga yang berada dilantai tersebut.
'Huh? Tingkat tiga?'
"Woah, aku baru tahu rumah ini ternyata besar juga," seru Baekhyun kagum.
Luhan meng-iyakan dalam hati.
Suho hanya tersenyum (lagi) melihat respon Baekhyun.
Kini mereka sudah di lantai 3, lantai teratas dirumah itu. Dihadapan mereka terdapat pintu besar yang akan membawa mereka ke 'ruang tengah'.
"Ayo, silahkan masuk."
Suho membuka pintu tersebut dengan perlahan, diikuti dua namja dibelakangnya yang melangkah ke dalam dengan ragu-ragu.
Dihadapan mereka kini terpampang ruangan besar, yang berisikan home teater.
Home teater yang sangat mewah. Dasar dinding ruangannya berwarna cokelat, namun seluruh dinding berhiaskan lightning berwarna baby blue. Di tengah, terdapat beberapa sofa beludru yang berwarna serasi, tersusun rapi membentuk setengah lingkaran. Terdapat meja porselen berbentuk persegi memanjang ditengah-tengah sofa.
Dua buah speaker besar yang tingginya hampir mengenai langit-langit ruangan terpampang didepan, masing-masing terpasang di kiri dan kanan. Diantara speaker tersebut, terdapat layar besar utama untuk menonton.
Luhan dan Baekhyun terpaku diambang pintu. Pemandangan seperti ini memang baru bagi mereka.
"Apa yang kalian lakukan disana? Ayo masuk."
Panggilan Suho mengantarkan mereka kembali ke dunia nyata. Ternyata, Suho sudah duduk disalah satu sofa. Dan ia tidak sendirian. Kris, Kai, Sehun, dan Chanyeol juga berada disana, menatap dua orang namja yang masih terpaku di ambang pintu.
"A—baiklah," Baekhyun lebih dahulu sadar, "Luhan-hyung, kajja!"
Ia menarik pergelangan Luhan, dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menutup pintu.
Luhan menghela nafas, ia sedikit nervous, ia sendiri tidak tahu alasannya.
Mereka memilih salah satu sofa yang berada di ujung kanan, karena kosong. Baekhyun duduk lebih dulu, tepat disebelah Suho, disusul oleh Luhan. Jadi Luhan yang paling pinggir kanan. Urutan dari kiri ke kanan adalah Sehun, Kris, Kai, Chanyeol, Suho, Baekhyun dan Luhan.
Oh, baiklah. Awalnya Luhan pikir duduk di paling pinggir adalah pilihan yang tepat karena tidak langsung berdekatan dengan orang-orang itu, nyatanya adalah tidak. Kini, posisi duduknya berhadapan langsung dengan Sehun, yang duduk di sofa yang paling kiri. Sofa-sofa tersebut berbentuk setengah lingkaran, ingat?
Kesan pertama dengan orang lain adalah hal yang paling penting. Tapi, menurut Luhan, Sehun akan berpikir kesan pertama yang ditimbulkannya adalah 'perusak'.
Rileks.
Luhan berusaha bersikap biasa.
.
.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul, bisa ku mulai?" tanya Kris.
"Ya."
Baekhyun mengamati Kris dengan tatapan menilai. Astaga, benarkah orang tua ini baru menginjak usia 20 tahun?
Kris membuka laptop hitam dihadapannya, mengetik sebentar, dan tak lama kemudian layar utama dihadapan mereka memunculkan gambar.
Terlihat sebuah bangunan usang yang besar. Jika tidak dilihat dengan teliti, bangunan tersebut tampak seperti gua batu. Di sisi kiri-kanan pintu masuk bangunan terdapat dua orang penjaga yang menggunakan pakaian tentara dan masing-masing dari mereka membawa senjata. Tentara satu membawa samurai yang tersampir di punggungnya, yang satu lagi membawa senjata laras panjang.
"Tempat apa itu?" tanya Kai.
"Ini adalah penjara Silmido. Terletak di Pulau Silmido*, pulau tak berpenghuni. Dahulunya pulau ini merupakan tempat latihan bagi Unit 684*," jawab Kris.
"Ya, lalu ada apa dengan penjara tersebut? Apakah ada tawanan yang lari?" kini Baekhyun yang bersuara. Walaupun ia bukan bagian dari 'agen' seperti Kris, Baekhyun berpikir ia mempunyai hak disini, karena ia juga dipanggil dalam 'rapat'.
"Tepat sekali," ujar Kris. "Setiap tawanan yang dikurung disini adalah tawanan kelas kakap yang sangat berbahaya. Mereka disiksa, dikerja paksa, dan ada yang diperlakukan seperti binatang karena kejahatan mereka yang diluar batas."
"Salah satu anggota Baem, telah dikurung disini, dan dijatuhkan hukuman mati. Ia telah dikurung selama 3 bulan, namun ia berhasil lolos."
"Baem?" tanya Luhan dengan suara kecil.
"Oh, maaf. Apa aku belum memberitahumu? Baem adalah organisasi illegal yang menentang sistem pemerintahan, dan akan melakukan apa saja agar pemerintahan sekarang jatuh ke tangan mereka. Mereka jugalah pencetus perang keluarga Korea Selatan dan Korea Utara, dengan politik adu domba.
—mereka pula lah yang menculik Tuan Muda Huang, dan menghancurkan bisnis keluargamu, Xi Luhan."
Baekhyun dapat melihat punggung Luhan menegang mendengar penjelasan dari Kris.
Suasana menjadi hening. Semua orang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Baekhyun tak henti-hentinya mengusap punggung Luhan agar menjadi rileks.
"—Code Z?"
Sebuah suara memecahkan keheningan yang berlarut-larut itu. Semua pasang mata tertuju pada Sehun, yang kini menempelkan ujung bolpoin di bibirnya.
"Anak psikopat itu?" Kini giliran Kai yang bersuara, nada suaranya terdengar kaget.
"Psikopat?" tanya Suho.
"Iya," jawab Chanyeol. "Di masa lalu, Code Z sangat terobsesi dengan film-film psikopat, dan itu membentuk kepribadiannya. Disalah satu dokumen rahasia polisi yang pernah ku baca—"
"Kau meretas sistem keamanan polisi lagi? Tamat riwayatmu jika ketahuan!" sela Kai.
"Ya! Jangan menyela pembicaraan orang, dongsaeng! Itu ku lakukan juga demi kelancaran misi kita!" sungut Chanyeol. "Di dokumen tersebut, tercatat biodata lengkap Code Z, termasuk segala penyakitnya. Ia menderita gangguan jiwa, dan sangat senang jika melihat darah berceceran dimana-mana. Maka dari itu ia belajar merakit bom di usia muda, dan menempatkannya di tempat-tempat yang strategis. Jadi ketika bom itu meledak—dan BOOM! Tersebarlah potongan-potongan tubuh manusia dan darah dimana-mana.
Code Z terus melakukan hal itu dan akhirnya salah satu anggota Baem melihat dan kemudian merekrutnya. Dan dengan direkrutnya ia sebagai anggota Baem, kemampuan merakit bomnya menjadi berkali-kali lipat. Code Z juga menaruh kiriman bom disalah satu gedung pemerintahan dan mengakibatkan ratusan orang meninggal mengenaskan beberapa tahun yang lalu," jelas Chanyeol.
"Apakah karena itu ia ketahuan dan dipenjara?" tanya Luhan.
"Tidak, belum. Entah bagaimana caranya, pihak Baem menyamar dan berhasil meyakinkan pemerintah Korea Selatan, jika kiriman bom itu dari Korea Utara yang bekerjasama dengan Cina."
"Dan tercetuslah perang," sambung Suho.
"Tunggu dulu, tunggu!" Suara Baekhyun menginterupsi. "Tadi, kalian bilang, Code Z adalah 'anak kecil psikopat', lalu, kalian bilang lagi bahwa dia mempelajari ilmu merakit bom saat usia muda. Jadi sebenarnya, dia umur berapa?"
.
Hening.
Sesaat tidak ada yang menjawab.
"Tahun ini, Code Z akan menginjak usia 15 tahun," jawab Kris.
Baekhyun membuka mulutnya tanpa sadar. 'Menginjak 15 tahun'? Bukankah itu berarti usianya masih 14 tahun?
"A-astagaaa..." Seru Baekhyun sembari menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Sudah berapa lama aku hidup di dunia ini? Dan aku baru mengetahui kenyataan semengerikan ini?" ujarnya terlebih pada diri sendiri.
Sedangkan Luhan menatap Kris dengan tatapan yang sulit diartikan. Kepalanya berdenyut-denyut.
Semua ini semakin rumit baginya.
"Itu hanya sedikit hal yang kalian ketahui dari dunia bawah, Baekhyun-ssi, Luhan-ssi," ujar Kris.
"Ini semakin membingungkan," ucap Luhan sembari memegangi kepalanya yang masih berdenyut.
"Tidak usah terburu-buru. Semuanya akan jelas nanti."
Luhan tidak menjawab, namun diam-diam ia setuju dengan Kris. Tak usah terburu-buru, step by step, dengan begitu ia dan Baekhyun dapat terbebas dari tempat ini.
Tapi tetap ada yang membuatnya tidak nyaman.
Bukan karena ia takut dengan siapapun yang disebut Code Z, bukan karena ruangan ini sangat dingin, bukan juga karena cemas yang menghantuinya.
Luhan bisa merasakannya—tatapan itu.
Sejak tadi, ia sudah merasakannya. Sejak awal dia masuk, sejak ia mendudukkan diri di sofa beludru. Tapi Luhan (berusaha) mengabaikannya. Tatapan seolah ingin mengintimidasinya, dan membelah dirinya menjadi dua.
Dan belum juga berhenti.
Tatapan intens orang yang duduk tepat disebrangnya.
.
.
"Jadi, Kris-hyung," Suho bersuara, "apakah misi kali ini adalah menangkap Code Z?"
Kris mengangguk, "Ya, itu adalah misi langsung dari markas besar. Kita akan menangkap Code Z sebelum Baem kembali merebutnya, membawanya ke markas besar dan mengintrogasinya."
"Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Huang? Apakah ada hubungannya dengan Code Z?" Tanya Suho lagi.
Kris menghela nafas sebentar.
"Besok, Code Z akan menjalankan aksinya di Buyeo National Museum. Menurut markas besar, ia akan menaruh bom di titik-titik tertentu dan meledakkannya. Tugas kita adalah menemukan bom-bom tersebut dan menyelamatkan orang-orang."
Semuanya mengangguk.
"Organisasi Baem juga telah meminta tebusan uang sebesar US $10juta kepada keluarga Huang, jika tidak Tuan Muda akan dibunuh dan keluarga Huang akan diasingkan ke negara lain. Tapi, menurut berita, pihak keluarga Huang tidak merespon ancaman itu."
"Pastilah pihak keluarga berpikir, kalian akan menyelamatkan Tao," ujar Luhan mengambil kesimpulan.
Kris mengangguk.
"Rencananya, organisasi Baem akan membawa Tuan Muda ke museum itu. Jadi, jika misi kali ini kita gagal, maka Tuan Muda akan mati bersama ratusan orang yang ada di museum, juga penduduk sekitar."
Chanyeol meneguk ludah. "Repot juga, ya."
Tidak ada yang tidak setuju dengan perkataan Chanyeol.
Entah muncul darimana, tiba-tiba Kris datang sembari menjinjing sebuah koper hitam besar berbentuk kotak dan menaruhnya dengan pelan diatas meja.
Dengan lihai jemari Kris membuka koper tersebut, ketika koper telah terbuka, ia menghadapkan isinya kepada seluruh orang-orang yang berada di dalam ruangan home teater.
Beberapa buah pistol.
"Besok kita akan membawa ini, masing-masing dari kalian akan membawa sebuah senjata yang cocok dengan kepribadian kalian masing-masing," jelas Kris.
"Ah~sudah berapa lama aku tidak menyentuh ini?" tanya Chanyeol sambil mengusap salah-satu pistol yang berada dalam koper.
"Kami juga?" tanya Baekhyun, merujuk pada dirinya sendiri dan Luhan.
Kris menyeringai, "aku tahu kau bisa menggunakannya, Luhan."
Luhan hanya diam mengamati isi dari koper tersebut.
Kris mengambil salah satu pistol dan melemparnya ke arah Luhan. Dengan gerakan yang tangkas, Luhan menangkapnya.
Luhan memperhatikan senjata laras pendek ditangannya, dan mengelus sebentar.
"FN FNP-45*?"
"Kau tahu itu."
Luhan menimang-nimang pistol itu sebentar, "sebenarnya aku lebih menyukai Barreta*."
"Jangan banyak gaya," celetuk Kai.
Luhan hanya memutar matanya.
"Hei, Kris. Kau punya FN FNP-45 lagi? Untuk Baekhyun," lanjut Luhan.
Kris menatap Baekhyun dengan sangsi, "kau yakin bisa menggunakannya?"
"Hmph," dengus Baekhyun. "Aku dan Luhan-hyung dulu sering berlatih menembak bersama di Hawaii bersama Tuan Xi. Sekarang pun masih, tapi tidak sering."
'—di game center,' lanjutnya dalam hati.
Kris tidak menjawab, namun segera ia melemparkan pistol yang berjenis sama dengan Luhan kearah Baekhyun, dan dibalas dengan tangkapan yang sempurna.
"Well, sekarang kalian beristirahatlah. Besok, kita akan berangkat pagi dan harus sampai di museum sebelum dibuka. Perjalanan kita ke Chungcheongnam-do akan memakan waktu lama."
"Apakah kita tidak memakai baju formal? Misalnya, setelan jas?" Tanya Baekhyun.
"Tidak, itu akan menarik perhatian. Instruksi selanjutnya akan kuberikan besok. Ada pertanyaan?"
Semuanya menggeleng.
"Baiklah, kalian bisa meninggalkan ruangan ini."
Masing-masing individu pun beranjak dari sofa dan keluar dari ruangan. Luhan dan Baekhyun memilih mengalah dan berjalan belakangan.
"Sepertinya, mulai besok kita akan kerepotan, hyung," bisik Baekhyun yang hanya bisa didengar Luhan.
Luhan tersenyum dan balas menepuk pundak hoobae didepannya, "Untuk bisa meraih sesuatu yang kita impikan, kita harus terlebih dahulu berkorban, bukan?"
Baekhyun menoleh dan mendapati senyuman kecil nan manis dibibir sunbae-nya.
"Ya, hyung. Kita harus berkorban."
.
TBC
.
*P. Silmido : Pulau tak berpenghuni di laut Kuning, lepas pantai barat Korsel. Dahulu bekas pelatihan unit 684 dan sempat tak berpenghuni. Namun skrg, P. Silmido sudah menjadi tempat wisata
*Unit 684 : Sebuah kelompok di Korsel yg berupaya membunuh pimpinan Korut. Unit 684 berlatih di P. Silmido sejak tahun 1968 - 1971. Tapi hingga kini, bagian sejarah unit 684 masih simpang-siur atau belum jelas.
*Baem : Bahasa Koreanya 'ular'. Terinspirasi dari anime Naruto, yaitu organisasi Sasuke yg bernama Hebi, bahasa Jepangnya ular. Gak kreatip emang xp
*Buyeo National Museum : Museum nasional yg terletak di Buyeo, Chungcheongnam-do (do = selatan) Korsel.
*FN FNP-45 : Pistol semi-automatic buatan USA
*Barreta : Jenis pistol (yg umumnya) berwarna perak dan berasal dari Italia. Barreta termasuk 10 pistol terbaik di dunia.
Ohohoho, sudah mulai serius untuk chapter-chapter kedepan ;)
#.#
Disclaimer 2 : Mouse Rabbit Coffee miliknya Kim Jongwoon (Yesung) dan Kim Jongjin (Yesung's little brother)
Kenapa ada Mouse Rabbit segala? Karena Baekhyun sama Yesung sama2 main vocal (Baek lead atau main vocal sih?:v) sama2 suka pake eyeliner, sama2 ganteng-unyu-minta-dikresekin-trus-dibawa-pulang. Gak nyambung sih, iya saya tau._.
1) Ada yang liat foto2 EXO pas mereka di 13th Annual Billboard Music Festival di Cina? Saya liat dan saya SENANG :D karena selain EXO-M menang, banyak BANGET crack-pair moments disana 8D sebut saja KaiLu, ChanLu, ChanXiu, KrisYeol, TaoHun, KaiBaek kkk~
2) Oh ya, ada yg tau gak, kapan MAMA sama MCountdown (MCD) di indo? Denger2 sih ada EXO. Kalo ada yg tau, bagibagi info lah ya^^. Bete bgt, banyak konser kpop taun 2013 ini-_- nguras dompet. Apalagi konser GD sama SS5 nanti ashdkshbkd ;A; mana yg paling murah itu 550k, itupun paling belakang, hahaha...hahaha *garuk aspal*
Thanks to :
SooBaby1213 2, Kopi Luwak, lisnana1, Oh Hyunsung, putriii, 0312luLuEXOticS, oracle, rinie hun, Love Couple, Shizuluhan, dian haniehunie, ica, Riyoung Kim, Fanxingege, kyeoptaegyo, parkleestan, hanum sal yang udh RnR, jangan kapok, ne?^^ yang udah follow & favs ff ini makasih banyak ;) dan silent readers yg udah bersedia baca ff ini :3
Kalo ada pertanyaan lebih lanjut, tanya di PM atau mention twitter saja ya^^
Aduh maaf kalo bawel, maklum perempuan._.
Sign,
Mai
