Disclaimer : All characters are belongs to God, their parents, their agency, and themselves. But this fic is belong to me
Length : Chaptered
Warning(s) : Boys love, -maybe- typo(s), bahasa non-baku, AU, etc.
Cast : All EXO members and others.
Pairs : Official Couple and Crack Couple. Find them out with yourself!:)
.
Fallen © Mai Ravelia
.
Don't Like? Don't Read! I've warned you!
.
Enjoy!
.
Chapter 5
Selama sembilan belas tahun hidupnya, Luhan telah mengalami banyak sekali kejadian dan cerita. Beberapa disimpannya dalam folder unforgottable dalam otaknya, agar kelak nanti, ia akan menceritakan kepada anak-cucunya agar mereka bisa mengambil pelajaran, dan bisa hidup lebih baik lagi.
Seperti kali ini, misalnya.
Ini tidak akan—ralat. Tidak mungkin dilupakannya. Ini mungkin adalah kejadian ter-absurd yang pernah dialaminya.
Tidak tahu siapa yang memulai, kapan dimulai, dan kapan akan berakhir. Tiba-tiba saja Luhan sudah berada disini, duduk di jok empuk sebuah mobil sedan mewah—Luhan tidak memperhatikan merknya— menatap hampa pada pemandangan pagi yang sebenarnya indah dari balik kaca.
Tanpa headset yang biasa terpasang ditelinganya.
Baiklah, sepertinya Luhan memang addicted dengan alunan musik. Ia bisa dengan cepat memperbaiki mood-nya jika mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Yah—jika saja Kris tidak menyita semua gadgetnya—
"Eh?"
Luhan sedikit terlonjak ketika merasakan sesuatu yang (sebenarnya tidak begitu) asing mengenai telinga kanannya. Ia menoleh kesamping, secara refleks tangannya mengusap telinganya.
Sebuah headset.
.
"—in my heart there will always be a place for you for all my life.
I'll keep a part of you with me. And everywhere I am there you'll be."
(Faith Hill - There You'll Be)
.
Luhan mendapati Baekhyun sedang tersenyum menatapnya.
Luhan mengerjap sebentar.
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu menggantung. Tapi Baekhyun paham apa maksud sunbae kesayangannya.
"Ini hanya mp3 kecil, Luhan-hyung. Tidak ada fungsi apapun selain untuk mendengarkan lagu. Jadi, kurasa Kris-hyung tidak keberatan jika aku menyimpannya," jelas Baekhyun sambil tersenyum, dan secara tidak langsung memamerkan eyeliner barunya.
Luhan diam-diam selalu bersyukur, karena disaat seperti ini, ia masih mempunyai orang yang mengerti dirinya.
.
.
Mobil sedan itu terus melaju membelah jalanan disalah satu sudut kota. Setelah 'rapat' semalam, mereka sepakat untuk menuju Buyeo National Museum (BNM) untuk menyelamatkan Tuan Muda Huang dan para pengunjung museum dari ledakan bom rancangan Code Z.
Luhan dan Baekhyun ikut, tentu saja.
Kai menyetir tanpa banyak bicara. Tapi sejujurnya, di dasar hati Luhan, ia was-was. Kai menyetir dengan gelisah. Ketika traffic jam, ia terus membunyikan klakson dan kadang mengumpat pelan. Dan jika ia melihat celah untuk menyalip, maka tanpa pikir panjang ia akan menyalip mobil lain. Kadang diiringi klakson mobil lain dibelakangnya yang merasa kesal.
Alasannya apa—Luhan tidak tahu dan tidak mau tahu.
Kalau ia jadi Kai, ia akan berpikir berkali-kali jika menyetir mobil semewah ini secara sembrono. Biaya perawatan untuk pintu yang tergores tidak murah kan?
Chanyeol, yang duduk disamping Kai—yang biasanya juga berisik, juga tidak banyak bicara. Mungkin—yah mungkin, ia mengerti apa yang ada dipikiran Kai, jadi ia tidak berkoar seperti biasa.
Ngomong-ngomong tentang Chanyeol, entah sejak kapan orang itu mengganti gaya rambutnya. Dari keriting berwarna karamel, hingga hitam legam dan cepak. Karena—seingat Luhan, ketika mereka berkumpul kemarin malam, rambut Chanyeol tidak seperti itu.
"Hey, Chanyeol."
Chanyeol menoleh, "Ya? Ada apa?"
"Kau—kapan kau mengubah gaya rambutmu?"
Baiklah, sepertinya Baekhyun memang sangat mengerti dirinya.
Chanyeol menyeringai. Sebagai balasannya, ia membetulkan sedikit letak—oh, sekarang dia punya jambul?
"Keren kan?" Chanyeol menaik-turunkan alisnya.
Baekhyun mencibir "Seperti om-om pedophil."
Mereka beradu mulut sampai Kai mendesis kesal menyuruh mereka diam. Dan kini, Kai yang terkena damprat Baekhyun tentang bagaimana-caranya-bersikap-sopan karena dirinya tidak terima disuruh diam oleh 'anak kecil'.
Dengan amat sangat pelan, diam-diam Luhan menghela nafas. Setidaknya, atmosfer di mobil ini tidak secanggung tadi.
Yang Luhan ketahui, rombongan mereka dibagi dalam dua mobil. Mobil pertama ada mereka berempat, sedangkan mobil bertipe sama yang membuntuti mereka terdiri dari sisanya; sang leader Kris, Suho, dan Sehun.
Mereka berangkat pagi sekali, ketika fajar baru memunculkan bias-biasnya di ufuk timur. Tidak terlalu pagi, sebenarnya. Hanya saja, bagi orang yang tidak suka bangun pagi seperti Luhan, hal seperti ini tidak biasa baginya, dan ia masih sangat mengantuk.
Luhan menoleh ke jendela. Pemandangan diluar terlihat menarik baginya.
.
.
#
.
.
"Ma-maafkan aku!"
Anak kecil itu menunduk dengan dalam. Ia terus-menerus meminta maaf dengan bahasa Korea dengan logat yang aneh. Setitik air menetes di sebelah mata kirinya. Ia benar-benar merasa menyesal. Dan juga—takut.
"Maafkan aku, gege. Maaf—"
"Tegakkan tubuhmu."
Perintah itu terdengar datar, namun terdengar menyeramkan. Dengan takut-takut, anak itu menegakkan tubuhnya yang sedari tadi menunduk. Dihadapannya kini terdapat kakak sepupunya yang melipat tangan di dada. Lengkap dengan seragam sepak bola berwarna merah yang membalut tubuhnya yang kecil.
Tatapannya mengintimidasi.
"Ceritakan padaku, Yixing. Apa yang telah kau perbuat dengan benda kesayanganku ini?"
Kakaknya mengambil sebuah benda yang sedari tadi berada di bawah kakinya. Benda itu adalah bola sepak—yang sudah tidak berbentuk lagi dengan noda lumpur menghiasinya.
Yixing, anak kecil itu menggigit bibirnya. "Aku..."
Kakaknya menaikkan alis.
"A-aku bosan berada di rumah, Luhan-ge. Acara televisi semakin tidak menarik. Aku hanya ingin bermain bola—"
"Dan membiarkannya terlindas truk dan kau hanya diam saja?" potong kakaknya. "Ini jadwalku bertanding dengan kelas sebelah dan bola ini adalah bola keberuntunganku! Aku selalu menjaganya baik-baik, merawatnya, menyimpannya—oh! Kau seenaknya saja masuk ke kamarku tanpa bilang, huh? Lalu kau menghancurkannya! Kau—arrrgh!"
Kakaknya mengacak-acak rambut cokelatnya dengan kasar. Kemudian ia mengumpat dalam bahasa Korea yang memang kurang dikuasai oleh Yixing. Sehingga ia tidak mengerti. Setidaknya, Yixing tidak tahu kata-kata menyakitkan apa yang dilontarkan kakaknya.
Yixing hanya diam, bahkan tak berani menatap sang kakak yang mulai menjauh sembari menghentak-hentakkan kakinya.
.
.
#
.
.
Luhan terbangun ketika mendengar suara klakson yang lumayan keras.
Lagi-lagi Kai menyalip seenaknya.
Ia mengerjapkan matanya. Apa ia sempat tertidur?
Luhan menggigit bibir, ketika ia mengingat mimpi ditidurnya yang singkat itu. Kejadian tujuh tahun yang lalu.
Luhan menerawang. Membayangkan sosok bertubuh kecil, ramping dan terlihat lemah milik adik sepupunya itu, Yixing. Yixing yang tidak pernah marah, Yixing yang jarang bicara, Yixing yang penurut, Yixing yang mempunyai senyuman tipis yang khas.
—Yixing yang selalu ia jahati.
Luhan tidak pernah merasa semenyesal ini.
.
.
"Kenapa berhenti disini?"
Pertanyaan Baekhyun menarik kembali pikiran Luhan yang sempat melalang-buana kembali ke alam sadar. Sejenak, ia mengamati sang penanya, dan kemudian meluruskan pandangannya ke depan.
Gedung museum terletak kurang lebih 20 meter dihadapan mereka.
Keheningan kembali melanda. Luhan mengamati dua orang yang duduk didepan. Kai tengah mengetuk jemarinya dengan stir mobil, dahinya dikerutkan. Seperti sedang menunggu sesuatu. Disampingnya, Chanyeol juga terdiam sambil memainkan gadgetnya. Lengkap dengan headset dikedua telinganya.
.
.
"Kris?"
"..."
"Ya! Kami menunggu kalian disini!"
"..."
"Apa?"
"..."
"Kenapa tidak kau saja yang melakukannya?"
"..."
"Okay, okay. Aku hanya bercanda, Duizhang. Semoga harimu menyenangkan!"
"Apa?" tanya Kai, nada suaranya terdengar tidak sabar.
"Kris bilang, kita masuk duluan," jelas Chanyeol.
"Tidak ada perintah lain?"
"Belum."
"Dia gila? Lalu bagaimana kita bekerja jika tidak ada perintah?"
"Tenang, tenang," Chanyeol menepuk bahu Kai. "Kris sudah mengatur semuanya. Ia sudah bekerja sama dengan pihak museum. Kita hanya menjalankan sisanya sampai rombongan mereka muncul."
"Si Naga itu," desah Kai sembari kembali menginjak pedal gas mobil.
Perlahan namun pasti, mobil mewah itu memasuki halaman parkir yang telah disediakan pihak museum. Suasana sekitar masih sepi, bahkan hanya mobil mereka yang parkir disitu. Mengingat ini masih sangat pagi.
Kai mematikan mesin mobil.
"Luhan-ssi, Baekhyun-ssi. Dengarkan aku."
Serta-merta kedua orang itu memasang telinga mereka baik-baik. Meskipun Baekhyun masih sedikit kesal karena Kai tidak memanggil nama mereka dengan embel-embel 'hyung'.
"Aku tidak tahu apakah kalian sudah mengetahui fakta ini atau belum. Tapi yang jelas, kalian sudah 'terkenal' sekarang."
Baik Baekhyun maupun Luhan mulai mempunyai pikiran masing-masing.
"Tentu kau sudah pernah membaca sekilas tentang artikel keluargamu dikoran bukan, Luhan-ssi?"
"Ya."
"Sayangnya tidak hanya koran itu yang menyebarkan beritanya. Di media cetak lain, bahkan televisi dan radio mulai tersebar tentang kejadian yang menimpa keluargamu, dan namamu juga ikut terseret."
Suasana kembali hening.
"Kau juga, Baekhyun-ssi."
Mata Baekhyun membesar, "aku?"
"Ketidakhadiran kau dan Luhan selama hampir seminggu di universitas tentunya semakin membuat orang bertanya-tanya. Bahkan ada suatu forum yang menyebutkan, kemungkinan kau, Luhan-ssi, menculik hoobae mu sendiri."
Luhan mengangkat alis.
"Jadi—" Kai berbalik, ia mengambil dua bungkusan-entah-darimana dan melemparnya ke kedua orang itu.
Luhan dan Baekhyun dengan tangkas menangkapnya. Mereka berdua mengintip sedikit isi bungkusan itu, dan Baekhyun-lah yang pertama kali menyadarinya.
"Hah?"
"Ya." Kai mengangguk. "Kalian harus menyamar."
.
.
#
.
.
Baekhyun menyikut orang disampingnya, "Hey, hyung."
"Apa?"
"Apakah pernah selama kita saling mengenal, aku menyebutmu tampan?"
"Tampan?" Luhan mengerutkan alis. "Entahlah, memangnya kenapa?"
Baekhyun memandanginya, lengkap dengan mata berbinar-binar. "Kau tampan sekali, hyung~"
"Err—terimakasih?"
Luhan menggaruk tengkuknya. Meskipun sudah sangat lama mengenal Baekhyun, tapi tingkahnya masih membuat Luhan geleng-geleng kepala. Yang benar saja, yang dipakainya hanya wig berwarna burgundy—membuatnya hampir mengumpat lantaran terasa gatal dikepala—dengan model cepak. Berbeda dengan rambut aslinya berwarna karamel dan ikal. Lengkap dengan soft lens berwarna abu-abu dimatanya.
"Kacamata ini boleh juga. Hei, Kai! Kacamata ini untukku saja, ya?" Baekhyun mengacungkan kacamata besar berbingkai hitam.
"Terserah," jawab Kai.
Luhan memperhatikan Baekhyun. Oh, hoobae-nya itu terlihat lebih muda dengan rambut blonde lurus dan kacamata besar yang menutupi hampir separuh wajahnya.
"Bawa ini," Chanyeol menyerahkan sebuah wireless kecil, "untuk berkomunikasi."
Tanpa banyak tanya, Luhan dan Baekhyun memakai wireless itu ditelinga mereka, yang sudah terlebih dahulu di setting.
"Test. Test," suara Baekhyun terdengar jelas ditelinga Luhan. Jernih. Mungkin karena jarak mereka dekat.
Luhan membenarkan letak benda kecil itu di telinga kanannya, hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Hei, kalian bilang ini semua untuk menyamar, kan? Tapi, apa tidak mencolok dengan warna wig seperti ini?" Tanyanya sembari mengusap rambut (wig) belakangnya.
"Yah, kau seperti tidak tahu Korea saja," cibir Chanyeol. "Paling-paling kalian dikira trainee yang akan debut, lalu mengganti model rambut yang mencolok agar mudah dikenal."
Luhan menaikkan alis. Memang perkataan Chanyeol itu masuk akal. Tapi—trainee? Yang benar saja!
"Mudah dikenal? Lalu apa gunanya penyamaran ini?" tukas Baekhyun.
"Yang terpenting adalah, wajah kalian jangan sampai tertangkap CCTV," ujar Kai. "Sekarang, tekhnologi sudah canggih. Mereka akan mudah mendeteksi wajah seseorang dengan CCTV. Hindari CCTV, dan jika bisa berdiri tepat dibawahnya agar tidak terkena sorot kamera. Atau jika terdesak, waktu maksimal kalian adalah 5 detik untuk menjauhi benda itu jika wajah kalian terlanjur tertangkap kamera. Kacamata dan soft lens yang kalian pakai, gunanya untuk mengurangi resiko dan hal-hal yang tidak diinginkan."
Permainan psikologi, huh? Melindungi diri dari bahaya dengan cara mendekatkan diri sendiri ke bahaya tersebut? Pikir Luhan.
Ia dan Baekhyun mendengarkan dengan seksama. Meski samar, Luhan dapat mendengar Baekhyun menelan air liurnya sendiri.
"Lalu, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan kami terpisah dari rombongan kalian, apa yang harus kami lakukan?"
Kai mengerutkan kening mendengar pertanyaan Luhan, seperti tengah berpikir.
"Apa kalian memakai sneakers pemberian dari Kris?"
"Ya."
"Disitu terdapat GPS, kami bisa melacak kalian dari situ. Jika kalian butuh pertolongan, injak jempol kaki di sepatu sebelah kanan. Disana ada tombol darurat yang terhubung langsung dengan 'alarm' kami."
"Wow," seru Baekhyun. "Aku tidak menyangka persiapan kalian sematang ini."
"Tentu saja. Jika tidak matang, maka kemungkinan gagal akan lebih besar," Chanyeol tersenyum dengan bangga. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
Sementara Luhan diam-diam melirik sepasang sepatu yang melekat dikakinya. Berwarna hitam dengan corak sederhana dan tali putih. Benar-benar tipikal sepatu sederhana.
Ya, sederhana. Dan itu adalah sepatu biasa.
.
.
Hari semakin siang, dan satu-persatu mobil-mobil turis mulai berdatangan dan parkir di tempat parkir museum. Menurut Kai, mengingat ini adalah hari libur, maka tak heran jika banyak yang berkunjung disini.
Jangan salahkan Luhan jika sekarang ia lupa dengan hari. Ia saja sudah lupa berapa lama ia 'ditahan' oleh Kris dan kawan-kawannya.
Kemudian matanya—yang kini terbalut kontak lens abu-abu—menangkap sebuah motor sport berwarna merah metalik memasuki pekarangan parkir, dan berhenti tak jauh dari mobil yang ia tumpangi.
Dari postur tubuhnya yang tegap dan tinggi, Luhan yakin pengendara motor itu adalah seorang pemuda. Meski ia sama sekali tidak mengenal pemuda tersebut. Terlebih, pemuda itu membelakangi arah pandang Luhan.
Pengendara tersebut melepas helm dan jaket kulit yang melekat padanya. Rambutnya yang berantakan ia biarkan, dan memilih untuk menyimpan jaketnya dengan rapi.
Luhan mengerutkan kening. Model rambut macam apa itu?
Berwarna cream dengan sentuhan hitam dan merah muda diatasnya.
"Jadi begitu rupanya," Luhan dapat mendengar Kai menggumam. Dan bahkan Luhan dapat 'merasakan' Kai menyeringai, meski tak terlihat olehnya.
Di sebelahnya, Chanyeol mengikuti arah pandang Kai, dan kemudian tersenyum lebar. "Maknae kita sudah besar, eh?"
Luhan melirik Chanyeol, tidak paham apa yang dimaksud pemuda jangkung tersebut. Baru detik sebelahnya, ia mengerti apa yang dibicarakan Chanyeol dan Kai ketika pemuda pengendara motor sport tersebut memperlihatkan sisi kiri wajahnya.
Itu Sehun.
"Itu Sehun kan?" Tanya Baekhyun, yang kelihatannya baru menyadari situasi di sekitarnya. "Kenapa ia tidak ke sini dan menyapa kita?"
Tidak ada yang menjawab.
Luhan memperhatikan setiap inci pergerakan Sehun. Sehun tidak sama sekali menatap mobil mereka. Walaupun, Luhan yakin, Sehun pasti mengetahui keberadaan mereka, mengingat jarak mobil dan motor Sehun tidak sampai sepuluh meter.
Sengaja, mungkin?
Sehun berjalan dengan tegap menuju museum dihadapannya. Ia mengalungi kamera SLR di lehernya dengan baju santai, seolah-olah ia adalah turis yang akan mengabadikan momen-momen di dalam museum tersebut.
Namun, sebelum Sehun memasuki gedung museum, secara tiba-tiba ia berbalik menghadap mobil mereka, dan mengambil gambar dengan flash sejumlah dua kali. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju museum.
"Itu kodenya," kata Chanyeol, setelah melihat kilatan flash Sehun yang tepat ke arah pandangannya.
Kai mengangguk. "Dua menit, dari sekarang."
Seketika berbunyi 'pip', dan muncul stopwatch di layar plasma untuk pemutar media. Angka yang tertera menunjukkan waktu dua menit yang dihitung mundur.
'Apa lagi yang mereka punya selain sensor pengaman, wireless, dan pendeteksi suara?' Pikir Luhan, tanpa sadar mengerutkan kening.
Luhan memperhatikan detik demi detik yang berlalu oleh stopwatch dihadapannya. Dua menit terasa sangat lama jika ditunggu.
"Ayo, kita keluar," ucap Kai ketika waktu dua menit telah usai. Ia segera mematikan mesin mobil dan membuka kunci pintu. Diikuti Chanyeol yang segera mengantongi gadget miliknya ke kantong jaket.
"Ayo, hyung!" ajak Baekhyun.
Luhan menghela nafas sembari membuka pintu mobil. Perasaannya tak menentu saat ini.
.
.
Kedua mata Chanyeol mengamati dua orang—Luhan dan Baekhyun—yang baru saja keluar dari mobil dan menutup pintunya. Kemudian matanya beralih pada Kai yang langsung mengunci mobil ketika dua orang itu turun.
Wajah Kai saat ini terlihat datar. Nyaris tak ada ekspresi apapun yang tergambar disana. Tapi, jika diamati lebih seksama lagi, maka akan kau temukan sepasang mata yang nyaris hampa.
Kai berjalan di depan, memimpin rombongan. Dan dengan cepat Chanyeol menyusulnya dan mensejajarkan dirinya dengan langkah Kai yang agak tergesa. Walaupun dirinya bertubuh tinggi, namun tinggi Kai tak jauh berbeda dengannya, jadi tidak sulit saat mereka saling berdampingan.
Ia menepuk pelan bahu pemuda yang lebih muda darinya. Sebagai respon, Kai menoleh dengan tatapan bertanya, namun tak bersuara.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Kita hanya butuh waktu," ujar Chanyeol, sembari memperlihatkan senyumannya yang khas.
Kai tidak balas tersenyum, tapi ia mengangguk. "Ya, ku harap juga begitu," jawabnya pelan. "Ayo, suruh mereka jalan lebih cepat," kemudian Kai kembali berjalan di depan.
Chanyeol menghela nafas lega, setidaknya ia tahu, Kai adalah orang yang profesional.
"Hei, kalian! Cepatlah!" Panggil Chanyeol pada dua orang yang berjalan di belakangnya, Luhan dan Baekhyun.
"Cerewet," desis Baekhyun. Chanyeol hanya membalasnya dengan senyuman usil.
.
.
Tidak ada yang istimewa dalam museum itu. Ya, hanya gedung megah yang tua dengan sejumlah besar benda-benda artistik yang bersejarah tersimpan dengan rapi di dalamnya.
Luhan mengamati jam digital yang melingkar di pergelangan kirinya. Tertera disitu; 09:20 AM.
Keadaan disekitarnya cukup ramai. Banyak turis-turis domestik maupun mancanegara ada di museum itu. Mungkin karena hari ini adalah hari libur, pengunjungnya juga ramai.
Ia mengamati benda-benda artistik di sekelilingnya dengan tanpa minat. Ya, ia bukanlah orang yang pernah bercita-cita menjadi arkeolog, ataupun orang yang menyukai pelajaran sejarah. Bahkan, dulu ia sering tertidur saat pelajaran sejarah.
Melalu ekor matanya, ia bisa melihat Baekhyun yang kini sedang mengajak berbicara gadis berkebangsaan Inggris—Luhan menarik kesimpulan karena gadis itu berkulit putih pucat dan berambut pirang—dengan agak tergagap. Rasanya Luhan ingin tertawa jahil dan menggoda Baekhyun di hadapan sang gadis. Seingatnya, Baekhyun cukup baik dalam pelajaran bahasa inggris, namun ia bermasalah dalam pengucapannya. Baekhyun juga sering gugup jika diajak bicara oleh wanita. Ah, hoobae-nya itu benar-benar—
Tapi itu tidak mungkin terjadi. Dia tidak ingin merusak salah satu rencana Kai, yaitu 'bersikaplah seolah tidak mengenal satu sama lain. Jika ingin berkomunikasi, lakukan dengan wireless.'
Baekhyun tampak terlihat tidak nyaman. Terbukti dari caranya hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan dari gadis itu. Oh, bahkan Luhan baru menyadari bahwa gadis itu sedikit lebih tinggi dari Baekhyun.
Akhirnya Baekhyun bisa menghindari gadis itu, dan berjalan tak menentu arah, seolah takut di kejar. Tentunya Baekhyun tak memperhatikan lagi kemana ia melangkah, karena ia sibuk menghindar dari sang gadis.
Luhan membulatkan matanya ketika menyadari kemana Baekhyun pergi. Ia langsung menyalakan sambungan wireless-nya.
"Awas!" desisnya pelan, namun ia yakin Baekhyun dapat mendengar suaranya melalui wireless yang terpasang di telinganya.
Benar saja, Baekhyun serta-merta menghentikan langkahnya. Sontak, ia melihat ke atas dan baru menyadari bahwa ada CCTV disana. Dengan segera Baekhyun menjauhinya dan memberi tanda 'peace' di tangannya ke arah Luhan sembari nyengir tak enak selama sepersekian detik. Lalu Baekhyun kembali memasang wajah normalnya, seolah tidak mengenal Luhan dan tidak terjadi apa-apa.
Luhan menghela nafas. Nyaris saja.
"Ada apa?" Terdengar suara berat di telinga Luhan. Itu Chanyeol. Wireless itu memang bisa terhubung langsung dengan beberapa orang.
"Tidak, tidak apa-apa," jawab Luhan setengah berbisik. Tidak lucu bukan jika orang-orang melihatnya (seolah) berbicara sendiri? "Tadi Baekhyun hampir menyenggol guci keramik Cina yang besar, makanya aku agak berteriak. Maaf, ya."
Luhan yakin, Baekhyun mendengar alasannya pada Chanyeol. Heh, ia harus berterimakasih padanya nanti.
"Oh, anak itu benar-benar ceroboh. Awasi dia, ya."
"Siapa yang kau bilang 'anak', hah? Tidak sopan!"
Luhan menghela nafas berat. "Baekhyun-ah, jangan berteriak. Telingaku sakit."
"Ya, ya. Kalian bertiga sama-sama cantik. Jangan ribut disini. Berhati-hati dan waspada!"
Dan sambungan tiba-tiba terputus. Pasti Kai pelakunya. Luhan sempat geram dengan perkataan Kai yang terakhir. Ia mengejek, huh?
Luhan kembali melakukan kegiatannya, yaitu berjalan-sambil-melihat-lihat. Membosankan, memang. Karena memang tidak ada yang harus ia lakukan selain menghindari CCTV dan melaporkan kepada Kai ataupun Chanyeol jika ia melihat sesuatu yang janggal.
Ia sampai di balai tengah. Mirip seperti balai serba guna. Karena selain menyimpan barang-barang bersejarah, terdapat pula podium besar, mesin ATM, kantor tour guide dan tangga besar utama menuju lantai atas.
Luhan mengerutkan kening, balai itu terlihat lebih ramai dibandingkan ruangan lainnya, dan podium besar yang ada disitu dipasangi pita merah yang terlihat baru. Balai itu juga terdapat banyak bendera kebangsaan Korea-Selatan yang terpasang menyebar ke seluruh ruangan.
Apakah akan ada pertemuan disini?
Di kanan-kiri podium, di bagian atas, dipasangi lampion-lampion berukuran sedang, dengan hiasan perkamen emas panjang bercorak naga emas.
Luhan menggigit bibirnya gelisah. Pertemuan negara Cina - Korea Selatan? Di tempat ini? Untuk apa?
.
TBC
.
Maaf pendek DX sengaja saya potong di bagian ini karena inti cerita ada di chapter berikutnya.
Sempet kehilangan chemistry dan I got a writer block~ I got a writer block~ *nyanyi ala igab* ;A; jadinya agak (terlalu) lama meng updet fict ini._. Terimakasih dan maaf untuk yang masih setia nungguin *bow*
Yang mengirimi saya PM, silahkan cek balasan dari saya^^
Sign,
Mai
