Disclaimer : All characters are belongs to God, their parents, their agency, and themselves. But this fic is belong to me

Length : Chaptered

Warning(s) : Boys love, -maybe- typo(s), bahasa non-baku, AU, etc.

Cast : All EXO members and others.

Pairs : Official Couple and Crack Couple. Find them out with yourself!:)

.

Fallen © Mai Ravelia

.

Don't Like? Don't Read! I've warned you!

.

Enjoy!

.

Chapter 6

Luhan menggigit bibirnya, matanya menatap nanar pada pemandangan di hadapannya. Mungkin pertemuan antara Cina dan Korea Selatan sudah bukan hal yang asing lagi, namun kondisinya berbeda kali ini. Entah keyakinannya muncul darimana, namun instingnya mengatakan pertemuan kedua negara tersebut berkaitan dengan dirinya.

Mendadak dirinya gelisah.

Bagaimana jika semua ini memang menyangkut dirinya? Bagaimana jika pertemuan ini membahas tentang tuntutan hukum bagi keluarganya dan dirinya, termasuk Baekhyun juga akan dijebloskan dalam penjara?

Tidak ada yang mustahil kan?

Luhan segera beringsut dari tempat itu, berusaha untuk bersikap biasa-saja-seolah-tidak-terjadi-apa-apa dan mulai menyalakan sambungan wireless ditelinganya.

"Kai, Chanyeol, Baekhyun, siapapun diantara kalian, jawab aku," desisnya pelan sembari berjalan melewati kerumunan orang-orang yang mulai berdatangan ke museum.

Tidak ada jawaban. Bahkan suara cempreng Baekhyun pun tak terdengar.

Luhan tak menyerah, "Hey!"

"Apa lagi?"

Itu suara Kai. Walaupun sebenarnya Luhan lebih mengharapkan respon dari Chanyeol, karena baginya, Kai benar-benar menyebalkan.

"Aku baru saja dari Balai—"

"Oh, jadi kau sudah tahu."

Luhan menggeram, "Ada berapa banyak hal yang kalian sembunyikan padaku?"

"Tidak perlu kau pikirkan," balas Kai. "Ingat, kau hanya perlu bersikap biasa dan melaporkan hal-hal yang membuatmu bingung."

"Tapi ini semua membuatku bing—hei!" Luhan berdecak kesal ketika Kai lagi-lagi memutuskan sambungan seenaknya.

Luhan bersandar pada dinding di belakangnya, kemudian mengacak rambut—wig—belakangnya dengan agak kasar. Ini semua membuatnya lelah dan ia tak tahu harus berbuat apa lagi.

Melalu ekor matanya, Luhan dapat menangkap flash kamera yang mulai memenuhi Balai Serbaguna atau Balai Tengah. Mungkin wartawan mulai berdatangan, pikirnya ketika melihat banyaknya jumlah mobil yang terus berdatangan dan terparkir rapi di halaman.

Penasaran, Luhan melangkah menuju Balai Tengah dan ia bisa melihat kerumunan manusia yang mulai memadati pertemuan tersebut.

Luhan dapat menangkap sosok familiar bertubuh tinggi dengan topi kupluk berwarna cream yang turut mengambil gambar dengan flash dari kamera SLR miliknya, yang berdiri membelakangi Luhan.

Oh, itu Sehun, pikirnya.

Tetapi Luhan melihat sedikit keanehan. Sehun sepertinya tidak berniat mengambil gambar pertemuan yang terjadi di depan matanya. Tapi Sehun terus mengambil gambar di sudut-sudut ruangan. Atas-bawah-kiri-kanan. Benda-benda di ruangan itu tak luput juga dari kameranya. Sebelumnya ia terlihat memfokuskan kameranya beberapa saat, lalu mengambil gambar. Walaupun Sehun sempat mengambil gambar para pejabat yang mulai berdatangan, namun Luhan yakin itu hanya alibi.

'Itu bukan kamera biasa,' ucap Luhan dalam hati. Ia yakin masih banyak benda-benda aneh yang dimiliki mereka.

"Kau tahu? Lengah sedikit saja kau bisa mati."

Luhan sedikit terlonjak ketika suara berat itu terasa menusuk pendengarannya. Benar-benar menyebalkan.

"Berhenti mengagetkanku!"

"Hei, harusnya kau berterimakasih padaku karena telah memperingatimu, Luhan-ssi, atau harus ku panggil Luhan-hyung?"

"Apa maumu?"

"Apa? Aku hanya memperingatimu. Kau sadar tidak, kalau kau sedang membahayakan dirimu sendiri? Berdiri mematung seperti orang bodoh memperhatikan rekanku bekerja."

Baiklah, Kai memang benar.

"Aku hanya penasaran mengapa rekanmu itu hanya mengambil gambar pada sudut-sudut ruangan, bukan pertemuan langka yang ada di hadapannya."

"Oh, aku tidak tahu kalau kau ternyata memperhatikan hal sedetail itu. Dan rekanku itu punya nama, Sehun, kalau kau lupa."

"Dengar, Kai. Terimakasih telah memperingatkanku. Kita tidak bisa berbicara lebih panjang lagi karena banyak pasang mata yang menatapku aneh."

"Kau saja yang tidak profesional. Baiklah, tetap waspada dan ingat! I'm-watching-you!"

"What the—" Luhan menggertakan giginya kesal karena untuk kedua kalinya Kai mematikan sambungan seenaknya. Dan apa-apaan kalimatnya yang terakhir tadi?

'I'm watching you.'

Yah, tentu saja. Tidak mungkin mereka melepaskan dirinya dan Baekhyun tanpa pengawasan. Bodoh, harusnya ia menyadari hal itu kan?

Kini Luhan harus memutuskan. Keluar dari kerumunan manusia sebanyak ini atau bertahan dan melihat pertemuan kedua negara tersebut?

Oh, ia bisa tidur berdiri nanti.

Tubuhnya yang tergolong mungil memudahkannya menyelip diantara kerumunan orang-orang yang ramai berdatangan. Tapi, tentu saja kecelakaan kecil tak dapat dihindari.

Luhan merasakan sebuah flash sedikit membutakan matanya, ia memejamkan matanya sejenak dan tetap berjalan, dan secara tak sengaja menginjak kaki seseorang.

"Ah, maafkan aku," ucap Luhan seraya sedikit menundukkan kepalanya.

Pemuda yang terinjak olehnya terlihat sedikit kaget, namun kemudian tersenyum ramah, "Tidak apa-apa."

Sementara Luhan terpaku sejenak, dan membalas senyuman pemuda itu sekilas, kemudian pergi dengan beberapa pertanyaan di kepalanya.

.

#

.

Baekhyun lebih memilih melihat-lihat koleksi yang berada dalam museum. Sambungan wireless di telinganya sengaja dimatikan, karena ia tak mau terganggu oleh percakapan-percakapan yang menurutnya tidak penting.

Mata sipitnya memandang kagum pada beragam macam revolver yang ada di hadapannya. Dari dulu, Baekhyun sangat ingin mencoba memakai senjata tersebut, dan sampai saat ini, ia sudah cukup puas dengan pistol yang biasa dimainkannya di game centre.

Kemudian ia memandang ke sekelilingnya, sepi.

Baekhyun rasa, ia telah memasuki arena dalam museum. Ia sempat mendengar percakapan Luhan dan Kai, bahwa ada pertemuan antara dua negara besar Cina dan Korea Selatan di Balai Tengah. Otomatis, orang-orang yang datang tadi lebih tertarik melihat pertemuan kedua negara tersebut dibandingkan melihat-lihat isi museum, yang notabene tidak berubah.

Entah kenapa, Baekhyun merasa was-was.

Tidak ada seorang pun di ruangan itu selain dirinya. Dinginnya AC juga semakin menusuk kulitnya. Baekhyun tidak takut terhadap mitos tentang hantu atau sebagainya, namun kali ini berbeda.

Terasa, mencekam?

Baekhyun sendiri tidak bisa mendeskripsikannya.

Pandangannya menjalar ke setiap ruangan. Ada dua CCTV di ruangan tersebut, di bawah salah satu CCTV Baekhyun dapat melihat sekilas sinar merah tipis yang menjalar di lantai.

'Sensor gerak?' tanyanya dalam hati.

Selangkah demi selangkah, Baekhyun mencoba untuk tenang dan berjalan mencari jalan keluar. Ia merasa langkahnya tidah menghentak-hentak, tapi, mengapa bergema?

Baekhyun berhenti melangkah.

Namun suara langkah itu masih terdengar olehnya.

Itu jelas bukan gema.

'Siapa itu?' bisiknya pada diri sendiri.

Piip. Piip.

Ia bisa merasakan sambungan wireless-nya berbunyi dan berkedip. Tapi Baekhyun mengacuhkannya. Ia masih berkonsentrasi dengan suara langkah yang tertangkap oleh pendengarannya.

Semakin mendekat.

Instingnya berteriak untuk menjauh.

Baekhyun segera menjauh dari ruangan itu dan sebisa mungkin untuk meminimalisir suara yang di keluarkannya.

Ia bisa melihat CCTV di pojok kanan atas tengah menyorot dirinya.

"Sial!" Baekhyun langsung menghindari CCTV, dan naas, ia tidak memperhatikan langkahnya yang mengenai sensor gerak infra merah.

TET. TET.

Kemudian langkah-langkah yang tadi ia dengar berubah menjadi derap langkah.

"Oh, great. Ini jebakan."

Dalam adegan beberapa film action yang pernah ia tonton, hal yang harus dia lakukan saat ini adalah berkepala dingin. Tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan. Jika ia berlari, tentu ia akan semakin dikejar karena suara derap langkahnya yang akan menggema.

Baekhyun menyelinap ke ruangan samping, tempat perhiasan-perhiasan rampasan perang pada jaman dahulu, dan bersembunyi di salah satu sisi rak penyimpanan.

Untuk sementara, hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia tidak memegang senjata apapun saat ini.

Baekhyun bisa mendengar derap-derap langkah yang mulai mendekat di ruangan tadi yang ia tinggali.

"Dimana dia?"

"Aku yakin tadi ia ada disini."

Baekhyun mulai memejamkan matanya dan menghitung. Ia bisa mendengar empat suara yang berbeda di ruangan samping.

"Cepat cari!"

Sebuah suara memberi perintah kepada yang lainnya, kemudian disusul derap langkah kaki yang semakin mendekat. Baekhyun dapat melihat bayangan orang-orang yang mencarinya melewati ruangan perhiasan tanpa menyadari keberadaan dirinya.

Perlahan, Baekhyun beringsut keluar dari tempat persembunyiannya dan kembali memejamkan matanya. Ia berusaha mengenali derap langkah dan suara-suara orang-orang yang tak dikenalnya itu.

"Satu..."

Ia mengerutkan keningnya.

"Dua..."

Ia masih berusaha menghitung.

"Tiga..."

Baekhyun sontak membuka lebar kedua matanya.

"Sial! Dimana yang satu lagi?

Baekhyun merasakan nafas hangat yang begitu dekat dengan lehernya.

"Mencariku, tikus kecil?"

.

.

.

"Siapa yang kau panggil tikus kecil?"

Tanya Baekhyun, ia memberikan seringaiannya pada seseorang-entah-siapa yang berada di belakangnya. Seringaian itu akan tampak dari samping dan ia yakin orang itu bisa melihatnya.

"Siapa? Tentu saja itu kau. Bersembunyi ketika ada orang lain, lalu baru muncul dan mengendap-ngendap ketika sudah sepi."

Baekhyun dapat merasakan dingin dan runcingnya pisau belati yang ditempelkan di lehernya.

Diam-diam, ia melirik ujung sepatunya.

"Oh ya?" Balas Baekhyun. "Bukankah kau juga begitu? Bergerak tanpa suara seperti tikus yang akan mencuri, kemudian 'mencuri' kesempatan ketika orang lain tidak melihat?"

"Cih," Baekhyun dapat merasakan orang dibelakangnya merasa kesal. "Sekarang diam dan ikut aku!"

"Kalau aku tidak mau?"

Baekhyun dapat merasakan ujung pisau belati yang semakin menusuk lehernya. Ia menelan ludah.

"Maka aku akan menyayatmu dengan perlahan dan menyakitkan."

Sret.

"Ah!" Baekhyun sedikit menjerit ketika kulit lehernya terasa terkoyak. Orang ini tidak hanya menggertak rupanya.

Ia segera menyelengkat kaki orang di belakangnya dan menangkap pergelangan orang tersebut dan menggigitnya.

"Arrgh!"

Cengkraman pisau belati di leher Baekhyun terlepas dan ia segera memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur.

Ia kurang cepat, pergelangan kakinya di pegang erat dan diseret. Baekhyun jatuh terlentang dan punggungnya menghantam keras ke lantai.

"Ack!" Baekhyun mengaduh ketika merasa tulangnya retak. Belum selesai rasa terkejutnya, dadanya terasa tertekan dengan keras.

"How dare you, little brat?" Seru orang yang menginjaknya. Kilatan matanya penuh dengan amarah.

"Hhh..." Baekhyun tak dapat berkata-kata lantaran injakkan di dadanya semakin keras. Mata sipitnya melotot ketika sebuah sayatan pisau membelah daging di lengannya.

"ARGGGH!"

"Ya, teruslah berteriak, sayang. Keluarkan cicitanmu itu."

Baekhyun berusaha meronta, tapi ia tak cukup kuat karena tekanan di dadanya makin menjadi.

"Ada apa denganmu? Keluarkan suaramu seperti tadi, tikus kecil!"

Cleb.

"Arrrggh! AAAH!"

"Ya, benar seperti itu! Hahaha."

Orang itu tertawa puas, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Baekhyun pikir orang tersebut menyukai teriakkan kesakitan korbannya. Maka ia akan menahan teriakkan di mulutnya dengan menggigit bibir bawahnya, hingga berdarah.

Ia tetap merasakan sayatan-sayatan luar biasa menyakitkan di lengannya. Yang bisa ia lakukan hanya menggigit bibir dan sekali mengeluarkan nafas tersendat-sendat agar tak membuat orang itu merasa senang akan teriakannya.

"Nah!"

Baekhyun dapat merasakan sayatan di lengannya berhenti dan cairan yang mengalir di lengan kanannya. Ia yakin itu pasti darahnya. Baekhyun juga merasakan cairan bening mengalir melewati sebelah pelipis kirinya.

Sial! Kenapa pula dia harus menangis!

Orang di hadapannya menyeringai.

"Ah, karyaku selalu mengagumkan," lalu ia tertawa puas. Baekhyun melirik lengan kanannnya yang terluka. Luka tersebut membentuk pola tertentu. Pola yang rumit dan sulit untuk di kenali.

Orang itu menginjaknya lagi, kali ini lebih keras.

"Hhh... Hhh..."

"Hm? Kau bilang apa, tikus kecil?"

"Hhh... Hhh..."

Baekhyun baru merasakan betapa sulitnya untuk mengambil nafas. Tekanan di dadanya semakin keras dan seakan menekan jalur pernapasannya.

Orang yang menginjaknya itu menyeringai. Baekhyun akui orang itu terlihat muda dan tampan, jauh dari ekspetasinya selama ini. Tapi bukan itu poin utamanya.

"Jadi—" orang itu membuka suara, "ada permintaan terakhir?"

Baekhyun tidak menyadari sejak kapan ada sebuah moncong pistol yang tertempel di dahinya. Dinginnya lantai museum dan moncong pistol seakan-akan membuat darahnya beku.

Ia mengerling ke samping, dan tersenyum kecil.

"A...da," ujarnya terbata-bata.

Orang yang menginjaknya menaikkan alis.

"J...jangan lengah, dasar b...bodoh!"

"Ap—"

DUK!

Orang itu tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba ia mendapat pukulan telak di belakang leher dan sebuah tonjokkan di perutnya. Baekhyun dapat merasakan lega pada pernapasannya ketika orang yang menginjaknya seketika jatuh terlungkup tak sadarkan diri di sampingnya.

"Hah... Hah... Uhuk!" Baekhyun terbatuk-batuk keras sembari mencoba bangun, walaupun seluruh tubuhnya kini terasa kaku.

"Kau tidak apa-apa?"

Sebuah suara bertanya. Baekhyun melirik orang yang telah membantunya, yang kini bertumpu di sampingnya.

"Kau terlambat," jawabnya.

Chanyeol memamerkan deretan giginya, "Tidak, kurasa aku datang tepat waktu," sergahnya. Ia membantu lelaki yang lebih pendek darinya untuk bangun dengan perlahan.

Akhirnya Baekhyun dapat berdiri, walaupun beberapa detik yang lalu kakinya terasa gemetar dan mati rasa. Ia melirik orang yang tak sadarkan diri di hadapannya.

"Apa dia anggota Baem?" tanya Baekhyun.

Chanyeol tak langsung menjawab. Dengan perlahan ia mendekati musuh yang tak sadarkan diri di lantai lalu bertumpu di sampingnya. Tangannya terjulur dan menyingkap kerah kemeja yang di pakai orang tersebut dan menunjukkan pada Baekhyun sebuah tato lambang organisasi Baem berbentuk huruf 'B' dengan font Cloister Black dengan ular melilit di sekelilingnya. Di bawah lambang tersebut terdapat huruf 'L' yang dicetak dengan font yang sama.

"Ya, dia salah satu dari mereka. Dia Eru, atau L, salah satu yang di antara mereka. Kau beruntung tidak dibunuhnya. Dia adalah seorang masokis yang juga suka menyiksa korbannya sebelum—"

"Sebelum?" tanya Baekhyun.

"Kau—apa yang dia lakukan padamu? Kau terluka? Kau disakitinya?"

"Aku hanya—"

Chanyeol melebarkan matanya dan seketika ia baru menyadari bahwa kaus bagian pinggang kanan Baekhyun terdapat warna yang tak lazim. Ia segera menarik pergelangan Baekhyun dan mendapatkan jawabannya.

"Ah!"

"Astaga, Baekkie-hyung. Kau terluka!"

Baekhyun menunduk menahan sakit, "Tidak apa-apa, ini hanya—"

"Hanya apa? Tersayat pisau dengan luka membentuk pola tertentu dan akan menghabiskan persediaan darah di tubuhmu?"

Baekhyun mengamati luka di lengannya yang membentuk pola tertentu. Pola huruf 'L' yang sama dengan tattoo yang ada di leher L.

"Tenanglah, Chanyeol," sela Baekhyun. "Ini memang bukan kecil, tapi akan segera sembuh jika diobati."

"Baiklah, kita akan kembali ke mobil untuk mengobati lukamu. Aku membawa alkohol dan perban disana. Dan pastikan darahmu tidak tercecer di lantai atau kau ingin kita diikuti oleh teman-teman L."

Chanyeol membantu Baekhyun berdiri dan bersiap memapah Baekhyun untuk berjalan. Sebelum pandangan Baekhyun tertuju pada 'L' yang masih tidak sadarkan diri.

"Apa dia mati?"

"Tidak," jawab Chanyeol. "Membunuh bukanlah bagianku."

"Lalu kau bagian apa?"

"Hacker. Suho-hyung bilang aku juga bagian 'penyemangat'. Aku tidak menyukai sebutan itu karena aku langsung membayangkan diriku menjadi salah satu anggota cheerleaders."

"Aku lebih setuju pada Suho-hyung dibandingkan pernyataan pertamamu."

Chanyeol mendelik dan mendapati Baekhyun tersenyum menyebalkan. Ia tak membalas perkataan Baekhyun dan mulai memapah lelaki yang lebih mungil darinya dan berjalan perlahan.

Baekhyun sendiri berpegangan erat pada lengan jaket Chanyeol. Berusaha mengabaikan kepalanya yang sedari tadi terasa berat dan berkunang-kunang.

.

.

Mereka melewati jalan pintas menuju parkiran, melewati lorong-lorong sepi sehingga tidak menarik perhatian orang lain.

Parkiran tampak ramai, tapi tak sulit bagi Chanyeol untuk menuju mobil mereka karena terparkir di tempat strategis dan teduh di bawah pohon rindang. Ia dengan perlahan membawa Baekhyun ke kursi penumpang dan mendudukkannya.

"Tunggu sebentar," perintahya.

Baekhyun hanya diam tanpa merespon. Matanya memperhatikan gerak-gerak pemuda jangkung di sebelahnya yang sibuk mencari sesuatu di dalam sebuah tas besar.

"Nah, ini dia," ujarnya senang ketika akhirnya menemukan kotak obat. Sebelum itu, ia menggunakan sarung tangan dan mulai mengeluarkan alkohol dan sebuah kapas.

"Kau yakin bisa melakukan hal ini?" tanya Baekhyun.

"Tentu saja," jawab Chanyeol. "Aku cukup berpengalaman dalam hal ini. Sekarang, tahan sebentar karena ini akan agak menyakitkan."

Baekhyun memutar kedua bola matanya. Tanpa dibilang pun ia juga tahu.

"Berikan tanganmu."

Baekhyun mengulurkan tangannya dan perlahan Chanyeol menerimanya dengan sedikit menelan ludah, melihat luka di lengan Baekhyun.

Dengan hati-hati, Chanyeol mengusapkan kapas yang telah diberi sedikit alkohol ke luka di tangan Baekhyun. Ia dapat merasakan Baekhyun sedikit terlonjak ketika sentuhan pertama. Tapi kemudian ia kembali rileks.

Baekhyun memperhatikan gerak-gerik Chanyeol yang terlihat sangat hati-hati membersihkan lukanya. Baekhyun kembali menggigit bibir, menahan sensasi 'menggigit' dari alkohol yang bertemu dengan lukanya.

"Jangan ditahan, keluarkan saja. Itu akan mengurangi sakitnya."

Suara bass Chanyeol—yang kontras sekali dengan wajahnya—mengagetkan Baekhyun. Chanyeol berbicara tanpa mengalihkan pandangan dari lukanya.

"Sshh..." Baekhyun mendesis menahan sakit. Walaupun ia merasa sangat sakit, ia tak mungkin berteriak-teriak seperti seorang gadis. Sesekali Baekhyun mendesis karena kepalanya semakin terasa berat dan berkunang-kunang.

Setelah membersihkan luka Baekhyun, Chanyeol mengeluarkan perban dari kotak obat dan mulai membalut luka Baekhyun dengan hati-hati. Hasilnya memang tidak begitu rapi, tapi Chanyeol sudah cukup puas. Setidaknya luka itu tertutup dan tidak ada celah terbuka.

"Hei, tanganmu sudah—"

Chanyeol tidak melanjutkan perkataannya ketika melihat Baekhyun sudah terlelap. Wajahnya yang putih terlihat semakin pucat, apalagi ditampah wig blonde di kepalanya, membuat Baekhyun terlihat seperti pengidap albino.

Baru saja Chanyeol ingin memutuskan menemani Baekhyun di mobil, wireless di telinganya berkedip-kedip dan berbunyi 'pip'. Ia segera menyalakan sambungan tersebut dan berbicara dengan pelan.

"Ya?"

"..."

Chanyeol melebarkan matanya. Ia segera menghidupkan mesin mobil dan menyalakan pendingin. Kemudian ia keluar dan menutup pintu mobil dengan hati-hati. Ia mengusap spion kiri mobilnya dan memasukkan telunjuknya pada pendeteksi sidik jari tersembunyi di spion tersebut. Setelah selesai memeriksa sidik jari, Chanyeol pura-pura merapihkan rambutnya di kaca spion sembari berkata,

"Lock."

Dan pintu mobil otomatis terkunci meskipun ia meninggalkan kuncinya di dalam. Itu adalah caranya untuk mengunci pintu mobil agar tidak menarik perhatian- orang-orang disekitarnya. Chanyeol segera berlari kecil menuju museum yang semakin ramai pengunjungnya.

.

#

.

.

"Kris dan Suho sudah datang."

Luhan membenarkan letak wireless di telinganya sembari mengangguk singkat, meskipun ia tahu itu percuma karena Kai tidak akan melihatnya mengangguk.

"Baekhyun sangat sulit kuhubungi, apa kau bersamanya?"

"Tidak," jawab Kai. "Chanyeol juga sulit untuk ku hubungi. Sial! Mereka berdua seperti tertelan bumi!"

"Ku harap tidak terjadi apa-apa,"

"Chanyeol bisa menjaga dirinya sendiri. Meski postur tubuhnya menyulitkan dia untuk bersembunyi. Kau harus mengkhawatirkan dongsaeng-mu yang suka bertindak ceroboh itu."

"Belajarlah untuk bersopan-santun dan menjaga omonganmu, Kai. Dongsaeng-ku tetap lebih tua darimu."

"Yah, terserah."

Pip.

Kali ini, Luhan yang lebih dulu memutuskan sambungan. Ia sedang tak ingin berdebat, terlebih berdebat dengan orang seperti Kai. Yang sepertinya menganggap nasihat yang diberikan padanya sebagai angin lalu.

Kris dan Suho sudah datang. Menurut Kai dan Chanyeol, dua orang yang sama-sama menduduki posisi sebagai leaders tersebut sedang menjalankan rencana terlebih dahulu, sebelum datang ke museum. Jika mereka sudah datang, maka rencana tersebut akan dimulai.

Pip. Pip.

Wireless-nya berbunyi lagi. Luhan menghela nafas kesal sebelum mengangkatnya.

"Ada apa lag—"

"Luhan-ssi, dengarkan baik-baik."

Luhan mengerutkan kening. Itu bukan suara menyebalkan milik Kai, tapi itu suara Kris.

"Kris? Ada apa?"

"Suasana di museum sedang berada dalam keadaan genting. Aku dan Suho baru saja tiba disini. Apa kau membawa senjata yang kemarin malam kuberikan?"

Luhan meraba saku celananya. Ya, pistol itu ada disana.

"Ya, aku membawanya."

"Bagus. Sekarang dengar! Jika kau dalam keadaan terdesak ataupun berbahaya, dan bertemu salah satu dari anggota mereka, kau bisa menggunakan senjata itu untuk melindungi diri. Jika terkena benda-benda di museum ini, biarkan saja. Aku yang akan mengurusnya. Kalau bisa jangan membunuh mereka, cukup melumpuhkannya saja. Aku tahu kau tidak akan mengacaukan hal ini, apa kau mengerti?"

Luhan menahan nafas. Apa ini artinya Kris mempercayai dirinya? Ingin sekali Luhan menolak 'perintah' Kris.

"Ya, akan ku usahakan."

Namun sistem sarafnya berlawanan dengan keinginan hatinya.

"Bagus. Sekarang pergilah ke Balai Tengah dan perhatikan gerak-gerik orang-orang yang berada di lantai atas. Jika mereka akan melakukan sesuatu, lumpuhkan mereka."

"Ya."

Dan sambungan terputus. Dengan segera Luhan berlari kembali menuju Balai Tengah yang telah ramai dipadati orang-orang.

Tubuhnya yang cukup kecil memudahkannya menyelinap di antara kerumunan orang-orang, meskipun ada beberapa mereka yang berdecak kesal karenanya.

Ia berhasil berdiri di bagian belakang tengah. Luhan berpikir, tempatnya berdiri cukup strategis untuk mengamati sekitar. Acara pertemuan itu rupanya sudah dimulai. Dan dari pembicaraan yang dikemukakan para petinggi kedua negara tersebut, hanya berisi tentang 'kerja sama', 'perdamaian', dan hal-hal lain yang menurut Luhan tidak terlalu penting.

Ia menghiraukan orang yang berdiri tepat disampingnya, hingga orang tersebut mulai memotret memakai kamera yang dimilikinya.

Luhan membulatkan matanya, "Sehun?"

Sehun hanya menatap sekilas pemuda disampingnya tanpa berkata apa-apa. Kemudian melanjutkan 'pekerjaannya'.

Luhan memperhatikan arah bidikan Sehun. Kali ini, Sehun mengarahkan kameranya ke sudut kiri atas Balai Tengah. Ia terlihat berkonsentrasi memfokuskan bidikannya.

Luhan memperhatikan jari telunjuk Sehun memutar sebuah tombol yang berada tepat di sebelah tombol power kamera. Setelah memutar dan menunggu beberapa detik, Sehun langsung mengambil gambar tiga kali menggunakan flash dengan sangat cepat.

"Jangan lengah."

Suara Sehun mengagetkannya. Ia berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari hasil gambar di kameranya.

Luhan tak merespon. Sehun benar, ia tak boleh lengah. Ia kembali mengamati lantai atas, tempat Sehun membidikkan kameranya.

Diatas sana, terlihat beberapa turis yang ikut menyaksikan pertemuan di Balai Tengah. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang mencurigakan.

Beberapa turis di sudut kanan tengah bergerombol melihat pertemuan tersebut. Salah satu diantaranya mengeluarkan kamera SLR untuk sekedar mengambil gambar pertemuan yang terjadi di bawah mereka. Setelah mengambil gambar, kemudian terlihat sebuah kilatan tertangkap oleh pandangan Luhan.

Luhan memicingkan matanya. Kilatan itu berwarna merah yang terpancar dari kamera turis tersebut. Itu jelas bukan kilatan flash biasa. Lensa kamera milik turis itu memanjang, menunjukkan jika sang pemilik sedang memfokuskan bidikannya pada suatu objek tertentu.

Arah kamera kini tertuju pada sudut ruangan, tepat di samping kiri podium Balai Tengah.

"Pemicunya sudah ku matikan," ujar Sehun tiba-tiba.

Luhan menatap Sehun dengan pandangan bertanya. "Pemicu apa? Bom?"

"Ya."

Kemudian satu persatu kepingan puzzle mulai tersambung di otaknya. Apakah selama ini Sehun mematikan pemicu bom yang tersebar di seluruh penjuru museum dengan menggunakan kamera? Lalu terbuat dari apa kamera tersebut?

Baiklah, Luhan akan menyimpan pertanyaannya untuk nanti. Sekarang ia melihat turis itu sedang mengutak-atik kameranya. Mungkin ia pikir kameranya rusak. Turis itu berbicara pada teman di sebelahnya, dan kemudian mereka mengangguk.

Luhan melebarkan matanya ketika melihat turis tadi telah mengeluarkan sebuah pistol kecil yang tengah teracung ke bawah. Luhan dengan cepat mengikuti arah pistol tersebut yang ternyata tertuju pada salah satu petinggi negara Cina.

"Sial!" umpat Luhan. Ia segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan senjata pemberian Kris. Dan mengarahkannya ke atas. Dengan yakin, ia menembakkan sebuah peluru ke atas dan tepat mengenai pistol musuh-yang-berpura-pura-menjadi-turis tersebut. Orang itu kaget dan refleks menjatuhkan pistolnya ke bawah.

Bunyi peluru yang di tembakkan Luhan dan pistol musuh yang terjatuh itu membuat kaget orang-orang yang berada disana. Beberapa dari mereka panik, terutama perempuan.

Rekannya yang disebelah terlihat kaget dan segera membidikkan peluru ke arah Luhan. Tentunya Luhan akan terkena peluru tersebut jika Sehun tidak menariknya ke bawah dan tiarap.

Sepersekian detik, Luhan belum menyadari apa yang terjadi padanya. Ia melirik Sehun di sebelahnya.

"Terimakasih," ujarnya.

"Kau harus sigap jika tidak ingin mati," balas Sehun.

Luhan mengangguk. Kerumunan orang-orang di sekitarnya semakin tidak karuan. Ia segera berdiri dan mendapati musuh telah kabur.

"Mereka kabur!" seru Luhan.

"Ikut aku," perintah Sehun. Tanpa pikir panjang, ia mengikuti pemuda yang lebih muda darinya dan menerobos kerumunan orang-orang yang semakin tidak terkendali.

.

.

#

.

.

Chanyeol segera menuju ke tempat yang diperintahkan Kris olehnya. Ia menuju ke ruangan benda-benda kesenian pra-sejarah dan menemukan ketiga rekannya ada disana.

"Dari mana saja kau, Park Chanyeol?"

"Maafkan aku, Duizhang. Tadi aku bertemu dengan L dan berhasil melumpuhkannya. L melukai Baekhyun dan sekarang Baekhyun sudah ku obati dan ku tinggalkan di dalam mobil karena kondisinya tidak memungkinkan. Ia juga pingsan karena darahnya banyak keluar," jelas Chanyeol.

"Apakah Baekhyun terkena luka tembak?" tanya Suho.

"Tidak. Dia hanya terluka karena sayatan pisau L."

"Dia tidak berubah," ujar Kris.

"Ya, baiklah. Apa yang akan kita lakukan sekarang? Dimana Sehun?" tanya Kai.

"Sehun ku perintahkan untuk mematikan pemicu bom di Balai Tengah," jawab Suho.

"Lalu Luhan? Apa kalian melihatnya?" kini giliran Chanyeol yang bertanya.

"Tidak. Tapi aku menyuruhnya memakai pistol untuk melumpuhkan atau melawan merek—"

DOR!

Suara desingan peluru tertangkap oleh pendengaran mereka.

"Apakah itu Luhan?"

"Suaranya terdengar dari Balai Tengah!"

Kris mengepalkan tangannya. "Baiklah, lakukan tugas kalian!"

"Ya!"

Mereka berlari berlawanan arah, dan terbagi dalam kedua kelompok. Chanyeol dengan Kai dan Suho dengan Kris.

Chanyeol segera berlari menyusul Kai yang berada di hadapannya. Mereka berdua menuju lantai dasar dan pergi ke ruangan pengawas.

Kai mendobrak pintu ruangan pengawas, dan tidak menemukan siapapun berada disana. Sesuai dengan janji Kris, ia sudah bekerja sama dengan pihak museum untuk memudahkan pekerjaan mereka. Kai dan Chanyeol menuju dua monitor besar dengan potongan-potongan video yang terdapat di dalamnya.

"Apa semua ini CCTV yang berada di seluruh penjuru museum?" tanya Chanyeol.

"Ya," jawab Kai. Ia segera duduk di salah satu kursi dan mulai mengutak-atik keyboard yang ada di hadapannya.

"Hyung, coba kau awasi monitor yang satu lagi."

"Baiklah."

Chanyeol ikut mendudukkan dirinya di salah satu kursi dan mengamati satu per-satu potongan layar.

"Kau menemukan Luhan? Atau Sehun?" tanya Kai. "Aku tidak menemukan salah satu dari mereka disini."

"Sebentar—" jawab Chanyeol. Matanya sibuk menelusuri potongan-potongan layar dari segi manapun. Dan dirinya bersorak ketika melihat salah satu layar.

"Aku menemukan mereka. Mereka berdua! Kelihatannya mereka sedang mengejar musuh, mereka terus berlari," seru Chanyeol.

"Benarkah?" tanya Kai.

"Ya, dan—" Chanyeol menggantungkan kalimatnya. Chanyeol memicingkan kedua matanya, berharap ia tidak salah lihat. Kemudian ia menelan ludahnya dengan susah payah.

"Dan apa, hyung?" tukas Kai.

"Aku melihat code Z, Kai. Dia ada di museum ini. Ia ada di lantai teratas—"

Chanyeol tidak dapat melanjutkan kalimatnya ketika ia mendengar suara pintu yang terbuka kasar dan derap langkah kaki Kai yang semakin menjauh.

.

.

#

.

.

Kai segera berlari menuju lantai teratas. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Code Z lolos dari hadapannya. Tidak. Tidak lagi!

Ia segera mengaktifkan wireless nya dan mulai menghubungkan ke semua orang.

"Aku melihat Code Z! Dia ada di lantai atas! Aku sedang dalam perjalanan ke tempatnya!"

Kai mengatakan tersebut tanpa berhenti berlari dengan tergesa-gesa.

"Kai! Jangan gegabah!"

Itu suara Suho, hyung-nya yang paling sabar. Tapi Kai mengabaikannya.

Ia sudah berada di lantai atas. Setelah menetralkan nafasnya, Kai memperhatikan aula lantai atas dengan pandangan nyalang.

'Dimana dia?'

"Hai, Jongin-hyung."

Tubuh Kai seakan membatu. Suara itu...

Kai segera membalikkan badannya, dan mendapati seorang remaja tanggung tengah duduk dengan santai di salah satu batu peninggalan sejarah di aula tersebut. Ia memakai kaus oblong berwarna biru dan celana santai selutut. Serta slayer putih yang melingkari kepalanya.

"Kau..." desis Kai.

"Ya, ini aku," ucap pemuda itu. "Kau tidak mengenali dongsaeng kesayanganmu ini lagi, Jongin-hyung?"

"Jangan memanggilku dengan nama itu!" tukas Kai kasar. "Dan aku tidak mempunyai dongsaeng selicik kau, Choi Junhong!"

"Aku lebih menyukai sebutan 'cerdik' dibandingkan 'licik', hyung. Ah, kau cukup panggil aku Zelo, jika kau lupa."

Zelo segera berdiri dan berjalan pelan mendekati Kai. Kai bergeming. Tangannya mengepal dan siap akan mengeluarkan pistol di sakunya untuk membunuh pemuda dihadapannya.

"Jadi, Jongin-hyung, atau Kai? Dimana teman-temanmu, hm?" tanya Zelo sembari menaikkan alisnya.

Kai tetap diam.

"Oh, jangan bilang kau bertindak gegabah lagi dengan menyusulku sendirian ke sini? Dan mengabaikan perkataan hyungdeul-mu yang sama bodohnya denganmu itu, hm?"

"Jaga bicaramu atau ku robek mulutmu!"

"Hah," Zelo berdecak puas. Kemudian mengacak sedikit rambutnya yang berwarna raven. "Ternyata benar, kau tidak berubah, Jongin-hyung. Sikapmu itulah yang membuat kalian kehilangan salah satu anggota terpenting dalam kelompok kalian, apa aku benar?"

Kai menggertakkan giginya. Zelo membuka kembali kenangan lama yang telah ia simpan baik-baik. Hal terbodoh yang pernah ia lakukan di masa lalu.

"Tidak! Kalian yang mengambilnya! Kalian yang merebut dia dari kelompok kami!" Kai mengeluarkan pistolnya dan bersiap menembak pemuda di hadapannya.

"Lalu mengapa jika kami mengambilnya dari kalian? Bukankah dia, Code D, adalah seorang pengkhianat bagi kalian?"

DOR!

Kai tidak tahan lagi. Pelurunya meluncur mulus dari pistol Barreta miliknya. Zelo dengan cepat menghindar sehingga peluru tersebut berhasil memecahkan sebuah lemari kaca.

"Oh, nyaris saja," ujar Zelo ketika melihat lubang besar yang diciptakan Kai di lemari kaca. "Kau mau membunuhku, eh?"

"Seharusnya kau tidak perlu bertanya."

"Kalau kau mau membunuhku, maka aku akan membunuh semua orang di museum ini."

Kai tersentak. Bocah psikopat di hadapannya terkenal dengan kasusnya yang telah membunuh banyak orang dengan sekali 'serang'. Dan bukan hal yang mustahil jika Zelo akan melakukannya lagi.

Kai berusaha tenang.

"Tidak mungkin. Semua pemicu bom yang kau pasang telah kami matikan."

"Bukan Code Z namanya jika tidak mempunyai plan A sampai Z."

Kai mengepalkan tangannya. "Kau harus mati disini."

Kai berjalan cepat ke arah Zelo sembari mengacungkan senjatanya ke depan dan mulai menembak secara membabi buta.

Dor!

Dor!

Dor!

Zelo dengan sigap menghindari semua tembakkan ke arahnya. Ia berguling ke kanan untuk menghindari kemarahan Kai dan bersembunyi.

"Jangan terus bersembunyi, bocah psikopat! Lawan aku!" suara Kai menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Matanya menatap nyalang dan mencari gerak-gerik musuhnya.

"Maka kau akan menyesal."

Kai tersentak dan menoleh ke belakang. Namun terlambat. Sebuah peluru mengenai bahu kirinya dan terasa menyakitkan. Kai merasa dirinya tak terkendali dan tak sengaja menyenggol sebuah lemari kaca berukuran sedang yang tak ada isinya dan jatuh menimpa dirinya.

"ARGH!"

Lemari kaca tersebut jatuh menimpa dirinya. Goresan-goresan kaca pecah mulai melukai wajah, punggung dan tangannya. Dengan menahan sakit, Kai berusaha menyingkirkan lemari di atasnya, namun gagal.

Dirinya tidak bisa bergerak.

"Aku lupa memberi tahumu, hyung. Kalau peluru yang ku berikan padamu mengandung penyerang saraf hingga membuatmu lumpuh sementara."

Kai menggertakan giginya. Ia benar-benar merasa tidak berguna kali ini. Tubuhnya terasa kaku, darah terus mengalir dari wajah, lengan dan punggungnya, serta berat lemari kaca di atasnya membuatnya seperti pecundang. Ia dapat melihat Zelo berdiri tepat di hadapannya.

Zelo mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Terlihat seperti benda hitam berwarna kotak dengan sebuah tombol merah diatasnya.

"Coba tebak, apa yang akan terjadi jika ku tekan tombol merah ini?"

Kai diam. Tubuhnya melemas seketika. Seharusnya ia tahu bahwa Zelo adalah anak psikopat yang punya banyak akal bulus. Ia tak mengalihkan pandangannya dari tombol merah di tangan Zelo.

"Bingo! Yang terjadi adalah pemicu-pemicu bom itu akan aktif lagi dan, BOOM! Semua orang yang berada di lantai di bawah kita akan mati, terutama yang berada di Balai Tengah."

Zelo bertumpu pada sebelah kakinya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kai.

"Dan, kau tahu sesuatu, hyung?" tanyanya.

"Code D. Dia. Ada disini, dia akan mati bersama pecundang-pecundang itu, hyung."

Kai melebarkan matanya, "Kau brengsek!"

Ia bisa melihat Zelo menyeringai dan bersiap menekan tombol merah tersebut. Tapi tiba-tiba serbuan peluru menyerangnya dari arah kiri dan membuat Zelo menghilang dari hadapannya.

Kai diam. Pertolongan akhirnya datang. Ia dapat merasakan derap kaki mendekat ke arahnya dan beban di atasnya perlahan terangkat dari tubuhnya. Ia bisa melihat wajah pucat dan khawatir dari salah satu hyungnya.

"Astaga, Kai! Kau tidak apa-apa?"

Ia bisa merasakan tangan Suho meraba pelan wajahnya, yang kini berlumuran darah. Kai masih diam. Dirinya merasa hampa.

"Kai? Jawablah!"

"Aku..uhuk! Tidak apa-apa hyung," jawab Kai pelan. "Aku tidak bisa bergerak karena Code Z melumpuhkan saraf-sarafku sementara."

"Mengapa kau gegabah sekali, Kai? Bukankah sudah ku bilang untuk menunggu kami? Kau tidak akan menjadi seperti ini jika kau mau mendengarkanku!"

Kai tetap tidak berekspresi ketika Suho membentaknya. Ia lelah. Lelah dengan semua yang telah terjadi di kehidupannya.

"Suho! Kai!"

Kai melirik ke samping dengan sekuat tenaga, karena dirinya tidak bisa menoleh. Ia bisa melihat tubuh jangkung Kris berdiri disana.

"Kai dilumpuhkan, ia tidak bisa berdiri," jelas Suho.

"Baiklah, kalian tunggu disini. Aku akan mengejar Code Z."

"Kris—"

Kris tidak menjawab dan segera berlari keluar.

.

.

#

.

.

"Code Z ada disini dan berhasil kabur. Aku sedang mengejarnya dan sekarang ia berada di lantai 4. Ia memakai kaus biru dan celana pendek selutut. Di kepalanya terdapat slayer putih. Aku butuh bantuan, secepatnya!"

Suara Kris terdengar terputus-putus di sambungan, namun Luhan dapat menangkap perkataan Kris dengan tepat.

"Kau dengar itu?" Ia bertanya pada Sehun.

Sehun mengangguk.

Mereka kemudian berlari menuju tangga yang terdapat di setiap lantai. Dari lantai dasar menuju lantai 4 bukanlah jarak yang mudah dituju.

Ketika di lantai 3, sebuah tembakkan mengincar mereka. Luhan dan Sehun sempat berhenti untuk mengatur pernapasan mereka.

"Itu mereka! Turis gadungan yang tadi!" seru Luhan.

Sehun mengangguk. "Aku akan membereskan mereka. Kau pergilah! Bantu Kris menangkap Code Z!"

"Tapi—"

"Cepat!"

Luhan tak pernah mendengar nada suara Sehun yang meninggi. Bila seseorang seperti Sehun telah mengeluarkan nada seperti itu, maka tak ada pilihan bagi Luhan selain menyanggupinya.

Luhan mengangguk, kemudian berlari mencari tangga ke lantai 4. Ketika ia baru saja sampai di lantai 4, ia melihat seorang pemuda kecil yang berada di sebrangnya. Pemuda itu bertemu pandang dengannya, dan sekilas menyeringai.

"Berhenti!"

"Ti—dak!"

Luhan yakin itu adalah Code Z. Code Z tengah berlari ke arah tangga di hadapannya, berusaha kabur. Luhan tidak menyia-nyiakannya. Ia segera mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah sasarannya.

Dor!

Pelurunya berhasil menembus pergelangan kaki Code Z dan sasarannya ambruk seketika.

"Argh, sialan kau!"

Luhan segera berlari menghampiri bocah psikopat itu, bermaksud menangkapnya. Sebelum ia melihat musuhnya itu melemparkan sesuatu ke arahnya. Dengan cepat, Luhan menghindar.

Cleb!

Luhan melihat ke arah pigura besar di belakangnya, dan terdapat pisau belati telah tertancap di tengahnya. Ia hampir saja mati kalau telat menghindar.

Luhan kembali mencari Code Z dan bocah itu sudah kabur. Luhan berdecak kesal, dan berlari ke arah tangga.

Ia dapat melihat bercak-bercak darah di siti, darah Code Z. Pelurunya pasti telah melukai kaki bocah itu. Luhan mendongakkan kepalanya, dan mengetahui bahwa tangga di hadapannya menuju ke rooftop.

Luhan meneguk ludah, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Ia tidak sempat berpikir apa yang akan terjadi jika ia nekat menaikki tangga tersebut.

Luhan mulai menapakki kakinya dan berjalan pelan ke atas. Setiap langkahnya terasa gemetar dan ia mulai sesak nafas. Luhan berpegangan pada sisi tangga ketika kepalanya mulai terasa berat. Tapi ia tidak menyerah, ia tetap menaikki tangga itu sampai di atas. Dan benar saja, ia langsung bertemu dengan langit biru di rooftop.

Luhan berusaha menetralkan nafasnya. Dinding-dinding rooftop hanya dibatasi kawat-kawat berduri dan pemandangan di bawah dapat terlihat dengan jelas.

Luhan tidak kuat lagi, ia jatuh bertumpu dengan kedua lututnya, pandangannya seketika mengabur. Ia tidak sanggup bergerak, bahkan hanya untuk menegakkan kepalanya.

"Oh, kau hebat juga dapat menyusulku sampai disini."

Itu suara Code Z, terdengar dekat sekali dengan pendengarannya. Tapi Luhan tidak merespon.

"Kenapa kau diam saja? Kau takut, hm?"

Luhan dengan perlahan menegakkan kepalanya, dan mendapati seringai penuh kemenangan dari musuh di hadapannya.

"Kasihan sekali. Padahal kau dipercayai Kris untuk membantunya. Tapi, ternyata kau hanya bisa menyusahkan mereka. Kau bahkan tidak mencoba menangkapku, padahal jarakku denganmu tak sampai satu meter."

Luhan mengepalkan telapaknya. Itu benar. Semuanya benar. Ia merasa sangat bodoh saat ini.

"Ah, teman-temanmu sudah datang," ujar Zelo ketika mendengar derap langkah mendekat. "Sampai jumpa, Xi Luhan."

Luhan tak dapat menjawab. Seluruh tubuhnya lemas dan gemetar. Ia dapat mendengar Code Z menjauh dan suara lain mendekat di belakangnya.

Dor!

"Berhenti!"

Kris mulai melancarkan serangannya. Tapi terlambat. Zelo menyeringai penuh kemenangan di dalam helikopter yang memang telah disediakan untuknya. Peluru-peluru pistol biasa tidak akan mempan menembus badan helikopter.

"Zelo sialan!" umpat Kris kesal. Ia berbalik menghadap rekan-rekannya, Chanyeol dan Sehun, yang memasang ekspresi sulit di gambarkan.

Kris mendelik melihat Luhan yang ternyata masih bertumpu di tanah.

"Aku tahu kau tidak terkena tembakkan pelemah saraf."

Suara Kris begitu dingin dan menusuk bagi Luhan. Luhan sendiri tidak berani menatap mata Kris, yang ia yakini tengah dipenuhi amarah.

Luhan dapat merasakan Kris berdiri tepat disampingnya. Sedangkan ia sendiri masih gemetar dan pandangannya masih mengabur.

"Ku pikir aku bisa mempercayaimu."

Ujar Kris dengan tak mengubah nada suaranya. Kemudian ia berlalu meninggalkan Luhan, tanpa berniat bertanya apa yang telah terjadi, ataupun membantu Luhan berdiri.

.

TBC

.

Yeaa, sesuai dgn janji saya di chap sebelumnya, chap ini mulai masuk ke inti cerita! Dan—yah. Saya kurang nntn film action lagi, jadinya hasilnya begini DX maaf kalo kurang memuaskan dan maaf gabisa updet cepet! Saya dikejar-kejar pelajaran dan tugas DX

Jadi senior kls 12 itu enak, tapi susah di jalanin:')

Balasan Review :

0312luLuEXOticS : udah dilanjut ya, makasih udah review^^

Kopi Luwak : udah di apdet yaa, makasih udah review^^

Nurfadillah : wah maaf, itu masih rahasia :D makasih udah review^^

Wu Lian Hua-Lyn Wu : udah dilanjut;) makasih udah review^^

Hyorim16 : makasih:) iya gpp kok, yang penting pernah review(?) makasih udah review^^

berlindia : mereka baik2 aja kok:) makasih udah review^^

Riyoung6398 : maaf ya udah menunggu lama;_; semoga chap ini gak ngebosenin._. Ini udh di lanjut, makasih udah review^^

Ran Hwa : udah dilanjut kok, makasih udah review^^

fishyelf : maaf ya kalo chap ini lama;_; makasih udah review^^

hanum sal : ini udah dilanjutt, makasih udah review^^

Fujoshi203 : hehe gpp kok:) code z nya udh tau kan? Kalo soal pair, liat nanti aja ya:) makasih udah review^^

DeerTari : wah o.o makasih yaa hehe. Udah dilanjut, makasih udah review^^

nissaa : iyaa itu wajar, soalnya saya jg lama ngapdetnya;_; krisnya tadi ada sedikit urusan, jadinya nyuruh temen2nya duluan. makasih udah review^^

Guest : kalo soal pair, liat nanti aja ya:) makasih udah review^^

Glux99 : makasih yaa:) makasih juga udah review^^

bubbletea : salam kenal juga eonni:) makasih udah review^^

Kim Chan Soo : udah dilanjut, makasih udah review^^

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama.

Please leave me some reviews/critics/comments if you have a time^^

Karena review kalian adalah penyemangatkuuu!;)

Sign,

Mai