Title : SKY : A Long Journey
Author : ChocoSapphire
Disclaimer : SHINee, Se Kyung and Jino are belongs to God and themselves and this fic belongs to me.
Casts : SHINee, Shin Se Kyung, and Cho Jino from SM The Ballad
Pairing : Figure it out ,
Genre : Romance
Rated : T

"Aku memberitahunya, hyung"

Jonghyun menoleh kearah Jino sambil mengangkat alisnya, "Mwo ? Nugu ?"

"Aku memberitahu Kibum hyung bahwa kau mencintainya," Jino menyuap sesendok es krim dan memasukkannya kedalam mulutnya. "Eonje ?" Jonghyun yang tadi hendak menyeruput milk shakenya sekarang menatap tajam Jino, membuat namja imut yang diperhatikannya salah tingkah. "Sekitar 3 atau 4 hari sebelum kau keluar rumah sakit."

"Jino-ya, hyung tidak pernah bilang kepadamu untuk menyampaikannya kepada Kibum kan ?" Jino memerhatikan dekorasi dinding café milik Jonghyun itu. "Tidak pernah…" Jonghyun menghela nafas, ia kemudian mengalihkan pandangannya dari Jino yang masih menatap satu persatu dekorasi yang ada. Dan tanpa sengaja sepasang matanya bertemu dengan sepasang mata lainnya, sepasang mata milik Jinki.

Ya, Jinki memang bekerja disitu, di toko café milik Jonghyun yang baru saja dibuka beberapa bulan lalu sebagai manager. Jinki tersenyum sekilas kepada Jonghyun kemudian menghampiri tempat Jonghyun dan Jino berada. "Jinki hyung, annyeong," Jino menyapa Jinki sambil tersenyum manis. "Annyeong, Jino-ya," Jinki balas tersenyum manis.

"Kenapa hyung menjaga kasir ?" Jino bertanya setelah Jinki duduk disebelahya.

"Aku harus membantu yang lainnya, tadi ramai sekali jadi aku membantu," sekali lagi Jinki tersenyum manis. Kemudian Jinki dan Jino berbincang sebentar mengabaikan Jonghyun yang berada di dunianya sendiri. "Aku balik dulu, ne ? Oh, Jonghyun-ah kurasa kita harus menambah waitress lagi, tolong carikan," Jonghyun yang tadi melamun memandang Jinki sambil tersenyum. "Nanti aku belikan," Jinki yang merasa jawaban Jonghyun tidak nyambung, memukul kepala Jonghyun pelan.

"Eh, Wae ?" Jonghyun bertanya dengan nada kesal.

"Jawabanmu tidak nyambung, babo," Jinki menjulurkan lidahnya. "Hyung minta jepitan kan ?" Jonghyun bertanya sekali lagi dengan tampang masih-diproses-dalam-otak. Sekali lagi Jinki memukul kepala Jonghyun, "Untuk apa aku minta jepitan, babo. Aku minta tolong, carikan waitress !"

"Untuk apa kita butuh waitress lagi, hyung ? Bukankah sudah banyak ?" Jonghyun memegangi kepalanya agar tidak terkena serangan Jinki lagi. "Ka- ah, sudahlah. Jino tolong urus dia aku mau kembali dulu," Jinki berjalan menjauh dari situ. Jino menganggukkan kepalanya, "YA ! Hyung !"

"Wae ?" Jonghyun mengalihkan pandangannya dari Jinki.

"Eoh, hyung menangis ?" Jino menatap mata Jonghyun yang mengalirkan air mata. "Aku tidak menangis," Jonghyun menghapus air matanya, ia sendiri terkejut bahwa ia menangis. "Ada apa ?" Jino bertanya dengan lembut sambil membersihkan air mata Jonghyun dengan tissue. Air mata Jonghyun mengalir makin banyak.

"Eh, Jjong hyung, wae ?!" Jino menjadi panic, hyungnya ini kenapa sih ?

"Ah, sepertinya mataku kemasukan sesuatu," Jonghyun mengusap matanya. "Jangan seperti itu hyung, cucilah biar tidak semakin masuk," Jonghyun mengangguk mengikuti saran Jino, ia kemudian beranjak menuju toilet.

A Long Journey

Jonghyun mengacak rambutnya, bayangan wajah Jino terus menghantuinya. "Ah, sudahlah. Masalah percintaanku memang tidak pernah berjalan lancar," Jonghyun merebahkan tubuhnya di kasurnya itu. Ia memandang langit-langit kamarnya, memikirkan Jessica, Chansung, Se Kyung, Kibum, Jino, Jinki. Jonghyun kemudian mengambil ponselnya, hendak menelepon Kibum yang sekarang pindah rumah beberapa blok dari apartemennya, kemudian ia meringis. Tidak mungkin menceritakan perasaannya pada Jinki. Tunggu, Jinki ?

"Ah, molla !"

Jonghyun berteriak kencang. Alasan ia menangis bukan karena kelilipan, tapi karena Jinki terlihat mengagumkan ketika ia kembali. Lampu-lampu menyinarinya, konyol memang tapi kadang Jonghyun juga merindukan hal-hal seperti itu. Setelah menjadi dewasa ia tidak pernah lagi menyadari hal-hal kecil disekitarnya. Jonghyun membungkus dirinya dalam selimut, berharap ia dapat tidur dengan tenang tanpa bayangan siapapun.

'tok..tok..tok..'

Terdengar suara ketukan pintu. Jonghyun beranjak dengan malas, ia menggerutu pelan. Dan ketika ia membuka pintu, sebuah pelukan membuatnya kaget. "Eh, nuguseyo ?"

Orang yang memeluknya itu melepaskan pelukannya. "Oppa, bogoshippeo," yeoja itu tersenyum. Se Kyung melepaskan pelukannya, masih tersenyum cerah. "Se Kyung ? Kau benar-benar Shin Se Kyung ?" Jonghyun melongo tidak percaya menatap yeoja didepannya. "Ne, aku mau mampir sebentar setelah mendapatkan alamatmu dari Sun Young," Se Kyung mengekor Jonghyun masuk ke dalam apartemennya. "Apa aku mengganggu ?" Se Kyung bertanya setelah duduk di sofa cokelat Jonghyun.

"Kau bertanya setelah masuk dan duduk dengan manis, bagaimana aku mengusirmu ?" Jonghyun mendengus sambil meletakkan gelas didepan Se Kyung.

Se Kyung tertawa. "Bagaimana kabarmu ?" Se Kyung membuka percakapan. "Baik, kau ?" Jonghyun duduk didepan Se Kyung. "Aku baik-baik saja, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan," Se Kyung menyeruput tehnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Kalau aku berbicara di telepon mungkin kau akan menghindariku," Jonghyun menatap Se Kyung sambiil tertawa. "Mana mungkin Se Kyung-ah," Se Kyung tersenyum.

"Mungkin saja. Jadi, aku ingin bertanya apa kau sudah punya yeochin atau namchin ?"

"Eobseo," Se Kyung tersenyum senang. "Jadi aku-" perkataan Se Kyung terputus ketika Jonghyun memotongnya, "Hanya saja aku punya tunangan," Se Kyung cemberut. "Namja atau yeoja ?" Se Kyung bertanya setengah hati. "Namja, tapi aku tidak mencintainya. Aku dijodohkan dengannya," Jonghyun tersenyum simpul. Ia dapat merasakan Se Kyung gembira.

"Se Kyung-ah, apa kau mau minta kita bersama lagi ?"

"Aku- entahlah, Jonghyun oppa, kau tahu aku masih mencintaimu. Dan aku tahu Kibum oppa sudah menikah, jadi…" Se Kyung melirik Jonghyun. "Bagaimana kalau kita kencan sehari saja ?" Se Kyung menatap penuh harap kepada Jonghyun. Se Kyung tahu ia salah, Jonghyun sudah punya tunangan walaupun namja itu tidak mencintainya. Tapi, egois sekali-kali tidak apa-apa kan ?

"Baiklah, besok kita bertemu di lobby jam 9."

'Mianhae Se Kyung-ah. Mianhae Jino-ya.'

A Long Journey

Jino memejamkan matanya berniat untuk tidur, namun peristiwa-peristiwa tadi terus berputar dalam pikirannya. Namja imut itu bangun dan duduk, tangannya mengambil gelas berisi air putih di meja nakasnya. Meneguknya pelan kemudian mengusap jejak air disekitar bibirnya.

Flashback

"Jino-ya !"

Jino menoleh kebelakang, terlihat namja manis berambut cokelat. "Eo, Taemin-ah," Jino tersenyum. Taemin berlari kecil dan langsung merangkul pundak Jino. "Bagaimana dengan tunanganmu itu ?" Taemin dapat merasakan perubahan wajah Jino. "Begitulah. Kau Sendiri ? Bagaimana dengan uke yang kau sukai itu ?" Jino bertanya sambil menekankan kata uke. "YA, kau mengejekku ?" Taemin cemberut.

Jino tertawa, siapa sih yang lebih uke dari seorang Lee Taemin yang manis ?

"Ciri-cirinya seperti apa ?" Jino bertanya, penasaran dengan uke yang disukai Taemin. "Kau mengenalnya… sangat mengenalnya," Taemin mengucapkan kata-kata terakhir dengan bergumam. "Mwo ? Kenapa kau tidak memberitahukannya padaku ? Siapa tahu aku bisa membantu," Jino menggembungkan pipinya.

"Jadi siapa namanya ?" Jino menyapa temannya yang lewat kemudian menatap Taemin lagi.

Buku-buku dipelukan Jino berjatuhan ketika Taemin menyebutkan nama uke itu, namanya, "Cho Jino."

Flashback end

"Molla…" Jino berkata lirih. Ia sebenarnya ingin berteriak kencang, tapi tenaganya habis terkuras karena memikirkan peristiwa itu. Jino mengacak rambutnya, sebenarnya ia menyukai siapa ? Hatinya memilih siapa ?

Flashback

"Hyung, aku harus bagaimana ?"

"Kau mencintainya ?" Kibum bertanya sambil tersenyum. "Molla. Aku menyukai Taemin, hyung. Walaupun aku baru sadar karena ia menyatakan perasaannya hari ini. Tapi, aku juga menyukai Jonghyun hyung," Jino meneguk bubble teanya. "Jino-ya, kau mengenal Taemin jauh sebelum kau mengenal Jonghyun. Kurasa hatimu tentu saja jatuh kepada Taemin," Kibum mengeluarkan pendapatnya. "Kurasa kau hanya merasa kau menyukai Jonghyun karena pertunanganmu itu."

"Tapi, aku yang mengajukan perjodohannya, hyung. Masa aku tidak menyukai Jonghyun hyung ?" Jino memprotes.

"Mungkin kau menyukainya, tapi apakah kau masih menyukainya setelah semua ini ? Mian tapi Jonghyun tidak mencintaimu Jino-ya. Mungkin agak kejam jika kau memilih Taemin karena Jonghyun tidak membalas perasaanmu, tapi aku yakin seiring waktu berlalu kau akan memikirkan Taemin. Walau semuanya tergantung pada hatimu."

Jino terdiam, ucapan Kibum ada benarnya. "Gomawo atas saranmu, hyung," Jino tersenyum. Kibum membalasnya, "Pilihlah sebelum kau menyesal Jino-ya. Suatu saat keduanya akan pergi."

Flashback end

'Mianhae, Jonghyun hyung.'

Jino tersenyum lemah, 'Mungkin sudah saatnya bagiku untuk merelakanmu. Aku memilih Taemin.'

A Long Journey

Jino baru saja memasuki lobby apartemen milik Jonghyun ketika ia melihat Jonghyun dan seorang yeoja. "Jonghyun hyung…" Jino tercekat sebelum memilih untuk diam dan 'menguping' pembicaraan mereka.

"Tapi, oppa tidak menolak tawaranku !" yeoja itu terlihat akan menangis. "Se Kyung-ah, aku hanya ingin membahagiakanmu untuk yang terakhir kalinya," Jonghyun memeluk Se Kyung. Jonghyun tahu ia sudah tidak menyukai Se Kyung lagi, ia tidak mungkin kembali bersama Se Kyung demi melupakan perasaan cintanya. Se Kyung meneteskan air matanya dalam pelukan Jonghyun. "Kita masih bisa bertemu ?" Se Kyung melontarkan pertanyaan yang lebih mirip dengan pernyataan. Memastikan ia masih dapat melihat Jonghyun.

"Ani," Se Kyung membuka mulutnya, hendak protes. "Belajarlah untuk melupakanku Se Kyung-ah. Ketika kau sudah menemukan orang lain, kita bisa bertemu," Jonghyun tersenyum lembut. Butuh beberapa saat sebelum Se Kyung melepaskan pelukan Jonghyun dan berusaha tersenyum. "Arraseo oppa. Aku pergi dulu, annyeong," Se Kyung mengucapkan selamat tinggal kepada Kim Jonghyun, kepada namja yang dicintainya.

Setelah memastikan Se Kyung pergi Jino menghampiri Jonghyun. "Ada sesuatu yang harus aku katakan," Jino muncul didepan Jonghyun yang terkejut dengan kedatangannya. "Kita bicara di café saja," Jonghyun mengangguk patuh, tidak biasanya Jino sedingin itu.

A Long Journey

"Ada apa ?" tanya Jonghyun setelah sampai. Jino tidak menjawab, ia meninggalkan Jonghyun dan memesan Caramel Macchiato dan Iced Americano. Jonghyun melihatnya dengan pandangan bertanya. "Igeo," Jino menyerahkan cup ditangan kanannya kepada Jonghyun. Jonghyun berterimakasih dan meneguknya. "Hyung, aku menyerah," Jino membuka mulutnya.

Jonghyun memandang Jino lekat. Jino tidak memalingkan wajahnya seperti biasanya, ia menatap balik kearah Jonghyun.

"Aku memilih untuk berhenti berlari sendirian."

"Nugu ?" Jonghyun bertanya dengan tenang. Jino agak sakit mendengarnya, selama ini dia telah berlari untuk tanpa tujuan. Jonghyun benar-benar tidak memikirkannya. "Lee Taemin, namdongsaeng Jinki hyung."

"Aku sudah bilang ke appa. Keurigo, hyung, apa kau masih mencintai Kibum hyung ?" Jino bertanya penasaran. "Aniyo, ada orang lain," Jino menatap Jonghyun meminta penjelasan. "Lee Jinki, hyung Lee Taemin," Jonghyun tertawa melihat raut Jino, tawa dipaksakan. "Nan molla. Aku hanya sekedar menyukainya, tapi… kau tahu dia siapa," Jonghyun berkata lirih. "Bantu aku merasiahakan ini, eoh," Jonghyun menaruh jari telunjuk didepan bibirnya sambil tersenyum. Jino hanya mengangguk, masih shock.

Hening beberapa saat. Jino kemudian membuka mulutnya, namun ia menutupnya kembali. Ingin bertanya kenapa bisa menyukai Jinki namun ditahannya karena ia tahu topic itu sensitive bagi Jonghyun. Jino memilih pertanyaan lain, "Lalu hyung mau bagaimana setelah ini ?"

"Aku akan ke Perancis," kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Jonghyun.

"Hyung mau apa disana ? Kapan kembalinya ?" Jino bertanya lagi.

"Entahlah, aku ingin bekerja di restoran saja. Dan aku akan kembali jika aku sudah bosan disana," Jino cemberut, ia sama sekali tidak mendapat kepastian dari Jonghyun. "Hyung bisa bahasa Perancis ?" Jonghyun menggeleng sambil nyengir. "Aku hanya memikirkannya random Jino-ya," Jino menatap Jonghyun dengan pandangan hyung-pasti-bercanda.

A Long Journey

"Yeoboseyo, Jino-ya. Hyung sudah sampai," seorang namja membelah keramaian di bandara sambil menarik sebuah koper. "Wa, jinjja ? Ah, ne. Hyung, daritadi Kibum hyung ribut ingin berbicara denganmu."

"Jjong hyung~"

"Kemarin aku yang pergi, sekarang hyung. Bogoshippeo~" Jonghyun tertawa. "Aku baru saja pergi dan kau bilang merindukanku," Kibum tertawa lembut. "Sekarang kau yang harus menungguku. Kita gantian," Kibum menggumamkan 'ne'.

'Bruk'

"Aw, sorry," Jonghyun menatap shock namja yang menabraknya tadi. Ia mengambil poselnya yang jatuh dengan kaca retak dan memijat pelipisnya. "I will pay for that. I'm Minho, by the way, cutie. And I guess you're Korean, ireumi mwoyeyo ?" namja itu mengedipkan sebelah matanya. Jonghyun merutuk. Karena namja itu menyebutnya 'manis' dan karena ia dapat merasakan rona merah yang menjalari pipinya. Ia merutuk lagi ketika mulutnya otomatis menjawab. "Jonghyun," Minho tertawa melihat Jonghyun yang kelihatan 'imut' baginya.

"Well, Jonghyun, looks like we were destined to meet here."