Restyviolet : Minal aidin wal faizin juga ^^ ini udah di update ya. Silahkan membaca ^^

FlashRedPolka : waduh, ngatur nih si tante... -,- ini sudah update~ semoga 'delay'-nya ga kelamaan... :3

U. Icha-chan : wah, terima kasih sekali untuk perhatiannya. Tapi kalau tidak salah, saya saja sampai tidak tidur lho sehabis menyelesaikan fanfic ini... Untuk chapter ini, memang saya sudah memberitahu kalau ada 'delay' karena memang kalau sudah urusan mudik, 'tradisi' di keluarga saya yang akan jalan2 terus itu terkadang membuat saya lelah. Eh? Malah curhat ya? Maaf, maaf... Di chapter 4 romance-nya kurang? Kalau begitu, semoga di chapter 5 romance-nya cukup untuk Icha ;) selamat membaca ^^

Hmmm Nananana Anae-chan : Terima kasih telah menunggu! Silahkan dibaca chapter 5 ini :)

.

.

.

"Kushina!" panggil Shizune. Kushina pun segera menghentikan makannya dan menghadap kearah orang yang memanggilnya.

"Ya, Shizune-san?"

"Ano..."

"Kau pasti ingin bertanya tentangku yang mengakhiri kalimat dengan '-ttebane' ya, Shizune-san?"

"Ah, ya kau benar,"

"Apakah itu aneh?"

"Eh?"

"Apakah itu aneh? Habis, orang yang baru mengenalku dan mendengar ucapanku yang diakhiri '-ttebane' pati akan menganggapku aneh-ttebane—eh? A-ano..."

"Sudahlah, Kushina. Itu memang khas-nya dirimu, tak perlu kau sembunyikan," ucap Shizune tersenyum.

"Tapi..."

"Kami disini tidak menganggapnya aneh kok, sungguh. Jadi bila kau terus seperti itu, tidak apa-apa. Itu kan hakmu, bukan hak kami,"

"Shi-Shizune-san..."

"Dia benar, Kushina," ucap Minato.

"Minato...?"

"Awalnya aku kaget, karena kau mengakhiri ucapanmu dengan '-ttebane', hanya saja, itu lah dirimu yang sesungguhnya. Kami tak membencinya, kok," ucap Minato tersenyum.

Kushina pun ikut tersenyum dan berkata, "Arigatou,"

.

.

.

For Me, or For You?

By: Sekar Yamada

Naruto © Masashi Kishimoto

A Fanfic Requested(?)

.

.

Chapter 5

.

.

.

Keesokan paginya, Kushina bangun dengan wajah berantakan. Ia pun segera menuju ke kamar mandi untuk menggosok giginya. Namun disaat ia ingin menggosok giginya, pasta gigi yang memang sudah terlihat kurus itu tidak menunjukkan isinya. Ia pun segera keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk menemui Shizune.

"Ah, ohayou, Kushina," sapa Shizune ramah.

"Ohayou, Shizune-san..." jawab Kushina lesu.

"Ada apa? Sepertinya kau ada perlu denganku ya, Kushina?" tanya Shizune lembut.

"Pasta gigi di kamar mandiku sudah habis, bisakah aku mendapatkan yang baru?"

"Oh, benarkah? Kalau begitu tunggu sebentar, sepertinya aku punya cadangan pasta gigi," jawab Shizune. Kemudian ia segera mencari-cari pasta gigi yang diminta Kushina. Kushina pun duduk di meja makan sembari menunggu Shizune.

"Ngomong-ngomong, Shizune-san..."

"Ya, Kushina?"

"Kemana yang lainnya?"

"Hmm? Yang lainnya? Mereka semua belum bangun," jawab Shizune yang masih mencari pasta gigi yang diminta Kushina.

"...he? Benarkah-ttebane?" tanya Kushina santai. Kemudian Kushina pun menyadari apa yang diucapkannya dan langsung menutup mulutnya. Shizune yang melihat hal itu pun hanya bisa tertawa pelan.

"Sudah Kushina, tak perlu disembunyikan lagi," ucap Shizune lembut.

"H-hai, Shizune-san," ucap Kushina malu.

"Ah! Ini dia pasta giginya!" ucap Shizune sembari memberikan pasta gigi itu ke Kushina.

"Arigatou," ucap Kushina sambil mengambil pasta gigi itu.

"Apa kau tidak menyadarinya, Kushina? Selama ini, aku dan kau kan memang bangun lebih awal dari pada mereka,"

"Eh? Benarkah? Aku pikir, aku selalu bangun kesiangan-ttebane,"

"Iya deh, aku bangunnya kesiangan dari pada kamu, Kushina," ucap pedas dari seseorang yang sepertinya sudah ada di belakang Kushina. Kemudian Kushina pun membalikkan badannya.

"O-ohayou, Tsunade-san," ucap Kushina tegang.

"Yo!" sapa Tsunade.

"Ohayou, Tsunade-san. Tumben jam segini sudah bangun," sapa Shizune.

"Aku lapar, jadi aku bangun lebih awal. Apa sarapannya sudah siap, Shizune?"

"Sebentar lagi rotinya matang, Tsunade-san. Bagaimana kalau Tsunade-san duduk dulu?"

"Baiklah," jawab Tsunade. Kemudian ia pun duduk disebelah Kushina.

"Ohayou..." sapa Hashirama yang terlihat amat sangat mengantuk. Ia pun diikuti oleh Tobirama dan Hiruzen yang sama dengan Hashirama—terlihat amat sangat mengantuk.

"Ohayou. Rotinya sebentar lagi matang, jadi sebaiknya kalian tunggu dulu ya," ucap Shizune layaknya ibu diantara mereka.

"Haaai..." ucap Hashirama, Tobirama, dan Hiruzen berbarengan. Kemudian mereka bertiga langsung duduk seperti apa yang dilakukan Tsunade sebelumnya.

"Ano... Aku mau menggosok gigiku dulu ya, Shizune-san," ucap Kushina yang kemudian langsung berdiri ditempatnya.

"Ah, Kushina, bisa kau bangunkan Minato?" tanya Shizune.

"E-eh? A-aku?" tanya Kushina memastikan.

"Iya, kamu, Kushina,"

"Ba-baiklah, Shizune-san..."

"Cepat kembali kesini atau tidak jatah sarapanmu akan kumakan," ancam Tsunade.

"Tsunade-san! A-ah, Kushina, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi kok. Tenang saja,"

"K-kalau begitu, aku mau menggosok gigiku dulu ya-ttebane," ucap Kushina. Kemudian ia segera berjalan meninggalkan tempat itu dan pergi kekamarnya.

"Dasar..." ucap Shizune pelan.

"Oi, Shizune! Dimana sarapanku?" tanya Tsunade kesal.

"Ya, ya, Tsunade-san!"

.

.

.

Setelah Kushina menggosok giginya dan mengganti piyamanya, ia pun segera berjalan menuju kamar Minato. Dengan hati yang tak tenang, ia pun mengoceh tak jelas saat ia dalam perjalanan menuju kamar Minato. Seperti...

"Oi, Minato! Ayo bangun! Jangan sampai rezekimu dipatok ayam!" ucap Kushina mengikuti gaya Tsunade.

"Ah, tidak, tidak. Rasanya aku tidak seseram Tsunade-san-ttebane,"

"Ohayou, Minato. Ayo bangun, ini sudah pagi, lho," ucap Kushina yang kini mengikuti gaya Shizune.

"T-tidak mungkin aku bisa begitu-ttebane!"

"Ohayou, Minato-san. Mau sampai kapan kamu tidur?" ucap Kushina yang kini mengikuti gaya Hashirama.

"E-eh, itu lebih mirip maid dari pada Hashirama-san-ttebane!"

Namun tak terasa, dia sudah ada didepan kamar Minato. Ia pun menghela napas sebentar kemudian mengeluarkannya dengan cepat.

"Yosh! Aku tak peduli, yang penting aku akan gunakan caraku sendiri!" ucap Kushina semangat.

Kemudian ia mulai membuka pintu kamar Minato secara perlahan-lahan dan mengucapkan, "Permisi..."

Kushina pun mulai berjalan perlahan-lahan mendekati kasur Minato.

"Minato, ayo bangun. Mau sampai kapan kau tidur?" tanya Kushina saat ia sudah ada disamping kasur Minato.

"Ngh... Sebentar lagi..."

Kushina pun tersenyum melihat kelakuan Minato yang seperti anak kecil itu.

"Kau seperti anak kecil saja, Minato... Hei, ayo bangun. Apa perlu sarapanmu kuhabiskan?"

"Aku bisa membuatnya lagi nanti... Tolong biarkan aku tidur sekarang..."

Kushina pun mencubit pipi Minato dan berkata, "Kalau kau tidak bangun, aku bisa mencubitmu lebih dari ini, lho?"

"Sakiiit..." rintih Minato. Tapi ia pun tidak kunjung bangun dan Kushina pun mulai kesal. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dibenak Kushina.

"Ara, Tsunade-san? Kau menyusulku karena Minato tak kunjung bangun-ttebane? Terima kasih! Tolong buat dia bangun, Tsunade-san!"

Minato yang mendengar Kushina mengatakan hal itu, langsung membuka matanya dan langsung duduk ditempatnya. Kushina pun kaget akan hal itu.

"A-aku sudah bangun, Tsunade-san!" ucap Minato sedikit takut.

"Pfft—ahahaha!" tawa Kushina. Minato pun segera menengok kearah suara tawa itu, dan merasa jengkel karena ternyata Kushina lah yang menjahilinya.

"Kushina, kau menyebalkan sekali..." ucap Minato sambil menopang dagunya.

"Ahahaha, aku minta maaf, Minato. Habis kau tidak kunjung bangun-ttebane," ucap Kushina menghentikan tawanya.

"Hah, baiklah. Ngomong-ngomong, kenapa pipiku sakit, ya?" tanya Minato sambil meraba-raba pipinya.

"Tadi aku mencubitmu, karena kau tidak kunjung bangun-ttebane,"

"Berani sekali kau, Kushina,"

"Ahahaha, habis kau tidak kunjung bangun, jadi tadi aku mencubit pipimu,"

"Ngomong-ngomong, kau sudah mulai sering menggunakan '-ttebane' ya, Kushina?"

"Ma-maaf! Dulu aku terbiasa seperti itu, dan sekarang kebiasaanku mulai muncul lagi. A-apa terdengar aneh?"

"Hm? Tidak kok,"

"Baguslah kalau begitu..." ucap Kushina tersenyum.

"Ne, kau harus tanggung jawab, Kushina,"

"Tanggung jawab? Atas apa-ttebane?"

"Pipiku kan jadi sakit gara-gara kau,"

"Oh begitu... Baik, baik, aku akan tanggung jawab. Akan aku belikan ramen yang dekat sini-ttebane,"

"Tidak! Terlalu murah!"

"Hah?! Sudah syukur aku masih mau tanggung jawab atas pipimu, kenapa kau protes-ttebane?"

"Kan sudah kubilang, itu terlalu murah! Kenapa kau tidak belikan aku sushi di toko dekat stasiun?"

"Tidak! Aku tidak punya uang untuk membelinya! Lagi pula, kenapa aku harus meneraktirmu semahal itu hanya karena aku mencubit pipimu-ttebane?"

"Suka-suka aku dong. Kenapa kau harus protes, huh?" tanya Minato sewot.

"Ya tentu sa—"

"Ano, maaf mengganggu perkelahian kalian. Kita ada konser untuk sebuah acara dalam 3 hari lagi. Maka dari itu, Tsunade-san menyuruhku untuk memanggil kalian dan segera latihan," ucap Shizune yang tiba-tiba sudah ada di depan kamar Minato.

"Kalau begitu, tolong bilang kepada Tsunade-san, bahwa aku akan kesana 5 menit lagi," ucap Minato.

"Baik. Kalau kau, Kushina?"

"Aku akan langsung ke tempat latihan-ttebane,"

"Baiklah kalau begitu. Ayo kita kesana, Kushina,"

"Ya, Shizune-san,"

Kemudian Kushina dan Shizune pun meninggalkan kamar Minato.

"3 hari lagi, ya? Kalau begitu, aku harus latihan dengan tekun," ucap Minato.

Drrt—Drrt—Drrt—

Tiba-tiba HP Minato bergetar dan berbunyi. Nama 'Rin Nohara' pun terpampang di layar HP Minato.

"Halo?"

"Ah, maaf mengganggumu pagi-pagi begini, Minato. Aku mau tanya, apa kau dan bandmu ada jadwal konser dekat-dekat ini?"

"Kebetulan 3 hari lagi kami mau ada konser. Memangnya ada apa?"

"Wah, benarkah? Yokatta! Kebetulan Obito-kun akan ada dinas keluar kota, jadi aku kesepian. Maka dari itu aku bertanya padamu, apakah ada jadwal konser atau tidak,"

"Oh, begitu..."

"Kalau begitu, nanti beri tahu aku tempatnya, ya?"

"Ya,"

"Jaa ne, Minato!"

Kemudian Minato menutup percakapannya dengan Rin.

"Dasar orang yang merepotkan," ucap Minato menghela nafas.

.

.

.

"Halo?"

"Bagaimana, kau sudah dapat informasinya?"

"Tentu. Mereka akan konser 3 hari lagi,"

"Dimana?"

"Ah, kalau soal itu, aku belum tahu. Namun yang jelas, aku akan langsung memberi tahu anda ketika aku sudah dapat informasinya,"

"Baiklah kalau begitu. Aku ingin dia segera kembali dan bertunangan dengan orang yang sudah kupilih,"

"Ya, tuan. Aku akan berusaha supaya dia segera pulang,"

"Bagus kalau kau mengerti,"

Tuut—tuut—tuut—

"Benar-benar sangat menyebalkan,"

.

.

.

3 hari kemudian

"Wah, tak terasa sebentar lagi kita tampil," ucap Shizune senang.

"Tapi aku takut akan melakukan kesalahan nanti-ttebane," ucap Kushina.

"Daijoubu, daijoubu! Kau pasti bisa, tenang saja," ucap Shizune tersenyum.

"Aku haus. Aku ingin membeli minuman dahulu," ucap Minato.

"Ah, cepat kembali ya, Minato! Soalnya sebentar lagi kita tampil," ucap Shizune.

"Ya, Shizune-san," ucap Minato. Kemudian ia berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu.

"Ngomong-ngomong, dimana Tsunade-san? Dari tadi aku belum melihatnya-ttebane,"

"Ah, dia sedang ada urusan dengan seorang fotografer,"

"Fotografer?"

"Iya. Dia ditawarkan untuk membuat seperti kumpulan foto begitu,"

"Sou ka..."

"Mungkin selanjutnya kamu yang akan ditawarkan," ucap Shizune tersenyum.

"E-eh, tapi aku kan tidak cantik untuk difoto-ttebane," ucap Kushina.

"Kau itu ngomong apa, Kushina? Kau bahkan lebih cantik dari Tsunade," ucap Hashirama.

"E-eh? Hontou?" tanya Kushina.

"O-onii-san! Kalau Tsunade mendengar itu, nyawamu bisa terancam, lho!" ucap Tobirama ketakutan.

"Lho, tapi kan dia sedang tidak ada disini. Lagi pula, itu memang kenyata—"

"Oh, jadi Kushina lebih cantik dari aku?"

Glek!

Hashirama dan Tobirama pun menelan ludah mereka dan menengok kearah belakang mereka.

"Aku mendengar semuanya, lho?" ucap Tsunade yang sudah murka.

Kemudian, Tsunade pun mulai memarahi Hashirama dan Tobirama.

.

.

.

Lain hal dengan Minato, ia masih berjalan menuju ke mesin penjual minuman dan sayangnya, ia belum menemukannya.

"Haah... Kenapa susah sekali mencari mesin penjual minuman?" ucap Minato kesal.

"Minato~!"

Minato yang merasa terpanggil pun langsung memutar badannya dan mencari siapa yang memanggilnya. Ternyata yang memanggilnya adalah Rin.

"Halo!" ucap Rin tersenyum.

"Ternyata kau, Rin," ucap Minato.

"Lho, kenapa kau lesu begitu? Nih, aku beri minuman yang kebetulan aku beli disana," ucap Rin menawarkan sebuah minuman kepada Minato.

"Arigatou," ucap Minato. Kemudian ia menggambil minuman itu dari tangan Rin.

"Ne, bukannya kamu mau tampil ya, Minato? Kenapa kamu masih disini?"

"Aku mau membeli minuman di mesin penjual minuman, hanya saja aku belum menemukannya,"

"Oh, begitukah? Kalau begitu, ayo cepat kesana!"

"Ya. Sekali lagi, terima kasih ya, minumannya,"

"Sama-sama. Semangat untuk konsernya!" ucap Rin menyemangati Minato.

"Thanks," ucap Minato. Kemudian ia segera berjalan kearah belakang panggung.

.

.

.

Minato yang baru saja kembali dibingungkan oleh Hashirama dan Tobirama yang sedang diceramahi oleh Tsunade.

"Ah, kau sudah kembali-ttebane," ucap Kushina.

"Ada apa ini?" tanya Minato sambil menunjuk kearah Hashirama dan Tobirama yang sedang diceramahi Tsunade.

"Ah, tidak ada apa-apa... Hanya masalah kecil-ttebane," ucap Kushina.

"Sou ka," ucap Minato. Kemudian ia duduk disamping Kushina.

"Kau beli apa, Minato?" tanya Kushina.

"Aku berniat mau membeli kopi, tapi disaat aku sedang mencari mesin penjual minuman, aku bertemu Rin dan diberi ini,"

"Rin...?" ucap Kushina dengan mimik tak suka.

"Ya, Rin. Yang pernah makan bersama kita,"

"Aku tidak lupa, kok-ttebane,"

"Minna! Ini giliran kita! Semangat ya!" ucap Shizune. Kemudian, mereka berlima segera berjalan keatas panggung.

.

.

.

Penampilan band Hokage hari ini benar-benar meriah. Sejak kedatangan Kushina, semakin banyak yang datang untuk melihat penampilan band Hokage.

"Kalian memang hebat!" ucap Rin yang tiba-tiba ada didepan mereka berlima. Kushina yang memang tidak suka dengan Rin, langsung memalingkan wajahnya.

"Terima kasih," ucap Tsunade, Hashirama, Tobirama, Hiruzen, dan Minato bersamaan.

"Ah, aku mau membeli minum dulu..." ucap Kushina.

"Aku ikut!" ucap Rin. Kushina pun menatap jengkel ke arah Rin.

"Aku bisa beli sendiri,"

"Tapi aku mau ikut Kushina-chan!"

"Sudahlah Kushina, biarkan dia ikut. Ah, aku juga mau ya. Aku ingin teh," ucap Tsunade.

"Baiklah, baiklah. Ayo," ucap Kushina mulai berjalan mencari mesin penjual minuman.

"Asyik! Tunggu aku, Kushina-chan!" ucap Rin mulai menyusul Kushina.

"Kelihatannya Kushina kurang suka dengan Rin..." ucap Minato.

"Dia memang tidak suka, Minato," ucap Tsunade berusaha untuk meyakinkan Minato.

"Oh, begitukah? Kenapa ya?" tanya Minato.

"Sepertinya kau harus mulai berguru dengan Hashirama untuk mempelajari cara mengerti wanita, Minato," jawab Tsunade.

"Tidak, terima kasih,"

.

.

.

"Ne, Kushina-chan! Kamu beli apa?" tanya Rin antusias. Namun Kushina tetap fokus mencari apa yang diinginkannya.

"Ne, Kushina-chan!" panggil Rin lagi. Namun nihil, Kushina masih fokus memilih.

"Kushina-chan!" panggil Rin lagi. Namun masih nihil, Kushina masih fokus memilih.

"Kushina Shimizu-chan," panggil Rin lagi. Kushina pun terdiam ditempatnya.

"Kenapa kau bisa tahu nama itu?" tanya Kushina.

"Ah, akhirnya kau bicara juga ya, Kushina-chan?" ucap Rin yang terlihat senang.

"Hei, aku bertanya kepadamu! Kenapa kau bisa tahu nama itu?" tanya Kushina lagi.

"Kau mau tahu? Baiklah. Aku adalah Rin Nohara, orang yang disuruh ayahmu untuk mencarimu juga untuk membawamu pulang,"

"A-apa?!"

"Kau mau tahu, bukan? Demi mencarimu yang kabur dari kediaman Shimizu, beliau sampai mengerahkan banyak sekali mata-mata,"

"Ka-kalau begitu..."

"Namun hanya aku yang bisa menemukanmu. Pada akhirnya, ayahmu memintaku untuk mengawasimu,"

"Sepertinya sekarang alasan aku membencimu semakin kuat, Rin,"

"Silahkan kau mau membenciku. Tapi kuperingatkan padamu. Pada suatu saat nanti, ayahmu tak segan-segan membunuh orang yang membantumu bersembunyi, termasuk anggota band Hokage yang tidak tahu apa-apa,"

"A-apa?!"

"Maka dari itu, cepat kau kembali ke pangkuan ayah tercintamu itu, dan turuti kemauannya,"

"Tidak! Untuk apa aku kabur bila aku menuruti kemauannya?"

"Kalau begitu, akan kuberi tahu satu hal lagi, Kushina-chan,"

"A-apa itu?"

"Yang memberi tahu jadwal dan tempat konser band Hokage adalah Minato,"

"A-apa...? K-kalau begitu, Minato—"

"Dia bukan orang suruhan ayahmu. Saat ini, hanya aku yang disuruh ayahmu untuk membawamu pulang,"

"Kalau begitu... jangan-jangan, kau memanfaatkannya?"

"Yak! Tepat sekali, Kushina-chan!"

"Kurang ajar kau, Rin..."

"Saat ini, aku hanya disuruh untuk mengawasimu. Sampai saatnya aku disuruh bertindak untuk membawamu pulang, aku akan terus memanfaatkan Minato untuk tugasku,"

"Kenapa kau membantu ayahku?"

"Kenapa? Itu sudah 'tugas' untukku, Kushina-chan,"

"Sial..." ucap Kushina sebal. Kemudian, Rin pun melihat kearah jam tangannya.

"Ah, sudah waktuku untuk pergi. Salam untuk band Hokage ya, Ku-shi-na-chan!" ucap Rin sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Sial, kenapa semua jadi begini...?" ucap Kushina pelan.

.

.

.

To Be Continue

.

.

Author note:

Saya mengucapkan banyak maaf untuk yang menunggu chapter 5 ini. Karena kesibukan sehabis puasa, dan juga UTS yang baru saja selesai benar-benar membuat saya susah menentukan waktu yang tepat untuk melanjutkan fanfic ini. Terima kasih yang masih setia menunggu! Ini saya persembahkan chapter 5 untuk semuanya :)

Sepertinya itu saja yang bisa saya sampaikan sekarang. Terima kasih! Mind to review?