Icha-Icha Aisyah : ah iya, aku lupa hehe.. Anggap saja mereka sudah makan, ya? *maksa*eeh, aku masih butuh Rin buat cerita disini, tolong jangan di sembelih duluuu ;A; *eh*maaf update-nya lama, karena ada ini-itu, jadi fanfic ini baru dilanjutkan. Selamat menikmati!

FlashRedPolka : minal aidzin juga, cucuku—meski saya tau udah lewat lama banget. Karena chapter kemaren hadiah idul adha, berarti sekarang hadiah tahun baru dong? Wkwkwk. Maaf 'delay'-nya lama—lagi. Tapi saya yakin, anda senang lebih lama dengan 'teacher' :3 marga 'Shimizu'-nya bukan dari Yuuki kok. Entah kenapa, dari awal kan Kushina emang hampir keceplosan ngomong nama aslinya, karena saya—yang entah kenapa—pengen make nama itu, akhirnya aku make nama itu buat Kushina :o

Guest : mohon bersabar untuk romance-nya ya, tapi sebentar lagi saya akan menampilkan romance yang lebih kok dari sebelumnya :) selamat membaca ^^

.

.

.

"Ne, Kushina-chan! Kamu beli apa?" tanya Rin antusias. Namun Kushina tetap fokus mencari apa yang diinginkannya.

"Ne, Kushina-chan!" panggil Rin lagi. Namun nihil, Kushina masih fokus memilih.

"Kushina-chan!" panggil Rin lagi. Namun masih nihil, Kushina masih fokus memilih.

"Kushina Shimizu-chan," panggil Rin lagi. Kushina pun terdiam ditempatnya.

"Kenapa kau bisa tahu nama itu?" tanya Kushina.

"Ah, akhirnya kau bicara juga ya, Kushina-chan?" ucap Rin yang terlihat senang.

"Hei, aku bertanya kepadamu! Kenapa kau bisa tahu nama itu?" tanya Kushina lagi.

"Kau mau tahu? Baiklah. Aku adalah Rin Nohara, orang yang disuruh ayahmu untuk mencarimu juga untuk membawamu pulang,"

"A-apa?!"

"Kau mau tahu, bukan? Demi mencarimu yang kabur dari kediaman Shimizu, beliau sampai mengerahkan banyak sekali mata-mata,"

"Ka-kalau begitu..."

"Namun hanya aku yang bisa menemukanmu. Pada akhirnya, ayahmu memintaku untuk mengawasimu,"

"Sepertinya sekarang alasan aku membencimu semakin kuat, Rin,"

"Silahkan kau mau membenciku. Tapi kuperingatkan padamu. Pada suatu saat nanti, ayahmu tak segan-segan membunuh orang yang membantumu bersembunyi, termasuk anggota band Hokage yang tidak tahu apa-apa,"

"A-apa?!"

"Maka dari itu, cepat kau kembali ke pangkuan ayah tercintamu itu, dan turuti kemauannya,"

"Tidak! Untuk apa aku kabur bila aku menuruti kemauannya?"

"Kalau begitu, akan kuberi tahu satu hal lagi, Kushina-chan,"

"A-apa itu?"

"Yang memberi tahu jadwal dan tempat konser band Hokage adalah Minato,"

"A-apa...? K-kalau begitu, Minato—"

"Dia bukan orang suruhan ayahmu. Saat ini, hanya aku yang disuruh ayahmu untuk membawamu pulang,"

"Kalau begitu... jangan-jangan, kau memanfaatkannya?"

"Yak! Tepat sekali, Kushina-chan!"

"Kurang ajar kau, Rin..."

"Saat ini, aku hanya disuruh untuk mengawasimu. Sampai saatnya aku disuruh bertindak untuk membawamu pulang, aku akan terus memanfaatkan Minato untuk tugasku,"

"Kenapa kau membantu ayahku?"

"Kenapa? Itu sudah 'tugas' untukku, Kushina-chan,"

"Sial..." ucap Kushina sebal. Kemudian, Rin pun melihat kearah jam tangannya.

"Ah, sudah waktuku untuk pergi. Salam untuk band Hokage ya, Ku-shi-na-chan!" ucap Rin sambil melambai-lambaikan tangannya.

"Sial, kenapa semua jadi begini...?" ucap Kushina pelan.

.

.

.

For Me, or For You?

By: Sekar Yamada

Naruto © Masashi Kishimoto

A Fanfic Requested(?)

.

.

Chapter 6

.

.

.

Shizune yang khawatir karena Kushina tidak segera kembali, memanggil Minato yang kebetulan ada di dekatnya.

"Ne, Minato,"

"Ya?"

"Bisakah kamu mencari Kushina sekarang? Entah mengapa, kalau dia hanya membeli minuman, tak akan sampai selama ini,"

"Eh? Tapi memang susah mencari—"

"Tak perlu banyak komentar, sana cepat cari dia!" ucap Tsunade yang sepertinya mendengar obrolan Shizune dan Minato.

"B-baik!"

Kemudian Minato langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mencari Kushina.

"Aaah, aku akui kalau Tsunade-san itu seram. Dan mungkin dia lebih seram dari Okaa-san. Aku—ah, itu dia. Kushina!" panggil Minato. Namun yang dipanggilnya tetap diam sambil memegang minuman.

"Kushina!" panggil Minato—lagi.

"Ah, Minato. Ada apa-ttebane?"

"Shizune-san menyuruhku untuk mencarimu," jawab Minato.

"Oh, begitukah? Ah, ya, aku belum beli teh untuk Tsunade-san. Bisa tunggu sebentar-ttebane?"

"Aku ikut. Aku juga mau membeli sesuatu,"

"Oke," ucap Kushina tersenyum. Kemudian Kushina dan Minato berjalan ketempat tadi Kushina membeli minuman.

"Ne, Minato,"

"Hmm?"

"Kalau boleh tau, sejak kapan kamu dan Rin mulai kenal-ttebane?"

"Hmm... Kalau tidak salah, dia adalah orang pertama yang menyapaku disaat hari pertama aku baru masuk Taman Kanak-Kanak. Kemudian aku bertemu Obito dan Kakashi yang kebetulan adalah tetangga Rin, jadi aku dikenalkan oleh Rin. Memangnya ada apa?"

"Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya merasa kalau kalian dekat sekali-ttebane," jawab Kushina.

"Oh, benarkah? Mungkin itu karena aku, Rin, Obito, dan Kakashi terus satu sekolah sampai SMA,"

"Kalian tidak satu Universitas saat kuliah-ttebane?"

"Tidak. Kakashi pergi kuliah ke Inggris karena permintaan ayah-nya, Rin dan Obito pergi kuliah ke Amerika karena kebetulan mereka mendapat beasiswa untuk kuliah disana, sedangkan aku tetap disini,"

"Souka..."

"Ah, itu tempat beli minumannya. Tsunade-san minta teh, kan? Biar aku saja yang belikan," ucap Minato. Kemudian ia memilih teh yang sepertinya sering Tsunade minum.

"A-arigatou-ttebane,"

"Maaf, tolong titip minumannya Tsunade-san, Kushina. Aku ingin memilih minuman," ucap Minato. Namun yang diajak bicara diam saja.

"Kushina?"

"A-ah, ya, Minato. Sini minumannya, biar kubawakan-ttebane," ucap Kushina.

"Sepertinya setelah kau membeli minuman dengan Rin, kau jadi aneh. Ada apa? Apa Rin mengatakan sesuatu?"

"Aku tidak apa-apa, kok. Aku hanya sedikit lelah karena kita sehabis tampil-ttebane," ucap Kushina yang berusaha untuk tidak membuat Minato khawatir.

"Benarkah?"

"Umm! Aku baik-baik saja-ttebane," ucap Kushina tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Ini teh yang biasa diminum Tsunade-san. Tolong kau pegang dulu, aku ingin memilih minuman,"

"Iya-ttebane," ucap Kushina sambil mengambil teh yang akan diberikan untuk Tsunade. Setelah memberikan teh itu kepada Kushina, Minato langsung mengalihkan wajahnya ke penjual minum itu. Kushina yang masih terbayang-bayang omongan Rin, menatap Minato dengan tatapan sendu. Minato yang sadar ditatapi Kushina, langsung mengalihkan wajahnya kearah Kushina.

"Kushina, ada apa?" tanya Minato. Sedangkan yang ditanya masih menatap Minato dengan tatapan sendu.

"Kushina?"

"A-ah ya, ada apa-ttebane?" tanya Kushina kaget.

"Ada apa? Kau menatapku seakan aku akan mengalami suatu hal yang luar biasa," tanya Minato khawatir.

"Tidak, tidak apa-apa kok, sungguh. Kamu saja yang terlalu berlebihan-ttebane," jawab Kushina.

"Kau mungkin benar. Ah, tunggu sebentar lagi ya. Aku tinggal memasukkan uangku dan mendapat minuman yang ku mau," ucap Minato. Kemudian ia langsung memasukkan beberapa yen untuk dimasukkan kedalam mesin itu.

"...lalu apa yang harus kulakukan?" ucap Kushina pelan.

.

.

.

"Hei, kalian lama sekali!" bentak Tsunade ketika Minato dan Kushina mendekati Tsunade.

"Kan Shizune-san menyuruhku untuk mencarinya," protes Minato sambil menunjuk Kushina.

"Huh! Sudahlah! Kami hampir mau meninggalkan kalian disini," ucap Tsunade dengan nada ketus.

"Eh? Kejam sekali-ttebane..." ucap Kushina kaget.

"Ah, Tsunade-san bohong kok! Tidak mungkin kami meninggalkan kalian..." ucap Shizune lembut.

"Itu benar kok. Tadi Hiruzen marah-marah karena kalian belum datang juga, jadi katanya lebih baik kalian ditinggal," ucap Tsunade.

"E-eh, benarkah? Kalau begitu aku minta maaf-ttebane..." ucap Kushina sambil membungkukkan badannya.

"Aku juga minta maaf karena lama," ucap Minato.

"Su-sudahlah, tak perlu dipikirkan... Ah, bagaimana kalau sekarang kalian masuk ke mobil? Yang lainnya sudah menunggu," ucap Shizune lembut.

"Baik," ucap Minato dan Kushina berbarengan.

"Ah, Kushina, mana tehku?" tanya Tsunade.

"Oh ya, hampir saja aku lupa. Minato, mana tehnya Tsunade-san-ttebane?"

"Oh iya. Ini tehnya, Tsunade-san," ucap Minato sambil memberi teh yang tadi dibeli kepada Tsunade.

"Sankyuu!" ucap Tsunade yang mengambil tehnya dari Minato. Kemudian mereka naik ke mobil dan pulang ke rumah.

.

.

.

"Halo, ini Rin Nohara,"

"Kudengar kau sudah mengatakan semuanya kepada Kushina, benar begitu?"

"Maaf, aku hanya menuruti perintah tuan agar ia segera kembali,"

"Aku kurang setuju dengan kelakuanmu,"

"Maafkan aku, tuan. Namun saya yakin ia terbawa oleh omongan saya,"

"Kalau dilihat dari sikapnya, sepertinya omonganmu benar,"

"Lalu setelah ini, saya harus apa? Apakah karena tuan tidak suka dengan kelakuanku tentang membicarakan semuanya kepadanya, saya harus membawanya kembali dengan paksa?"

"Tidak, tidak perlu. Lebih baik kita menunggu sebentar dan melihat respon apa yang akan dikeluarkannya,"

"Baik, tuan,"

"Kabari aku kalau ia menghubungimu dan berkata ia akan kembali kesini,"

"Ya, tuan. Tentu saja,"

Tuut—tuut—tuut—

"Aku jadi penasaran dengan reaksi Kushina-chan, ufufu..."

.

.

.

Keesokan paginya, Kushina bangun dan langsung menggosok giginya seperti biasa. Kemudian ia turun kebawah untuk menemui Shizune sekaligus makan pagi.

"Ohayou, Shizune-san," ucap Kushina tersenyum.

"Ohayou, Kushina. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Shizune lembut.

"A-ah ya, tentu saja-ttebane," jawab Kushina yang berusaha meyakinkan Shizune.

"Tapi rasanya, kamu seperti banyak pikiran, Kushina. Ada apa?" tanya Shizune khawatir.

"A-aku baik-baik saja-ttebane," jawab Kushina yang lagi-lagi berusaha untuk meyakinkan Shizune.

"Baiklah kalau kamu tidak mau cerita. Aku tidak akan memaksamu untuk cerita. Tapi aku siap untuk mendengarkan ceritamu setiap saat, Kushina," ucap Shizune lembut.

"Arigatou, Shizune-san," ucap Kushina tersenyum.

"Oh ya, kemarin aku dapat tiket untuk ke taman hiburan. Kebetulan aku dapat dua, kenapa tidak dipakai olehmu untuk pergi berdua bersama Minato, Kushina?" tanya Shizune.

"E-eh, t-tapi aku tidak yakin Minato mau pegi denganku-ttebane," jawab Kushina malu.

"Aku yakin dia pasti mau, kok. Toh selama dia senggang, dia pasti mau,"

"Apa perlu aku yang bicara?"

"Uwaaa, Tsunade-san! O-ohayou," ucap Kushina kaget.

"Ohayou, Tsunade-san," ucap Shizune lembut.

"Ohayou. Shizune, apa makanan untuk makan pagi hari ini?"

"Aku buatkan telur mata sapi, Tsunade-san,"

"Cepat ya, aku lapar," ucap Tsunade ketus.

"Ya, ya, Tsunade-san," kemudian Shizune langsung mengambil telur mata sapi yang sudah matang dan menaruhnya ke piring.

"Jadi bagaimana, Kushina? Mau aku yang bicara ke Minato?" tanya Tsunade.

"Kurasa kalau Tsunade-san yang bicara, Minato akan langsung menurutinya tanpa banyak bicara," ucap Shizune.

"Kau menghinaku, Shizune?" tanya Tsunade kesal.

"A-aku tidak bermaksud menghinamu, Tsunade-san. Ah ya, ini telur mata sapinya," jawab Shizune. Kemudian Shizune memberikan 1 piring yang ada telur mata sapinya itu ke Tsunade. Tsunade pun tanpa banyak bicara, langsung mengambil piring itu.

"Ano, Shizune-san, Tsunade-san..."

"Ya, Kushina?" tanya Shizune.

"A-aku akan bicara sendiri kepadanya-ttebane," ucap Kushina.

"Ou! Ganbatte," ucap Tsunade.

"Arigatou," ucap Kushina tersenyum.

"Ah, kamu ambil sendiri tiketnya di mejaku, ya," ucap Shizune.

"Arigatou, Shizune-san. Nanti akan kuambil-ttebane,"

Kemudian mereka makan pagi bersama. Setelah makan, Kushina langsung pergi ke kamar Minato untuk mengajaknya ke taman hiburan.

Tok, tok, tok

"Permisi..." ucap Kushina sambil membuka pintu kamar Minato. Sesuai dugaan Kushina, Minato masih tertidur dengan nyenyak.

"Dasar, selalu saja begini-ttebane..." desah Kushina. Kemudian ia langsung berjalan kearah tempat Minato tertidur. Kushina pun duduk disebelah kasur Minato dan mencubit pelan pipi Minato.

"Hei, bangun Minato... Sudah pagi, lho-ttebane..."

"Iya... Sebentar lagi..."

"Nanti makananmu kuhabiskan, lho-ttebane,"

"Aku tak peduli... Aku masih ingin tidur..."

"Eh, benarkah? Makan pagi hari ini enak, lho... Katanya itu kesukaanmu. Apa tak peduli kalau itu kuhabiskan-ttebane?" tanya Kushina. Minato pun langsung bangun dari tidurnya dan menatap kearah Kushina. Dengan mata yang masih mengantuk, Minato meletakkan kedua tangannya ke pundak Kushina.

"Kalau kau menghabiskannya, kau bisa tak melihat hari esok, kau mengerti?" ancam Minato. Kushina pun langsung mengangguk-angguk ucapan Minato.

"Baguslah kalau kau mengerti," ucap Minato.

"Ano, Minato,"

"Hmm...?"

"Shizune-san mendapat dua tiket ke taman hiburan, namun ia memberinya kepadaku. A-apakah kau mau pergi bersamaku-ttebane?" tanya Kushina malu. Terpampang jelas sekali kalau sekarang wajah Kushina memerah seperti tomat.

"Hmm..." dengung Minato.

"Ba-bagaimana, kau mau-ttebane?" tanya Kushina memastikan.

"Baiklah, aku mau," jawab Minato. Kushina pun tersenyum senang.

"Kalau begitu, aku ganti baju dulu—eh, kenapa kau tidur lagi-ttebane?!"

"...memangnya hari ini?" tanya Minato.

"Iya," jawab Kushina. Minato pun bangun lagi dari tidurnya dan mulai berjalan ke arah kamar mandi.

"Minato?"

"Apa? Kau mau pergi denganku, kan? Aku mau menggosok gigiku dulu dan ganti baju. Apa kau juga mau ganti baju denganku?" tanya Minato.

"K-kalau begitu aku ganti baju dulu ya. Pe-permisi-ttebane!" jawab Kushina dan langsung keluar kamar Minato.

"Haaah, dasar..." ucap Minato.

.

.

.

Setelah Kushina ganti baju dan mengambil tiket taman hiburan itu di kamar Shizune, Kushina menunggu Minato di teras depan.

"...sepertinya aku harus bicara kepada ayah-ttebane," ucap Kushina pelan.

"Mau aku antar?" tanya seseorang yang ada dibelakang Kushina. Dan ternyata dia adalah Minato.

"A-apa kamu mendengar semuanya-ttebane?" tanya Kushina khawatir.

"Tidak. Aku hanya mendengar kalimat yang barusan," jawab Minato sambil menguap.

"Syukurlah..." ucap Kushina tersenyum.

"Lalu, kemana kita sekarang?"

"Ah, ke taman hiburan ini-ttebane," jawab Kushina sambil menunjukkan tiket taman hiburan itu.

"Hmm... Oke, ayo kita berangkat," ucap Minato setelah membaca nama taman hiburan di tiket itu. Kemudian mereka mulai jalan ke taman hiburan itu.

Sesampainya disana, Kushina melihat kesana-kemari dengan pandangan takjub.

"Sepertinya kau senang sekali, Kushina," ucap Minato.

"Ah, soalnya ini pertama kalinya aku datang ke tempat seperti ini-ttebane," ucap Kushina.

"Eh? Sungguh?" tanya Minato kaget.

"Umm!" jawab Kushina sambil mengangguk.

"Kalau begitu... Ayo kita main ke permainan yang kamu inginkan,"

"Eh? Iie, iie, iie, aku mau mengikutimu saja-ttebane,"

"Katanya ini pertama kalinya kamu datang ke tempat seperti ini, jadi aku ingin kamu bebas pergi ke permainan yang kamu inginkan," ucap Minato.

"Justru karena ini pertama kalinya, aku kurang tau apa yang seru disini. Jadi kurasa Minato tau yang seru disini,"

"Kau yakin?" tanya Minato memastikan.

"Umm!" jawab Kushina sambil mengangguk.

"Kalau begitu, ayo kita main itu!" ucap Minato sambil menunjuk rooler coaster. Kemudian Kushina melihat apa yang ditunjuk Minato.

Glek!

"E-eh?" ucap Kushina kaget.

"Bagaimana, kau masih mau aku yang menunjukkan permainan yang seru?" tanya Minato memastikan—lagi.

"I-iya, tidak apa-apa-ttebane," jawab Kushina. Kemudian Minato langsung menggandeng tangan Kushina dan membawanya ke arah rooler coaster. Sedangkan Kushina hanya bisa diam dan blushing karena tangannya digandeng oleh Minato.

.

.

.

"Kau tidak apa-apa-ttebane?" tanya Kushina memastikan Minato yang terlihat 'setengah mati' entah apa alasannya.

"A-aku tidak apa-apa,"

"Kamu yakin? Ah, apa karena kamu belum makan, jadi kamu lemas-ttebane?" tanya Kushina.

"Aku rasa, karena kita sudah main rooler coaster 3 kali, jadi aku lemas. Kamu kenapa bisa tidak lemas sepertiku?"

"Eh? Entahlah, aku merasa senang dengan permainan ini. Jadi disaat kamu mengajakku untuk main ini lagi, aku tidak keberatan-ttebane,"

"Dasar cewek aneh..." ucap Minato.

"Ah, aku belikan makanan dulu ya untukmu. Tunggu sebentar disini ya-ttebane,"

"Iya," ucap Minato lemas.

Drrt—Drrt—Drrt—

"Ya, halo?"

"Halo, Minato! Ah suaramu barusan terdengar berat, kau tidak apa-apa?"

"Ya, aku tidak apa-apa. Ada apa, Rin?"

"Besok aku ingin makan berdua dengan Kushina-chan, bisakah kau berikan telefon kepadanya?"

"Dia sedang membelikan makanan untukku,"

"Yaaah, sayang sekali. Kalau begitu, bisakah nanti kau kasih tau hal ini kepadanya? Ah, tolong berikan nomor telefonku untuknya agar ia bisa menghubungiku,"

"Baiklah,"

"Nah, kalau begitu—"

"Tunggu, aku mau tanya,"

"Hm? Mau nanya apa, Minato?"

"Sebenarnya, kau bicara apa dengan Kushina kemarin?"

"Kenapa kamu mau tahu?"

"Karena... setelah ia berbicara denganmu, ia terlihat aneh,"

"Oh, begitu... Suatu saat kau akan tahu semuanya, kok. Entah sengaja atau tidak,"

"Apa maksudmu?"

"Hmm... Intinya, suatu saat kau akan mengerti omonganku, Minato,"

"Hah?"

"Ah, sudah dulu ya, Minato. Acara favoritku sudah mulai. Daaah!"

"E-eh, tunggu dulu, Rin! Argh, sial, terputus," ucap Minato kesal.

"Ada apa-ttebane?" tanya Kushina yang ternyata sudah ada disebelah Minato dan memegang makanan dan minuman untuk Minato.

"Ti-tidak apa-apa. Tadi Rin bilang, besok dia ingin makan berdua denganmu,"

"Eh?"

"Lalu karena tadi kamu sedang membelikanku makanan, jadi dia menyuruhku untuk memberi nomornya untukmu agar kau menghubunginya,"

"Oh, begitu... Lalu dia bicara apa lagi-ttebane?"

"Ketika aku tanya kemarin kalian berdua bicara apa, dia malah menjawab kalau suatu saat aku akan tahu semuanya. Entah sengaja atau tidak,"

"Begitu rupanya..."

"Memangnya kemarin kalian bicara apa?"

"Bukan hal penting, kok. Ah, ini makananmu-ttebane," ucap Kushina sambil memberi makanan ke Minato.

"Arigatou," ucap Minato menerima makanan dari Kushina.

"Ne, Minato,"

"Hmm?"

"Setelah kau makan, bolehkah kita main itu-ttebane?" tanya Kushina sambil menunjuk kearah kincir raksasa.

"Ah, ya, tentu saja," jawab Minato.

"Boleh aku minta nomor Rin-ttebane?"

"Ini, cari saja di handphoneku," jawab Minato sambil memberikan handphonenya ke Kushina.

"Terima kasih," ucap Kushina dalam bahasa Indonesia. Minato pun langsung menatap aneh ke Kushina.

"Kau ngomong apa, Kushina?" tanya Minato.

"Itu 'terima kasih' dalam bahasa Indonesia-ttebane," jawab Kushina.

"Eh?"

"Sebentar ya, aku mau menelfon Rin dulu-ttebane,"

"Ah, ya,"

Kemudian Kushina langsung mencari nama Rin di daftar kontak handphone Minato. Setelah itu, ia menyalinnya ke handphone-nya dan menelfon Rin.

"Halo? Ini Kushina,"

"Ah, halo Kushina-chan. Ada apa?"

"Tadi kata Minato, kau mengajakku makan bareng. Apa itu benar-ttebane?"

"Yaaah, itu sih, kalau kau mau. Kalau kau mengerti omonganku kemarin, seharusnya kau mengerti ajakanku, Kushina-chan,"

"Sekarang aku sedang ada di Taman Hiburan Lily, apa kau bisa menjemputku dan mengantarku pulang-ttebane?"

"Wah, cepat sekali kau ingin pulang, Kushina-chan. Ada apa, kau rindu ayahmu?"

"Cepat jawab pertanyaanku-ttebane,"

"Kau galau sekali, Kushina-chan. Aku bisa, kok. Mau bertemu dimana?"

"Depan gerbang. Nanti aku kabari kalau aku sudah mau kedepan-ttebane,"

"Oke, oke. Aku berangkat sekarang dari rumah, ya,"

Tuut—tuut—tuut—

"Kushina, aku sudah selesai makan,"

"Kalau begitu, ayo kamu cuci tangan dan kita segera naik itu-ttebane," ucap Kushina tersenyum.

"Aku sudah cuci tangan, kok,"

"Eh? Benarkah? Cepat sekali-ttebane," ucap Kushina kaget.

"Kalau urusan makan, aku memang cepat. Nah, kamu mau naik itu, kan? Ayo, kita naik," ucap Minato sambil memegang tangan Kushina—lagi. Wajah Kushina pun kembali memerah seperti tomat.

Setelah berhasil lolos dari antrean yang sangat panjang, akhirnya mereka dapat menikmatinya.

"Uwaa, Minato! Kita mulai naik, lho!" ucap Kushina takjub.

"Hei, jangan bertingkah laku seperti itu, Kushina. Memalukan, tahu,"

"Hehehe... Ne, Minato. Itu rumahku, lho,"

"Mana, mana? Lho, itu bukan rumah ki—"

"Itu rumahku yang sebenarnya-ttebane," potong Kushina.

"Eh? Kau bercanda, kan?"

"Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda-ttebane?"

"Apa maksudnya semua ini?"

"Tadi kau bertanya tentang obrolanku kemarin dengan Rin, kan?"

"Ya,"

"Dan tadi dia bilang kalau kau akan segera tahu, kan?"

"Ya. Apa maksud dari semuanya?"

"Akan kuceritakan. Nama asliku Kushina Shimizu. Aku adalah pewaris satu-satunya dari rumah yang besar tadi-ttebane,"

"Eh?"

"Aku kabur dari rumah karena tidak terima dengan pendapat ayahku yang akan menjodohkanku. Kemudian aku bertemu denganmu, dan bertemu yang lainnya. Lalu kemarin Rin bilang, kalau ia adalah orang suruhan ayahku dan ia bisa berbuat apa saja sesuai perintah ayahku. Termasuk bisa membunuh kalian semua-ttebane,"

"Hah?"

"Karena aku tidak mau itu terjadi, aku akan pulang. Dan..."

"Dan?"

Kushina pun mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Minato.

"Aku mencintaimu, Minato," ucap Kushina tersenyum. Wajah Minato pun memerah.

"Terima kasih untuk semuanya. Tolong sampaikan salamku untuk semuanya-ttebane,"

Kemudian pintu pun terbuka dan Kushina langsung berlari kearah pintu gerbang—tempat ia dan Rin berjanjian.

"Halo? Apa kau sudah didepan?"

"Ya, aku sudah didepan,"

"Oke, aku segera kesana,"

Kemudian ia sudah ada didepan dan langsung bertemu Rin.

"Selamat datang, Kushina-sama," ucap Rin.

"Ya, aku pulang,"

Kushina pun langsung masuk kedalam mobil dan Rin pun mulai menjalankan mobilnya.

"Oh, ya,"

"Ada apa, Kushina-sama?"

"Bisakah kau ambilkan barang-barangku setelah kau mengantarkanku?"

"Akan saya ambilkan,"

.

.

.

"Selamat datang, nona Kushina," ucap para maid yang sepertinya sudah menunggu kedatangan Kushina.

"Ya, aku pulang,"

"Tuan besar sudah ada diruangannya. Apa perlu saya antar, nona?"

"Tidak perlu. Rin, cepat kau ambil barangku dirumah itu,"

"Ya, Kushina-sama," ucap Rin. Kemudian ia langsung pergi. Sementara Kushina pergi keruangan ayahnya.

"Ayah, ini aku Kushina,"

"Masuklah,"

Kemudian Kushina pun memasuki ruangan ayahnya.

"Ayah, maaf aku kabur—"

"Besok adalah hari pertunanganmu, Kushina. Orang yang akan menjadi suamimu adalah orang penting, jadi jangan kabur lagi,"

"...ya, ayah. Aku mengerti,"

.

.

.

"Minato!"

"Aku pulang. Ada apa, Shizune-san?"

"Kau sudah dengar tentang Kushina?"

"Ya. Tadi dia menceritakan semuanya kepadaku,"

"Termasuk pertunangannya?"

"Ya,"

"Tadi Rin kesini dan menceritakan semuanya. Apa yang akan kau lakukan?"

"Apa maksudmu, Shizune-san?"

"Apa kau juga menyukainya?"

"Hal itu... Aku juga tidak tahu,"

"Kalau kau menyukainya, gagalkanlah pertunangan Kushina besok atau kau akan menyesal!"

"Eh? Kenapa aku harus melakukan itu?"

Duk!

"Aduh, sakit..." ucap Minato sambil memegang kepalanya.

"Dasar kau lembek, Minato! Kalau aku jadi kau, aku akan langsung menyeretnya kesini, tak peduli apapun," ucap Tsunade tegas.

"Umm! Aku setuju dengan Tsunade," ucap Hashirama sambil mengangguk-angguk. Tobirama dan Hiruzen yang ada dibelakang Hashirama pun melakukan hal yang sama dengan Hashirama.

"Dari pada kau menyesal kedepannya, mending kau mengatakan padanya dan mengajaknya kabur meski itu nekat dan membahayakan dirimu. Iya kan, Minato?" tanya Shizune lembut.

Minato pun berpikir, dan berpikir.

"Baiklah. Tapi sepertinya aku butuh bantuan kalian,"

"Akhirnya kau mengatakan itu, Minato!" ucap Tsunade tersenyum.

.

.

.

Pagi itu, Kushina yang sudah cantik dengan dress berwarna putih, berjalan menuju ruangan yang akan membuatnya bertemu dengan tunangannya. Ketika ia membuka pintu ruangan itu, tampaklah ayahnya dan seorang pria berambut coklat dikuncir dengan luka di atas hidungnya.

"Akhirnya kau datang juga, Kushina," ucap ayah Kushina ketika Kushina memasuki ruangan itu.

"Salam kenal, Kushina," ucap pria itu.

"Salam kenal juga," ucap Kushina tersenyum. Kemudian Kushina duduk di kursi yang ada di depan pria itu.

"Ah, namaku Iruka Umino,"

"Aku Kushina Shimizu. Tapi aku yakin kamu sudah tahu namaku, ya? Haha..."

"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai—"

"Tunggu!" ucap seseorang yang membuka pintu dengan kasar.

"Mi-Minato?" ucap Kushina kaget.

"Siapa kau?"

"Aku Minato Namikaze, orang yang akan menggagalkan pertunangan Kushina,"

"E-eh? Ta-tapi..."

"Kushina,"

"Y-ya?"

"Setelah kau berkata seperti itu, kau langsung pergi begitu saja. Apa-apaan kau ini, seenaknya saja,"

"M-maaf..."

"Tapi karena omonganmu, aku jadi sadar satu hal,"

"Eh?"

"Cukup, ini pertunanganku, kau tahu. Kenapa kau mengacaukannya?" tanya pria yang bernama Iruka itu kesal.

"Karena aku juga mencintainya. Apa alasanku kurang?" tanya Minato. Wajah Kushina pun memerah.

"Tunggu sebentar. Jadi kau Minato Namikaze yang katanya cerdas se-Jepang itu?" tanya ayah Kushina.

"Ya, semua orang berkata seperti itu dulu,"

"Kalau begitu, Kushina dinikahkan denganmu juga tak apa," ucap ayah Kushina.

"Eh?!" ucap Minato, Kushina, dan Iruka kaget.

"K-kalau begitu, aku boleh bersama dengan anakmu?" tanya Minato memastikan.

"Ya, tentu saja," jawab ayah Kushina. Kemudian Minato berjalan kearah Kushina dan memeluknya.

"Akhirnya kita dapat bersama lagi, Kushina," ucap Minato lembut.

"Ya, Minato," ucap Kushina yang meneteskan air matanya satu-persatu. Minato pun menyeka air mata Kushina dan mencium Kushina.

"Aku mencintaimu, Kushina,"

"Aku juga mencintaimu, Minato,"

Akhirnya, pertunangan Kushina dengan Iruka pun dibatalkan. Minato yang sudah diizinkan ayah Kushina pun langsung melamarnya dan mereka pun hidup bahagia.

.

.

.

Fin

.

.

Author Note:

Akhirnya selesai~ Yatta~ ;w;

Setelah menghabiskan waktu sekitar 2-3 jam, akhirnya saya bisa menyelesaikan ini dan kaget karena ini sampai 3000+ words. Benar-benar kerasa deh capeknya hahaha ;w;

Saya mau mengucapkan Selamat Natal bagi yang merayakannya—karena saya salah satu orang yang tidak merayakannya—dan selamat tahun 2014! Semoga ditahun yang baru ini, kita mendapat yang lebih dari pada tahun 2013. Amin...

Akhir kata, terima kasih untuk semuanya yang mengikuti cerita ini. Saya juga minta maaf karena selalu telat update, karena entah kenapa banyak kendalanya. Mulai dari sekolah, sampe saya sendiri. Haha..

Terima kasih!

—Sekar Yamada