Ohayou! Konichiwa! Konbawa!
.
*gloomy feels* berapa lama sudah saya delay update fic ini? Saya benar-benar mohon maaf. *dogeza*
Maaf untuk Reviewer yang tidak login, saya tidak bisa membalas review-nya. #deep bows# tapi, saya sangat senang dapat apresiasi dari kalian. Terima kasih, ya. ^_^
Sekali lagi, terima kasih untuk seluruh apresiasi yang Anda sekalian berikan pada saya.
.
I will survive~ ;)
Dozo, Minna-sama!
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: AE, OOC, cliché, typo(s), boys love/shounen-ai, lime, etc.
.
Tidak suka? Tolong jangan memaksakan diri untuk membaca. :)
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Satu bulan terlewat. Detik meniti menit yang merengkuh jam untuk terganti menjadi hari, di ruang isolasi yang tersepi diliputi sunyi, dan waktu enggan bergulir tanpa henti.
Sasuke Uchiha tidak kehilangan kewarasannya adalah suatu keajaiban luar biasa yang sepatutnya mengundang decak kagum,
Dalam jangka waktu satu bulan ini, ia kerapkali ditemui sipir penjaranya, dua kali sehari dalam rangka rutinitas pengecekan harian. Seminggu sekali inspeksi ruangan. Setiap dua minggu dijenguk oleh Godaime-Hokage dan asistennya yang menggendong seekor babi.
Godaime-Hokage juga tidak berbicara banyak, hanya menyampaikan kabar terkini—yang tidak dihiraukan Sasuke, dan membuat sang pewaris tunggal klan Uchiha itu jengah—karena pandangan tajam wanita yang tampak terlalu awet muda tersebut.
Namun sekali waktu, kunjungan terakhir tempo hari lalu, beliau menyerahkan bertumpuk-tumpuk surat kepadanya. Kali itu, Tsunade tersenyum kecil dari balik pilar yang membatasi mereka.
"Surat dari teman-temanmu," tandasnya tatkala menjejalkan bertumpuk-tumpuk surat pada Uchiha terakhir itu.
Sasuke tidak memberikan tanggapan apa pun. Perhatiannya terpusat pada beragam amplop aneka warna di pangkuannya. Ia menyimpulkan bahwa surat-surat ini didominasi beramplop oranye tanpa nama pengirim tertera di bagian depan amplop. Surat yang familiar bagi Sasuke.
Sang Hokage berbalik pergi diiringi asistennya, sebelum pintu tertutup, Sasuke masih bisa mendengar perkataan terakhir Tsunade.
"Mayoritas surat dari Naruto. Aku tetap harus menyampaikannya padamu, walau kurasa kebanyakkan isi suratnya tidak akan berbeda jauh satu sama lain."
Ia tidak menyimak baik perkataan Tsunade saat itu karena di sisi lain ia mengetahui bahwa surat-surat ini pasti dari rivalnya itu. Si Nenek kesayangan Naruto itu sebenarnya tidak perlu memberitahu dirinya karena ia sudah tahu.
Sasuke membawa surat-surat itu untuk diletakkan di atas mejanya. Asal, ia menarik salah satu surat beramplop oranye yang paling mudah dijangkau. Ia robek amplopnya lalu membaca surat yang terlipat tidak simetris. Setelah sekian lama, mata oniksnya bertegur sapa lagi dengan deretan tulisan bak cacing kremi yang akrab dipandang itu.
Isinya membosankan. Sama seperti ocehan-ocehan klise si pirang tolol itu ketika dulu tekun mengunjunginya. Di akhir surat, Sasuke menaruh anggapan bahwa Naruto cukup konsisten dengan keidiotannya dan perkataan retoris—hanya menurut Sasuke, kendati hanya tertuang dalam secarik kertas.
Seringai pertama tergores di wajahnya sejak ia dipindahkan ke "rumah" barunya ini. Sasuke mendengus samar sembari menatap lunak pada surat dalam genggamannya.
"Dobe."
Pemuda bersurai raven itu melempar suratnya, membiarkan berbaur dengan surat-surat lain yang berserakan di atas meja. Ia memilih merebahkan diri di atas ranjangnya. Mata oniksnya terkatup, sehela napas terhembus. Hawa nyaman yang berbeda menyelimutinya, hingga ia terlena dibuai oleh kantuk.
Mungkin ini kali pertama Sasuke Uchiha dapat terlelap tenang—bukan sebagai pengalih kebosanan, melainkan beristirahat sejenak dari kegiatan berspekulasi tiada arti.
.
#~**~#
A Naruto fanfiction,
.
Mungkin
.
Chapter 2
"Kepastian"
.
By: Light of Leviathan
#~**~#
.
Guncangan.
Ledakan.
Raungan.
Ia tidak tahu sekarang malam atau siang. Tidak tahu apakah waktu sepantasnya disebut kemarin, hari ini, atau telah menjejaki esok. Sunyi bersobat karib dengan indera pendengarannya. Hanya putih dan cerah yang selalu memenuhi ruang pandangnya. Tidak ada ventilasi untuk mengetahui cuaca atau alat apa pun yang dapat mengindikasikan spesifikasi waktu saat ini.
Sasuke berdecih. Tampangnya kusut. Seingatnya, tidak pernah terjadi sebelumnya bumi—ruang isolasi—yang dipijak olehnya berguncang dilimpahi bermacam suara seberisik ini. Berhubung ada kekkai, seharusnya walau gempa tektonik berskala tinggi pun tetap tidak akan terasa guncangannya. Sekedar informasi, Sasuke Uchiha—setiap keturunan Uchiha—tidak dianugerahi memori jangka pendek. Tapi rasionya tidak menunjukkan tanda-tanda kinerja optimal karena pemuda yang menguasai jurus Chidori ini tidur nyenyaknya terganggu.
Tirai kelopak mata terangkat, menampilkan kelereng oniks menyorot kesal namun seakan mendapat pencerahan. Ah, apakah akhirnya akan ada seorang penjahat kelas kakap yang berhasil melarikan diri dan turut mengajak dirinya bergabung meraih kebebasan?
Tidak mungkin. Oh, mungkin saja iya. Tapi yang jelas, waktunya merekrut Sasuke sebagai kru sungguh tidak tepat. Pemuda berambut raven itu tengah kehilangan minat.
Sasuke memutuskan bahwa kekacauan di luar ruang isolasinya bukan urusan yang pantas memaksanya turun tangan. Jadi, ia kembali memejamkan mata dan mengembuskan napas panjang setelah mencari posisi paling nyaman untuk berlabuh kembali di pulau kapuk.
Ledakan lebih dahsyat menyebabkan beberapa properti terlonjak dari pijakannya. Namun Sasuke kontan pada posisinya untuk melanjutkan tidur. Teriakan-teriakan dan jeritan histeris serta ledakan sayup-sayup merasuki ruang pendengarannya, tapi Sasuke tak mengindahkannya.
Hingga terdengar suara rantai pecah dan denting jatuhnya gembok khusus yang dipereteli paksa, lalu derak pintu menjeblak terbuka diikuti debam kencang tertutup.
Sasuke bergeming. Seseorang berhasil menerobos sel isolasinya. Luar biasa. Dapat dipastikan bukan ANBU atau petinggi-petinggi Konoha—karena tidak mungkin mereka datang dengan napas tersengal-sengal seolah habis marathon seribu kali mengelilingi Konoha.
Tidak kuasa menepis keingintahuan, Sasuke menggeser badannya sedikit sehingga setengah tubuhnya bagian atas jadi agak terlentang, awalnya hendak mendamprat sumber keributan yang mengacaukan tidurnya. Kontan sepasang mata oniksnya yang menyorot datar, bersitatap dengan sepasang iris lazuardi dipendari determinasi.
Jeda eksis.
"Tsk." Sasuke kembali pada posisi semula, menyamping menghadap tembok bata bercat putih dan menarik selimut untuk membungkus tubuhnya dari ujung kaki hingga sebatas leher. Lekas ia mengatupkan bibir dan memejamkan mata rapat-rapat.
Sasuke Uchiha melewatkan satu kemungkinan—sebut saja kalkulasi yang sedikit meleset. Jika di sekitarnya terjadi ricuh dan kisruh anarkis, harusnya ia bisa menebak bahwa Naruto Uzumaki adalah pelakunya. Realitanya selalu demikian. Ah, ironi menertawainya.
"OI, TEME! Aku sudah susah payah datang kemari, setidaknya kau bisa menyapaku," sembur Naruto jengkel.
Sasuke memilih mengabaikan. Tetap tidur adalah opsi terbaik saat ini. Didengar langkah-langkah panjang menghentak mendekatinya, tapi tiba-tiba terhenti.
"Aku tahu surat-suratku baru sampai padamu kemarin karena aku menitipkannya paksa pada Tsunade Baa-chan. Kau tidak membacanya sama sekali, heh?"
Hell yeah. Sasuke tidak merasa perlu melaporkan pada si empunya surat bahwa dia hanya membaca satu surat dari puluhan surat yang dikirimkan padanya. Tidak usah dibaca pun, ia dapat menerka isi surat yang dikirimkan oleh penulisnya.
Kini Sasuke berasumsi bahwa Naruto sedang berada di dekat mejanya. Diacak-acak pun tak masalah—ia sudah terbiasa dengan tingkah menyebalkan Naruto yang satu itu. Pemuda itu kukuh bergeming.
"Hanya satu yang kau baca, Teme? Kejamnya kau! Padahal dua bulan terakhir ini aku berusaha menyempatkan mengirim surat untukmu. Eh, ternyata tidak sampai-sampai!"
Di balik tirai kelopak mata, iris oniksnya berputar, bosan. Terilustrasikan vessel dari bijuu Kyuubi itu pasti sekarang mulai mengoceh dengan bibir mengerucut, sepasang mata biru cemerlang yang menyiratkan emosi, bersidekap dan salah satu ujung sandal mengetuk-ngetuk lantai.
"Aku dipaksa ikut pertemuan dan rapat ini-itu oleh tetua-tetua lima desa ninja. Cih. Apa yang mereka bicarakan saja aku tak mengerti. Menurutku mereka hanya merecoki saja bisanya. Kenapa tidak langsung katakan misi apa yang dibebankan padaku? Merepotkan."
Nah, ketika dia menggerung pertanda pergerakan berikutnya adalah berjalan mondar-mandir.
Mungkin ini mustahil karena Sasuke berada dalam posisi tidak memungkinkan untuk mengetahui apa yang tengah dilakukan pemuda dengan setelan baju oranye hitam menyakitkan mata itu. Tapi, pada kenyataannya semua imaji yang terbayang—terkaan Sasuke, direalisasikan total oleh Naruto.
"Aku baru tahu kau pindah tempat dari Kakashi-Sensei satu bulan yang lalu—aku baru bisa kembali ke Konoha saat itu karena berhasil kabur. Tapi tidak ada yang tahu kau ditransfer kemana. Kemudian, setelah korek-korek informasi, akhirnya Shizune-san bilang Tsunade Baa-chan tahu, tapi ketika kutanyakan, dia selalu mengelak. Tetap saja, aku memaksa Baa-chan sampai dia menyerah dan memberitahuku kau berada di sini.
"Beberapa hari terakhir ini aku mengumpulkan teman-teman kita. Tidak hanya Sakura-chan, Sai, Shikamaru, dan teman-teman dari Konoha lainnya. Tapi ada juga cewek berisik berambut merah dan berkacamata, cowok berambut putih—taringnya kelihatan tajam!—dan bisa luber jadi air, yang terakhir cowok kekar dan besar yang bisa bicara dengan burung—dia terkesan sangar tapi ternyata kelakuannya halus, sungguh mengejutkan. Mereka mengaku teman-temanmu, jadi kuajak saja ke dalam misi untuk menerobos tempat ini supaya bisa bertemu kau, Sasuke."
Karin, Suigetsu, dan Juugo. Mereka berhasil diperdaya Naruto—pikir Sasuke satir.
Selagi Naruto menarik napas sebelum kembali bertutur panjang lebar, Sasuke yang masih mencoba melanjutkan tidur berusaha mengenyahkan kenyataan bahwa hatinya membenarkan situasi ini.
"Sulit juga menembus sampai sini. ANBU dan Jounin menyulitkan saja—kami bertarung sengit, seimbang malah. Semua teman-teman bertarung di luar, mereka bilang aku yang harus bertemu denganmu. Dan—taraaa! Di sinilah aku sekarang—ttebayo!"
Selintas nada ceria dan bangga menggema kakofoni. Sasuke bungkam, tidak memberikan tanggapan. Susah payah sang Uchiha bungsu menahan seringainya terkembang tatkala mendengar rutukan dan umpatan Naruto padanya.
"Oi, Brengsek."
"…"
"Taka no Baka."
"…"
"Aku tahu kau tidak tidur, Teme."
"…"
"Oi, Uchiha Sasuke!"
Sasuke mendengar suara sol sandal berdecit beradu dengan lantai keramik putih, derap langkah amarah yang memangkas jarak antara dirinya dan pahlawan dunia ninja.
Dengan kasar Naruto menyibakkan selimut putih yang menutupi kawan-lawan abadinya itu. Ia mendengus melihat seutuhnya sosok Sasuke memunggunginya dan konstan bergeming.
"Aku tidak mengerti bagaimana rambutmu masih bisa tegak runcing begitu padahal kau dalam posisi berbaring," komentar Naruto. Dia terkekeh sekilas menemukan bahasa tubuh pemuda di hadapannya menegang sepintas.
Naruto berpikiran untuk menendang pantat Sasuke. Tapi ia sedang tidak mood mengajak Sasuke berkelahi. Jadi ia mengguncang-guncang kencang lengan dan bahu persona paling emo yang pernah ditemuinya seumur hidup.
"Gempa bumi, Teme!"
Krik.
Gagal. Rencana berikutnya, menggelitiki kaki-kaki telanjang Sasuke sepanjang ujung jari hingga lutut, lalu tangan menuju lengan.
"Awas ada kecoa merayap di badanmu, Tuan Dingin!"
Masih tidak berkutik.
Inikah yang kausebut "rencana" kecil akibat tidak mau mengajak Sasuke berkelahi, wahai Uzumaki? Jelas-jelas yang kaulakukan amat memicu angkara murka seseorang hingga menapaki titik kulminasi.
Astaga, jangan-jangan si Brengsek Uchiha ini sekujur tubuhnya mati rasa! Bukan hanya otot-otot wajahnya kaku, sel-sel syarafnya pun tidak berfungsi. Naruto menatap horror mantan rekan setimnya itu. Ia menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tidak menyangka ternyata kau sudah mati rasa dan tidak peka."
Skak mat.
Mati rasa, eh? Itu hal paling mungkin yang selama ini dialami Sasuke. Tidak peka, huh? Bukankah aksara tersebut mengacu tepat pada Naruto sendiri?
Twitch. Sasuke berusaha keras menahan diri untuk tidak tersulut emosinya. Ia tahu Naruto adalah orang terakhir di muka bumi yang paling keras kepala karena keteguhan hatinya, tapi ia ingin Naruto lelah menghadapinya—yang itu berarti ia harus mematahkan determinasi kokoh mantan rekan setimnya itu.
Sasuke—hampir—mati rasa. Naruto—nyaris sepenuhnya—tidak peka. Mungkin memang tak ada celah jalan mana pun yang mengizinkan kedua opsi rasa negatif itu menemukan titik temu lalu berkesinambungan.
Sasuke merasakan Naruto duduk di sisinya akibat resonansi getaran dari ranjang. Keterkejutan menerpanya—tapi tak sampai mempengaruhi topeng stoiknya, tatkala Naruto membalikkan badannya. Tak sampai di situ saja, tangan-tangan Naruto merambat menuju kepalanya. Sasuke bisa merasakan bulu kuduknya meremang ketika tangan bertekstur kulit kasar menyentuh kedua belah pipinya, lalu merayap pada sepasang tirai kelopak matanya. Tanpa tedeng aling-aling, Naruto membukanya paksa dengan kedua tangannya sendiri.
Sekali lagi pandangan mereka bertemu.
"Kalau kau tidak mau melihatku, maka aku akan melakukan apa pun agar aku yang bisa melihatmu," katanya ringan.
Mata sepekat malamnya dapat menemukan refleksi dirinya terpancar sempurna dalam sepasang mata bermanik lazuardi cemerlang itu.
Sasuke mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sekeras apa pun usahanya untuk menutup mata, kedua tangan Naruto menahan laju tirai kelopak matanya. Maka yang bisa dilakukannya adalah memutar bola matanya—menyiratkan ketidakpedulian—memandang kemana saja selain Naruto.
Mungkin ini pertarungan berbeda dari semua perseteruan yang pernah mereka alami. Bukan peperangan fisik atau silat lidah yang dilisankan bahasa verbal, berargumentasi sudah basi—seperti biasanya. Ini adalah konflik batin.
Naruto berdecak kesal. "Kenapa kau tidak mendampratku, heh? Kalau kau diam saja seperti boneka cantik begini, apa yang harus aku lakukan?"
Boneka cantik, katanya? Harga diri Sasuke Uchiha tertikam tajam. Sasuke mulai menyusun rencana jitu untuk menendang Naruto keluar dari "rumah" yang dihuninya dua bulan terakhir ini. Kasarnya ingin menyadarkan Naruto bahwa Sasuke—kali ini saja—menolak eksistensinya yang merangsek paksa hingga terlalu dekat.
Sunyi senyap.
Sepasang mata oniks itu mengerling pada dinding. Dan mata biru cemerlang di hadapannya terus memantau tajam.
Tiba-tiba saja Naruto mengembangkan seringai licik khas rubah. Sasuke menyadari ia harus menaikkan setingkat kewaspadaannya. Naruto sungguh idiot, tapi bukan berarti Sasuke bisa membiarkannya begitu saja—karena ia yang paling tahu bahwa Naruto dan keidiotannya adalah kombinasi di luar prediksi. Pasti berkaitan dengan kenaifan berujung tindak impulsif.
"Aku dapat ide bagus!" cetusnya.
Ide bagus… mungkin sekonyol menggelitik Sasuke dan bilang bahwa ada gempa bumi atau kecoa berkeliaran.
Sekerjap mata Naruto menurunkan kepalanya di samping kepala Sasuke, bibirnya tepat berada di telinga mantan pemimpin geng Taka itu. Napas hangat pemuda layaknya mentari itu menyambit telinganya. Lengan berkulit tan dibalut busana oranye-hitam itu bertumpu pada dada bidang Sasuke. Kedua ibu jarinya mengelus perlahan sudut-sudut matanya.
"Kalau kau tak mau dengar, biakan aku yang bicara agar kau bisa mendengarku," bisik Naruto seduktif, berimbuh desahan dan kecupan sekilas di telinganya.
Sial. Itu titik sensitifnya.
Sasuke Uchiha merinding—hebatnya ekspresinya tetap sedatar biasanya. Rencana apa ini? Memberikan stimulus menjurus pelecehan seksual? Pemilik Kuchiyose no Jutsu elang itu mengumpat dalam hati. Prasangkanya benar, Naruto plus keidiotannya adalah kombinasi tak terprediksi.
Naruto sendiri tak luput mengamati keterjepitan Sasuke, terlebih satu bulir keringat mengalir di pelipis berkulit pucat itu. Seringainya makin lebar.
"Kita masih punya banyak waktu, Teme. Mari bersenang-senang sedikit!"
Bersenang-senang? Sasuke pilih mendepak Naruto dari hadapannya sekarang. Namun ketika ia hendak merealisasikan pemikirannya itu, terasa aura kesedihan pemuda dengan tiga goresan garis horizontal di pipi itu beresonansi ke dalam dirinya. Entah kenapa, ia hanya mampu terpaku di tempat.
"Aku ingin memastikan perasaanku, menguji dirimu, dan membuktikan sesuatu tentang kita."
Nah, apalagi yang hendak Naruto lakukan?
"Kenapa kau begitu jauh? Kau tahu sangat sulit untukku bisa sedekat ini denganmu, Sasuke." Suaranya parau digenangi kekecewaan.
Mungkin Sasuke tak akan pernah mengerti mengapa Naruto bersikeras jika berkaitan dengan dirinya.
Naruto menarik kepalanya untuk menatap Sasuke lekat-lekat. Airmuka yang keruh menggurati wajahnya. "Kalau kau diam saja, biar aku yang bicara agar kau mau berbicara lagi padaku."
Perlahan hidung mereka bersentuhan. Teretasnya jarak dieleminasi oleh Naruto yang menautkan bibirnya dengan bibir Sasuke—hanya sebuah sentuhan ringan ketika permukaan bibir mereka saling bertemu.
Jelas tertangkap pandang sepasang mata sewarna malam Sasuke terbelalak. Ia tidak menyangka akan diserang seperti ini. Refleks Sasuke mengepalkan tangannya dan mengayunkannya kencang pada Naruto dalam rangka memproteksi diri. Namun, sebelah tangan Naruto lekas terlepas dari mata Sasuke dan menyambutnya. Tinju saling beradu—meski hanya sekedar dua kepalan kuat tangan yang saling bertemu.
"Akhirnya kau merespon," ucap Naruto lamat-lamat tepat di bibir Sasuke.
Mau tak mau, tidak bisa tidak, Sasuke membiarkan dirinya bersitatap dengan Naruto. Tinju yang saling beradu dan telah terhenti itu mengkoneksi perasaan mereka—benar seperti yang dikatakan Naruto di waktu lampau. Sasuke menyelami samudera manik biru cemerlang yang sarat rasa melalui kelereng mata oniksnya. Seketika Sasuke tahu bahwa Naruto lagi-lagi berhasil menginjeksikan berbagai macam rasa yang terbumbui emosi pada dirinya.
"Akhirnya kau mau menatapku, Sasuke."
Hening merengut tatkala hawa emosional yang menguar dari dua pemuda di atas ranjang itu membumbung tinggi hingga ke langit-langit atap dan menyerbu seluruh penjuru ruangan.
Naruto mengambil kendali. Kepalang tanggung untuk berhenti. Dilahap emosi, ia melumat dan menghisap bibir dingin sang penghuni ruangan isolasi seumur hidup ini. Sasuke merasakan Naruto meraup semua persediaan oksigen di sekitarnya, karena itu ia menggigit bibir rival sialannya itu. Namun Naruto memanfaatkan peluang ini untuk melesakkan lidahnya menapaki teritori hangat terlarang milik Sasuke. Lidah mereka bergulat kasar, ketika badan mereka yang saling berhimpit menggeliat ganas menyebabkan ranjang berper karatan itu terguncang kencang.
Tangan berkulit pucat itu kembali melayang hendak mengadakan perlawanan dengan cara melayangkan pukulan, namun alih-alih balas meninju, tangan berwarna tan itu justru mencengkeramnya dan menghempaskan tangan putih pucat itu persis di sisi kepala sang pemiliknya, lalu jari-jemari tannya menyelinap untuk menggenggam erat-erat. Tangan yang terbebas sebelah lagi menyerang satu sama lain dalam garukan serta cakaran liar berusaha mencengkeram lawannya.
Mereka saling menyengatkan tatapan intens yang mememendarkan gelora dan gejolak emosi masing-masing di tengah pergumulan sengit itu.
"…berhenti, Naruto!" erang Sasuke susah-payah dengan suara berat yang serak terengah-engah.
Sasuke yang mengucapkan namanya menuntun Naruto pada kenyataan. Naruto mengangkat kepalanya, tanpa melepaskan tautan pandang dan cengkeraman tangan dan genggaman tangan mereka.
"Akhirnya kau berbicara, Sasuke," tanggap Naruto dengan deru napas memburu yang berupaya dinormalkannya kembali.
Mungkin ini adalah tindak kelahi paling intim dengan intensitas emosional mencapai limit titik kulminasi. Tidak, ini memang benar.
Naruto menarik napas dalam-dalam. "Kau selalu tahu apa yang ingin kukatakan, bukan, Sasuke?" terkanya yakin, "kau juga menyadari bahwa ini masih bagian dari rencanaku. Sekarang giliranmu bicara."
Sasuke mendengus. "Rencana konyol pelecehan seksual."
Naruto menegakkan tubuhnya, sempat tercenung sejenak mencerna perkataan Sasuke, sebelum alisnya berkedut, dahinya mengerut, dan bibirnya mengerucut. "Kau bilang yang tadi itu sekuhara, Teme?"
"Kau tidak tuli, Dobe," sahut Sasuke tenang.
"Astaga…" seru Naruto, "aku baru saja mendengar Sasuke—si manusia yang lebih dingin dari es dengan arogansi tinggi dan keras kepala serta super egois—mengeluh seperti gadis habis mengalami pelecehan—ADUH!" Naruto meringis kesakitan, ia lengah membiarkan Sasuke menyarangkan satu pukulan di kepala.
"Aku yakin kau tidak mengerti mengapa kata "diam" tercipta di dunia," tandas Sasuke pedas.
"Jangan memotong perkataan orang lain menggunakan kekerasan. Itu licik, Brengsek!" sergah Naruto keras.
"Idiot, itu cerdik," Sasuke berdalih.
Mata biru cemerlang itu membulat, bibir yang disudutnya terhias segaris saliva ternganga. "Sejak kapan kau jadi narsis, Teme?"
Sasuke menjawab tanya Naruto dengan memukul kepala bermahkotakan surai pirang itu lebih kencang. "Hn."
"Kau melakukannya dua kali. DUA KALI pukulan. Padahal aku sudah berbaik hati tidak mengajakmu bertarung atau apa—karena masuk kemari saja butuh perjuangan dan menghabiskan tenaga," tukas Naruto kesal.
"Aku tidak memintamu melakukannya," tanggap Sasuke. Sebelum Naruto berkoar lagi, ia melontarkan tanya yang sejak tadi terbersit di benaknya, "kenapa kau betah sekali memelihara kebodohanmu, Usuratonkachi?"
Twitch. Naruto mencibir dan berusaha tidak balik memukul Sasuke, ia tidak mau merusak atensi Sasuke yang terfokus padanya. Tak urung, hatinya merasa senang karena usahanya membuahkan hasil tiada lagi direspon nihil. "Tidak usah berbasa-basi. Kau pasti sebenarnya ingin tanya kenapa aku melakukan semua ini, tidak bosan mengejar-ngejarmu—jangan coba-coba berpikiran aku seperti seorang gadis jatuh cinta yang sangat labil, dan, yeah, kau selalu menyebutnya merusuhimu."
Sasuke hanya memutar kedua bola matanya acuh tak acuh. Serahkan pada Naruto untuk menginterpretasikan secara tepat pemikiran kompleks dalam dirinya pada kata-kata sederhana dan mudah dimengerti.
Naruto memijat keningnya. Pasang tampang pura-pura berpikir keras. "Mungkin karena aku tak bisa membiarkanmu."
Ambigu. Sasuke diam menanti penjelasan lebih untuk pernyataan ambigu Naruto.
"Aku tidak bisa bilang aku mengerti perasaanmu—karena kau selalu menutupinya dan menjauhkan diri." Kalimat klise ini lagi. "Aku sebatang kara, dan kau sendiri. Aku butuh kau untuk menemaniku, dan aku tahu kau juga membutuhkanku untuk mengacaukan hidupmu." Cengiran lebar penuh percaya diri yang menyakitkan untuk dilihat.
Naruto memandang jenaka Sasuke yang tertegun, hangat. "Omong-omong, aku sudah mendapatkan hasil pasti dari perasaanku, menguji perasaanmu, lalu membuktikan kesamaannya di antara kita. Sekuhara cukup manjur juga."
Sasuke refleks menyodok perut Naruto dengan tangannya yang terbebas, membuat cengiran lenyap dari wajah itu. Berusaha bersabar, Naruto hanya menggerungkan serantai makian pada Sasuke yang tentu tidak akan menuai tanggapan.
Naruto mengerling pada pelaku yang menanamkan rasa sakit di perutnya itu, mata oniksnya sekali lagi menerawang hampa. Hal ini membuat Naruto berdecak, lalu beringsut menaiki ranjang. Direbahkannya kepalanya pada dada bidang yang tertutupi sehelai kaus kutang kusam. Tangannya mengeratkan genggaman mereka, sementara sebelah lengannya yang terbebas merengkuh Sasuke. Ia memejamkan mata.
"Aku lelah—" karena banyak hal, terutama karena kau, "—biarkan aku istirahat. Begini sebentar saja."
Perasaan mereka sama, dan pasti. Absolut tiada terpungkiri. Maka biarkanlah di luar badai bergemuruh, tidak satu pun dari sepasang ninja itu menaruh peduli.
Pada akhirnya, namun untuk pertama kalinya Sasuke menyerah—
"…tadaima, Naruto."
—kendati diliputi hesitansi, tidak menahan lengannya untuk mendekap kepala pirang di dadanya lebih erat. Dicurinya satu lumatan dari bibir Naruto.
"Okaeri—tebayo, Sasuke!"
Dan Sasuke menemukan langit musim panas yang amat dirindukannya, tertuang pada muara mata Naruto yang berkedip modus padanya. Tersenyum seperti sepuh mentari di waktu terik, mengundang sudut-sudut bibirnya tertarik melawan poros gravitasi.
Sampai pada fase ini, awalnya semua ini hanyalah sekedar simulasi yang dikalkulasikan dengan sikap skeptis oleh Sasuke.
Perlahan, entah sejak kapan, Sasuke berhenti mengakumulasi beragam kemungkinan tatkala kebenaran senantiasa menyertai semua probabilitas yang direalisasikan oleh aksi Naruto dan reaksi dirinya.
.
Owari
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Saya tahu saya telat banget update. *repetisi lagi* saya mohon maaf. *dogeza lagi*
Akhir fic ini sungguh absurd. Ouh, saya tahu. Jadi, akhir yang bener-bener akhir saya serahkan pada pembaca. Mengingat di dalam sangkar putihnya si Sasuke, Naruto nerobos bawa bala bantuan segala, cari ribut bener deh. Ah, buat Sasuke apa sih yang nggak~ *lirik Naruto* oke. Di luar pada sibuk bertarung, mereka bermesraan. YES! /woy/ *dikeroyok*
.
Terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kritik dan saran yang membangun sangat dinantikan kehadirannya. ^_^
.
Sweet smile,
Light of Leviathan (LoL)
