Chapter3

'lebih baik bersahabat dari pada berteman'

2013? No, it's 1914

Naruto© Mashasi kishimoto

Story © HIKAROO CHERRYN

WARNING

TYPO, OOC, AU

"Plak!"

"Sakit Ino!, kenapa kau menamparku!". Pemuda berambut nanas tampak mengelus pipinya yang kemerahan akibat tamparan dari Ino.

Padahal dia baru saja mendapatkan tempat yang tenang disudut kelas yang sudah seperti pasar obral barang bekas(free market)

"Dengarkan apa yang aku bicarakan Shikamaru!". Pemuda berambut nanas yang dipanggil Shikamaru itu menatap Ino dengan tatapan membosankan, tapi akhirnya mengalah juga.

"Baik-baik, apa yang ingin kau bicarakan?"

"Begini, tadi pagi aku… Aaakhhhhh, aku gugup. Harus diceritakan dari mana dulu yaa?"

"Bagaimana kalau dari awal!". Shikamaru menjawab dengan to the pointnya, dia tidak tahu apa akibatnya yang akan terjadi nanti.

"Hmmm, kau ingat tidak waktu liburan ke Amerika Aku pernah menceritakan padamu tentang seoarang gadis berambut pink bukan?"

"Ehhhmmm,…" Shikamaru memasang pose berpikir.

"Yang mana ya?" Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"SRET" Ino menarik penghapus papan tulis yang dihimpit pot bunga didekatnya.

"Shika bodoh!, aku tidak akan menceritakannya padamu!"

Dengan sigap Shikamaru melindungi kepalanya dengan tangannya agar ia bisa mencegah terjadinya gegar otak ringan akibat pukulan sadis Ino.

Ino yang sadar kalau kelakuannya tidak pantas untuk seorang gadis jepang(tumben ingat) pun mengurungkan niatnya untuk menghajar shikamaru.

"Aku mau pergi saja dari sini"

Ino berbalik kebelakang dengan hati yang menguap-nguap.

"BRUUUKK!"

Naruto yang baru saja datang tanpa sengaja menabrak ino sampai terjatuh.

"Gomen" kata naruto dengan simple tapi tulus.

"WUAHAHAHA!" dari belakang tampak Shikamaru yang sedang tertawa terbahak-bahak.

"Jangan tertawa kau nanas!, kalau tidak…" kata kata Ino terputus.

"Kalau tidak?..." naruto menuding Ino habis habisan.

Suasana menjadi sunyi seketika, seakan akan seisi kelas ingin mendengar lanjutan ancaman Ino. Termasuk Shikamaru.

"…aaakkkhhhh, terserah kau saja aku mau keluar dari sini!"

" Ya sudah, sana pergi!"

Naruto menyetujui keputusan Ino yang mendapat balasan deathglare dari Ino.

Tanpa memedulikannya lagi Naruto berjalan menuju kursi yang terdapat didekat jendela, tempat paling nyaman bagi murid yang beruntung mendapatkannya, siapalagi kalau bukan Naruto.

Ok, kembali ke Ino…

Ino berjalan dengan suasana hati yang sedang demam. Dengan amarah yang menguap-nguap layaknya air mendidih ino menarik gagang pintu kelasnya dengan paksa kedepan.

"AAUUUWWWW!"

Inilah akibatnya kalau tidak memeriksa keadaan sekitar sebelum bertindak.

"Go…gomenasai Asuma sensei"

"Sudahlah, kembali ke tempatmu Yamanaka!" Asuma sensei nampak mengelus hidungnya yang memerah karena pintu yang tiba tiba menyerangnya.

"Hehehe, arigatou sensei"

"Hey, kau anak baru ayo masuk dan perkenalkan dirimu"

'jika ingin menjadi hitam. Hitamlah menyeluruh'

"Sasuke kun, ayolah…hari ini saja!"

'Gadis merah ini benar benar menyebalkan!' gumam Sasuke

"ohh, ayolah Sasuke kun!"

'Berapa kali pun aku usir, tetap saja…tapi Kakashi sensei lama sekali! Aku tidak ingin terjebak dengan gadis gila ini!' gumamnya lagi kesal.

"SASUKE KUN!...KENAPA KAU MENDIAMIKU...AKU JADI TERLIHAT SEPERTI ORANG IDIOT!"

"Hnn…kau memang idiot, sana pergi!"

"Dasar! Pria dingin aku membencimu!"

"Hn…aku juga membencimu…!"

Gadis bersurai merah bernama Karin itu pergi dengan perasaan kesal bercampur kecewa, pergi meninggalkan pria berambut raven yang sedari tadi dipanggil Sasuke.

"Dasar pria EMO, aku bisa saja berkencan dengan siapa saja tanpa perlu mengemis cintamu!, tapi itu yang tadi aku lakukan…" ratap Karin menyesal.

Karin memegang gagang pintu kelasnya dengan paksa didorongnya kedepan, perlahan lahan menampakkan seorang pria dewasa yang memakai masker dan membawa buku ditangannya.

"Tolong duduk, Karin!"

Karin nampak shock dengan apa yang dilihatnya sekarang(yang dimaksud bukan karena pria bermasker itu, tapi karena orang yang berada dibalik punggungnya), hanya karena tidak ingin dianggap orang idiot lagi. Karin membungkukkan tubuhnya dan kembali duduk ke tempatnya dengan ekspresi yang masih tegang.

"Kakashi sensei lama sekali, aku yakin kelas Naruto sudah memulai pelajarannya!"

"…hehehehe, gomen sasuke…tapi mungkin untuk murid lain tidak ada ruginya apalagi Naruto, hahahahahaha!"

Kakashi sensei masih bisa tertawa dengan terbahak bahak, sedangkan se-isi kelas hanya menatapnya bingung.

"Kita kedatangan murid baru anak-anak, ayo perkenalkan dirimu Sakura!"

Kediaman Namikaze

"Clik!"

Kushina membuka pintu bercat coklat kayu berhiaskan lambang spiral yang menempel dipintu itu, ia memasuki ruangan itu dengan santai dan saat melihat keadaan kamar itu kushina hanya bisa geleng-geleng saja. Kamar itu mencerminkan sifat asli pemiliknya.

"Terkejut!"

Kushina mencari asal suara yang mebuatnya terkejut, setelah menoleh kesana sini ia mendapati sebuah boneka rubah berekor sembilan berwarna orange kira kira setinggi lututnya nampak membolak balik novel yang sedang dibacanya.

"Long Time No See!"

Kushina sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar barusan.

'aku menemukan pohon kehidupan'

Kediaman Haruno

Rumah ini terlihat asri dan rapi, jika bisa dibayangkan pemilik rumah ini benar benar mengikuti adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyangnya. Intinya rumah ini memakai unsur tradisional. Tembok bebatuan yang didirikan setinggi mungkin, menambah kesan Eropa dari luar.

Tapi ini membuktikan bahwa pemiliknya sangat tidak terbuka dalam arti lain tidak bersahabat.

Dari dalam rumah ini terlihat lebih luas dari luarnya. Patung air mancur aquarius ditambah semak semak yang terusur dan patung patung malaikat yang berjejer layaknya prajurit yang memberi hormat pada tuannya yang ingin keluar masuk rumah tersebut.

"Ibu, ibu…ibu"

Seorang wanita yang berpakaian layaknya istri perdana mentri memanggil manggil seorang nenek paruh baya berpakaian kimono yang terlihat seharga dengan tiket tour ke Korea.

Walau memanggil berapa kali pun wanita itu tidak mendapat balasan sahutan apalagi tatapan dari wanita tua yang sedari tadi dipanggilnya Ibu.

Wanita tua itu terlihat sibuk dengan kacamata yang menggantung diwajahnya dan pena yang ia pegang untuk menulis laporan kesehatan pasiennya, maklum saja walau terlihat tua ia adalah seorang dokter yang sangat terkenal di rumah sakit ternama Inggris, Amerika dan Jepang.

"...Ibu, tolong jawab aku!"

Wanita itu kehilangan kesabarannnya terhadap ibunya yang sebenarnya ibu mertuannya.

Wanita tua itu menoleh ke arahnya menurunkan kaca matanya tanpa melepaskan penanya, jujur saja ia begitu terganggu dengan menantunya.

"Tidak bisakah kau melihat aku sedang sibuk?"

"Ma...maaf ibu, aku hanya ingin meminta persetujuanmu untuk merayakan ulang tahun Karin disini, minggu depan"

"Karin?, hari ulang tahunnya sama bukan dengan Sakura?"

Wanita itu tampak tidak senang dengan jawaban mertuannya.

"I..iya, tapi Sakura tidak ingin merayakan ulang tahunnya ibu, berilah satu kesempatan untuk Karin"

"Huh, aku ragu..."

Menantu itu tampak bingung dengan ucapan mertuannya.

"...ragu kenapa bu?"

"Aku ragu kalau aku baru memberikan satu kesemmpatan untuk Karin, bukankah setiap tahun dia merayakannya?"

menantu itu terdiam, ia tampak kehabisan kata kata didepan mertuannya sekarang.

"lalu, bagaimana dengan Sakura!"

"...Sa..kura?"

Mertuannya menuding dengan pertanyaan yang benar benar sulit dijawab.

"QUE SERA SERA, WHAT EVER WILL BE WILL BE"

Menantunya tampak terkejut saat mendengar deringan ringtone masuknya pesan kedaftar inbox ponselnya. Sekarang baginya yang mengirim pesan itu adalah malaikat untuknya sekarang. Dengan terburu-buru ia membuka pesan itu, mertuannya hanya memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

'Ibu, kenapa Sakura ada disekolahku dan terlebih lagi, kami sekelas!"

Hanya dengan membaca kalimat awalnya saja ia sudah tahu siapa yang mengirim pesan itu.

"Maaf mengganggumu lagi ibu"

"hhmmm, kau memang pengganggu!"

Menantu itu tersenyum canggung, tanpa ragu-ragu lagi ia langsung saja memegang tangan keriput mertuanya, bertingkah semanis dan sesopan mungkin, yang hanya membuat mertuanya menatapnya kesal.

"Ibu, siapa yang memasukkan Sakura ke sekolah Karin?"

"...Aku, bukan Sasori yang memasukkannya. Tapi aku yang memintanya, Kenapa? Sekolah itu bukan milik Karin, aku tidak pernah ingat bahwa ayahku pernah mendirikan sebuah sekolah, jadi apa itu bisa disebut sekolah Karin?"

Menantunya hanya bisa menatap kesal pada mertuannya, mertuannya itu langsung menyingkirkan tangannya dari tangan menantunya dengan kasar.

"Jangan ganggu aku, aku ingin bekerja, dasar merepotkan!"

mertuannya itu pergi meninggalkan menantunya yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, ia masih shock dengan apa yang ia alami sekarang.

KHS (Konoha High school)

"ouhayo minna, namaku Gaara, Sabaku No Gaara. Yoroshiku..."

pria bersurai merah dengan tatto yang bertuliskan ai dengan huruf kanji dikeningnya, menambah kesan bahwa pria ini mantan preman.

"Hey, bukankah seharusnya anak barunya gadis berambut pink?"

Ino yang tampak kecewa dengan apa yang dilihatnya mengutarakan kekecewaannya didepan Gaara. se-isi kelas cuman bisa geleng geleng dengan sikap Ino.

"Maaf nona, anak baru bukan cuman aku saja kan?, lagipula aku melihat orang yang kau maksud tadi berjalan mengikuti guru yang memakai makser!"

"Apa!, dia masuk ke kelas nenek sihir itu, aku akan melindunginya" kata Ino dengan percaya diri.

"Bisakah kalian tenang sedikit, Gaara kau bisa duduk dibelakang Shikamaru, pemuda berambut nanas itu" kata Asuma sensei memperjelas petunjuknya.

Gaara hanya bisa mangut mangut sementara Shikamaru sama sekali tidak memedulikan ejekan Asuma sensei kepadanya.

Gaara berjalan melewati murid murid yang masih penasaran dengannya.

...

...

Dan bergumam pelan saat melewati Naruto.

'Long time no see kyubi!'

Naruto yang sadar akan gumaman itu hanya bisa berdecak kesal dengan gumaman yang lontarkan Gaara.

'kau mengenaliku Ichibi!'

Naruto menjawab gumaman Gaara, walau ia tidak mendengar balasan gumaman lagi tapi ia bisa merasakan bahwa Gaara membalsanya dengan senyuman dibelakangnya.

Sakura POV/

Setelah selesai memperkenalkan diri aku memandangi se-isi kelas dengan wajah berseri-seri, tapi aku merasa bahwa kelas yang sekarang aku masuki, bukanlah kelas Ino. Melainkan kelas Karin, yaa dia adalah saudaraku. Walaupun tanggal lahir kami sama tapi aku tidak pernah dianggap sebagai saudara kembarnya, bahkan kami sama sekali tidak mirip. Jika aku bertemu dengannya yang aku dapatkan bukanlah sapaan hangat seorang keluarga, melainkan caci maki yang membuatku merasa bahwa aku ini hanya seorang budaknya saja. Senyuman diwajahku menghilang seketika digantikan dengan wajah datar saat tatapan mata kami bertemu.

Kakashi sensei, yaa dia guruku yang membuatku jantungan tadi diruang tunggu, saat aku benar benar pasrah menunggu kematianku dia hanya santai menyapaku "yo, Sakura!". Tanpa ada kata maaf, ia menyuruhku mengikutinya menuju kelas yang kutuju. Aku benar-benar ragu kalau aku akan bangga dengan sekolah ini apalagi saat aku melihat Karin!

"Sakura kau duduk di samping Hinata"

kakashi sensei menunjukkan jarinya ke arah jam 12, gadis yang di tunjuk kakashi sensei melambaikan tangannya padaku. Aku langsung saja mendekatinya dan duduk disampingnya. Aku beruntung kalau jauh dariku, Karin duduk di sudut kelas dengan seorang pria berambut raven yang tampak dingin dan cool menurutku.

"..Yo yoroshiku...Sa..kura chan!"

'yaa ampun gadis ini benar benar pemalu, lihat saja dari gayanya berbicara. Tapi setidaknya aku tahu ia gadis yang baik' batinku

...

"Sa..kura chan, a..apa ada yang aneh?"

"Ehhh, tidak , tidak ada yang aneh Hinatao chan!" ralatku terburu-buru.

"Hihihihi, namaku Hinata, Hyuga Hinata. Bukan Hinatou sakura chan"

Seketika wajahku memerah, aku merasa malu. Ini hari pertamaku bersekolah bagaimana aku bisa...

"Jangan dipikirkan Sakura chan, aku hanya merasa itu lucu saja hihihihi..."

'Hinata tertawa dengan anggunnya, apa dia anak kalangan kelas atas?. Sepertinya sangat bersahabat'

'Sasori nii, akhirnya sekian lama aku menunggu aku mendapatkan dua sahabat' batinku bangga.


Kediaman Namikaze

back to previous story

"Hello Kushina, are you okay?"

"Apa itu kau kyubi?, aku tak percaya..."

"HaHaHaHa, calm down Kushina. Aku banyak membaca, kau harus mengajari agar anak bodohmu itu belajar membaca!"

"hAhAhA, dulu kau tidak sekonyol itu padaku!"

"Ok, kapan kau kembali kemari. Aku pikir kau mati!"

Sesaat kamar Naruto benar benar sunyi, mereka seperti mengingat masa lalu.

...

"Aku baru saja tiba tiga hari yang lalu. Lagi pula aku tidak akan semudah itu mati, masih ada anak yang harus aku besarkan dan kuberi kasih sayang. Kau paham Kyubi!"

"Aku rasa kau terlambat, anak ini masih melewati masa pubernya. Kau harus bersabar agar dia mau mengerti!"

Kushina menatap Kyubi lalu memalingkan wajahnya ke depan, dirinya merasa kecewa.

"...kau tahu, hidupku tergantung pada waktu, aku hanya akan menunggu jarum jam menunjukkan ke arah yang tepat. Maka itulah saatnya aku mengubahnya, mungkin. Atau waktu yang akan mengubahnya!"

"HaHaHaHa, makin tua kau makin bijak. Tapi aku ragu kalau kau mengerti apa yang kau bicarakan tadi!"

"Kata katamu menusukku..., tenang saja aku seorang ibu, orang tua lah yang harus mengajari anaknya kebenaran. Aku akan mengikuti apa yang Naruto pikirkan, saat Mikoto meninggal dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang, Aku ingin menunjukkan padanya, arti kasih sayang seorang ibu yang diimpikannya"

"Aku mengerti, aku akan membantu. Pergilah, kau hanya menggangguku. Tapi apa Naruto belum pernah merasakan masakanmu?"

"HaHaHaHaHa, apa kau menjadi teman curhatnya. Aku rasa dia berbohong, aku selalu melihat gerak geriknya. Dia selalu menghabiskan makan malam yang belum disentuhnya saat tengah malam!"

"Dan..." kyubi menanti kalimat terakhir Kushina.

"Dan aku menikmatinya HAHAHAHA. OK aku pergi dulu, aku akan membereskan tempat tidurnya nanti!"

Kushina berjalan ke luar kamar dengan suasana hati yang cerah, ia lalu menutup pintu kamar Naruto dengan lembut.

'Dasar aneh!' batin Kyubi.


TBC

special thanks to the read

special thanks to review

A/N:

'yoo salam kenal gui gui san dan buat yang udah review yoroshiku, Arigatou buat concritnya gui gui san, hikaroo benar benar mendapat pengarahan. buat yang masih bingung kenapa dibold nanti readers bakal tahu alasannya di chapter depan, ini bukan prolog lho. Hikaroo usahaiin setiap chepter diperpanjang. yang udah review sekali lagi arigatou, fic 3 ini updatenya lama ya?, maklum author cuman free dihari libur saja. ARIGATOU MINNA'