Chapter 6
~Melodies Of Tears~
•
•
2013? No, it's 1914
Naruto© Mashasi kishimoto
Story © Hikaroo Cherryn
WARNING
TYPO, OOC, AU
•
•
'Satu hal yang kupelajari dan, kau tahu bagian dari mencintai adalah belajar mengikhlaskan'
•
•
"SAKURA!, SAKURA!"
Ino berteriak memanggil-manggil Sakura, bodohnya ia. Tidak akan ada yang mendengar teriakkannya kalau ia masih berada di tengah-tengah kerumunan penduduk desa yang sedang berpesta.
"Aduhhh, Sakura kau pergi kemana!?... Kau selalu saja membuatku cemas!". Kata Ino sambil melahap Takoyaki yang ia beli tadi.
".. Hmmm, enak juga!". Gumam Ino mulai melahap Takoyaki lagi."Iyakan Saku-". Ino berhenti melahap Takoyakinya, ia baru mengingat sesuatu.
".. A-apa yang aku!, HEEEEHHH!. SAKURAAAAAAAAA!". Teriak Ino histeris.
"Jangan berteriak Ino!". Dari arah jam 9 kira-kira 5 langkah jauhnya dari Ino berdiri Sakura. Penampilannya terlihat kacau tapi, sepertinya Sakura tidak terlalu memedulikannya.
. . .
. . .
"Sakura..". Mata Ino berkaca-kaca, sepertinya ia tahu apa yang terjadi dengan Sakura.
Sakura yang menyadari kegelisahan Ino hanya bisa menunduk."Maaf Ino, ta.. Tadi, aku.. Aku bertemu dengan-"
Ino menyadari adanya rasa kesedihan dari Sakura. Sejujurnya ia bukanlah tipe yang selalu mengerti keadaan seseorang, tapi kali ini ia belajar untuk mengerti."Sakura!, mau Takoyaki?"
•
•
'Me.. Menjauh dariku!'
1 kalimat, hanya 1 kalimat yang dilontarkan Sakura. Tidak ada makna terima kasih dari kalimat itu. Itulah yang dipikirkan Naruto saat ini, ia hanya duduk di atas batu berbentuk katak sendirian. Yang sekarang ia butuhkan adalah kedamaian untuk menjernihkan pikirannya.
"Kau sibuk!". Tanya Gaara yang muncul tiba-tiba.
".. Kenapa.. Aku tidak terkejut?". Tanya Naruto balik.
"Sederhana saja 'Patah hati'.. Kau patah hati Naruto". Jawab Gaara tenang.
".. Aku akan membunuhmu setelah ini". Ujar Naruto memasang tampang mengancam.
"Sebelum itu terjadi, aku akan membunuhmu dulu". Ucap Gaara tak kalah mengancam.
Naruto menyunggingkan sudut bibirnya.".. Silahkan saja Gaara, aku menunggu. Ambil nyawaku, aku bosan hidup didunia seperti ini, kalau aku dilahirkan kembali aku ingin menjadi anjing setengah serigala!"
'Yaa ampun, bocah gila ini akan kubawa ke rumah sakit sekarang juga'. Pikir Gaara seraya menggelengkan kepalanya.
•
•
Ruangan ini cukup besar, elegan dan... Hei, dimana ini?
"Harusnya kamu malu Naruto!". Omel Tsunade pada Naruto."Hit Iruka-san, who do you think you are?". Ucap Tsunade seraya menunjuk ke arah Iruka sensei yang tampak babak belur.
Naruto memasang wajah garangnya.".. Dia memukul temanku, dan seharusnya aku yang mengatakan itu, hwo do you think you are, kau hanya guru pengganti yang seenaknya saja disini!". Ucap Naruto sambil mengangkat jari telunjuknya ke hadapan iruka sensei.
'Dasar anak keras kepala'. Gumam Tsunade seraya memijit keningnya.
'Tok-Tok'(Suara ketukan pintu)
"Come in". Ucap Tsunade mempersilahkan orang yang mengetuk pintu tadi.
'Clik'(Suara pintu terbuka)
"Tsunade sama, Wali mereka akan tiba sebentar lagi". lapor Shizune dengan memasang ekspresi lantang.
"NARUTO!". Teriak Kushina datang dengan tergesa-gesa diiringi Minato, dari saat pihak sekolah mengabari masalah ini, Minato dan Kushina benar-benar cemas.
"Sepetinya sudah tiba". Ujar Shizune setengah berbisik.
Kushina mendekati Naruto, dan memeluknya dengan sayang, sontak saja wajah Naruto terasa panas seperti kepiting rebus.
"Kau tidak apa-apa Naruto?". Tanya Kushina cemas.
".. A-Aku tida-k a.. A-pa-ap..a". Jawab Naruto dengan nafas yang tersenggal-senggal menahan gugupnya.
"Sudahlah Kushina, ayo duduk!". Minato menarik lengan Kushina mengajaknya duduk dikursi sebelah Naruto.
Dengan begini semua kursi diruangan Tsunade(Ruang kepala sekolah) sudah terisi.
"Tsunade sama, wali Sakura sudah tiba!". Lapor Shizune lagi.
Tubuh Sakura seketika menegang, ia mempunyai firasat buruk.".. shizune san, siapa waliku?". Tanya Sakura takut.
Shizune hanya mengembangkan senyumnya pada Sakura dan memepersilahkan seorang wanita kaya memasuki ruangan. Ia memasang ekspresi dingin. dari atas sampai bawah, pokoknya yang dipakainya itu barang ber-merk. And Bingo ITU NYONYA BESAR.
'Wanita itu'. Gumam Kushina teringat kejadian pagi tadi.
".. I-bu!"
•
•
"Maaf anak-anak, kelas sebelah sedikit kacau!". Kakashi sensei melangkah memasuki kelasnya, seluruh murid nya hanya binggung memandang Kakashi sensei berharap Kakashi sensei akan menjelaskan apa yang terjadi.
"Kakashi sensei, apa yang terjadi dengan Kiba". Tanya pemuda berambut panjang, Neji.
Kakashi sensei menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, ia hanya bingung."Hmmm, dari mana aku menjelaskannya yaa?".
"DARI AWAL!". Ucap seisi kelas serentak(pengecualian Gaara, Sasuke,Karin dan Hinata).
..."Aku jadi bingung". Jawab Kakashi sensei dengan raut wajah yang dianggap menyebalkan oleh murid-muridnya.
"Kakashi sensei, sebaiknya kita lanjutkan pelajaran. Aku, Hinata dan Ten-ten belum mendapat nilai kan?". Usul Karin yang pastinya bermaksud balas dendam dengan Ten-ten.
Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Hinata, apalagi rencana yang akan dilakukan Karin?. Dan bagaimana dengan Ten-ten?, mungkin kita akan mengetahuinya setelah ini.
•
•
"Kali ini apa yang kau perbuat gadis nakal!"Nyonya besar itu datang menghampiri Sakura, Sakura hanya bisa mununduk ketakutan.
"Maaf, ibu". Sakura berdiri dan membungkukkan tubuhnya.
"Huh, Minggir". Ucapnya pada Sakura ketus dan duduk di kursi Sakura, seisi ruangan hanya menatap Sakura kasihan.
Naruto yang melihatnya sangat tidak tega, bagaimana bisa ada seorang Ibu memperlakukan anaknya seperti itu!. Tapi itu bukan urusannya jadi jangan salahkan Naruto sekarang bersikap acuh dengan Sakura. Karena siapa ia berada di ruangan ini?. Sekilas ia melirik ke arah orangtuannya. Dan mereka hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya dan menggerakkan telapak tangannya menyapu-nyapu diudara layaknya mengusir anak anjing. Naruto tahu apa yang dimaksud Minato dan Kushina. Naruto menyerah, sambil berdiri ia menghembuskan nafasnya. " Baiklah.. Sakura, duduk lah disini". Ucap naruto mempersilahkan Sakura dengan wajah datar.
Wajah Sakura berubah merah karena malu.".. Tak apa Naruto, aku berdiri saja-"
"Tidak baik membiarkan seorang gadis yang mengalah, benarkan!". Naruto menoleh pada orangtuanya, Minato dan Kushina hanya mengembangkan senyum mereka.
"Ba-ik.. lah". Jawab Sakura, melangkahkan kakinya untuk bertukar tempat dengan Naruto.
Tsunade dan Shizune ikut tersenyum pengecualian Iruka sensei dan Nyonya besar.
Nyonya besar itu hanya menatap bosan'Dramatis sekali' pikirnya."Cihhh, bisa-kah kita mulai sekarang!, aku tidak punya banyak waktu!"
"Ahh.. Ok. So your children Naruto and Sakura, membuat kesalahan yang menghasilkan masalah yang cukup besar. So mereka akan menerima hukuman cambuk di depan public!". Ucap Tsunade.
"WHAT!". Respon histeris Kushina dan nyonya besar serentak.
"Miss. Tsunade, kenapa harus didepan publik?". Tanya nyonya besar cemas, sebenarnya yang ia cemaskan adalah tercemarnya nama baik keluarga besarnya.
"Why the punishment should be like that!". Tanya Kushina.
"Because that is the rules of Konoha high School". Jawab Tsunade tenang.
'Aku tidak mengerti apa yang ia katakan'. Gumam nyonya besar."Kalau begitu, Miss. Tsunade. Hukum saja Sakura, dia pantas mendapatkannya". Kata nyonya besar itu tanpa keraguan sedikitpun.
Sakura terkejut, ia tidak mengira ibunya sendiri akan mengatakan hal seperti itu. Naruto hanya menatap Sakura yang tengah menundukkan kepalanya.
"Hmmmm, o-ok. Maybe you are still confused with punisment bt wich i mean". Tsunade membalikkan kepalanya arah jam 9, yang tepat menghadap ke arah Shizune dan menatapnya dalam-dalam seperti orang yang sedang mencoba untuk bertelepati.
"Na.. Nani?!". Jawab Shizune gelisah, tatapan Tsunade sangat menakutkan bagi Shizune.
Cukup lama Tsunade menatap Shizune tanpa berkedip, dan asistennya sama sekali tidak mengerti apa yang ia maksud.
"Fuuuuhhhh(Tsunade menghembuskan nafas beratnya). Tell them now!". Ucap Tsunade geram.
..."Ohh, aku mengerti sekarang. Tuan dan nyonya sekalian, yang dimaksud dari Tsunade sama yaitu, hukum cambuk di aula Konoha High School yang disaksikan oleh seluruh murid di Konoha High School!"
"Hah?, bukannya sama saja!". Ucap Minato yang baru membuka mulutnya.
"Oooohh, aku tidak keberatan!". Jawab nyonya besar To The Point. Kushina dan Minato hanya memandangnya kesal.
Kushina begitu keberatan, akan tetapi sangat sulit mengubah atau meringankan suatu hukuman yang sudah ditetapkan pihak sekolah, apalagi sekolah yang seperti Konoha High School.
"Hmmm, so miss Tsunade, can you help out them to make easy their punishment?
"I am so sorry Miss, I am the principal here, at least still!". Jawab Tsunade tegas.
"Sudahlah Kushina, pihak sekolah sudah menyetujuinya!, Naruto kau bisa menjalaninya kan?". Tanya Minato.
"... Ya, ayah!". Naruto mengangguk menurut, yang disambut senyuman oleh Minato.
Nyonya besar itu hanya menoleh ke sebelah kanannya."Sakura, persiapkan mentalmu. Kau akan menerimanya lagi setelah ini!"
Sakura bergidik ngeri, takdir memang kejam pikirnya. Tapi percuma ia tidak bisa melakukan apapun, ia hanya bisa menundukkan kepalanya atau mengucapkan maaf berkali-kali didepan ibu nya yang kejam.
"BRAAK"(Suara pintu ruangan didobrak)
"TSUNADE SAMA!". Teriak Anko memecahkan suasana di ruangan Tsunade.
"Anko where's your manners!?". Geram Tsunade kesal.
"Gomen ne!". Ucap Anko seraya membungkukkan tubuhnya."Murid-murid dikelas Kakashi membuat kegaduhan. Aku membawa pihak yang bertanggung jawab, Shizune hubungi orang tua mereka. Kalian berdua masuklah!". Ucap Anko.
Seisi ruangan tampak acuh, Anko yang bingung hanya bungkam. Bahkan ia terlihat shock ketika melihat Iruka sensei yang tampak babak belur.
Seorang gadis bersurai merah panjang acak-acakkan. Itu Karin, dan kacamata yang selalu bertengger di wajahnya itu pun juga tak terlihat lagi."Aku akan membalasmu Ten-ten lihat saja nanti!". Ancamnya pada Ten-ten disebelahnya yang terlihat agak kacau walau tidak separah Karin, dan ancamannya hanya diacuhkan oleh Ten-ten. tentu saja Karin menggeram kesal.
"YAA AMPUN KARIN!, APA YANG TERJADI!". Nyonya besar itu mendekat ke arah Karin, memasang wajah cemas. Karin hanya menjawab dengan wajah manja dengan pelengkap tangisan buaya.
"I-ibuuuu!"
"Ayo duduk dulu Karin!". Ajak nyonya besar itu seraya mengelus-elus kepala Karin dengan sayangnya.
Lalu nyonya besar itu menggenggam tangan Karin dengan perasaan cemas seperti seorang ibu kebanyakan, Sakura hanya bisa menundukkan kepalanya melihat hal itu.
"Minggir Sakura, kau tidak melihat keadaan Karin?!".
"Maaf". Jawab Sakura seraya berdiri membungkukkan tubuhnya, melihat respon Sakura Karin hanya tersenyum jahat dan merebut kursinya.
Naruto merasa iba, tapi ia hanya memasang wajah acuh. Toh, Sakura hanya bisa membuatnya pasrah pada keadaannya sekarang.'Aku tidak akan tertipu dengan wajah manismu lagi nona pink!, cukup sudah kau membuatku menderita hari ini. Cihhh, sekarang aku tahu bagaimana rasanya ditipu dengan penampilan'. Pikir Naruto.
•
•
"Uchiha Sasuke.. Masih ingat denganku?"
"Kau.. Hyuuga Neji"
"Hmm.."
"Apa maumu?"
"Tidak ada hanya saja, aku ingin berpesan padamu"
".. Aku sudah menjauh dari Hinata, apa lagi yang kau inginkan?!"
"Whoaa, tidak perlu marah dulu"
"..."
"Jangan kacaukan pernikahanku dengan Hinata, camkan itu!"
"Aku juga tidak berniat melakukannya"
"..."
•
•
Kamar ini cukup luas dan rapi, maklum saja.. Ini kamar yang ditinggali seorang gadis remaja. orang kaya memang selalu begitu, mereka akan memberikan apa saja yang dibutuhkan oleh orang yang sangat berharga bagi keluarga besarnya. Walau terkadang tidak ada makna cinta didalamnya.
Bagai burung dalam sangkar seorang gadis remaja bersurai indigo duduk bersimpuh menghadap jendela kamarnya yang terbuka lebar, mempersilahkan angin yang bertiup sepoi-sepoi menerpa wajahnya sambil menatap sendu pohon Sakura yang sedang berguguran. Dulu akan ada seseorang yang akan menemaninya di dalam sangkarnya, sesekali ia juga akan diajak keluar melihat dunia luar dan merasakan indahnya hidup ini. Tapi itu dulu... Sekarang.. Hanya mimpi belaka.
Takdir adalah takdir begitulah katanya. Ia hanya bisa menunggu dan menunggu sampai kegilaan ini berakhir dan setelah itu ia akan kembali pada orang yang membuat hidupnya berubah, orang yang memperlihatkan padanya bagaimana caranya belajar mencintai dan bagaimana rasanya dicintai dan juga orang itu telah menjadi orang pertama yang tercatat sebagai pria pertama yang ia cintai...
UCHIHA SASUKE...
•
•
Angin bertiup sepoi-sepoi menerpa ribuan kaca gedung pencakar langit. Angin saja terlihat ingin menghancurkan bangunan mewah yang tampak seperti perusahaan asing ini. Inikah perusahaan dimana Akatsuki kelompok mafia tingkat S beroperasi?.
"Sasori sama!, aku punya kabar penting!". Pria berpawakkan tegas bernama Yuura datang menghampiri Sasori yang tengah memejamkan matanya, menikmati angin yang menari-nari diwajahnya yang masuk lewat jendela ruangannya yang sedang terbuka.
... Sasori merasa terganggu tapi karena ia masih mempertahankan prinsipnya yang katanya tidak mau membuat orang menunggu. Ia menoleh ke arah Yuura berdiri."Katakan Yuura".
"Dokter Kabuto dari Klinik Asklepios Barmbek mengirim fax berupa laporan kesehatan Sakura sama!".
Sasori sedikit terkejut dengan yang dikatakan anak buahnya. Bagaimana tidak?, ini sudah lewat 10 tahun.
"Aku tidak mengerti, berikan padaku!".
Yuura menyerahkan map yang berisi laporan yang difax oleh Kabuto."Silahkan Sasori sama, saya permisi dulu". Ujar Yuura sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Sasori yang masih berkonsentrasi pada laporan kesehatan Sakura.
"Ini aneh..."
. . .
. . .
Cukup lama Sasori membaca laporan kesehatan Sakura tanpa berkutip sedikit pun sampai-sampai ia tidak menyadari sepintas tampak seperti bayangan dari seseorang yang sedang mencoba menyelinap masuk secara diam-diam ke dalam ruangannya dan tiba- tiba menyentuh bahunya dari belakang.
'Tap Tap'
Sasori masih tidak menyadari apapun.
'Tap Tap'
Lalu Sasori merasakan deruan angin dingin yang melewati belakang lehernya. Ia jadi merinding.
"~S-A-S-O-R-I...". Katanya merdu, atau mungkin yang Sasori dengar hanya ucapan makhluk halus.
Sasori membalikkan tubuhnya perlahan-lahan."WUAAAAAAAAA!"
•
•
"Naruto sama!, kami membawa daftar wanita tercantik dan ter-ter lainnya yang bisa membuatmu melupakan Sakura sama untuk sementara!"
Deidara dan Hidan datang menghampiri Naruto yang belum beranjak dari patung batu katak yang sedari tadi ia duduki sambil merenungi nasibnya.
"Hmmm, aku akan melihatnya nanti". Jawab Naruto lesu.
Dua anggota Akatsuki menatap satu sama lain lalu menganggukkan kepalanya secara bersamaan dan sepertinya mereka punya rencana... Deidara mengambil bom tanah liatnya yang baru setengah jadi dan melemparkannya ke arah Naruto.. "Katsu!"
"BOOOOOMMMMM!"
"WUAAAAAAAAAAA!"
Seketika batu katak yang diduduki Naruto hancur tak tersisa dan Naruto sendiri terpental jauh diuadara.
"Wahhhh, kau dalam masalah besar banci!". Ujar Hidan.
Raut wajah Deidara berubah panik. "Ke-kenapa aku hm!, jangan memanggilku banci hm.. A-aku, salahmu yang menatapku dan ikut-ikutan mengangguk hm!"
"APAAAAA, dasar ! %&^*()# ":?". Umpat Hidan.
Deidara ternganga, ia tahu... Seharusnya ia mengajak rekannya bukan rekannya kakek pelit. Merasa tidak menerima kekalahannya Deidara mengangkat kepalanya mencari-cari Naruto. "Huh, aku akan menangkap Naruto sama hm. Mulut kotor kau diam saja disini hm!"
Hidan menjadi panas. "Enak saja, kau yang harus diam ditempat aku yang akan menangkap Naruto sama!"
"Aku hm!"
"Aku!
"Aku hm!"
"Aku!"
"Aku hm!"
Sementara Deidara dan Hidan masih beradu mulut mereka berdua tidak menyadari bahwa Naruto sudah berada kira-kira 30 meter di atas mereka.
"Ak.."
"Bruakkkk!
"Aduhhhh hm, sakit sekali hm!"
"Kalian gila, ohh Deidara arigatou"
"Hhehe, auuuuww.. Kau dengar hidan aku pemenangnya hm!"
Hidan semakin panas, tapi ia akan mengalahkan Deidara nanti(Ia punya rencana licik).
Bagai manusia yang baru bertemu dengan Tuhannya, Naruto tampak segar kembali setelah terpental jauh melewati atmosfer menembus luar angkasa dan sampailah ke rumah Tuhan. "Baik apa yang ingin kalian katakan tadi!?"
"Ka-".
"Kami mengumpulkan semua daftar wanita tercantik dan ter-ter lainnya yang tidak kalah dengan Sakura sama!". Ucap Hidan memotong ucapan Deidara.
"Baik, sebutkan satu persatu secara mendetail". Ujar Naruto seraya berbaring di rerumputan yang dipijaknya, Deidara dan hidan pun mengikutinya tapi mereka hanya duduk sambil membacakan daftar wanita ter-ter tersebut.
"Ayame, anak pemilik kedai ramen Ichiraku. Anda akan bahagia nantinya Naruto sama, ia akan membuatkanmu ramen setiap hari, setiap saat dan setiap waktu". Ujar Hidan menyodorkan photo Ayame 10 cm didepan wajah Naruto."Hmmm, boleh juga berapa umurnya?"
Ia lalu menyunggingkan bibirnya ke hadapan Deidara. Deidara hanya memasang wajah kecut."Kira-kira 17-18 tahun"
"Apaaaa, ia lebih tua dariku!, Aku tolak!". Jawab Naruto mantah-mantah.
'Pfffttttt!, kasihan kau Hidan hm!, kau juga Ayame hm... Pfffttttt'. gumam Deidara.
In Ichiraku:
"Haaatchiiiiii!"
"Ayame!, kau tidak apa-apa, apa kau sakit?"
"Tidak ada apa-apa ayah, hanya saja sepertinya ada yang sedang menertawakanku"
"Mungkin hanya perasaanmu saja!"
Back to:
"Giliranku hm!, Naruto sama, aku rasa wanita ini sangat cocok dengan kriteriamu!. Biar kuperkenalkan padamu! Tsuna-"
"Aku tolak!". Potong Naruto cool.
"Apa kau baru saja mengatakan Tsunade Senju Deidara?". Deidara menganggukkan kepalanya, wajah Hidan memerah menahan tawa dan sepertinya ia tidakakan tahan."Wuahahahahhahahahah!, aku kasihan padamu Deidara. Umurnya sudah mencapai setengah abad, Naruto sama menginginkan yang lebih muda darinya sekalian saja kau masukkan nenek Chiyo, wuahahahahahahahaha!"
'Akan kuledakkan kamarmu nanti hm!'. Batin Deidara.
"Hidan lanjutkan, aku menyarankanmu kali ini jangan bacakan wanita yang sudah punya tunangan atau kekasih!". Perintah Naruto cool.
"Hai Naruto sama. selanjutnya biar ku lihat, hmmmm... AHAAA!, Karin.. Bagaimana dengan Karin, dia salah satu anggota Taka. Organisasi yang diketuai oleh Sasuke"
"Aku tolak, aku tidak mau memilih kekasih yang bahkan lebih cerewet dari Sakura!"
"Aku mengerti Naruto sama". Ujar Hidan memanyunkan bibirnya.
"Hah!, giliranku hm.. Kau tidak mampu menolaknya Naruto sama, dia masuk ke dalam kriteriamu!. Akan kuperkenalkan padamu! Hyuuga Hana-"
"Aku tolak... Bagaimana bisa kau menyarankan seoarang gadis kecil menjadi kekasihku, apa aku terlihat seperti laki-laki cabul didepan matamu!"
"Tentu saja tidak Naruto sama!". Ucap Deidara memanyunkan bibirnya meniru Hidan.
"Aku bisa gila, Hidan lanjutkan!"
"Hai.. Kalau begitu ada satu wanita dari desa Konoha yang sekarang menetap di Sunagakure, namanya Rin!". Ujar Hidan mengembangkan senyumnya.
Dan ntah datang dari mana dan kapan tiba-tiba saja Tobi muncul dihadapan Hidan. Sontak Naruto, Hidan dan Deidara hanya bisa ternganga. "Jikukan Ido". Ucap Tobi dan seketika Hidan terhisap masuk ke dalam mata klan Uchiha ini dan wuuuuussssss!. Ciluk Baaa Tobi menghilang juga.
'Rasakan itu Hidan, hahahah hm!'. Batin Deidara.
"... Ba-baik, lanjutkan Deidara!"
"Ha-Hai Naruto sama". Aku harap Naruto sama akan menerimanya hanya untuk sementara saja, ini wanita yang terakhir!"
"Ya, ya, ya.. Lanjutkan!"
"Shion!..."
•
•
"Sakura!"
"Hallo Sasori nii-chan!". Sapa Sakura memasang senyumnya.
"Kau mengejutkanku". Ucap Sasori tenang, padahal ia hanya menyembunyikan ekpresi paniknya saja.
Sakura berkacak pinggang."Aku tahu kau pasti terkejut dengan trik muncul tiba-tibaku!". Jawab Sakura dengan antusiasnya.
Sasori menyunggingkan bibirnya ke atas seraya menggeleng-gelengkan kepalanya."hmmm, bukan itu.. Aku terkejut kau pulang lebih awal"
Kali ini Sakura sangat terkejut, ia tahu sebaiknya dari awal ia tidak akan datang ke perusahaan ayah tirinya yang nantinya akan dipimpin oleh sasori."Aku sedang tidak mau membicarakan hal itu".
"Baik, bicaralah kalau kau ingin bicara. Aku akan mendengarnya kapanpun kau ingin". Ucap Sasori, ia sebenarnya bukanlah tipe yang pengertian dihadapan orang lain. Tapi untuk Sakura dan nenek Chiyo, apa sih yang tidak bisa ia lakukan.
Sakura tersenyum, instingnya benar hanya Sasori lah yang mengerti dirinya.
•
•
"Naruto, aku tahu rasanya diposisimu. Aku juga pernah mengalami hal itu!"
"Ayah hanya ingin menghiburku!"
Minato menyerah, putranya memang sudah dewasa. Ia bingung saat ini apa yang harus dilakukannya?. "HAAH, aku akan mengembalikan kunci mobilmu. Aku tidak tega melihatmu begini Naruto"
"Hmmm...". Gumam Naruto mengiyakan perkataan Minato.
"Aku harus berangkat ke kantor dulu, Kushina aku pergi dulu"
"Aku akan membantumu mengemasi barang-barangmu Minato".
"Tu-Tunggu, Ibu!"
Kushina dan Minato terkejut, wajah Naruto memerah saat Minato dan Kushina menoleh padanya. Minato yang merasakan adanya suasana canggung disekitar Naruto akhirnya pergi dan melambaikan tangannya pada Kushina.
"I-Ibu, aku boleh memanggilmu begitu kan?"
Kushina terdiam sesaat, rasanya seperti disengat 5 belut listrik berkekuatan 2oo volt sekaligus. "Tentu saja iya Naruto, aku kan memang ibumu! Aduhhh, aku sangat senang dattebanne!". Ucap Kushina seraya memeluk kepala Naruto.
Naruto merasa dia sangat mirip dengan Kushina, ia seharusnya tidak perlu jual mahal didepan Kushina, seharusnya ia sudah memanggilnya Ibu 3 saat pertama kali ia bertemu, dan juga seharusnya ia AAAAARRRRGGGHHH, seharusnya ia tidak perlu berpikir bahwa Kushina hanya akan merebut ayahnya dan semua kebahagiaan. Sekarang ia tahu apa yang harus ia lakukan.. belajar menyayangi Kushina dan menarik kata-katanya tadi pagi yang cukup keterlaluan.
•
•
"Naruto, kita kedatangan tamu!". Ujar Sasuke sembari mengulurkan tangannya membantu Naruto berdiri dari posisi tidurannya.
"Siapa?"
"Kau akan tahu dan kau pasti akan senang". Ucap Sasuke memasang senyum diwajahnya
Sepintas terbayang-bayang wajah Sakura dalam benaknya, tapi ia meragukannya. Tak mungkin anak buahnya membiarkan orang-orang Konoha masuk ke wilayahnya. Jadi siapa yang datang?.
Di tengah perjalanan Sasuke berhenti dan menolehkan kepalanya ke kiri."Kau pergi saja sendiri, aku masih ada urusan dengan Gaara". Ujar Sasuke.
Naruto sempat bingung dengan gerak-gerik Sasuke, akhir-akhir ini Sasuke memang sering menghilang. Ntah kemana ia akan pergi. Naruto hanya membiarkannya saja, dari pada mencegat Sasuke ia lebih penasaran dengan tamunya ini. Siapa yang bisa membuat Sasuke tersenyum tulus selain Hinata dan Gaara, yahh Naruto juga termasuk sih.
Karena terlalu banyak berpikir, tak terasa Naruto sudah sampai didepan pintu ruanggannya. Ia terdiam sesaat menatap gagang pintu dengan gugup.'Maju Naruto, seorang Uzumaki tidak boleh seperti ini, jangan biarkan seoarang tamu yang kelihatannya sangat penting menunggumu'.Batinnya sambil memegang gagang pintu tersebut dengan tangan kanannya dan menariknya ke bawah, lalu ia mendorong pintu tersebut kebelakang secara perlahan-lahan.
"Krieeettt!"(Bunyi pintu terbuka)
Naruto memasuki ruangannya dengan ekspresi tenang yang tercetak diwajahnya, sepertinya ia berhasil mengendalikan tingkat waswasnya.
"Lama tak bertemu Naruto!".
Seorang wanita cantik yang tampak lebih muda 2 tahun dari Naruto membungkuk dalam-dalam memberi hormat. Ia mempunyai rambut merah panjang, bermata violet dan kulit yang cukup terang menambahkan kecantikannya.
"Kau!". Naruto terperanjat kaget."Siapa?!"
"Kau melupakanku ya, aku sangat kecewa. Kau lupa dengan gadis yang pernah menjadi teman sepermainanmu dulu". Ujar gadis itu memasang ekspresi marah, sebenarnya ia tidak marah. Tapi kalan tahulah, TSUNDERE.
"Hahahahahaha, tidak usah marah begitu, aku tidak akan mungkin melupakanmu Sara!". Ucap Naruto memasang senyum terbaik diwajahnya.
"Kau tidak pernah berubah Naruto, aku pikir kau yang sekarang lebih dewasa dari yang dulu". Kata Sara sembari berkacak pinggang.
Naruto tersenyum, ia tahu sekarang. Pertanyaannya telah terjawab sekarang.
"Ngomong-ngomong, aku perlu bantuanmu Naruto!". Pinta Sara.
Naruto memasang pose berpikir."Aku baru ingat, kau kan sekarang ratu Roran, ada perlu apa?"
"Sembunyikan aku!"
"Eerrr, APAAA?"
"Naruto, sembunyikan aku!". Ucap Sara, tentu saja ia serius.
Naruto berpikir sesaat.'Jadi ini alasan Sara datang ke tempatnya'.Pikirnya.
"Aku mohon Naruto, ibuku hidup kembali. Awalnya aku senang, tapi lama kelamaan. Aku tahu ternyata itu hanya rencana Anrokuzan, ia mengendalikan ibuku untuk membunuh rakyatku satu persatu. Dan salah satu cara agar rakyatku tetap aman adalah aku harus bersembunyi". Cerita Sara panjang lebar.
"Tu-tunggu dulu, jadi intinya Anrokuzan yang sudah mati bangkit menjadi mayat hidup dan membangkitkan ibumu dan menjadi mayat hidup juga lalu menghipnotis ibumu untuk membunuh rakyatmu kan?".
Sara menganggukkan kepalanya."Dia bukan mayat hidup tapi Anrokuzan itu memang masih hidup. Ingat kau hanya melenyapkannya bukan membunuhnya".
"Hmmm, lalu apa hubungannya dengan kau yang harus bersembunyi?". Tanya Naruto lagi.
"Ia tidak bisa mengendalikan ibuku kalau aku jauh darinya, aku punya kunci untuk masuk ke dalam Ryumyaku dan menyerap energi tak terbatas disana!"
"Aku masih tak mengerti, apa hubungan ibumu yang sudah menjadi mayat hidup dengan kau yang sekarang ratu Roran, kalau kau pergi. Bukankah rakyatmu akan mati?"
Sara menghela nafas panjang dan menghembuskannya, ia berjalan ke arah sofa yang terjejer didepan meja kerja Naruto. Naruto lalu mengikutinya duduk.
"Ini kekuatan cinta Naruto, kalau kau mempunyai orang yang kau sayangi dan dia pergi darimu bagaimana rasanya. Kau tidak akan bisa mengendalikan dirimu sendiri bukan?". Ucap Sara sedih.
"Yaa". Ntah kenapa yang dikatakan Sara sekarang mendeskripsikan tentang kondisinya.
"Dan kalau kau berada didekat orang yang kau sayangi, kau akan kembali normal bukan?". Ucap Sara.
"Yaa". Yang dikatakan Sara memang benar, Naruto bisa merasakannya karena dia baru saja mengalaminya.
"Begitu juga dengan ibuku, ia bukan manusia lagi. Ia hanya mayat hidup, kalau aku didekatnya bukankah sikapnya akan kembali normal?, normal dalam arti kembali menjadi mayat hidup yang hidup karena dikendalikan".
"Aku mengerti, tinggallah. Apa pun yang terjadi aku akan melindungimu Sara". Ucap Naruto kepada gadis teman sepermainannya dulu.
Sara tersenyum gembira, ia sangat senang. Pilihannya memang tidak salah."Naruto, aku akan melakukan apa saja. Apa pun yang kau mau!, aku ingin berterima kasih".
"Ucapan terima kasihnya nanti saja, aku akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka". Ujar Naruto tak henti-hentinya melepas senyum diwajahnya.
Di luar ruangan, Shion menguping lewat jendela yang sedikit terbuka.'Apa posisiku akan digantikan oleh gadis itu?'. Gumamnya sedih. Mengingat ia hanya menumpang tinggal saja, sama seperti Sara, Shion tidak bisa begitu senang. Walau ia sudah lama tinggal disini, tapi ia masih kalah dengan Sara yang merupakan teman sepermaina Naruto.'Apa yang harus kulakukan, aku tidak mau digantikan. Tidak akan!'. Gumamnya lagi seraya berjalan gontai menjauhi ruangan Naruto yang sepertinya mereka berdua masih bernostalgia melepas rindu masing-masing.
•
•
"Praaanggg!"
"Sakura, kau tidak apa-apa?"
".. Yaa, Ino"
"Apa kau terluka, aku akan membereskan pecahan gelas ini"
'Aku punya firasat buruk'
"Kau bicara sesuatu?"
"Heeh?!, ti-dak.. Hanya, Ohok-Ohok!. Kau lihat hanya batuk-batuk saja!, yaa ampun disini banyak debu. Bukankah begitu Ino!"
".. Kau aneh?!"
•
•
Sakura berjalan mengitari kolam ikan ditaman kota dengan lesu."Harusnya, aku mendengarkan kata-kata nii chan!, tapi yang benar saja.. Aku tidak mau melihat nenek sihir itu dirumah, juga-".
Sakura berhenti melangkah, lidahnya menjadi kelu, kakinya bergetar hebat, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Mengingat kejadian hari dimana pertama kali ia menginjakkan kakinya dirumah barunya.
Flashback:
"Sakura, ayo masuk!.. Ini rumahmu juga jangan malu-malu!". Ujar Sasori.
".. Ha-hai, nii chan". Jawab Sakura malu-malu.
Rumah ini memang tidak sebesar dan sebagus rumanhya di Amerika, tapi suasana disini lebih hangat dibandingkan dengan rumah lamanya. Saat ia diajak tinggal disini ia sangat senang, dari dulu ia ingin melihat wajah keluarganya yang sudah lama ingin ia lihat dan akhirnya terwujudlah harapannya.
Saat memasuki halaman rumah barunya ia disambut beberapa pelayan berpakaian adat, sungguh takjub. Dulu ia hanya akan menemui pelayan dengan yukata direstoran atau Internet, tapi sekarang betapa bahagianya Sakura dengan segala hal yang disiapkan oleh Sasori juga dengan bantuan yang lainnya.
Sakura diajak ke ruang keluarga bertemu anggota keluarganya dan bernostalia disana. Tapi ia menyadari ada keganjalan disini, walau begitu ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Eeeuuuuugggghhhhh!"
Nenek chiyo mengerang kesakitan sambil memagang perutnya.
"Nenek tidak apa-apa?"
Sasori berjalan mendekati nenek Chiyo.
"Aku hanya butuh istirahat saja"
"Sakura aku akan mengantar nenek ke kamarnya, kau duduk saja dulu disini ya!"
"Yaa"
Setelah beberapa saat Sasori menghilang barulah ia bertanya.
"Hmmm, ngomong-ngomong dimana ibuku dan saudara perempuanku?". Tanya Sakura yang hanya dijawab kesunyian diruang keluarganya.
"A-ada dilantai dua, dikamar paling ujung Sakura sama". Ucap seorang pelayan yang dibalas deathglare oleh sei-isi ruangan.
"Ba-iklah, aku akan pergi melihat-lihat dulu ya!". Ujar Sakura antusias, walau terkesan ragu-ragu.
Sakura berjalan setengah berlari, ia sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan ibu kandungnya dan saudara kembarnya, setidaknya hanya itu informasi yang ia dapatkan dari Sasori.
Saat mencapai pintu kamar yang dikatakan oleh pelayan tadi, Sakura meraih knop pintu, dan tiba-tiba terdengar isakan tangis dan teriakan seoarng gadis dari dalam. Karena penasaran dan juga bingung, Sakura membuka pintu itu secara perlahan mendorongnya kedepan. Menampakkan seorang gadis bersurai merah yang sepertinya seusianya sedang menangis dipangkuan seorang wanita yang diduganya adalah ibu kandungnya.
"Kenapa nenek dan Sasori nii sangat jahat padaku?!". Ucap gadis itu.
"Mereka tidak jahat padamu, hanya saja seoarang gadis berambut pink mengambil tempatmu!".
Sakura terkejut, ia tidak menyangka wanita ang diduganya ibunya mengatakan seperti itu, Sakura bukan orang bodoh yang hanya akan terngaga dan terdiam kaku ditempat, ia punya mulut. Dan mulut diciptakan untuk berbicara, maka yang ia lakukan sekarang adalah berbicara.
"Pe-permisi"
Seketika Ibunya dan gadis itu mendongakkan kepala mereka. Tamapak jelas wajah kurang senang yang diberikan mereka pada Sakura.
"Mau apa kau kesini!". Ujar gadis itu ketus.
"A-aku hanya-"
"Seharusnya kau tidak pulang kesini!". Ucap ibunya dengan nada yang ditinggikan.
Sakura terkejut, ia baru saja dibentak."Ma-maaf, kau.. Apa kau ibuku?"
"Dulu yaa, saat melahirkanmu.. Sekarang tidak!, dan kau tahu!, sekarang aku hanya punya satu anak perempuan"
"A-apa maksud-"
"Aku tidak membutuhkan anak perempuan yang hanya bisa sakit-sakitan, terbaring seperti orang mati!"
"A-apa yang-"
"Pergilah dari sini, pulanglah.. Kau akan menyesal kalau tinggal disini lebih lama lagi!". Bentak ibunya.
Sakura menangis, ia benar-benar sakit hati. Ia tidak menyangka kalau akan jadi seperti ini sekarang. Sakura melangkahkan kakinya keluar dan berlari tidak tentu arah. Ia sangat sedih dan hatinya sangat perih, kepalanya jadi pusing, matanya berkunang-kunang. Sakura terjatuh saat menuruni tangga, ia terguling-guling sampai lantai bawah. Sakura pingsan ditempat.
Flashback end
"Kau benar ibu, aku menyesal!". Ucap Sakura terdengar pilu.
Sakura menangis sejadi-jadinya ditaman kota yang kebetulan saat itu sangat sepi. Jadi tidak akan yang terusik dengan keadaannya lagi.
"Heii, kau kenapa?"
Suara ini, Sakura menganali suara ini!, ia benar-benar tidak bisa melupakan suara ini. Sakura menolehkan kepalanya kebelakang.
"Na-ru-to"
^•^
~TBC~
^•^
HC/N:
Holla pyoo~, gomen ne kalo teman-teman merasa Hikaroo ini lama updatenya.. Hikaroo sangat sibuk dengan tugas sekolah yakni membuat prakarya mengepang koran. Hihihihihi, dari katanya aja udah lucu banget yyaaa. Koran dibagi 3 potongan udah itu dikepang dehhh.
Awalnya pengen update tanggal 15 July kemarin, tapi karena masih ada tugas sekolah, Hikaroo akhirnya membatalkan updatenya.. Minna gomen ne!^~^!
Ok, setelah membaca review teman-teman, Hikaroo sadar.. Review kalianlah yang mampu mengubah jalan cerita!, soo.. Hikaroo akan menjawab pertanyaan dari teman-teman yang masih bingung.
Buat fans Iruka sensei maaf lohhh~Sayangnya, Iruka sensei lah yang cocok memerankan peran ini. Awalnya memang jahat tapi tenang aja buat Iruka nanti sisi positivenya bakal muncul dan dia juga bakal berteman baik dengan Naruto kayak dimanga dan animenya lhooo!. Khu-Khu-Khu-Khu*^*
Tsunade Hikaroo buat cuman bisa ngomong bahasa inggris dan jepang(Indonesia). Sama aja kayak Hikaroo#Plakk!
Sekali lagi Gomen ne kalau fic Hikaroo agak aneh, Hikaroo hanya membuat klan Naruto adalah klan terkejam dan terjahat juga terkuat dan terkaya didunia ini. Hahahahahahahaha*^*
Naruto itu pemimpin Jinchuriki dan juga orang yang membangun Akatsuki, karena banyak warga desa yang takut dengannya, apalagi saat Sakura bangsawan terhormat didesa Konoha menjadi kekasihnya, banyak keluhan dari warga desa, mereka takut kalau itu hanya taktik Naruto saja. Jadi wajar kan warga desa Konoha merayakan hari putusnya Sakura dan Naruto.
Narusaku tahun 2013 juga ada hubungannya sama Narusaku tahun 1914 lhoo~Seperti halnya masa lalu yang berhubungan dengan masa depan.
OK, sekian.. Kalau masih ada yang bingung silahkan tanya lagi, Hikaroo terbuka untuk konsultasi#plakkk!
Next chap:
"Terungkapnya masa lalu Sakura"
Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan Sakura dan Ibunya dan apa Karin saudara kembarnya? juga.. Hmmmm... Siapa itu Kabuto?
Semua akan terungkap di chap depan^*^
Jaa ne pyoo~, Minna arigatou pyoo~
^o^
~Thanks to the read~
~Thanks to review~
^o^
