Chapter 7

"Tsunade sama, apa kita terlalu bertindak lebih jauh?"

"No!"

"Ta-pi Tsunade sama"

"I'll tried shizune!, I'll tried and I…"

"Dan?"

"Forget it!"

2013? No, it's 1914

Naruto© Mashasi kishimoto

Story © HIKAROO CHERRYN

WARNING

TYPO, OOC, AU

"Sedang apa kau di sini, ehhh.. Kau menangis?". Tanya Naruto sembari memajukan kepalanya melihat mata Sakura yang sedikit memerah.

Sontak rasa panas langsung menjalar memenuhi wajah putih Sakura yang sekarang tampak memerah."Ahhh, ehhh.. Ti-dak!"

"Wajahmu memerah!, kau tidak apa-apa?". Tanya Naruto lagi sambil memajukan kepalanya lebih dekat dengan Sakura.

Sakura langsung mengalihkan pandangannya ke kanan, sesekali ia akan curi-curi pandang ke arah Naruto. "Me-menjauh lah, pergi sana, jauh –jauh dariku!, ja.. Jangan mendek-at!". Usir Sakura, layaknya mengusir seekor anjing. Tapi Naruto malah makin memajukan kepalanya, tentu saja Sakura langsung grogi. Ia layangkan kepalan tangannya menuju perut Naruto-.

"BUAAGHH!"

Naruto ternganga ia belum mengeluarkan suara sedikit pun saat Sakura menyerangnya, yang ia lakukan hanya memegang perutnya lalu membuka mulutnya seperti ingin mengatakan 'A-A-A-A-A-A-A'.

"Ma-maaf, aku minta maaf, a-aku tak sengaja .. Apa sakit?". Pertanyaan bodoh Sakura langsung membuat Naruto naik darah. Walau begitu Naruto masih tidak menjawab dan tetap dengan mulut yang terbuka.

"A-apa kau ingin muntah, aduhhh!.. Kau bisa merepotkanku nanti!, telan saja lagi!". Ucap Sakura setengah panic dan jijik, Urat-urat kepala Naruto sudah berdenyut-denyut. Sumpah apa gadis ini bodoh?.

"Kau mau bilang apa sihhh Naruto?!, dari tadi kau hanya membuka mulutmu saja!, kau mau bilang apa?!". Tanya Sakura setengah membentak.

Naruto mengeluarkan suaranya, walaupun kelihatannya butuh perjuangan melakukannya."A-A-A-A-A!"

"AAAAAA-was?". Kata Sakura membetulkan kata-kata Naruto. Dan dibalas gelengan lemas dari Naruto.

"A-A-A-A-A-A"

"AAAAAA-uuwww?". Ujar Sakura membetulkan kata-kata Naruto lagi.

"Aa-auuw-w, i-ni sakit bodoh!". Kata Naruto diikuti erangan kesakitan .

"Aduhh, aku benar-benar minta maaf Naruto. I-itu, i-tu.. REFLEKS!"

Sekarang Naruto bisa mengendalikan rasa sakitnya, walau ia rasa perutnya seperti terasa membiru."CIH, reflex apanya?. Kau hampir membunuhku!"

"Aku minta maaf!". Ucap Sakura tulus.

Naruto memperhatikan Sakura sejenak dari cara ia meminta maaf dan merasa bersalah tadi. Jujur, ia bukan lah tipikal pria penyiksa wanita.. Hanya saja kali ini akan ada pengecualian, siapa sih yang tidak dendam dengan orang yang menghancurkan hari-harinya dan terlebih lagi baru ia kenal!.

"Heiii, ini sangat sakit lhooo. Aku tidak mungkin memaafkanmu begitu saja!". Ujar Naruto sambil menyunggingkan bibirnya ke atas.

Keringat dingin mengalir dari kulit kepala Sakura, dari penglihatannya.. Naruto hanya tersenyum licik dan itu artinya ia sedang merencanakan sesuatu.

Jam istirahat sudah dimulai 5 menit yang lalu, dan sepertinya banyak siswi perempuan yang lebih memilih bergosip ketimbang mengisis perut mereka.

"Heiii, aku dengar ada murid baru yang berani-beraninya melawan guru pengganti Kurenai sensei"

"Haaaahhh?, benarkah!"

"Wahhhh, hari-harinya pasti buruk!"

Tidak di kelas, halaman sekolah, maupun toilet.. Baru mendengar kata toilet saja pasti kalian berpikir bahwa seluruh penjuru sekolah termasuk toilet, dimana mereka para perempuan berada sedang nyaman-nyamannya bergosip tentang kejadian yang menimpa murid baru dan ?... Karena ini gossip, ntah yang mereka katakan itu omong kosong atau realita.. Itu masih tanda tanya.

"Ssssttt!, tapi yang aku dengar ada 2 murid yang baru saja masuk tadi pagi"

"Jadi, maksudmu 2 murid baru itu yang menghajar guru pengganti itu?!"

"Dasar bodoh, mana aku tahu!"

Benar-kan, bahkan sampai sudut terpencil perpustakaan pun masih ada yang bergosip, yahh walaupun mereka berbisik tetap saja bergosip.

Jadi apa pembicaraan hari ini tentang bergosip, tentu saja bukan.. Karena dimana bintang jatuh melintas dihadapanmu maka pasti selalu diakhiri dengan keajaiban?.

"Heiii, siapa gadis cantik yang memeluk lengan Uzumaki sama.. Kelihatannya mereka sangat akrab!"

"Aku tidak tahu, tapi wajahnya mirip sekali dengan mendiang Ibu dari Uzumaki sama!"

"Kau benar.. Apa mungkin ia tunangannya ya?"

Sekitar 5 langkah jauhnya dari 2 wanita yang sedang bergosip ini, berdiri Shion dengan amarah yang meluap-luap.

'Padahal Sakura.. Gadis itu sudah menyingkir dan melepaskan pelukannya dari Naruto sama, tapi kenapa.. Seteah gadis itu pergi, bukankah inilah kesempatanku untuk mendekati Naruto sama… Kenapa kamisama mendatangkan seorang wanita lagi yang mengisi tempat kosong dihati Naruto sama!. Apa aku harus menunggu lagi?'

Shion mundur 2 langkah kebelakang dan berbalik sebelum ada yang melihat ia meneteskan air mata kecewanya.

'Maaf.. Tapi air mataku sangat mahal bahkan hanya setetes saja'. Benarkah?

Ino berjalan dengan anggunnya sambil membawa nampan berisikan 2 cangkir teh hijau dengan uap yang masih mengepul diudara. "Sakura.. akhir-akhir ini yang aku lihat, kau sudah jarang menangis yaa". Ujar Ino sambil mengembangkan senyumnya.

Sakura sedikit kaget dengan pernyataan Ino, dan itu membuatnya kembali teringat lagi dengan Naruto.

Ino menaruh nampan tersebut dimeja kayu didekatnya, dan berjalan mendekati Sakura. "Ya ampun, kau memang sudah berhenti menangis.. Tapi kau tahu kau banyak melamun dan lebih suka menyendiri sekarang.. Perlukah aku mencarikanmu kekasih baru?". Tawar Ino seraya berkacak pinggang.

Sakura tahu, Ino memang sangat memperhatikannya. Tapi mau bagaimana lagi, cintalah yang membuatnya seperti ini. Dulu ia benar-benar menganggap enteng hubungan Sasuke dan Hinata. Dan sekarang, inilah yang terjadi. Ia sekarang bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Sakit!, rasanya sakit sekali.. Keadaan Sakura dan Hinata memang tidak jauh berbeda sekarang.. Sama-sama kehilangan juga sama-sama merasa sakit hati.

Merasa diacuhkan Ino berjalan menjauhi Sakura dan mengambil secangkir the hijau itu lalu melemparnya menabrak dinding."Kamisama, bunuh saja aku.. Bisa-bisa 1 minggu aku tidak dihiraukan oleh nona bangsawan ini hanya karena aku membicarakan pengganti pemimpin Yakuza itu!". Kata Ino setengah berteriak mencoba meminta perhatian Sakura.

Sakura tersentak kaget, Ino benar-benar gila, dan seharusnya ia juga tidak mencari masalah dengan orang gila satu ini."A-ahhh, ma-af Ino, aku kurang konsentrasi menanggapi kata-katamu tadi!"

"Akhirnya kau mau membuka suaramu nona bangsawan.. Ohh, untung cangkir ini tidak pecah!". Ino segera berlari menuju cangkir teh hijau itu dan memungutnya lalu beranjak menuju pintu keluar."Aku akan ke dapur menyuruh beberapa pembantumu mengurus kekacauan yang aku- maksudnya yang kau buat!". Ucap Ino sembari memasang kuda-kuda menunggu Sakura merespon ucapannya, kalau tidak mungkin saja cangkir ini akan mendarat diatas jidat lebar Sakura.

"Khe-Khe-Khe!, kau benar-benar tahu cara membuatku tertawa Ino!, tapi semua pengurus rumah tangga dirumahku diliburkan hari ini".Ujar Sakura mengembangkan senyum cerianya, walau masih ada ekspresi paksaan didalamnya.

Tubuh Ino menegang.. Apa ia akan membersihkan ini sendirian, Ino sangat tidak menyukai pekerjaan rumah tangga..

Sepertinya malaikat keberuntungan baru lewat didepan Ino. Sakura beranjak dari tempatnya menuju tempat kekacauan yang Ino buat."Akan kubantu..". Kata Sakura sambil tersenyum tulus.

Seperti tersambar gledek Ino lari memeluk Sakura dari belakang."Sakuraku sudah kembali.. Aiihh senangnya".Ino sebenarnya sempat terkejut saat melihat Sakura tersenyum tulus, ia tidak pernah bersikap seperti ini, akhir-akhir ini Sakura berubah menjadi lembut. Tapi biarlah begini lebih baik dari pada melihat sahabatnya melamun didepan jendela menatap langit dengan sendu.

"Apa nee-chan tidak bekerja hari ini?". Tanya Konohamaru sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Rin.

Rin mengembangkan senyumnya. Jujur saja ia sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama adiknya."Hmmm, tidak.. Aku mengambil cuti hari ini".

"Yeaayyy!, kalau begitu ayo kita bermain start fantasy crisis money!". Ucap Konohamaru dengan antusiasnya.

"Kali ini aku tidak akan membiarkan cleare bangkrut!". Kata Rin seraya megepalkan tangannya memukul udara(terbawa suasana).

"Hahaha nee-chan selalu kalah!". Konohamaru melepaskan genggaman tangannya dan beralih memegangi perutnya sembari melepaskan tawanya.

Wajah Rin berubah cemberut."Konohamaru jangan mulai!"

"Hahahahahahaa-"

"Riiingggg!"

Konohamaru terdiam sesaat, ia seperti mendengar bunyi ponsel bordering. Tapi yang ini lain.. Ini seperti bunyi ponsel yang membawa kabar buruk. Tangan Konohamaru mulai menarik ujung jaket Rin."Nee-chan dengar sesuatu?"

"Tidak.."

"Riiiiiinggggg!"

"Jangan-jangan.. Ponselku!". Rin mulai mengobrak-abrik isi tasnya.

Konohamaru hanya terdiam, apa ia akan bermain sendirian lagi hari ini?

Rin menatap layar ponselnya, panggilan darurat dari rumah sakit. Ia sebenarnya ragu untuk mengangkatnya tapi apa boleh buat sudah kewajibannya sebagai dokter untuk menjawab setiap panggilan darurat. "Moshi-moshi"

'Sumimasen Rin sensei, pasien kamar 404 terpeleset di koridor ruangan, kepalanya mengalami pendarahan. Bisakah sensei datang kemari secepatnya!". Ucap seorang gadis tanpa jeda yang sepertinya asisten Rin, Suara asistennya terdengar panic.

Rin juga terlihat panic, apa ia akan meninggalkan Konohamaru bermain sendirian lagi, padahal ia sudah berjanji untuk hari ini saja. Rin melirik Konohmaru dan ternyata konohamaru sedang mengembangkan senyumnya sambil menatap miris Rin.

Melihat ekspresi Konohamaru yang berusaha menyembunyikan kekecewaanya rasanya hati Rin seperti diiris-iris sebilah pisau tajam. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Konohamaru bisa memendam rasa kekecewaannya.

Rin tidak mau mengingkari janjinya, tapi ia juga tidak bisa membiarkan nyawa pasiennya terancam.. Itu kewajibannya.

"Nee-chan pergilah, aku juga baru ingat, aku punya janji dengan temanku". Ujar Konohamaru sembari berkacak pinggang memperlihatkan wajah angkuhnya.

Rin terdiam, ia tidak punya kekuatan untuk melangkahkan kakinya pergi ataupun membuka suaranya. Ia merasa ia selalu mengingkari janjinya. Rin menatap Konohamaru lirih.

Konohamaru sedikir bergidik ngeri."Jangan menatapku seperti itu, aku kan jadi takut"

Rin tahu ia tidak punya banyak waktu atau nyawa pasiennya akan melayang sebentar lagi. Ia keluarkan sejumlah uang dan diberikannya pada Konohamaru dan memeluk Konohamaru lembut."Nee-chan akan cepat pulang, kau bersenang-senang lah dengan temanmu"

Konohamaru melepaskan pelukan Rin, jujur sebenarnya ia tidak mau Rin pergi, ia benci sendirian.. Tapi apa yang bisa diperbuat oleh anak ingusan sepertinya?

"Ya Ya Ya.. Aku tahu, nee-chan pergi saja. Nanti terlambat lhooo!"

Rin menyunggingkan bibirnya ke atas."Baik, aku pergi dulu.. Jaa ne Konohamaru-chan". Ucap Rin seraya mengangkat kakinya berlari menuju stasiun shinkansen.

"Jangan memanggilku dengan embel-embel chan!". Teriak Konohamaru pada Rin yang sudah menghilang ditelan bumi.

Raut wajah Konohamaru berubah sedih, padahal tadi ia sudah menyusun jadwalnya bersama Rin, ternyata pupus sudah harapannya. Ia memsukkan uang jajan yang diberikan Rin kedalam saku celananya dan berjalan gontai menuju taman yang sering ia datangi. Maksudku yang setiap harinya ia datangi.

Sakura Pov/

"Jadilah kekasihku!"

Seketika angin yang bertiup sepoi-sepoi terasa seperti menampar wajahku. Bagaimana tidak?.. Naruto, si kepala kuning itu benar-benar gila!.. Bisa-bisanya ia mempermainkanku, menjadi kekasihnya! NO WAY!. Dibayar 100 juta pun aku tidak mau, pria ini benar-benar menyebalkan seharusnya ia berterima kasih denganku karena aku sudah membantunya.. Walau sebenarnya ia yang membantuku sih, tapi aku juga membantu membelanya kan!.. Sampai-sampai aku harus rela dihukum bersamanya demi menegakkan keadilan disekolah baruku!. Yaa bagus! Sekolah baru, hancur sudah reputasiku gara-garanya, sekarang ia ingin aku menjadi kekasihnya huh! Jangan pernah berharap.

"Heiii jidat lebar! kau tidak dengar apa yang aku ucapkan!"

Mendengar kata-kata ketusnya kepalaku terasa akan meledak."Naruto BAKA!". Kataku sembari menjulurkan lidahku dan berlari seperti anak kecil.

Bukannya malah menjawab atau meneriakkiku balik, ia malah ikut-ikutan berlari lebih tepatnya mengejarku.. GILANYA DIA!. Sampai ia berhasil menyamai lariku, Naruto menjulurkan lidahnya dan berlari makin cepat.. Apa ia baru saja menantangku?.

Namaku Haruno Sakura.. Dan aku tidak pernah menyerah. Siapapun yang punya nyali menantangku maka aku akan memenuhi tantangannya!. Dan aku tidak akan kalah.

Sepertinya Naruto sudah kehabisan tenaga, aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini kupercepat lariku dan… Yesss, aku sekarang lebih unggul darinya. Tapi namanya anak laki-laki siapa yang mau kalah dengan perempuan sih?!. Sialnya kali ini ia berhasil menyamai lariku, dan ia masih bisa bersikap keren walau kelihatannya ia sudah berlari setengah mati?.

Naruto menyunggingkan bibirnya dengan sombongnya."Heheheh, kau tidak akan bisa menang dariku Sakura-chan". Ia menjulurkan lidahnya dan berlari lebih cepat, sumpah apa tenaganya datang kalau sudah menjahiliseseorang?.

Dan, apa-apaan dia beraninya manambahkan embel-embel chan pada namaku.. Benar-banar sok akrab, tapi kalau dipikir-pikir aku tidak pernah punya teman yang pernah memanggilku seperti itu… Sontak wajahku langsung saja memerah, setelah aku ingat-ingat saat ia menyunggingkan bibirnya, sebenarnya ia punya charisma dan kalau kupikir-pikir lagi ia cukup keren.. Apalagi saat ia memanggilku dengan embel-embel chan… Rasanya berbeda sekali…

"Sakura chan!"

Ahh, otakku pun masih menyimpan kalimat itu.. Aku benar-benar sudah gila.

"Sakura chan!"

Aduhhh, kalimat itu masih terngiang-ngiang dikepalaku, aku… Malu!

"Sakura chan!"

Huh, kalimat itu masih terdengar ditelingaku.. Tapi kenapa makin keras yaa, apa sebaiknya aku terima saja tawaran menjadi kekasihnya?. Binggungnya aku!.

"HOIII!SAKURA CHAN, AWAS DIDEPANMU!"

Haah?, apa.. Apa maksudnya yaa?.. Didepanku hanya ada tiang listrik dengan anjing yang hanya punya tiga kaki.. Bodohnya aku, ia sedang buang air kecil ditiang listrik didepanku.. Hahahaha..

"APA TIANG LI-"

"BRUAAAAKKK!"

"JRESSSSHHH!"

"SAKURA CHAN!"

Kalimat itu, kalimat terakhir yang menjadi pengiring untuk menutup mataku.. Apa aku sudah mati?

End of Sakura Pov/

"I'm just little bit caught in the middle life is a maze, and love is a riddle I don't know where to go, can't do it alone I've tried, and I don't know why"

"Sepertinya suasana hatimu sedang senang Kushina?". Tanya Jiraiya seraya mendudukkan dirinya ke meja makan di depan tempat Kushina memasak.

"I'm just a little girl lost in the moment I'm so scared, but I don't show it I can't figure it out, it's bringing me down I know, I've got to let it go, and just enjoy the show.. Just enjoy the show"

Jiraiya bergidik ngeri saat Kushina menggoyang-goyangkan spatula diatas wajan penggorengan yang khawatirnya bisa menyipratkan minyak panas ke arah Jiraiya."Hati-hati Kushina, semangatmu menyanyi itu bisa berbahaya bagi orang disekitarmu"(Maksudnya Jiraiya sendiri, siapa lagi yang ada dirumah selain Jiraiya)

"I want my money back, I want my money back, I want my money back, just enjoy the show, I want my money back, I want my money back, I want my money back, just enjoy the show"

"Dia sama sekali tidak mendengarkanku". Ucap Jiraiya pasrah.

"Braaaakkk!". Dobrakan pintu paksa dari seseorang atau lebih terlihat seperti manusia kura-kura berambut jabrik(Sinar matahari sangat menyilaukan jadi hanya terlihat bayangan hitam) berdiri dari arah jam 9 tepatnya 48o ke arah barat dan 67o dari arah selatan muncul… Mana orangnya?

"Oiii, Jiraiya jii-san!. Ada orang di rumah?"

"Padahal kau sudah melihatku, tapi kenapa kau masih menannyakan 'Ada orang di rumah?' Apa kau bodoh, Na-WUAAAAAAAA!". Jiraiya tiba-tiba berteriak histeris setelah melihat apa yang dibawa maksudnya digendong Naruto.

'Kenapa berteriak?'. Batin Naruto heran. Sebenarnya dia yang lupa siapa yang ada dibalik punggungnya.

Kushina yang risih dengan kegaduhan diluar dapurnya tepatnya diruang tengah datang sambil mengikutsertakan spatulanya."Berisik sekali ada ap-WUAAAAAAAAAA!"

'Ini lagi yang ikut-ikutan'. Batin Naruto lagi sembari menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

"Tadaima.. Kushina kenapa pintunya terbuka apa kita kedatangan ta-WUAAAAAAAAAAAA!". Minato tercenggang seraya memegang gagang pintu, ia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya.

'Kenapa makin banyak sih yang berteriak.. Apa aku melakukan sesuatau?'.

Ohh, please don't be stupid Naruto, siapa sih yang sedang kau gendong?.

"Jresssshhh!"

Darah segar membanjiri lantai kuil, ntah apa yang sedang terjadi disini. Seorang pria, sebenarnya ia sangat mirip dengan perempuan menyerang secara membabi buta, siapapun yang bertatap mata dengannya maka akan langsung ditebas.. Percayakah-kau?

"Dimana lokasi Yakuza sialan itu". Kata Laki-laki (hmmm) Kata Wanita (hmmm) Kata Orang itu menarik kerah pakaian seorang pria paruh baya yang berusaha kabur dengan mengendap-endap dibelakangnya.

Merasa tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan orang itu menebas pria paruh baya itu tanpa itu menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencari mangsa lagi.. Namun nihil, sepertinya sudah semua orang yang ada di kuil suci ini ditebasnya.. Kecuali-…

"Kau tidak akan bisa lari dariku!". Ucap orang itu dengan tatapan mematikan.

Seorang bocah laki-laki yang sedang berusaha mencoba melangkahkan kakinya pergi dari tempat persembunyiannya, tapi kedua kakinya terasa berat untuk diangkat tangannya pun tidak berhenti gemetar. Ia mungkin hanya bisa pasrah menunggu ajalnya datang.

Keringat dingin perlahan-lahan mengucur dari pelipisnya, jantungnya terasa berhenti berdetak saat orang itu datang menhampirinya dengan seringai iblisnya.

"Nahh.. Bocah, kau tahu kan dimana loka-"

"Pergi.. PERGI KAU ORANG GILA!"

Orang itu terdiam, bocah kebanyakan akan langsung jujur dan lari terbirit-birit jika berhadapan dengannya. Tetapi bocah ini punya nyali juga rupanya."Cih, bocah tengik sialan mati kau!"Orang itu melayangkan pedangnya yang tajam ke arah bocah itu.

Air mata bocah itu tumpah, dikepalkan tangannya kuat-kuat."HENTIKAN!". Teriaknya dan beberapa cm sebelum pedang orang itu menembus tubuh mungilnya orang itu terpental jauh sampai menghancurkan tembok kuil.

"Wuaahhhh, menakjubkan". Ucap konohamaru dengan mata yang berbinar-binar.

Tobi mengacak-acak rambut Konohamaru."Kau menyukainya Konohamaru!"

"Hai!, nii-chan. Apalagi dibagian kekuatan spritualnya keluar dan membuat orang jahat itu terpental cukup jauh!". Ungkap Konohamaru antusias, yaa berkat Tobi hari-harinya terselamatkan, kesepian pergilah menjauh Haahahahaha!.

"Bosku adalah produsernya lhoo!". Kata Tobi bangga.

"Benarkah, lalu apa nii-chan sutradaranya?". Ucapan polos dari Konohamaru sempat membuat Tobi bingung, apa jangan-jangan dia tidak tahu apa yang sedang dibahasnya. Huh, lupakan Tobi tidak pernah mengambil pusing semua orang tahu itu!.

"Bukan sih, aku penontonnya"

"Ohh, aku mengerti.. Lalu siapa orang itu!". Tanya Konohamaru sambil menunjuk seorang pria hmmm wanita hmmm orang berambut panjang bak Konoha's Top Model 2013.

Tobi memasang pose berpikir."Aku tidak begitu mengenal orang itu sih, tapi yang aku tahu ia adalah dokter gigi di rumah sakit Konoha.

Konohamaru tampak terkejut 'Itu kan rumah sakit tempat nee chan bekerja, apa nee chan nya setiap hari bertemu dengan artis action? Kalau iya aku harus memperingati nee chan, nee chan bisa kapan saja dalam bahaya besar karena serang dokter pria cantik itu!'. Itulah tekad baru Konohamaru.

Tobi sebenarnya penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan Konohamaru, tapi namanya juga anak-anak kita tidak bisa menghentikan seorang anak yang sedang mencoba menggunakan otaknya untuk berpikir. Pernyataan yang cukup logis.

"Nii chan…"

Tobi dikagetkan dengan tarikan diujung jubahnya.. Sepertinya Konohamaru sudah selesai berpikir.

"Ada apa?". Tanya Tobi sembari berjongkok menyamai tingginya dengan Konohamaru.

Konohamaru menatap Tobi lekat-lekat, ia menahan air matanya tumpah."Apa nii chan akan menemaniku sampai nee chan pulang?"

Tobi terdiam kaku, ia tidak bisa berjanji, ia punya pekerjaan walau tidak tentu kapan datang bagiannya."Ahh, aku akan menemanimu.. Nah sekarang apa yang akan kita mainkan?"

"Start fantasy, crisis money!". Ujar Konohamaru dengan mata yang berbinar-binar.

Tobi mentap heran Konohamaru."Apa itu nama makanan?"

Konohamaru membiarkan mulutnya ternganga lebar, ia tak percaya.. Tidak ada yang tidak tahu permainan ini. "Itu nama game nii chan!, apa nii chan tidak pernah memainkannya?!". Tanya Konohamaru setengah membentak.

Dengan polosnya Tobi menggelengkan kepalanya, Konohamaru hanya bisa mengusap wajahnya. Tapi setelah diikir-pikir lagi ada untungnya juga bagi Konohamaru, ia mendapatkan mangsa yang lemah.

"It's ok nii chan, ayo kita bermain.. Nanti nii chan pasti bisa..". Ucap Konohamaru seraya menyeringai persis seperti tokoh jahat dalam film yang ditontonnya tadi, Tobi hanya bisa bergidik ngeri.. Ia hanya berpikir bahwa lanjutan dari ucpan Konohamaru pasti 'Nanti nii chan pasti bisa kalah'.

'Kenapa konohamaru bisa bersama dengan Tobi?'

'Silahkan baca kilas baliknya:'

Flashback

"Huh, sendirian lagi!". Desah Konohamaru sambil berjalan menendang-nendang batu kerikil, sekilas pandangannya teralih pada suasana berisik taman disana banyak kakak yang mengajak adik-adiknya bermain di taman. Ia hanya menatap murung melihat kakak beradik yang bermain dikotak pasir dan kakak beradik lainnya bermain perosotan juga ada yang sedang bermain laying-layangan bhakan kejar-kejaran.

"Kenapa sih cuman aku yang ditinggal nee chan!". Kata Konohamaru sambil terisak-isak mencoba menahan air matanya tumpah, tapi sepertinya Konohamaru sudah tidak tahan lagi dan ia lebih memilih meluapkan segala kekecewaannya di taman ini walaupun ia menjadi bahan tontonan.

Seorang pemuda yangsepertinya sudah lama memperhatikan Konohamaru datang menghampiri Konohamaru yang menyembunyikan matanya yang tidak bisa berhenti menangis, pemuda itu berjongkok menyamai tinggi anak itu. Walaupun Konohamaru sedang berdiri tapi tetap saja lebih pendek.

"Kau.. tidak apa-apa?"

Flashback end/

'Dan begitulah kejadiannya, setelah bertemu dengan seorang pemuda yaitu Tobi, Konohamaru teringat dengan orang yang memberikannya es krim pagi hari tadi(chap.4). Setelah itu mereka berkenalan dan bermain bersama.

'Sakura POV/'

'Aku dimana?..'

'Rasanya damai.. Tena-'

'Kresek-kresek!'

'Suara apa itu?'

'Psssstttt!'

'Heeehhh?, siapa itu?'

'Buka saja pakaiannya!'

'?.. Heeehhhh! siapa, aku.. Ini pasti mimpi, suara itu bilang apa?'

'Kasihan dia sudah ternoda'

'A-pa, suara itu bilang apa!... A-ku apa katanya!'

'Gadis kotor sepertinya harus di-'

"TIDAAAAAKKKKKK!". Teriakku, seraya membuka mataku lebar-lebar. Sontak 4 orang manusia mundur 3 langkah ke belakang sembari mengangkat tangan mereka ke atas layaknya Teroris yang tertangkap basah menyelundupkan Narkoba.

Penglihatanku masih samar-samar, kepalaku juga terasa pusing.. Walaupun begitu aku harus meminta penjelasan pada orang-orang aneh disekitarku. Mereka… M-E-N-C-U-R-I-G-A-K-A-N!, dan apa maksudnya dengan masalah ternoda dan kotor?.. Aku menolehkan kepalaku ke arah Naruto, melototinya seakan-akan aku akan menelannya bulat-bulat.

Naruto bergidik dan mengangkat tangannya lebih tinggi."A-aku tidak melakukan a-pa-apa, percayalah!". Ucap Naruto sedikit memelas.

"aku sama sekali belum bertanya bodoh!.. Aduhhh!, kepalaku". Kataku sembari memegang jidatku."Awwwww!". Aku merasakan adanya benjolan dijidatku dan kenapa sakit sekali.. Apa yang terjadi?.

Seorang wanita cantik berambut merah panjang menjuntai ke bawah mengganggam jemariku dan mengembangkan senyumnya. Aku ingat dia ibunya Naruto yang datang saat panggilan orangtua murid tadi pagi."Sakura chan, kau pasti bingung dengan keadaanmu saat ini kan?.. Kami semua akan menjelaskannya terutama Naruto, kekasihmu akan menjela-"

"Aku bukan kekasihnya!". Potong Naruto dengan wajah yang memerah begitu juga aku.

Ibunya Naruto itu mengerucutkan bibirnya dan mengerutkan alisnya, ia melepaskan genggaman tangannya dan berkacak pinggang, menileh kea rah Naruto."Kalau begitu untuk apa kau mengusulkan ide untuk membuka pa-"

"Aaaaahhh, maaf ya Sakura chan. Kau harus membersihkan dirimu sekarang agar kami bisa mengobatimu lukamu!". Potong pria tampan yang mirip sekali dengan Naruto(sepertinya ia ayahnya).

"Kalau begitu aku akan kembali ke kamarku". Ucap Naruto membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuku pintu keluar dari ruangan, maksudku kamar yang mewah ini.

Aku sempat melihat ia terlihat sangat cemas saat ibunya menatapnya dengan nada yang mengintimidasi.

"Aku akan menunggu di ruang tengah saja". Ucap ayah Naruto.

"Ayo Sakura chan, aku akan menunjukkan kamar mandinya". Kata ibunya Naruto sangat lembut dan sopan, aaahhh!.. Coba saja ibuku seperti ini.

"Hai..". Ucapku berjalan mengiringinya.

'Sakura POV/ END'

Apa kalian sadar.. Masih ada 1 orang yang terlupakan, suaranya dari tadi sama sekali tidak terdengar.. Atau ia jangan-jangan tidak punya kesempatan baginya untuk mengeluarkan suara?."Kenapa aku ditinggal sendirian?". Ujar Jiraiya memasang wajah cemberut.

"Heiii, Kurama!". Panggil Naruto meembaringkan tubunya di ranjang king size nya.

Boneka rubah itu masih dalam posisi tadi pagi. Duduk sambil membaca buku novel."Jangan memangil nama kecilku bocah".

Naruto sama sekali tidak mengindahkan omelan Kyubi, menurutnya nama kurama Kurama lebih enak didengar.".. Menurutmu apa aku bisa menerima wanita itu, aku merasa sekarang aku lebih dekat dengannya!"

Kurama mendongakkan kepalanya dan menolehkan kepalanya menatap bocah pirang yang keras kepala itu. "Siapa Kushina?.. "

Naruto diam, ia sangat bingung.. Apa yang harus ia katakana?.

"Banyak rahasia yang belum kau ketahui Naruto, sayangilah dia sebelum terlambat…". Ucap Kurama melanjutkan acara membacanya.

"… Aku tidak mengerti, AAARGGHHHH!.. Ganti topic saja!".Geram Naruto frustasi.

Kurama hanya mendengus kesal, Naruto benar-benar mengganggunya.

"Kau kenal Ichibi?"

Kurama sedikit terkejut dengan pertanyaan baru Naruto.. Bagaimana bisa sebangsanya ada disini?."Yaa, aku mengenalnya"

"Aku bertemu dengan Jinchurikinya tadi disekolah.. Tidak kusangka makhluk seperti kalian disimpan didalam benda yang imut-imut! Pffftttttt!"

Kurama memasang ekspresi kesal bercampur malu. Apa maksudnya dengan makhluk seperti kami dan disimpan didalam benda yang imut-imut, apa aku sangat imut?.. Pikir Kurama.

Naruto menutup mulutnya menahan tawanya, jujur saja hanya boneka segarang Kurama lahyang bisa membuatnya tertawa lepas. Walaupun bonekanya tidak akan tinggal diam.

"Pfffftttttt!"

"Jangan tertawa!"

"Pffffffffttttttt!"

"Kubilang jangan tertawa"

"Pffffffffffftttttttttt!"

"Itu tidak lucu bocah!"

Marah.. Tidak, Kesal.. Sedikit, Malu.. Yaa!. Begitulah pemikiran dangkal Naruto, melihat ekspresi malu Kurama yang jarang sekali bisa ia lihat.

"Huahahahahaha!"

"Bocah merepotkan akan kubunuh kau!". Kata Kurama meletakkan novelnya sembarangan dan turun dari kursinya dan melangkah menaiki tubuh Naruto.

Naruto sendiri masih mencoba menahan tawanya walau kelihatannya sulit sekali, dan tonjokkan yang dilayangkan Kurama hanya terasa sepertiangin lewat.

"A-aku belum me-makai kekuatan penuhku!, jadi jangan tertawa kalau kau ingin aku segera mengampunimu". Ucap Kurama dengan percaya dirinya.

"Huahahahahahahaha"

Sepertinya Naruto tidak akan berhenti tertawa.. Kasihan Kurama…*^*

"Sakura Pov/"

"Pssstttt!"

"Aku dengar gadis itu dicampakkan oleh penjahat kejam itu!"

"Benarkah!"

"Tentu saja, kabar ini sudah menyebar ke beberapa penjuru desa!"

"Wooaahh, tak bisa kubayangkan betapa menakutkannya Yakuza itu!"

Telingaku terasa sakit saat mendengar ucapan warga desa yang tak vosan-bosannya mengganti topik.. Kenapa harus aku yang dibicarakan!. Reputasiku tak pernah sejelek ini sebelumnya yaa, itu sebelum bertemu bocah sialan itu!.

"Sakura, sepertinya ini bukan rencana yang bagus mengajakmu jalan-jalan kesini yaa!". Ucap Ino sembari menghentikan langkah kakinya, terpaksa aku menghentikan langkahku.. Padahal aku malas berdiri di tengah jalan dan digosipkan lagi!.

"Kenapa, apa ada yang salah?"

"Tidak sih, tapi aku merasa kau dari tadi hanya diam saja. Padahal hampir 9 kali aku memanggilmu.. Ehh, apa 8 kali yaa?"

Yaa ampun Ino itu pun masih kau hitung, tapi aku memang tidak mendengar dia memanggilku."Ahh, gomen ne Ino". Kataku kurang bersemangat. Telingaku samar-samar mendengar ucapan kasar jumlahnya kira kira 3 orang wanita dan lagi-lagi bergosip tentangku!.. Ya ampun kamisama, apa salahku!.

Aku terkejut saat Ino menarik pergelangan tanganku dan datang mengmapiri ke arah wanita-wanita bermulut kotor yang baru saja menggosip tentangku tadi."HEIIII KALIAN, PARA WANITA!". Teriak Ino tepat didekat telingaku, rasanya telingaku seperti tuli mendadak.

"Kau juga wanita bodoh!". Jawab seoarang gadis jangkung bersurai ungu ketus.

Pergelangan tanganku terasa sakit, sepertinya Ino sudah naik darah. Buktinya ia menggenggam pergelangn tanganku dengan sangat kuat. Gawat sebelum sesuatu yang tidak-tidak terjadi, aku harus mencairkan suasana. Tapi bagaimana caranya?, 2 orang wanita bermulut kotor lainnya menatap dingin ke arahku, aku jadi gugup sekali. Kutatap Ino yang sedang melakukan adu tatap dengan gadis yang mengatainya bodoh tadi. Tapi kenapa 2 temannya ini melototiku seperti itu, mereka seperti ingin memakanku bulat-bulat, Aduh.. Kakiku tidak bisa berhenti bergetar, sejak kapan sih aku jadi lemah beg-.

"Heii, Yugao.. Bukankah ini gadis yang tadi kau bicarakan?". Potong seoarang gadis cantik berambut hitam lurus dan ia sangat seksi.

Sontak gadis bersuari ungu itu menoleh ke arahku, aku hanya bersembunyi dibalik punggung Ino. Ntah kenapa aku jadi sangat gugup.

Gadis bernama Yugao itu menghampiiku dan mengarahkan tangannya ke arah wajahku.

"Pletak!"

"Auuuwww, apa masalahmu wanita bodoh!"

"Heiii, wanita singkirkan tanganmu dari temanku!. Dan kau tanya apa masalahku denganmu?!, tentu saja ada.. Kau pikir aku tuli HAAH!, minta maaflah pada temanku karena sudah mengatakan hal kasar tentang dirinya!"

Aku tertegun, Ino membelaku.. Yaa ia memang sering membelaku, tapi aku tidak tahu mengapa dan kenapa tspi Ino benar-benar membuatku kagum untuk saat ini.

Sekilas Yugao mengembangkan senyumnya liciknya dan menoleh ke arah 2 temannya. Apa mereka sedang melakukan telepati?. 2 orang temannya mendekati Ino dan menarik Ino menjauh dariku. Aku tambah gugup Yugao menjambak rambutku sampai membuatku bersujud dhadapannya.

"Heiii, lepaskan Sakura wanita bodoh.. Kau benar-benarpengecut!, apa salahnya sihh minta maaf. Atau kau tidak punya nyali untuk minta ampun kepada bangsawan sepertinya HAAAHH!"Teriak Ino lagi, dan situasinya benar-benar membuatku takut. Seharusnya aku beranikan diriku dan menarik Ino kabur dari area wanita bermulut kotor sepertinya. Tapi kenapa aku tidak berdaya!.

"Diam kau wanita bodoh, Tayuya, Emi hajar dia dan lempar dia keluar dari area pasar!". Perintah Yugao pada 2 temannya, Ino hanya bisa meronta-ronta seperti orang gila sambil meneriakkan namaku!, dan aku.. Jangan tanya aku sedang pasrah pada keadaanku sekarang, sejak kapan aku jadi lemah seperti ini, aku tidak bisa melindungi temanku sendiri, padahal Ino sudah memelaku. Aku memang lemah, semua ini karenmu Naruto. Dan lihat apa lagi yangt kupikirkan, semua ini tidak ada hubungannya dengan Naruto, yaa tidak ada hubungannnya dengan bocah itu. TIDAK ADA!.

"Heiii!". Panggilan kasar itu sama sekali tidak ku indahkan, aku tidak sudi menjawab panggilan gadis bermulut kotor seperti-

"Aku memanggilmu gadis jalang!, cih! nona bangsawan memang suka seenaknya. Kami memang membicarakanmu, dan kami menjelek-jelekkan dirimu bahwa betapa bodohnya kau mencampakkan Uzumaki sama-!"

"Kami sudah membereskanny Yugao, ia lari terbirit-birit seperti kucing jalanan". Ucap mereka diikuti tawa terpingkal-pingkal menyebalkan mereka."Aku rasa temanmu tak akan pernah datang menjemputmu lagi nona kaya raya!"

Aku mematung, kali ini apa?.. Setelah meninggalkan cintaku, ternyata inilah hukumannya ditinggalkan oleh sahabatku sendiri. Kutatap Yugaou tajam. Dan dibalasnya tatapan yang tak kalah tajam dariku, kulit kepalaku terasa lebih sakit. Saat ia menjambakku lebih kencang.

Aku benar-benar lepas kendali, aku sudah tidak tahan lagi diprlakukan seperti anjing liar disini dan terlebih lagi olehnya. Ku angkat tanganku ke arah kepalanya dan menjambak rambut panjangnya, dengan tidak kalah kuatnya.

Ia meringis kesakitan."Tayuya, Emi bantu aku hajar gadis jalang ini!". Perintahnya.

3 lawan 1, siapa yang akan menang?.. yaa pasti mereka lahh! Tangan dan kakiku sudah ditahan mereka, Yugao mendekatiku dan tertawa dengan sinisnya."cih, wajah mulusmu ini benar-benar mampu memikat Uzumaki sama!"

"Plaaakk!"Yugao menamparku, dan sakitnya langsung mejalar ke telinga kiriku.

Tiba-tiba genggaman kuat dari gadis berambut hitam lurus disebelah kananku melonggar, sepintas muncul pemikiran bahwa aku bisa memanfaatkan celah ini agar bisa kabur dari sini. Tapi rencana yang sudah kurencanakan pupus sudah saat ia mengeluarkan sebotol cairan berwarna putih bening seperti air dan diberikannya kepada Yugao, Yugaou tersenyum kembali."Katakan AAAA cantik!"

Aku tidak mungkin termakan kata-kata busuk seperti itu. Kututup rapat mulutku dan masih kuberi tatapan tajam terhadapnya.

"Bibir ini mampu membuat Uzumaki sama jatuh cinta.. Aku sangat iri, bertahun-tahun aku mengabdi padanya. Tapi tidak pernah sekalipun ia menoleh kepadaku, kenapa harus kau!. Tapi yaa sudahlah, kau sudah terkena ganjaran yang pantas, sekarang giliranku memberikan hukuman yang harus kau terima nona kaya raya".

'Woooaahh, ancaman murahan seperti itutidak akan bisa membuatku mencium kakimu wanita!'. Batinku meniru logat Ino.

Yugao menyunggingkan bibirnya."Pssttt, ini hadiah dari kami, jangan beri tahu siapapun yaa!". Ucapnya lagi kali ini setengah lama menunggu responku ia menoleh kepada wanita bertopi kalau tak salah namanya Tayuya, ya ampun kenapa juga harus ku ingat nama wanita yangmungkin akan membunuhku.

Tayuya mengangguk sejenak dan melepaskan genggaman tangan dan kakiku, ia masih sibuk mencari-cari yang dimaksud oleh Yugao. Telepati ternyata cukup ampuh. Ini kesempatanku, masih tersisa wanita berambut lurus yangmenggenggam pergelangan tanganku dan menahan kaki kananku. Yahhh, aku bisa mengurus yang satu ini.

Kukerahkan seluruh tenagaku, kutarik tangan dan kakiku dan membuat gadis berambut lurus itu terjungkal balik, pemandangan yang memalukan HAHAHAHA!. Bukan saatnya untuk tertawa, aku berdiri dan belum sempat aku melangkahkan kakiku, Yugao menarik lenganku. Aku meronta-ronta sekuat tenagaseperti orang gila. Dan tiba-tiba sesuatu menusuk punggungku, rasanya sakit dan perih. Aku terjatuh untuk yang kedua kalinya dan tidak bisa bangkit lagi.

"Itulah akibatnya kalau kau tidak bisa diam gadis jalang!"

Kutatap matanya tajam, ia balas menatapnya dengan diikuti senyuman licik menyebalkan, dituangkannya cairan itu saat mulutku masih ternganga menahan sakit perih dari punggungku. Mataku menutup, tapi aku masih sadar. Aku bisa merasakan saat mereka mengangkatku dan setelah itu rasanya aku seperti melayang di udara.

"Byuuurrr!"

Punggungku rasanya makin perih saat bertabrakan dengan AIR!. Mereka melemparku masuk ke dalam sungai. Kubuka mataku, kucoba berenang meenuju permukaan, tapi sulit sekali rasanya organ tubuhku terasa mati rasa. Apa aku akan mati?, seharusnya aku ingat nama-nama mereka agar aku bisa mengahantui mereka kalau aku mati penasaran.

'Apa aku menyesal?'

'Aku tidak menyesal'

'Apa aku sedih?'

'Aku juga tidak sedih'

'kecewa?'

'Apalagi kecewa'

Sebelum menutup mataku, aku hanya melihat air mengamuk dari permukaan dan muncul seseorang berenang ke arahku. Aku tidak tahu siapa itu, aku tidak tahu juga apa aku berhalusinasi atau tidak, tapi 'Aku… lelah'

'Apa aku akan mati?'

'Sakura POV END/'

"Apa kau bilang!"

"Aku bilang aku mengejarmu dan kau berlari sambil melamun keluar jalur yang sudah ditentukan dan menabrak tiang listrik diluar taman!". Ujar Naruto ketus.

Wajah Sakura sedikit memerah menahan malu bercampur kesal untung saja diruangan ini hanya ada Naruto dan Sakura."Aku tidak pernah menentukan jalur lariku!"

"Yang benar?, tapi kita sudah mengitari taman hampir 3 kali setelah itu kau keluar dari taman dan menabrak tiang listrik.. Apa perlu aku ulang HAAH!". Ucap Naruto setengah berteriak.

Berani sekali bocah itu meneriak Sakura, dia pikir siapa dirinya berani-beraninya berteriak didepan Seorang Haruno Sakura. Setidaknya itulah yang Sakura pikirkan. . . Tentang Naruto. . . Sekarang."BAKA!". Ucap Sakura sembari mengepalkan tangannya mengepalkan tinjunya mengarah pada perut Naruto."BUAAGHHH!"

"Auuuwwww!". Jerit Naruto jatuh tersungkur tak berdaya.

"Rasakan!". Ucap Sakura sambil berkacak pinggang memasang tampang 'YEAAAHHH, AKU MENANG!'.

Naruto meringis kesakitan saat ia memaksakan dirinya untuk berdiri sembari membusungkan dadanya, walau rasa sakit di perutnya masih terasa."Kau. . . Memang galak. . . Anjing saja ta-kut dengan-mu!". Ucapnya susah payah.

"Apa maksudmu?". Tanya Sakura, jadi sekarang setelah berani-beraninya berteriak didepan Sakura, Naruto masih punya nyali mengolok-olokinya… Wah, hebat sekali yaa!.

Naruto memperhatikan gerak-gerik Sakura, takut0takut nantinya ia akan terkenal tinjuan super milik seorang HARUNO SAKURA. Masalah kenapa ia tidak mau menyerang balik, itu masalah lain.. Sepertinya ia sedikit tertarik dengan gadis pink menyebalkan ini.. SEPERTINYA."Kau menabrak tiang tempat seekor anjing rumahan sedang buang air kecil!". Ujar Naruto, Sakura langsung melototinya." Aduhhhh.. Perutku sakit sekali sihh!". Lirih Naruto, sebenarnya itu hanya untuk pengalihan. Tapi sepertinya tipuan murahan itu tidak berguna didepan seorang HARUNO SAKURA.

"Jadi maksudmu aku menabrak tiang listrik dimana seekor anjing rumahan sedang buar air kecil, dan jangan bilang kalau ia mengencingiku". Ucap Sakura was-was, ini akan jadi pengalaman buruk baginya dikencingi anjing.. Bagaimana dengan masa depannya.

"Aku malas memberitahu untuk kedua kalinya, kau ini pintar atau bodoh sih!". Keluh Naruto.

Sakura mendesah pelan, Naruto bukanlah orang yang mudah diajak bicara. Sakura mencoba mencairkan suasana, ia merasa sangat tidak enak hati karena sudah menyusahkan tuan rumah."Pantas kalian menyuruhku mandi"

Naruto menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya, ia sedang berusaha menahan tawanya agar gadis didepannya itu tidak langsung menghajarnya. Sepertinya strategi Sakura berhasil.

"Apa yang kau tertawakan!". Ujar Sakura diikuti tatapan tajam yang menusuk mata Naruto.

"Ti-tidak aku tidak tertawa!". Elak Naruto, ia sudah kapok kalau harus mendapatkan tinjuan super seorang HARUNO SAKURA.

Jauh dari tempat Sakura dan Naruto berada.. Tidak begitu jauh juga sih,tepatnya dibelakang pintu ruangan dimana seorang wanita dan pria berkepala 3 dan seorang pria tua paruh baya usia sedang melakukan aksi pengupingan.

"Aku tidak salah kan Minato, mereka memang sedang berpacaran". Bisik Kushina.

"Naruto benar-benar kurang peka yaa, ahh jadi ingat masa lalu". Ungkap Minato menggali masa lalu.

Seketika rasa panas langsung menjalar ke area pipi kushina. Ia benar-benar malu, lihat saja wajahnya sudah benar-benar mirip tomat."A. . . Ku pergi saja...". Kata Kushina sembari berdiri dan melangkahkan kakinya menjauhi Minato.

Dulu Minato memang kurang peka terhadap hal-hal yang menyangkut tentang gadis, tapi keadaannya berbeda sekarang ia bukan yang dulu lagi."Heiii,kau mau kemana.. Kushina tunggu aku". Ujar Minato mengejar kushina.

...

...

Adakah yang sadar bahwa kita sudah melupakan keberadaan seoarang pria tua mesum ini.

Jiraiya mendesah pasrah."Apa cinta dihidupku sudah lama mati!". Ia tidak habis pikir semua orang mengabaikannya, sekarang ia sudah tak punya siapa-siapa lagi untuk bernaung.

"Mungkin aku akan ke tempat Gai untuk mengembalikan jiwa masa mudaku..". Ungkap Jiraiya, sebenarnya ia ragu kesana. Terakhir kali ia pergi ke tempat Gai bukannya diajak pergi ke klub malam tapi malah pergi ke panti jompo.. Kalian tahu sudah berapa wanita lanjut usia memohon dan meminta(memelas) pada Jiraiya untuk diperbolehkan menyentuh lengan berototnya.. Itu benar-benar mimpi buruk, Jiraiya bisa saja menolaknya. Tapi wanita lanjut usia itu memasang duck face, dan itu membuatnya muntah 3 baskom.'Ide buruk!'. Batin Jiraiya.

Karin dan ibunya baru saja tiba di kediaman mereka, saat ini mereka sedang menuju ruang tengah.. Ada yang ingin bertemu dengan mereka.

Karin sedikit tegang, dari tadi ibunya hanya diam saja.. Tepatnya saat ibunya mengangkat telpon dan setelah itu ibunya hanya memasang ekspresi wajah yang sulit dibaca."Bu, sejak kedatangan Sakura.. Kenapa aku selalu saja kena sial?". Tanya Karin pada ibunya bermaksud mencairkan suasana.

"Ntahlah, kurasa dulu dia terkena kutukan...". Ungkap ibunya sedikit cuek.

"Apa maksud ibu?"

Ibunya tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat pada Karin untuk menutup pintu ruang tengah yang baru saja mereka masuki.

"Ibu.."

"Duduklah!". Karin menurut, ibunya mengikutinya duduk disebrang kursinya."Sebentar lagi dia akan-"

"BRAAAKKK!".

"Datang"

"Karin!, APA YANG SUDAH KAU PERBUAT DENGAN ANAK KLIENKU!". Teriak seoarang pria berambut panjang hitam, penampilannya mirip sekali dengan Yakuza zaman dulu.

Ibunya berdiri mendekat ke arah pria tadi."Sayang, tenangkan dirimu.. Kau tidak lihat Karin jadi ketakutan".

"Apa peduliku, sekarang ia harus menjelaskan padaku apa yang dilakukannya tadi di sekolah!". Bentak pria yang diketahui adalah ayah Karin.

Karin masih diam, ia sangat takut.

"Karin.. Ayahmu bertanya apa yang terjadi denganmu dan anak dari klan Hyuga?". Ucap ibunya lembut membuat Karin merinding seketika, bukan karena ucapan ibunya yang tiba-tiba melembut. Tapi perbuatannya yang merobek syal Hinata. Karin mengepalkan tangannya kuat-kuat."Hinata, kau benar-benar brengsek!".

~To Be Continued~

HC/N:

Holla minna!.. Gomenasai puing~(sembari membungkukkan badan). Update chap 7 ini lama y.. Sekolah Hikaroo mengadakan UTS dadakan, dan tanggal 4 Oktober kemarin akhirnya selesai juga puing~.. Pengannya sih update 2 minggu lalu, tapi persiapan chap 7 belum selesai puing~. Jadi Hikaroo memutuskan untuk meng_update hari minggu.. Karena hari minggu itu santai puing~.

Ok, Hikaroo akan menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan chap 7 ini biar para readers tidak bingung puing~, dan juga penjelasan untuk para reviewer tersayang#jiahhhh. Diantaranya puing~:

Sakura dibenci seluruh keluarganya?.. Tentu saja tidak, tidak semua yang membencinya masih ada Chyiyo oba san dan Sasori nii chan!

Yap, cerita ini awalnya pengen dibikin kayak film I am no stupid too~, tapi setelah menonton film The lady~ Terbesit lahhh ide untuk membuat fic yang amat sangat berbeda dari cerita film tersebut.. Alhasil inilah jadinya 2013? No, it's 1914. Hikaroo tidak bermaksud untuk jadi plagiat lhooo~, hanya mengadaptasi saja...

Hubungan Naruto dengan Shion hanya sebatas teman saja.. Shion pernah diselamatkan oleh Naruto sebelumnya (kayak di movienya)

Untuk bagian Narusaku dihukum mungkin akan ada kejutan chap depan

Start Fantasy Crisis Money.. Itu game yang Hikaroo ciptakan untuk konohamaru.. Diambil dari game masa kecil Hikaroo Final Fantasy Crisis Core..

Lagu yang dinyanyikan oleh Kushina tidak lain adalah lagu Lenka "The Show"

3 wanita yang mencari ribut dengan Sakura dan Ino adalah...

Yugao(Anbu Konoha berambut ungu yang muncul waktu Hokage ke 3 vs Orochimaru) disni dia jadi bawahan Naruto, dan ia juga menyukai Naruto.

Emi(Waktu Itachi datang ke penginapan sama Kisame mencari Naruto, lalu datang Sasuke dan setelah itu datang Jiraiya yang sedang menggendong perempuan bermabut hitam lurus)#Dasar orang tua mesum...

Tayuya.. Disini dia hanya ikut ikutan Yugao dan Emi nantinya dia bisa pindah ke pihak lain lagi..

Ada yang tahu duck face?.. Itu lohhh, ekspresi narsis dengan bibir dimajukan seperti bebek.. hikaroo pikir ekspresi ini akan sangat cocok untuk scene Jiraiya..

Bagi teman-teman yang sedang atau sebentar lagi menghadapi UTS ganbatte!, Bagi yang sudah melewati, Hikaroo doakan lulus puing~

"Thanks to the read puing~"

"Thanks to review puing~"

"Jaa ne minna.. Arigatou puing~"