Chapter 8
Kabuto Yakushi:
Tanggal lahir: 29 Februari
Jenis Kelamin: Laki-laki
Tinggi: 176,2 cm
Berat: 65 kg
Golongan darah: AB
Klasifikasi: Kriminal
•
•
2013? No, it's 1914
Naruto© Mashasi kishimoto
Story © HIKAROO CHERRYN
WARNING:
TYPO, OOC, AU
•
•
Sasori membolak-balik lembaran lembaran kertas yang didapatnya dari Yuura. Ia tak percaya apa yang sedang ia baca. Tidak sampai 24 jam dokter bedah itu sudah beralih profesi. 'Apa yang sedang terjadi disini?'. Wajahnya memerah padam menahan kesal yang bahkan hampir mengalahkan warna rambutnya. Pria bersurai merah itu mengangkat gagang telepon dan memencet tombol-tombol angka dengan kasar. Ia tahu ada yang tidak beres disini.
Setelah seseorang disebrang telepon sana menjawab, Sasori segera mengatur tekanan emosinya yang meluap-luap. "Panggil Yuura kemari"
Sasori meletakkan gagang telepon ditempat seharusnya berada, ia mengatur nafasnya, memijit pangkal hidungnya dan duduk rileks dikursinya.
"TOK TOK!"
"Masuklah.."
Pintu ruang kerja Sasori terbuka, tapi bukan orang yang sedang ditungguinya yang masuk, melainkan..
Dengan tergesa-gesa Sasori menyimpan lembaran kertas biodata Kabuto.
"Yoo Sasori-danna!, aku punya kabar ba-". Deidara berhenti berbicara,sepertinya ia sadar apa yang sedang dilakukan oleh danna-nya. "Apa yang sedang kau lakukan?"
Keringat dingin mengucur perlahan melewati pelipisnya, Sasori hanya melebarkan senyum palsunya. "Tidak, tidak ada.. Ngomong-ngomong, untuk apa kau datang kemari.. Yang aku tahu, bukannya kau sedang dalam misi penangkapan?". Tanya Sasori mengalihkan pembicaraan. Dalam hatinya ia mengutuk dirinya sendiri, seharusnya ia cari tahu sendiri biodata pria sialan itu.
Deidara berjalan menuju sofa yang berada didekatnya."Ya ya, kami berhasil.. Dan itu sangatlah mudah.. Tinggal 3 hewan yang harus kami tangkap, atau harus kukatakan kau yang malah harus menangkapnya". Ucap Deidara terbawa suasana.
Sasori mengerutkan dahinya, ia melipat tangannya dan menyunggingkan bibirnya tanda meremehkan. "Aku bekerja dibalik layar tuan artis". Tahukah kalian, selain pekerjaan behind the scene, Sasori juga sangat berbakat untuk berprofesi menjadi actor sungguhan. Buktinya dibalik sikap coolnya, innernya malah sembah sujud didepan telepon yang tadi dipakainya untuk memanggil Yuura kemari berharap telepon itu mempunyai program 'Barang siapa yang mengangkat telepon dari Sasori akan mengalami amnesia seumur hidup!'.
Deidara berdecih pelan, ia sudah kalah telak.. Berbicara dengan Sasori memang bukan keahliannya selain.. "LEADER!"
Sasori dan Deidara terperanjat kaget, pasalnya Ketua organisasi mereka tiba-tiba muncul, dan sekarang sedang berdiri di ambang(tepatnya dibelakang Deidara) pintu dengan sikap arogannya.
"LEADER!, AKU PIKIR KAU MASIH DI MOSKOW!". Teriak Deidara di setengah tidak percaya, ia mulai menggerakkan tangannya menyentuh tangan leader-nya, ia hanya mengetes siapa tahu tidak nyata..
"Plak!"
Tak disangka muncul seoarang gadis bersurai ungu menepis tangan Deidara dengan kasar. Deidara hanya bisa menjilati tangannya yang memerah, berbekas 4 jari.
Sasori benar-benar yakin dimana ada Pain dan Konan (leader dan partner-nya) juga Deidara(rekan sepenanggungannya) dan..
Mata sasori yang tadinya menyipit langsung membulat setelah melihat ruangannya tiba-tiba dipenuh dengan anggota-anggota organisasinya. "Tunggu!, kenapa kalian semua berkumpul!"
'Yuura jangan datang, jangan datang, jangan datang, jangan datang, jangan datang, jangan datang-50×'
•
•
"Heh.. Hehhh.. Hehh.."
Seorang gadis cilik bersurai merah muda melangkahkan kakinya lebih cepat dan berlari secepat mungkin melewati puluhan pohon dikiri, kanan, depan, dan belakangnya. Nafasnya kian memburu, rambut cantiknya berterbangan tak beraturan menabrak laju angin yang berlainan arah. Suasana yang dialaminya saat ini sangat aneh. Seorang pria tak dikenal mengejarnya dengan mengikutsertakan karung lusuh dengan air berwarna merah yang menetes-netes jatuh ke tanah, setidknya itulah yang gadis cilik itu ketahui.
"Jangan!, jangan lar.. Hehh.. Hehh..". Pria tak dikenal itu mulai kehabisan tenaga, rasa lelah mulai menyelimuti dirinya sepenuhnya, gadis itu menghentikan larinya setelah melihat pria yang mengejarnya jatuh terbaring ditanah.
Karung yang sedari tadi dipikulnya perlahan-lahan jatuh dan berguling-guling ditanah mengarah ketempat gadis kecil itu dan berhenti tepat didepan kaki telanjangnya. Awalnya ia ragu-ragu untuk melihat isi karung itu, namun ia tetap menjulurkan tangan kanannya untuk mengangkat karung itu yang tidak begitu ringan juga tidak begitu berat. Ia arahkan tangan kirinya untuk mengambil isi dalamnya.
Jari-Jari gadis itu mulai meraba-raba isi karung itu, sesuatu.. Seperti jutaan benang halus, namun ada rasa basah disela-sela benang itu, ntahlah teksturnya agak kental namun cair,ya.. lengket atau licin dan cair. Rasa penasaran mulai memasuki ruang pikir gadis itu. Ditariknya benda halus itu, lalu!
Sesuatu yang ia anggap benang mencuat keluar dari dalam karung, air mukanya berubah drastic. Jadi yang sedari tadi deganggamnya adalah rambut seorang wanita."GYAAAAAAAAAAAAAAA!"
Gadis itu melempar benda, hmmm.. Kepala wanita itu ke atas, dan berlari sekencang mungkin tanpa tujuan yang pasti, ia terus menerus memikirkan benda, hmmm.. Kepala wanita itu, mustahil baginya untuk langsung melupakan hal se-ekstrem seperti itu.
Karena pikiran gadis itu berubah kacau, ia sampai tidak melihat jurang didepannya. Gadis malang itu langsung jatuh, ia sendiri tidak menyadari kalau ia akan jatuh, jatuh dan jatuh..
"SAKURA!"
Sakura tersentak setelah mendengar teriakan ditelinganya, ia menolehkan kepalanya ke sekelilingnya, gubuk tua dan.. Bukankah ia sedang terjatuh dari jurang- tidak, itu hanya mimpi belaka.. Kalau begitu, apa yang terjadi tadi?, kenapa sekarang dia sedang ada disalam gubuk tua dan berbaring di tumpukan jerami yang tidak kalah tuanya.
"Kau sudah bangun rupanya.. Baguslah!"
Sakura menyipitkan matanya, menatap seorang pria bersurai merah dengan tato AI dikeningnya mengingatkan ia pada seseorang.. Tapi siapa ya?.
"GAARA, Sabaku No Gaara. Itu namaku, jangan bilang kau sudah lupa.. Cih, percuma sekali aku menolongmu". Kesal Gaara seraya melipat tangannya.
"Ahhh,kau Gaara.. Aku lupa, maaf dan terimakasih sudah menolongku". Sakura menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal lalu menjulurkan lidahnya mengingat kecerobohannya.
Gaara berjalan mendekati Sakura dengan susah payah."Sudah kewajibanku, kau tak perlu berterima kasih.. Arwah Naruti tidak akan tenang". Ucap Gaara dilengkapi dengan tawa datarnya,tapi upsss!, apa!.
Sakura segera bangkit dari tumpukkan jerami itu, dan tiba-tiba kepalanya langsung saja terasa berdenyut-denyut dan hawa panas mulai menjalar keseluruh tubunya. Gaara secepat kilat menarik tangan Sakura agar ia tidak limbung dan jatuh menghantam tanah yang dipijakinya.
"Apa maksudmu, apa yang terjadi, ada apa sebenarnya, APA! APA! APA!"
Gaara tersentak kaget dengan pertanyaan bertubi-tubi Sakura, dan ketahuilah ia bukanlah tipe pria sentimental. Ia adalah pria yang , namun ia juga masih memikirkannya secara logika. Dan sekaranglah saatnya ia berpikir, bagaimana cara menghadapi wanita yang hampir putus asa ini.
Sakura sudah tidak sabaran dengan Gaara yang sangat lambat dalam bertindak menanggapi pertanyaannya. Ia menepis tangan Gaara dengan kasar. "Jawab aku BODOH!". Teriak Sakura didekat telinga Gaara.
Gaara adalah manusia, ia juga punya tingkat kesabarannya sendiri. Dan hal yang paling tidak disukainya adalah diteriaki apalagi oleh wanita.
"Naruto sudah meninggal!, kau puas sekarang.. Ia meninggal, saat dimana kau tenggelam 3 hari yang lalu!. Sekarang pasukannya mengkhiantainya dan bergabung dengan musuh. Mereka menyerang desamu, menghancurkannya dan membakar apa yang ada disana!.. Rakyat desamu sudah mati! Bahkan Hinata tidak terselamatkan, kau tahu bagaimana perasaan Sasuke sekarang!"
Sakura tercenggang kaget, ia bingung harus mengatakan apa.
"Apa kau tahu kata-kata terakhir Naruto padaku!, dia menyuruhku melindungimu!.. Kau tahu, ini semua tidak akan terjadi kalau kau tidak memutuskan hubunganmu dengan Naruto!". Setelah Gaara puas dengan ucapannya, terbesit perasaan bersalah dihatinya melihat Sakura yang menundukkan kepalanya menahan air matanya keluar. Namun saat ia mengingat perjuangan teman rubahnya itu, air matanya mengalir tiba-tiba dan sukar dihentikan. Gaara menarik kakinya dengan susah payah keluar dari gubuk tua itu berlari walau kakinya belum sembuh total meninggalkan Sakura dan menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua rasa kesedihan dan kehilangannya.
"Kau.. Bodoh Naruto!"
•
•
"Aku mendapat informasi bahwa adikmu cukup akrab dengan monster yang sedang kita incar"
Bagai ditusuk belati tajam jantung Sasori terasa berhenti berdetak. Ini artinya tidak lama lagi akan ada yang terjadi dengan Sakura.
"Benarkah". Ucap Sasori setenang mungkin, walau otak dan hatinya berkata lain. Good actor.
"Haruno Sakura, siswa pindahan dari Amerika.. Menurut informasi yang kudapat ia sudah pindah 6 kali dalam 5 tahun belakangan ini. Dan, ia pindah kembali ke Negara asalnya untuk tinggal bersama ibunya.. Benarkan?"
'Apa-apaan ini, jadi mereka sudah memasang target dan korbannya adalah Sakura'. Sasori memilih diam, ia sudah kalah. Cepat atau lambat ia akan keluar dari permainan.
Sang Leader, Pain merasakan keresahan Sasori.. Ia tidak bisa begitu saja memaksa salah satu bawahannya mengorbankan anggota keluarganya.. Ia akan melakukannya dengan perlahan-lahan saja.
"Sasori"
Seluruh anggota organisasi tersentak kaget mendengar Leader mereka berbicara. Pasalnya, Pain bukanlah tipe yang akan membuka mulut begitu saja, ia punya Konan.
"Biskah kau ceritakan pertama kali kau bertemu dengan adikmu, maksudku riwayat hidupnya"
Tubuh Sasori melemas, ntah mengapa memori otaknya seperti terhipnotis oleh permintaan Pain.. Semua kilas balik tentang masa lalunya mengingatkannya kembali. Ia tidak punya pilihan lain, buka mulut atau mati!
'Aku lebih baik mati dari pada harus menyakiti Sakura'
•
•
"Sakura!, kau mau pulang?". Tanya Kushina sambil berlari mendekati Sakura yang sudah berdiri diambang pintu, tidak lupa mengikutsertakan spatulanya.
"Hai, Arigatou-"
"Ibu, panggil aku Ibu!". Teriak Kushina sembari menggocangkan bahu Sakura.
Sakura agak takut dengan gerak-gerik Kushina, bisa-bisa spatula itu melayang menghantam kepalanya dan membuatnya terkena amnesia. 'Siapa aku, dimana aku?'. Akan tetapi, punya Ibu sepertinya. Mungkin akan menjadikannya gadis terbahagia se-Jepang.
"Hmm.. Ibu, aku pulang dulu.. Terima kasih atas bantuannya"
Bagai tertimpa uang 100 miliar, Kushina memeluk Sakura sangat erat, bahkan spatulanya juga ikut-ikutan memberi pelukan untuk Sakura.
Sakura tidak pernah mendapat perlakuan tulus seperti ini dari Ibunya, ia hanya mendapatkannya dari Ibu orang lain. Duh, sedihnya.. Namun ia masih bersyukur, ternyata pulang ke Jepang bukan membuatnya hanya tertimpa kemalangan. Tapi semakin banyak orang yang kini akan memedulikannya. Dan juga ia bersyukur akan satu hal, untung saja yang dibawa Kushina spatula, bukan panci penggorengan.
Minato mengulurkan tangannya menarik lengan Kushina yang hampir memeluk mati anak orang."Hei, Hei.. Sudahlah Kushina, dia ingin pulang ke rumahnya.. Kau menghalanginya"
Uppsss, sepertinya Minato salah bicara. Sekilas kilatan merah langsung saja menyilaukan mata Minato."Kau bilang apa, dasar suami kurang ajar! Jadi selama ini aku menghalangimu!". Pelukan maut kushina melonggar, tangannya lebih memilih untuk menghajar Minato dulu.
Sakura merasa kasihan pada Minato, tapi.. kalau dipikir-pikir ia memang pantas diajar. Tanpa disadarinya Naruto menarik kerah lehernya dan menyeretnya keluar dari rumah. Yang Naruto pikirkan sekarang wanita itu tidak akan melepaskan Sakura denga mudah. Jadi ia akan membawanya pulang saja.
"Jiraiya jii-san, aku pergi dulu"
"Hmmm, hati-hati dijalan". Jawab Jiraiya sembari melambaikan tangannya. 'Bagus, sekarang ia membawa lari anak perempuan. Seumur hidupku, aku belum pernah melakukannya.. Huhh, irinya.. Kenapa aku harus selalu terjebak didalam rumah dimana Minato dan istrinya selalu memamerkan masalah percintaannya'.
'KAPAN HAL ITU TERJADI PADAKU!'
•
Gaara POV/
•
Ingin sekali aku pergi dari gubuk tua ini, meninggalkan gadis sialan ini sendirian dimalam yang dingin ini. Aku sudah tidak tahan lagi, seharusnya yang marah itu bukannya dia tapi aku! AKU!. Tapi mau berapa kalipun otak pintarku berpikir tentang hal itu, tidak akan ada jawaban yang keluar. 'Sekarang siapa yang harusnya marah!'.
"Hmmm, Sakura..". Panggilku, mencari jawaban atas pertanyaan memang tidak segampang mencari udang dibalik ika musume, sebaiknya aku harus meminta harus mengalah pada wanita itulah Gentleman!.
"Kalau kau ingin minta maaf, sebaiknya nanti saja, kau.. Harus menjelaskan semuannya padaku". Bagai dihisap masuk ke inti bumi.. Kamisama!, ia tahu apa yang kupikirkan! Pantas saja Naruto gila, dia sangat suka yang seperti ini!.
"…". Aku tidak akan menjawab, demi Naruto, demi Naruto!.
"…"
"…". Sial, dia masih diam, aku tidak akan kalah. Demi Naruto, Narutooo!
"…"
Sial, aku tidak bisa berdiam diri terus, bisa-bisa aku akan terjaga semalaman."Huuuhh, baiklah". Kataku seraya mendekati Sakura yang sedang duduk didepan api unggun hasil karyanya. Aku mengambil tempat disebrangnya, jaga-jaga siapa tahu ia lepas kendali dan menganiayaku dengan api yang dibuatnya.
"Sakura, kalau aku menceritakannya.. Berjanjilah padaku kau tidak akan pergi kemana-mana, tetaplah disis-". Jiaaaahhhh, maaf Naruto.. Apa yang hampir kukatakan, bukankah kata-kata itu biasanya ditujukan untuk sepasang kekasih!. Sial, gadis ini hanya memandangku dengan wajah datarnya.. Aku tahu aku ini pria lajang, bisakah ekspresimu berubah sedikit?.
"Apa maksudmu tetaplah disisik-"
"Sampai dimana tadi aku, ohh iya kau tidak boleh bertindak hal gila, jangan kabur.. kau harus tetap dalam pengawasanku, mengerti!". Sambarku langsung memotong ucapannya, kalau Naruto disini aku akan ditelan hidup-hidup.
"Aku.. Me-ngerti". Jawabnya ragu-ragu.
•
Gaara POV/ end
Flashback: 1914
•
"Uzumaki-sama dan ratu Sara akan memasuki ruangan". Ucap sang ajudan yang terdengar seperti, Hidan!."Para anggota rapat diharap segera bangun dan memberi salam pada dewa Jash- Awwwwwww, Kakuzu apa yang kau lakukan!". Yang mendengar Hidan sang ajudan berbicara hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Selamat datang Uzumaki-sama dan ratu Sara"
Naruto berjalan dengan gagahnya didampingi Gaara dan Sasuke, sedangkan Sara berjalan dibelakang mereka didampingi Shion. "Iy-iya juga, ha-lo.. Haiii.. Naruto, kau tidak memberi salam juga?". Ucap Sara sembari membungkukkan tubuhnya, dan ia hanya menjadi bahan tawaan anggota rapat dan Shion, juga Naruto. Kalau 2 pria disampingnya, jangan pernah berharap. Senyum dan tawaku sangat mahal.
"Baik, semua anggota rapat sudah datang.. Rapat dimulai.. SEKARANGAWWWWWWWW!, apa lagi yang kau lakukan kakuzu!"
"HUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH!". Tawa Naruto yang menggelegar diseluruh penjuru ruang rapat."Ayo kita buat agar rapat ini tidak terasa canggung kali ini.."
Seluruh anggota rapat menganggukkan kepala mereka tanda meng-iyakan perkataan Naruto.
"Baik, Akatsuki.. Laporkan informasi yang kalian sudah kumpulkan!"
Pain sang leader menatap konan, dan mungkin inilah yang dinamakan telepati.
"Kota Rouran, kota dengan 1000 menara yang berlokasi ditengah-tengah gurun pasir. Dan kau". Konan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Sara.
"I-iya a-ak-aku!". Ujar Sara terbata-bata.
"Kau Sara, Ratu Rouran dan kau pergi meninggalkan tanggung jawabmu?"
"A-pa maksudmu, aku pergi demi menjaga keselamatan rakyatku!"
"Jangan berbohong". Bentak Konan, Sara seketika mematung. Bahkan para anggota rapat yang semula berpikir rapat ini akan lebih menyenangkan dari yang kemarin malah menjadi rapat paling tegang sepanjang masa. "Yang kami temukan, kotamu baik-baik saja.. Tidak ada tanda-tanda kedatangan Anrokuzan atau mayat hidup Ratu Seramu!.. Kota rouran dinyatakan 100% bersih terhadap segala macam bahaya!". Para anggota rapat berbisik-bisik 1 sama lain, mereka menjadi meragukan kehadiran Sara disini.
"Jadi apa yang sedang kau ingin lakukan disini Ratu Sara?"
"A-ku.. Tida.. Bo-bohong! Semuanya bohong!. Teriak Sara sembari mengangkat tangannya untuk menutup wajahnya, menahan air matanya mengalir deras. Naruto bangkit dari kursinya berjalan mendekati Sara mengelus kepalanya dan memeluk bahunya."Rapat kita tunda, semuanya bubar!". Ucap Naruto seraya mengiringi Sara keluar dari ruang rapat.
"Jiiiaahhh, kau terlalu memperlakukannya dengan lembut Konan!, harusnya kau patahkan saja tulang kakinya agar dia mau mengakui apa tujuannya datang ke siiIIIIIIIIIIIAAAAAAAAWWW, kenapa kau memukulku bodoh, ini sakit! Kakuzu bodoh!"
"Aku tidak bodoh"
•
•
"Apa ada lagi yang kau butuhkan Sara?"
"Tidak Naruto, terima kasih.. Mungkin aku akan tiduran saja, kepalaku agak pusing"
"Benarkah, akan kupanggilkan dokter kalau begitu"
"Ehhhh, jangan!.. Ti-tidak perlu repot-repot, ini memang sering terjadi padaku.. Hehehehe, mungkin karena efek buah delima yang kemarin kumakan". Ujar Sara sambil menjulurkan lidahnya.
"Baiklah, kalau kau butuh sesuatu panggil saja Shion. Ia akan menjagaimu"
"Haahh, tak perlu repot-repot!"
"Aku tidak merasa direpotkan, sudah jangan membantah dan tidur saja!". Ucap Naruto sembari mengetukkan jarinya ke kening Sara.
"Ahhhh, kau ini!". Sara mengarahkan tangannya untuk mengusap kening mulunya yang memerah.
"Kalau begitu, aku pergi dulu.. Maih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, aku akan mengunjungimu nanti, Shion.. Jaga dia"
"Baik Naruto-sama"
Selang beberapa detik kepergian Naruto, Shion membalikkan tubuhnya menghadap Sara yang sedang berbaring menatap langit-langit kamar.
"Kau tahu?, aku sangat malas menjagai gadis manja sepertimu ratu Sara!"
Mata Sara mengerjap, berani sekali dia!."Hehh, benarkah.. Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang pelayan?"
"Cih!, aku akan keluar sekarang juga dan pergi meminum secangkir teh hangat ditemani dengan biscuit sayuranku!"
Sara menolehkan kepalanya ke arah Shion."Apa kau perlu meminta izin padaku untuk meminum secangkir teh hangat dengan ditemani biscuit sayuranmu.. Atau kau ingin aku menyiapkannya untukmu? Ckk, naruto akan sangat marah padamu mantan pendeta wanita.. Kau kehilangan indra ke-enammu dan dibuang dari desamu sendiri.. Sungguh tragis!"
Shion mengepalkan tangannya menahan emosinya.
"Kalau kau ingin keluar silahkan saja, aku tidak melarangmu.. Lagi pula aku tidak membutuhkanmu disini!"
Akhir kata Sara, Shion menyeret kakinya keluar dari kamar Sara. Walau sebenarnnya ia masih ingin tinggal agar bisa menghajar Sara sampai dia puas.
"Ckk, dasar gadis bodoh!"
•
•
"Sasuke, panggil akatsuki dan Orochimaru.. Rapat rahasia sekarang juga"
"…"
"Kenapa tidak menjawab?"
"Jadi kau ingin dijawab?"
"Apa maksudmu aku atasanmu disini?"
"Apa aku sering menjawab perkataanmu?"
"Hehhh, ya sudahlah"
•
•
"Bagaimana kalau kita kirimkan mata-mata untuk menyusup masuk ke kota Rouran, tentu saja secara rahasia". Usul Orochimaru.
Naruto berpikir sejenak, ntahlah.. Ia hanya merasa ada yang tidak beres dengan Sara. Dan, bisa saja ada yang terbunuh jika ketawan menyusup secara rahasia.
"Biar aku saja yang pergi!". Pinta Jiraiya yang tiba-tiba muncul.
Naruto dan yang lainnya hanya bisa melongo tak percaya, pengecualian Gaara, Konan, Pain, Itachi, Kakuzu, Sasori, Sasuke.. Pokoknya semua manusia berwajah tembok. Mereka bukannya terkejut karena 'kenapa Jiraiya bisa datang ke pertemuan rahasia seperti ini'.. Jawabannya ia punya taktik tersendiri, lalu apa yang membuat yang lainnya terkejut.. Ia memikul seorang gadis dan ia membawanya ke pertemuan rahasia ini!
"Berani sekali kau melakukan hal seperti ini dirapat rahasia kali ini, kalau kau ingin mengirimkan tumbal untuk dewa Jashin besok-besok sajaaaAAAWWWWW! Kenapa kau selalu memukulku Kakuzu bodoh!"
"Kau sangat berisik hm!, dan Jiraiya apa yang sedang kau lakukan hm!".
"Apa yang kulakukan memangnya?". Tanya Jiraiya balik.
Naruto mengangkat tangan kanannya berharap seisi ruangan tenang."Duduklah Jiraiya!"
Jiraiya mengikuti perintah Naruto, ia turunkan gadis yang dipikulnya layaknya karung beras dan pergi duduk ditempatnya.
Naruto tersentak kaget, pasalnya gadis itu adalah SHION!"Aku pikir kau di Konoha?". Tanya Naruto.
"Yahh, memang.. Tapi wanita tua itu menendangku keluar saat aku menang melawannya bermain judi"
'Kasihan sekali'. Batin Orochimaru.
"Lalu, aku kembali pulang ke sini dan mengikuti gadis sexy itu danTARA! sampailah aku disini!". Jawab Jiraiya antusias, ia pikir itu keren.
'Dasar mesum!'.Batin Orochimaru lagi.
"Baik, apa kau menerima tawaranku Naruto?.. Biar aku saja yang pergi ke sana!"
"Hmmm, baik lakukan apa yang kau suka.. Kabari apa yang kau temukan disana!"
"Baiklah". Ujar Jiraiya bangkit dari kursinya dan hendak mengangkat Shion.
"Heiii, apa yang kau lakukan, turunkan dia!". Teriak Orochimaru geregetan sembari memukul-mukul bahu Kabuto.
"Aaawwww, sa-sakit Orochimaru-sama!". Rintih Kabuto yang melolong kesakita seperti serigala kehilangan indu, hmmm.. Anaknya.
Jiraiya menyunggingkan bibirnya."Kau ingin melakukannya sendirian.. Baiklah aku akan memberikannya padamu". Ucap Jiraiya sembari melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
'Dia memang benar-benar mesum! Dewa jash, Aiiiiissshhhh.. Maksudku Kamisama, aku harap Jiraiya tidak akan pernah bisa lagi meraba-raba perempua.. Jiaaahhh, apa yang sudah kulakukan! Batalkan, Batalkan, Batalkan!'. Gumam Orochimaru, ia pikir ia sedang membatalkan ultimatum, Kamisama sedang mendengarkanmu Orochimaru-san!
"Kau mau pergi sekarang?". Tanya Sasuke.
"Lebih cepat lebih baik!". Ucap Jiraiya sembari mengulurkan tangannya hendak membuka pintu.
"BRAAKK!"
Sebuah kunai langsung menembus gagang pintu tersebut dan kunai itu hampir saja mengenai Jiraiya.
"APA YANG KAU LAKUKAN NARUTO!". Teriak Jiraiya pucat.
"Heheheheh, itu untukmu.. Untuk berjaga-jaga". Jawab Naruto seraya melipatkan tangannya dan tersenyum sangat lebar, dan bisa saja membuat mulutnya sobek.
"Kau bercanda, aku bisa saja mati!"
"Kau yang bercanda! Lagi pula kau tidak akan langsung mati walau tanganmu hilang!". Ralat Naruto.
"Kau yang bercanda! Bagaiman kalau aku tidak bisa meraba-raba perempuan lagi!". Sambar Jiraiya cepat, mesum mode on.
Seisi ruangan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka.
'Kami-sama, aktifkan doaku.. Pria tua mesum itu benar-benar tidak menyesal!. Aktfkan, aktifkan, aktifkan!'. Gumam Orochimaru lagi, ia pikiria sedang berperang apa?.
"Huh, aku akan segera pergi.. Jangan pernah membongkar kamarku!".
Akhir kata, jiraiya melangkah pergi sambil membawa kunai yang hampir mencelakainya.
"Dasar, bocah pintar!"
•
•
Setelah kepergian Jiraiya, Naruto sedikit bingung, kenapa Akatsuki diam-diam saja dari tadi?
"Hoiii, kenapa kalian diam-diam saja dari tadi?". Tanya Naruto, tentu saja pertanyaannya mengarah pada Akatsuki.
"Kau lupa, kau sendiri yang menyuruh kami diam!". Ujar Zetsu putih diikuti anggukan dari Zetsu hitam.
"Hahh, kapan?"
Sasori mengangkat tangannya, tanda agar semua tenang.
"…"
"…"
"…"
"Ahhhhh, aku sama sekali tidak mengerti!". Ucap Naruto seraya mengangkat dan membanting meja rapat.
PS: Akatsuki dkk pengecualian Naruto dan Shion sudah kabur duluan.
PSs: Shion langsung terbangun mendengar ada gebrakan Nasional disiang bolong.
"Dasar bocah bodoh"
•
•
"Na-Naruto-sama, a-pa"
"Tenanglah Shion, ini minumlah dulu". Ujar Naruto seraya menyodorkan minumannya ke arah Shion.
Shion langsung mengambil minuman yang ditawari Naruto dengan malu-malu. Dan meneguknya, seperti nya ia sangat haus.
"Nah, siapa yang sedang kau ikuti Shi-"
Ucapan Naruto langsung terpotong dikarenakan Shion tiba-tiba menyemburkan minumannya kewajah Naruto.
"Na-Naruto-sama, aduhhh.. Apa yang kulakukan!". Segera Shion merobek jaketnya dan mengarahkan sobekan kain itu ke arah Naruto dan mengelap wajahnya dengan hai-hati.
Naruto langsung nyegir lebar saat Shion mengelapinya. Semburat merah segera menjalar ke penjuru wajah cantik Shion.
"Tidak apa-apa, kau hanya perlu menjawab pertanyaanku saja Shion". Shion langsung mematung.
Ia mematung sampai tidak bisa bicara apa-apa.
"Kenapa kau pergi keluar saat aku memintmu untuk menjagai Sara?"
Benar kata Sara, Naruto pasti akan marah besar kalau tahu bahwa ia melalaikan perintahnya.
"Tenang saja Shion, aku hanya ingin tahu saja?"
Shion tersentak kaget saat Naruto berkata seperti itu, jujur saja ia pikir ia akan langsung diusir. Balik ke persoalan.. Shion sangat yakin ia tidak sepenuhnya bersalah, jadi ia akan jujur saja.
"A-aku, pergi keluar dari kamar Ratu Sara"."Aku, tidak dia benar-benah sangat menyebalkan!". "Jadi aku meninggalkannya, tapi karena Naruto-sama yang memberi perintahnya". "Jadi aku memutuskan untuk berbalik menuju kamar Ratu Sara". "Tapi, dia tidak ada didalam kamar, aku benar-benar sangat panic"."Dia adalah seoarang Ratu dan bisa saja ia diculik, jadi aku berlari ke arah jendela hendak memanggil penjaga, tapi tatapan mataku terkunci saat melihat Ratu Sara berjalan mengendap-endap di taman"."Ja-jadi aku segera loncat dari jendela kamar dan untung saja kakiku tidak patah"
Shion bergenti berbicara, uacapannya benar-benar berbelok dari permasalahan utamanya, ia tatap mata Naruto dan wajah Naruto benar-benar berubah serius.
"La-lalu, aku mengikutinya dan tiba-tiba saja ia menghilang lalu, aku pingsan.. Dan setelah bangun aku sudah ada disini.."
Naruto menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dengan ucapan Shion yang menurutnya masuk logika. Naruto bangkit berdiri lalu mengacak rambut Shion."Terima kasih atas keterangannya Shion!". Ujar Naruto diiringi senyum khasnya.
Wajah Shion berubah merah padam, ini adalah senyuman Naruto-sama yang paling tertampan!.
"Ayo, kita keluar.. Aku lapar, kau bisa memasakkanku sesuatu kan?"
"Tentu Naruto-sama!"
•
•
Tepat tengah malam, Gaara dan Sasuke melakukan pengintaian disekitar wilayah Sara, ntah itu kamar tidur, toilet, balkon atau taman. Dan misi.. Dimulai!
"Kita pergi, sekarang!"
"Hn"
Gaara dan Sasuke berjalan didalam semak-semak secara diam-diam. Dengan posisi Sasuke didepan dan Gaara dibelakang.
'Menyelundup'.(Suara hati kecil 2 pria pendiam ini)
'Menyelundup'.(Suara otak kecil 2 pria pendiam ini)
"Menyelundup". (Suara yang mereka keluarkan sendiri)
"Sssstt, Gaara.. Kau memikirkan hal yang sama denganku?"
"Menyelundup"
"Hn, menyelundup"
"Betul, menyelundup"
"Hn, kita sedang menyelundup"
"Menyelundup"
"…". Sasuke menolehkan kepalanya ke belakang menghadap Gaara, namun Gaara malah ikut menolehkan kepalanya kebelakang. Mencari-cari apa yang Sasuke lihat.
"Heiii pendek, kau meniruku ya hnn!"
Gaara menolehkan kepalanya menghadap Sasuke."Siapa yang kau sebut pendek?"
"Ssssssttt!, Naruto akan marah besar kalau kita berdua ketawan". Bisik Sasuke menempelkan jari telunjuknya dibibirnya. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"…". Gaara diam.
"…". Sasuke diam.
"…". Gaara diam.
"…"Sasuke."Sudah kubilang jangan meniruku!". Ucap Sasuke setengah berbisik.
"Aku tidak menirumu rambut pantat ayam!"
4 persimpangan dijidat Sasuke mulai menampakkan diri."Kau cari mati ya!"
"Ssssttt, dia keluar!". Ujar Gaara menunjuk celah semak-semak.
Sara mengendap-endap keluar dari pintu ruangannya. Berlari secepat yang ia bisa tanpa menimbulkan suara sedikit pun dengan pakaian lengkap + jubah yang menutupinya memperkecil kemungkinan orang-orang akan tahu bahwa itu adalah Sara. Tapi tak ada yang bisa membohongi mata Gaara dan Sasuke. Mata keran, hmmm.. Maksudku mata elang!.
Gaara dan Sasuke mengikuti Sara. Sampai mereka keluar dari wilayah kekuasaan klan Uzumaki. Sara menyusuri hutan yang belum pernah sekali pun didatangi oleh Gaara atau Sasuke.. Kiri kanan jurang dan hanya ada 1 jalan lurus yang sekarang mereka lewati.
Tiba-tiba Sara berhenti didepan pohon Ek tua, ia menengok kiri kanan, bodohnya ia tidak menengok ke belakang.
'Apa yang akan ia lakukan'. Batin Sasuke.
Sara mengeluarkan kantung berwarna hitam dari balik jubahnya dan menumpahkan semua isi kantung itu ke tanah. Sasuke dan Gaara kaget luar biasa, itu adalah perlengkapan untuk membuat semacam kutukan.
Samar-samar Sasuke dan Gaara melihat Sara mengambil sebuah boneka yang mirip sekali dengan Sasuke dan ia menggantungnya di pohon Ek tersebut.
Sasuke menolehkan kepalanya ke belakang menatap Gaara."Pergi dari sini Gaara, beritahukan ini pada Naruto.. Semua yang kau lihat-!"
Belum selesai Sasuke berbicara, mulutnya sudah memuntahkan darah. Gaara terkejut setengah mati, ia menarik lengan Sasuke."Ayo kita pergi dari sini!"
Sasuke menggeleng dan memuntahkan lebih banyak darah membasahi tanah yang dipijakinya."Cep.. hat.. Per.. Gih!". Ucap Sasuke tiba-tiba mendorong Gaara jatuh ke jurang. Gaara terdiam mematung, saat Sasuke mendorongnya ke jurang dengan kekuatannya yang masih tersisa.
'Sasuke..'
•
•
Sara menghentikan kegiatannya, dan berbalik berjalan mendekati Sasuke.
"Kau menyelamatkan temanmu?". Ucap Sara diiringi senyum kemenangannya.
Sasuke membersihkan darah disekitar bibirnya. Awalnya memang terasa sakit.. Tapi itu hanya sementara saja."Jadi.. Ternyata kau menyadari keberadaan kami hn?"
Sara berdecih pelan."Kau tidak bisa mengelabuiku bocah!"
"Dan sekarang kau juga tidak bisa mengelabuiku tuan"
Seketika suara Sara berubah menjadi suara pria tua, dan kulit mulus Sara meleleh diikuti dengan rambut panjangnya yang tiba-tiba rontok. Dia ANROKUZAN!
"Bocah pintar, ketahuilah.. Sampai sekarang aku pun masih mengincar kekuatan tak terbatas dari Ryumyaku, dan aku ingin memusnahkan semua yang ada didunia ini! Semua yang dicipatakan oleh Kamisama!".
Sasuke mengerutkan dahinya. Apa maksud dari pak tua ini, ia membeberkan tujuan aslinya."Dimana Sara yang asli sekarang?"
"Dia?.. Aku baru saja membunuhnya.. Kenapa?". Jawab Anrokuzan tertawa renyah.
"Kenapa! Kau bertanya kenapa! Dasar bajingan!". Umpat Sasuke.
'BUAGHHH!'. Seepat kilat Sasuke melayangkan tinjunya ke perut Anrokuzan dan membuatnya jatuh ke tanah.
Tak disangka Anrokuzan langsung bangkit dengan mudahnya. Dan kembali mentertawakan Sasuke."Apa yang ingin kau lakukan bocah?"
Tangan Sasuke terkepal dan ia layangkan lagi tinjunya ke wajah Anrokuzan.. Dan kenapa pak tua itu masih bisa tertawa tanpa merasa sakit atau terluka sedikit pun?
"Cukup, aku tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu bocah!"
Anrokuzan mengepalkan tangannya dan meninju Sasuke di perutnya dan diwajahnya. Mungkin inilah yang disebut perut ganti perut, wajah ganti wajah..
Sasuke terkapar tak berdaya, pukulan Anrokuzan terasa seperti hantaman jutaan batu.
Anrokuzan menatap Sasuke lalu kembali tertawa."Sampaikan salamku pada teman Jinchurikimu". Ucap Anrokuzan lalu menendang Sasuke jatuh ke jurang.
"HAHAHAHAHAHAHA"
•
•
"AAAAAAKKKHHHHHH!"
Teriakan seoarang pelayan di pagi buta, berhasil membangunkan semua penghuni yang tinggal diwilayah klan Uzumaki.
Naruto segera bangun diiringi pengawal-pengawalnya. Dan langsung melesat pergi menuju arah sumber teriakan. Tampaknya asal teriakkan itu mengarah pada kamar Sara, terlihat ruangan itu yang diramaikan oleh puluhan pelayan dan penjaga.
Detak jantung Naruto melaju cepat, segera ia datangi kamar teman karibnya itu. Betapa terkejutnya Naruto, tubuh Sara tergeletak tak berdaya didepan pintu kamarnya. Kulitnya berubah membiru, mata dan mulutnya terbuka , kenapa pakiannya masih sama dengan yang tadi ia kenakan saat rapat?
Naruto mematung, lututnya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca, ia dekati tubuh Sara dan membawanya masuk kedalam pelukannya. Mulutnya terkunci, ia tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. Yang ia pikirkan sekarang adalah'Maaf aku terlambat menyelamatkanmu'.
Air mata mengalir perlahan melewati pipi mulus Shion, ia bukan bersedih atas kematian Sara. Tapi karena'Kenapa Naruto selalu memberikan air matanya pada gadis lain, bukannya dia?!'
•
•
Siang ini cukup terik, Shion kewalahan menghalau panas yang menyengat kulitnya. Jadi ia putuskan pergi ke halaman belakang. Duduk di bawah pohon dan bersantai disana. Hari ini tim penyelidik datang untuk menyelidiki kematian Ratu Sara, semua pelayan diliburkan karena takutnya menyembunyikan barang bukti.
Saat enak-enaknya menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi 3 pelayan datang dan duduk di kursi taman belakang yang jaraknya tidak begitu jauh dari pohon tempat Shion berteduh.
"Heii, kalian tahu.."
'Cih, tukang gossip!'. Batin Shion.
"Aku sangat kasihan dengan Uzumaki-sama, ia benar-benar kehilangan!"
'Cihhh, tahu apa mereka?'. Pikir Shion kesal.
"Iya, kau benar.. Sampai-sampai sarapan atau makan siang saja tidak disentuh sedikit pun oleh Uzumaki-sama!"
Shion bangkit dan berlari ke arah 3 pelayan itu."Terima kasih banyak, dan 1 lagi. Aku sarankan bicarakan hal-hal yang berguna!"
'Mulai hari ini akulah yang akan membuatmu bersemangat lagi Naruto-sama'
•
•
"Ramen sudah, hmm.. Apa lagi ya?". Ujar Shion bertopang dagu."Ahh, sudahlah.. Aku akan mengambilnya nanti". Ucapnya dan segera pergi menuju ruangan Naruto, dalam perjalanannya ia senyum-senyum sendiri menatap mangkok ramennya.
'Tok.. Tok.. Tok!'
"Masuklah…"
'Itu suara Naruto-sama!, kali ini lebih terdengar bersemangat.. Apa penjahatnya sudah tertangkap?'. Pikir Shion seraya memutar gagang pintu.
Ruangan kerja Naruto-sama terlihat sepi, tidak ada orang.. Bagus, ini kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku juga sama seperti Sakura atau Sara sekalipun.
"Shion!". Kata Naruto, raut wajahnya sangat tegang.
Shion mendekati Naruto, ia tidak bisa menahan munculnya semburat merah yang mulai menjalar dipipinya."Na-Naruto-sama.. A-ku, Aku membawakanmu ramen.. Katanya Na-Naruto-sama tidak selera makan jadi ak-aku-"
"Shion, terima kasih".
Tapi, ntah kenapa malah terdengar permintaan maaf ditelinga Shion."Hahh, Na-Naruto-sama tidak perlu berterima kasih-"
Tiba-tiba Orochimaru dan asistennya Kabuto muncul, ntah dari mana arah datangnya."Maksud Naruto, terima kasih sudah datang tanpa perlu kami seret, pembunuh"
"A-aku tidak mengerti?". Ujar Shion, ia menatap Naruto yang sekarang sudah menunduk.
"Kau membunuh Ratu Sara, Jiraiya, Sasuke dan Gaara. Sekarang ingin membunuh Naruto dengan menaruh racun diramen itu!"
Shion terdiam ditempat. Otaknya belum sepenuhnya mencerna ucapan Orochimaru. Yang ia pikirkan adalah kenapa dikeadaan seperti ini Naruto sama sekali tidak membelanya?
Puluhan pengawal berdatangan dan mengamankan ruangan, mereka menarik dan mengunci lengan Shion alhasil mangkok ramen yang dibawa Shion jatuh, menodai lantai ruangan ini.
Shion sama sekali tidak melakukan perlawanan. Pendengarannya seakan-akan tersumbat, pandangannya hanya terkunci pada 1 orang. Naruto!
Shion tetap memikirkan hal yang sama,'Kenapa Naruto-sama tidak membelanya atau memanggilnya.. Kenapa Naruto-sama malah diam?.. Aku juga sama seperti Sara dan Sakura. Iya kan?!'
'Apa salahku karena menyukaimu Naruto-sama?'
•
•
"Sidang dimulai!"
"Bawa tersengka memasuki ruangan!"
Shion datang diiringi 2 pengawal menarik rantai yang mengikat lengannya. Penonton persidangan yang kebanyakan adalah rakyat Rouran berbondong-bondong melempari Shion dengan telur busuk dan garam.
"Enyah kau pembunuh!"
"Mati!"
"Mati!"
"Mati!"
Hakim mengangkat palunya dan mengetukkannya saat merasa sidangnya kali ini tampak seperti pasar ikan.'Tok, Tok.. "Harap tenang!"
Shion sama sekali tidak menanggapi umpatan atau sumpah serapah dari orang-orang, ia hanya memikirkan Naruto.. Tapi kenapa Naruto juga tidak datang ke sidangnya?.. Semalaman ia menunggu Naruto datang menjenguknya atau hanya sekedar menengoknya, itu sudah membuktikan bahwa Naruto mempercayainya!. Bagi Shion itu cukup baginya. Tapi kalau Naruto tidak ada disidang kali ini, pupus sudah harapannya.
"Shion, kau dulunya mantan pendeta wanita didesa tanah para iblis.. Kau punya status yang bagus sampai saat dimana ibumu sendiri Miroku mencuri kekuatanmu untuk membunuh suaminya sendiri dan menikmati harta warisan suaminya". Ujar hakim.
"Cih, ibu dan anak sama saja". Ucap seseorang dari kota Rouran.
Shion memutar otaknya mengingat kembali memori masa lalunya. "Ibuku sama sekali tidak membunuh, sama seperti aku sekarang. Dan menikmati harta?, ibuku dihukum mati! Kalian tahu! Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan!". Teriak Shion pada hakim yangsekarang menghakiminya.
Penonton siding berkali-kali mengumpat dan meludah pada tanah yang dipijaki Shion. Hakim mengetukkan palunya lagi, berharap agar penonton agar tenang semua.
Seorang pria membawa kotak yang berisi barang bukti dan menumpahkannya dimeja hakim."Kau membunuh Ratu Sara, Jiraiya-sama, Sasuke-sama juga Gaara-sama dengan cara yang kotor!". Ucapnya sembari mengangkat 4 boneka.
Penonton mulai berbisik-bisik tak jelas, sedangkan Shion masih memutar otaknya mencari pembelaan."Aku tidak pernah punya boneka kutukan seperti itu.. Lagipula aku juga tidak tahu cara pakainya!"
"Kami menemukan barang bukti dikamarmu!"
Shion tidak membantah ucapan hakim, menurutnya percuma saja.
Hakim mulai berbisik-bisik dengan para jaksa dan penuntut..' Sepertinya aku akan menjalani hukumannya hari ini'. Gumam Shion tersenyum pahit, ia seperti mengingat bagaimana dulu ibunya dihakimi, difitnah, dibunuh.. Sebentar lagi ia akan merasakan kejamnya kehidupan ini. Butiran-butiran Kristal sudah meninggalkan jejak di wajah mulus Shion.
"Shion, kami memutuskan kau akan dihukum ma-"
"Kau ingin memanggil mamamu kesini pak hakim?!". Ralat Naruto tiba-tiba datang dari jendela. Sembari menjilati es krimnya, semua yang hadir disidang membungkukkan tubuhnya pengecualian Shion. Ia masih tidak percaya, Naruto hadir disidangnya.
Naruto berjalan mendekati meja hakim, dan membisikkan sesuatu ditelinga hakim. Hakim tersebut langsung menganggukkan kepalanya tanpa memprotes sedikit pun.
"Kami semua memutuskan untuk pengasingan Shion seumur hidup!"
'Tok, Tok, Tok'
Walau pengasingan bukanlah hukuman yang ringan, tapi itu lebih baik dari pada hukuman mati. Shion menatap Naruto yang masih berdiri didamping hakim, Naruto tersenyum seperti. Ini adalah kedua kalinya ia melihat senyuman seperti itu.
"Naruto-sama, Arigatou!"
•
•
"Shion! Hehh, hehh, hehh!"
Shion membalikkan tubuhnya, tas yang dibawanya agak menghalanginya untuk membalikkan tubuhnya."Kabuto-san, ada apa?"
"Uzumaki-sama menitipkan ini padamu". Kabuto menyodorkan kotak berwarna coklat keemasan, Shion mengambilnya dan membungkukkan tubuhnya.
"Kabuto-san, Arigatou!"
Kabuto ikut menundukkan kepalanya."Hmmm, hati-hati dijalan Shion"
Shion mengembangkan senyumnya. Mungkin ini adalah pertemuan terakhirnya dengan orang-orang dari klan Uzumaki. Shion membalikkan tubuhnya dan melanjutkan perjalannanya, Kabuto melambaikan tangannya dan berteriak'Sampai jumpa'. Walau ia mendapat perlakuan buruk, setidaknya selalu ada perlakuan baik yang menantinya.
"Sayonara"
•
Flashback: 1914/End
'Flashback: 2013'
•
Haruno Sakura, anak pertama dari pasangan suami istri Haruno Kizashi dan Haruno Mebuki. Keluarga Haruno termasuk keluarga yang diidam-idamkan semua keluarga. Sang suami pengertian, istrinya yang menyayangi anak dan anak mereka yang selalu menuruti apa yang dikatakan orangtuanya. Tidak bisa diungkapakan dengan kata-kata betapa bahagianya keluarga ini. Sampai suatu hari saat liburan musim panas sekolah dimulai.
"Ibu!". Panggil Sakura kecil, tangan mungilnya terulur menggenggam telapak tangan besar ibunya.
"Hmm, kau ingin sesuatu Sakura?"
"Ayo ke pantai!"
Ibunya mengerutkan alisnya, pasalnya liburan musim panas adalah awal menyebarnya flu serbuk bunga. Dan sangat berbahaya bagi gadis berumur 5 tahun ke luar rumah.
"Kalau begitu ayo kita ke pantai!". Kizashi tiba-tiba muncul ntah dari mana. Mebuki memberinya tatapan membunuh dan sepertinya Kizashi tidak menanggapinya
"Hahh, ya sudahlah.. Aku akan mempersiapkan barang-barangnya"
"Ayo kita bermain Sakura"
"Ya ayah!". Jawab Sakura antusias sembari melangkahkan kakinya dan loncat menuju pelukan ayahnya, Sakura dan Kizashi merentangkan tangannya seakan-akan menarik Mebuki agar ikut berpelukan . Mebuki hanya tertawa renyah dan menerima pelukan dari Kizashi dan Sakura.
•
•
"Apa sudah sampai?". Tanya Sakura pada orangtuanya. Ini sudah ke-3 kalinya ia bertanya dan jawabannya tetap sama.
"Belum Sakura.."
Mebuki mengintip Sakura dari kaca mobil. Sakura sedang duduk dengan bosannya, ia mengerucutkan bibirnya dan melipat tangannya. Secepat kilat Mebuki mengambil kamere dari tas tangannya dan..
"Cklik!"
"Kenapa ibu tertawa? Ibu kenapa pegang kamera?"
"Cklik!"
"Ibu sedang memotret? Ibu, ayah kenapa kalian tertawa!?"
"Cklik!"
Dan begitulah mobil yang dikendarai keluarga Haruno bagai mobil disco, tawa menggelegar diseluk beluk mobil . Sampai-sampai tidak ada mobil lain yang berani mendahului mobil keluarga Haruno ini.
•
•
"Ibu! Aku ingin berenang sekarang!". Ujar Sakura menunjuk-nunjuk pantai yang sudah didepan mata.
"Tunggu dulu Sakura, ibu belum memakai tabir surya"
"Huh, ayah dimana?". Tanya Sakura, kalau tidak ada ibu, ayah pun jadi.
"Dia pergi beli es krim, kau mau kan?"
"Hmmm, aku mau!"
"Kalau begitu tunggu sembentar disini ya"
Sakura duduk dengan tenang, menunggu sang ayah datang dan membawa es krim. Namun seorang bocah laki-laki dari radius 20 meter didepannya melambai-lambaikan tangannya ke arah Sakura. Sakura menengok kiri dan kanan. Berharap ia salah lihat dan ada orang lain selain dirinya yang menanggapi lambaian itu. Tapi nihil, tidak ada yang menanggapi bocah itu. Ia menatap bocah itu dari tempatnya berada dan ia masih melambai-lambaikan tangnnya.
Sakura mengarahkan jari telunjuknya menunjuk dirinya, dan ternyata bocah itu mengangguk dan mengoyangkan telapak tangannya seperti berkata'Kesini'.
Sakura sebenarnya ragu-ragu untuk menuruti permintaan bocah itu, ia menolehkan kepalanya menengok ibunya. Ibunya sama sekali tidak begitu memperhatikannya, ia masih sibuk dengan tabir surya. "Mungkin aku akan kesana sembentar dan segera kembali sebelum ibu menyadari bahwa aku pergi'.
Sakura beranjak dari tempat ia duduk, ia berjalan menginjit-injit agar ibunya sama sekali tidak mendengar langkah kakinya. Ia lewati kerumunan orang yang berlalu lalang, tujuannya hanya satu. Ke tempat bocah itu berada. Setelah sampai ditepi pantai Sakura mulai mencari sosok keberadaan bocah yang memanggilnya itu. Namun ia sama sekali tidak menemukannya, jadi ia memutuskan untuk kembali saja ke tempat ibunya.
'Zreppp!'
Lengan Sakura ditarik oleh bocah yang memanggilnya tadi.
"Akhirnya kau datang juga, aku sudah sangat lama menunggumu"
"Be-benarkah?.. Maaf kalau begitu"
"Ayo kita pulang, ayah dan ibu sudah menunggu"
Kening Sakura mengkerut."Hahhh, tapi orangtuaku ada di-UUUWAAAA"
Tiba-tiba bocah itu langsung menarik Sakura dengan cepatnya masuk ke dalam air,menarik Sakura sampai ke bagian yang cukup dalam untuk anak-anak. Dan tarikan itu lepas begitu saja juga bocah itu menghilang seperti buih dilautan.
"Ikhh.. Bu.. Torrrnn.. ongr.. akruuuu.. "
Sakura kecil berusaha sekuat tenaga untuk naik ke permukaan, tapi ombak yang besar seakan-akan membawanya lebih jauh dari bibir pantai. Apa yang bisa dilakukan anak 5 tahun sepertinya?
'Ayah.. Ibu"
•
•
2 years latter
•
•
"Sakura!"
"Hahhh?". Kelopak mata gadis kecil bersurai pink itu segera terbuka sepenuhnya dan memperlihatkan emeraldnya pada dunia. Tapi, kenapa ia berada disini? Apa ini surga? Sepertinya bukan. Kalau ini surga dimana kamisama?
Gadis kecil itu bangun dari posisi tidurannya, badannya terasa sakit semua. Ini ranjang atau batu sih?. Dengan segera ia mengambil posisi duduk, matanya sibuk memperhatikan sekelilingnya. Sepi, tidak ada orang. Ia sendirian diruangan ini, hanya ada termos yang mengeluarkan uap menemaninya diruangan sepi ini.
'Clikk'
Gadis kecil itu menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Seorang bocah bersurai merah meloncat masuk lewat jendela ruangannya. Ia memiringkan kepalanya.'Siapa bocah tampan ini?'.
"Heii, jadi kau sudah bangun Sakura?". Bocah itu tersenyum memperlihatkan deretan gigi pepsodentnya.
Gadis kecil itu tersentak, apa bocah itu mengenalnya?
"Aku akan keluar sebentar". Bocah itu meloncat dengan mudahnya keluar ruangan lewat jendela. 'Apa dia tidak melihat pintu ini'. Gumam Sakura mengalihkan pandangannya pada pintu diruangnnya.
'Braaaakkkk!'. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan menimbulkan suara yang ukup keras, jantungnya serasa lepas dari tempatnya.
"Sakuraaa!". Seorang wanita paruh baya berlari dan menarik gadis kecil itu kedalam pelukannya."Ya ampun, aku khawatir sekali. Kau baik-baik saja Sakura?". Tanya wanita tua itu sembari menyibakkan poniku ke atas.
"Nenek, hentikan. Kau bisa membunuhnya!". Bocah bersurai merah itu datang lagi lewat jendela, apa ia tidak lihat pintu ruangan ini terbuka lebar?
Wanita tua itu melonggarkan pelukannya, dan mengalihkan perhatiannya pada bocah itu."Dasar cucu kurang ajar, akan kuhajar kau nanti". Ancam wanita tua itu.
Bocah itu langsung meringis mendengar ancaman neneknya, mungkin.
"Ano. Kalian siapa?". Tanya gadis kecil itu.
"HAAHH?!"
•
Pinky's Diary1
•
Namaku Haruno Sakura. Umurku 7 tahun. Aku mungkin saja terkena amnesia, aku sama sekali tidak bisa mengingat masa laluku, dan berapa kalipun aku berusaha mengingatnya. Rasanya hati dan kepalaku benar-benar terasa sakit. Seakan-akan semua anggota tubuhku menolak untuk mengingatnya. Namun yangku ingat, aku punya masa kecil yang sangat bahagia. Tapi, mungkin itu semua berubah saat aku berumur, hmmm. 6 atau 5 tahun. Kira-kira 2 tahun yang lalu. Ahh sudahlah.. Oyasumi^^
•
Flashback: 2013/ END
•
"Ano.. Gaara, Naruto.. Bagaimana dengannya? Dan apa yang terjadi pada Sasuke? Kenapa kau menghentikan ceritamu?"
Gaara pusing tujuh keliling, ia berbicara sampai mulutnya berbusa-busa, dan ini balasan yabg didapatnya? Dasar perempuan.
"Aku hanya tidak tahu lanjutannya, mungkin saat Shion pergi, perang langsung dimulai atau Anrokuzan mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan"
Sakura mengernyitkan keningnya."Maksudmu?"
Gaara menggaruk belakang kepalanya, bukannya gatal. Ia bingung."Yahh, kau tahulah begitu". Jawabnya asal, otak pintarnya memang tidak berguna menghadapi perempuan.
"Lalu, Naruto! Sasuke!". Tanya Sakura lagi.
Gaara merasa pusing dengan pertanyaan yang datang mendesaknya, untung saja ia tidak punya kekasih.
•
Gaara POV/
•
Aku tidak bisa bergerak, sial! Bergerak, bergerak, bergeraaakkk! Sasuke baka! Kenapa dia mendorongku jatuh menimpa batu, sialnya aku juga ditimpa batu. Mungkin kaki kiriku patah, tapi bukan berarti aku bisa santai-santai saja disini. Malam ini dinginnya benar-benar menusuk kulitku. Dan ada rasa pedas dikepalaku, mungkin ini karena benturan saat aku jatuh tadi. Untung saja aku masih dibiarkan hidup.. Kamisama arigatou. Perlahan-lahan mataku menutup sedikit demi sedikit, dan sepenuhnya tertutup.
1
2
3
4
5
'Dummmm!'
Kelopak mataku segera terbuka, suara dentuman yang cukup keras. Apa mungkin ada sesuatu yang jatuh dari atas. Aku langsung dan bergerak ke asal sumber suara. Tunggu dulu, aku bisa bergerak?
"Aaaaaahhhuuuwwwwww". Rasa sakit dikaki kiriku terasa tiba-tiba, aku langsung jatuh terbaring. "Sial!". Berapa kali pun aku mengumpat, itu percuma saja. 'Aku harus bangkit, bagaimana kalau itu Sasuke?'
Aku bangkit perlahan dan berdiri dengan bertumpu pada kaki kananku. Yang kulakukan sekarang hanya menyeret kaki kiriku, yahh sekarang siapapun yang melihat ini kalian boleh menertawakan pengecut sepertiku.
'Suaranya tadi dari arah sana'. Aku berjalan dengan susah payah melewati pepohonan dan semak-semak berduri.'Cih, sial!'. Gumamku sembari mengibas-ngibaskan tanganku menghalau ranting pohon yang bisa saja menusuk mataku.
Dari arah jam 2 samar-samar aku melihat kaki manusia. Mataku membulat."SASUKEEEE!". Kupercepat langkah kakiku, tidak kuhiraukan duri semak-semak yang menggores kulitku, atau ranting pohon yang berkali-kali menampar wajahku.
'Bughhhh!'
Sial, aku harusnya memperhatikan langkahku. Kaki kiriku sudah patah tertimpa batu, sekarang kaki kananku yang menendang akar pohon.'Siaaalll!'. Daguku menyentuh tanah, aku bisa merasakan bagaimana dinginnya tempat ini sekarang.
Kukepalkan tanganku kuat-kuat, sangat sult bagiku untuk bangkit dan berjalan lagi. Namun, setelah kupikir-pikir.. Aku masih punya 2 tangan yang masih utuh walau sudah lecet dimana-mana.
'Aku harus merangkak! Yahh, aku harus merangkak.. Aku harus merangkak'. Tanah yang kulewati makin lama makin terasa dingin, untung ini bukan air.
'Jressshhhh!'
Jutaan, hmmm.. Miliaran butiran-butiran Kristal jatuh menghujani bumi. "Apa hujan! Kenapa tiba-tiba!". Kataku histeris, sial.. Malam semakin dingin saja! Kenapa harus terjadi disaat seperti ini?
'SASUKEEE!'
•
•
"Jadi apa Sasuke baik-baik saja?"
"Hm.. Keadaannya jauh lebih baik dibanding aku, ia jatuh menimpa dedaunan pohon yang berguguran tapi, luka batinnya sampai sekarang malah makin parah"
"Apa maksudmu Hina-"
"Tadaima". Sasuke tiba-tiba saja masuk kedalam gubuk ini, apa ia segera datang karena kami membicarakan tentang dirinya dan hampir melenceng ke Hinata. Dan aku sama sekali tidak mendengar langkah kakinya!
"Okaeri". Jawab Sakura, apa gadis ini masih menyukai bocah pantat ayam ini?. Aduh maaf Naruto, ampun! Mulutku makin tidak bisa dijaga saja.
"Kau sudah bangun Sakura? Apa kau merasa baikan?". Tanya Sasuke sembari melangkah dan duduk didekat kami.
"Apa kau menemukan Naruto?". Tanya Sakura, mengalihkan pembicaraan. Mungkin baginya Naruto masih segalanya untuknya.
"Hnn, aku masih belum menemukan apapun, sial! Padahal aku yakin dia ada disekitar sini"
"Bagaimana kau bisa seyakin itu?". Tanya Sakura lagi, wanita memang banyak bertanya.
"Itu hanya opini, bukan fakta.. Apa Gaara tidak menceritakannya padamu?"
"Tidak semuanya". Ucapnya santai.
"Heiii, apa maksudmu.. Aku memberitahumu tentang yang kutahu!". Ralatku buru-buru.
"Kau tidak memberitahuku tentang Naruto". Terang Sakura berdecak pinggang.
Aku mendesah pelan, dasar perempuan.. Kenapa aku selalu memusingkan kaum hawa ini!
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah pintu gubuk."Ia menjatuhkan dirinya ke dalam jurang dan mungkin saja ia hanyut terbawa arus sungai yang terletak didalam jurang itu
"yang kulakukan sekarang adalah mencari sungai dan mengikut arah arusnya, siapa tahu bocah rubah itu ada disana"
Sakura diam mematung. Ia menolehkan kepalanya ke arahku, dan menundukkannya."Kau membuat kesimpulan yang bodoh!"
Aku tersentak, apa maksud gadis ini?
"Maksudnya, kau terlalu cepat mengambil kesimpulan". Ujar Sasuke, seakan-akan ia sedang membaca pikiranku.
"Naruto belum mati, BAKA!". Sakura meloncat dan menyerangku secara membabi buta. Tapi aku tidak bisa melawannya, kanapa? Karena aku pria sejati.
Samar-samar kulihat Sasuke tersenyum.'ia sedang menertawakanku, huh' desahku.
"Aaauuuuuuuwwww, kau ini perempuan atau iblis sih!". Kutampar pipiku segera setelah kata-kata itu muncul dari bibirku.'Dasar mulut kotor'. Rutukku berkali-kali. Dan sepertinya, ucapanku sukses membuat Sakura naik pitam.
'Ibu, ampun'
•
•
Gaara POV/ END
•
•
"Kau tidak mau mampir ke dalam dulu Naruto?"
"Hm, tidak.. Wanita itu sangat sensitive kalau aku terlambat sedikit saja""
"Baiklah, sampai jumpa besok Naruto"
Naruto mengembangkan senyumnya menutup pertemuan mereka untuk hari ini, Naruto ia lajukan kencang mobilnya. Tiba-tiba ia menginjak rem mobil.
"Sial, aku lupa minta nomor teleponnya!"
•
•
"Tenang Karin, kau tidak perlu gugup untuk menghadapi kucing jalanan seperti Sakura". Karin menghela nafasnya dan menghembuskannya. Ia menunggu agar mobil Naruto pergi dari halaman rumahnya dan sekarang hanya tinggal dia dan Sakura. Misi dimulai!
•
"Apa Yang Terjadi Sebenarnya?"
•
"Dan, apa yang akan terjadi selanjutnya?"
•
The End/
•
HC/N:
Hai-Hai-Hai^^ Hikaroo balik lagi minna! Awalnya Hika pengen update tanggal 31 Desember tahun lalu, tapi persiapan belum 100% selesai. Yap, 2013 no it's 1914 resmi tamat, dikarenakan judul dari fic Hikaroo ini, tapi bagi yang belum puas dengan fic Hikaroo kali ini. Hikaroo akan melanjutkannya dalam season ke-2 di musim ke-2# Jiaaahhh!.
Ok, masuk pada topik: Sebagian besar adegan di chap kali ini adalah flashback, dalam pengetikkan chap 8 ini, banyak pemotongan kilas balik pada tahun 1914 dan 2013. Semua akan di ungkap dalam Season ke-2 dari 2013 no it's 1914.
Ika musume!
Ada yang tahu Ika museme. 'Cumi-cumi-cumi-cumi-cumi-udang-udang-udang-udang-udang-udang'. Yapp, anime ini tidak lain adalah 'Shinryaku Ika musume' atau bahasa kerennya 'Squid Girl'^^
Gaara
Pada chap kali ini Gaara Hika buat OOC, kenapa? Karena actor yang tersisa untuk memainkan peran pria putus asa hanyalah Gaara #WHAT THE?!
SARA
Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa terjadi pada Sara dan kenapa sikapnya bisa berubah saat Naruto tidak ada. Kenapa? Semua akan terungkap di Season ke 2 dari fic 2013 no it's 1914#Promosi?
Boneka
Mungkin ada yang masih bingung, Sara gadungan menggunakan boneka kutukan atau biasa kite kenal boneka voodo. Sara gadungan membuat 4 boneka yang diantaranya adalah Jiraiya, Sara, Gaara dan Sasuke. Dan 2 diantaranya sudah meninggal. Hikaroo pastikan minna sudah tahu, tapi ada yang tahu kenapa? Semua akan Hika bahas di season ke-2 blablablablabla#?
Naruto
Ada yang tahu kenapa Naruto melemparkan kunai ke arah Jiraiya? Silahkan ditebak^^
Shion
Sebagian besar kilas balik tahun 1914 itu banyak menceritakan posisi Shion, dan akhirnya Shion diasingkan. Jangan salah paham minna, Naruto memang mengatakannya pada publik seperti itu. Akan tetapi sebenarnya Shion itu dibebaskan bukan diasingkan, ia bebas pergi kemana pun dan tinggal dimana pun tanpa ada kekangan dari aturan klan Uzumaki.
Mebuki
Upsss, apa peran nyonya besar sudah diketahui.. Yahh, kita lihat saja di Season ke-2 blablablabla#Promosi?
Supernatural
Hei ada adegan Supernatural di fic ber-genre Romance & family. Kenapa? Anak-anak biasanya sangat dekat dengan kegiatan Supernatural dikehidupan sehari-harinya karena hati mereka yang masih polos, begitu juga dengan Sakura kecil^^
Pinky's Diary
Apa itu? Itu hanya catatan kecil Sakura yang ditemukan oleh Sasori tentang kehidupan sehari-harinya saat ia tinggal di Jerman, dan sampai ia pindah ke Jepang sekarang^^
Flashback 1914: Gaara menceritakan apa yang terjadi selama Sakura terbaring tak sadarkan diri pasca tenggelam didanau saat pertengkaran hebat dengan Yugao dkk.
Flashback 2013: Sasori menceritakan tentang riwayat hidup Sakura pada Akatsuki.
Tapi, Hikaroo ingin bertanya bolehkah? Apa minna menyadari setting waktu dalam fic Hika ini?
Hikaroo mengucapkan banyak terima kasih pada readers dan silent readers, followers, dan untuk kalian yang sudah menandai favourite juga mereview di fic Hikaroo^^ Dōmo arigatōgozaimashita!
Special thanks for reviewer:
Dear God
Akemi Namikaze no Yoru
OhhunnyEKA
Uzumaki Mikado
Sakura Hime
gui gui M.I.T
Aurora Borealix
Beauty Rose
Arisaaoi
Tuama
Uchiha Harry
Mistic Shadow
Manguni
Sai Akuto
dikdik717
ajie bagas 9
Nagasaki
Riri26
Namikaze Misaki
Nabila Chan BTL
ghinapink
Emeraldsappire
Rumi Koshikawa(Rumi/ Black Flower)
Akira(namikaze yondaime)
Fumiko Miki Nasa
Bagi nama reviewer yang Hika beri tanda kurung. Hika yakin kalian adalah orang yang sama.. Arigatou atas review kalian minna! Reviewkalian inspirasi untuk Hika^^
Special thanks too for Following and Fovorites:
3Blades
Akiko Rin
Arisaaoi
Aurora Borealix
Dear God
Mistic Shadow
fajar jabrik
ghinapink
Nabila Chan BTL
Nivarox
Sai Ikuto
ainur rofick3
ajie bagas9
arisa kk
dattebayonaruto
OhhunnyEKA
Arigatou minna mengikuti dan meng-favorit fic Hika. Semua kerja sama kalian adalah semangat untuk Hika^^
Dan juga untuk para Guest dan silent reader.. Arigatou^^
Sampai jumpa diseason ke-2^^
Special thanks to the read
Special thanks to review
Hikaroo Cherryn^^
Jaa ne minna^^
