BAB 2

"Litheas yang tumbuh baik adalah seperti ini."

Keesokkan harinya di ruang kaca kelas herbologi. Profesor Sprout menjentikkan tongkat sihirnya secara perlahan. Tanaman berbunga itu tercabut dari tanah dan terangkat setinggi jangkauan pandang para murid.

Gadis itu mengamati tanaman itu dengan seksama dan ia bisa melihat bentuknya tidak sama seperti apa yang dilihatnya dalam buku. Atau setidaknya belum sama. Bunga yang berada di rumah kaca ini masih berupa kuncup kehijauan. Bentuknya memang seperti tanaman bunga pada umumnya, namun batangnya lebih berwarna hijau kecoklatan. Jika sudah mekar, kelopak bunganya akan sebesar bunga matahari. Warnanya lebih jingga.

"Tanaman ini berumur satu tahun. Adakah yang dapat menjelaskan kegunaan litheas?"

Mudah. Sangat mudah, sebenarnya.

Hermione mengacungkan tangannya ke udara. Tak ada yang heran ketika ia melakukannya untuk ke sekian kali pada hari itu.

"Lithelas mempunyai banyak kegunaan," mulainya. "Salah satu fungsinya sebagai obat penangkal racun yang sangat mujarab. Pada jaman dahulu, litheas mudah didapatkan. Namun sekarang, tanaman itu mulai jarang karena pemukiman semakin banyak. Para ahli juga sudah menemukan tanaman yang lebih efektif, sehingga tingkat kebutuhannya pun berkurang."

"Bagus sekali, Miss Granger. Sepuluh angka untuk Gryffindor," kata Profesor Sprout lalu mengembalikan akar tanaman itu ke dalam tanah. "Seperti yang Miss Granger katakan, tanaman ini mulai jarang karena pemukiman semakin banyak. Sayang sekali, padahal mereka bisa melihat peri hutan."

"Peri hutan, Profesor?" Seamus yang bicara.

Perempuan itu mengangguk, "Ya, Mr Finnigan," responnya. "Siapa yang sudah pernah melihat peri hutan?"

Hermione pernah mendengar cerita rakyat sihir tentang peri hutan. Konon dulu peri hutan sebesar manusia. Mereka juga beradab dan berbudaya seperti manusia. Kemudian ada seorang peri perempuan yang tercantik dari bangsanya jatuh cinta kepada seorang raja manusia. Peri perempuan itu mengingkari takdirnya untuk pergi ke dunia para peri mengikuti kaumnya, lalu menikahi sang raja manusia. Ia bersama peri-peri lain yang menjadi pelayan-pelayan setianya tinggal di bumi. Seiring kebesaran dan keabadian para peri yang sirna, mereka pun tinggal bersembunyi di hutan dalam dunia mereka sendiri. Tubuh mereka menyusut hingga seperti saat ini.

Profesor Sprout memegang salah satu litheas yang telah berbunga lalu menunjukkan kepada para murid dengan antusias. "Peri hutan menjadikan litheas sebagai rumah. Peri hutan tidak menyukai keramaian karena itulah mereka ingin jauh dari pemukiman. Bisa kalian bayangkan betapa mungilnya makhluk-makhluk lucu itu jika bisa muat dalam tempat sekecil ini?"

Dengung antusias memenuhi udara dan dihiasi mata-mata yang ingin tahu.

"Para peri akan tidur dalam kuncupnya ketika siang dan mereka keluar pada malam hari. Apabila litheas ini tumbuh dengan baik, pada malam harinya bunga-bunga ini akan mekar dan berpendar."

"Profesor," Ron menunjuk kuncup athelas, "apakah di dalam situ ada…"

"Tidak ada peri hutan dalam bunga ini, Mr Weasley," jawabnya dengan senyum.

Profesor Sprout berjalan ke arah sebuah lemari kaca di sudut rumah kaca itu lalu mengeluarkan sebuah toples kaca penuh berisi biji-bijian berwarna coklat. Senyumnya pun semakin lebar sembari ia memeluk toples tersebut seperti hartanya yang berharga.

"Nah, saya berikan sejumlah bibit lithelas untuk kalian tanam nanti. Ini yang akan menjadi proyek kalian sampai awal musim semi," katanya. "Semoga ini bisa membunuh rasa keingintahuan kalian saat melihat litheas mekar nanti."

Desah pasrah langsung memenuhi ruang kaca. Bisik-bisik para murid segera saja berubah menjadi dengungan di dalam sana.

"Mendadak saya tidak ingin tahu…," tukas Dean.

Profesor Sprout menjentikkan tongkat sihirnya ke arah lantai kosong di belakangnya dan lantai itu segera dipenuhi pot-pot tanah liat berukir aneka bentuk dan kondisi. Tingginya sekitar tiga puluh sentimeter dan masing-masing sudah berisikan tanah setinggi tiga seperempat bagian. Kemudian ia menginstruksikan kepada para murid untuk masing-masing mengambil sebuah pot. Para murid pun segera berebut pot-pot dengan warna favorit mereka.

Hermione tetap berdiri sabar untuk menunggu kerumunan itu membubarkan diri. Akhirnya ia memperoleh pot retak berwarna jingga, Harry memperoleh pot berwarna hijau dan Ron berwarna biru tua. Mereka kembali ke bangku untuk menunggu instruksi Profesor Sprout selanjutnya.

Profesor Sprout menjentikkan tongkatnya lagi ke arah toples. Biji-biji itu terbang ke luar toples kaca itu menuju para murid. Hermione mengangkat telapak tangannya dan biji-biji mendarat pelan di atas telapaknya.

"Kalian masing-masing mendapatkan 20 bibit lithelas untuk ditanam," ujar perempuan itu. "Hati-hati, cara merawatnya tidak sembarangan. Kalian bisa membaca cara menanam dan merawatnya dalam buku. Ada yang tahu ada di bab berapa?"

Hermione mengangkat tangannya. Ia mendapati lagi bahwa hanya dirinya yang mengacungkan jarinya.

Demi Merlin, apa tak ada yang pernah baca buku?

"Bab dua, Profesor."

"Benar, Miss Granger," sahutnya. "Mungkin kau juga tahu ada di halaman berapa?"

"Halaman dua ratus dua belas."

"Kau tidak pernah gagal membuatku terpana, Miss Granger. Sepuluh poin lagi untuk Gryffindor," ujar perempuan itu. "Nah, cara menanam lithelas secara lengkap dapat kalian pelajari di buku Tanam dan Tuai pada bab dua halaman dua ratus dua belas.

"Waktu tanam yang baik adalah musim gugur ini, sehingga lithelas kalian dapat mekar sempurna pada awal musim semi nanti. Proyek ini akan menjadi nilai tengah semester dan kalian hanya perlu memperlihatkan satu tanaman yang tumbuh paling sempurna untuk dinilai. Segeralah menanam sebelum musim gugur ini berakhir. "

Tepat saat itu lonceng berbunyi.

Perempuan itu menambahkan, "Setiap pelajaran kalian jangan lupa meminta pupuk kotoran kelelawar padaku. Dan tanyakan saja apabila menemui kesulitan." Lalu profesor Sprout membereskan alat-alat miliknya dan para murid sibuk berbenah.

Hermione, Ron, dan Harry tergogoh-gopoh membawa pot itu ke ruang rekreasi Gryffindor. ("Minggir, minggir!" seru Ron ketika melewati segerombolan orang untuk memberinya jalan lewat). Mereka tak boleh sembarangan memakai sihir di koridor sekolah seperti yang tertulis di buku peraturan Hogwart. Hal itu jelas menyulitkan saat hendak menaiki tangga. Apalagi ada momen nyaris tersungkur ketika salah satu anak tangga tiba-tiba hilang secara sihir. Hermione tak melihatnya karena sibuk menjaga keseimbangan, namun beruntung Harry mengingatkan gadis itu sebelum menapak di atasnya.

Mereka tiba di depan lukisan Nyonya Gemuk, namun tertahan lagi saat melihat beberapa murid kelas satu berdiri di sana. Mereka bisa melihat ekspresi tersiksa pada wajah anak-anak itu saat berdiri mendengarkan nyanyian perempuan gemuk itu. Mereka menatap Hermione, Ron dan Harry dengan penuh harap bahwa mereka bertiga akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkan gendang telinga mereka.

"Lebah menderu," Hermione berkata.

Wajah nyonya Gemuk malah bertambah antusias ketika melihat kerumunan baru itu. "Oh, kalian juga harus mendengarnya."

"Lebah menderu," ulang Ron.

Nyonya Gemuk mencibir dan menatap Ron dengan kesal, namun perempuan itu tetap mengayunkan lukisannya. Anak-anak mendesah lega dan memberikan pandangan terimakasih pada Ron. Hermione tidak lebih bersyukur lagi karena tangannya sendiri sudah kaku dan terasa mati rasa membawakan pot itu tanpa berhenti.

Hermione, Ron dan Harry menaruh pot-pot itu di atas karpet, lalu mereka menghempaskan diri ke atas sofa. Harry melonggarkan dasinya karena kepanasan. Hermione melepaskan jubahnya dan melemparnya ke sofa kosong terdekat. Ginny yang sedang berbincang-bincang dengan teman sekamarnya dan terheran melihat ketiga orang itu dengan barang bawaan yang tidak biasa. Ia menghampiri mereka seraya mengangkat alis.

"Apa yang kalian bawa?" katanya sambil memperhatikan pot-pot itu.

"Proyek pelajaran herbologi kami sampai awal musim semi," kata Hermione sambil menunjuk pot-pot itu.

"Mau ngapain?" gumam Ginny seraya mengernyitkan dahi. "Berkebun?"

"Menanam litheas," Ron menghela napas seraya menghempaskan diri di atas sofa di samping Harry. "Mengapa dia repot-repot menyuruh kita menanam litheas. Tidak ada yang ingin menjadi pekebun di sini."

"Well, paling tidak tugasmu lebih menarik daripada tugas dari Hagrid kemarin," ujar Ginny. "Yeah, merawat cacing bersisik tidak ada yang ingin menjadi babysitter cacing bersisik kelabu di dunia ini," menggelengkan kepalanya stres. "Dan dia menganggap cacing-cacing itu imut sekali, astaga…"

"Kau belum melihat saat dia menimang-nimang naga…," Harry menimpali.

"Tadi halaman berapa cara menanam litheas?" Ron mengambil buku Tanam dan Tuai dari dalam tasnya.

"Dua ratus dua belas," sahut Hermione.

"Lithelas?" tanya Ginny sambil mencuri-curi pandang ke atas buku yang dibuka Ron, "Yang ada peri hutannya?"

"Kau tahu?"

"Tentu saja. Di rumah pamanku di Irlandia ada banyak lithelas. Aku bahkan pernah melihat peri hutannya waktu masih kecil," ujarnya mengangkat bahu.

"Di rumah Paman Angier?" sahut Ron. "Aku tak pernah melihatnya."

Ginny menarik senyum di sudut bibirnya. "Kau selalu takut keluar rumah Paman Angier, Ron. Di ruang tamunya banyak sarang laba-laba yang tergantung."

"Aku tidak takut."

Ginny memutar bola matanya. "Hidungmu memanjang, Pinokio."

Semburat merah menjalar di pipinya. "Laba-labanya besar-besar sekali- aku tidak bohong," katanya meyakinkan. "Kakinya dua belas!"

"Laba-laba memang berkaki banyak, Ron."

"Bisakah kita kembali ke topik?" gerutu Ron. "Hermione lebih ingin tahu tentang peri hutan."

"Kau menyedihkan," sahut si adik.

"Masih ada peri hutan di sana?" tanya Hermione—walau masih menertawakan debat kucing-anjing itu.

"Entahlah, sudah terlalu lama tidak ke sana," jawab Ginny. Lalu memandang kakaknya, "Kapan terakhir kita ke Paman Angier? Lima-enam tahun yang lalu? Yang terakhir pun rasanya aku sudah semakin jarang melihat."

"Aku belum pernah lihat," sahut Harry.

"Aku ingin lihat…," kata Hermione.

"Bagus sekali- kalian harus melihatnya," gumam Ginny yang membuat rasa penasaran Hermione semakin menjadi-jadi. "Mereka seperti manusia kecil dengan sayap kupu-kupu transparan. Pada malam hari mereka terlihat bersinar seperti kunang-kunang."

Peri hutan. Seberkas ide terlintas di benaknya.

"oke, mari kita melakukannya," sahut Ron menghela napas panjang. "Tanamlah bibit lithelas sedalam lima ruas jari," membacakan langsung dari buku. "Sepertinya tak sulit."

"Dengan apa kita akan menggali?" tanya Hermione. "Pinjam sekop Hargrid?"

"Kau repot sekali," ujar Ron lalu tangannya mengambil sendok di atas meja. "Dengan ini saja?"

"Itu sendok untuk makan, Ron."

"Nanti juga akan dicuci peri rumah."

Ron segera menggali permukaan tanah hingga mencapai kedalaman yang cukup. Harry dan Hermione bangkit dari sofa lalu mengikutinya dengan saling bergantian menggunakan sendok itu. Lalu Ron dan Hermione memasukkan bibit-bibit itu dengan menyebarnya sekaligus.

"Jangan terlalu dekat jaraknya," tegur Hermione. "Beri sedikit ruang pada masing-masing bibit untuk akar."

"Ya, mummy," dengus Ron.

Harry dan Ron memperbaiki cara menanam mereka tanpa berkata apa-apa. Laki-laki memang payah dalam urusan ketekunan. Kali ini mereka melakukannya tanpa sendok, sehingga membuat karpet itu menjadi kotor oleh tanah-tanah yang berceceran. Ginny berusaha membantu kakaknya, namun Ron malah menyuruhnya diam dan bilang ia bisa melakukannya sendiri. Ginny memutuskan untuk menolong Harry, merapikan tanah dan letak bibit di atas tanah. Kemudian mereka menimbun bibit itu dengan tanah lagi.

Hermione hanya memasukkan empat butir. Berusaha tak dilihat teman-temannya, ia menyelipkan sisanya ke dalam saku.

Setelah selesai dengan kesibukannya sendiri, Ron mengambil buku Tanam dan Tuai lagi tanpa mempedulikan keadaan tangannya. Kini buku itu pun kotor dengan noda kecoklatan. Wajahnya serius membaca setiap instruksi.

"Air pertama untuk menyiram harus disinari bulan purnama pada malam sebelumnya." Ia berpikir sejenak lalu memandang Hermione. "Jadi, menunggu airnya disinari bulan purnama?" tanyanya.

"Hah? Bagaimana tadi?" tanya Harry seusai berkutat dengan tanahnya.

"Tertulis di buku ini," gumam Ron seraya memberikan buku itu kepada Harry. Sekarang buku itu dua kali bertambah kotor di tangan Harry. "Harus disiram air yang sudah disinari bulan purnama."

Ginny mengangkat bahu. "Well, sebentar lagi memang bulan purnama."

"Berarti tinggal tunggu besok atau lusa," sahut Hermione. "Kini tinggal merawatnya saja."

Ron membaca bukunya lagi. "Setelah disiram oleh air untuk pertama kalinya, lithelas boleh disiram dengan air biasa setiap pukul empat sore lewat dua puluh tiga menit selama tiga minggu awal mereka tumbuh," gumamnya. "Detil yang menjengkelkan- tapi mudah."

"Mudah," Harry menyetujui. Ia menepuk-nepuk kedua tangannya yang membuat butir-butir tanah jatuh dan semakin mengotori karpet.

Mereka tergopoh-gopoh membawa pot-pot itu ke balkon kecil di sisi menara lalu menjejerkannya menyamping. Hanya tempat itu yang paling sering disinari cahaya matahari sepanjang hari. Belum ada pot-pot dari Parvati, Seamus dan lainnya, jadi sepertinya mereka belum memulai penanaman. Atau mungkin menaruh pot di tempat lain—entahlah.

"Selesai," sahut Hermione puas.

"Berarti aku bisa bersiap ke lapangan Quidditch," sahut Harry.

"Latihan lagi?"

"Yep."

"Kau sangat penuh dedikasi," komentar Ginny.

"Well, teknisnya ini bukan masalah dedikasi, melainkan masalah hidup dan mati. Karena jika kalah, aku bisa digantung seisi asrama Gryffindor," ujar Harry datar, segera beranjak ke kamar anak laki-laki untuk mengambil sapu. "Sampai jumpa makan malam, teman-teman. Sisakan aku."

"Aku juga pergi dulu," sahut Hermione sambil membereskan tas dan peralatannya.

"Kenapa jadi pergi semua?" tanya Ginny setengah menggerutu. "Ke perpustakaan?"

"Er- ya."

"Wah wah… semua pergi," sahut Ron berdecak.

"Jangan ngambek," seloroh Hermione memutar bola mata. Lalu ia mengambil jubahnya yang tergeletak di atas sofa. "Sampai jumpa saat makan malam."

Hermione melambai sebelum keluar melalui lubang lukisan, lalu melewati tangga bergerak yang penuh dengan murid seusai kelas. Hari menjelang sore. Semakin banyak murid yang gelisah menunggu jam-jam pelajaran berakhir. Senda gurau dan obrolan semakin banyak mengudara.

Peeves melayang di udara dan tampak menjahili anak-anak tahun pertama. Ia membuat dirinya tak terlihat, lalu mengambil tas salah satu anak dan melayangkan di udara. Hermione menyipitkan mata dan mengancam akan memanggil Baron Berdarah. Tapi tentu ia tidak lagi takut dengan ancaman itu. Ia pasti sudah kebal setelah bertahun-tahun banyak orang yang memberikan ancaman yang sama. Hanya kebetulan ketika Baron Berdarah benar-benar datang melintas. Hanya dengan sosok diam yang melayang, Peeves pun pergi meninggalkan mereka dengan kalang-kabut. Setelah itu Hermione berbelok menuju jam besar dan menuruni tangga-tangga kayu sampai bawah.

Perlu segenap hati baginya untuk tidak mengacuhkan keberadaan segerombolan pemuda Slytherin yang menggoda dan bersiul kepadanya ketika ia melewati tangga-tangga menara jam besar. Oke, kadang ia memang menikmati semua pandangan kepada dirinya. Namun, jika dari Slytherin, semua terasa memuakkan.

Apalagi jika tidak ada pemuda itu.

Hermione ingin Draco Malfoy menyadari kehadirannya. Ia akan senang apabila pemuda itu ada ketika teman-teman Slytherinnya menggoda gadis itu. Ya, hanya untuk mencekoki kepalanya yang arogan bahwa Hermione ada dan teman-temannya mengakui. Ia ingin menunjukkan betapa menyedihkan teman-temannya dan bahwa ia lebih dari sekadar darah lumpur yang diejeknya setiap saat. Bahwa ia telah tumbuh menjadi seseorang yang tak pernah pemuda itu bayangkan.

Gadis Gryffindor itu melangkah keluar kastil melintasi jembatan. Ia memastikan tak ada orang yang melihatnya ketika ia menyelinap ke hutan. Banyak yang akan bertanya-tanya apa yang dilakukannya di dalam hutan karena di sana tidak ada perpustakaan yang tadi disebutnya kepada Ginny.

Karena gadis itu sedang memiliki rencana.

Senyum tipis terulas di bibirnya saat melewati pohon Dedalu Perkasa yang pernah dilihatnya saat tahun ke tiga bersama Harry dan Ron. Satu malam dan segalanya langsung berubah. Terowongan itu gelap dan menyimpan kenangan buruk saat mereka harus menghadapi masalah dengan Peter, Sirius dan Remus. Maka ia tidak akan menggunakannya.

Ia melewati akar-akar yang melintas di jalannya. Tongkat sihirnya siap tersedia apabila ia menemui rintangan di jalan. Bagaimanapun juga imej Hutan Terlarang memang sudah melekat; bahaya, hewan buas dan kegelapan. Tapi, Hermione sudah percaya pada kemampuannya sendiri untuk menghadapi hal-hal semacam itu. Suatu waktu bahaya memang masih menghadang. Namun, kemampuannya sudah terbukti setelah beberapa kali bahu membahu dengan kedua sahabatnya. Kemampuan itu telah membawanya ke tahapan rasa percaya diri yang pantas ia peroleh.

Hutan itu begitu indah pada waktu terang. Pepohonan raksasa yang tumbuh selama ratusan tahun berdiri rapat. Sinar matahari sulit menembus rimbunan daun dan menciptakan bias-bias yang indah di tiap sela-sela dedaunan. Siapa yang menyangka hutan seindah ini bisa mengundang banyak bahaya. Bahkan mengundang orang-orang seperti Voldemort.

Entah di mana pangeran kegelapan itu sekarang. Masih di suatu tempat dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang dan menebar mimpi buruk. Semoga jika saat itu mereka telah bersiap dengan segalanya. Siap menghadapinya. Ada keindahan yang harus dilindungi dan ada kesederhanaan yang ingin dipertahankan.

Tak lama kemudian Hermione tiba di depan bangunan reyot Shrieking Shack. Tak banyak berubah semenjak terakhir kali ia melihatnya. Ia berdiri kokoh dan masih tampak menyeramkan seperti dulu. Tapi ia tidak memasuki rumah itu, ia melewati halaman sampingnya yang tak terawat dan dipenuhi rumput liar setinggi lutut.

Ia memasuki pepohonan lagi dan beberapa saat kemudian menemukan sebuah padang rumput kecil. Di sampingnya Danau Hitam terhampar luas. Tempat itu tak akan didatangi siapapun. Imej menyeramkan tentang Hutan Terlarang menyebabkan orang lain berpikir dua kali untuk pergi ke sana.

Tapi padang rumput ini terlalu terbuka. Maka ia kembali memasuki pepohonan.

Tak lama kemudian ia menemukan satu tempat yang cukup lebar untuk melakukan rencananya. Tempat ini tepat. Hatinya riang. Lalu gadis itu mengeluarkan bibit-bibit lithelas itu dari sakunya. Senyum pun terulas di bibirnya.


Mereka tertawa pelan saat segalanya berakhir. Aroma seks menguar di utara. Draco masih terengah ketika menarik dirinya lalu turun dari meja dan membetulkan celananya. Gadis Ravenclaw itu menutup kakinya demi kesusilaannya yang tersisa. Napasnya masih terengah. Rambut kecoklatannya berantakan. Namun wajahnya memerah dengan lelah dan senang.

"Berpakaianlah," kata Draco. "Jangan terlambat afternoon tea."

"Aku tidak keberatan melewati afternoon tea," bisik gadis itu sembari menarik ujung lengan Slytherin itu.

"Aku keberatan." Senyum terulas di sudut bibir Draco seraya mengancingkan kemejanya.

"Baiklah," dengan kikik pelan. "Kapan kita bisa bertemu lagi?"

"Aku akan menemuimu."

Tapi bohong.

Tapi biasanya itu langsung berhasil menutup mulut dan menyenangkan gadis mana pun. Lihat saja, gadis itu kini tersenyum sembari menggigit bibirnya senang. Draco mengucapkan sampai jumpa sebelum beranjak ke pintu kelas kosong itu, meninggalkan gadis Ravenclaw itu yang masih berbenah dengan rok lipitnya di belakang.

Pemuda itu masih mengancingkan kemejanya ketika berjalan melewati koridor lantai dua. Koridor terlihat lebih sepi daripada biasanya. Yeah, karena hampir akhir pekan, semua meninggalkan kelas lebih cepat. (Siapa yang tidak menginginkannya?) Kutu buku menggunakan kelas kosong untuk belajar, Draco Malfoy menggunakannya untuk menghabiskan satu sesi dengan siapapun yang bisa didapatkannya.

Ia melewati menara jam, menuju ke lingkar batu tinggi di ujung jembatan di samping kastil. Hanya terlihat bocah-bocah bermain kelereng di dekat sana. Beberapa belajar bersama—biasanya Ravenclaw (siapa lagi?). Agak jauh dari sana ia bertemu wajah yang telah dikenalnya, Seeker Slytherin Will Harper, ketika melewati jalan setapak dekat lapangan Quidditch.

"Sibuk, Kapt?" katanya dengan seringai. "Ada bekas lipstik di kerahmu."

"Whoa…"

Draco menarik kemeja dan berusaha melihat tanda gincu di kerahnya. Ada bekas gincu di pakaiannya bisa menimbulkan nyinyiran Pansy sepanjang malam. Bukannya Draco peduli apa yang dipikirkan gadis itu, hanya saja siapa yang bisa tahan diri disindir sepanjang malam saat semua orang menginginkan ketenangan.

"Scourgify," terdengar rapalan mantra seeker itu sebelum memasukkan tongkat sihirnya lagi ke dalam saku. "Terimakasih kembali."

Tawa pelan, "Bye," sahut Draco sebelum mereka berpisah lagi.

Draco menunggu sesaat sampai Will berbelok dan masuk ke jembatan panjang menuju kastil Hogwart dan menghilang dari pandangannya. Setelah memastikan tak ada lagi orang di sekitar itu, ia meneruskan langkah lalu keluar dari jalan setapak lalu memasuki hutan.

Pepohonan di hutan cukup lebat. Banyak cemara di satu sisi dan pohon-pohon ek besar di sisi lainnya. Mereka memang tidak terlalu berdekatan, namun setelah puluhan tahun tumbuh dedaunannya cukup lebat untuk menghalangi sinar matahari. Hutan itu tidak sunyi. Seekor kelinci melompat ke arah semak-semak rimbun ketika dirinya melintas. Beberapa pekicau masih bertengger di dahan-dahan tinggi, walaupun matahari sudah menggantung di atas. Jika 'beruntung', terkadang terdengar suara hewan-hewan besar jauh di dalam sana.

Tak lama ia berjalan, pepohonan hutan tampak habis berganti padang rumput kecil dengan sebuah danau. Mata keabuan pemuda itu menyapu padang di hadapannya selama beberapa saat. Tak lama kemudian ia menemukan apa sedang yang dicarinya.

Anjing itu tampak mencolok dengan alam di sekitarnya. Jenisnya husky. Warna bulunya putih-abu-abu yang membuatnya kontras dengan rerumputan tinggi yang kini menguning oleh musim gugur. Draco memandangnya di kejauhan. Kofu—namanya—pasti menyadari sang tuan sudah datang, namun ia tidak menghiraukan tuan muda itu. Mata kehijauan huskynya menatap tajam hewan buruannya—mungkin kelinci. Yeah, laki-laki hanya mau bersenang-senang.

Setelah mendengus tidak diacuhkan oleh anjingnya sendiri, pemuda itu berbaring di bawah sebuah pohon di tepi hutan itu. Kedua tangan diselipkan ke belakang kepalanya sebagai bantalan, lalu memejamkan matanya.

Napasnya pelan. Ia dapat merasakan rumput liar yang panjang itu menggelitik kulit dan wajahnya ketika angin berhembus pelan. Dedaunan yang menggantung di dahan-dahan pohon melindunginya dari sinar matahari siang. Aroma tanah yang khas kini mulai tercium jelas dalam udara musim gugur di sana.

Ini surga.

Tempat itu sempurna. Jauh dari Hogwart, tapi juga jauh dari bahaya hutan terlarang. Takkan ada orang yang mendekati tempat itu saat ia membutuhkan istirahat. Sangat menenangkan.

Lima. Itu yang dilakukannya dengan gadis-gadis yang mampu didapatnya di ranjang dalam satu minggu ini. Secara fisik tidak terlalu melelahkan, namun secara mental— well, siapa yang ingin dirongrong oleh beberapa gadis setelah repertoar mereka. 'Aku akan menemuimu,' janji Draco—yang jarang ditepatinya. Biasanya itu bisa membuat beberapa orang kalap.

Bukan salahnya juga jika semua sesungguhnya sudah mengetahui seberapa nakal dirinya dan mengetahui konsekuensinya. Mereka memiliki mata dan telinga untuk tahu bagaimana kemampuan Malfoy muda itu terhadap lawan gendernya. Ya, mereka yang mengharapkan dirinya dan putus asa olehnya. Jika mereka jatuh dalam perangkapnya, itu bukan salahnya. Siapa yang menyuruh mereka mempercayainya? Tidak ada. Siapa yang menyuruh melibatkan perasaan? Tidak ada.

Perasaan itu terlarang. Draco hanya mencintai diri sendiri. Ia menikmati saat gadis-gadis itu memohon padanya, saling melemparkan rayu dan godaannya. Pansy yang paling ahli. Oh, dia berpotensial. Gadis itu senang bersamanya dan sering menggumamkan namanya saat dirinya mencapai puncak. Yeah, siapa yang tidak senang namanya dilenguhkan seperti memuja dewa-dewa Yunani. Seks seperti olahraga. Olahraga memerlukan bakat. Then kau bisa menyimpulkan sendiri apa bakatnya.

Wusss….…

Angin berhembus, nikmat sekali. Draco nyaris terlelap di sana. Ia merasa sudah tertidur ketika sayup-sayup terdengar suara teriakan seorang gadis. Dalam mimpinya mungkin…

Beberapa detik kemudian, teriakan itu hilang. Lalu suaranya tergantikan oleh suara gonggongan. Awalnya kecil, lalu membesar. Draco mengumpulkan kesadaran dari tidurnya dan menyadari Kofu yang menggonggong dalam hutan. Mungkin ada kelinci yang melintas di jalannya dan membuat anjing itu antusias. Namun ia belum juga berhenti menggonggong.

Kelinci bego, kenapa harus sekarang.

"Tinggalkan makhluk keparat itu- godamit," berkata kepada udara.

Matanya terpejam lagi untuk berusaha kembali ke alam bawah sadarnya, walau akhirnya itu tak berguna. Suara gonggongannya justru semakin keras. Draco menggeram putus asa, mengusap wajahnya.

"Brengsek," umpatnya pelan.

Apakah ada tempat yang jauh dari peradaban di sekitar sini?

Draco berdiri, menepuk pantat celananya dari noda yang menempel, lalu berbalik ke arah hutan menuju gonggongan anjingnya. Ia tahu Kofu takkan berhenti menggonggong hingga mendapatkan apa yang diinginkannya. Pernah ia meninggalkan anjing itu suatu malam ketika ia mengonggongi seekor tupai di atas pohon. Lalu keesokan paginya, dia melihat anjing itu masih berada di bawah pohon. Ia benar-benar menunggu sehari penuh menunggu tupai bodoh itu keluar.

Suara Kofu terdengar semakin keras seiring bertambah dekat dirinya dengan anjing itu. Draco membuka semak belukar, melangkah di atas akar pohon yang menyembul di atas tanah, lalu melihat anjingnya menggonggong di sana. Ia mengharapkan melihat seekor hewan seperti tupai, kelinci atau semacamnya, namun yang dilihatnya ternyata sosok yang lain.

Gadis itu berjongkok di atas pohon, sementara Kofu menggonggonginya dengan riang. Rasa takut tersirat di wajahnya. Draco bisa melihat betapa gugup gadis itu di atas sana.

Sedetik kemudian ia menyadari kedatangan Slytherin itu di sana. Segera saja ia berusaha menyembunyikan rasa takut dari wajahnya dan segera sibuk menarik roknya untuk menutupi pahanya. Draco menatap kulit itu sedetik— lalu gadis itu membenarkan posisinya lagi sambil melempar pandangan galak ke arahnya. Mata pemuda itu kembali ke sosok itu, melihat dirinya tidak berkutik di atas sana. Namun yang jelas ia tahu, gadis itu pasti tidak akan meminta pertolongannya. Tak akan pernah, sebenarnya. Draco tahu pasti karena gadis itu berambut coklat bergelombang yang paling dikenalnya. Matanya coklat madu keras kepala.

Dia Hermione Granger.

Apa-apaan? Apa yang sedang dilakukannya di hutan ini? Apakah ia melanggar lusinan wejangan Dumbledore tua, 'Jauhi Hutan Terlarang karena ada banyak bahaya' atau 'Hutan Terlarang berarti terlarang'?

Granger tersentak ketika anjingnya menyalak. Kegugupan gagal disembunyikannya sebagaimanapun ia berusaha—karena Gryffindor itu pasti takkan sudi memperlihatkan kelemahan di hadapannya. Tak lama kemudian tatapannya kembali kepada Draco.

"Hentikan perbuatanmu," tukasnya galak.

Hah?

Kebingungan menyergap pada awalnya.

Maksudnya? Apa yang telah aku lakukan?

Draco menaikkan sebelah alisnya menatap gadis itu. Lalu perlahan pemuda itu menyadari sang Gryffindor baru saja menuduh Draco atas semua ini—menyuruh Kofu untuk menggonggongi dirinya. Entah berdasarkan apa, mungkin karena tiba-tiba Draco berada di tempat itu pada waktu yang tepat.

Hahaha, kesimpulan macam apa itu.

Senyum timpang terulas di bibirnya. Ia memutuskan tak ingin meluruskan masalah atas apa yang dituduhkan padanya. Apa yang membuat Granger kesal sama sekali takkan membuat dirinya keberatan. Maka jika Granger menganggapnya penjahat, silakan anggap saja dirinya penjahat. Tiada yang peduli. Kini pemuda itu berusaha menikmati yang ada sembari bersandar pada pohon di belakangnya, lalu memasukkan kedua tangan di saku celana.

"Kenapa harus?" sahutnya.

"Hentikan atau aku akan potong poin asramamu."

"Berapa, Granger? Lima puluh? Lalu apa yang akan kau jelaskan kepada mereka?" Draco menimpali. "Kita bertemu di Hutan Terlarang? Oh, mereka akan menyukai ceritanya."

Granger takkan mungkin ingin ada yang tahu dirinya berada di Hutan Terlarang. Ia seorang prefek dan hampir ada tulisan di jidatnya, 'Berikan aku lencana Ketua Murid sekarang juga.' Ia sedang berusaha menjaga citra sampai ia memperoleh jabatan itu pada kelas tujuh.

"Mereka akan tahu kau yang menjadi orang jahat dalam cerita itu," dengus Granger.

"Berani bertaruh?"

Mereka bertukar pandangan menantang. Selama beberapa detik seolah berlangsung selamanya. Pandangan itu terputus ketika Kofu menggonggong lagi dan menyebabkan gadis itu tersentak kaget. Draco tertawa pelan.

"Pergilah ke neraka."

"Kau yakin tidak membutuhkan bantuanku?"

"Siapa yang kelihatan sedang butuh bantuanmu?"

"Kau?"

"Maumu."

Draco mengangkat bahu.

"Gigit dia, Kofu."

Kofu kembali menyalak dengan keras dan membuat gadis itu terkejut. Tapi ia berhasil memegang dahan kecil di hadapannya dan menyelamatkannya dari kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tanah. Sayang sekali.

Wajah gadis itu kini merah padam. Jarang sekali Hermione Granger bisa tampak sekikuk ini. Biasanya tangannya selalu terangkat di kelas, menjilat guru-guru, memastikan dirinya yang menonjol di sana. Well… lihat dirinya sekarang. Ini menyenangkan.

"Brengsek."

"Terimakasih kembali."

Draco menghampiri anjing itu, membungkuk dan menggaruk belakang telinganya. Semua anjing suka digaruk di bagian belakang telinganya. Saat itu pun Kofu diam dalam sekejap.

"Aku sangat penasaran, Granger," ujar Draco tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa kau berada di sana?"

"Bukan urusanmu."

"Karena ini menggelikan."

Wajah gadis itu sudah semerah kepiting rebus.

"Di mana tongkat sihirmu?"

"…," tiada jawaban.

"Ah, 'bukan urusanmu'," mengangkat tangannya, "aku mengerti."

Namun sedetik kemudian Draco sudah bisa menemukan jawabannya. Sebuah tongkat tergeletak di bawah pohon ("Ah, di sana rupanya."). Draco bisa langsung menebak tongkat sihir itu pasti miliknya. Yeah, entah bagaimana tongkat sihir itu terjatuh dan membuat dirinya tidak bisa berkutik seperti sekarang ini. Masalahnya, bagaimana bisa jatuh? Hermione Granger—yang kata mereka—gadis terpintar di Hogwart. Kenapa kini ia sama idiotnya dengan Longbottom?

"Enyahlah saja, Malfoy," geram Gryffindor itu.

"Jangan khawatir," Draco menyahut. "Tidak ada yang ingin melihatmu lama-lama. Sampai jumpa."

Tak ada darah lumpur yang berharga untuk kehadirannya. Bagaimanapun tinggi mereka memujinya, menyanjung kepintarannya, mengagumi sosoknya…

Draco memanggil Kofu untuk mengikutinya. Mereka berbalik menuju semak-semak ke tempat dirinya berbaring tadi. Ia masih mengharapkan mukjizat dapat melanjutkan tidur siang yang terganggu oleh gadis itu.

Oh, kembalikan waktunya yang berharga, darah lumpur. Kau tidak berharga untuk sedetik pun.

Lalu tak jauh Draco melangkah, terdengar suara debam keras disambung suara rintihan di belakangnya ("Aduh,"). Tampaknya Granger telah berhasil mendarat di atas tanah. Tapi seperti biasa…

Siapa yang peduli.


Note:

Konsep legenda litheas terinspirasi LOTR. Kreditnya kepada dewa fantasi JRR Tolkien.