BAB 4
"Kuncup pertama muncul saat lithelas berumur tiga minggu," kata Hermione.
"Sepuluh poin untuk Gryffindor."
Pertanyaan mudah karena ia terus mengamati lithelasnya. Justru itulah yang menjadi pertanyaannya, memangnya yang lain tidak memperhatikan perubahannya? Demi Merlin, apa saja yang mereka lakukan selama ini.
Kuncup pertama memang baru muncul setelah tiga minggu. Litheas memerlukan waktu yang banyak lagi hingga muncul beberapa dan memanggil per-peri hutan untuk membuat sarang di sana. Jadi penantiannya memang masih panjang.
Berminggu-minggu? Berbulan-bulan? Hermione memiliki cukup kesabaran. Peri hutan membuatnya begitu penasaran. Ketika banyak murid lain sudah pernah melihat peri hutan, ia belum. Ia lahir dari keluarga muggle, sehingga ia tidak pernah diperkenalkan dengan makhluk-makhluk gaib. Jadi fakta bahwa ia murid terpintar di Hogwarts, tidak membuatnya sudah pernah melihat dan tahu segalanya. Itu membuatnya tidak puas. Ia ingin tahu segalanya.
Ia tahu keinginan melihat peri hutan membuatnya terlihat kekanakan. Yang benar saja, melihat peri? Berapa umurnya? Enam tahun? Itulah alasan ia tidak pernah memberitahu Ron dan Harry. Mereka akan menertawakannya habis-habisan. Lihat saja apa yang pernah mereka katakan perihal proyek SPEW ketika itu. Memberitahu mereka sama saja menjadi bahan olok-olok mereka sepanjang tahun ajaran.
Ia tak punya waktu lagi untuk melihatnya, maka rencana ini harus berjalan lancar. Ia tak mau hanya melihatnya di buku-buku. Ia tidak akan membiarkan olok-olok Harry dan Ron, bahkan Malfoy sekalipun, untuk menggagalkannya. Demi Merlin, jangan biarkan keparat itu mengganggunya lagi.
Ya, selalu saja dia. Dua kali pirang brengsek itu berada di sana. Mungkin saja akan ketiga. Atau keempat.
Hermione sudah terlanjur menanamnya di sana, ia tak bisa lagi memindahkan lithelas ke tempat lain. Kuncup-kuncup telah tumbuh. Yang bisa dilakukannya saat ini hanyalah terus merawatnya sampai selesai, tak peduli siapa pun yang akan dihadapinya. Ia seorang Gryffindor. Ia takkan menyerah begitu saja kepada Slytherin itu.
Kau tak bisa menghentikanku,
"brengsek…"
"Ya, Miss Granger?" tanya Profesor Sprout.
Hermione segera tersadar. "Oh…uhm- aku tak sengaja salah menaruh takaran pupuk yang tepat."
Profesor itu menghampiri pot Hermione dengan matanya yang hangat. Ia tampak terkesan dengan apa yang dilihatnya.
"Sudah cukup baik, Miss Granger. Sama sekali tak ada yang perlu kau khawatirkan," ujarnya dengan senyum. Lalu perempuan itu berjalan menuju meja Harry untuk melihat pot lithelas miliknya. Tangannya terjulur, jemarinya menyentuh salah satu daun yang sudah tumbuh. "Kapan kau telat memberikan pupuk kotoran gagak, Mr Potter?"
"Er…"
"Tumbuhnya kurang baik," pendapatnya. "Daunnya berwarna kekuningan. Kau melihatnya? Artinya dia sulit bernapas."
Hermione ikut mengamati dengan harapan bisa belajar sesuatu dari kesalahan sahabatnya, sementara Kapten Quidditch Gryffindor itu mengusap lehernya canggung seperti menunggu vonis dari Profesor Sprout.
"Melebihkan jumlah pupuk kotoran gagak untuk perawatan selanjutnya tidak akan terlalu membantu," kata Profesor Sprout lagi. Lalu matanya mencari satu sosok di antara kepala-kepala di dalam ruang kaca itu. "Mr Zabini," panggilnya. "Kemarikan potmu."
Prefek Slytherin itu menghampiri ke mejanya. Entah bagaimana mendadak di antara mereka seolah ada kabut tebal dan guntur imajinatif. Rasanya perang dingin ini memang akan berlangsung selamanya.
Pemuda Slytherin itu membawakan potnya ke meja Harry, sementara Profesor Sprout sibuk sendiri dengan ajar-mengajar ini. Ia tampak tidak memperhatikan ada perang dingin di antara para muridnya.
"Dua minggu lalu Mr Zabini juga telat menambahkan pupuk kotoran gagak, tapi dua hari yang lalu ia menambahkan air seni kuda untuk mengganti nutrisinya yang kurang," jelasnya sembari memutar pot. "Hasilnya seperti ini."
Litheasnya jauh lebih sehat dari milik Harry dan itu membuat prefek Slytherin itu terlihat senang. Harry mencibir.
"Mengerti, Mr Potter?" delik Profesor Sprout.
"Ya, Prof," sahut Harry segera.
Lalu perempuan itu beranjak menuju meja lain.
"Mengerti, Mr Potter?" Zabini membeo menirukan suara ringan pengajar Herbologi itu ketika Profesor Sprout telah berlalu. Seringai lebar terulas di wajahnya.
"Oh, diamlah," tukas Henry dingin.
"Jangan mulai, Zabini," delik Hermione.
"Kembali ke mejamu saja sana."
"Sebaiknya kau mendengarkan profesor yang baik itu," kata pemuda Slytherin itu lagi kepada Harry. "Demi kebaikanmu sendiri, Potter."
"Biasanya Slytherin memang banyak omong sampai kami mengalahkan kalian dalam pertandingan Quidditch," ujar Harry berlagak kasual. "Jadi silakan saja."
"Kau mengalahkan kami? Oh, please," cemoohnya.
"Track record-nya demikian, Zabini," ujar Harry. "Jadi sebaiknya bersiap kalah saja. Demi kebaikanmu."
Hermione mengatupkan rahangnya rapat, melempar pandangan tegas kepada dua pemuda di hadapannya. Demi Godric, jangan sampai mereka saling bersilat lidah hingga bel berbunyi karena ini sangat-sangat-sangat tidak beralasan. Dan sepertinya memang tidak berlangsung terlalu lama karena Blaise Zabini mengangkat potnya bersiap kembali, masih dengan seringai di bibirnya.
"Lihat saja nanti, Potter."
"Sampai nanti, Zabini."
Wuss!
Pemuda itu menembus hutan lagi.
Ia mencengkram Windflashnya kuat-kuat agar tetap stabil dalam kecepatan penuh. Pikiran itu tetap fokus dengan lajunya. Tak boleh berpikir lainnya, tidak boleh mengalihkan konsentrasinya. Satu langkah keliru, ia bisa menabrak pohon dan menjadi gundukan daging yang telah lumat.
Draco menambah kecepatan. Sapunya melesat sedemikian cepat, sehingga pepohonan yang dilewatinya menjadi bayangan kabur berwarna coklat. Bulu kuduknya pun berdiri. Entah karena hawa dingin atau ketegangan yang memenuhi benaknya. Angin menyapu wajahnya membawa hawa dingin musim gugur yang ada. Dan ranting-ranting memotong jalur. Mereka merobek jubahnya. Menggores kulitnya. Menampar wajahnya. Namun ia tak peduli. Tak peduli selama semua yang ingin dilupakannya berlalu di belakang bersama angin.
Terbang hanya untuk mengisi waktu luang, namun asyiknya bukan main. Ia merasakan adrenalin mengalir deras melalui pembuluh darahnya. Ada banyak pikiran yang mengganggu apabila ia tidak melakukan sesuatu. Ya, maka ia berada di sini sekarang.
Wuss! Draco menukik menuruni bukit.
Ia melesat di antara dua pohon yang bergitu berdekatan, sehingga ia dapat merasakan ujung sikunya bergesekan dengan kulit pohon yang kasar. Ia menukik dengan tiba-tiba hingga nyaris menabrak pohon besar yang menghadang.
Ia tahu tangannya telah pegal setelah lima belas menit berada di posisi tegang yang sama. Tapi adrenalinnya terlalu tinggi, sehingga ia tak memperdulikannya. Sekali hilang konsentrasi itu, nyawa bisa menjadi taruhan.
Draco terus meluncur. Beberapa kali nyaris menabrak batang-batang pohon. Beberapa kali melewati teritori hewan-hewan besar dan buas yang akan langsung menerkamnya apabila memelankan lajunya sedikit saja. Dan ketika ia membelok tajam untuk menghindari sebuah dahan pohon yang memotong jalur terbangnya, dahan itu menggores keningnya. Namun ia tidak peduli. Tidak saat ini.
Wuss! Menembus hutan.
Wuss! Melesat naik, nyaris menabrak karang menonjol.
Wuss! Kiri.
Wuss! Kanan.
Kemudian pepohonan seolah membuka, tergantikan oleh padang rumput dan danau luas dan tenang seperti kaca dengan latar kastil Hogwart yang megah. Air itu menjadi beriak ketika Draco melesat di atasnya. Rasanya menakjubkan.
Pemuda itu memelankan terbangnya lalu melayang di atas air. Ia menghirup napas sejenak untuk melepaskan ketegangan. Nikmat sekali. Semua dalam pikirannya seolah menghilang di belakang. Dan seolah ia hanya hidup untuk dirinya sendiri.
Selama seperempat jam ia terbang pelan tak tentu arah mengelilingi danau—tentu saja sisi danau yang jauh dari Hogwarts untuk menghindari mata-mata yang melihat. Sesekali-sesekali mencoba tukikan-tukikan tipuan dalam pertandingan Quidditch. Benaknya bergulat dengan strategi dan formasi—dan ribuan pertanyaan bagaimana Potter melakukan ini-itu dengan sapunya. Ia harus memecahkan cara atas segala halangan. Ia harus memikirkan cara untuk mengalahkannya.
Ia mengelap keringat dengan punggung tangannya. Ia mengumpat pelan saat mengenai keningnya yang terluka. Ada sedikit noda darah di punggung tangan, yang kemudian diusapkannya di sisi kausnya. Darah bukan sesuatu yang jarang, bahunya bahkan pernah cedera sebulan yang lalu.
Ia kembali masuk ke hutan beberapa menit kemudian. Kali ini dalam kecepatan normal. Ia ingin mendinginkan tubuhnya sebelum masuk ke dalam kastil. Jika sempat mungkin berendam di bak selama beberapa puluh menit, sebelum naik lagi untuk makan malam. Domba panggang dengan kentang tumbuk tampaknya menyenangkan.
Sapunya baru melewati beberapa pohon ek besar ketika tanpa sengaja matanya menangkap gerakan dari balik pepohonan. Bukan hewan buas, tapi manusia. Draco melihat gadis itu lagi di sana. Ia pun mengutuk lagi. Dan rasa panas yang familier pun menjalar di wajahnya lagi.
"Kurang ajar."
Darah lumpur, batinnya.
Ia telah melihatnya beberapa kali dalam beberapa hari terakhir melalui kaca jendela Shrieking Shack. Granger tak menyadari Draco berada di dalamnya. Ia memutuskan untuk tidak menghiraukannya sekali. Lalu dua kali. Lalu tiga kali. Lalu kini… dan ini sudah lebih dari cukup.
Sebenarnya apa yang dilakukannya di tempat ini? Gadis itu tampak menebar sesuatu di atas tanah. Memupuk? Tapi memupuk apa?
Pemuda itu memperhatikannya dari balik pohon. Ia berusaha tak mengeluarkan suara agar Gryffindor itu tidak menyadari kehadirannya. Ia terlalu lelah untuk berkonfrontasi. Matanya terpicing untuk melihat apa yang dilakukan gadis itu lebih jelas.
Ah, tunas-tunas itu. Lithelas. Kenapa ia menebarkannya di sini? Bukankah Profesor Sprout telah memberikan pot-pot itu? Well, apa pun alasannya, apa pun yang dilakukannya, seharusnya ia tahu bukan di sini tempatnya. Draco telah memberikannya peringatan ratusan kali.
Dia tidak menghiraukanku.
Draco telah berbaik hati, namun dia yang meminta hal ini. Ada saatnya ketika kata-kata sudah tidak dapat menghasilkan solusi, seseorang boleh melakukan upaya yang lebih keras lagi. Rasanya ini merupakan saat-saat tersebut. Ia harus pergi. Ya, ia harus pergi.
Dan ia akan pergi.
