BAB 5

"Oh,bagus sekali," gumamnya sedih.

Hermione menatap refleksi diri dalam cermin kecil yang dikeluarkannya dari tas. Bayangan hitam melintang terlihat di bawah mata. Ia mengusapkan jemarinya dan berharap bayang hitam itu menghilang, namun sia-sia. Menghela napas dengan berat putus asa, ia menaruh kaca itu lagi ke dalam tas. Lalu ia menyusuri koridor yang penuh dengan murid.

Ia membalas satu-dua sapaan teman dan melambai sekadarnya. Ia menguap lebar, telapak tangan menutupi mulutnya. Rasa kantuk sulit sekali dilawan pagi itu.

Ya, karena kemarin malam yang sangat gila.

Seusai Hermione mengerjakan PR—dan setelah pulang patroli dengan Zabini—ia merebahkan diri ke atas ranjangnya di asrama Gryffindor. Tiada yang lebih diinginkannya saat itu selain tidur sebentar yang cukup dan berkualitas. Namun tanpa peringatan apa pun, tiba-tiba alarm penanda bahaya milik Parvati meraung keras hingga mungkin bisa meretakkan kaca. Sontak seisi kamar itu terbangun dalam kepanikan.

Parvati berusaha mencari tombol atau tuas on-off, namun gagal. Lavender membantingnya keras-keras ke atas lantai, namun malam membuatnya lebih sukar lagi dikendalikan. Semua harus berteriak keras untuk bicara dan menandingi suara alarm yang terus meraung—sementara logikanya juga bertentangan karena tangan sedang menutup telinga untuk memblokir suara yang masuk.

Seisi asrama Gryffindor pun terbangun. Beberapa kepala terganggu tidurnya dan mereka langsung muncul di pintu. Sebelum semua mencincang mereka kecil-kecil dan menyumpalnya dalam pai, Hermione menyihir lemari pakaian mereka menjadi kedap suara dan memasukkannya ke dalam lemari. Jadi, pagi itu beberapa kali mereka mendengar alarm itu lagi setiap kali salah satu dari mereka membuka lemari untuk mengambil pakaian.

Dengan langkah gontai Hermione melangkah memasuki Aula Besar. Seorang anak kelas dua Hufflepuff menyenggolnya saat kejar-kejaran temannya. Ia hanya sempat berkata, "Jangan lari—" namun tak mampu meneruskan kata-katanya lagi karena kedua anak itu sudah menghilang di balik pintu. Ia nyaris tidak memiliki tenaga lagi.

Hermione menjumpai kelima pemuda seangkatannya di bangku Gryffindor. Ada bayang hitam juga di bawah kantung mata mereka. Harry nyaris tidak menyadari kehadirannya, namun akhirnya bergeser untuk memberi tempat Hermione ketika gadis itu menghampiri.

"Pagi," sapa Hermione nyaris tanpa semangat.

"Hei." Dean yang bersuara. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.

"Apa kabar?" kata Ron berbasa-basi sembari mengambil sepotong roti tanpa selai.

Sementara itu Hermione duduk di sana tanpa mengambil makanan apa-apa. Perutnya sedang tidak menuntut apa-apa pagi itu.

Gadis itu menghela napas panjang yang lelah. "Baik."

"Dan bagaimana kabarnya?" tanya Dean.

"Alarmnya?" tanya Hermione tanpa emosi. "Masih terus berbunyi. Suaranya masih terdengar samar-samar seperti bisikan dalam mimpi buruk," ujarnya. "Tak ada yang bisa tidur sampai jam tiga malam."

Seamus mengerutkan kening. "Punya siapa benda keparat itu?"

"Parvati."

"Kenapa bisa bunyi?"

"Entahlah," mengangkat bahu. "Aku rasa gara-gara ada kelelawar yang menabrak jendela."

"Lalu bunyi?" tanya Ron.

"Kau tahu alarm sihir sangat sensitif," kata Hermione. Ia memandang makanan di atas piring, namun sama sekali tidak ada selera yang mampir. "Tapi tenang saja," sahutnya. "Aku sudah minta Parvati membuangnya."

"Yeah, karena lebih baik tidur dengan resiko Pelahap Maut menerobos masuk dibandingkan setiap malam tidak bisa tidur," gerutu Ron.

Aula besar bertambah ramai saat anak-anak mulai turun untuk sarapan. Sesekali ia masih bisa merasakan pandangan galak beberapa junior dan senior ketika melewatinya. Dendam tidak bisa tidur itu sepertinya tampaknya masih tersisa—walaupun secara teknis itu sama sekali bukan salah Hermione. Semoga saja besok bisa kembali normal setelah mereka bisa membayar jam tidur mereka yang hilang.

Gadis itu masih merasakan pandangan seseorang pada dirinya setelah beberapa lama. Awalnya ia merasa dari salah satu rekan seasramanya juga. Maka ia mencari ke sekelilingnya, bersiap melontarkan 'bukan salahku' secara defensif. Namun ternyata pandangan itu dari meja yang lain. Matanya menangkap sepasang mata kelabu tengah memandanginya. Mata Malfoy.

Hanya sesaat karena Hermione langsung mengalihkan pandangannya ketika merasakan darahnya mulai memanas. Pemuda itu tampak… marah. Tentu saja karena Malfoy memang selalu marah pada banyak hal. Hermione tak heran melihat kebencian itu terpancar dari wajahnya lagi. Apalagi ia telah memaksanya berbagi tempat di hutan itu, walaupun Malfoy telah menyuruhnya pergi.

Menyuruhnya pergi? Memang siapa dia?

Hermione takkan menyerah begitu saja. Ia tersortir ke Gryffindor bukan tanpa alasan. Ia takkan begitu saja mengangkat kaki dari tempat itu tanpa perlawanan. Ia takkan pergi sampai melihat peri hutan-peri hutan itu.

"…seorang murid dari Huflepuff sudah mengundurkan diri," Dean sedang berbicara.

"Ada lagi?" tanya Ron.

"Creevey bersaudara," tambahnya. "Masa kau tidak melihatnya pagi ini di ruang rekreasi? Heboh sekali."

"Ah, pasti aku masih tidur."

"Tentu saja makin banyak orangtua yang paranoid apabila isi koran selalu saja yang seperti itu," tukas Harry. "'Sebelas Orang Mati Orang Di-Avada'," tangannya secara imajinatif mendiktekan tulisan judul koran tidak terlihat di udara.

"Dan lebih paranoid lagi jika melihat artikel pagi ini," ujar Dean datar.

"Apa isinya?" Hermione bertanya.

"Pelahap Maut yang mabuk berbuat onar di Diagon Alley," katanya mengangkat bahu. "Ia menendangi orang-orang sambil mengoceh, 'Mati saja kau, Darah Lumpur.'"

Hermione tahu Dean hanya mengutip apa yang dibacanya, namun ia merasakan sesuatu perasaan menyakitkan merayapinya. Darah lumpur. Malfoy kerap mengatakannya. Hatinya sakit sekali. Ia takkan pernah terbiasa olehnya seberapapun sering orang-orang seperti Malfoy mengatakannya. Kata-kata itu terlalu hina.

Segala hal yang buruk hampir terjadi setiap hari dan oleh karenanya terkadang ia merasa takut. Kedua orangtuanya berada di rumah, berada di dunia muggle. Mereka tak tahu apa-apa sementara Hermione tahu apa yang bisa diperbuat para bajingan seperti itu kepada mereka. Bagaimana jika iblis-iblis itu melakukan sesuatu seperti yang pernah dilihatnya pada piala dunia Quidditch? Bagaimana jika mereka menyakiti kedua orangtuanya gara-gara mereka memiliki seorang putri berdarah lumpur?

Gara-gara dirinya.

Kadang ia mempertanyakan posisinya sendiri dalam kedua dunia itu. Ia seorang penyihir, namun apakah mereka menerimanya dengan tangan terbuka? Tidak. Orang-orang seperti Malfoy memandangnya dengan sebelah mata. Menjadi seorang penyihir tidak menjamin tempatnya di dunia sihir. Sementara itu di dunianya yang lain, juga bukan dunianya. Ia seorang penyihir. Menentang takdirnya sebagai penyihir, seperti tidak mampu bernapas padahal dunia dipenuhi udara. Ia ingin mempelajari sihir sebanyak mungkin karena ia bisa. Karena ia mampu melakukannya.

"Kau akan baik-baik saja, Hermione?" tanya Neville.

"Sori, Hermione, aku tidak bermaksud— "

"Tidak apa-apa," sahut Hermione kemudian.

"Sungguh aku tidak bermaksud."

Hermione tak tahu harus berbuat apa dan ia hanya tersenyum lemah. "Aku tahu," sahutnya. "Santai saja," walau sesungguhnya ia tidak tahu bagaimana untuk santai.

"Ini memang memuakkan," tukas Seamus. "Bahkan ibuku sampai memintaku mengundurkan diri musim dingin ini."

"Hah?"

"Aku menolaknya tentu saja," sahut Seamus segera. "Aku tidak bisa bangun siang jika di rumah dan aku pasti disuruh membuang jembalang setiap minggu."

"Kau lebih memilih digempur Pelahap Maut ketimbang melempar jembalang?"

"Tidak lucu, Ron," delik Hermione.

"Untunglah kau memilih tidak pergi," kata Dean, "di sini justru tempat teraman di dunia."

"Nyatanya orang-orang seperti Creevey tetap pergi dari tempat teraman di dunia."

"Itu biar saja mereka," dengus Dean. "Tidak ada yang akan merindukan mereka juga."

"Well, mungkin Harry akan kangen juga. Mereka berdua penggemar beratnya," ujar Ron sambil menepuk bahu sang kapten.

Harry memutar bola mata, "Yeah, sayang sekali," memasukkan sebutir anggur ke dalam mulutnya.

"Tapi kalian akan merindukanku kalau aku pergi, kan?" tanya Seamus.

Dean menatapnya ngeri. "Kau mengerikan seperti perempuan."

Hermione mengerutkan keningnya. "Mengerikan seperti perempuan?"

"Yang kumaksud tentu saja bukan kau, Hermione," Dean mengoreksi.

"Jadi aku bukan perempuan?"

"Er— kau perempuan tentu saja," sahut pemuda itu lagi.

Hermione menyipitkan mata.

Dean meminum jus labunya cepat-cepat. "Astaga ini membuat stres sekali."

Yang lain pun tertawa.


Hermione mendatangi lithelas pada siang harinya. Dengan perasaan was-was tentu saja. Dua kali ia bertemu dengan Malfoy dan lima kali digonggongi anjingnya yang galak. Pelajaran moral yang diambilnya sampai saat ini: ia harus selalu membawa tongkat sihir dalam genggaman tangan. Ia harus pertahanan diri apa pun yang terjadi.

"Hei…," sapanya seolah tanaman-tanaman itu bisa membalasnya setiap saat.

Gadis itu menyentuh salah satu bagian tanaman itu—sementara tangan yang lain mencengkeram tongkat sihir. Ada satu yang sudah akan menjadi bakal daun, berarti tanaman itu telah tumbuh di jalur yang tepat. Sudah berapa lama sejak ia menanamnya? Tiga minggu? Empat minggu? Litheasnya yang ditanam dalam pot pun sudah mengalami kemajuan yang sama (sementara milik Ron tumbuh agak coklat dan milik Harry bersin-bersin). Maka ia bisa tersenyum puas.

Hermione mengeluarkan sebuah kantung kecil berisi kotoran gagak dari sakunya. Dibukanya ikatan pada kantong itu lalu ia menaburkan pupuk itu ke atas tanah di sekitar tanamannya. Diambilnya sebatang ranting untuk mengorek tanah dan membuat tanah itu mudah memperoleh udara. Lalu ia berdiri, menepuk-nepukkan kedua tangan agar butiran-butiran pupuk dan noda berjatuhan ke atas tanah.

Matanya mencari sekelilingnya sekarang, mencari sesuatu untuk menadah air. Litheasnya perlu disiram. Ia menemukan sebuah tanaman berdaun lebar tak jauh darinya. Ia memetik salah satu daun yang masih utuh, lalu berjalan menembus semak mengambil air.

Ia melewati akar pepohonan yang besar dan menyembul dari permukaan tanah. Dengan hati-hati ia melangkah agar tidak tersandung salah satunya. Hutan Terlarang menjadi salah satu tempat yang berbahaya apabila kau tidak terbiasa. Namun apabila kau tahu isinya, tempat ini menjadi tempat terbaik untuk melakukan banyak hal.

Hermione selalu menikmati kunjungan singkat untuk merawat lithelas-lithelas itu di hutan ini. Rasanya sangat menenangkan. Ini seperti dunia lain di mana tiada orang-orang yang memikirkan apa yang sedang terjadi di dunia nyata. Dunia nyata terlalu banyak gesekan. Dunia nyata terlalu banyak yang harus dikhawatirkan.

Kini ia tiba di padang rumput kecil. Rumputnya panjang setinggi lutut. Semua melambai tertiup angin musim gugur. Permukaan air danau bergerak tenang oleh angin. Riak-riak kecil menghias di atasnya. Gumpalan awan putih di latar langit biru. Awan itu melayang beriringan secara perlahan tertiup angin. Melayang sangat pelan.

Hermione berjalan menuju danau. Sesampai di pinggirnya, ia berjongkok. Jemarinya menyentuh air itu dengan tangannya. Dingin. Mendadak ia enggan sekali melakukan banyak hal.

Mungkin ia memang harus sering melakukan ini lagi sendirian. Memejamkan mata. Bernapas merasakan angin musim gugur. Meninggalkan segala penat akibat tugas-tugasnya, urusannya sebagai Prefek dan lainnya. Tak peduli apa yang terjadi di luar sana. Tak peduli jika ada yang memanggilnya darah lumpur atau semacamnya. Hanya di sana dan tidak memikirkan apa-apa.

Yeah, karena pikiran yang sekecil apa pun terkadang mengganggunya, misalnya memikirkan ajakan Ron pada tempo hari. Banyak orang mengira ada sesuatu di balik persahabatan mereka. Atau banyak orang berharap ada sesuatu di balik persahabatan mereka. Namun nyatanya tidak ada apa-apa karena hal semacam itu memang tidak mungkin. Persahabatan mereka akan terus seperti itu dan terlalu indah untuk diubah.

Mungkin ia hanya egois karena ia takut kehilangan. Entahlah. Pantas saja tak ada anak yang tahan berteman dengan dengannya. Dia mengerikan sekali. Sungguh, kata Ron pada Harry dulu. Sekarang ia tersenyum mengenangnya.

Anak-anak bodoh itu.

Tak ada yang menyangka mereka dapat berteman seperti sekarang ini. Apalagi banyak hal telah terjadi. Begitu banyak. Harapan, petualangan, Voldemort. Kehilangan kawan—Cedric, Sirius. Satu hal yang menjadi harapannya saat ini: jangan biarkan mereka kehilangan lebih banyak lagi. Karena Harry dan Ron… mereka tak tergantikan.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Mereka bertiga. Apa yang akan terjadi setelah mereka lulus? Apa terjadi apabila situasi semakin runyam? Sesuatu yang besar jelas akan terjadi. Kejadian besar yang akan menentukan masa depan dunia sihir. Mungkin kekacauan-kekacauan. Apakah segala halnya akan tetap sama?

Ia menyayangi mereka. Ia berharap bisa mendewasa bersama-sama selamanya. Satu tahun lagi sebelum mereka lulus… dan hingga saat itu tiba, permudahkanlah semuanya.

Angin berhembus lagi. Kali ini lebih pelan. Hermione menghela napas panjang. Jika ada sehelai selimut dan bantal, ia pasti sudah memutuskan untuk berbaring di sini. Namun ia harus mengakhiri kenyamanan itu secepatnya sebelum malam.

Ia membentuk daun lebar itu hingga menyerupai corong lebar. Diambilnya air dari permukaan danau, lalu ia berdiri lagi dengan hati-hati agar tidak tumpah. Ketika ia berbalik untuk kembali menuju hutan, ia terkejut ketika menatap pandangan seseorang di hadapannya, sehingga ia menjatuhkan daun itu berikut airnya.

"Malfoy."

Pemuda itu berdiri dan bersandar di sebuah pohon. Tangan tersilang di dada, sementara mata kelabunya menatapnya dari sana. Angkuh. Yeah, mungkin hanya satu-dua hal yang membuat hutan itu tidak sempurna: Malfoy dan anjingnya. Namun terimakasih, Merlin, pemuda itu tampak sendirian. Entah di mana anjingnya, Hermione tidak melihat tanda-tandanya.

Gadis itu membalas tatapannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Apa yang kau lakukan di sini?"

"Kita tidak akan memulai perdebatan bodoh lagi," tukas Hermione tidak sabar.

"Setuju," sahutnya. "maka apa pun yang sedang kau lakukan saat ini, lebih baik hentikan saja, Granger."

"Aku melakukan apa yang ingin aku lakukan," tukasnya dingin. Ia memungut daun itu dan kembali mengambil air—kali ini lebih berhati-hati. Ia berjalan ke arah pemuda itu lalu melewatinya untuk masuk ke dalam hutan. Lalu berkata lagi, "Tak ada yang dapat menghentikanku," mengerling sejenak untuk berkata pelan dan lambat penuh sarkasme, "bahkan oleh kau."

"Hati-hati dengan apa yang kau katakan," terdengar pemuda itu berjalan di belakangnya. "Jangan sampai membuatku menekanmu sampai ke batas yang tak ingin kau hadapi," ancamnya.

"Ho," cemoohnya, "dan apakah itu?"

"Menghancurkan litheasmu," Slytherin itu mengangkat bahu.

Dia tahu.

Agak sulit untuk tetap menjaga emosinya sementara Hermione harus berhati-hati menjaga langkah di antara akar-akar yang menyembul dan menjaga air dalam daun itu.

Hermione mengatupkan rahangnya rapat. "Jangan berani-berani…"

"Aku pun bisa melakukan apa pun yang ingin aku lakukan."

"Demi Merlin," tukasnya tak habis pikir, "mengapa kau begitu—"

"Menawan? Memukau?"

"—bajingan?"

"Original sekali. Dan kau tetap darah lumpur, kau tahu itu."

Hermione mencibir, "Dan kau terus memandangi darah lumpur ini saat ia berada di tepi danau."

"Kau terlalu menyanjung diri sendiri, Granger," dengus Malfoy. "Mungkin anak-anak laki-laki lain memang seperti anjing-anjing bego yang sedang mengendus tulang. Namun apa kau serius membayangkan orang seperti aku juga demikian?"

"Orang seperti kau?" tanya Hermione sinis. "Orang seperti kau— yang kepala besar dan hanya mencintai diri sendiri? Seperti kau yang brengsek dari Slytherin? Oh, tentu saja tidak."

Malfoy tertawa.

Hermione hampir tersandung akar yang menyembul dari tanah, namun ia berhasil menjaga keseimbangannya. Tak lama kemudian mereka sampai di tanah lapang kecil tempat litheasnya ditanam, lalu ia menyiramkan air tersebut di atas tanaman dengan hati-hati. Setelah semua air habis, dia menjatuhkan daun itu ke tanah lalu mengelap tangan yang basahnya ke bagian belakang roknya.

"Aku tak mengerti," kata pemuda itu memandang litheasnya, "kenapa kau repot-repot menanam litheas di sini?"

"Bukan urusanmu."

"Ada apa dengan tempat ini?" Pemuda itu memandang ke sekelilingnya.

Hermione memutuskan untuk tidak meladeninya. Ia membereskan tasnya sebelum beranjak kembali ke dalam kastil. Dalam dua-tiga jam lagi malam akan datang, ia ingin kembali ke asrama dan menaruh tasnya sebelum makan malam di aula besar.

"Tidak ada apa-apa di sini," ujar Malfoy lagi dan ia benar-benar tidak bisa diam. "Kecuali jika kau ingin litheasmu dikerubuti peri hutan."

Hermione pun semakin tidak ingin meladeninya.

"Oh, tunggu," sahutnya kemudian memandang gadis itu seolah berhasil mengetahui bumi itu bundar. "Kau memang ingin melihat peri hutan?" retoris. Jeda sesaat sebelum tawanya pecah.

Bagus sekali, dia tahu.

Gadis itu menahan diri.

"Hermione Granger mau melihat peri hutan?" masih dengan tawa. "Memang berapa usiamu? Empat tahun?"

"Masih bukan urusanmu," tukas Hermione dingin, menyampirkan tasnya ke bahu.

"Apa pun yang berkaitan dengan tempat ini selalu menjadi urusanku, Granger," balas Malfoy. "Aku memperingatkanmu sekali lagi. Pindahkan litheasmu dari sini ke mana pun— aku tidak peduli. Aku tak peduli kau mau ngapain, tapi jangan di daerahku."

"Daerahmu, Malfoy?" Kini Hermione tertawa. Kedua tangan di pinggang, mencoba menyelesaikan konfrontasi mereka. "Apa yang kau lakukan untuk menandai teritorimu? Mengencinginya?" cemoohnya.

"Aku bisa berbuat apa saja, Granger."

"Ya, tapi kau tidak akan bisa melumpuhkan mantra pelindungku," tantang Hermione.

"Aku murid salah satu murid terpintar di Hogwarts," cemooh Malfoy. "Memecahkan hal seperti itu menjadi sarapanku setiap hari."

"Tapi akulah murid terpintar di Hogwarts," balas Hermione. "Kau yakin bisa?"

Senyum timpang terulas di bibir pemuda Slytherin itu.

"Hati-hati, Malfoy. Saat ini juga tidak ada anjingmu untuk melindungimu." Hermione mendengus lalu beranjak mengayunkan langkah.

Dan ia sama sekali tidak menyadari ketika pemuda Slytherin itu tiba-tiba merangsek maju dan mendesaknya ke pohon ek yang kasar. Kedua tangannya mengunci bahu dan tubuh Hermione. Mata kelabu itu menatapnya dingin dan tajam.

"Hati-hati dengan apa yang kau ucapkan," tukas pemuda itu dingin. Suaranya setajam silet di depan wajahnya. Tak ada kebaikan sedikit pun dalam nada suaranya. "Kau tidak punya pelindung di sini."

"Jangan sentuh aku," lalu mendorong Slytherin itu sekuat tenaga dan Malfoy mundur satu-dua langkah.

Jantungnya berdegup. Mungkin terkejut pemuda itu merangsek tiba-tiba. Hermione tahu ia telah berhasil menekan tombol yang menyentil harga dirinya. Slytherin dan harga diri sesuatu yang sulit dipisahkan.

"Aku bisa melindungi diriku sendiri," balasnya.

"Kau lemah, Granger," dengusnya. "Kau membutuhkan Saint Potter dan Weaselman untuk memperoleh apa yang kau dapatkan sekarang."

"Aku membutuhkan mereka karena mereka orang baik," tukasnya dingin, "bukan seperti dirimu."

"Dan aku yakin mereka membutuhkanmu karena kau lihai di ranjang."

Hermione memandang pemuda itu dengan penuh amarah. Ia bisa merasakan kepalanya telah panas dan bisa meledak setiap saat. Perlu segenap tenaga baginya untuk menahan diri dan berpikir jernih.

"Mereka pahlawan yang orang-orang banggakan. Mereka bermoral," kata Hermione tegas.
"Mungkin kau berkomentar begitu jahat tentang kami hanya karena kau iri. Kau iri. Harry memiliki nama dan ketenaran yang tak kau miliki. Dan Ron, dia memiliki hati. Dia manusia, sedangkan kau iblis yang hanya hidup dari jiwa-jiwa yang kau dzalimi. Yang kau miliki hanya orang-orang dengan wajah palsu."

"Mereka tak memiliki apa yang aku miliki, Granger—seberapa pun banyak mereka berdoa dalam tidurnya."

"Tidak memiliki apa?" dengus Hermione tak percaya. "Sifat amoral?"

"Kemakmuran," sahutnya. "Kemampuan yang laki-laki impikan."

"Maksudmu, gadis-gadis itu?" cemooh Hermione. "Mereka bisa memiliki gadis yang layak, Malfoy. Bukan gadis gampangan yang biasa kau peroleh."

"Aku bisa mendapat apa pun yang aku inginkan. Dan siapa pun."

"Kau menjijikkan," sahut Hermione dingin. Ia tak percaya bisa menemukan sosok iblis di dunia ini. "Bagaimana orangtuamu membesarkan dirimu dulu?"

Retoris. Dan mungkin seharusnya ia tidak melontarkannya. Karena detik berikutnya, pemuda itu merangsek maju lagi dan menahan kedua tangan gadis itu di kulit pohon yang keras. Jantung Hermione seketika semakin berdegup kencang.

"Kesalahan lagi, Granger," ujarnya. Mata menyorot tajam, nada suara sedingin es. "Jangan bawa-bawa keluargaku dalam setiap percakapan kita."

"Kenapa?" tantang Hermione. Dagu terangkat angkuh. "Kau tak tahu bagaimana salahnya mereka membesarkanmu?" Suara gadis itu bergetar.

Sial, sial, sial, berhentilah bergetar.

Mata pemuda Slytherin itu menyipit menatapnya. Ada ancaman di sana. "Sudah kukatakan hentikan membicarakan keluargaku."

"Dan aku menyesalkan ibumu melahirkanmu."

Cengkraman tangan pemuda itu semakin keras di pergelangan tangannya. Setiap udara yang terhembus seolah panas menyemburkan api. Entah siapa yang paling marah di antara yang lain. Keduanya tiada yang ingin kalah.

"Aku tahu kau benci padaku, jalang. Kepadamu aku pun demikian," kata Malfoy sekasual mungkin, namun dengan ratusan belati dalam nada suaranya. "'Jangan sentuh aku,' katamu, itu membakarmu, bukan?" Retoris dari Malfoy. "Aku tahu bagaimana rasa muak itu bila disentuh seseorang yang kau benci sampai ke pembuluh darahmu karena sekarang pun aku ingin muntah."

"Oh, kau tak tahu betapa besar benciku."

Malfoy mendesakkannya lagi ke pohon—secara non verbal memerintahnya untuk diam ketika Slytherin itu sedang bicara. Tangan Hermione menggesek kulit pohon yang kasar, hingga ia tahu mungkin sedikit tergores di kulitnya. Gadis itu memejamkan mata sesaat, namun mengutuk dirinya untuk bisa sedikit terlihat lebih tangguh lagi di hadapan Slytherin itu. Kedekatan itu membuat ia bisa melihat refleksi diri sendiri dalam mata kelabu pemuda itu. Ia membiarkan jeda sejenak ketika Malfoy memandangnya begitu dekat, terdiam sesaat, seolah tengah menyusun kata-kata. Suaranya pun lebih rendah dan parau lagi ketika ia melanjutkan.

"Aku sangat tahu, Granger," sahut Malfoy, "dan aku tahu apa yang bisa membuatmu begitu murka."

"Ya," sahut gadis itu, "kau."

"Uh huh," sahut Malfoy, "dan aku bisa berbuat apapun demi menyingkirkanmu."

"Aku menantangmu," matanya menantang.

"Kau yang meminta."

Hermione tak sempat berpikir. Kejadiannya sangat cepat. Pemuda itu melakukannya. Malfoy mencium bibirnya.

Pemuda Slytherin menekan mulutnya ke atas bibir Hermione. Kepala gadis itu terdesak ke kulit pohon yang kasar. Ada suatu perasaan menjalar di sekujur tubuhnya. Ada sesuatu. Mulut gadis itu mencoba membebaskan diri. Salah satu tangan Malfoy melepaskan cengkraman pergelangan tangan Hermione, menahan rahang gadis itu agar kembali menghadapnya. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat, "Enyahlah—," namun membuat mulutnya terbuka ketika mengatakannya. Slytherin itu mendorong lidahnya masuk.

Tangannya yang sudah terbebas mendorong dada Malfoy agar menjauh, namun pemuda itu terlalu kuat. Perlu segenap tenaga akhirnya bagi gadis itu kemudian, saat ia memejamkan mata berupaya untuk—

Malfoy mundur ke belakang. Lalu berjongkok untuk memegang kakinya. "Kau menginjak kakiku, jalang!"

Hermione tak membalas perkataan itu. Ia tak ingin melepas kesempatannya untuk pergi. Yang hanya dalam benaknya hanya berbalik, masuk ke dalam pepohonan dan berlari lebih jauh lagi. Ia tak boleh menoleh ke belakang. Ia tak boleh berpikir. Ia tak boleh peduli.

Sebelum benar-benar jauh Hermione bisa mendengar teriakan Malfoy di belakang. Isinya masih sama, "Jangan kembali, keparat!"

Maka Hermione tetap lari. Ia tahu Slytherin itu tidak mengejarnya, namun ia tetap harus lari seakan Malfoy mengejarnya. Terus menjauh dan menjauh. Ia tak boleh berpikir. Jangan berpikir dulu.

Tangannya tergores dahan ketika ia melewati semak-semak belukar. Ia tak mempedulikannya, bahkan ia tak merasakan sakitnya. Setelah cukup merasa jauh, ia baru bisa berhenti. Lalu bersandar di balik pohon. Napasnya tak beraturan dan terengah-engah seakan-akan ia lupa untuk bernapas sebelumnya. Matanya terpejam. Jantungnya berdetak keras, sedemikian keras seolah jantungnya bisa melompat ke luar tubuhnya setiap waktu.

Demi Merlin, apa itu?

Tubuhnya lemas. Ia berjongkok. Punggungnya bersandar dan menggesek kulit pohon yang kasar. Ia gemetar dan napasnya belum bisa teratur. Lalu ia menyentuhkan jemari ke atas bibirnya. Masih begitu terasa. Pemuda itu. Bibirnya.

Dan ia merasa takut.


"Kau letakkan di mana matamu itu, bego?" hardik Draco tegas. Seorang anak tingkat empat Hufflepuff terkejut ketika digembur keketusan itu. "Potong lima poin dari Hufflepuff karena keteledoran."

"Apa-apaan? Keteledoran apa?" balas Hufflepuff itu tak terima.

"Jika kau menabrakku di tangga, itu berarti keteledoran yang bisa membahayakan orang lain."

"Yang benar saja! Kau bahkan tidak—"

"Potong lima poin lagi karena tak bisa diatur."

Draco kembali menyusuri koridor penuh dengan rasa marah, meninggalkan Hufflepuff itu yang masih terdengar tidak terima. Anak Hufflepuff itu beruntung karena seharusnya ia bisa menerima yang lebih buruk lagi. Yeah, karena Draco sedang ingin meninju seseorang saat ini.

Ia harus melampiaskan kebodohannya. Demi Salazar—dari berbagai pilihan hukuman yang dapat ditimpakan ke Granger jalang itu, mengapa tindakan itu yang dilakukannya? Bego sekali. Maka pemuda itu mendamprat siapa saja yang membuatnya kesal di sepanjang koridor. Ia harus melampiaskannya.

Ia tidak mengira ternyata kesempatan itu bisa datang lebih cepat ketika berbelok ke koridor yang menuju Aula Besar. Langkahnya melambat dan senyum terulas di sudut bibirnya.

Potter yang melihat kehadiran Draco lebih dulu. Weasley baru menyadari keberadaannya ketika melihat perubahan ekspresi pada wajah majikannya. Langkah kedua Gryffindor itu terhenti.

"Oho, Potter dan kacungnya," kata Draco. "Sebuah kejutan yang menyenangkan," dengan nada ramah yang berbalut sarkasme.

"Enyahlah," sahut Harry.

"Ck ck ck…kasar sekali. Apa kata pers nanti? Tak baik untuk popularitasmu," ujarnya datar.

"Kau takkan semanis ini saat kami mengalahkanmu nanti."

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas seleksi anggota tim Gryffindor, Potter. Aku yakin kau berhasil memilih anggota tim yang berkompeten," katanya lagi. Lalu matanya beralih ke rambut wortel dengan lagak simpati. "Maka sayang sekali kau terdepak dari anggota tim, Weasley. Kami akan sangat merindukan Weasel King si sirkus Hogwarts."

Wajah Weasley merah padam.

"Setidaknya Gryffindor memilih orang tepat di posisi yang tepat untuk mengalahkan kalian nanti." Weasley-nomor-sekian itu menatap Draco tajam. Ia bisa melihat emosinya semakin memanas. "Bukannya memilih cowok cantik yang cuma sibuk mencari cara untuk bersolek dan menghangatkan ranjangnya setiap saat."

"Enyahlah, Malfoy," tukas Seeker Gryffindor itu lagi, mencoba beranjak dan berusaha tidak mengindahkannya.

Dan sebelum mereka benar-benar beranjak, Draco segera mencipratinya lagi dengan minyak.

"Sayang sekali kau tidak melihatnya sebagai sebuah berkah, Weasley, melihat keterbatasan apa yang kau miliki," ujar Draco. "Kau," mulainya, "hidup dan bernapas di bawah bayang-bayang dua orang yang bersinar di Hogwart. Menyakitkan— yeah, orang-orang takkan pernah menyadari keberadaanmu. Apalagi kau didepak dari tim. Kini mereka hanya melihat Saint Potter dan seorang darah lumpur."

Draco bersumpah ia dapat melihat pembuluh darah Weasley berkedut di sisi keningnya. Amarahnya telah diminyaki dan ia tinggal menunggu apinya berkobar dalam hitungan detik. Anak bego itu memang terlalu mudah dipancing.

"Jangan panggil dia dengan kata-kata itu."

"Ron, kita pergi dari sini."

"Apa, Weasley? Memanggil darah lumpur?" pancing Draco lagi. Maju selangkah.

Tangan Weasley mulai terkepal erat. "Aku memperingatkanmu, Malfoy."

"Ron," mendorong bahu rekannya.

"Kau tidak suka darah lumpur?" tanya Draco berlagak polos, namun sengaja menekankan intonasi pada dua kata itu. "Lalu aku harus memanggilnya apa? Jalang?" Maju selangkah lagi.

"Tindakan yang salah, Mafoy," geram Potter. "Pergi sebelum kau menyesalinya."

"Ups, aku salah lagi," sahutnya sarkasme. "Tentu saja tidak ada perempuan yang suka dipanggil jalang. Kalian punya ide panggilan yang lebih baik untuk mengajaknya ke kamar?"

Pemuda itu maju selangkah lagi. Kini jarak di antara Gryffindor dan dan Slytherin itu kurang dari semeter. Draco tahu ia hanya membutuhkan sepercik api untuk bom akan meledak dengan sendirinya. Maka kini ia menambahkan perlahan dalam nada yang jauh lebih dingin dan keji,

"Yeah, karena sepertinya aku tertarik untuk mencicipinya."

Untuk sesaat mereka semua terdiam. Dan yang pertama bergerak memang pemuda berambut merah itu. Ia mengayunkan kepalan tangannya kuat-kuat dan kepalan tangan itu langsung menyentuh rahangnya.

Bug.

"Oh, fuck," geram Potter pasrah.

Nah. Segalanya jadi lebih mudah, kan?

Tak perlu menunggu lama hingga pukulan balasan dilayangkan pemuda Slytherin itu dan mendarat di pipinya. Weasley terhuyung-hunyung. Potter langsung bergerak ke tengah mereka. Bukan untuk melerai—karena Potter takkan berniat berdamai. Yang ingin dilakukannya hanya melindungi kacungnya. Seeker Gryffindor itu mendorong dada Draco kasar. "Menjauh kau, bangsat!"

Kenapa kau tidak ikut pestanya saja, Potter?

Dan selanjutnya satu pukulan juga ikut mendarat di wajah sang santo. Kacamatanya jatuh. "Bajingan," umpatnya.

Gryffindor itu merangsek maju, melayangkan kepalan tangan menuju mana pun yang bisa diraihnya. Draco mengelak, namun mengenainya satu-dua, ia membalasnya lagi, Weasley bergabung. Lalu bunyi duk keras menghantam Potter. Atau Weasley? Atau dirinya sendiri? Siapa peduli. Segalanya terjadi cepat. Pukulan kanan. Kiri. Mata berkunang-kunang. Adrenalin mengalir deras berbumbu rivalitas antar laki-laki yang dengan hormon testosteron mereka yang labil.

Tak lama kemudian, ia merasa ada kekuatan sihir yang menghantamnya ke dinding. Kilatan cahaya. Lalu ia melihat Weasley terengah, menatap nanar dengan tongkat teracung ke arahnya.

"Mundur," kata Gryffindor itu.

"Aku tak percaya ini," ia mendengus tawa di sela engahan napasnya. "Kau memakai sihir?"

"Sudahlah, kita pergi," geram Potter. "Keparat ini tak berharga."

Draco memaksakan senyum kasual, walaupun dalam dirinya telah mendidih amarah yang meletup-letup. Ia merapikan jubahnya dengan tenang lalu mengelap setetes darah dengan jempolnya.

"Jangan pernah lagi," Weasley terdiam sejenak mengatur napas, "menyebutnya darah lumpur."

"Terima kasih atas peringatannya," tawanya pelan. "Aku akan mempertimbangkan. Sungguh," lalu berbalik, melambai tanpa melihat mereka lagi.

Mata berkilat, rahang mengeras, menelan ludah. Tangan ke dalam saku untuk menyembunyikan kepalan tangan. Sepasang kaki melangkahkannya meninggalkan koridor, membawa serta kekalemannya yang tersisa.

Kekesalan tetap menyelimutinya bagai kabut bulan Oktober. Bukan karena menghajar Weasley, bukan pula karena menghajar Potter. Namun karena apa yang dilakukannya kepada gadis itu.

Demi Salazar, kenapa? Spontanitas? Ada ribuan hal lain yang bisa dilakukannya, kenapa itu yang dipilihnya? Bego sekali. Ratusan kali berendam dalam bak takkan bisa menghapus ingatannya. Yeah, darah itu…

Lumpur itu.


Note:

Editing baru sampai Bab 5. Untuk Bab 6 dan seterusnya masih dalam proses editing. Maafkan apabila ada ketidaknyamanan bahasa dan ketidaksinkronan plot. Tunggu updatean selanjutnya.