Bab 21

If you skipped this part, I wouldn't mind. Gue hanya ingin berterima kasih kepada beberapa pihak.

Kepada penghuni Forum Harry Potter Indonesia dihaturkan banyak terima kasih. Thanks to Ambudaff—orang yang pertama kali membaca Dua Sisi sebelum dipublish ke FFN. Gue sering menyusahkan beliau ini, hi hi. Untuk Red_Dahlia yang selalu gue tunggu kritikannya. Lugas tegas, konstruktif, dan disajikan secara memikat, he he. Laff juga, Verdo juga. Kemudian thank to penghuni Infantrum. Orang-orang yang berani menerapkan tagline FFN segenap hati: Unleash you Imagination. Gue banyak tahu tentang seluk beluk fanfiction di sana. (Puti, thanks atas ilustrasi Dua Sisinya) Dan thanks untuk penyemangat di Multiply.

Thanks SEMUA yang udah review DS hingga bab 18. Muscat, B3by, Hydee, kristi. You're all the reason why I kept updating this fanfic. THANK YOU very much!

Thanks to penghuni Lautan Indonesia. Terima kasih khusus kepada pengunjung tetap tret Dramione fanfic: "Dua Sisi". Thanks to you all! You're the cheerleaders, the motivation, and the total spirit. Bu Kojaplover, thanks atas bannernya—bersama bahu-membahu menDramionekan masyarakat! Untuk ibu-ibu yang dulu dan sekarang meramaikan tret: teeyaz, kiriko, 11_polaris, cha_sa, lissa, zeinitza, PidD 2nd, croix, 12_leaves, bubbydee, kaen_lap, V3_animelover, ra_luv_junsu, Stephanie, dan SEMUA yang nggak mungkin disebutkan satu persatu di tret itu (coz gue nggak mungkin ngubek-ngubek 200-an halaman, KAN?!).

Mungkin ada yang mikir: "Ah, sok penting bener sih si Apo ngasih ucapan terima kasih segala." Jelas penting untuk gue! Bok, seumur hidup ini fanfic pertama gue yang tamat! AKHIRNYA!

Well, nice to see you all. Thanks for reading. Enjoy this last piece.


Draco mendengar berita itu di Aula Besar yang tampak lebih sunyi dari biasanya. Peeves yang melihat kejadian antara Filch dan Granger. Hantu itu berceloteh saat sarapan pagi di aula. Anak-anak Slytherin yang penasaran menyeret Peeves untuk mengorek keterangan lebih lanjut. Serentak seisi sekolah mengetahui bahwa Hermione Granger—sang Ketua Murid, murid terpintar pada anak seusianya, dan anak emas Gryffindor—telah melanggar jam malam hingga pukul empat pagi. Aula pun gempar.

Gadis itu mendapat tiga detensi dan potongan enam puluh poin untuk Gryffindor. Filch memergoki ketika dalam perjalanan kembali ke dalam asramanya. Hermione tak berkata apa-apa. Tidak mengatakan tentang Draco. Atau tentang Shrieking Shack. Atau semua kejadian semalam…

Draco duduk di tepi ranjang setelah mengenakan celana. Seharusnya dia dapat merasakan rasa dingin karena kemejanya masih teronggok di lantai. Namun dia malah merasa kebas. Indra perasanya tak dapat merasakan apapun selain kehampaan. Matanya menatap kosong ke jendela.

Di luar masih gelap. Draco masih bisa mendengar suara-suara binatang malam dari jendela yang pecah. Matahari belum terbit. Tinggal menunggu jam untuk melihatnya bersinar dari ujung horison. Jika dia boleh berharap, dia ingin dapat menghentikan waktu. Dia tak ingin melihat matahari. Matahari baru, berarti hari yang baru. Hari yang baru, berarti akhir dari segalanya.

Draco tak butuh hari esok.

Kemudian dia menatap perapian. Api tidak lagi berkobar di atas kayu bakar. Kayu tersebut banyak yang telah menjadi bara dengan api kecil yang tengah menari. Draco menumpukan beban tubuh pada siku lengan di lutut. Dia tahu tak jauh darinya, seorang gadis sedang mengenakan pakaian. Tanpa kata-kata. Sejak beberapa jam yang lalu tak ada yang bicara. Dia tak berani menoleh.

Setelah beberapa saat, gadis itu berjalan ke arah pintu. Draco dapat merasakan Hermione akan meninggalkan tempat itu. Tak ada yang dapat dilakukannya. Slytherin itu sudah memperoleh apa yang seharusnya tidak boleh dia peroleh. Dia tak berhak untuk menghentikannya pergi. Jadi inilah.

Akhir.

Dia dapat merasakan Hermione berbalik menghadapnya sebelum keluar dari ruangan. Dia pun berkata.

"Malfoy," dengan parau. Terdengar dia sedang bertarung dengan perasaannya sendiri. "Kuharap kita tak pernah bertemu lagi."

Tenggorokan Draco serasa tersekat. Dia mengumpulkan segenap keberanian untuk menatap mata coklat yang akan dirindukannya.

"Kuharap begitu."

Kemudian gadis itu berbalik dan menghilang di balik pintu, membawa semua ketenangan dan kenyamanan yang pernah Draco rasakan dari keberadaannya.

Maka itulah pertemuan terakhir mereka.

Draco Malfoy tak sanggup menelan apapun pagi itu. Pikirannya dipenuhi pasti menemui banyak masalah. Apa dia baik-baik saja? Apa yang akan dikatakannya pada kedua sahabatnya? Draco tahu gadis itu akan memendamnya kegalauan itu sendirian.

Maka dia tidak heran ketika tak melihat sosok itu pada pagi harinya. Bukannya dia ingin melihatnya lagi. Justru dia bersyukur gadis itu tak ada di sana. Karena dia takkan sanggup melihatnya lagi.

Berita itu hanya sedikit mengalihkan kesuraman seisi Hogwarts. Karena kemudian Aula Besar kembali dalam ketegangan. Hari ini para Slytherin akan meninggalkan sekolah mereka.

Dumbledore masih berusaha terlihat tenang, walaupun wajahnya sedikit lebih serius. Guru-guru terdiam, menyantap sarapan seperti robot. Severus Snape terlihat di meja. Rahang terkatup rapat. Draco tahu dia masih belum menerima keputusannya untuk meninggalkan Hogwarts. Terlebih menghadapi para murid asrama yang dipimpinnya, meninggalkan Hogwarts.

Masih ada tiga-empat anak lagi yang tersisa di Slytherin. Mereka menganut non blok. Tak ada kecenderungan memihak kelompok tertentu baik Kementrian, pihak Dumbledore, maupun pihak Lord Voldemort. Mereka memihak kemenangan. Siapa yang akan menang, kepadanyalah mereka akan menetapkan pegangan.

Draco kembali lagi ke asrama setelah sarapan hanya untuk melihat kembali sesuatu yang mungkin ketinggalan. Namun nihil, barang-barangnya sudah berada dalam koper. Kamar yang telah ditinggalinya selama enam tahun lebih itu kini telah kosong. Benda-benda asrama diam membisu. Lemari telah kosong. Ranjang-ranjang telah rapi. Dua di antaranya telah kosong lebih dulu semenjak beberapa minggu yang lalu. Dan kini giliran Draco untuk meninggalkannya. Koper Blaise dan miliknya berdiri di dekat pintu, menunggu untuk dibawa ke kereta thestral.

Kemudian dia menghampiri ranjang, berbaring dengan tangan di belakang kepala. Menatap langit-langit. Tanpa melakukan apapun.

Entah sudah berapa lama dia di sana hingga kepala Blaise muncul di balik pintu.

"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" katanya. "Cepatkan ke atas, ayahmu sudah datang,"

"Akhirnya." Draco bangkit dari ranjang, berjalan ke arah pintu.

"Ya," sahut Blaise menghela napas. Dia menyapukan pandangan ke kamar mereka untuk terakhir kali. "Akhirnya."

Pintu kamar tertutup di belakang. Ruang rekreasi hampir kosong. Masih ada beberapa orang yang menatap Draco dan Blaise ketika mereka keluar kamar. Bahkan masih ada Pansy. Draco memilih untuk mengalihkan pandangan darinya.

Bergabung dengan yang lain, mereka keluar dari asrama. Bahkan sempat bertemu dengan hantu dengan darah keperakan yang mengerikan, Baron Berdarah. Hantu itu tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk memberi mereka jalan untuk lewat.

Ayahnya sudah berdiri di depan Aula Besar ketika Draco sampai sana. Dia terlihat menjabat tangan sang kepala sekolah, bercakap-cakap untuk formalitas sekadarnya. Dumbledore masih terlihat tenang, sementara Severus tampak serius. Ketika Lucius melihat Draco, senyumnya melebar.

"Sudah siap, Nak?"

"Ya, Ayah."

Dia mengusap bahu Draco, memancarkan kebanggaan di wajahnya. Sang putra mengangguk, mengikuti ayahnya keluar Aula Depan.

Mrs Zabini berjalan menyambut Blaise, mencium pipinya. Sang mantan Ketua Murid keluar Aula Depan masih tebar pesona. Tangan melambai-lambai pada para murid yang berdiri mematung. Draco dapat melihat Potter dan Weasley di antara mereka, tampak tegang. Bukannya mereka tidak senang dengan hiatus masal murid Slytherin. Mereka pasti menyadari alasan di balik semua ini. Yeah, bahwa semua ketegangan akan lebih terasa di masa mendatang.

Blaise dan ibunya memasuki kereta thestral. Kemudian disusul Pansy dan ayahnya. Cewek itu sempat mengerling ke arahnya, namun Draco buru-buru mengalihkan pandangan. Dia kembali menatap ayahnya yang masih mengobrol basa-basi dengan Dumbledore mengenai situasi yang makin suram dan tak menentu.

"Bukannya meragukan sistem keamanan Hogwarts," kata ayahnya bernada bijak. "Saya rasa kami harus sedikit berhati-hati."

Senyum Dumbledore belum hilang dari wajahnya. "Tentu saja. Saya mengharapkan Draco untuk segera kembali belajar."

"Tentu kita akan bertemu lagi jika situasi mulai normal."

Draco bertanya-tanya, bagaimana dua orang dewasa itu bisa mempertahankan basa-basi seperti ini. Mereka bicara. Bertopeng tersenyum di wajah, namun sesungguhnya menggenggam belati di belakang mereka.

Kereta Blaise dan Pansy sudah berjalan lebih dulu. Kemudian kereta kosong yang baru datang untuk Draco dan ayahnya. Lucius mengucapkan salam perpisahan dan menjabat tangan untuk kedua kalinya. Kali ini ada yang berbeda, Draco dapat merasakan ketegangan di antara mereka. Lucius memberi jalan pada putranya untuk mengucapkan perpisahan. Namun Draco tak mengatakan apapun, hanya sekadar menjabat tangan. Mata biru Dumbledore masih menatapnya ramah, namun di dalamnya seolah ingin menembus pikirannya. Draco segera mengalihkan pandangan, melepas jabatan tangan itu. Ketika menjabat tangan Severus, dia mencoba untuk menarik tangannya lebih cepat lagi.

Draco menaiki kereta. Kemudian disusul ayahnya. Sekali lagi Lucius mengusap bahunya. Senyum masih terlukis di wajah. Saat itu Draco langsung meyakini dirinya sendiri bahwa inilah yang terbaik. Akhirnya dia bisa menjadi seseorang yang diharapkan ayahnya.

Kemudian tiba saatnya. Dia menelan ludah. Malfoy senior menyuruh kereta berjalan. Kemudian sang putra menyadari bahwa ketika roda itu berjalan, pejalanannya hidupnya di Hogwarts telah berakhir.


Draco Malfoy duduk, merasakan kereta berayun. Kemudian dia menoleh ke belakang, masih dapat melihat Dumbledore tua dan Severus masih menatap kereta mereka. Dan melihat bangunan kastil Hogwarts yang baru saja dia tinggalkan untuk terakhir kali.

Pandangannya kembali ke depan.

Banyak hal yang tak terduga yang Draco temukan dalam tujuh tahun keberadaannya di Hogwarts. Semua kegagalan dan prestasi hanya akan menjadi catatan kecil di masa lalu. Ada keinginan yang telah terpenuhi, namun ada harapan yang pecah terburai. Mendapat teman, menghadapi musuh, belajar banyak hal, merasakan sakit, dan mengenal— sesuatu yang perasaan baru dari seorang gadis yang istimewa.

Malam itu.

Draco tahu dirinya takkan pernah melupakan saat-saat itu untuk seumur hidupnya. Hermione membisikkannya di telinga. Dalam desahan. Dalam air mata. Tiga kata. Seolah ada bom waktu meledak di dalam tubuh ketika mendengarnya. Menjernihkan benaknya sebening kristal akan konsep yang dulu dia anggap semu. Sesuatu yang abstrak, namun bukan berarti tidak ada.

Hermione terdengar sungguh-sungguh mengatakannya—Aku mencintaimu—membuat Draco mencium bibir itu lagi. Lagi. Dan lagi karena dirinya tak dapat mengucapkannya. Semua perkataan yang keluar dari dirinya hanya akan terdengar seperti sebuah kebohongan, karena dia adalah Draco Malfoy. Seorang Draco Malfoy selalu mengingkari.

Namun kini dia tak mampu lagi. Dia memang tidak mengatakannya pada gadis itu, namun berkata pada dirinya sendiri. Situasi tidak memungkinkan karena posisinya sebagai seorang Draco Malfoy tidak memperbolehkannya. Dan dia menyesal nasib harus berkata demikian. Bahwa—

Draco Malfoy meninggalkan Hogwarts ketika dia jatuh cinta.


TAMAT

Bersiaplah menanti awal dari sebuah akhir. Bersiaplah untuk sebuah Prolog—oneshot dipublish er seselesainya gue bikin. Gue agak menderita krisis kepercayaan diri.

(So, try to kill me later. I suggest you to read the chappie first. Jika kutukan dan sumpah serapah tak tertahankan, klik aje tag Review This Story di bawah ini. Silakan bersenang-senang. Tell me what you think. =wink=)